Melepas Rasa Takut

Menghabiskan hari di bangsal rumah sakit bagian jantung. Bertukar kisah dengan para manula. Menyusuri lorong-lorong rumah sakit usai tilawah subuh. Memandang hilir mudik orang berbalut mantel musim dingin dan lepas landasnya pesawat lewat jendela utama, sambil menanti kunjungan anak dan suami sementara keluarga selebihnya berada jauh di tanah air. Sangat menanti-nanti saat kepulangan agar bisa memeluk anak sepuasnya, merawat dan menemaninya bermain—melaksanakan tugas seorang ibu dengan semestinya.

Terkadang saya kembali terlempar pada hari-hari sepi dan penuh perenungan kala itu (halah!). Meski sekarang sudah hampir tiga bulan sejak saat operasi bypass jantung saya dilaksanakan dan hampir dua bulan sejak prosedur ablasi diambil terhadap sinyal listrik yang korslet pada jantung saya.

Menjalani hari-hari setelahnya tidak selalu mudah. Terkadang reaksi tubuh apa pun bisa memberi saya kecemasan, meski ternyata itu sekadar pusing dan pegal biasa. Luka-luka yang melintang di tengah dada dan sepanjang paha masih menyisakan nyeri meski tidak sampai menghambat aktivitas saya (thank God!). Pun meski saya mengira melaksanakan diet ketat tidak akan jadi masalah bagi saya, namun berpisah dengan makanan dan minuman kesukaan itu nyatanya gampang-gampang susah, terutama dengan kue, roti-rotian dan cokelat karena sebelumnya pencuci mulut macam itu sudah jadi semacam comfort food yang bisa mengangkat mood saya (ihiks!).

Tapi yang terasa paling berat mungkin dari segi mental. Efek dari penyakit jantung saya ini juga telah memangkas sebagian mimpi saya dan suami, juga orangtua kami. Apalagi… kalau bukan kembali melahirkan buah hati, memberikan adik sekaligus “teman” bagi Radi kami tersayang. Meski saya sudah berusaha ikhlas menerimanya, terkadang terselip kecemasan jika saya telah mengecewakan orang-orang dekat akibat kondisi ini (ini mungkin akibatnya jika diri terlalu sensyitiiif).

Satu-satunya hal yang saat ini bisa saya lakukan ya kembali menghadapkan wajah pada sang Pencipta. Membangun bonding yang begitu kuatnya hingga ujian dan badai apa pun di dunia yang fana tidak akan mampu “menggoyang” saya. Hm… berat ya. Tapi memang tiada jalan lain. Ketika fisik diuji, spiritual harus dikukuhkan (tentu selain pengobatan dan terapi fisik).

Saya sempat bertukar cerita dengan seorang kawan dekat yang juga diberi ujian sakit dan mengharuskannya berobat rutin ke dokter. Dia mengingatkan, bahwa mungkin kita sama-sama diberi ujian di masa-masa golden age—masa keemasan usia produktif—agar kita tidak lalai. Juga agar dosa-dosa kita dibersihkan sedari usia “relatif” muda. Ujian ini menjadi salah satu bentuk “penjagaan” Allah atas diri kita. (hiks..menohok dan dalem sekali kata-katanya..)

Yah, hal yang paling ingin saya kejar dari hubungan yang dekat dengan sang Pencipta adalah agar diri ini terlepas dari rasa takut dan kekhawatiran. Rasa takut jelas bisa jadi pemicu stres yang sangat tidak baik bagi kondisi jantung saya. Padahal saya memang dasar orangnya mudah cemas. Sisi perfeksionis diri saya pun bisa menambah ruwet masalah. Hal-hal kecil yang melenceng dari rencana awal saja bisa membuat saya stres. Padahal dua kali perjalanan ke UGD makin menyadarkan saya akan betapa rapuhnya dunia yang saya tinggali. Jadi buat apa menghabiskan energi untuk mengkhawatirkan ini itu. Tidak ada waktu untuk itu. Nikmat dunia toh bisa direnggut sewaktu-waktu. Bukankah ajal tak pernah mengenal usia?

Ingin sekali saya memiliki jiwa yang ikhlas, jiwa yang nrimo atas segala ketetapan-Nya. Memiliki hati yang selalu lapang, tenang, dan penuh syukur.

Tidak perlu takut akan datangnya ajal. Toh Allah sudah menetapkan skenario hidup kita dan peranan kita di dunia. Dan tugas kita sebagai manusia, cukup jalankan peran itu sebaik-baiknya; sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri, sebagai seorang anak, sebagai seorang anggota masyarakat …

Tidak perlu takut meninggalkan anak di dunia. Anak toh bukan milik kita. Kita hanya dipinjamkan alias diamanahi, dan Pemilik sesungguhnyalah yang akan menjaga. Tugas saya hanya mendidik “titipan” ini sebaik mungkin hingga saat sang Pemilik menetapkan lain… saat sang Pencipta berkata, “Sudah, tugasmu sudah selesai sampai di sini. Kamu sudah menjalankan tugasmu (mendidik anak) dengan begitu baik dan penuh amanah.” (amiiin YRA).

Pun, saya tidak perlu takut akan rejeki.  Bukankah rejeki juga ada yang menjamin? Bukankah Allah Maha Kaya? Selama kita terus berikhtiar menjemput rejeki di jalan yang lurus. Menjalani hidup dengan prinsip kesederhanaan dan tak lupa berbagi.

Lepaskan rasa takut. Perbanyak rasa syukur…

Bersyukur masih diberi kesempatan terbangun di pagi hari. Untuk memeluk anak dan orang-orang terkasih satu hari lagi. Karena masih diberikan kesempatan dan kemampuan untuk kembali berbuat kebaikan.

Pintaku saat ini pada sang Pengasih ialah, agar dimudahkan langkahku dalam menempuh jalan keikhlasan dan karuniakan padaku hati yang lapang dan penuh syukur. Hati yang selalu ridho atas segala ketetapan-Mu.

 

“Hai, jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku. Masuklah ke surgaku.” (Al-Fajr: 27-30)

6 pemikiran pada “Melepas Rasa Takut

  1. hihihi eike jadi malu..*tutup muka* coret-coretan ini ada juga yang baca 😛 Ini tulisan lama cuma baru sempet posting manteman mom ‘n toddler 😛 salam silaturahmi dari bandung *kiss*

  2. Ada quotes sering saya pakai akhir-akhir ini, “Jangan menyeberangi jembatan sebelum anda tiba di depan jembatan”. Jangan mengkhawatirkan yang belum terjadi, itu hanya mengurangi nilai kebersamaan yang kita bangun. Karena, kekhawatiran itu menular, terbaca oleh orang disamping kita (apalagi anak) dan membuat suasana berubah. Tetaplah berjuang dan selalu nikmati perjuangan ini..

  3. Bagus banget erna quotenya..Jujur aku kemaren sering dihinggapi kekhawatiran, padahal memang ngapain mengkhawatirkan apa yg belum terjadi. Karena biasa nyampah dan meracau di blog aku tuliskan, selain biasanya bisa mengobati dan menata hati dan pikiran (dgn menulis)…semoga ke depannya aku cuma bisa menulis yang lebih positif dan inspiratif, ga mellow mulu hihihi…menikmati perjuangan, menikmati momen saat ini..love it..love u rna, semangat juga yaaah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s