Juvenilia

juvenilia1

Penulis: Jane Austen

Penerjemah: Nuraini Mastura

Penerbit: Noura Books

Sinopsis:

“Jaga dirimu dari jebakan cinta pertama dan kau tak perlu takut terhadap cinta yang datang berikutnya.”

Cinta pertama, perjodohan, dan cinta tak berbalas adalah beberapa topik mengenai percintaan yang diangkat Jane Austen dalam Juvenilia. Namun tak hanya itu. Intrik politik pun tak luput dari sorotan mata tajam sang penulis legendaris ini.

Juvenila adalah kumpulan karya-karya Jane Austen berupa novela, cerpen, puisi, bahkan penggalan skenario drama yang ditulisnya ketika masih remaja.

Dituturkan dengan gaya bahasa yang lugas dan cerdas, buku ini merekam sudut pandang Jane Austen remaja dalam memandang arti cinta, persahabatan, dan keluarga. Tak heran bila karya-karya ini menjadi jejak awal Jane sebagai penulis yang sukses melahirkan karya yang diapresiasi pembaca sepanjang masa.

Guantanamo Diary

34747-guantanamo-diary-vax-365x0

Penulis: Mohamedou Ould Slahi

Penerjemah: Nuraini Mastura

Penerbit: Noura Books

Sinopsis:

Mohamedou Ould Slahi tak pernah menyangka, bahkan tidak dalam mimpi terburuknya, bahwa sore itu ialah kali terakhir dia menjejakkan kaki sebagai manusia bebas. Dia datang ke markas kepolisian Mauritania dengan niat baik: memenuhi panggilan untuk dimintai keterangan. Namun, dia malah ditahan tanpa tuduhan yang jelas. Dia juga harus menjalani rangkaian interogasi, pemerasan informasi, dan penyiksaan. Dia dilarang shalat dan puasa, bahkan dipaksa melakukan hal-hal yang diharamkan ajaran Islam.

 

Lama ibu Slahi mengira anaknya ditahan di Mauritania. Keluarga­nya mengirimkan pakaian dan makanan, bahkan memberi uang kepada penjaga penjara untuk perawatannya. Hingga suatu hari, adik Slahi mengetahui nama sang kakak ada dalam daftar  tahanan di Guantánamo—sebuah penjara kebal hukum yang didirikan murni karena paranoia Amerika Serikat terhadap terorisme. Kini, sudah lebih dari empat belas tahun Slahi ditahan tanpa diadili. Bahkan ibunya pun meninggal dalam kesedihan menunggu pem­bebasannya.

 

Buku ini disunting dari 466 halaman tulisan tangan Slahi yang dibuatnya dalam sel yang sampai saat ini masih dihuninya. Amerika Serikat menyensornya dengan ketat sebelum catatan tersebut berhasil diperjuangkan selama tujuh tahun untuk diterbitkan. Itu sebabnya akan dijumpai lebih dari 2.500 coretan stabilo hitam di dalam buku ini. Namun, bahkan sensor pun tak mampu menutupi kejernihan dan ketajaman penuturan Slahi.

Life List

life list 

Pengarang: Lori Nelson Spielman

Penerjemah: Nuraini Mastura

Editor: Utti Setiawati

Penerbit: Gramedia, 2015

SINOPSIS:

Brett Bohlinger tampak memiliki segalanya: pekerjaan idaman,
apartemen luas, kekasih sangat tampan. Pendek kata, kehidupan
mujur. Maksudnya, sampai ibu yang sangat disayanginya meninggal
dunia dan meninggalkan wasiat dengan satu syarat istimewa: Agar
bisa memperoleh warisan, Brett harus terlebih dulu menyelesaikan
daftar cita-cita yang ditulisnya saat masih remaja polos berumur
empat belas tahun. Karena masih dirundung duka, Brett tidak bisa
memahami keputusan sang ibu—mimpi-mimpi masa kecilnya sudah
tidak lagi mewakili ambisinya pada usia 34. Sebagian bahkan tampak
mustahil. Bagaimana mungkin dia bisa menjalin hubungan dengan
ayah yang sudah meninggal tujuh tahun silam? Sementara cita-cita
lain (jadi guru hebat!) menuntut agar dia menyusun kembali seluruh
masa depannya. Sementara Brett dengan setengah hati memulai
perjalanan membingungkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi masa
remaja itu, satu hal makin jelas. Kadang hadiah termanis kehidupan
bisa ditemukan di tempat-tempat paling tak terduga.

Curhat soal Bullying

Bullying alias perundungan memang dekat dengan kehidupan anak-anak kita. Tapi, jujur, dulu saya mikirnya anak 5 tahun masih jauh dari dunia bully-membully. Boy, how I was wrong… karena sebetulnya, bibit-bibit bullying sudah bisa terlihat dari masa anak mulai bersosialisasi. Meski buat anak TK, level bullyingnya masih skala kecil karena anak-anaknya pun masih kecil-kecil *opo sih*.

—————————————————————————————————————————–

Suatu waktu, Radi pernah bercerita kalau ada teman sekelasnya yang suka mendorong-dorong dia. Saya pun serta-merta menasihati, “Radi kalau nggak suka dengan sesuatu, bilang aja langsung ‘AKU NGGAK SUKA.’”

—————————————————————————————————————————–

Nah, punya anak dengan kepribadian seperti Radi yang cenderung pasif dan nrimo jadi tantangan tersendiri dalam menghadapi bab bullying ini. Radi paling suka menghindar dari keributan. Daripada temannya nangis, Radi lebih memilih untuk mengalah saja … biarpun, misalnya, mainannya direbut. Dia akan memilih respon flight (kabur) daripada fight (melawan/membela haknya). Mending mengalah saja biar tenang, daripada nanti ribut. Sekali dua kali tak masalah, tapi kalau terus-menerus “flight” seperti itu, saya khawatir juga nanti dia akan selalu menghindar dari konflik. Selalu menghindar dari kondisi yang tidak nyaman baginya, dan dia akan tumbuh tanpa mempunyai kesadaran untuk membela haknya.

Saya memang ingin memiliki anak yang bisa berbagi, tapi penting juga bagi anak saya untuk menyadari bahwa dia memiliki hak untuk menolak permintaan temannya. Bahwa dia tidak boleh membiarkan dirinya selalu diinjak-injak dan “dimanfaatkan” orang lain.

Terus terang, saya suka gemas juga sih. Kalau saya melihat langsung kejadian temannya merebut mainannya dan melihat gelagat Radi yang kesal tapi mengalah saja, saya suka mengingatkan ke teman mainnya, “Minta izin dulu ya. Boleh nggak pinjam?” atau “Radi masih pingin main yang itu?” Lantas kalau Radi mengiyakan dengan cemberut, “Ya udah. Nggak papa, Radi main aja. Radi boleh kok menolak. Coba tawarkan temannya mainan yang lain saja.”

Tapi saya sadar, saya nggak akan selalu berada di sisi anak saya. Saya tidak bisa selalu membereskan konflik yang ditemuinya (dan jangan sampai deh, saya menjadi orangtua yang selalu turun tangan dalam konflik anaknya). Sebuah kepastian, sehari-hari begitu keluar rumah, dia akan bertemu dengan banyak anak dengan berbagai macam karakter. Bahkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang mungkin tidak berbagi nilai-nilai yang sama dengan yang dianut keluarga kami. Karena itu, menanamkan sikap asertif pada diri anak saya menjadi PR terpenting bagi saya. Sifat yang paling saya stabilo tebal saat ini.

Jujur, saya sendiri memiliki pengalaman nggak enak dibully di jaman SD. Sewaktu kecil, saya anak yang sangat pendiam, pasif, berbeda (terutama dari sisi ekonomi dari anak-anak kebanyakan di SD saya dulu). Dijahati oleh teman, saya diam saja, tidak mau bercerita pada siapapun (bingung juga bagaimana ngomongnya, meski ke keluarga sendiri). Tapi efeknya, setiap mau berangkat sekolah, pasti saya sakit perut. Saya benci sekolah dan saya tak punya teman seorang pun sampai kelas 4 SD. Melihat karakter Radi yang tak jauh berbeda dari emaknya inilah yang bikin saya rada cemas. Duh, jangan sampai deh kasus yang sama berulang pada anak saya.

Saya dan suami pun sepakat bahwa begitu masuk SD, Radi harus belajar bela diri. Selain untuk mengenal teknik membela diri, belajar bela diri akan bagus untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Saat melihat program karate untuk anak prasekolah, saya bahkan tertarik untuk langsung mendaftarkan Radi, tapi kata suami sih, minimal SD atuhlah karena belajar bela diri butuh kedisiplinan.

—————————————————————————————————————————

Balik ke sikap asertif. Pada kesempatan lain sepulang sekolah, Radi kembali bercerita:

“Lihat tanganku dicoret-coret sama Ochan tadi .. pakai SPIDOL.” *sambil nunjukin lengannya*.

“Radi suka nggak tangannya dicoret-coret?” Mama memastikan, soalnya Radi bercerita dengan santai. Tidak ada tanda-tanda kesal.

“Hm.. nggak suka.” *Radi tampak mikir.*

“Ingat, Radi harus bilang ke temannya, kalau nggak suka. Kalau temannya nggak nurut, bilang ke ibu guru.”

—————————————————————————————————————————–

Jangan sampai deh anak saya menuruti falsafah ibunya dulu yang menganut “Silence is Golden”. Penting bagi saya, agar anak saya berani “vokal” membela dirinya. Terutama karena anak saya laki-laki. Bahkan saya ingin sekali agar Radi  bukan hanya tahu membela dirinya sendiri. Bila melihat kasus bullying terjadi pada temannya, dia pun harus bisa stand-up membela para korban bullying ini.

Saya menyadari anak saya pun tidak berarti steril dari menjadi “pelaku bully.” Justru dengan sikapnya yang agak pasif, di tengah pergaulan dia bisa saja dengan mudahnya terseret oleh mereka yang berkepribadian lebih dominan. Mendiamkan saja ketika aksi bullying terjadi—bagi saya—berarti sudah terlibat sebagai “pelaku” (meski pelaku pasif). Its still the same though. Pelaku pasif tetaplah “pelaku”. Saya berharap, dia harus bisa “berdiri membela prinsip” ketika sebuah kezaliman terjadi.  Jadilah “pembela” bagi ibunya di masa dulu.  *Amiiin.*

—————————————————————————————————————————–

Untuk mencegah menjadi pelaku bully, sikap empati anaklah yang harus selalu diasah.

Kesempatan lain, Radi bercerita (lagi-lagi tentang Ochan :D):

“Tadi pas menggambar, kata A (teman baik Radi) Ochan gambarnya coret-coret..” *Radi ketawa-ketiwi*

“Oh, gitu. Radi sedih nggak kalau lagi menggambar Spiderman, trus dikomentarin temannya ‘ih coret-coret.’”

“Sedih sih.” *Radi jadi merenung lebih serius”.

“Nah, kasian kan Ochan dikomentarin gitu …”

“Iya, Ochan kan masih kecil. Belum bisa gambar.” *tiba-tiba jadi sok gede dan bijak*

—————————————————————————————————————————–

Nah, percaya deh. Anak terlahir membawa fitrah yang suci. Di lubuk hati, mereka tahu sendiri mana yang benar dan mana yang salah. Tugas kitalah—sebagai ortu—untuk mengasah dan mengarahkan fitrah bawaan mereka itu agar terus terjaga.

—————————————————————————————————————————–

Hm… kalau boleh merangkum catatan ini, berikut sejumlah bekal yang perlu kita siapkan selaku orangtua dalam menghadapi kasus perundungan (lebih enak pakai kata bullying sih).

  • Asah sedini mungkin sikap asertif sekaligus empati anak.
  • Banyak-banyak berdoa agar sebagai orangtua kita terus dibimbing dalam ikhtiar kita menjaga fitrah baik anak.
  • Terus jalin komunikasi yang intens dengan anak. Dengar, dengar, dengar. Banyakin dengarnya daripada komentarnya.
  • Kita juga mesti mawas diri dengan perilaku kita selaku orangtua karena anak adalah cerminan diri kita. Mereka peniru ulung, dan contoh pertama yang mereka turuti tak lain tak bukan … ORANGTUANYA. Kalau orangtuanya suka bercanda dengan mengolok-olok orang lain yang berbeda dari mereka, jangan-jangan anak jadi mendapat pesan “its ok to make fun of others who are different from them.” Atau orangtua yang bercanda dengan, secara tidak langsung, mengejek atau merendahkan anak—baik itu fisiknya, atau memberi panggilan (name-calling) yang anak sendiri sebetulnya tak suka.

Jangan sampai kita malah menanam bibit perundungan dari rumah kita sendiri.

——————————————————————————————————————————-

Mungkin ada saja orang yang akan berkomentar, nggak usah lebay juga kali menghadapi bullying. Kalau masalah ejek-mengejek kan sudah biasa. Namun masalahnya, setiap orang kan beda-beda. Tidak semua orang yang jadi korban bisa kebal menghadapinya. Ada sejumlah kasus yang berujung “suicidal”, banyak pula yang jatuh depresi atau meninggalkan efek jangka panjang. Toh tidak semua anak memiliki jaringan pendukung (keluarga dan teman) yang solid.

Dalam kasus saya, saya bersyukur kasus bullying yang terjadi pada saya berhenti begitu saya keluar dari lingkungan itu (baca: lulus SD). Entah apa jadinya kalau proses bullying itu masih terus berlanjut menimpa saya. Mungkin akan lain lagi ceritanya.

Jadi teringat dengan kutipan berikut: “Its nice to be important. But it is more important to be nice.”

Yup, siapa yang tidak senang jika buah hati kita memiliki segudang prestasi. Tapi berhasil mendidik anak menjadi manusia yang baik, itu jauh lebih penting bagi saya.[]