Berburu Bacaan Anak (Fun Day Sunday #3)

Percobaan pertama belanja di e-bay Australia telah mengantarkan kami ke wilayah barat Sydney, tepatnya di Berala. Berawal dari iseng-iseng browsing situs e-bay Australia dengan keyword sesame street (yang lagi sangat digemari Radi). Ketemulah beraneka macam item di sana, dan langsung naksir berat dengan koleksi 9 buku hardcover bekas bertema Sesame Street dalam kondisi masih sangat bagus yang hanya dijual seharga 5 dollar sajah. Cuma syaratnya, barang diambil sendiri ke rumah sang penjual—yang justru sangat cocok dengan keinginan saya yang ogah bayar ongkir lebih mahal dari belanjaannya dan lebih memilih menjemput sendiri karena bisa sekalian pelesir ke tempat baru..hehe.

Jadi, agenda Sunday Funday kami minggu ini adalah dalam rangka menjemput belanjaan e-bay *sayang anak… sayang anak*. Kami pakai tiket Sunday Funday demi mengirit ongkos karena jarak tempuh ke Berala—lokasi rumah si penjual—yang lumayan jauh. Satu kali naik bus dari halte Kingsford, dua kali naik kereta.

Sayangnya, di stasiun kereta Berala nggak ada fasilitas lift buat pengguna kursi roda atau pemakai stroller. Jadi terpaksa stroller diangkut naik-turun tangga sementara Radi digendong. 😦

Tanpa perlu berjalan kaki lama dari stasiun, kami menemukan alamat rumah si penjual. Setelah menyelipkan uang lima dollar di bawah pintunya, dan mengangkut belanjaan kami yang sudah ditaruh di pinggir carportnya (sesuai perjanjian karena penjualnya sebelumnya berencana keluar rumah), kami pun berangkat pulang. Radi tertidur pulas sepanjang perjalanan kaki kami di Berala.

Sebelum sampai kembali di halte, kami sempat belanja bubuahan (jeruk, pisang, dan semangka) di sebuah toko kelontong sana karena buah-buahannya murah meriah. Lumayanlah, daripada jauh-jauh lagi ke Paddys Market.

Sampai di stasiun Berala kembali, kami enggan membangunkan Radi yang masih lelap dan mengangkatnya dari strolernya untuk kembali menaiki tangga yang cukup tinggi. Untung, saat itu kebetulan saja ada wanita berbadan kekar mengajukan diri untuk membantu mengangkat stroller dengan Radi tidur di atasnya. Secepat kilat dia mengangkat stroller dari atas dengan satu tangan sementara si papa mendorong dari bawah tangga. What a nice lady, and a strong one too. Go girl power!  😛

Sebelum pulang ke rumah, kami memutuskan untuk singgah sebentar di Hyde Park untuk melihat Lawn Library dan merasakan suasana Sydney Festival di sana. Kami berhenti di stasiun kereta bawah tanah Museum NSW. Dan lagi-lagi, nggak ada lift. Huff… I wonder why. Bukankah ini pusat kota yah?  And where is that nice lady again when we needed her? Oh, well… saya kan juga punya girl power. *Mari angkut stroller lagi menapaki tangga. Hosh!*

Tiba di Hyde Park kami menyantap makan siang di bangku sejenak sementara Radi berlarian di taman. Lalu lanjut ke lokasi Lawn Library yang ternyata di taman seberang lagi. Di Lawn Library setiap orang dibolehkan mengambil buku gratis. Saya memilih buku klasik The Little Prince dengan hard cover buat Radi, sementara Papa mengambil buku panduan fotografi. Saya juga menaruh satu buku anak yang kurang digemari Radi ke dalam rak Lawn Library. Sebagai sumbangsih aja, biar kayak tukeran buku. 😛

Overall, it was a really Fun Sunday. Puas belanja buku buat nanti ngisi koleksi perpustakaan mungil Radi di Bandung *amin*. Entah mengapa sekarang saya lebih senang berburu buku buat bacaan anak saya daripada buat saya sendiri. Apalagi kalau udah melihat wajah sumringah Radi begitu bangun dari tidurnya dan disodori buku bergambar Big Bird dan Cookie Monster. “Ma, bu…ma, bu…!” seru Radi sambil jarinya antusias menunjuk gambar si burung Big Bird, lalu meniru gaya Cookie Monster melahap habis cookies dengan maruknya “Ammnyamnyam.” Its priceless!  😀

Radi 'n books

Radi ‘n books

Keep On…

Keep on writing. Writing will sharpen your brain and carved your memories in stone. It will eternalize your quick passage in life, although you have long gone.

Keep on praying. Pray with your absolute surrender.

Keep on being the best mom who can truly inspire your child. Teach him to be a great human being. But first, try to be a great human being yourself.

Keep on loving. It’s the best medicine the world could never get enough.

Keep on giving kindness and keep on perservere in doing so…

Keep on Moving. Don’t ever feel complacent and don’t ever stay in the same place.

An Oasis Called the Library

Aktivitas rutin nan mengasyikkan kami selama di Sydney adalah mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan favorit yang sering kami datangi adalah Margaret Martin Library dan Bowen Library. Martin Library bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 20 menitan dari rumah *cihuy*.

Selain buku, di perpustakaan sini juga tersedia berbagai mainan anak. Makanya Radi betah 😛 Mainan boleh dipinjam kalau kita bikin kartu peminjaman khusus mainan dengan biaya $40 selama setahun. Kartu mainan ini memberi kita hak untuk meminjam mainan sampai 5 item selama 2 minggu yang boleh diperpanjang sampai dua kali. Juga kesempatan untuk mengikuti workshop yang diadakan perpustakaan.

Papa Radi paling seneng pinjam dvd di perpustakaan. Kalau saya paling seneng minjam mainan; puzzle dan boardgamenya.. hihi..padahal pakai kartu mainan Radi. Saya juga sering pinjam buku-buku parenting. Lumayan buat bekal membesarkan anak 😛  Isi buku yang saya pinjam bakal saya catat di blog, kalau ada yang menurut saya patut dicatat. Mumpung di luar negeri dan dapat akses banyak dari  perpus, sayang kalau tidak dimanfaatkan, buat menambah ilmu dan berbagi dengan yang lain.

Sekali seminggu saya juga mendaftarkan Radi ikut kelas batita “Baby Love Books”. Gratis! Selama setengah jam, Radi menyanyi, menari, dan mendengarkan cerita anak dan nursery rhyme bersama anak-anak lainnya. Radi girang abis selama sesi kelas itu berlangsung. Nanti kalau udah genap 2 tahun, Radi bakal naik kelas ke “Bop 2 Books”—program buat anak usia 2 tahunan.

Saya suka mikir, kapan yaa di Indonesia ada fasilitas seperti ini buat anak-anak. Tapi memang capek juga kalau kita terus saja membanding-bandingkan situasi dan fasilitas yang ada di negara maju dengan negara kita. Mestinya, ini malah semakin memicu saya—yang alhamdulillah diberi kesempatan menikmati fasilitas dari negara lain—untuk bisa membawa perubahan saat kelak kembali ke tanah air.

Siapa tahu, kelak saya bisa mewujudkan mimpi saya untuk mendirikan semacam rumah bacaan anak. Di tengah gencarnya teknologi digital menggempur anak-anak kita, saya ingin sekali melihat anak-anak bisa tetap dekat dengan dunia buku. Karena buku adalah jendela dunia yang mampu membuka wawasan dan mendorong mereka untuk berani bercita-cita. Siapa tahu, nanti di “rumah” itu kita bisa bikin kelas-kelas gratis yang mampu menunjang kreativitas mereka seperti yang diikuti Radi saat ini. Siapa tahu…

 

Wisata Spontan (Fun Day Sunday #2)

Mengapa disebut wisata spontan? Karena perjalanan kami kali ini memang tidak direncanakan secara matang. Pada awal pagi suami mengeluhkan hidung pilek jadi mengurungkan rencana kami jalan-jalan ke objek wisata pantai Kiama—yang mesti ditempuh dengan dua jam lebih perjalanan kereta. Okelah *tarik selimut bobo lagi*

Eh, sekitar pukul 9 pagi, beliau berubah rencana. Mungkin bingung juga mau ngisi hari Minggu dengan apa, masa’ mendekam di kamar nonton Elmo terus sementara masih ada tiket Sunday Funday yang dibelinya minggu kemarin. Akhirnya, setelah beliau browsing-browsing sekadarnya, ditetapkanlah agenda Minggu itu kita akan pergi mengunjungi perpustakaan nasional dan mungkiiin, mampir ke pantai… *kali ini, rencananya fleksibel banget deh.*

Maka berangkatlah kami naik bus menuju central Sydney sementara waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Turun di Circular Qay. Rencana semula dari sana mau naik feri, tapi kelihatannya yang ngantri feri lagi penuh… Males ah. Marilah kita lanjut sight-seeing sambil moto-moto. Eh, dapat juga kesempatan moto di depan Opera House yang nggak jauh beda sama Keong Mas.

funday8

“Ma, aku sudah sampai di Sydney, Ma!” 🙂

funday9

ramai depan Keong Mas..eh Opera House

Lanjut menyusuri jalan sampai ketemu taman luaaas banget. Keren banget tamannya. Namanya Botany Bay Garden. Jalan-jalan jauh nggak kerasa pegelnya karena selama jalan kita disuguhi pemandangan keren, jalanannya mulus tanpa lubang, dan banyak spot-spot tempat istirahat.

funday10

masuk Botany Bay Garden

Di Botany Bay Garden, kami sempat ketemu gedung menyerupai kastil *keren*. Sepertinya bekas Government House dari abad 18-an. Tadinya kami pengen coba ikut tur ke dalam gedung itu. Free of charge! Tapi kudu bawa identitas diri sementara saya nggak bawa paspor, dan lagipula tur itu memakan waktu 45 menit. Paling Radi keburu bangun, dan kami masih ingin jalan-jalan ke tempat lain, belum lagi perut yang mulai keruyukan.

depan Government House

depan Government House

Yo wis, lanjutlah kami menyusuri taman Botany yang indah itu. Saat Radi terbangun, dia langsung bersemangat lompat turun dari stroller. Berlari-larian di taman sepuasnya sambil ngejar burung-burung yang dikit-dikit jalan dikit-dikit terbang. Saking semangatnya ngejar burung, Radi sempat kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan muka membentur aspal di jalan turunan.

Oh no, my darling sweet boy… Kenapa kamu selalu saja membawa oleh-oleh luka setiap kita pesiar ke taman. Dasar jagoan, dengan kening dan pipi lecet dan berdarah *dikit kok, oma :P* Radi langsung bangkit berdiri tanpa nangis *keprok*. Jadi ingat waktu imunisasi kemarin, untuk kali pertamanya Radi juga nggak nangis sama sekali saat disuntik *Ah, Nak, kamu sudah besar ternyata sekarang. Mama jadi terharu.*

Radi seneng bangeeet lari-larian di taman. :*

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kami pun kemudian nyari spot teduh buat gelar tikar dan bersiap menyantap makan siang. Papa ngeluarin kompor portabel trangia (yang dimilikinya dari jaman hobi naik gunung) buat ngerebus indomie (yang di sini harganya 5 ribu satu bungkus, saudara-saudarah).

Beres makan siang, kami pengen melanjutkan perjalanan ke perpustakaan nasional *sesuai rencana awal tea*. Arsitektur gedung perpusnya keren banget, bergaya Yunani kuno. Tapi rada repot nyari jalan masuknya. Akhirnya muter lagi rada jauh setelah si papa ngambil peta denah perpus. Dan sesampainya di dalam, ternyata ruang perpus buat anak-anaknya lagi libur *booo...penonton kuciwa* Perpusnya sepi. Hanya nampak kakek-nenek dan orang-orang bertampang terdidik sedang sibuk depan laptop masing-masing *sibuk ngerjain disertasi mungkin, atau main candy crush*.

depan State Library NSW

depan State Library NSW

Satu poin yang mesti dicatat, kalau mau pelesir keluarga bikin rencana yang matang lebih dulu. Kalau lebih menggali informasi sebelumnya, kita kan sudah bisa tahu kalau perpus anak tutup tanpa mendatanginya lebih dulu. Apalagi kalau jalan-jalannya sambil bawa keluarga lengkap dengan bayi. Kalau pelesir sendirian sih, mau asal lempar pena ke peta sebagai tujuan juga fine-fine ajah. Tapi kalau bawa bayi, memang kudu banyak persiapan karena cuaca yang panas atau situasi membosankan bisa bikin doi rewel *lah katanya udah gede, kok jadi bayi lagih :P*

Habis numpang pipis di toilet perpusnya, kami pun cabut lagi. Kembali berjalan menembus taman *yang lain, bukan Botany Bay* di bawah sinar matahari yang bersinar kian terik. Kami mengistirahatkan kaki sejenak di bangku taman, sementara Papa pergi beli es loli dan jus dingin. Segerrrr…cucok dikonsumsi di hari yang panas.

es lolinya enak juga Pa *apa sih yang ga enak buat kamu, Nak*

es lolinya enak juga Pa *apa sih yang ga enak buat kamu, Nak*

ngadeeem dulu...

ngadeeem dulu di Hyde Park…

Lucunya, di taman itu Radi tiba-tiba nyamperin satu set keluarga India yang duduk tak jauh dari bangku kami. Ada nenek-nenek dengan sarinya, ada pula anak kecil, lengkap dengan bapak dan ibunya. Radi sok akrab banget, bahkan pakai minta peluk segala. Mungkin Radi teringat sanak keluarganya yang rame di Bandung. Biasanya ada banyak paman, bibi, nenek, sepupu-sepupu yang mengelilinginya. Hihihi. Nanti pulang kita skypean aja ya Nak sama mereka yang di Bandung. :*

Mari Nak, kita pulang sekarang, lalu berdadah-dadahlah Radi kepada keluarga indiahe itu lengkap dengan kiss-bye mesranya. 😀

Nggak kerasa,  seharian ini saya jalan kaki jauh juga. Udah menempuh berkilo-kilometer. Ada kali KPAD-Srigunting *hiperbola :P* Meski berjalan kaki jauh di bawah terik matahari musim panas, pegal nggak begitu terasa karena sepatu yang nyaman di kaki *alhamdulillah, meski pake sepatu obralan yang dibelinya juga nggak gitu niat* dan itu tadi, tersedia banyak spot-spot untuk mengistirahatkan badan sejenak di sepanjang jalan.

di tepi Botany Bay

di tepi Botany Bay

Oleh-oleh Fun Day Sunday kali ini adalah kulit yang terbakar matahari. Sampai di rumah, baru kelihatan Radi mukanya udah kayak kepiting kukus *merah tapi nggak merah banget* dan si papa kulit lengannya langsung belang. Untung saya dijilbab, jadi mungkin tidak terlalu terkena sun burn karena sinar mataharinya nggak banyak kena langsung ke kulit 😛

PS: Minggu depan mungkin rehat dulu Sunday Fundaynya, saya mau menghadiri pengajian ibu-ibu. *loh kok minta izin 😛 *

Behind Money Motivation

Many people may not understand why I’m so money minded. So determined to find new source of income, to earn more cash. It’s not just about the money. It’s the motivation that lies behind my so called money-minded attitude. See… I come from a struggling family, financially. I don’t call ourselves poor yet we have never own a home of our own, or a car. Our family never set a foot on what its called “financial stability”.  And there were times when we didn’t know how were we gonna pay for our education fees or how were we gonna pay for groceries the next week.

Because we have always deal with money issues, especially my mom as the pillar of the family, I always have a dream that someday I would be able to pamper her financially in her old days, to be able to lavish her with so many things she could only dreamed of in the past.

Although I have a family of my own now to look after, this dream I had never waver a bit. I still feel that I have a responsibility to realizing that dream I had. To be able to make my mom feel secure financially. I want to repay her for all those times she saved and counted every pennies she had so she could treat us kids with special meals. Or all the times when she lavished us with so many toys and nice dresses while she can use it to buy something else to pamper herself. I never recall her ever going to the beauty salon, to the cinema, or buy a perfume or dress for herself.

She always puts her children above everything else. She has sacrificed so much for us.

And now in her 72 years of age, I feel my time is running out. I have to run as fast as I can to chase that long-ago yet still glimmering dream. To wipe the worries in her wrinkled forehead while counting her pennies left and to be able to say to her, “Don’t worry now, Ma. I’ll take care of you as you have taken care us all these times.”

Edisi Trial (Fun Day Sunday #1)

Fun Day Sunday adalah program pemerintah negara bagian New South Wales demi mendukung agenda jalan-jalan keluarga di hari Minggu. Khusus setiap Minggu bagi keluarga dengan anak, tarif transportasi hanya dikenakan $2,5 per orang dewasa untuk seluruh transportasi di satu hari itu. Cihuuuy… jadilah kami sekeluarga mengagendakan puas-puas pelesir hingga ke pelosok New South Wales setiap hari Minggunya. Judulnya, pelesir hemat. Lima dolar saja—saya dan suami—bisa menikmati transportasi bus, kereta, trem, dan feri bolak-balik seharian penuh. *yeyy*

Agenda Fun Day Sunday pertama ingin kami habiskan dengan wisata ke Central Sydney terlebih dulu. Tapi baru berangkat naik bus dari halte Kingsford, tiket Funday Sunday kami sudah tertelan mesin. Hangus deh, nggak bisa dipake lagi…:(  Ya sudahlah. Cuma 2,5 dollar ini yang melayang. *gaya*

Begitu sampai di pusat kota Sydney, suami langsung beli dua tiket Sunday Funday lagi di kios pinggir jalan. Tapi katanya, tiketnya dipakai buat jalan-jalan minggu depan aja soalnya sayang, kita sudah sampai di lokasi dan kita toh membatalkan naik feri mengingat angin hari itu yang bertiup sangat kencang plus Radi masih rada pilek. Yo wis.

Sampai di Central Sydney kitaaa...

Sampai di Central Sydney kitaaa…

Begitu sampai, langsung cari tempat ngadem. Si bocah nagih brunch.

pose kemayu :P

pose kemayu 😛

Tujuan pertama kami ke Queen Victoria Building (QVB). Bekas kantor pemerintahan jaman baheula yang kini diubah jadi shoping mal . Malnya isinya butik-butik mahal dan bermerek. Nggak minat lah shoping di sini. Kita hanya mengagumi arsitektur gedung lamanya aja. Plus merasakan naik lift model jadul, serasa balik ke abad 19-an.

pose depan nenek buyut Ratu Elizabeth

Beginilah tampilan di dalam QVBnya.

papa girang ketemu lift era kompeni.

papa girang ketemu lift era kompeni.

Habis dari QVB, kita singgah sebentar ke Abbey Bookshop di dekat sana. Saya penasaran belum mampir ke toko buku selama di Australia. Ternyata harga bukunya relatif mahal buat saya, dan pilihan judul bukunya pun tak banyak.*sigh*

Hayuklah... mari kita lanjutkan perjalanan! Kemana-mana kita jalan kaki dong. Pelesir hemat, dan sehat! :)

Hayuklah… mari kita lanjutkan perjalanan! Kemana-mana kita jalan kaki dong. Pelesir hemat, dan sehat! 🙂

Dari sana, kita nyeberang ke Darling Harbor. Anginnya kuenceng banget waktu kita melintasi jembatannya. Radi langsung diselimuti selain tadi udah dijaket karena takut masuk angin, meski  bayi-bayi bule di sana pada pede make kaos kutang dan celana pendek.*da Radi kan sebelumnya anak tropis*

Tempat wisata ini ramai banget dengan orang, terutama turis. Apalagi saat di Tumbalong Park. Taman dengan wahana bermain air buat anak. Kita duduk di taman itu buat makan siang sambil melihat bocah-bocah cilik bermain air. Bingung juga lihat balita yang bisa main air dengan kolor aja. Memang sih, sekarang musim panas, tapi cuaca waktu itu lagi dingin plus banyak angin… brrr… Untung Radi nggak nagih ikut main air. Dia anteng makan kentang goreng McD dan nasi nori plus ikan sambil nonton anak-anak main air dan burung-burung camar yang berseliweran di sekitarnya.

Sebelum pulang, mampir dulu ke Paddys Market soalnya saya penasaran. Ternyata Paddys Market itu serupa dengan Pasar Baru. Lokasinya di dalam Chinese Town. Yang ngejual juga kebanyakan barang-barang buatan Cina—mainan, tas-tas KW, barang-barang suvenir.  Katanya ada juga yang jual buku-buku dan buah-buahan dengan harga dibanting, tapi kita nggak sempat nemu tuh. Sumpek lalu-lalang orang bikin nggak betah berlama-lama di sana, apalagi sambil ngedorong stroller. Paling berencana singgah ke Paddys Market lagi pas butuh cari souvenir aja nanti-nanti jelang kepulangan.

Paddys Marketnya di dalam China Town ini. Ga usah dipoto lah dalamnya, da ga jauh-jauh sama pasar kebanyakan. Berjubelan orang2.

Paddys Marketnya di dalam China Town ini. Ga usah dipoto lah dalamnya, da ga jauh-jauh sama pasar kebanyakan. Berjubelan orang-orang.

Oleh-oleh Fun Day Sunday ini adalah *hatsyiii* pilek. Ternyata badan saya masih badan tropis. Belum kuat jalan-jalan menahan deru angin kencang seharian. Mudah-mudahan Radi nggak tertular, nanti jadwal vaksinasinya terpaksa mundur lagi. 😛

Sebetulnya ini Fun Day Sunday yang gagal. Kan nggak jadi kepake tiketnya. Yah kita sebut saja “trial” Fun Day Sunday pertama kita. Daaan, nantikan agenda Fun Day Sunday kami berikutnya. Hm..kemana yah agenda minggu depan?… Mari kita renungkan dan berdoa bersama, agar saya sudah kembali sehat dan bisa pelesir lagi minggu depan *nenggak sanaflu*.