Customized Education = The Future of Learning?

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa instansi sekolah berdiri dan berkembang pada era awal Revolusi Industri. Ketika negara membutuhkan lulusan-lulusan siap kerja untuk mengisi pasar tenaga kerja yang kebanyakan akan bergerak di sektor industri massal. Untuk itu, sekolah menyuguhkan pengajaran dengan standar massal (setiap murid berumur sama di suatu negara akan dikumpulkan ke dalam jenjang yang sama, menerima pelajaran dengan bobot muatan yang sama dan durasi belajar yang sama). Inilah yang terjadi dalam pengajaran di sekolah-sekolah.

Namun sekarang memasuki abad ke-21, teori-teori psikologi perkembangan telah membuktikan bahwa setiap anak itu memiliki kecerdasan bawaan yang unik atau berbeda-beda, kapasitas belajar yang berbeda, pun gaya belajar yang berbeda. Dan anak-anak di era kini akan menghadapi tantangan memasuki dunia kerja yang tidak bisa dipastikan. Bahkan dikatakan oleh Departemen Tenaga Kerja Amerika bahwa 65% anak-anak usia SD saat ini akan menekuni pekerjaan yang belum ada di saat ini.

Begitulah kenyataannya. Zaman terus berubah, begitu pula dengan tantangan yang akan dihadapi anak-anak kita kelak. Maka ada baiknya kita merefleksikan apakah sistem pendidikan yang berlaku mulai abad ke-19 itu masih relevan dengan kondisi  zaman sekarang—bahkan di zaman yang akan datang?

Apakah kepandaian anak yang rupa-rupa masih mungkin dievaluasi dengan satu standar yang seragam?

Tak heran, dikatakan bahwa Customized Learning atau Pendidikan Terkustomisasi menjadi arah bagi pendidikan kita di masa depan.

Memang, apa sih yang dimaksud dengan Customized Learning?

Customized Learning itu menyediakan proses pembelajaran yang fleksibel bagi anak. Bobot materi belajar dan durasi belajar disesuaikan dengan kapasitas belajar anak. Misal, anak A yang unggul di bahasa bisa saja di usia 8 tahun sudah mendalami materi bahasa inggris kelas 5,  sambil mempelajari matematika kelas 2, dan ilmu sains kelas 3. Paket belajarnya bisa dimodifikasi sesuai potensi dan minat anak.

Bukankah sudah menjadi hal lumrah, seorang anak stres setiap mau ujian matematika. Padahal bisa jadi anak itu merasa keteteran karena satu tangga belajar belum tuntas (konsep matematikanya belum ia pahami) tapi sudah dipaksa naik ke tangga berikut karena target kurikulum mengharuskan demikian. Akibatnya, satu anak yang tertinggal ini yang mesti dikorbanin. Ia dipaksa mengejar kemampuan semua anak lain di kelasnya. Entah ia harus mengikuti les tambahan untuk mengejar target atau tinggal kelas—hanya karena satu nilai mata pelajaran yang rendah meski, misalkan,  nilai pelajaran olahraganya sangat unggul.

Kurikulum yang meleset dengan potensi murid bisa juga mengerdilkan potensi anak. Misal, seorang anak unggul di matematika. Saat kelas 1 SD dia sudah paham soal perkalian, tapi kurikulum di sekolahnya baru mengenalkan dia pada konsep penambahan satu digit. Kebayanglah betapa anak itu bisa merasa bosan melewati jam demi jam pelajaran di saat dia semestinya bisa diberikan soal yang lebih mampu men-challenge dirinya. Betapa banyak waktu anak itu yang jadi terbuang percuma karena dia jadi lebih banyak melamun dan mengantuk di ruang kelas.

Kalau begitu kasusnya, kenapa anak itu nggak lompat kelas aja di sekolahnya?

Well, solusinya tidak semudah itu. Bisa jadi anak itu unggul di matematika tapi di sains, bahasa atau pelajaran lainnya tidak. Atau kognitifnya memang sudah bagus, tapi mentalnya atau kematangan emosinya belum. Bukankah untuk naik tingkat, kita harus lulus dari semua mata pelajaran karena setiap jenjang memiliki paket kurikulum yang baku dan tak bisa dipisah-pisah.

Bisa juga kasusnya berkebalikan. Radi sering bilang paling seneng pelajaran bahasa inggris di sekolahnya dulu karena dia merasa yang paling pandai di kelas. Tapi dia justru senang mengerjakan soal-soal di bawah level kemampuannya karena itu membuatnya pede. Begitu melihat buku pelajarannya, saya paham duduk perkaranya. Radi yang udah mulai baca novel bahasa inggris, nyatanya di sekolah baru mengenal kata-kata “This is a table. That is a house. Sunday, Monday… dan aktivitas mengeja sederhana.” Saya sempat berpikir untuk mengikutkannya les bahasa inggris sebagai aktivitas di luar sekolahnya biar dia lebih semangat belajar bahasa inggris. Saya ingin dia bisa bertemu anak-anak lain yang kecakapan englishnya lebih baik lagi untuk menyadarkan dirinya kalau ia masih ikan kecil di tengah samudra luas *naon sich*.  Tuntutan sekolah yang rendah otomatis akan merendahkan standar dirinya juga. (Ah, gak perlu belajar buat ulangan juga gak papa. Gampil da.) Tapi nggak jadi saya ikutkan les sih waktu itu karena selain faktor biaya, toh dia sudah menghabiskan waktu dari pagi ampe sore di sekolahan jadi kasian. Belum lagi karena anaknya komen setiap mama suruh belajar sepulang di rumah, “Ma, aku kan capek udah belajar dari pagi ampe sore di sekolah.” Iya juga yak 😀

Itulah salah hiji alasan kenapa saya beralih ke homeschooling dan memilih untuk menerapkan customized education pada anak saya sendiri. Saya tentu tidak bisa mengandalkan instansi sekolah yang terpaku dengan kurikulum yang berlaku dan memiliki targetnya sendiri. Sekolah mana pun tentu ingin bersaing dengan sekolah-sekolah lain setaraf dirinya untuk mencetak lulusan-lulusan unggul. Baik dari nilai NEM, atau hafalan juznya. Target yang bentrok antara keinginan ortu dan prioritas sekolah ini terkadang membuat kita terpaksa mengorbankan kecakapan anak kita dengan segala keunikannya.

Dan kenyataannya, ada mata pelajaran tertentu yang lebih dianakemaskan dari mata pelajaran lain. Matematika tetap menjadi mata pelajaran keemasan. Jaman saya SMA dulu, bahkan anak IPS dipandang lebih rendah dari anak IPA. Kurikulum jaman saya sekolah dulu telah sukses membuat anak merasa bodoh bila ia memiliki kecerdasan di luar dari jalur “utama” (seperti pintar matematika dan kuat menghafal).

Bila anak kita gemar matematika dan pintar mengaji misalkan, sekolah swasta Islam biasanya sudah memiliki jaringan untuk menyertakannya dalam aneka kejuaraan dan kompetisi, bahkan bisa menyediakan mentor yang baik buat mengasah kemampuan anak kita. Toh kepandaian anak kita itu bisa mengharumkan nama sekolahan. Namun bila kebetulan anak kita berbakat di kesenian, jangan harap potensinya itu bisa berkembang optimal dengan jadwal ekstrakurikuler yang hanya seuprit porsinya, pun dianggap kurang mampu mendongkrak isi rapor selebihnya. Inilah PR-nya ortu. Kudu mencari wadah-wadah di luar sekolahan supaya anak bisa leluasa mengeksplorasi bakat bawaannya itu di sela-sela jadwal sekolahnya.

Kembali tentang customized learning, lalu apakah mungkin untuk menerapkan konsep tersebut dalam pendidikan mainstream kita saat ini? Jawabnya, bisa saja. Sebagian PKBM (lembaga sekolah nonformal) bahkan sudah menyediakan paket-paket belajar yang bisa dikustomisasi sesuai keinginan anak, lengkap dengan tutor-tutornya. Sudah seperti memilih makanan di meja prasmanan saja. Bukan mustahil kelak sekolahan juga menerapkan hal serupa. Tentu tidak sekarang ini dengan rasio jumlah guru dan murid yang timpang. Bahkan tidak dalam waktu dekat. But in the distant future, it can be a solution.

A Prayer Answered

Suatu ketika, si bocah bertanya.

“Mama pas kecil dulu cita-citanya pingin jadi apa?”

Hmm.. sebetulnya, butuh waktu agak lama buat mikir jauh ke belakang, soalnya prasaan pas seusia Radi saya memang ga inget punya cita-cita selain jadi Ibu yang ngasuh dan ngedidik anak. Mungkin karena potret orang dewasa pas saya kecil dulu ya Mama saya sendiri yang memang seorang ibu rumah tangga (meski sempat berpraktek jadi dokter umum di Ceko).

Pokoke kalau ditanya cita-cita pasti saya jawab pingin jadi somebody’s Mom.

Ternyata jawaban saya itu bikin mata bocah berbinar-binar. Ia kemudian nyeletuk penuh semangat, “Cita-cita Mama udah terkabul. Kan Mama punya aku!”

“Yes, indeed boy. Cita-cita utama Mama udah terkabul.”

Nah, belakangan, bocah jadi sering bertanya. Bukan hanya tentang cita-cita masa kecil,  juga tentang mimpi-mimpi Mama yang mana itu dihubungkan dengan dirinya. Dia akan tiba-tiba aja bertanya di waktu-waktu yang random and seems out of the blue. Pas si bocah bersiap mau sholat sementara liat Mama lagi baca buku, pas kami lagi jalan-jalan sore berdua.

“Ma, dulu pas Mama hamil pingin punya anak laki atau perempuan?”

Hm, dulu sih ga ada preferensi apa-apa prasaan, tapi tentu aja kujawab, “Laki-laki.” (biar hati si bocah senang).

“Yeyy, Mama punya aku. Aku kan laki-laki,” serunya riang sambil merangkul Mama erat.

Omongan ini sudah bisa meningkatkan happiness mood bocah berkali-kali lipat. Kadang kita ga menyangka ya, bahwa ucapan-ucapan kita yang disampaikan dengan ringan tapi tulus bisa membekas begitu dalam di batin anak.

Mungkin ucapan seperti ini yang dinamai mantra positif yang terekam di pikiran bawah sadar anak dan bisa dibawa kelak hingga si anak dewasa.

And moments like these makes me wonder. Mungkin setiap orang butuh merasa keberadaan dirinya berarti, bahkan terutama anak kecil. Our little ones.

So, make sure to tell your kids bahwa kelahiran mereka ke dunia adalah hadiah terindah dari Sang Pencipta.

Hug them and tell them that they are a true blessing. Hujani hari-hari dia dengan mantra-mantra positif.

Hopefully, in the future, whenever they face hardships and feels as if their life means nothing, they would remember that their beings was actually somebody’s answered prayer.

Tips for Choosing Children’s Book

Tips untuk Memilih dan Membacakan Buku Bahasa Inggris untuk Anak:

  • Pilih tema yang sudah familier bagi anak atau yang disukainya.
  • Tidak masalah memilih buku di bawah levelnya, misalnya memilih buku yang diperuntukkan bagi anak usia 3 tahun padahal anak kita sudah usia TK.
  • Sebagai orangtua yang membacakan buku, sebaiknya kita baca bukunya terlebih dulu sebelum membacakan pada anak. Make sure you know how to pronounce the words correctly first.
  • Picture helps. Pointing to pictures help children to better understand.
  • Sound the onomatopoeia. Ex. Squeak, sizzle, roar, etc. Bacanya yang heboh supaya anak nggak bosen.
  • Always ask questions. Initiate fun & interesting discussions. Tunjukkan berbagai hal dari ilustrasi yang tidak dimuat dalam teks. Jadikan membaca buku sebagai pengalaman interaktif.
  • Jangan ragu untuk mengulang-ulang bacaan. Jika beruntung, Anda akan mendapatkan sebuah “Home-run book.” Home-run book adalah buku yang menjadi favorit anak, dan tandanya, si anak akan meminta buku itu untuk dibacakan berulang-ulang-ulang kali. “Home-run book” Radi saat ini adalah buku “Green Eggs & Ham” karya Dr. Seuss. book n paddington

 

Tips ini saya dapatkan dari workshop “mendidik anak bilingual” yang saya ikuti 2 tahun lalu. 😛 Entah kenapa, mangkrak lama di laptop.

Kurikulum Anak Milenium versi Ainka

Semakin dekatnya masa anak saya memasuki jenjang sekolah dasar, saya jadi merasa perlu untuk merumuskan kurikulum (tsah) pendidikan yang ingin saya fokuskan pada diri anak saya. Ceritanya, supaya dalam teknis pendidikan ke depannya, saya punya semacam rujukan juklak dan biar tidak melenceng dari jalur dalam proses pendidikannya ke depan nanti.

 

Bismillah…

 

Sebagai awal, sebelum merumuskan teknisnya, penting untuk mendefiniskan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Hm… tujuan mendidik anak, biasanya orangtua tentu ingin mencetak anak sukses. Nah, definisi “sukses” itu sendiri yang bagaimana.

Bagi saya, “SUKSES” itu adalah KEBERMANFAATAN. Jadi sukses itu bukan diukur dari skala materi, status sosial, dan pekerjaan bergengsi. Tidak! Bagi saya, sukses itu adalah kebermanfaatan bagi banyak orang.

 

Visi Pendidikan versi saya:

Saya ingin anak saya tumbuh menjadi manusia muslim yang cerdas dan tangguh, serta mampu menebar manfaat dan kebaikan bagi semesta (rahmatan lil ‘alamiin, selaras dengan tujuan penciptaan dirinya).

 

Untuk konsep pendidikan, saya tidak ingin men”drill” anak untuk hafal ina-itu, tapi lebih pada membangun pemahaman dan sikap mental tertentu. Menyiapkan anak untuk menghadapi era masa depan dengan tantangan dan karakteristik yang jelas berbeda dari zaman kita memang tidak mudah. Memasuki era teknologi dan informasi, anak dengan kecakapan akademis tinggi tidak lagi dinilai cukup. Bukankah semua informasi dan pengetahuan bisa dengan mudahnya diakses via komputer?

Modal terpenting bagi seorang anak, tapi sering kali diabaikan, adalah mental dan KARAKTER. Termasuk di dalamnya daya juang (grit), kreativitas, kemampuan beradaptasi dan berempati. Semua dimensi ini tidak mudah diukur memang, tapi keberadaannya amat penting.

 

Kualitas yang ingin ditanamkan secara simultan:

  1. Imtaq

Penanaman aqidah, ibadah, akhlak sebagai akar atau fondasi pendidikan. Untuk anak SD, porsi pendidikan terbesar ke penguatan akidah.

  • Sholat berjamaah min. Maghrib.
  • Celengan infaq anak.
  • Project amal tiap tahun.

 

  1. Ketahanan Mental/Kegigihan/Daya Juang
  • Menanamkan prinsip Growth Mindset.
  • Tidak fokus pada hasil, tapi proses.
  • Membiarkan anak mengerjakan urusannya sendiri, meski repot.
  • Menanamkan skill nonakademis (olahraga, beladiri, bermusik, etc).

“Pick yourself up whenever your down” adalah skill yang juga perlu diajarkan dan dimiliki setiap orang. Bagaimana menumbuhkan dan menjaga motivasi diri. Anak mesti punya hobi yang nonakademis karena bisa jadi sarana yang efektif untuk menyalurkan energi dan melepaskan stres, selain bisa untuk mengajarkan soal semangat kegigihan.

 

  1. Berpikir Kreatif, Kritis dan Solutif
  • Menghidupkan budaya diskusi.
  • Membiarkan anak memecahkan masalah sendiri dan tidak menyuapi jawaban.

 

  1. Berwawasan Global dan Luas
  • Membangun budaya membaca. Sehari minimal satu buku.
  • Menyiapkan budget khusus untuk perbukuan setiap bulan.
  • Membiasakan Bilingual.
  • Perjalanan ke perpustakaan dan toko buku.

 

  1. Kemandirian
  • Memberi tugas-tugas harian rumah tangga sesuai rentang usia.
  • Bertanggung jawab menyiapkan perlengkapan sekolah dan seragam sendiri di malam hari.
  • Belajar konsekuensi sejak dini. Misal, lupa membawa buku tugas biarkan saja.
  • Hanya membantu dalam proses belajar, bukan ngerjain PR.

 

  1. Adaptif

Meregangkan zona nyaman. Ini penting juga karena kita nggak tahu di masa depan kemana hidup akan membawa anak kita nanti.

  • Mencoba hal baru setiap minggu. Mulai dari mencicipi makanan sampai menjelajahi tempat baru.
  • Mengajak kemping.
  • Apa lagi yaa….

 

*latepost

Akan direvisi dan diupdate sewaktu-waktu. 🙂

 

 

 

Menancapkan Akar Spiritual

Membesarkan anak di era keterbukaan dan di masa gadget merajalela seperti saat ini, banyak tantangannya—tantangan yang jelas belum ditemui di masa-masa sebelumnya. Banyak harapan yang tersemat dalam pengasuhan anak saya. Saya ingin anak saya bisa tumbuh menjadi seorang muslim yang cerdas, mendunia, dinamis, dan tidak gagap mengikuti perkembangan zaman. Saya ingin anak saya kelak pergi menjelajah dunia, tidak terkurung dalam tempurung. Kalau bisa, sejak remaja sudah mengikuti program pertukaran pelajar ke negara maju, belajar hal-hal baik dari mana-mana, sekaligus mengambil peran sebagai duta muslim yang cerdas, modern dan berakhlak mulia *amiiin*

Namun bersamaan dengan harapan itu, muncul pula kekhawatiran. Bagaimana jika keimanannya luruh akibat pergaulan dengan berbagai keyakinan dan isme-isme yang ada? Mampukah dia menjaga benteng keyakinannya tetap kukuh meski dia menjadi sosok satu-satunya di tengah keramaian? Terus menjaga shalatnya dan hubungannya dengan sang Khalik?

Karena itulah, di usianya sekarang yang baru lima tahun, sebelum dia berangkat menjelajahi dunia, sekaranglah saatnya yang krusial bagi saya untuk menanam fondasi itu. Mengukuhkan akar yang kuat menancap jauh ke bumi sehingga tidak mudah doyong diguncang badai dari luar.*bahasanya, euy*

 

Bismillah… di antara praktik penanaman akar spiritual ini, berikut yang saya upayakan:

  1. Setiap sehabis maghrib berjamaah ada waktu khusus untuk belajar mengaji dan meningkatkan interaksi kita dengan Al-Quran. No TV sampai isya. Murni belajar Al-Qur’an.
  2. Memilihkan SD berbasis agama, sehingga kongruen dengan penanaman akhlak islami.
  3. Setiap Minggu pagi, atas inisiatif Mamah mertua, beliau mengadakan program hafalan Qur’an keluarga. Sebenarnya, jujur, saya bukan orang yang ngoyo menghafal Qur’an dan tidak kurang berambisi untuk itu. Tapi, di hari pertama saya langsung termotivasi. Selain melatih sel-sel kelabu pada otak, insyaAllah berikhtiar menghafal juga menurunkan keberkahan dan menjadi kebiasaan keluarga yang langsung disaksikan oleh anak. Saya berharap, saat dewasa kelak, Radi akan selalu terkenang belajar mengaji dan menghafal Qur’an bersama keluarga di saung Ninin. Semoga kelak kebiasaan itu akan menjadi kenangan manis yang mengakar dalam dirinya dan selalu dirindukannya.

 

Yah, upayanya mungkin tidak seberapa. Tapi saya berharap, apapun yang akan dihadapinya di masa depan kelak; bagaimanapun ambisi, harapan, dan impiannya membawanya, kelak akan selalu ada sepercik kenangan yang mengingatkannya pada “jalan pulang.”

Wallahu’alam.

 

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah …” (QS. Jumu’ah: 10)

Saat Tiba Waktunya Memilih SD

Jeng … jeng …jeng

Ya, akhirnya tibalah waktunya bagi saya untuk memilah-milih SD bagi anak saya. Hmm..sebetulnya, Radi baru akan saya daftarkan masuk SD tahun ajaran depan saat usianya genap 7 tahun (karena anaknya masih betah di TK :D). Tapi untuk survei sekolah, lebih baik menetapkan pilihan lebih awal biar udah nggak galau pas sekolah-sekolah mulai buka pendaftaran. Ya kan?

Lagi pula, bagi saya memilih SD ini setahap lebih serius daripada saat memilih TK dulu. Lamanya waktu bersekolah selama rentang enam tahun adalah salah satu alasannya. Belum lagi usia 7 tahun hingga abege adalah tahun-tahun keemasan bagi pengembangan karakter anak. Memilih SD itu ibaratnya kita tengah memilihkan rumah kedua bagi anak kita, karena di sanalah dia akan menghabiskan sebagian besar porsi tahun-tahun keemasannya.

Berhubung kemarin suami lagi nggak ngantor dan mengusulkan survei bareng-bareng selagi Radi di sekolah, maka berangkatlah kami. Di luar perkiraan semula, ternyata kami sempat menjelajah ke tiga tempat meski hanya melakukan survei singkat.

Berikut secuplik review hasil pengamatan saya:

 

  1. SD Hikmah Teladan

Jadi, sekolah pertama yang kami survei adalah SD Hikmah Teladan. Saya cukup sering mendengar tentang nama SD HT ini, terutama dari lingkungan keluarga. Konon SD HT ini SD yang nggak mainstream dan memiliki program-program gebrakan yang cukup inovatif. Tapi dari segi jarak, lokasi SD ini terhitung yang terjauh dari rumah. Selama di perjalanan, saya sudah mewanti suami, kayaknya SD ini harus “wow banget” kalau sampai kami memilihnya. Well, here it goes…

Begitu sampai, kami ditunjukkan satpam ke arah gedung TU. Dan di sana, kami disambut seorang bapak yang bersedia menjelaskan tentang konsep SD HT (meski suara pesawat mendarat dan lepas landas sesekali memecah konsentrasi kami dan menenggelamkan suara pelan si bapak) *baru nyadar, lokasi SD ini mungkin agak-sedikit-terlalu dekat bandara*

 

Visi SD HT:

“Menjadi sekolah terdepan dalam menerapkan konsep pendidikan anak merdeka.”

 

SD HT ini banyak sekali peminatnya. Saat kami survei di bulan Januari, mereka sudah tutup pendaftaran untuk tahun ajaran 2018/2019. Beliau menyarankan bila kami berminat mendaftar untuk tahun depan, kami sebaiknya sudah mendaftar di bulan Juli saat tahun ajaran baru dimulai. Setelah mencantumkan kontak, kami nanti akan dihubungi saat sekolah melakukan sosialisasi/pengenalan kepada orangtua. Bila setelah sosialisasi, orangtua berminat, baru mereka diperkenankan mengisi formulir pendaftaran.

SD Hikmah Teladan tidak mengklaim sebagai SD Islam, tapi mereka menjalankan pengajaran selayaknya sekolah Islam. Terlihat jelas dari seragam murid perempuan yang dilengkapi kerudung, lalu ada pelajaran mengaji dan sholat dhuha di awal jam belajar setiap hari.

SD Hikmah Teladan adalah sekolah inklusif (menerima anak-anak berkebutuhan khusus, seperti anak dengan spektrum autis, ADHD, dan semacamnya). Satu kelas berisi 28 murid (26 murid reguler, dan 2 jatah murid berkebutuhan khusus) dengan 2 guru kelas dan 1 guru pendamping murid berkebutuhan khusus. Jam belajar dimulai pukul 07.30-13.50 (kelas 1 dan 2). Untuk kelas 3-6 sampai pukul 15.00 sore.

Program-program di luar kelas yang dijalankan sekolah saya akui cukup menarik. Di antaranya, ada program Wisata Buku (kegiatan berbelanja buku setiap 2 bulan sekali), Panggung Berani (memotivasi setiap anak agar pede tampil di depan umum), Unjuk Kerja (proyek bersama kelas), dan Family Day (outing sekali setahun bersama keluarga dan guru). Kegiatan humanioranya pun menarik (sebetulnya semacam ekskul) dan banyak pilihan. Siswa boleh memilih aktivitas humaniora yang diminati, mulai dari musik, memasak, sulap, merajut, catur, kepanduan, pencinta alam, kreasi daur ulang, … Dan murid diberi kesempatan dan waktu untuk mencobai berbagai kegiatan ini, sebelum kemudian menetapkan pilihan. Fleksibilitas ini cocok sekali bagi anak kecil yang masih perlu mencicipi berbagai pengalaman sebelum bisa menemukan minatnya dan menjalankannya dengan konsisten. Selain aktivitas humaniora yang dikelola sekolah, ada juga pilihan klub ekskul yang bekerja sama dengan pihak luar.

Terlihat sekali sekolah ini mengutamakan pada “proses” bukan “hasil”. Motto yang mereka sebarluaskan, “Berani Gagal, Berani Mencoba.” Setiap ada ajang lomba, mereka suka mendorong muridnya untuk turut berpartisipasi, tapi bukan titel kemenangan yang mereka harapkan. Targetnya, adalah agar siswa SD HT bersangkutan semakin percaya diri, semakin semangat belajar dan mencoba, serta mampu memperkaya pengalamannya. Demikian penuturan sang bapak perwakilan SD HT.

 

Biaya Pendidikan SD Hikmah Teladan Tahun Ajaran 2018-2019:

1.      Psikotes & Adm Rp.          300.000
2.      Uang Pangkal Rp.     12.250.000
3.      SPP & Catering Juli Rp.           870.000
4.      Seragam 3 setel Rp.           500.000
5.      Buku/LKS 1 tahun Rp.           500.000
6.      Uang Kegiatan/tahun Rp.           600.000
7.      Asuransi Kecelakaan Rp.             40.000
Total Rp.    15.060.000

Bagi siswa inklusi ada tambahan Rp. 525.000 per bulan.

Saat kelas 3 SD, ada kenaikan biaya SPP.

Untuk tahun ajaran berikutnya (2019-2020) kemungkinan akan ada kenaikan 1 juta.

 

  1. SD IT Nur Al Rahman

Sekolah berikut yang kami kunjungi, SDIT Nur Al Rahman. Lokasinya paling convenient dari rumah alias paling dekat. Begitu tiba di lokasi, kesan pertama yang kami dapatkan adalah betapa sekolah ini sangat mengedepankan prestasi. Ada spanduk super-jumbo di muka sekolah yang memajang foto-foto siswa yang baru-baru ini menyabet prestasi, lengkap dengan identitasnya (entah itu Olimpiade Fisika, Matematika, Taekwondo, and so on). Karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat celingak-celinguk sedikit mengamati gedung dan ruang kelasnya. Fasilitas sekolahnya sih cukup wah. Untuk kelas satu, toilet disediakan di dalam kelas. Ada deretan wastafel di pinggir lapangan (mungkin untuk membiasakan anak mencuci tangan dan piring bekal masing-masing dengan mandiri). Lapangan dan area bermain terlihat agak minimalis. Apalagi dengan adanya pembangunan gedung SMP baru (plus gedung TK) kok terkesan semakin berdesakan dan berebutan lahan.*ini kesan pengamatan dari luar yah karena kami memang tidak sempat menjelah keseluruhan* Konon katanya ada fasilitas kolam renang juga di sini.

 

Visi SD IT Nur Al Rahman:

“Berakhlak mulia, mandiri, dan unggul dalam prestasi menuju insan Indonesia bermartabat, cerdas komprehensif dan kompetitif.”

 

Jam belajar untuk kelas 1 dan 2 dimulai pukul 07.00-13.45, sementara kelas 3-6 dari pukul 07.00-15.30 (bada ashar). Jam belajar diawali dengan tahfidz selama 2 jam pelajaran. Ada 28 murid di kelas, dengan 2 guru. Sayang, sepertinya tidak ada program-program khas sekolah di luar jam belajar yang ditawarkan. Maksud saya, adalah program kegiatan yang menjadikannya “beda” dari sekolah lain, program yang bisa mendukung pengembangan diri siswa selain dari kegiatan ekskul (entah di bidang literasi, kepercayaan diri untuk tampil, atau apalah.) Entah memang tidak ada, atau bapak TU yang menjelaskan yang kurang tahu. Beliau hanya menyebutkan soal field trip setiap semester (yang saya tahu setiap sekolah pun ada). Saya pun membolak-balik lembar brosur, tapi memang program semacam itu tidak disebut sedikit pun. Yang dicantumkan di brosur, hanya pemaparan target SQ, IQ, EQ dan PQ (Physical Quotient) bagi para siswa. Poin-poin target akademisnya cukup spesifik dan ambisius sih (buat saya)—nilai rata-rata ujian siswa adalah 80, hafal AlQuran 2 juz (juz 29&30) plus hadits-hadits dan doa-doa pilihan, mampu menyusun karya ilmiah. *hmm kelihatannya sekolah ini agak terlalu condong “otak kiri”*

Ekskul yang ditawarkan sih cukup beragam (Pramuka, Tari, Vokal & Nasyid, Menggambar, Kaligrafi, Dokcil dan Marching Band). Meski pelajaran komputer di SD dihapus dan digeser ke ekskul. Sesi tanya jawab pun ditutup dengan dorongan agar anak saya sesegera mungkin didaftarkan di sana mumpung masih ada kesempatan. Oh ya, dari beliau, saya jadi tahu kalau sekarang nggak ada tes calistung untuk masuk SD. Hanya ada psikotes, alias tes kematangan siswa. Beliau menjamin, selama anaknya cukup umur (sudah 6 tahun) dan bisa mengikuti pelajaran, pasti masuk. *tapi anaknya kepingin TK B dulu, pak* 😛 Lagi pula, dengan bobot akademis seperti yang diterapkan di SD IT Nur Al Rahman, sepertinya saya tidak akan menggegas Radi untuk segera masuk. Bagi saya, sebaiknya si anak lebih puas bermain dan lebih matang dulu sebelum tiba waktunya saya bebani dia dengan tumpukan target IQ/EQ/SQ/PQ sebagaimana tercantum di brosur.

 

Biaya Pendidikan SD IT Nur Al Rahman Tahun Ajaran 2018-2019

1.      Infak Pendaftaran Rp.    450.000
2.      Infak Pengembangan Rp. 13.500.000
3.      Infak Kegiatan Rp.    1.800.000
4.      SPP/bulan Rp.    1.150.000
5.      Seragam Laki-Laki Rp.    1.200.000
             Seragam Perempuan Rp.    1.400.000
Total Murid Laki-Laki Rp. 18.100.000
Total Murid Perempuan Rp. 18.300.000

SPP ada kenaikan saat kelas 3 SD.

 

  1. SD Plus Nurul Aulia

Kunjungan tur singkat keliling SD kami berakhir di SD Plus Nurul Aulia. Ia tidak mengklaim sebagai SD IT, tapi karena memiliki kurikulum tambahan di luar dari kurikulum nasional, jadilah nama sekolahnya ditambah dengan embel-embel SD Plus. Dari segi lokasi, letaknya di tengah-tengah antara SD HT dan Nur Al Rahman. Tak begitu jauh, tak begitu dekat.

           

Visi SD Plus Nurul Aulia:

“Dengan iman dan takwa, SD Plus Nurul Aulia siap menjadi sekolah dasar termaju, berbudaya, serta tangguh menghadapi tantangan global.”

           

Untung, sesuai dengan namanya, saya mendapat kesan positif (Plus) pula begitu memasuki sekolah. Saat tiba, satpam langsung mengantar kami ke ruang tata usaha, dan di sana kami disambut dengan hangat meski kami datang bukan untuk mendaftar, bukan pada masa sosialisasi dan sedang jam belajar. Ada dua wanita di ruangan itu dengan baju pink cerah yang menyambut kami dan siap menjawab segala pertanyaan kami dari A hingga Z. Sama sekali tidak tampak kelabakan meladeni dua orang tamu tak diundang yang ujug-ujug mau survei.

Jam belajar untuk SD kelas 1 & 2 dimulai pukul 07.00-13.30. Untuk kelas 3-6 SD dari pukul 07.00-14.30. Sekolah diawali dengan shalat dhuha dan mengaji dengan metode yanbu’a *si wanita TU itu kemudian dengan sigap mengambilkan contoh buku pelajaran mengajinya untuk ditunjukkan kepada saya*. Menariknya, sebelum sesi belajar dimulai, ada program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) yang diadakan rutin selama 15 menit di awal sekolah. Ini memang bukan program baru, dan beberapa sekolah memang sudah menggalakkan program GLS sesuai himbauan pemerintah. Namun mengetahui SD Nurul Aulia turut mengadopsi kebijakan ini, dan membayangkan nanti saya menyiapkan buku cerita favorit Radi untuk dibawanya ke sekolah (selain buku teks pelajaran) jadi nilai plus tersendiri. *meski hanya 15 menit* Selain program GLS, ada juga “gerobak baca” dan penghargaan “Duta Baca” bagi siswa. Jadi untuk program penggiatan literasi, SD Nurul Aulia lumayan okelah.

Selain kurikulum nasional, SD Plus Nurul Aulia memberlakukan kurikulum tambahan, meliputi: tahfidz, yanbu’a, bahasa arab (mulai kelas 4), bahasa inggris, komputer, pramuka. Ada 24 murid di kelas, dengan 2 orang guru.

Ada ekskul wajib, yaitu renang dan bulu tangkis. Masing-masing diadakan setiap 2 minggu sekali saat jam pelajaran (bukan tambahan waktu pelajaran di hari Jumat atau Sabtu), selang-seling antara murid laki-laki dan perempuan (kalau minggu ini laki-laki lagi renang, perempuan bulu tangkis, begitu sebaliknya). SD ini memiliki kolam renang sendiri. Pilihan ekskulnya cukup banyak: mulai dari olahraga, keagamaan, seni dan bahasa, science, dokcil dan paskibra. Ada juga klub/sanggar: robotic, taekwondo, art and craft, english club, cooking class, cinematography, … *jadi pusing mo milih yang mana*

Beberapa program kegiatan yang rutin diadakan, di antaranya: GLS, periksa kesehatan umum, gigi & mata, bank sampah, kegiatan 3R (reduce, reuse, recycle). Oh ya, Nurul Aulia memiliki konsep sebagai sekolah berwawasan lingkungan dan telah memenangkan beberapa penghargaan sebagai “green school”. Kelihatan dari suasana sekolahnya yang cukup asri dan rapi. Nurul Aulia juga memiliki program penghargaan yang diberikan bagi siswa-siswanya. Ada penghargaan Student of the Month, Class of the Month, Duta Lingkungan Hidup, Duta Baca, Dokcil, Tahfidz Terbaik, Tilawah Terbaik, Hafidz Juz 30 (bukan 30 juz :P). Sapa tau Radi nanti jadi semangat meraih pin Student of the Month atau Duta Baca yaa hihi… Tapi menilai dari karakternya, kemungkinan besar si bocah malah akan menghindar sejauh-jauhnya wkwkkk :D.

 

Biaya Pendidikan SD Plus Nurul Aulia

1.      Pendaftaran dan Tes Kematangan Rp.      450.000
2.      SPP/bulan Rp.      675.000
3.      Dana Sumbangan Pendidikan Rp. 11.900.000
4.      Kegiatan Rp.    2.300.000
5.      Seragam Sekolah Rp.    1.320.000
6.      Buku Rp.        550.000
Total Rp.  17.195.000

SPP di atas belum termasuk biaya katering (10.000/hari belajar efektf). Tambahin aja kira-kira 200.000. Tapi katering hanya diwajibkan untuk kelas 1-2, mulai kelas 3 SD siswa boleh memilih untuk membawa bekal makan siang sendiri dari rumah.

SPP flat dari kelas 1 sampai tamat.

***

Demikian sekilas “review-reviewan” tiga SD (versi sayah) di lingkungan sekitar saya. Untuk memilih sekolah nanti, semua kembali ke visi misi yang dipegang orangtua karena pandangan masing-masing terhadap pendidikan anaknya bisa berbeda-beda. Saya akui, rasanya mustahil bisa menemukan satu sekolah yang SEMPURNA, yang semua poinnya sesuai dengan keinginan kita. Tapi minimal ya pilihlah yang paling mendekati, yang paling sreg bagi orangtua dan (yang terpenting) paling sesuai bagi kondisi anaknya. Berikut, tinggal kita tambal yang kurangnya di rumah. Ingat, rumahlah madrasah pertama anak, dan guru-guru di sekolah hanya pengajar sekunder.

 

 

“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”

                                                                              —Ki Hajar Dewantara

UPDATE:

4. SD Tridaya Tunas Bangsa

 

Berhubung kemarin berkesempatan menyurvei satu SD lagi yang tampak menjanjikan, saya tuliskan di sini reviewnya:

 

Slogan SD Tridaya, “Ramah, Unggul dan Berkarakter.” Begitu saya masuk ke ruang administrasi, ada seorang pegawai wanita yang dengan ramah menjelaskan tentang konsep sekolah plus membawa saya tur keliling sekolah. Yang paling membuat saya terkesan dari SD Tridaya adalah fasilitasnya. Untuk SPP seharga itu (masih di bawah SD Nurrahman dan Al-Azhar) sarana dan prasaranya terbilang cukup wow. Setiap kelas dilengkapi TV LED, komputer, ruang kelas lega, ada pojok baca (reading corner). Ada art class, komputer class, improvement class (untuk terapi ABK), music class. Bahkan sekarang sedang dibangun fasilitas lift di gedung empat lantai ini. Sayang mushola agak mungil dan tidak ada masjid di area sekolah. Minusnya juga, saya tidak melihat adanya area lapangan hijau. Dan ini selera pribadi ya, tapi kalau saya entah mengapa kurang suka sekolah tanpa taman dan lapangan hijau, dan hanya menghabiskan waktu bermain di dalam gedung (hm.. a bit claustrophobic, maybe :P). Dan karena gedung bercampur dengan PG/TK di lantai satu, kelas 1 baru di lantai dua, rasanya agak kelewat ramai di dalam satu gedung tertutup itu.

Untuk program belajar, saya acungi jempol. Kegiatan belajar sangat dinamis dan kelihatan banget sekolah ingin menanamkan cara belajar yang fun fun fun. Ada program unjuk kabisa yang melatih anak untuk pede tampil di depan umum, kegiatan cooking, membuat project, pelajaran alat musik. Ada cukup banyak pilihan ekskul juga (yang populer, membuat animasi). Untuk program literasi, ada jam belajar khusus untuk anak berkunjung ke perpus dan meminjam buku, selain juga ada pojok baca yang memuat rak buku di setiap kelas. Saya suka banget dengan konsep setiap anak memiliki buku jurnal (selain buku komunikasi dgn orgtua). Anak jadi dibiasakan untuk menulis dan mengekspresikan diri. Minusnya, kalau saya lihat, mungkin karena sekolah ini baru berdiri empat tahun, jadi belum ada jebolan alumninya dan kita belum bisa menakar kemampuan bersaing lulusannya dengan SD-SD lain. Siswa paling tua baru duduk di kelas 4 SD tahun ini, kelas 5 dan 6 baru ada ruangannya doang.

Oh ya, SD Tridaya tidak mengaku sekolah Islam, tapi berhubung 100% muridnya beragama Islam saat ini, kurikulumnya sangat Islami. Ada pembiasaan shalat Dhuha setiap pagi, ada muroja’ah hafalan dan belajar baca Quran. Murid perempuan disiapkan kerudung sebagai tambahan seragam tapi tidak diwajibkan. Murid laki-laki bercelana panjang. Setiap kelas berisi 25 murid dengan 2 orang guru. Jam belajar untuk kelas 1 SD mulai pukul 7.30 – 13.30. Kalau ikut ekskul, biasa mulai pukul 14.30-15.30 (weekdays). Yang perlu dicatat, SD Tridaya hanya membuka sedikit kuota bagi murid dari luar. Prioritas diperuntukkan bagi para alumni TK Tridaya lebih dulu sementara mereka hanya menerima 50 murid (2 kelas) setiap tahunnya. Jadi kalau tertarik mendaftarkan anak untuk bersekolah di sini, harus buru-buruu.. siapa cepat dia dapat 😛  Kalau mau browsing-browsing lebih jauh, berbeda dari kebanyakan SD, situs sakolatridaya.com cukup aktif.

 

Biaya Pendidikan SD Tridaya Tunas Bangsa (tahun ajar 2018-2019)

1.      Pendaftaran dan Tes Kematangan Rp.      550.000
2.      SPP/bulan Rp.      800.000
3.      Dana Sumbangan Pendidikan Rp. 13.000.000
4.      Kegiatan Rp.    2.200.000
5.      Seragam Sekolah Rp.    1.000.000
Total Rp.  17.550.000

SPP di atas belum termasuk biaya katering (10.000/hari belajar efektf). Tambahin aja kira-kira 200.000. Tapi katering tidak wajib, boleh membawa bekal snack dan lunch dari rumah.

SPP flat dari kelas 1 sampai tamat.

 

Membesarkan Anak Bilingual

Kemarin saya sempat menghadiri acara bincang parenting bertema “Raising a Bilingual Child for Non-native English Speaker Parents”  yang disampaikan oleh mbak Yoke Wulansari di Pustakalana. Menarik sekali temanya. Sayang sekali jika tidak saya catat secuplik rangkumannya. Semoga bermanfaat. Here it goes …

Setiap keluarga pasti memiliki visi dalam membesarkan dan mendidik anak. Mendidik anak menjadi seorang bilingual harus menjadi keputusan kompak antarsuami istri, mesti dijalankan secara konsisten dan prosesnya jangka panjang. You (and the CHILD) will only reap the benefits in the long-run. Jadi jangan berharap instan.

Tapi sebelum beranjak lebih jauh, sebenarnya apa sih definisi bilingual itu sendiri? Definisi yang disampaikan seorang pakar bahasa (linguist) asal Amerika, Leonard Bloomfield, ini mungkin bisa cukup menjelaskannya:

“Bilingualism is a native-like control of two languages.”

Jadi, seorang anak dikatakan bilingual jika dia memiliki penguasaan dua bahasa dengan sama fasihnya. He could switch between mother-language (majority-language) and minority-language with ease. Bukan sekadar mengerti bahasa kedua secara pasif, namun bicara tergagap-gagap. Seorang bilingual memiliki kefasihan bahasa kedua sama seperti seorang “native-speaker”. Nah, itulah tantangan kita sebagai orangtua yang bukan penutur asli bahasa kedua. Saya bukan seorang anak bilingual, tapi mempunyai cita-cita membesarkan anak bilingual (bahkan trilingual—Indonesian, English, and of course, Sundanese). Apalagi setelah tahu banyaknya keuntungan yang dimiliki seorang anak yang dibesarkan secara blilingual, keinginan itu pun semakin mantap.

Saya hanya akan menuliskan segelintir saja manfaatnya (yang sungguh bejibun adanya). Di antaranya, keuntungan secara kultural dan komunikasi: kemampuan mengakses literasi dari “dua dunia” jelas akan memperluas wawasan dan memperkaya diri sang anak, mengembangkan kemampuan toleransi dan apresasi akan keragaman, membuka pintu-pintu kesempatan di bidang pendidikan dan pekerjaan secara global. Belum lagi keuntungan kognitifnya, seperti kreativitas, multi-tasking, sensitif akan komunikasi, fokus, fleksibel, dan terbiasa berpikir kompleks. Menurut penelitian, anak yang dibesarkan secara bilingual terbiasa berpikir cepat dan karena otaknya selalu dibenturkan dengan konflik konsep antardua bahasa, perkembangan serabut-serabut halus otaknya jadi semakin aktif. Sebelumnya saya juga pernah baca di sebuah artikel bahwa belajar bahasa asing itu mampu mencegah kepikunan dini (ini mungkin buat emaknya :P).

 

Mengapa belajar bahasa asing sebaiknya dimulai semenjak kecil, dan apakah anak tidak akan kewalahan jika dicekoki banyak bahasa sejak dini?

Nah, inilah kesalahan asumsi kebanyakan orang, karena faktanya, anak-anak belajar bahasa itu sama naturalnya seperti mereka belajar melompat, berlari, melukis, bermain. Bagi seorang anak, bahasa itu diperoleh (acquired) alih-alih dipelajari. Language acquisition is a by-product of playing and interacting with people.

Selain itu, karena anak-anak menyerap apa yang didengarnya, mereka lebih mungkin memiliki pelafalan mendekati “native-speaker”. Anak kecil juga belajar bahasa asing melalui penyerapan langsung. Beda kasusnya, jika mereka baru mulai belajar di usia belia atau remaja. Pada saat itu, mereka akan memproses bahasa asing itu melalui filter “bahasa ibu” mereka, sudah tidak secara langsung.

 

Strategi Mengajar Bilingual

Setelah kedua orangtua kompak menetapkan tujuan mendidik anak sebagai penutur dua (atau tiga) bahasa, langkah berikut yang mesti diputuskan adalah memilih strateginya. Ada tiga strategi yang biasa digunakan:

  • OPOL: One Parent One Language. Cocok diterapkan bagi pasangan beda bangsa.
  • ML@H: Minority Language at Home. Cocok diterapkan bagi keluarga yang sedang bermukim di luar negeri. Misal, keluarga yang sedang tinggal di Jepang. Di luar sang anak tentu akan menggunakan bahasa Jepang (apalagi jika sudah bersekolah), sementara di rumah orangtua tetap membiasakan bahasa Indonesia agar bahasa ibu sang anak takkan luntur.

Suami saya yang dibesarkan bilingual juga dahulu menggunakan strategi ini (Di komunitas menggunakan bahasa Indonesia, di rumah sehari-hari berbicara bahasa Sunda).

  • Time & Space. Metode ini paling fleksibel dan paling banyak digunakan. Orangtua menetapkan waktu-waktu mereka menggunakan bahasa kedua, misal: setiap sore setelah mandi, setiap waktu story-telling, di hari-hari tertentu dalam seminggu, family outing, etc. Usahakan setiap hari ada sesi menggunakan bahasa kedua.

 

Tips … Tips … Tips!

Hal yang bisa kita lakukan saat kita berniat mengajarkan bahasa kedua kepada anak kita:

  • Rencanakan sebaik-baiknya. Planning is key.
  • Tetapkan strateginya, dan kompakkan diri dengan pasangan.
  • Cari lingkungan yang mendukung. Misal, rutinlah bertemu dengan keluarga yang juga menerapkan upaya yang sama, berpartisipasilah dalam klub bila ada, dan lain sebagainya. Lebih bagus lagi bila bisa rutin berbincang dengan native-speaker. (Bila anak sudah cukup besar, mungkin bisa mencari kesempatan mengikuti program tukar-budaya).
  • Selaku orangtua yang “memberi” bahasa kedua, selalu perbaiki dan tingkatkan kemampuan berbahasa asing kita sendiri, mulai dari pelafalan, tabungan kosakata, dll. Ingat, kita adalah role model sebagai penutur bahasa kedua (atau ketiga) bagi anak. Sementara anak peniru ulung dan kepercayaan mereka akan cepat rusak kalau memerhatikan kemampuan bahasa kedua kita sendiri pas-pasan. Kita pun tidak ingin menjadi sumber yang salah bagi anak. Sudah banyak aplikasi pembelajaran bahasa yang bisa kita gunakan, lengkap dengan pelafalannya. Belajar, belajar, belajar!
  • Awalnya, kita mungkin akan merasa canggung menggunakan bahasa kedua bersama anak. Tapi dalam prosesnya, perlahan-lahan rasa canggung itu akan hilang dengan sendiri. Jangan pula terintimidasi dengan omongan orang sekitar yang mungkin mempertanyakan upaya kita. People will always talk. Yang penting, kembali kepada visi keluarga di awal. Bukankah setiap keluarga memiliki visi mendidik anak masing-masing?
  • Start early! The earlier the better. (Sebagian alasannya sudah disebutkan di atas).
  • Make it fun and interactive. Inspire joy in the experiences of the minority language. Talk, read aloud, play games, use music and other media. Yang perlu diingat, tidak cukup mengembangkankan bahasa asing anak dengan hanya mengandalkan aplikasi games-games edukatif berbahasa asing atau tontonan youtube, cbeebies, etc. Kunci sukses mengajarkan bahasa adalah dengan interaksi bersama manusia lain. Talk, talk, talk and read, read, read. Kita juga bisa menggunakan “monolingual assistant.” Misalnya, Radi punya boneka tangan bernama “Mr. Clown” yang hanya bicara bahasa Inggris.
  • Consistency! Efforts must be consistent but also flexible to adapt.
  • Commitment! The passion you feel for raising a bilingual child must be strong enough to fuel the long-term success you seek. Seperti yang awal dibilang, prosesnya ini benar-benar jangka-panjang dan tidak instan. (Adakah yang instan dari sebuah proses pendidikan?)

 

Books n Mr Clown

Mr Clown and the books borrowed from local library

Saat acara bincang parenting berlangsung, sejumlah pertanyaan sempat mengemuka.

Q: Apa yang mesti kita lakukan jika kita telah menetapkan bahasa kedua yang ingin dibiasakan pada anak, tapi kemudian ada pandangan dari keluarga besar untuk belajar bahasa lain lagi? Apakah anak nanti akan kebingungan?

A: Itu tidak masalah. Jika, misalkan, kakek/neneknya mengajarkan tambahan bahasa daerah, justru itu bisa memperkaya sang anak. Anak pun mengerti dan otaknya akan mengotak-ngotakkan bahasa-bahasa yang didengarnya; yang mana bahasa A, B, C. Peran serta keluarga besar bisa dimanfaatkan bila kita ingin mengenalkan bahasa daerah pada anak, tapi kita sendiri memiliki keterbatasan dalam bahasa tersebut. Namun orangtua tetap memegang kunci, dan kembali ke visi keluarga bersangkutan. Merekalah yang sehari-hari berinteraksi dengan anak dan yang menentukan bahasa yang ingin dikenalkan lebih dulu.

 

Q: Tidakkah anak akan cenderung berbicara campur-aduk atau berbahasa gado-gado?

A: Mencampur kata atau mixing words dikenal juga sebagai code switching. Terjadi saat anak menggunakan semua sumber bahasa yang dikenalnya untuk menyampaikan makna secara lebih tepat. Namun hal ini biasa terjadi hanya ketika anak berbicara dengan lawan bicara yang paham dua bahasa sasaran yang digunakannya dan bisa diminimalisir.

Tips untuk meminimalisir code-switching ini adalah dengan memastikan anak mendapat paparan bahasa dalam kondisi murni atau tidak tercampur (unmixed-form). Itu berarti kita mesti memonitor penggunaan bahasa kita sendiri dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mencampur bahasa. Jangan sampai dalam satu kalimat saja kita menggunakan dua atau tiga bahasa berbeda. Namun hindari menegur atau menghukum anak bila hal itu terjadi. Cukup ulangi kata-kata yang dimaksud senatural mungkin. Dalam prosesnya, begitu anak memiliki tabungan kosakata yang semakin kaya dari kedua bahasa itu dan dengan pembiasaan untuk menggunakan bahasa secara murni, code-switching bisa hilang dengan sendiri.

 

Nah, bahasa asing apapun yang ingin kita kenalkan pada anak–mau itu bahasa Inggris, Jerman, Mandarin, Arab, Jawa—luruskan niat. Jangan berangkat karena obsesi ambisius belaka, pun demi gengsi-gengsian. Yakinlah, bahwa itu adalah pemberian terindah kita kepada anak.

 

“Bilingual child-rearing is like breastfeeding: it is giving a child a tender gift. It costs you nothing and fits in perfectly with everyday life.”

–Jane Merril

 

 

Bilingual-meme-Bilingual-quote.-Im-bilingual-whats-your-superpower-300x300

 

Curhat soal Bullying

Bullying alias perundungan memang dekat dengan kehidupan anak-anak kita. Tapi, jujur, dulu saya mikirnya anak 5 tahun masih jauh dari dunia bully-membully. Boy, how I was wrong… karena sebetulnya, bibit-bibit bullying sudah bisa terlihat dari masa anak mulai bersosialisasi. Meski buat anak TK, level bullyingnya masih skala kecil karena anak-anaknya pun masih kecil-kecil *opo sih*.

—————————————————————————————————————————–

Suatu waktu, Radi pernah bercerita kalau ada teman sekelasnya yang suka mendorong-dorong dia. Saya pun serta-merta menasihati, “Radi kalau nggak suka dengan sesuatu, bilang aja langsung ‘AKU NGGAK SUKA.’”

—————————————————————————————————————————–

Nah, punya anak dengan kepribadian seperti Radi yang cenderung pasif dan nrimo jadi tantangan tersendiri dalam menghadapi bab bullying ini. Radi paling suka menghindar dari keributan. Daripada temannya nangis, Radi lebih memilih untuk mengalah saja … biarpun, misalnya, mainannya direbut. Dia akan memilih respon flight (kabur) daripada fight (melawan/membela haknya). Mending mengalah saja biar tenang, daripada nanti ribut. Sekali dua kali tak masalah, tapi kalau terus-menerus “flight” seperti itu, saya khawatir juga nanti dia akan selalu menghindar dari konflik. Selalu menghindar dari kondisi yang tidak nyaman baginya, dan dia akan tumbuh tanpa mempunyai kesadaran untuk membela haknya.

Saya memang ingin memiliki anak yang bisa berbagi, tapi penting juga bagi anak saya untuk menyadari bahwa dia memiliki hak untuk menolak permintaan temannya. Bahwa dia tidak boleh membiarkan dirinya selalu diinjak-injak dan “dimanfaatkan” orang lain.

Terus terang, saya suka gemas juga sih. Kalau saya melihat langsung kejadian temannya merebut mainannya dan melihat gelagat Radi yang kesal tapi mengalah saja, saya suka mengingatkan ke teman mainnya, “Minta izin dulu ya. Boleh nggak pinjam?” atau “Radi masih pingin main yang itu?” Lantas kalau Radi mengiyakan dengan cemberut, “Ya udah. Nggak papa, Radi main aja. Radi boleh kok menolak. Coba tawarkan temannya mainan yang lain saja.”

Tapi saya sadar, saya nggak akan selalu berada di sisi anak saya. Saya tidak bisa selalu membereskan konflik yang ditemuinya (dan jangan sampai deh, saya menjadi orangtua yang selalu turun tangan dalam konflik anaknya). Sebuah kepastian, sehari-hari begitu keluar rumah, dia akan bertemu dengan banyak anak dengan berbagai macam karakter. Bahkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang mungkin tidak berbagi nilai-nilai yang sama dengan yang dianut keluarga kami. Karena itu, menanamkan sikap asertif pada diri anak saya menjadi PR terpenting bagi saya. Sifat yang paling saya stabilo tebal saat ini.

Jujur, saya sendiri memiliki pengalaman nggak enak dibully di jaman SD. Sewaktu kecil, saya anak yang sangat pendiam, pasif, berbeda (terutama dari sisi ekonomi dari anak-anak kebanyakan di SD saya dulu). Dijahati oleh teman, saya diam saja, tidak mau bercerita pada siapapun (bingung juga bagaimana ngomongnya, meski ke keluarga sendiri). Tapi efeknya, setiap mau berangkat sekolah, pasti saya sakit perut. Saya benci sekolah dan saya tak punya teman seorang pun sampai kelas 4 SD. Melihat karakter Radi yang tak jauh berbeda dari emaknya inilah yang bikin saya rada cemas. Duh, jangan sampai deh kasus yang sama berulang pada anak saya.

Saya dan suami pun sepakat bahwa begitu masuk SD, Radi harus belajar bela diri. Selain untuk mengenal teknik membela diri, belajar bela diri akan bagus untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Saat melihat program karate untuk anak prasekolah, saya bahkan tertarik untuk langsung mendaftarkan Radi, tapi kata suami sih, minimal SD atuhlah karena belajar bela diri butuh kedisiplinan.

—————————————————————————————————————————

Balik ke sikap asertif. Pada kesempatan lain sepulang sekolah, Radi kembali bercerita:

“Lihat tanganku dicoret-coret sama Ochan tadi .. pakai SPIDOL.” *sambil nunjukin lengannya*.

“Radi suka nggak tangannya dicoret-coret?” Mama memastikan, soalnya Radi bercerita dengan santai. Tidak ada tanda-tanda kesal.

“Hm.. nggak suka.” *Radi tampak mikir.*

“Ingat, Radi harus bilang ke temannya, kalau nggak suka. Kalau temannya nggak nurut, bilang ke ibu guru.”

—————————————————————————————————————————–

Jangan sampai deh anak saya menuruti falsafah ibunya dulu yang menganut “Silence is Golden”. Penting bagi saya, agar anak saya berani “vokal” membela dirinya. Terutama karena anak saya laki-laki. Bahkan saya ingin sekali agar Radi  bukan hanya tahu membela dirinya sendiri. Bila melihat kasus bullying terjadi pada temannya, dia pun harus bisa stand-up membela para korban bullying ini.

Saya menyadari anak saya pun tidak berarti steril dari menjadi “pelaku bully.” Justru dengan sikapnya yang agak pasif, di tengah pergaulan dia bisa saja dengan mudahnya terseret oleh mereka yang berkepribadian lebih dominan. Mendiamkan saja ketika aksi bullying terjadi—bagi saya—berarti sudah terlibat sebagai “pelaku” (meski pelaku pasif). Its still the same though. Pelaku pasif tetaplah “pelaku”. Saya berharap, dia harus bisa “berdiri membela prinsip” ketika sebuah kezaliman terjadi.  Jadilah “pembela” bagi ibunya di masa dulu.  *Amiiin.*

—————————————————————————————————————————–

Untuk mencegah menjadi pelaku bully, sikap empati anaklah yang harus selalu diasah.

Kesempatan lain, Radi bercerita (lagi-lagi tentang Ochan :D):

“Tadi pas menggambar, kata A (teman baik Radi) Ochan gambarnya coret-coret..” *Radi ketawa-ketiwi*

“Oh, gitu. Radi sedih nggak kalau lagi menggambar Spiderman, trus dikomentarin temannya ‘ih coret-coret.’”

“Sedih sih.” *Radi jadi merenung lebih serius”.

“Nah, kasian kan Ochan dikomentarin gitu …”

“Iya, Ochan kan masih kecil. Belum bisa gambar.” *tiba-tiba jadi sok gede dan bijak*

—————————————————————————————————————————–

Nah, percaya deh. Anak terlahir membawa fitrah yang suci. Di lubuk hati, mereka tahu sendiri mana yang benar dan mana yang salah. Tugas kitalah—sebagai ortu—untuk mengasah dan mengarahkan fitrah bawaan mereka itu agar terus terjaga.

—————————————————————————————————————————–

Hm… kalau boleh merangkum catatan ini, berikut sejumlah bekal yang perlu kita siapkan selaku orangtua dalam menghadapi kasus perundungan (lebih enak pakai kata bullying sih).

  • Asah sedini mungkin sikap asertif sekaligus empati anak.
  • Banyak-banyak berdoa agar sebagai orangtua kita terus dibimbing dalam ikhtiar kita menjaga fitrah baik anak.
  • Terus jalin komunikasi yang intens dengan anak. Dengar, dengar, dengar. Banyakin dengarnya daripada komentarnya.
  • Kita juga mesti mawas diri dengan perilaku kita selaku orangtua karena anak adalah cerminan diri kita. Mereka peniru ulung, dan contoh pertama yang mereka turuti tak lain tak bukan … ORANGTUANYA. Kalau orangtuanya suka bercanda dengan mengolok-olok orang lain yang berbeda dari mereka, jangan-jangan anak jadi mendapat pesan “its ok to make fun of others who are different from them.” Atau orangtua yang bercanda dengan, secara tidak langsung, mengejek atau merendahkan anak—baik itu fisiknya, atau memberi panggilan (name-calling) yang anak sendiri sebetulnya tak suka.

Jangan sampai kita malah menanam bibit perundungan dari rumah kita sendiri.

——————————————————————————————————————————-

Mungkin ada saja orang yang akan berkomentar, nggak usah lebay juga kali menghadapi bullying. Kalau masalah ejek-mengejek kan sudah biasa. Namun masalahnya, setiap orang kan beda-beda. Tidak semua orang yang jadi korban bisa kebal menghadapinya. Ada sejumlah kasus yang berujung “suicidal”, banyak pula yang jatuh depresi atau meninggalkan efek jangka panjang. Toh tidak semua anak memiliki jaringan pendukung (keluarga dan teman) yang solid.

Dalam kasus saya, saya bersyukur kasus bullying yang terjadi pada saya berhenti begitu saya keluar dari lingkungan itu (baca: lulus SD). Entah apa jadinya kalau proses bullying itu masih terus berlanjut menimpa saya. Mungkin akan lain lagi ceritanya.

Jadi teringat dengan kutipan berikut: “Its nice to be important. But it is more important to be nice.”

Yup, siapa yang tidak senang jika buah hati kita memiliki segudang prestasi. Tapi berhasil mendidik anak menjadi manusia yang baik, itu jauh lebih penting bagi saya.[]

 

Membiasakan Anak Bertanggung Jawab atas Diri Sendiri

Semenjak dulu, sejak jaman belum punya anak, saya sudah mendambakan kelak ingin membesarkan anak yang berjiwa mandiri. Yang pandai bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Mungkin itu berangkat dari pengalaman masa kecil saya sendiri. Sedari kecil saya tak pernah “dilayani.” Ibu saya membesarkan lima anak tanpa pengasuh (hanya ART yang bertugas memasak dan membereskan rumah tok). Semua urusan anak dipegang langsung oleh tangan ibu saya. Otomatis saya diharapkan tumbuh lebih mandiri. Saya nggak pernah ingat makan disuapi, atau tas sekolah dijinjing ibu, atau barang-barang pribadi disimpan dan dirapikan orang lain.

Itu sebabnya saya tak ingin mempekerjakan bibi yang khusus mengasuh anak. Saya ingin anak saya belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Mengurus diri dan barangnya sendiri. Saat pulang sekolah, tidak menaruh tas dan kaus kaki di mana saja, baju kotor di mana-mana, piring makan dan sisa bungkusan sekehendak hati lantas simsalabim semua barang-barang miliknya sudah tersimpan rapi di tempatnya. Saya khawatir kebiasaan ini akan berimbas sampai usia dewasanya hingga kelak di alam bawah sadar anak, akan selalu ada si “bibi ajaib” yang membereskan segala-galanya. Oh nooo…

Sedari usia dini, saya sudah mulai menanamkan rasa kemandirian dan tanggung jawab ini sedikit demi sedikit pada anak, tentu disesuaikan dengan umur dan kemampuannya. Bukankah menanamkan kebiasaan baik seharusnya dimulai sedini mungkin? Alhamdulillah, sejak belum genap 3 tahun, Radi sudah menunjukkan kesadaran untuk membantu pekerjaan rumah emaknya (baca: bebersih dan merapikan barang-barangnya sendiri). Setiap melepas pakaian, baju-baju kotornya dia taruh di keranjang cucian. Sehabis mandi, Radi belum mau keluar kamar mandi dan dihanduk kalau belum membereskan peralatan mandinya ke tempatnya (sikat gigi, gayung, gelas kumur, mainan airnya). Setiap sampah selalu dibuangnya ke keranjang sampah. Malahan kalau berada di luar, Radi selalu semangat mencari tempat sampah untuk membuang sampahnya.

Berikut sejumlah kiat menanamkan kemandirian pada anak yang berusaha saya terapkan:

– I Am Not Your Maid

Jangan terlalu “melayani” anak. Untuk hal-hal yang masih dikira wajar, biarkan anak mengerjakannya sendiri. Sekalian mengajarkan konsep “kau harus berusaha untuk mendapat apa yang diinginkan.” Misal, mengambil peralatan makan sendiri ke ruang dapur. Kalau air tumpah karena perbuatannya, biarkan anak mengelap sendiri. Tentu sesuaikan dengan jenjang umur. Batita bisa saja dibantu, “Oh, tumpah. Tolong ambilkan lapnya di …. Nah, tinggal dielap tumpahnya, kan. Nggak usah panik.” Dalam penanaman kebiasaan, perhatikan kondisi anak. Jangan biarkan anak sampai frustrasi. Atau kalau kebetulan moodnya mungkin lagi nggak bagus, kita juga mesti bersikap lebih longgar.

– Empower Your Child

Ketika anak butuh bantuan, jangan dikerjakan dengan tuntas oleh kita sepenuhnya tanpa si anak tahu caranya. Misalnya, minta buka bungkusan makanan, mengikat tali, melipat pakaian, mengancing pakaian, merapikan selimut. “Dibantu” bukan berarti dihandle sepenuhnya. Biasakan untuk berkata: “Sini biar Mama bantu” ketimbang “Sini biar Mama yang kerjakan.” Tunjukkan kepada anak cara mengerjakan segala sesuatunya. Lama-lama kita akan kaget sendiri karena anak itu betul-betul memerhatikan.

– Lower Your Standard

Jangan terapkan standar terlampau tinggi dalam menilai kerapihan anak. Kalau setiap pekerjaan anak sedikit-sedikit dibereskan, lama-lama anak akan kesal sendiri. “Ya udah, ibu aja yang beresin kalau gituh…Kerjaanku toh selalu salah.” Melipat selimut agak awut-awutan, misalnya. Atau menyimpan celana kolor di bagian baju atasan… itu tak masalah selama tidak membahayakan jiwa anak… Beresin selimut molor sampai sejam alih-alih lima menit?… sekali lagi, ga masyaalah… Kita mesti tahu kapan saatnya mundur dan untuk tidak selalu turun tangan.  Hargai usaha anak yang sudah berusaha menyimpan barang pada tempatnya atau membereskan sesuatu.

– Setting

Pengkondisian rumah itu penting. Sebisa mungkin orangtua mesti menyiapkan setting di rumah yang akan memudahkan anak dalam upaya membersihkan dan merapikan barang-barangnya. Sediakan tempat sampah di setiap ruangan. Di kamar anak tata rak atau boks mainan yang mudah dijangkau oleh anak. Ajarkan pada anak bahwa setiap barang ada tempatnya masing-masing. Kemudian tunjukkan di mana letak tempat sampah, rak buku atau mainan, keranjang baju kotor.

– Reward

Mekanisme menanamkan kebiasaan baik dengan reward selalu bisa dipakai. Mengingat umur anak yang masih balita, saya hanya fokus memberi reward tanpa sanksi. Saya pikir pemberian sanksi baru bisa diterapkan di usia menginjak SD, ketika anak sudah semestinya mengerti apa yang dituntut sebagai kewajibannya.

Action Speaks More Volume!

Ini yang terpenting. Orangtua mesti menjadi teladan pertama bagi anak. Kalau tiap hari mamanya pungutin ini itu yang berceceran, diam-diam anak memerhatikan dan akan mengadopsi kebiasaan itu. Atau minimal setiap penghujung hari sebelum tidur, kamar sudah rapi. Ini akan tertanam di alam bawah sadar dan terbawa sampai anak besar nanti. Ketika kamar sudah kayak kapal pecah, anak nggak akan betah… gatel pengin ngeberesin.. (speaking from experience :P)

Semua pembiasaan mesti dimulai sejak masa awal kehidupan. Nggak bisa kita beragumen, nanti toh kalau sudah besar bisa dibilangin… Oh, noo, kalau sudah besar akan lebih susah lagi, karena hal ini kembali ke PEMBIASAAN. Dan konon katanya, lebih mudah untuk menumbuhkan kebiasaan baru daripada mengubah kebiasaan lama yang sudah mendarah daging. Saya percaya upaya penanaman kemandirian ini adalah wujud cinta kasih kita pada diri anak. Dengan begitu, kita telah membantu anak agar kelak dia tumbuh menjadi manusia mandiri yang tidak akan merepotkan orang lain tanpa disadarinya. Manusia yang pandai bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan tidak hanya tahu dilayani. Amiiin…

10423657_870030603043486_8288671668257745434_n

Jalur Komunikasi Pengasuhan

“Anak yang merasa dihargai kelak akan belajar untuk menghargai orang lain.”

Bu Rani Razak dalam bukunya, Amazing Parenting, membeberkan bahwa kunci pengasuhan terletak pada jalur komunikasi. Sudahkah kita selaku orangtua membuka pintu komunikasi selebar mungkin dengan buah hati kita? Open door communication dilakukan dengan menggunakan bahasa tubuh yang benar dan mendengar aktif.

 Bahasa Tubuh

Pesan yang benar bisa tidak tersampaikan dengan baik karena cara yang salah. Maka itu sebelum menyampaikan pesan kepada anak, gunakan bahasa tubuh yang sesuai. Caranya, dengan menyediakan waktu, tidak menyampaikan dengan terburu-buru, melihat suasana hati anak terlebih dulu, menunda penyampaian pesan jika memang anak sedang merasa tidak nyaman, serta menyampaikan pesan dengan disertai penjelasan.

Kenapa melihat suasana hati anak itu penting bila ingin menyampaikan informasi? Studi menunjukkan bahwa proses penerimaan informasi sangat dipengaruhi perasaan. Seluruh informasi masuk ke otak melalui indra anak: penglihatan, pendengaran, perabaan, dan penciuman. Ia masuk melewati batang otak, lalu singgah dulu di sistem limbik. Sistem  limbik itu bagaikan pintu sebelum informasi masuk ke korteks serebri, tempat bersemayamnya kecerdasan. Ada satu bagian pada sistem limbik yang disebut amigdala, yang menyimpan perasaan dan memberi perintah kepada sistem limbik untuk membuka atau menutup. Ketika perasaan seorang anak gundah atau kesal, amigdala memerintahkan sistem limbik untuk menutup. Akibatnya, informasi yang masuk hanya tertumpuk di sistem  limbik (tidak masuk korteks serebri) dan segera terlupakan. Sebagian kita mendeskripsikan situasi ini seperti begini, “Nih anak, udah berkali-kali dibilangin, nggak masuk-masuk juga ke otaknya!”

Sebaliknya, saat anak ingin mengirimkan pesan kepada orangtua, tampilkan bahasa tubuh yang bisa membuat anak merasa nyaman, seperti mendengarkan, menghadapkan tubuh dan memberi perhatian sepenuhnya pada anak, dan bersikap empatik terhadap perasaan anak.

Mendengar Aktif

Teknik berikut untuk membuka jalur komunikasi adalah dengan mendengar aktif. Mendengar aktif artinya kita bukan hanya menerima informasi melalui perkataan anak, tapi juga dapat mendengar, menerima, serta memahami perasaan anak sebagai lawan bicara.

Tujuan mendengar aktif adalah memahami lawan bicara seperti yang ia rasakan, bukan seperti yang kita sangkakan. Kemampuan mendengar aktif bisa kita latih.

Berikut Teknik Mendengar Aktif:

  1. Encouragement—mendorong anak untuk terus bicara

Dalam tahap ini, kita jangan berkata “setuju” atau “tidak setuju”. Namun tanggapi perkataan anak dengan ketertarikan penuh.

Misal: “Ooo…begitu…” “Wah…wah…lalu kamu ngomong apa?”

Namun orangtua harus berhati-hati dengan bahasa tubuh. Jangan sampai anak merasa kita hanya berpura-pura saja menaruh perhatian.Tinggalkan pekerjaan kita sejenak.Tataplah mata anak saat bicara.

  1. Restating—mengulang inti pembicaraan yang disampaikan anak

Tujuan pengulangan adalah untuk menunjukkan kepada anak bahwa orangtua benar-benar mendengarkan dan memahami isi pembicaraan. Ada kemungkinan pula kita salah paham dengan pesan yang ingin disampaikan anak. Jadi dengan restating ini terbuka peluang untuk berdiskusi lebih intens dengan anak.

  1. Reflecting—memantulkan perasaan anak

Tujuannya untuk menunjukkan bahwa orangtua mendengarkan dan mengerti perasaan anak. Upaya Ayah dan Ibu mengidentifikasi perasaan anak akan melatihnya untuk mengenali perasaan sendiri. Anak kelak akan mampu menemukan masalahnya yang sebenarnya dan tidak mencampuradukkan dengan perasaannya.

Contoh frasa yang bisa digunakan untuk reflecting:

  • “Kamu merasa terganggu ya dengan…”
  • “Kelihatannya, kamu… (bangga, senang, sedih, bingung)”
  1. Summarizing—menyimpulkan isi pembicaraan

Langkah terakhir teknik mendengar aktif adalah mengumpulkan dan menyimpulkan ide-ide dan fakta dari pembicaraan yang berlangsung. Kesimpulan itu digunakan untuk menciptakan landasan dalam mengambil keputusan lanjutan serta mereview perkembangan dan situasi.

Contoh frasa:

  • “Kelihatannya ide dasarmu adalah…”
  • “Kalau Bunda tidak salah, kamu merasa bahwa… tentang situasi…”

Anak yang perasaannya diterima dan dipahami akan merasa dihargai, dipentingkan, dan tentu bahagia. Perasaan negatifnya pun akan hilang dan ia bersedia melanjutkan komunikasi dengan Ayah dan Ibu sehingga orangtua pun akan mengerti permasalahan yang sebenarnya terjadi. Respons positif terhadap perasaan anak akan menghindarkannya dari krisis percaya diri saat bergaul di luar.

Sumber: Amazing Parenting oleh Rani Razak Noe’man (Noura Books)