Customized Education = The Future of Learning?

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa instansi sekolah berdiri dan berkembang pada era awal Revolusi Industri. Ketika negara membutuhkan lulusan-lulusan siap kerja untuk mengisi pasar tenaga kerja yang kebanyakan akan bergerak di sektor industri massal. Untuk itu, sekolah menyuguhkan pengajaran dengan standar massal (setiap murid berumur sama di suatu negara akan dikumpulkan ke dalam jenjang yang sama, menerima pelajaran dengan bobot muatan yang sama dan durasi belajar yang sama). Inilah yang terjadi dalam pengajaran di sekolah-sekolah.

Namun sekarang memasuki abad ke-21, teori-teori psikologi perkembangan telah membuktikan bahwa setiap anak itu memiliki kecerdasan bawaan yang unik atau berbeda-beda, kapasitas belajar yang berbeda, pun gaya belajar yang berbeda. Dan anak-anak di era kini akan menghadapi tantangan memasuki dunia kerja yang tidak bisa dipastikan. Bahkan dikatakan oleh Departemen Tenaga Kerja Amerika bahwa 65% anak-anak usia SD saat ini akan menekuni pekerjaan yang belum ada di saat ini.

Begitulah kenyataannya. Zaman terus berubah, begitu pula dengan tantangan yang akan dihadapi anak-anak kita kelak. Maka ada baiknya kita merefleksikan apakah sistem pendidikan yang berlaku mulai abad ke-19 itu masih relevan dengan kondisi  zaman sekarang—bahkan di zaman yang akan datang?

Apakah kepandaian anak yang rupa-rupa masih mungkin dievaluasi dengan satu standar yang seragam?

Tak heran, dikatakan bahwa Customized Learning atau Pendidikan Terkustomisasi menjadi arah bagi pendidikan kita di masa depan.

Memang, apa sih yang dimaksud dengan Customized Learning?

Customized Learning itu menyediakan proses pembelajaran yang fleksibel bagi anak. Bobot materi belajar dan durasi belajar disesuaikan dengan kapasitas belajar anak. Misal, anak A yang unggul di bahasa bisa saja di usia 8 tahun sudah mendalami materi bahasa inggris kelas 5,  sambil mempelajari matematika kelas 2, dan ilmu sains kelas 3. Paket belajarnya bisa dimodifikasi sesuai potensi dan minat anak.

Bukankah sudah menjadi hal lumrah, seorang anak stres setiap mau ujian matematika. Padahal bisa jadi anak itu merasa keteteran karena satu tangga belajar belum tuntas (konsep matematikanya belum ia pahami) tapi sudah dipaksa naik ke tangga berikut karena target kurikulum mengharuskan demikian. Akibatnya, satu anak yang tertinggal ini yang mesti dikorbanin. Ia dipaksa mengejar kemampuan semua anak lain di kelasnya. Entah ia harus mengikuti les tambahan untuk mengejar target atau tinggal kelas—hanya karena satu nilai mata pelajaran yang rendah meski, misalkan,  nilai pelajaran olahraganya sangat unggul.

Kurikulum yang meleset dengan potensi murid bisa juga mengerdilkan potensi anak. Misal, seorang anak unggul di matematika. Saat kelas 1 SD dia sudah paham soal perkalian, tapi kurikulum di sekolahnya baru mengenalkan dia pada konsep penambahan satu digit. Kebayanglah betapa anak itu bisa merasa bosan melewati jam demi jam pelajaran di saat dia semestinya bisa diberikan soal yang lebih mampu men-challenge dirinya. Betapa banyak waktu anak itu yang jadi terbuang percuma karena dia jadi lebih banyak melamun dan mengantuk di ruang kelas.

Kalau begitu kasusnya, kenapa anak itu nggak lompat kelas aja di sekolahnya?

Well, solusinya tidak semudah itu. Bisa jadi anak itu unggul di matematika tapi di sains, bahasa atau pelajaran lainnya tidak. Atau kognitifnya memang sudah bagus, tapi mentalnya atau kematangan emosinya belum. Bukankah untuk naik tingkat, kita harus lulus dari semua mata pelajaran karena setiap jenjang memiliki paket kurikulum yang baku dan tak bisa dipisah-pisah.

Bisa juga kasusnya berkebalikan. Radi sering bilang paling seneng pelajaran bahasa inggris di sekolahnya dulu karena dia merasa yang paling pandai di kelas. Tapi dia justru senang mengerjakan soal-soal di bawah level kemampuannya karena itu membuatnya pede. Begitu melihat buku pelajarannya, saya paham duduk perkaranya. Radi yang udah mulai baca novel bahasa inggris, nyatanya di sekolah baru mengenal kata-kata “This is a table. That is a house. Sunday, Monday… dan aktivitas mengeja sederhana.” Saya sempat berpikir untuk mengikutkannya les bahasa inggris sebagai aktivitas di luar sekolahnya biar dia lebih semangat belajar bahasa inggris. Saya ingin dia bisa bertemu anak-anak lain yang kecakapan englishnya lebih baik lagi untuk menyadarkan dirinya kalau ia masih ikan kecil di tengah samudra luas *naon sich*.  Tuntutan sekolah yang rendah otomatis akan merendahkan standar dirinya juga. (Ah, gak perlu belajar buat ulangan juga gak papa. Gampil da.) Tapi nggak jadi saya ikutkan les sih waktu itu karena selain faktor biaya, toh dia sudah menghabiskan waktu dari pagi ampe sore di sekolahan jadi kasian. Belum lagi karena anaknya komen setiap mama suruh belajar sepulang di rumah, “Ma, aku kan capek udah belajar dari pagi ampe sore di sekolah.” Iya juga yak 😀

Itulah salah hiji alasan kenapa saya beralih ke homeschooling dan memilih untuk menerapkan customized education pada anak saya sendiri. Saya tentu tidak bisa mengandalkan instansi sekolah yang terpaku dengan kurikulum yang berlaku dan memiliki targetnya sendiri. Sekolah mana pun tentu ingin bersaing dengan sekolah-sekolah lain setaraf dirinya untuk mencetak lulusan-lulusan unggul. Baik dari nilai NEM, atau hafalan juznya. Target yang bentrok antara keinginan ortu dan prioritas sekolah ini terkadang membuat kita terpaksa mengorbankan kecakapan anak kita dengan segala keunikannya.

Dan kenyataannya, ada mata pelajaran tertentu yang lebih dianakemaskan dari mata pelajaran lain. Matematika tetap menjadi mata pelajaran keemasan. Jaman saya SMA dulu, bahkan anak IPS dipandang lebih rendah dari anak IPA. Kurikulum jaman saya sekolah dulu telah sukses membuat anak merasa bodoh bila ia memiliki kecerdasan di luar dari jalur “utama” (seperti pintar matematika dan kuat menghafal).

Bila anak kita gemar matematika dan pintar mengaji misalkan, sekolah swasta Islam biasanya sudah memiliki jaringan untuk menyertakannya dalam aneka kejuaraan dan kompetisi, bahkan bisa menyediakan mentor yang baik buat mengasah kemampuan anak kita. Toh kepandaian anak kita itu bisa mengharumkan nama sekolahan. Namun bila kebetulan anak kita berbakat di kesenian, jangan harap potensinya itu bisa berkembang optimal dengan jadwal ekstrakurikuler yang hanya seuprit porsinya, pun dianggap kurang mampu mendongkrak isi rapor selebihnya. Inilah PR-nya ortu. Kudu mencari wadah-wadah di luar sekolahan supaya anak bisa leluasa mengeksplorasi bakat bawaannya itu di sela-sela jadwal sekolahnya.

Kembali tentang customized learning, lalu apakah mungkin untuk menerapkan konsep tersebut dalam pendidikan mainstream kita saat ini? Jawabnya, bisa saja. Sebagian PKBM (lembaga sekolah nonformal) bahkan sudah menyediakan paket-paket belajar yang bisa dikustomisasi sesuai keinginan anak, lengkap dengan tutor-tutornya. Sudah seperti memilih makanan di meja prasmanan saja. Bukan mustahil kelak sekolahan juga menerapkan hal serupa. Tentu tidak sekarang ini dengan rasio jumlah guru dan murid yang timpang. Bahkan tidak dalam waktu dekat. But in the distant future, it can be a solution.

Kuartal Pertama Homeschooling

Wah, nggak berasa 3 bulan sudah saya menjalankan HS bersama Radi. Setelah mengambil tekad penuh untuk mengambil rute HS lalu menjalankannya, rasa-rasanya saya sudah masuk fase nyaman dan semakin jatuh hati dengan metode pendidikan ini.

Meski begitu, jangan salah, proses awal kami tidak begitu mudah. Kami tentu butuh waktu beradaptasi, meski proses adaptasi itu bisa dibilang lebih smooth karena berbulan-bulan sebelumnya Radi udah merasakan versi PJJ (akibat pandemi) dari sekolah formalnya.

Saya tahu dari para praktisi HS bahwa setiap keluarga itu harus mencari “gaya” HS mereka sendiri karena setiap keluarga memiliki budaya keluarga yang berbeda. Kita jelas nggak bisa mengcopy-paste metode yang diterapkan keluarga-keluarga HS lain. Mencari dan menemukan pakem terbaik merupakan proses yang mesti kita jalani sendiri.

Maka, bismillah, saya membuka bab awal HS ini dengan pikiran terbuka dan kesiapan untuk terus belajar bareng anak saya. Saya lantas membaca-baca berbagai materi belajar dari berbagai sumber kurikulum (di antaranya, Kurikulum Nasional dan Cambridge ), mencobai berbagai metode belajar alternatif, dan mengutak-atik jadwal belajar yang dirasa paling pas dengan gaya belajar Radi. Intinya ya mencari jalan belajar paling klop dan yang dirasa paling bisa mengoptimalkan pengalaman belajar Radi.

Nah, bulan ketiga ini saya merasa jalan HS kami semakin mulus. Saya merasa sudah menemukan pola yang paling pas, tanpa saya perlu rutin merumuskan rencana belajar secara mendetail untuk sepekan ke depan seperti di saat-saat awal HS.

Rutinitas HS Radi

Bagi saya, membuat jadwal belajar harian itu penting. Dengan begitu, meski waktu belajar anak fleksibel, tapi dengan adanya target harian, rasanya proses belajar jadi lebih terarah. Anak juga jadi tahu apa yang diharapkan darinya. Subject yang dipelajari setiap hari ga perlu banyak-banyak. Dua aja cukup (jadwal favorit Radi di hari Kamis karena pelajarannya Science dan Art).

Tentang kurikulum, saya memutuskan untuk nggak mengacu ke kurikulum nasional soalnya kurang sreg. Trus, pakai kurikulum apa? Nah, bingung juga. Pokoknya Radi belajar dari mana-mana hihi..

Sebagai contoh, Radi belajar Math dari buku matematika yang dipakai di Jepang (yang kubeli di toped karena awalnya suka dengan ilustrasinya wadidaw) dan situs IXL. Untuk matpel English, Radi pakai buku-buku usborne, baca buku cerita impor, juga rutin buka aplikasi Reading Eggs. Untuk Sains, Radi belajar dari BBC Bitesize dan ensiklopedi sains. Media belajar Radi memang diambil dari banyak sumber. Kami menemukan banyak situs-situs belajar menarik. Ada BBC Bitesize, Nat Geo learning, Penpalschools…buanyaaak.*lope-lope* Sejujurnya, saya banyak mengambil sumber-sumber belajar dari luar karena muatan belajarnya memang lebih menarik. Kurikulum LN juga lebih banyak mendorong anak untuk mengembangkan daya nalar dan berpikir kritis mereka alih-alih menghafalkan teori.

Untuk mata pelajaran, kami hanya mewajibkan Radi mempelajari Matematika, English dan Sains karena itulah yang dirasa paling kepake di kehidupan. ^^

Tapi untuk menambah wawasan, pengetahuan tentang dunia dan Indonesia pun disertakan.

Nah, yang membuat saya jatuh hati dengan HS adalah adanya kesempatan bagi saya untuk menerapkan custom education bagi Radi. Prinsipnya, kita semestinya memfokuskan energi untuk menguatkan kelebihan anak alih-alih berfokus untuk menambal kekurangannya.

Karena Radi senang belajar bahasa, maka saya tawarkan Radi untuk belajar bahasa asing kedua (setelah English). Dan Radi ternyata tertarik belajar bahasa Jepang. Syukurlah, karena Mamanya bisa sedikit-sedikit Nihongo, jadi kita bisa belajar bareng (sukur2 kalau nanti bisa ketemu guru bahasa Jepang yang pas).

Karena Radi juga memiliki minat besar dalam bermusik, kami pun menyertakan pelajaran piano buat Radi. (Drum rehat dulu karena gak punya alat musiknya di rumah.)

Kami tidak mendikotomikan pelajaran seni dengan pelajaran yang mengasah logika semacam matematika atau bahasa. Bagi kami, semua itu dibutuhkan kok demi membangun dimensi manusia yang lebih utuh taela bahasanya.

Rapor = Refleksi?

Yang menjadi tantangan baru dari proses HS kami adalah pertanyaan tentang rapor yang menjadi alat ukur kemajuan belajar anak. Kalau di sekolah formal, ada yang namanya ujian dan di akhir tahun ajaran setiap anak akan menerima rapor (entah lulus atau tidak ke jenjang berikut). Lalu bagaimana dengan anak HS?

Anak HS (yang tidak mendaftarkan diri ke lembaga pendidikan nonformal) jelas tidak kenal yang namanya ujian. Trus bagaimana dong kita mengukur proses belajar anak kita? Yaa, hmm.. Orangtua sebetulnya bebas aja sih kalau mau membuat semacam kuis untuk mengukur pemahaman anak, atau meminta anak melakukan presentasi suatu materi yang habis dipelajari anak. Itu sah-sah aja, bebas. Tapi yang namanya ujian sungguhan memang nggak ada (kecuali ujian sertifikasi buat dapat ijazah paket A, B, C kelak yaa).

Saya–sebagai orangtua yang merupakan “produk” sekolah selama bertahun-tahun—mengaku bahwa tidak adanya ujian ini memang rasanya ganjil. Tapi saat saya mengobrol dengan tetangga yang dahulu menyekolahkan anaknya di UK, dia bercerita kalau sepanjang masa SD anaknya itu nggak pernah kenal dengan ulangan, ujian atau tes ini itu. Saya semakin lega. I feel that we are in the right track. Lagi pula, bukankah kami memang ingin menanamkan motivasi belajar yang lurus pada diri anak ? Bahwa dia mesti belajar demi mendapat ilmu yang luas supaya bisa menjadi orang yang bisa membawa banyak manfaat bagi banyak orang. Bukan belajar hanya demi mendapat nilai yang baik, dan kemudian naik kelas.

Berikutnya, dari proses saya menimba ilmu dari para praktisi HS yang lebih dulu terjun ke ranah HS ini, saya mendapati bahwa anak HS memiliki alat ukur belajar tersendiri.

Apakah itu?

Kalau di sekolah formal ‘kan anak mendapat nilai kuantitatif di buku rapornya. Maka bagi anak HS, penilaiannya lebih kualitatif, yaitu dengan proses refleksi. Menurut praktisi HS, refleksi pembelajaran ini sebaiknya rutin dilakukan. Misalnya, setiap akhir bulan kita bisa melakukan refleksi proses pembelajaran Radi selama sebulan terakhir (apa yang perlu diperbaiki, apa yang bisa ditingkatkan, apa target untuk bulan berikut, etc). Begitu kira-kira.

Well, tiga bulan masih terhitung pendek, dan sejujurnya saya tidak tahu bagaimana proses HS putra kami ke depannya. Mungkin akan ada proses jatuh bangun, banting setir, dan banyaaak fase penggalian diri. Namun kami sangat berharap pilihan HS ini bisa memberi bekal yang kuat bagi Radi untuk melangkah di masa depannya—jauh lebih kuat dari bekal yang saya dapatkan dahulu. Dan yang terpenting, semoga, kami bisa terus menjaga gairah belajar anak kami sepanjang perjalanan hidupnya.

Amiin. ^^

Dokumentasi HS Radi: http://www.radinek.com