Resolusi 2014

Resolusi saya tahun 2014 ini sederhana saja. Secara profesional, saya ingin bisa fokus. Begitu fokus menggarap satu proyek, ya diterusin sampai kelar. Nggak lompat-lompat ke hal lain di tengah jalan. Membagi kreativitas, pikiran, dan waktu ke banyak garapan, eh..ujung-ujungnya nggak ada satu pun yang beres. Maka itulah… tahun 2014 ini ingin berusaha jadi orang yang bisa fokus. Menetapkan satu hal untuk difokuskan sampai akhir, sebelum beralih ke yang lainnya. Supaya nggak setengah-setengah, supaya bisa tuntas. Ganbatte! *menyemangati diri sendiri*

Secara pribadi, tentu saya ingin bertumbuh menjadi orang yang lebih baik lagi. Itu harus. Orang yang berkurang umurnya, tapi tidak membaik akhlaknya tentulah merugi.

Saya ingin menjadi orang yang senantiasa bersyukur dengan kondisi yang ada. Tanpa perlu melihat apa yang dimiliki orang lain. Mensyukuri segala karuniaNya. Kesehatan, waktu, dan keluarga. Kesempatan untuk membahagiakan orang-orang tersayang.

Bersyukur. Setiap saat.

Begitulah, kalau saya ditanya tentang resolusi saya jelang 2014.

Kapan Mau Ngasih Adik?

 

Ini pertanyaan yang saat ini cukup sering dilontarkan pada saya. Jujur, merantau di Sydney ini telah menunda program kami untuk menjalani kehamilan lagi.

Pertimbangan pertama kami adalah masalah finansial. Tinggal di Sydney dengan biaya hidup yang tinggi adalah faktor utama yang menciutkan nyali kami. Masih simpang-siur pula berita tentang apakah melahirkan di sini akan ditanggung asuransi atau nggak (bagi keluarga mahasiswa asing). Ada yang bilang ditanggung penuh asal sudah setahun (entah setahun dalam hitungan apa), ada yang bilang ditanggung sebagian, ada yang bilang nggak ditanggung sekarang ini. Wallahu alam (nampaknya mesti ngobrol dengan pihak asuransinya, kalau mau diseriusi kelak).

Saya bukanlah orang yang bisa dengan ringannya menyerahkan segala sesuatunya kepada takdir. Yah kalau memang Tuhan berkehendak memberikan anak lagi, berarti memang sudah rejeki dan waktunya. Bagi saya, segala sesuatu itu butuh perencanaan. Kegiatan liburan akhir pekan saja biasanya mesti saya persiapkan dari seminggu sebelumnya. Apalagi rencana untuk punya anak.

Ya, bagi saya, menghadirkan anak ke dunia butuh banyak persiapan; ya mental, finansial, kesehatan.

Perjalanan kehamilan saya sebelumnya pun tidak begitu mulus. Dua kali pendarahan, satu kali keguguran membuat saya berpikir banyak untuk mengambil keputusan menjalani kehamilan di perantauan.

Meski terkadang ada saja yang mendorong dengan bilang, rejeki Tuhan jangan ditolak atau ditunda-tunda. Atau motivasi segera beranak karena kecemasan dari diri sendiri, mengingat usia kami yang semakin matang. 😛

Namun, salahkah jika saya masih ingin berpuas-puas menikmati tumbuh-kembang Radi tanpa dibebani dengan mengurusi bayi yang tentu butuh perhatian dan tenaga ekstra dari kita? Untuk seru-seruan dengannya menjelajahi negeri asing ini tanpa dibebani fisik yang mudah capek, mual, dan kliyengan saat hamil?

Ah, bila melihat Radi (kini 19 bulan) yang super-lincah dan masih menuntut perhatian mamanya hampir setiap waktu, nggak tega juga rasanya untuk membagi fokus ini dengan yang lain. Memberi adik atau menjalani kehamilan otomatis akan mengurangi jatah Radi untuk menerima perhatian dari mamanya—baik waktu, fisik, maupun pikiran dari saya.

Prinsip saya, bila masih ada sekelumit kekhawatiran terselip, ya mending nggak usah aja. Berarti memang belum saatnya. Menghadirkan anak butuh keyakinan dan kesiapan penuh dari diri kita. Tidak boleh ada secuil pun keraguan, atau nanti akan siap sendiri sembari jalan. Jangan pula mengambil keputusan itu gara-gara latah lihat teman-teman sebaya sudah beranak dua, tiga, bahkan empat. Kasihan si anak ntar. Ia harus tumbuh-besar di kandungan dan terlahir dengan kesiapan penuh kedua orangtuanya. Bukan dalam atmosfer stres dan banyak kekhawatiran.

Kelak, kami pun akan siap menyambut buah hati lagi. Insya Allah, bila diizinkan, dan pada saat yang tepat menurut Sang Pemberi Kehidupan. Tapi bukan sekarang.

Bye-Bye Bandung, Hello Sydney!

Tanggal 12 Desember 2013, resmi kami meninggalkan Bandung untuk sementara waktu. Berangkat naik pesawat Garuda yang terbang pukul 23.00 malam. Harapan kami, jam segitu Radi udah bobo pulas. Nyatanya, di bandara si bocah masih ceria ajah. Bersemangat naik-turun tangga terminal keberangkatan terus-menerus *yang nemenin yang encok* Excited kali dengan tempat yang asing.

Untunglah, selama penerbangan kami tidak menemukan kesulitan yang berarti. Meski si bocah pas pesawat mendarat ogah dipangku. Dan malamnya sempat rewel, nangis-nangis bentar. Mungkin kesel karena tempat tidur yang disediakan buat bayi udah gak muat buat Radi (maksimal 9 kg). Jadilah Radi bobo dipangku. Pas dia mau bergaya akrobat saat bobo—sebagaimana biasanya—jadi kebangun-bangun dan rewel karena tidak ada ruang buatnya “berekspresi”. 😛

Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Bandara Kingsford Sydney pukul. 9.30 pagi waktu setempat.

Mungkin karena sudah dekat holiday season, antrean bea cukai di bandara cukup panjang. Kami yang menenteng banyak bawaan plus ngejar-ngejar Radi karena strolernya belum dijemput dari pesawat cukup ngos-ngosan dibuatnya. Pas strolernya udah bisa diambil, Radi jadi lumayan “jinak” dan kami pun bisa bernafas lebih lega dikit. Asal strolernya mesti gerak terus, kalau diam di tempat bentar pasti si bocah protes. Sewaktu di konter pemeriksaan makanan pabean (dengan abon yang diragukan kelolosannya karena nggak berlabel), saya sempat ditegur keras petugas tuanya yang mengira saya mau kabur karena strolernya digerak-gerakkin maju-mundur. *yah, mungkin memang begitu protokolernya. But chill out a bit, sir. Mana mungkin juga saya lari sambil ngedorong stroller seberat ini* Untung abonnya lolos, dengan pesan jangan bawa lagi makanan homemade macam begitu. Padahal kalau nggak lolos juga nggak apa-apa sih. Banyak yang jual di Sydney juga:P

Akhirnyaaa…kami beres dari segala urusan keimigrasian yang ribet itu pukul 12.00 siang. Matahari sudah bersinar terik. Kami dijemput Ko David (landlord kami) dengan mobilnya. Radi yang duduk di carseat tidur pulas sepanjang perjalanan *capek nih ye*.

akhirnya, sampailah kita di bandara Kingsford Sydney

akhirnya, sampailah kita di bandara Kingsford Sydney

Seminggu di Randwick

Judulnya seminggu di Randwick bukan di negeri kangguru karena saya memang baru “beredar” di seputar komplek rumah seminggu pertama ini. Di sekitar distrik Randwick aja. Belum mampir ke Opera House yang termahsyur itu, belum pula liat bayi koala atau kangguru. Yah…take your time. We will be here till mid 2015. Dan Opera House kayaknya nggak akan kemana-mana.

Tiga hari berada di sini, saya masih agak overwhelmed. Segalanya serba tertata dan sistematis. Contoh, saat membayar di supermarket dan kita mesti bayar sendiri pakai mesin layaknya atm. Naik bus sudah ada rute pasti, nggak bisa minta naik-turun di halte sesuka hati (ya eyyalah mang kudunya begituh :P). Tentang penggunaan tiket bus pepaid dan angkutan umum lainnya. Tentang tata aturan yang berlaku di sini, seperti berdiri di eskalator mesti di sisi kiri kalau nggak buru-buru, stroller di bus mesti ditaruh menghadap belakang bus dengan ibu duduk menghadap bayinya. Dan aturan-aturan lain sebagainyah.

Tapi seminggu menjelajahi kota, saya sudah lumayan kerasan. Saya sudah berani pergi dengan Radi sendiri minimal sampai bundaran kota (sekitar dua blok dari rumah :D). Dan saya rasa, saya bisa dengan mudahnya jatuh hati dengan kota ini. Sudah kebayang sendiri betapa akan serunya membesarkan Radi di sini. Gimana nggak, kata orang-orang, di sini anak kecil dianggap sebagai warga negara kelas satu. Fasilitas anak tersedia di mana-mana. Taman bermain, kelas bermain gratis, stroller bisa masuk bus, fasilitas kesehatan, pilihan produk makanan sehat buat anak, and I can go on and on…

Terlepas dari keluhan orang tentang betapa bebasnya masyarakat di sini, tapi saya lihat itu lebih hanya ke busana dan cara berpenampilan mereka. Mereka tidak malu menunjukkan jati diri mereka sebenarnya. Mau bergaya bencong abis-abisan, mau bertelanjang dada ke supermarket, sah sah saja di sini. But, the common courtesy here is really admirable alias patut diacungi jempol. Kalah jauuuhlah Indonesia. Disiplin mengantre, membantu ibu-ibu bawa naik dan turun stroller dari bus, selalu mengucapkan “maaf” dan “terima kasih”, menjaga kebersihan, mendahulukan orang sepuh dan anak kecil terutama di kendaraan umum… Nggak heran, banyak yang bilang “Kalau mau nyari di mana prinsip-prinsip Islam dijalankan, jangan nyari ke negeri Islam. Cari ke negeri-negeri maju di Barat.” (meski miris dengernya, tapi memang ucapan itu ada benarnya kalau menurut saya)

Well, semoga saja Radi juga betah (kayak mamanya) untuk menjalani hari-harinya di Sydney sampai 1,5 tahun mendatang. Naga-naganya sih, anak saya yang memang nggak betah di dalam rumah ini bakalan senang. Keinginan besarnya untuk menjelajahi dunia akan lebih tersalurkan, pastinya. It’s gonna be a fun adventure, son. Bismillah…

sydney26

The Reunion

Saat melepasnya pergi malam hari di Bandara kala itu—tanggal 24 Juni—tak kusangka perpisahan kami akan begitu lama. Sebelumnya saya mengira akan segera menyusulnya di bulan September, atau paling lama Oktober. Tapi, karena satu dan lain hal—utamanya karena proses visa yang berbelit dan kurangnya antisipasi—akhirnya reuni kami baru kesampaian di penghujung malam 29 November.

Suami menjejakkan kaki di rumah saat jam sudah menunjukkan pkl.22.30 malam. Radi sudah tertidur pulas sedari lepas magrib. Baru saat bangun paginya, si bocah nampak terpekur bingung saat dilihatnya ada sosok pria menggeletak di sisi ranjang. It’s your Papa..

Biasanya saat ditanya “Papa mana?” Radi selalu menunjuk ke foto yang terpampang di atas ranjang. Kali ini saat bangun pagi ditanya pertanyaan yang sama oleh mama, Radi nampak bingung. Matanya berkali-kali memandangi antara foto dengan pria di sampingnya, berganti-ganti.  hihihi

Memang awal-awalnya Radi kayak bingung dan nggak “ngeh” dengan kehadiran kembali papanya. Tapi tak lama, saat diajak bermain bola dan jalan-jalan di halaman pagi harinya, digendong-gendong dan main bersama siang harinya, menjelang malam Radi udah lengkeeet seperti gak mau lepas dari papanya. Si bocah nampak gak puas-puas memberi ciuman, pelukan dan ngajak Papanya main terus. Duh…yang kangen nih ye..:P

*late posting 😛 *