Jalur Komunikasi Pengasuhan

“Anak yang merasa dihargai kelak akan belajar untuk menghargai orang lain.”

Bu Rani Razak dalam bukunya, Amazing Parenting, membeberkan bahwa kunci pengasuhan terletak pada jalur komunikasi. Sudahkah kita selaku orangtua membuka pintu komunikasi selebar mungkin dengan buah hati kita? Open door communication dilakukan dengan menggunakan bahasa tubuh yang benar dan mendengar aktif.

 Bahasa Tubuh

Pesan yang benar bisa tidak tersampaikan dengan baik karena cara yang salah. Maka itu sebelum menyampaikan pesan kepada anak, gunakan bahasa tubuh yang sesuai. Caranya, dengan menyediakan waktu, tidak menyampaikan dengan terburu-buru, melihat suasana hati anak terlebih dulu, menunda penyampaian pesan jika memang anak sedang merasa tidak nyaman, serta menyampaikan pesan dengan disertai penjelasan.

Kenapa melihat suasana hati anak itu penting bila ingin menyampaikan informasi? Studi menunjukkan bahwa proses penerimaan informasi sangat dipengaruhi perasaan. Seluruh informasi masuk ke otak melalui indra anak: penglihatan, pendengaran, perabaan, dan penciuman. Ia masuk melewati batang otak, lalu singgah dulu di sistem limbik. Sistem  limbik itu bagaikan pintu sebelum informasi masuk ke korteks serebri, tempat bersemayamnya kecerdasan. Ada satu bagian pada sistem limbik yang disebut amigdala, yang menyimpan perasaan dan memberi perintah kepada sistem limbik untuk membuka atau menutup. Ketika perasaan seorang anak gundah atau kesal, amigdala memerintahkan sistem limbik untuk menutup. Akibatnya, informasi yang masuk hanya tertumpuk di sistem  limbik (tidak masuk korteks serebri) dan segera terlupakan. Sebagian kita mendeskripsikan situasi ini seperti begini, “Nih anak, udah berkali-kali dibilangin, nggak masuk-masuk juga ke otaknya!”

Sebaliknya, saat anak ingin mengirimkan pesan kepada orangtua, tampilkan bahasa tubuh yang bisa membuat anak merasa nyaman, seperti mendengarkan, menghadapkan tubuh dan memberi perhatian sepenuhnya pada anak, dan bersikap empatik terhadap perasaan anak.

Mendengar Aktif

Teknik berikut untuk membuka jalur komunikasi adalah dengan mendengar aktif. Mendengar aktif artinya kita bukan hanya menerima informasi melalui perkataan anak, tapi juga dapat mendengar, menerima, serta memahami perasaan anak sebagai lawan bicara.

Tujuan mendengar aktif adalah memahami lawan bicara seperti yang ia rasakan, bukan seperti yang kita sangkakan. Kemampuan mendengar aktif bisa kita latih.

Berikut Teknik Mendengar Aktif:

  1. Encouragement—mendorong anak untuk terus bicara

Dalam tahap ini, kita jangan berkata “setuju” atau “tidak setuju”. Namun tanggapi perkataan anak dengan ketertarikan penuh.

Misal: “Ooo…begitu…” “Wah…wah…lalu kamu ngomong apa?”

Namun orangtua harus berhati-hati dengan bahasa tubuh. Jangan sampai anak merasa kita hanya berpura-pura saja menaruh perhatian.Tinggalkan pekerjaan kita sejenak.Tataplah mata anak saat bicara.

  1. Restating—mengulang inti pembicaraan yang disampaikan anak

Tujuan pengulangan adalah untuk menunjukkan kepada anak bahwa orangtua benar-benar mendengarkan dan memahami isi pembicaraan. Ada kemungkinan pula kita salah paham dengan pesan yang ingin disampaikan anak. Jadi dengan restating ini terbuka peluang untuk berdiskusi lebih intens dengan anak.

  1. Reflecting—memantulkan perasaan anak

Tujuannya untuk menunjukkan bahwa orangtua mendengarkan dan mengerti perasaan anak. Upaya Ayah dan Ibu mengidentifikasi perasaan anak akan melatihnya untuk mengenali perasaan sendiri. Anak kelak akan mampu menemukan masalahnya yang sebenarnya dan tidak mencampuradukkan dengan perasaannya.

Contoh frasa yang bisa digunakan untuk reflecting:

  • “Kamu merasa terganggu ya dengan…”
  • “Kelihatannya, kamu… (bangga, senang, sedih, bingung)”
  1. Summarizing—menyimpulkan isi pembicaraan

Langkah terakhir teknik mendengar aktif adalah mengumpulkan dan menyimpulkan ide-ide dan fakta dari pembicaraan yang berlangsung. Kesimpulan itu digunakan untuk menciptakan landasan dalam mengambil keputusan lanjutan serta mereview perkembangan dan situasi.

Contoh frasa:

  • “Kelihatannya ide dasarmu adalah…”
  • “Kalau Bunda tidak salah, kamu merasa bahwa… tentang situasi…”

Anak yang perasaannya diterima dan dipahami akan merasa dihargai, dipentingkan, dan tentu bahagia. Perasaan negatifnya pun akan hilang dan ia bersedia melanjutkan komunikasi dengan Ayah dan Ibu sehingga orangtua pun akan mengerti permasalahan yang sebenarnya terjadi. Respons positif terhadap perasaan anak akan menghindarkannya dari krisis percaya diri saat bergaul di luar.

Sumber: Amazing Parenting oleh Rani Razak Noe’man (Noura Books)