Mengoptimalkan Masa Prasekolah Anak

Anak-anak belajar dengan bermain. Kecerdasan dan bakat mereka akan berkembang melalui pengalaman belajar yang mereka anggap menyenangkan dan yang melibatkan tubuh dan pikiran mereka. Karena itulah, orangtua harus memastikan bahwa masa prasekolah anak penuh dengan kesenangan. Tujuannya, adalah untuk membantu anak agar dapat mencapai potensi optimalnya.

Mainan, buku, atau lingkungan fisik bukanlah hal yang paling penting bagi anak. Yang paling berharga adalah lingkungan sosialnya. Kita bisa saja memenuhi rumah dengan berbagai mainan dan mengisi harinya dengan berbagai aktivitas. Namun, bila kita tidak terlibat langsung dalam kegiatan sang anak, maka sedikit sekali manfaat yang akan didapat. Kreativitas dan kepercayaan diri anak akan terbangun jika orangtua—selaku orang terdekat sang anak—menyediakan diri untuk ikut bermain bersama mereka. Jadi, turutlah berperan aktif dalam pengalaman belajar sang anak.

Poin-poin lain yang mesti dicatat untuk mengoptimalkan aktivitas bermain anak di masa prasekolah:

–          Biarkan anak merasa bebas mengekspresikan diri.

–          Biarkan anak tumbuh di lingkungan yang terbuka terhadap pengalaman dan gagasan baru.

–          Dorong anak untuk mempertimbangkan lebih dari satu penyelesaian untuk tiap masalah.

–          Disiplin itu tegas, tapi tidak bersifat menghukum.

–          Membiarkan keadaan rumah sedikit berantakan.

–          Orangtua terkadang harus membiarkan anak terus bermain jika ia menikmatinya.

–          Orangtua memberikan dukungan dan arahan tanpa ikut campur.

–          Anak diperkenalkan pada dongeng.

–          Anak didorong untuk berkhayal.

–          Anak dibiasakan bergaul dengan anak-anak lain.

 

Sumber: Permainan Cerdas usia 2-6 tahun karya Dr. Dorothy Einon (Erlangga for kids)

Heart Replacement

Sometimes a foolish thought crossed my mind.

If I were given a chance to make a stupid wish and be granted,

I wish I could exchange my heart.

I want a more solid one, a resilient one.

This one I have is too fragile, too easily broken.

And it caused too much pain once it cracked.

Being too sensitive sometimes can just be too unnerving

When this world is full with ignorant and insensitive people.

 

I need a stronger heart because I need to be a stronger person.

I don’t have time for this nonsense.

For self-critisizing myself whenever I feel I couldn’t please someone.

Or that I deeply feel that my existence is just being ignored.

I should just stop trying to fit in altogether

And just be an individual.

 

That’s why I need a more solid heart, a thougher one

So I couldn’t care less whenever someone throw an insentive remarks…again and again *why don’t you just pick a knife and stab my heart wont ya*

I could just brush it off over my shoulder and just say “yeah right… go eat sh*t” *not outloud though*

As easy as that.

 

I need to replace my heart because I want to feel more powerful.

I should rise above them.

Pitying them for they must feel insecure of themselves.

But instead I usually end-up self-pondering how come someone can be as rude and insensitive as that…

Disregarding other people feelings with a snap of a finger.

 

I guess some people just tend to see everyone else as their competitors.

They need to look the smartest with their “clever” yet filled with egosentric and prejudice comments.

Stupid me for letting myself being carried away by their silly imaginary race.

That’s why I need a stronger heart… I need to exchange it.

 

But then, when I think of all the wondrous things I felt for just the simplest things,

When I see my loved ones and instantly my heart burst with this tremendous joy and thankfulness,

Playing with my child for hours on end can caused me so much joy,

And feeling genuinely happy with other peoples achievement,

A concern troubled me,

Im afraid that I may not be able to feel the same again with my new heart.

 

And when people often come to me to disclose their feelings

Its because of my heart

Because of my sensitivity

Because I always listen and I respect others

And always manage to put myself on other peoples shoes.

 

Whenever I think of all those things my poor old heart had offered me through the years

I guess I just have to make do with this one.

And be thankful.

 

 

*writing about this can be a good heart therapy too…:P*

LDR

 

Oh long distance relationship is not for me..not for me..not for me…

(Dinyanyikan dengan ketukan 4/4 dan nada A mayor)

 

Tiga bulan sudah saya menjalani hubungan jarak jauh—atau istilah populernya, LDR (long distance relationship)—dengan sang suami. Tidak bermaksud mengeluh, hanya bermaksud meracau…*loh?*

Well dari laporan pengalaman selama tiga bulan yang telah berjalan, sesuai dengan kutipan lagu di atas, saya merasa LDR ini is not for moi. LDR bolehlah untuk sementara waktu, tapi untuk jangka panjang no way lah yauw.

Kalau disuruh memilih antara hidup pas-pasan tapi keluarga ngumpul dengan hidup makmur tapi beda domisili, saya mending pilih yang pertama deh. Lagian rejeki kan bisa dicari. Tapi bonding antara orangtua dengan anak, nah itu beda cerita. Pun kenangan-kenangan manis antara ayah dengan anak tentu nggak akan sempat banyak tercipta bila sang anak ketemu ayahnya saban sekali atau dua kali setahun saja.

Sudah tiga bulan ini Radi tidak bersua dengan papanya. Tiga bulan mungkin durasi yang terkesan rada singkat. Tapi buat bayi, banyak sekali yang terjadi dalam rentang waktu itu. Khususnya dalam hal tumbuh kembangnya. Dalam tiga bulan saja, papanya sudah melewatkan banyak milestone putranya. Yang tadinya pas papanya berangkat, masih merangkak ke sana kemari, kini Radi sudah lancar berjalan. Radi sudah pandai nyeruput pakai sedotan. Dan giginya sudah tambah empat biji lagi. Radi juga makin pandai joget dan berputar-putar di tempat, meniru gerak tarian boogie beebies di chanel cbeebies. Sudah gesit main kejar-kejaran. Sudah bisa protes dan akting ngambek pula :P. Dan diam-diam, Radi suka mengamati gerak-gerik orang yang kemudian ia tiru. Misalnya, dibawa gelas minumnya ke dispenser buat diisi sendiri. Alhasil air tumpah kemana-mana *ups..*

Tiga bulan berjauhan dari papanya mungkin membuatnya makin lupa akan sosok ayahnya. Tapi kata orang, meski bayi cepat lupa ia nanti cepat ingat. Yang jelas, papanya nanti kudu extra bonding dengan anaknya. Dan itulah harga yang mesti dibayar dari hubungan long distance ini *fiuh*.

 

30 Tahun Dari Sekarang…

Kata orang, kalau mau jadi sukses di masa kini, kita mesti punya bayangan visualisasi yang menggambarkan kesuksesan kita di masa depan. Lebih detail visualisasinya lebih baik.  So, saya pun nggak akan tanggung-tanggung. Membayangkan kehidupan saya bukan 5 atau 10 tahun dari sekarang. Tidak. Mari kita melangkah lebih jauh…

Jika Allah masih memberi saya kesempatan untuk menghirup udara di dunia yang fana 30 tahun dari sekarang, mungkin begini kiranya bayangan visualisasi saya:

Kala itu, tentulah usia saya tidak muda lagi. 62 tahun. Saya ingin hidup tenang, dengan kondisi finansial yang sudah mapan. Harapannya, di umur segitu saya sudah tidak perlu pusing-pusing mikirin pemasukan. Dan kemapanan ini didapat karena saya sudah bersusah-susah di usia produktif, jerih payah dari menulis diselingi menerjemahkan dan menyunting sesekali. Ah, kata siapa, penulis punya masa depan suram dari segi finansial.*bolehlah saya berasumsi lain :P*

Kala itu, Radi mungkin sudah pergi meninggalkan rumah. Membangun rumah tangganya sendiri.  Mengejar mimpi-mimpinya. Ah, saya tidak ingin memetakan profesi apa yang ditekuninya kelak. Biarlah itu menjadi misteri ilahi. Yang penting, Radi saat itu sudah tahu benar apa yang menjadi mimpinya dan fokus mengejarnya…*jangan kayak mamanya dulu yang telat menyadari panggilan jiwanya… pakai acara terdampar di fakultas ekonomi segala :P*  *ini jadi PR buat saya sekarang, dalam perkembangannya nanti, penting pula memantau dan memberi perhatian khusus terhadap bakat dan minat si bocah*.

Kala itu, meski tak muda lagi, saya tetap ingin produktif. Tetap punya karya dan kontribusi kepada masyarakat. Bukan karena tuntutan hidup, tapi lebih karena kesadaran ingin punya daya guna hingga amanah usia ini habis sudah. Yang terbayang saat ini, saya ingin punya perpustakaan kecil di rumah atau di dekat rumah. Koleksi buku Radi saat kecil memang selalu saya rawat dan kumpulkan. Begitu koleksi sudah cukup banyak sementara si bocah sudah tumbuh dewasa alih-alih diloakkan atau disumbangkan entah kemana, saya ingin menyimpannya di rumah, dan kelak membuka perpustakaan anak. Mungil saja, tapi nyaman. Terbuka bagi siapa saja. Anak dari kalangan mana pun bebas membaca dan meminjam. Mungkin tidak dibuka 24 jam, hanya jam-jam tertentu saja. Senin sampai Jumat. Pukul 10.00-15.00, misalnya yaa.

Dengan anak yang sudah beranjak besar dan pergi meninggalkan rumah, saya tentu akan merindukan suara celotehan anak-anak. Suasana rumah memang terasa berbeda dengan kehadiran mereka. Lebih hangat. Saya ingin memiliki peranan dalam membina anak-anak kecil, minimal di lingkungan saya sendiri.  Saya ingin menjadikan rumah saya tempat yang kelak akan berkesan dalam ingatan anak-anak ini dan mampu memotivasi mereka untuk menjadi apa pun yang mereka inginkan. Seperti rumah di buku-buku dongeng anak-anak—tapi bukan dongeng Hansel ‘n Gretel *krauk krauk nyam :D*.  Rumah yang hangat, menyenangkan, dan mampu menumbuhkan kecintaan anak akan ilmu, meluaskan cakrawala mereka, dan menantang mereka untuk berani bermimpi.

Mungkin saya akan mengadakan sesi mendongeng di rumah perpustakaan ini minimal sekali seminggu atau mengadakan acara prakarya bersama. Mengenalkan anak pada permainan puzzle (bukan di aplikasi gadget), meronce, bikin buku, bercerita. Atau mengadakan sesi parenting class sesekali—diskusi sedikit dan pencerahan saja bagi para orangtua di lingkungan sekitar.*atau sekalian aja bikin TK yak? Heu..beda tanggungjawabnya meureun…*

Dalam bayangan ini, saya mungkin akan menjadi seperti nenek-nenek di cerita “Celengan Babi Ungu” karya Enid Blyton—salah satu buku cerita pertama yang saya baca saat baru mulai bisa baca. Sang nenek yang dikira galak dan penyendiri, ternyata menyenangkan sekali. Saat ada dua anak datang bertamu ke rumahnya karena ingin meminta maaf setelah memecahkan celengan babi ungunya, ia justru menjamu mereka dengan kue-kue cokelat yang baru diangkatnya dari panggangan. Ditambah cenderamata bagi masing-masing anak.

Tapi berbeda dari cerita si nenek, saya tidak hidup sendiri. Hari-hari tua saya tentu ditemani oleh sang suami setia yang di usia 65 tahun masih segar bugar karena sudah berhenti merokok hingga seterusnya sejak studi di Australia *fingers crossed*. Terkadang, kami suka traveling sama-sama, melanglang buana melihat dunia. Berlibur ke Selandia Baru, ke Ceko, ke Yogyakarta (karena suami pernah berjanji akan membawa saya melihat Candi Borobudur :P). Hal yang jarang dilakukan saat muda karena banyaknya urusan dan tanggungan…hehe

Itu mungkin sekelumit bayangan saya 30 tahun di masa yang akan datang. Mudah-mudahan bayangan ini bukanlah mimpi belaka. Amin. 😛

Radinek #1

 

Di kamar, sore hari

 

Radi sedang mengeluarkan mainan lego dari wadahnya. Mamanya tengah ketak-ketik tuts laptop.*eh ciye sibuk nih ye..*

Tak lama tangan kecilnya menggenggam tiga balok lego, kemudian berlari keluar.

Sesaat kemudian ia kembali, mengedarkan pandangan ke sekitar ruang kamar, merebut remote yang tergeletak di kasur, dan kembali tergesa keluar.

*Ngapain tuh anak. Mamanya mulai garuk-garuk kepala penasaran.*

Tak lama, kaki-kaki kecilnya kembali melangkah masuk kamar dengan dada membusung.

Kali ini mainan kereta api yang diambilnya. Dan seperti bisa ditebak, ia kembali melangkah tergesa keluar.

*Ini anak lagi sibuk ngapain sih?*

Mamanya pun bangkit dari duduknya dan melangkah keluar kamar.

Didapatinya Radi sedang berdiri bersandar sambil mengemut gagang laci bufet.

Dan begitu laci dibuka, nampaklah remote tipi, piring makan, bola dan tumpukan aneka rupa mainan Radi.

Ternyata, si bocah kegirangan menemukan tempat rahasia baru untuk menyimpan semua barangnya.

Laci bufet aki.

 

Catatan kaki: Radi lagi fase seneng memindah-mindahkan barang di rumah. Hari ini saja telah saya temukan toples biskuit dan gelas di keranjang sampah.

Malaikat Tanpa Sayap

Kami mungkin tidak selalu sepaham. Tidak selalu seiring sejalan.

Tapi darinyalah saya pertama belajar nilai-nilai pengorbanan, kesabaran, welas asih, cinta <3.

Dan jika saya membutuhkan telaga penyemangat, ke sanalah saya pergi mencari.

Ibu telah mengguratkan contoh pengorbanan yang hakiki. Masa mudanya, kampung halamannya, kariernya telah dia tinggalkan demi anak-anaknya.

Ibu seolah tak kenal letih. Meski di rumah ada asisten, ia asuh sendiri kelima buah hati dengan tangannya. Mulai dari memandikan, menceboki, menyuapi, meninabobokan.

Dalam ingatan saya, jarang sekali ibu memanjakan diri dengan membeli barang-barang mewah, perhiasan, pakaian-pakaian cantik, atau perjalanan ke salon. Uang yang dipegangnya selalu dibelanjakan demi kesenangan buah hatinya. Ya, kami berasal dari keluarga sederhana saja, tapi kami memiliki banyak sekali mainan, koleksi buku cerita, juga baju-baju cantik.

Bagi ibu, tak ada istilah “me time” dalam kamus hidupnya. “Me time” baginya adalah bermain dengan anak-anaknya. Atau menonton acara kegemarannya dengan ditemani oleh (lagi-lagi) anak-anak.

Maka, ketika saya merasa lelah mengurus anak, jemu dengan rutinitas domestik yang itu-itu aja, tak pantaslah rasanya saya mengeluh. Karena pengorbanan saya belumlah ada apa-apanya dibandingkan beliau.

Dan bila saya rindu dimanjakan oleh suami—yang sedang menimba ilmu di negeri seberang—saya pun teringat akan kehidupan yang dijalani ibu. Dengan ayah mengais rejeki di luar pulau, ibu nyaris tak pernah dimanjakan oleh pasangan hidupnya. Dan dengan keluarga dan sanak saudara berada di luar benua, ibu pun seolah tak punya tempat untuk berkeluh-kesah.

Hartanya dan sumber kebahagiaan hidupnya, hanyalah anak-anaknya.

Ibu memang bukanlah seorang malaikat. Seorang manusia tanpa cela. Tidak. Ia lebih dari itu.

Ia seorang IBU.

Dari dialah, saya paham muasal pesan sang nabi “surga di bawah telapak kaki ibumu.”

me n mom

me ‘n Mom

Life-long Dream

 

Look at that bright stars in the distant sky. Those are your dreams and wishes. Now flap your little wings and fly…

 

I miss reading a good novel. I miss translating and editing.

But deadlines are my worst enemies now.

Juggling between taking care of highly demanding toddler with literacy work is just too much of a challenge.

In order to keep my sanity, I must choose.

 

Maybe it’s about time for me to start pursuing my other interest.

My life long dream actually.

To write and publish my own book.

To inspire people through my writings.

At least then I don’t have to worry about meeting strict deadlines.

And it’ll keep my mind—imagination and creativity—from being numb.

 

InsyaAllah. Amin…

 

*learn to flap.. flap.. flap.. my little wings*

 

Youtube and Gadget Addiction

Saya suka bingung dengan orangtua yang membebaskan anaknya main game di tab atau ipad seharian. Lebih heran lagi, mereka yang membiarkan anaknya nonton youtube di gadget itu sesuka hati. Padahal anaknya masih balita, bahkan batita.

Menurut saya situs youtube belumlah pantas untuk diakses oleh anak kecil. Bagi balita yang baru belajar mengenal dunia sekitarnya, memang sungguh ajaib sekali situs ini. Hanya dengan satu klik jari ada ribuan video yang bisa dinikmati—mulai dari kartun, musik, iklan produk, sampai video-video absurd dan sampah sekalipun.

Namun sayang sekali bila anak kecil yang masih polos dan murni ini dikenalkan dengan segala sisi dunia mereka dari video youtube yang bisa diunggah dengan seenak udelnya oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Jelas-jelas ada begitu banyak konten pornografi dan kekerasan berserakan di sana.

Bagi saya, orangtua yang menyerahkan gadget dan membiarkan anaknya mengakses youtube atau situs mana pun tanpa pengawasan dan tanpa ada child lock adalah orang dewasa yang teledor. Itu sama saja kalau di jaman saya dulu kayak menyerahkan banyak judul video—mulai dari video kartun, video horor sampai video bokep—ke anak kecil sambil berkata, “silakan saja tonton apa yang disuka.”

Sungguh edan memang… Entah mengapa orangtua suka lebih khawatir terhadap keselamatan fisik anaknya, “Jangan panjat pohon terlalu tinggi. Nanti jatuh..nanti luka…nanti sakit…” Tapi untuk kesehatan batin yang tidak kasat mata diabaikan begitu saja. Ketika nilai-nilai kefitrahan mereka dirongrong. Digempur oleh nilai-nilai konsumerisme, kekerasan, pornografi *tarik napas panjang dulu*.

Sebetulnya, nilai-nilai apa yang ingin kita tanamkan kepada anak kita dengan membiarkan mereka bermain gadget dan menonton youtube day in day out?

Memang, gadget itu memudahkan hidup orangtua. Mereka nggak perlu repot sementara anak mereka bisa berjam-jam duduk manis depan gadget. Tapi… apa juga sih susahnya mendownload video yang digemari anak kita dari situs secara langsung, baru nanti pasang playlist video hasil downloadan ini dan membiarkan anak menonton sendiri. Memang siiih lebih repot dikit, perlu meluangkan waktu buat pilah-pilih video dan menyimpannya kan?… Hei, siapa bilang mendidik dan membesarkan anak itu nggak repot? Tapi itulah tugas orangtua.

Toh effort kita akan sepadan kok ketimbang anak kita terpapar pada konten-konten “menyeramkan” sejak usia dini.

Sebagai korban pelecehan di masa kanak-kanak, saya mungkin bisa dibilang agak parno (alias extra carefull) dengan hal beginian. Kalau bisa memilih, saya ingin sekali mempertahankan kepolosan anak selama mungkin. Malah kalau anak kita bisa dimuseumkan.. eh, disterilkan dari hal-hal macam begini betapa indahnya dunia… Tapi kan memang tidak mungkin ya…*ya sudahlah*  Itu memang kenyataan yang mesti dihadapi. Faktanya, kita memang sekarang hidup di era informasi digital yang kebablasan.

Kata orang-orang, anak jaman sekarang mesti melek teknologi sejak dini. Tapi hati kecil saya bertanya-tanya, apakah menyerahkan gadget—macam smartphone, tab atau ipad—kayak begitu sudah berarti mengajarkan anak akan teknologi? Saya pun tidak lantas mengharamkan anak kecil dari menggunakan gadget. Hanya saja, sebagai orangtua, tugas kitalah untuk mengajarkan anak supaya arif menggunakannya. Jangan sampai malah ketergantungan. Sebaiknya waktu penggunaan dibatasi dan konten gamesnya dipantau, alangkah baiknya yang bersifat edukatif. Dan sebisa mungkin jangan kasih akses buat nonton via situs langsung. Kalau mau nonton kan ada dvd, ada acara tv kabel yang masih aman macam cbeebies. Banyak pilihan kok. Intinya, jadi orangtua kudu selektif.

Anak saya memang masih sangat kecil saat ini. Baru satu tahun. Entah apa jadinya nanti ketika Radi sudah mulai ngerti menggunakan gadget begitu. Tapi saya percaya keinginan saya ini bukan sebuah utopia. Hanya saja untuk saat ini, mungkin saya mesti berkaca dulu. Tidak ingin anak kerajingan gadget, jangan-jangan saya sebagai orangtua juga tidak pernah lepas dari smartphone saya. Sebagai “stay-at-home mum” yang selalu menghabiskan waktu di rumah, saya akui saya sering merasa mati gaya kalau tidak buka sosmed tiap hari. Bahkan itu sudah jadi semacam kebutuhan.

Padahal kalau dipikir-pikir, orang-orang tua jaman dulu mana kenal dengan yang namanya fesbuk atau hape. Tapi mereka santai dan tampak content with their life. Jangan-jangan terlalu banyak terekspos dengan “dunia luar” malah nambah-nambah beban pikiran. Menjejali kapasitas otak dengan banyak pesan-pesan spam yang tidak dibutuhkan. Jangan-jangan lagi, kita malah menciptakan sebuah kebutuhan baru yang sebetulnya tidak (begitu) dibutuhkan. Yah cukuplah jadi kebutuhan tertier—kebutuhan aktualisasi diri alias eksis setelah sandang pangan papan tea.

So maybe from now on, I will write my new family rule: Kalau sedang bermain dan menghabiskan quality time dengan anak jangan kutak-katik smartphone, browsing ini itu, ceting sana sini. Hadirlah “sepenuhnya” (mind, body and soul) *apa coba* bersama mereka. Kita sendiri kerasa banget kan betenya setengah dicuekin oleh lawan bicara. Nah, itu pula yang dirasakan oleh anak. Meski mereka masih anak kecil, hargai mereka. Salah satu cara menghargai keberadaan mereka, adalah dengan memberi perhatian penuh kita pada mereka. Tentu tidak bisa 24 jam kita beri perhatian penuh. Toh sebagai seorang ibu (apalagi kalau tanpa ART seperti sayah) kita juga mesti masak, nyetrika, dan berkegiatan lainnya. Tapi tentu tiap hari kita bisa mengagendakan waktu bermain berkualitas dengan anak, saat kita sama-sama lepas dari gadget. Pure playing ‘n bonding.

Well sambil menulis ini, saya ingin kembali memperbarui ikrar saya…

Ketika tengah bermain dengan anak, akan saya tinggalkan hape saya dari jangkauan.

Ketika tengah bicara dengan anak, saya akan menatap matanya dan bukan layar hape.

Anak kita terlalu berharga, dan tanpa terasa masa kecil mereka akan berlalu begitu saja di depan mata kita.  So time to write more memories with them instead of with the gadget.

5 Pelajaran Penting untuk Anak Laki-laki

Ada yang bilang, ketika dewasa anak laki-laki cenderung mencari pasangan yang memiliki karakter seperti ibunya. Menurut pakar, hal ini karena sang ibu adalah salah satu role model bagi anak laki-laki pada saat menjalani proses tumbuh kembangnya. Dari ibu, anak-anak dapat belajar banyak seputar kemampuan emosi. Nah, bila Anda berharap memiliki anak laki-laki yang nantinya tumbuh menjadi orang yang peduli terhadap sesama, penuh rasa percaya diri, dan berani menerima tanggung jawab, asuhlah dia dengan baik sejak kecil. Jangan lupa, bekali dirinya dengan mengajarkan empat hal berikut:

1. Sopan santun
Membiasakan anak laki-laki untuk membukakan pintu, berjalan di sisi paling luar ketika menyeberang bersama adik perempuannya, hingga memberikan tempat duduknya kepada kakek-nenek yang ia temui di bus, mungkin mulai terlupakan oleh para orangtua masa kini. Banyak yang merasa tak perlu mengajarkan hal seperti itu karena menganggap itu tata cara kuno. Namun, ternyata kebiasaan-kebiasaan kecil yang diajarkan kepada anak laki-laki pada usia dini bisa membuat mereka bersikap lebih sopan saat dewasa nanti. Ia juga akan lebih berempati terhadap orang lain dan lebih peduli terhadap sekitarnya.

Riset dari University of Michigan memperlihatkan, kemampuan berempati kepada para mahasiswa di masa sekarang telah menurun sekitar 40 persen dibandingkan 20 tahun lalu. Ada dua alasan yang diberikan para peneliti. Pertama, hobi bermain video game yang memperlihatkan kekerasan (seperti adu laga) sehingga anak jadi cenderung mati rasa terhadap penderitaan orang lain. Yang kedua adalah pesatnya jejaring sosial yang memungkinkan anak untuk memiliki “teman-teman” virtual tanpa harus mengenal mereka satu persatu dengan lebih mendalam.

2. Mengelola emosi dengan baik
Pria yang baik adalah yang tahu bagaimana mengendalikan emosinya. Bila Anda selalu menegurnya di kala ia menunjukkan rasa marah ataupun sedih, sebaiknya hentikan. “Anda mungkin berpikir bahwa lelaki yang baik seharusnya terlihat kuat dan tidak banyak bicara. Namun, sebenarnya semua itu terlalu stereotip,” kata Christine Nicholson, PhD, psikolog dari Washington.

Jangan halangi dia mengungkapkan apa yang dirasakan. Doronglah ia untuk membicarakan perasaannya dan bantulah menemukan solusi permasalahannya. Jika Anda sering mengatakan bahwa itu bukan tindakan yang pantas dilakukan laki-laki, ia akan belajar untuk menyembunyikan perasaannya. Saat dewasa, ia tidak dapat berkomunikasi dengan baik—mungkin malah lebih memilih adu jotos atau minum-minum untuk melampiaskan perasaan.

3. Keberanian
Dalam kehidupan sehari-hari, sosok seperti polisi, pemadam kebakaran, atau tentara, tidaklah asing di mata anak-anak. Tugas ibu adalah memperkenalkan konsep keberanian melalui figur-figur ini. Saat menonton petugas kebakaran yang menyelamatkan korban kebakaran, jelaskan padanya bahwa tindakan yang gagah berani bukan berarti berbuat semena-mena terhadap orang lain, melainkan justru menyelamatkan serta melindungi yang lemah—meskipun dengan risiko gugur saat bertugas. Dari sini, ia akan belajar untuk berani bertanggung jawab dan menerima risiko, baik dalam kehidupan secara keseluruhan maupun dalam hubungannya dengan orang lain.

4. Menghargai orang lain
Ketika anak melanggar aturan yang Anda tetapkan di rumah, mulai dari bicara dengan bahasa yang tidak pantas hingga melakukan hal-hal yang terlarang, berikan konsekuensi dan pegang kata-kata Anda. “Anak laki-laki akan menghormati orang dewasa yang tegas, tetapi tidak menggunakan kekerasan dalam menerapkan aturannya,” kata Michael Gurian, penulis buku The Purpose of Boys.

“Sebaliknya, bila Anda selalu memaklumi tindakan anak, atau memberikan konsekuensi tapi kemudian disertai kelonggaran, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang termotivasi, manja, dan tidak peduli terhadap orang lain,” ujarnya.

Tugas Anda berikutnya adalah memberikan contoh yang baik di rumah. Perlihatkan kepadanya bagaimana Anda menghargai orang lain, seperti gurunya, orangtua teman-temannya, hingga orang-orang tidak dikenal yang Anda jumpai di jalan. Dengan demikian, anak akan mendapatkan contoh nyata yang dapat ia tiru saat dewasa kelak.

5. Mengasihi sesama
Pria yang dapat mengekspresikan rasa cintanya kepada orang lain dapat dipastikan telah tumbuh di bawah siraman kasih sayang orangtuanya. Dan, dalam hal mengungkapkan cinta terhadap lawan jenis, pria banyak belajar dari ibunya. Mungkin, sewaktu dia masih kecil Anda selalu memeluk dan menciumnya. Tapi sejalan dengan pertambahan usia, mereka mulai menampik ciuman Anda.

Menurut Dan Kindlon, PhD, pakar dari Harvard School of Public Health, semakin besar anak laki-laki mulai memisahkan diri dari ibunya agar bisa lebih mandiri. Namun, bukan berarti Anda jadi berhenti memperlihatkan rasa cinta Anda. Pilih-pilihlah waktu dengan tepat, seperti dengan memeluknya ringan di depan teman-temannya (bukannya mencium kedua pipinya).

“Ingat, anak laki-laki perlu mengalami sentuhan kelembutan dari sang ibu meskipun ia mungkin tidak pernah memintanya,” kata Kindlon.

Sumber: female.kompas.com

* I like this article so I posted it on my blog.. Hope my son will own these qualities. 🙂