My Sensitive Little Soul

Suatu malam saat menemaninya tidur, dengan tangan mendekap leher saya, saya dikagetkan oleh suara kecilnya, “Mama nggak boleh meninggal sampai aku jadi bapak-bapak.”

Sontak saya menoleh dari layar hape dan menumpahkan perhatian penuh kepadanya. Berbagai pertanyaan seketika berkecamuk di benak, “Mengapa out of the blue ia sampai berpikir begitu?” Terpikir pula berbagai jawaban untuk meredakan rasa takutnya. Saya merasa seakan harus menenangkannya dari mimpi buruknya. Hanya saja, ini bukan mimpi buruk. Ini adalah ketakutannya yang nyata.

Saya pun teringat, sayalah yang sesungguhnya menularkan ketakutan itu. Beberapa bulan belakangan saya memang cukup sering mengingatkannya agar bisa belajar lebih mandiri. Pergi tidur sendiri bila mengantuk, mandi sendiri, membereskan pakaian dan merapihkan mainannya sendiri. Pernah terucap oleh saya, bahwa ia harus mandiri demi kebaikannya sendiri karena mamanya belum tentu bisa selalu menemaninya. Kita tak pernah tahu umur. Bila amanah Mama menjaga Radi sudah selesai dan Mama sudah dipanggil pulang sama Allah (seperti Aki), Allah yang akan menjaga Radi langsung.

Tak disangka, nasihat itu membekas cukup dalam pada dirinya. Hingga ke malam hari itu, sekian lama kemudian. Saya pun akhirnya hanya bisa menenangkannya dengan berkata, “Insya Allah, Sayang. Kamu doain biar Papa Mama sehat-sehat terus, anak jagoan …”

Nyatanya ucapan itu tak cukup menenangkan hatinya. Ia pun tertidur malam itu dengan air mata masih membasahi kedua pipi sementara Mama hanya bisa menciumi dan memeluknya hingga ia lelap ke alam mimpi.

Ah, Nak, betapa bening dan halus hatimu. Dan betapa egoisnya Mama yang telah menularkan ketakutan terbesar Mama jika meninggalkanmu terlampau dini. Tanpa saya sadari bahwa bagi seorang anak, ketakutan ditinggalkan orangtua lebih menakutkan daripada ditakuti tentang neraka. Padahal bukankah selama ini neraka merupakan konsep yang saya hindari  untuk ceritakan kepada jiwanya yang masih suci dari dosa?

Ah Nak, sebelum menasihatimu, Mamalah sesungguhnya yang harus belajar lebih ikhlas dan lebih tegar. Bukan kamu. Belajar kemandirian tak perlulah diwanti-wanti dengan rasa takut. Yang perlu kita fokuskan saat ini adalah menciptakan begitu banyak momen dan kenangan indah bersama yang akan kamu bawa sepanjang kehidupanmu. Hingga kelak kamu tumbuh menjadi “bapak-bapak” yang paling tegar, paling bijak, paling baik dari semua “bapak-bapak” yang Mama kenal. 🙂

 

Mommy love u. :*