Radi Renang

Berbeda dengan anak kebanyakan yang biasa senang bermain air, Radi punya pengalaman yang “unik” dengan air, khususnya renang. Walau mandi (dengan air) tidak masalah untuknya, air dalam jumlah besar lain cerita. Bahkan mandi berendam dalam bak pun Radi selalu menolak.

Saat masih bayi, kami pernah mengajak Radi bermain ke pantai dan kolam renang namun tidak pernah berhasil menceburkan si bocah ke dalam air meski hanya untuk mengecipak-cipukkan kaki… Gimana mau dicebur ke dalam air, kalau mendekatinya aja si bocah udah jejeritan kayak mau digorok *elap keringet* Kami pun heran karena seingat kami Radi nggak punya pengalaman traumatis sama sekali dengan air. Ya sudah, akhirnya kami pun jadi jarang (banget) mengajak lagi Radi berenang.

Meski begitu, perlahan-lahan kami tetap mencoba untuk membantunya menaklukkan rasa takutnya terhadap air.

Berikut pengalaman Radi berkenalan dengan renang:

kala Radi bayi diajak main ke pantai

kala Radi bayi diajak main ke pantai *throwback*

Saat bermukim di Sydney, kami sempat mengajak Radi berenang di kolam renang kampus Papa. Tapi tidak berujung dengan si bocah menceburkan diri 😛

Kolam Renang UNSW

Kolam Renang UNSW

Awalnya diajak jalan-jalan mengitari kolam dulu..

jalan-jalan dulu kite...

jalan-jalan dulu kite…

Tapi berhubung doi ga bersedia juga nyebur, jadilah Radi duduk manis di tribune memandangi papanya renang.

Berhubung tetep ogah nyebur, jadi deh radi ngemil roti aja di tribune. Ceritanya biar dia ga kapok dibawa renang..hehe

nyam lapeer abis nonton papa renang :D

nyam lapeer abis nonton papa renang 😀

Belum berhasil nyebur ke kolam nih!

Well, better luck next time!

Maret tahun ini saya kembali mengajak Radi (2,5 thn) renang. Kali ini di Bandung.

Beginilah penampakan Radi saat diajak nyebur ke kolam..

Beginilah penampakan awal Radi saat diajak nyebur ke kolam..

Demi menenangkan si bocah yang tampak panik khawatir dicebur ke dalam kolam, kita traktir eksrim walls deh..

mm..boleh nih..

mm… Mama tau aja apa mauku..

Tapi penasaran juga, mandangin orang-orang renang dari kejauhan.

Tapi penasaran juga si doi, mandangin orang-orang renang dari kejauhan.. acting so cool bak pengawas kolam 😛

Pelan-pelan kita ajak duduk di tepi kolam dipangku teta M.

Asik juga kecipak-kecipuk kaki di kolam..segerr..

Asik juga kecipak-kecipuk kaki di kolam..segerr..

Ternyata sekejap kemudian, pas Mama balik dari ambil barang, Radi udah masuk ke kolam ajaah..whooot??!

Saking euforianya Radi yang baru mulai menaklukkan rasa takutnya, sehabis mandi dan ganti baju eh doi kemudian nagih nyemplung lagih..

Asik juga kayaknya nyebur babak kedua. Masa bodo Mama yg mesti mandiin aku lagih :D

Asik juga kayaknya nyebur babak kedua. Masa bodo Mama yg mesti mandiin aku lagih 😀

Buat orangtua yang mungkin ga punya pengalaman anaknya takut air kolam selama ini mungkin ga akan tahu rasa bangganya saya pada Radi..Ga papa deh kalo Mama mesti mandiin dan ngebajuin kamu berulang-ulang karena kamu yang pengin nyemplung lagi dan lagih..I’m so proud of you! You did it, boy!

As a reward, bolehlah kamu makan eskrim lagih 😀

santaiiii..

santaiiii..

Buah dari pengalaman ini, Radi mulai mau deh mandi berendam di bak mandi..hihi.. Well done, boy!

Sore langsung teler gara-gara renang dua ronde :D

Sore langsung teler gara-gara renang dua ronde 😀

Catatan Perkembangan Bicara Radi (part 2)

Saat Radi menginjak usia 2 tahun 8 bulan, kami membawa Radi ke biro psikologi Swaparinama, masih terkait kemampuan bicara Radi. Sejak distimulasi lebih intensif, kami lihat kemajuan bicara Radi masih seperti jalan di tempat. Ada sih perkembangannya, tapi masih seperti merayap pelan. Biar orangtuanya lebih tenang dan karena ingin berkonsultasi dengan pakar secara langsung dan mencari tahu stimulasi yang lebih tepat sasaran bagi putra kami, jadilah kami putuskan untuk membawa Radi diperiksa oleh psikolog anak dan terapis wicara di sana.

Untuk konsul dengan psikolog, sebelumnya kami buat janji via telepon. Proses observasi dilakukan beberapa kali. Pertemuan pertama baru wawancara kedua orangtua. Dilanjutkan dengan observasi anak oleh psikolog anak pada hari lain, kemudian observasi anak dengan terapis wicara pada kesempatan lain lagi. Total ada tiga kali kesempatan pertemuan untuk observasi, dan sekali jadwal pertemuan untuk konsultasi hasil observasi. Sekali sesi pertemuan dengan psikolog dikenakan tarif 125rb, dengan terapis wicara 100rb.

asyik main jungkat-jungkit di biro psikologi Swaparinama

asyik main jungkat-jungkit di biro psikologi Swaparinama

Dari hasil observasi, bu psikolog menyampaikan banyak masukan baru. Untuk terapi wicara, beliau menilai belum diperlukan untuk Radi karena usianya yang masih fase perkembangan bicara (2 tahunan). Nanti dilihat lagi aja kemajuannya sampai setahun berikutnya, kira-kira saat Radi 3,5 tahun. Mudah-mudahan Radi udah bicara casciscus yah saat itu..amiiin. Karena kecerdasannya tampak tidak ada masalah, sebetulnya masih bisa-bisa saja kalau Radi mau diperkenalkan dengan bilingual di rumah. Tapi harus imbang, kalau mau fokus bahasa Indonesia, perbanyak tontonan bahasa Indonesia juga (Selama ini Radi memang lebih sering mengonsumsi tontonan berbahsa english). Perkenalkan dengan lagu-lagu bahasa Indonesia, banyak-banyak mendongeng, dan menarasikan segala yang kita lakukan. (Itu sebetulnya bukan tips-tips yang baru dan sudah mulai diterapkan dari lama.)

             Beliau juga memaparkan anak yang mengalami speech delay ini bisa disebabkan beberapa faktor: Pertama, faktor dalam diri atau genetik (ada riwayat dalam keluarga). Dengan kata lain, bisa jadi memang anaknya malas bicara udah dari sononya. Untuk ini, orangtua mesti sering mengondisikan anak agar BUTUH bicara. Jangan sering-sering menerjemahkan keinginan anak lewat bahasa kalbu atau menjawab mewakili anak bila anak ditanya. Misal, ketika anak meminta sesuatu dengan hanya menggunakan bahasa isyarat, minta dia mengucapkan permintaannya itu. Bimbing dengan jelas dan sabar, tapi jangan dipaksa pula sampai anaknya merasa frustrasi. (Penting untuk selalu melihat mood anak). Faktor kedua, bisa dari lingkungan. Misal, anak kurang sosialisasi atau lingkungan sekitar anak yang menggunakan banyak bahasa sehingga anak mengalami yang namanya “bingung bahasa”. Radi dibesarkan dalam lingkungan tiga bahasa (bahasa Indonesia, Inggris, dan Sunda). Faktor ini bisa jadi yang menambah lambatnya perkembangan bicara Radi. Saya akui, kedua faktor ini ada lengkap di diri Radi. Riwayat keluarga, kurangnya sosialisasi dengan teman sebaya, dan bingung bahasa.

               Bila bicara dengan Radi saya dan suami sudah kompak untuk fokus menggunakan bahasa Indonesia saja, tapi saya jelas takkan melarang keluarga besarnya (Aki,Ninin dan kerabat lainnya) berinteraksi dengan Radi menggunakan bahasa Sunda. Saya pikir tak apalah, Radi memang anak produk kaya budaya. Toh pelan-pelan dia akan menangkap sendiri. (Untung saya nggak menambah dengan bahasa Ceko atau Palu..weleh makin mabok deh Radi :D). Jadilah sekarang bicara Radi campur aduk. Kadang keluar bahasa Sunda, kalau minta dicebok bilang “Beh-beh alias ombeh”, kalau mandi “Bak-bak alias Ibak”. Berbagai warna dan angka dia sebut dengan bahasa Inggris. Selebihnya, bahasa ibu pertiwi alias endonesiah. Cara bicara Radi memang rada-rada absurd. Radi masih sering menyingkat-nyingkat kata, seperti “Ki” untuk panggilan “Aki”, “Pah” dan “Mau” mestinya Jerapah dan Harimau. Tapi untuk kata-kata tertentu bisa disebut lengkap, seperti “Toko bayi”. Entahlah, memang rada ganjil… hahaha… 😀

           Menurut psikolog lagi, perkembangan bicara Radi akan lebih cepat bila dia banyak berinteraksi dengan teman sebaya. Jadi alangkah baiknya kalau dia bisa diikutsertakan ke dalam kelompok bermain di lingkungan sekitar, bisa formal maupun informal. Boleh juga dicoba teknik pijat mulut untuk merangsang otot-otot bicara (Yang ini belum saya coba intensif, tapi video dan cara-caranya bisa diakses via google). Otot-otot bicara memang perlu dilatih agar luwes dan akhirnya anak bisa berartikulasi dengan jelas. Caranya ya dengan sering-sering mengulang kata. Jadi jangan bosen-bosen sebagai orangtua untuk mengulang-ulang kata atau kalimat, dan mendengarkan anak mengulang-ulang kata yang sama terus-menerus.

Radi 2 tahun 8 bulan

Radi 2 tahun 8 bulan

Daaan, selain soal perkembangan bicara, kami juga sempat bertanya masalah lain lagi (gak mo rugi, mumpung lagi sesi konsul dengan psikolog anak). Kami perhatikan Radi agak rewel dengan kebersihan (kotor dikit, protes), dikasih lotion antinyamuk di kulit marah, sangat pemilih dengan pakaiannya (hanya mau memakai bahan yang lembut kayak katun atau baju bobonya dan selalu menolak dikasih celana jins), takut berendam di air, dan belakangan label baju selalu minta diguntingnya. Apakah itu “fase” yang akan hilang dengan sendirinya atau mesti kita beri penanganan tertentu? Menurut psikolog, hal itu cukup umum terjadi. Biasanya pada anak-anak yang kurang mendapat banyak stimulasi motorik-sensoriknya. Dan fase kerewelan ini belum tentu bisa hilang begitu saja. Banyak anak yang ditemuinya hingga usia sekolah yang mudah rewel hanya karena panas atau cuaca atau hal-hal lainnya yang kita pandang kecil tapi menjadi besar baginya. Untuk itu, kita sebagai orangtua perlu membantu anak. Bagaimana cara membantunya? Dengan memberikan banyak-banyak pengalaman sensorik-motorik baginya. Di usianya yang baru 2 tahun, memang belum banyak pengalaman hidup yang dimilikinya. Nah, kita perkaya pengalaman sang anak. Kita ajak dia keluar setiap harinya, meski hanya ke warung sebelah atau melihat ayam tetangga. Jangan sungkan kita ajak main kotor-kotoran (tanah liat, lumpur, finger painting, face painting). Variasikan pengalaman sensoriknya. Misal, anak biasa mandi dengan diguyur gayung sesekali bisa menggunakan shower dengan tekanan rendah. Pijatan juga bisa menjadi pengalaman sensorik yang bagus (variasikan tekanan dan pijatannya).
Saya akui, mungkin sebagai perempuan saya lebih sering mengajak Radi beraktivitas di dalam rumah saja, seperti menyusun lego, puzzle, dan membuat prakarya sederhana. Lain kali, saya mesti lebih aktif mengajak dia keluar. Bermain bola, memanjat tangga, meniti balok, dan bereksplorasi (resiko LDR dengan papa Radi huhu…). Ini menjadi catatan penting bagi saya. Meski sibuk dengan deadline kerjaan, Radi tetap butuh porsi waktu dari kita sebagai orangtua. Dan pendidikannya tetaplah prioritas yang pertama. Dan catatan pula, kalau nanti mau memilih-milih kelompok bermain atau TK buat Radi, lihat yang porsi kurikulumnya lebih banyak memfokuskan pada pengembangan sensorik-motoriknya ketimbang duduk manis di kelas dan membuat prakarya yang kata psikolog lebih cocok untuk masa 5 tahunan ke atas nanti.
Sudah cukup panjang lebar saya bercerita tentang perkembangan Radi setelah sekian lama blog dianggurkan. Semoga ada manfaatnya, dan doakan Radi makin pintar ngoceh nggak lama lagi. Amiiin YRA.

My 30 Months Old Baby

Radi turned 30 months today. Yep, you’re 2,5 year young, dear boy 🙂

In terms of speech, he hasnt yet make a sentence. 😦 Although he understands quite well when given instructions. Hopefully he’ll talk more soon. My mom said that Radi follows after his Opa (my dad) who started talking when he was 3.

Aside from that, I am trully happy and blessed being able to see his overall development each passing days.

He knows almost half of the alphabet by now. And no, I didnt force him for early reading. He picked it up himself by watching and reading his fave sesame street book. Also from a preschool educational app when he sometimes play on his grannys ipad. (And yes… he enjoys it).

He likes to shout out all the colours he sees. “Papa, yellow!” while pointing to his daddys shirt. “Nih, purple!” as he points to his crayon.

He loooves to imitate.  He always imitate gestures from people he sees on TV or around him. He likes to dance a lot. Jump, wiggle, and run…  anything involves his gross-motoric skills.

And he also loves routines. During sleep time, he must grab his bottle of milk. And after covered by blanket, he likes being read stories to by her mom (nope, Dad… only Mom can read it to me during my bedtime) :D. His favourite book right now is the “Brown Bear, Brown Bear.” He’ll point out all the animals and colours in each page and insist me reading it over and over again although it’s a really short story.

PicsArt_1417138038252

In terms of character, Radi has blossomed into a rather quiet and observant boy. Although he also throw tantrums from time to time which I am relieved for because I know that tantrums is a developmental milestones for toddlers. I think he prefers to observe more before jumping into a new situation. He doesnt like loud noises and crowded places, just like his mom. And he is still afraid of swimming. Even during bathtime, he prefers to only put his feet to an ankle-deep water in his bathtub. 😀

He tends to avoid conflicts and doesnt mind if some other kid grab his toy while he plays with it. But in the future I hope I’ll be able to instill some assertiveness in him which he will need for his lack of aggresive character. Hopefully my son won’t have to experience the same thing his mother went through during childhood years. Being bullied and often taken advantage of because of my timid and shy character. (Maybe I’ll write about developing assertiveness in Radi next time).

 

Well dear boy, now I think your next developmental milestone will be potty trained. Bismillah…wish us luck!

Catatan Perkembangan Bicara Radi (part 1)

Masalah Radi mengalami telat bicara sudah pernah saya tuliskan di sini. Sekarang sebagai salah satu upaya memantau perkembangan bicaranya, saya akan menuliskan catatan secara rutin. Bismillah… Ini catatan pertama.

Pada usia 2 tahun lebih 2 bulan, saya perhatikan Radi baru bisa mengucapkan sekitar 5 kata (mama, papa, mo buat elmo, nek buat nininnya…). Sepulang dari Australia, setelah sempat terpisah sebulanan sama anak, saya pun fokus menggiatkan stimulasi untuk kemampuan bicara Radi ini.

Saya batasi penggunaan gadget sebisa mungkin. Untuk mengalihkan perhatiannya dari tablet oma dan nininnya, saya beli berbagai permainan alternatif semacam puzzle dan playdough. Apa pun asal bisa mendetoks dirinya dari gadget yang jadi terlalu digandrunginya selama absennya mama di sisinya. Sebisa mungkin saya temani dia saat bermain. Sesering mungkin saya ajak bicara, menarasikan apa pun yang sedang saya atau dia lakukan.

Untuk stimulasi bicaranya, saya banyak mencontek tips-tips dari sini (nuhun mbk Andiani atas sharingnya). Saya memang tidak segera membawa Radi untuk mengikuti terapi wicara karena masih ingin menstimulasinya sendiri dan melihat perkembangannya dulu. Ini juga atas masukan dari bibi suami yang praktisi PAUD. Katanya stimulasi bicara itu kuncinya pada orangtuanya bukan terapis karena kitalah yang akan menemani sang anak 24 jam dalam sehari. Sementara sesi terapi paling juga cuma sejam dalam sehari, dan orangtua akan diberi PR oleh terapis akan apa-apa saja yang mesti dilakukan dan dicatat di rumah untuk memantau perkembangan sang anak. Dan cara-cara terapi wicara ini juga bukankah sudah bisa diakses dari mana-mana (sebagian besar berkat jasa om gugel)? Jadi bismillah saja, untuk saat ini saya akan memegang sendiri tanggung jawab mengembangkan kemampuan bicara Radi. Bersama keluarga besar Radi tentunya, sebagai lingkungan hidup dan bermainnya sehari-hari. Meski begitu, saya tidak menutup kemungkinan untuk suatu saat membawanya ke terapis.

Lalu, apa saja cara yang saya lakukan untuk menstimulasinya, selain banyak-banyak bicara dan menemaninya bermain?

–          Story telling. Setiap hari saya upayakan untuk membacakannya cerita dari buku. Story telling ini dijamin akan mengasah kreativitas ortu juga karenaaa… Radi belum minat mengikuti alur cerita sebatas yang tertera dalam buku. Kita harus mengarang abis cerita, menunjukkan setiap ilustrasi dalam buku sambil menyebutkan nama-namanya. Dan lebih baik lagi bila disertai dengan properti tambahan, seperti boneka jari atau gambar karakter cerita yang ditempelkan ke bekas stik eskrim. Untuk menggugah minat anak 2 tahun buat duduk manis mendengar cerita memang butuh upaya besuar, tapi insyaAllah ini jadi bagian ikhtiar supaya si anak kelak dekat dan mencintai buku pula. Amiiin.

boneka jari

boneka jari

–          Flash card. Kartu berbagai macam gambar juga bisa menjadi sarana yang bagus untuk mengenalkan nama berbagai objek kepada anak. Tapi biasanya saya mesti lihat mood si anak dulu dan paling maksimal 15 menit saja saya gunakan flash card ini. Kalau moodnya lagi nggak bagus (rewel, ngantuk, atau playful alias jahil) paling-paling kartu-kartunya dihambur kemana-mana. Sementara kalau lagi semangat, dia suka-suka aja “diuji” mamanya. Misalnya saya menaruh 10 kartu berbagai objek, kemudian saya akan minta Radi untuk mengambil objek tertentu. Meski Radi hampir selalu benar saat menunjuk benda yang saya minta, tapi untuk menyebut namanya masih ogah-ogahan. Tunjuk mobil, dia bilang bbbrrrm. Kereta, bilangnya tutut. Tempat tidur, bilangnya bobo. 😀

–          Lagu-lagu. Mungkin bosan juga anaknya dengar mamanya ngoceh mulu. Nah, untuk variasi upaya memotivasinya lebih aktif berbicara, saya kenalkan dia dengan lagu-lagu. Kalau udah capek ngomong, saya nyanyi aja. Dulu sih Radi cuma kenal dengan lagu-lagu Barat versy nursery rhyme semacam “Itsy bitsy spider”, atau “Twinkle twinkle little star.” Sekarang saya tambahkan perbendarahaan lagu-lagu anak Indonesia, seperti “naik kereta api, “balonku”, dll.

Oh ya, sekarang saya juga fokus menggunakan satu bahasa saja, yakni bahasa Indonesia.

Sekarang Radi 2 tahun 3 bulan. Sebulan sejak upaya stimulasi yang lebih gencar ini, saya lihat Radi ada perkembangannya. Sekarang sudah bisa 20-an kata yang suka diulang, seperti susu, bobok, duduk, popok. Namun untuk sebagian besar kata, masih suka dipotong-potong (pi untuk topi, ki untuk kaki) dan masih lebih suka mengandalkan bahasa isyarat saja.

We will see how it goes.. doakan kami.. Radi yang semangaaat belajarnya!

Mummy loves you… :*

The Day the Boy Turned Two (In Pictures)

Horeee, 28 Mei 2014 Amir Rahadi Naufan (alias Radi) genap berusia 2 tahun! Berikut rangkuman hari istimewa Radi dalam jepretan foto. 🙂

 
Awal hari, Radi yang belum ngeh sedang berulang tahun (yeah you are the birthday boy, son!) disuguhi hadiah spesial (tanpa bungkus kado karena gak sempet hihi..) dari papa mama. DVD the Wiggles (kelompok nyanyi bapak-bapak kesukaan Radi), puzzle djeco ‘n bus boardbook sesame street. Yeyy *kok mamanya yang girang* 😀

ultah8

potonya nabrak cahaya yee

Boardbook sesame street langsung jadi favorit birthday boy. Buku dengan kertas tebal yang bisa disusun menyerupai bus. Daan… nggak lama kemudian, busnya sobek sodara-sodara hiks…saking super excitednya Radi bolak-balik keluar masuk bus. Seneng banget dia merasa berangkat sekolah naik bus bareng Elmo. 😀 Ya sudahlah, memang petunjuknya sebetulnya diperuntukkan bagi anak usia 3 tahun ke atas.

Pukul sepuluh pagi, ada yang datang mengetuk pintu. Wow, surprise! Ternyata teman-teman kosan mampir mengantar kue ultah buat Radi. Terharu… thanks you guys, it means a lot. Radi syeneeeng banget makannya. Dan mamanya jadi nggak perlu bikin kue deh, hehe… Sayang nggak kepoto temen-temen Ubudersnya 😛

Jelang sore, mulai mati gaya. Radi cuma bobo siang bentar dan tampak mulai bosan terkurung dalam rumah. Akhirnya, mama berinisiatif ngajak Radi ke tempat bermain favoritnya, the playground. Ok, kiddo, since this is your special day we have to make it extra special then. Your wish is my command. Lets hit the playground! (Radi emang nggak betahan seharian di dalam rumah, padahal mamanya anak rumahan banget huhu..eh yihaa ding..let us explore the world together 😛 )
Si bocah pun puas bermain ayunan dan perosotan. Bagian susahnya adalah ngajak dia pulang hihiy… Yang tadi niatnya cuma main setengah jam di taman, jadi molor satu setengah jam. Biar deh nak, yang penting kamu puas (selain pengobat kecewa setelah bus elmonya sobek dan terpaksa disingkirkan mama dulu 😛 ).

Di jalan pulang, Papa Radi nelpon ngasih tahu karena tugas kuliahnya udah beres hari ini, mau ngajakin kita jalan-jalan ke Darling Harbour lihat pertunjukan sinar laser dan tarian air mancur (salah satu program Vivid Sydney 2014). Asyiiik…hayuk deh, kita lanjut jalan lagi! Radi super girang meski kurang bobo siang. (Hey we told you we were going to make your day extra special, you outdoorsy boy you 😛 )

ultah15

menunggu di halte bus

Pukul tujuh malam, pertunjukan sinar laser baru dimulai. *psst, ternyata di sebelah si Maliq n the Essentials ikutan nonton… tapi si papa ogah minta tandatangan ‘n poto bareng haha*
Pas musik menggelegar, Radi malah kabuuur dari barisan depan. Kaget kali denger volume musiknya yang kuenceng (he doesnt like loud noises).

ultah3

pertunjukan sinar laser ‘n air mancur dimulai!

Beginilah wajah Radi selama atraksi sinar laser berlangsung. Penuh kewaspadaan. 😀

Sempat nonton street performance (entah ini tarian atau atraksi debus).

Okay, the boy look sleepy now. Time to head home. Nighty night, my favourite son.


Selamat dua tahun, Nak! Go ahead, grab and enjoy your terribly (terrific) two to the fullest cos you only live it once! :*

Telat Bicara

Radi, anak semata wayang dan kesayangan saya, cenderung telat bicara dari anak kebanyakan. Kenapa saya bilang telat bicara? Karena menurut panduan umum perkembangan anak, dalam hal kecakapan berbicara, anak usia 18 bulan mestinya minimal sudah mengucapkan 5-20 kata, sementara rentang 18-24 bulan sudah mulai menggabungkan dua kata, misal: “Mama susu”, “Papa pergi” (babycenter.com)

Sementara Radi yang bulan ini akan menginjak usia tepat 2 tahun, baru mahir berucap “mama,” “mam” untuk makan, “mo” untuk elmo dan sapi, “bu” untuk burung dan bigbird. Dan hingga sekarang, dia belum pernah menyebut bunyi namanya sendiri. Itu tidak jauh berbeda dari kecakapan yang sudah dikuasainya sejak umur setahun. Dengan kata lain, kecakapan verbal Radi seakan jalan di tempat. hiks

Tapi, selain dari aspek bicara itu, alhamdulillah perkembangan Radi sungguh  positif. Radi sudah lancar bermain puzzle mencocokkan bentuk, mendirikan menara. Dalam kecakapan emosi, Radi cukup mudah bersosialisasi, bisa diajak mengantre bila ingin memainkan sebuah barang yang sedang digunakan anak lain atau menunggu ayunan, bisa diajak berbagi (kadang-kadang), dan kalau mood isengnya lagi muncul, senang menjahili teman-temannya hihihi (gak tau yang ini ngikut dari siapa). Kalau nonton TV, bisa ketawa ngakak sampai mukanya merah dan berurai air mata, kalau lagi joget-joget ngikutin musik harus ada penonton yang menyaksikan. Udah bisa nyetel DVD sendiri, meski lebih baik dengan pengawasan orangtua :P. Jiwa eksplorasinya sangat tinggi; kalau lagi di tempat umum Radi ingin menjelajah ke seluruh pelosok dan sudut, nggak mau digandeng, nggak mau ditaruh di stroller, dan nggak peduli meski sudah jauh dari orangtuanya. Oh ya, Radi sekarang makin sering melancarkan aksi tantrum bila keinginannya tidak dipenuhi (yang seringkali adalah, keinginan menjelajahnya). Yap, tantrum ini saya sebut perkembangan positif karena ini memang tahap perkembangan emosi si anak menuju kemandirian, meski bukan perkembangan yang dinantikan para orangtua… terutama bila berada di tempat umum. *lap keringet*

Nah, selain dari perkembangan si anak yang superduper lincah bin jahil ini, satu hal yang hingga kini bikin saya rada cemas adalah kemampuan bicaranya itu. Entah karena selaku orangtua baru dan ini anak pertama, jadi saya hanya khawatir berlebihan, entah karena saya terlalu banyak membaca teori perkembangan anak, atau memang kekhawatiran saya sudah sesuai proporsinya. Saya tahu peta umum perkembangan anak itu jangan dijadikan bahan stres bagi orangtua. Itu toh hanya panduan umum. Bila ada tahapan perkembangan yang semestinya sudah dikuasai anak pada usia tertentu, mungkin pemberian stimulasi pada aspek yang tertinggal harus lebih digenjot lagi.

Saya pun sempat bertanya-tanya apa yang mungkin menyebabkan anak saya telat bicara. Kalau ditilik-tilik, memang ada banyak faktor yang mungkiiin bisa mencetusnya. Pertama, faktor keturunan/genetis. Kalau dari cerita para leluhur, eh oma, opanya Radi juga baru mulai ngomong usia 3 tahun. Sampai sudah panggil “orang pinter” segala (mungkin jaman sekarang ini sama dengan “speech therapist” :D). Faktor kedua, pengaruh lingkungan atau kurangnya stimulasi dari luar. Well, sebagai anak pertama dan satu-satunya di rumah dan dalam kondisi merantau saat ini, Radi sehari-hari memang praktis hanya berinteraksi dengan kedua orangtua. Ada sih teman-teman sebayanya di sini, tapi untuk bertemu dua kali seminggu aja itu sudah bagus dan durasinya pun terbatas, maksimal biasanya 4 jam. Sementara, kalau orangtuanya dua-duanya lagi sibuk, Papa dengan kuliah dan tugas-tugasnya, Mama dengan deadline editan, saya akui saya sering biarkan Radi nonton aja sendiri berjam-jam (dengan acara pavoritnya). Meski sering sembari multitasking, ketak-ketik tuts kompie sambil meladeninya.

Faktor ketiga, penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi. Menurut survei, anak yang dibesarkan di rumah dengan lebih dari satu bahasa cenderung lebih telat bicara daripada anak yang sehari-hari mendengar satu bahasa. Yah, Radi ini kan bisa dibilang terbiasa trilingual. Saya sendiri kalau bicara dengan Radi di rumah selalu dengan bahasa Indonesia, Papanya kalau bicara dengan Radi selalu dengan bahasa Sunda, sementara dari tontonan (karena saya tidak pernah kasih acara dubingan), bacaan dan aktivitas di playgroup Radi selalu mendengar bahasa inggris. Hm…pernah sih saya kepikiran kompakan sama papanya untuk fokus ke bahasa indonesia aja dulu, mengingat itu bahasa nasional dan bahasa ibunya. Tapi setelah mendengar saran dari praktisi pendidikan usia dini di sini, saya urungkan niat itu. Ternyata, mereka justru mendorong anak dibiasakan bilingual di rumah dan malah menyayangkan anak Indonesia yang fasih bahasa  inggris tapi  kehilangan bahasa ibu. Bagi mereka, dibesarkan dalam lingkungan bilingual justru merupakan keuntungan besar bagi si anak, terutama dalam jangka panjang kelak. Mereka mendasari pada fakta bahwa anak itu cepat nyerap, dan pada akhirnya mereka akan mengejar ketinggalan. In the long run it will be worth the efforts.

Saya sih tidak mau khawatir berlebihan. Dan kadang saya menghibur diri dengan mengingat orang macam Einstein, Thomas Edison dan Newton semua juga mengalami telat bicara semasa kecil menurut berbagai sumber (entah nyata entah tidak). Meski tidak berniat menyamakan anak saya dengan para jenius itu (oh, no), tapi minimal itu agak sedikit menghibur hati dan kembali membuka pemikiran bahwa aspek kecerdasan manusia itu sangat luas. Nggak bisa dilihat dari satu segi.

Dan saat ini, yang bisa saya lakukan selaku orangtua adalah memperbanyak stimulasi. Banyak-banyakin bicara dengan anak, menarasikan segala yang terjadi, apa yang dilihat, apa yang didengar. Kalau udah bingung mau ngoceh apa, menyanyi aja deh. Perbanyak interaksi one-on-one dengan anak. Setiap hari harus bacain cerita. Lebih sering ngajak Radi playdate dengan teman sebaya. Menggeser waktu kerja optimal ke waktu bobo siang Radi atau dini hari.

Meski kebanyakan orang biasa bertanya, “Radi udah bisa ngomong apa?”, saya nggak usah berkecil hati dan berlagak jadi ibu defensif. I know they all means well. Mungkin sama kayak mamanya, mereka juga sudah nggak sabar ingin mendengar Radi bicara.

Saya pun perlu belajar menata sikap. Belajar untuk tidak membandingkan perkembangan anak sendiri dengan anak-anak lain. Meski sudah tahu dari jaman dahulu kala bahwa tumbuh kembang anak itu beda-beda, tapi pada kenyataannya saya sering penasaran dengan perkembangan anak-anak lain yang sebaya dengan Radi. Saat di playgroup, saya terkadang bertanya kepada ibu lain (sambil membuka percakapan), “apakah anaknya sudah mulai bicara, n so on…” Padahal dipikir-pikir buat apa pula saya tahu. Kalau si ibu (yang anaknya sebaya dengan Radi) menanggapi “iya, anak saya sudah mahir bicara cas cis cus… sampai pusiing saya meladeninya”, ntar saya makin ciut. Sementara kalau dijawab belum, ntar saya malah membatin “yess, ada juga yang samaan. Ternyata bukan anak saya sendiri yang begitu.” So its all pointless. Semestinya, saya percayakan saja pada kemampuan anak sendiri. Kalau mau membandingkan, cukup dengan mengukur perkembangannya sendiri, kemampuan sekarang dengan hari-hari kemarin. Belakangan ini sih, Radi makin banyak ngoceh dari setahun sebelumnya, meski masih baceo tanpa arti. But I hope thats a good sign.

Ah, Radi, mama memang sudah tidak sabar ingin mendengarmu berbicara (dengan bahasa yang dimengerti tentunya).

Tapi yang terpenting, tumbuhlah menjadi anak yang baik hati, sehat dan senang selalu ya, Nak. Mommy will be with you in every steps of the way!… xoxo

 

 

Radinek 20 bulan

Sudah lama nggak nyetor tulisan di “rekam jejak radi” hehe. So here it goes…

Radinek di usia 20 bulan, adalah seperti ini:

  • Selera humornya semakin berkembang. Udah sering ketawa-ketiwi sendiri saat nonton TV.
  • Kata favoritnya yang selalu diulang-ulang tetap “Mama”. Dilanjutkan “emam” (makan), “nyonyo” (no-no) sambil ngacungin jari, “bu” untuk nyebut burung, “moo” “ngrok” “wuf” dan “raaa” buat mengidentifikasi sapi-babi-anjing-singa.
  • Paling senang main ayunan kalau lagi di playground. Bisa duduk di ayunan berjam-jam meski kulitnya kebakar matahari musim panas.
  • Masih takut berenang. Udah dicoba dibawa ke pantai dan kolam renang kampus papa. But no luck.. hihi.
  • Teteuuup doyan banget makan. Alhamdulillah Radi nggak pilih-pilih makan. Apa pun bisa disikat, jadi mamanya nggak perlu pusing-pusing nyusun menu. Tapi eu eu… sekarang ngemilnya akan lebih diperbanyak bubuahan dan cemilan rendah-gula aja deh soalnya berat badannya sekarang udah 14 kg 😛
Radi 20 bulan sedang menunggu bus

Radi 20 bulan sedang menunggu bus

A Story of Oma and Me

Oma is always there for me.

From the moment I was born…

oma14

To the minute by minute during my hernia operation.

My Oma likes to pamper me… a lot. 😛

She always buys me new clothes.

oma3

with my new blue jeans courtesy of Oma 😛

She likes to take me strolling around the neighbourhood.

She often accompany me watching cbeebies from the crack of dawn. 😛

oma4

And we like to spend the afternoon sitting in front of the house together.

IMG_20130321_140521

I have the best Oma in the whole wide world!

NB: Happy 72’nd birthday my dear Oma! I love you much!

The Story of Papa and Me

Papa likes to…

Carry me like a papa kangaroo…

 

Put me on his lap while we watch elmo together…

papa7

Try putting me to sleep but then fall asleep sooner than me…

 

Kiss and tickle me…

papa2

Takes me to go see places…

 

And letting me climb on his back.

 

People often say that I look like my Papa. The way I walk, the way I smile, even my curly hair. 😛

see, we look a like right? 😛
(ok, I’m still bold on this pic)

The past 4 months I’ve only seen him through my mommy computer and I couldn’t touch or hold him. I miss my papa a lot. But my mom said he is waiting for me in the land of kangaroo and that soon we will go see him there.

papa before departing to Sydney on June 24 2013
(“I’m still a baby in this pic.”)