A Prayer Answered

Suatu ketika, si bocah bertanya.

“Mama pas kecil dulu cita-citanya pingin jadi apa?”

Hmm.. sebetulnya, butuh waktu agak lama buat mikir jauh ke belakang, soalnya prasaan pas seusia Radi saya memang ga inget punya cita-cita selain jadi Ibu yang ngasuh dan ngedidik anak. Mungkin karena potret orang dewasa pas saya kecil dulu ya Mama saya sendiri yang memang seorang ibu rumah tangga (meski sempat berpraktek jadi dokter umum di Ceko).

Pokoke kalau ditanya cita-cita pasti saya jawab pingin jadi somebody’s Mom.

Ternyata jawaban saya itu bikin mata bocah berbinar-binar. Ia kemudian nyeletuk penuh semangat, “Cita-cita Mama udah terkabul. Kan Mama punya aku!”

“Yes, indeed boy. Cita-cita utama Mama udah terkabul.”

Nah, belakangan, bocah jadi sering bertanya. Bukan hanya tentang cita-cita masa kecil,  juga tentang mimpi-mimpi Mama yang mana itu dihubungkan dengan dirinya. Dia akan tiba-tiba aja bertanya di waktu-waktu yang random and seems out of the blue. Pas si bocah bersiap mau sholat sementara liat Mama lagi baca buku, pas kami lagi jalan-jalan sore berdua.

“Ma, dulu pas Mama hamil pingin punya anak laki atau perempuan?”

Hm, dulu sih ga ada preferensi apa-apa prasaan, tapi tentu aja kujawab, “Laki-laki.” (biar hati si bocah senang).

“Yeyy, Mama punya aku. Aku kan laki-laki,” serunya riang sambil merangkul Mama erat.

Omongan ini sudah bisa meningkatkan happiness mood bocah berkali-kali lipat. Kadang kita ga menyangka ya, bahwa ucapan-ucapan kita yang disampaikan dengan ringan tapi tulus bisa membekas begitu dalam di batin anak.

Mungkin ucapan seperti ini yang dinamai mantra positif yang terekam di pikiran bawah sadar anak dan bisa dibawa kelak hingga si anak dewasa.

And moments like these makes me wonder. Mungkin setiap orang butuh merasa keberadaan dirinya berarti, bahkan terutama anak kecil. Our little ones.

So, make sure to tell your kids bahwa kelahiran mereka ke dunia adalah hadiah terindah dari Sang Pencipta.

Hug them and tell them that they are a true blessing. Hujani hari-hari dia dengan mantra-mantra positif.

Hopefully, in the future, whenever they face hardships and feels as if their life means nothing, they would remember that their beings was actually somebody’s answered prayer.

Kuartal Pertama Homeschooling

Wah, nggak berasa 3 bulan sudah saya menjalankan HS bersama Radi. Setelah mengambil tekad penuh untuk mengambil rute HS lalu menjalankannya, rasa-rasanya saya sudah masuk fase nyaman dan semakin jatuh hati dengan metode pendidikan ini.

Meski begitu, jangan salah, proses awal kami tidak begitu mudah. Kami tentu butuh waktu beradaptasi, meski proses adaptasi itu bisa dibilang lebih smooth karena berbulan-bulan sebelumnya Radi udah merasakan versi PJJ (akibat pandemi) dari sekolah formalnya.

Saya tahu dari para praktisi HS bahwa setiap keluarga itu harus mencari “gaya” HS mereka sendiri karena setiap keluarga memiliki budaya keluarga yang berbeda. Kita jelas nggak bisa mengcopy-paste metode yang diterapkan keluarga-keluarga HS lain. Mencari dan menemukan pakem terbaik merupakan proses yang mesti kita jalani sendiri.

Maka, bismillah, saya membuka bab awal HS ini dengan pikiran terbuka dan kesiapan untuk terus belajar bareng anak saya. Saya lantas membaca-baca berbagai materi belajar dari berbagai sumber kurikulum (di antaranya, Kurikulum Nasional dan Cambridge ), mencobai berbagai metode belajar alternatif, dan mengutak-atik jadwal belajar yang dirasa paling pas dengan gaya belajar Radi. Intinya ya mencari jalan belajar paling klop dan yang dirasa paling bisa mengoptimalkan pengalaman belajar Radi.

Nah, bulan ketiga ini saya merasa jalan HS kami semakin mulus. Saya merasa sudah menemukan pola yang paling pas, tanpa saya perlu rutin merumuskan rencana belajar secara mendetail untuk sepekan ke depan seperti di saat-saat awal HS.

Rutinitas HS Radi

Bagi saya, membuat jadwal belajar harian itu penting. Dengan begitu, meski waktu belajar anak fleksibel, tapi dengan adanya target harian, rasanya proses belajar jadi lebih terarah. Anak juga jadi tahu apa yang diharapkan darinya. Subject yang dipelajari setiap hari ga perlu banyak-banyak. Dua aja cukup (jadwal favorit Radi di hari Kamis karena pelajarannya Science dan Art).

Tentang kurikulum, saya memutuskan untuk nggak mengacu ke kurikulum nasional soalnya kurang sreg. Trus, pakai kurikulum apa? Nah, bingung juga. Pokoknya Radi belajar dari mana-mana hihi..

Sebagai contoh, Radi belajar Math dari buku matematika yang dipakai di Jepang (yang kubeli di toped karena awalnya suka dengan ilustrasinya wadidaw) dan situs IXL. Untuk matpel English, Radi pakai buku-buku usborne, baca buku cerita impor, juga rutin buka aplikasi Reading Eggs. Untuk Sains, Radi belajar dari BBC Bitesize dan ensiklopedi sains. Media belajar Radi memang diambil dari banyak sumber. Kami menemukan banyak situs-situs belajar menarik. Ada BBC Bitesize, Nat Geo learning, Penpalschools…buanyaaak.*lope-lope* Sejujurnya, saya banyak mengambil sumber-sumber belajar dari luar karena muatan belajarnya memang lebih menarik. Kurikulum LN juga lebih banyak mendorong anak untuk mengembangkan daya nalar dan berpikir kritis mereka alih-alih menghafalkan teori.

Untuk mata pelajaran, kami hanya mewajibkan Radi mempelajari Matematika, English dan Sains karena itulah yang dirasa paling kepake di kehidupan. ^^

Tapi untuk menambah wawasan, pengetahuan tentang dunia dan Indonesia pun disertakan.

Nah, yang membuat saya jatuh hati dengan HS adalah adanya kesempatan bagi saya untuk menerapkan custom education bagi Radi. Prinsipnya, kita semestinya memfokuskan energi untuk menguatkan kelebihan anak alih-alih berfokus untuk menambal kekurangannya.

Karena Radi senang belajar bahasa, maka saya tawarkan Radi untuk belajar bahasa asing kedua (setelah English). Dan Radi ternyata tertarik belajar bahasa Jepang. Syukurlah, karena Mamanya bisa sedikit-sedikit Nihongo, jadi kita bisa belajar bareng (sukur2 kalau nanti bisa ketemu guru bahasa Jepang yang pas).

Karena Radi juga memiliki minat besar dalam bermusik, kami pun menyertakan pelajaran piano buat Radi. (Drum rehat dulu karena gak punya alat musiknya di rumah.)

Kami tidak mendikotomikan pelajaran seni dengan pelajaran yang mengasah logika semacam matematika atau bahasa. Bagi kami, semua itu dibutuhkan kok demi membangun dimensi manusia yang lebih utuh taela bahasanya.

Rapor = Refleksi?

Yang menjadi tantangan baru dari proses HS kami adalah pertanyaan tentang rapor yang menjadi alat ukur kemajuan belajar anak. Kalau di sekolah formal, ada yang namanya ujian dan di akhir tahun ajaran setiap anak akan menerima rapor (entah lulus atau tidak ke jenjang berikut). Lalu bagaimana dengan anak HS?

Anak HS (yang tidak mendaftarkan diri ke lembaga pendidikan nonformal) jelas tidak kenal yang namanya ujian. Trus bagaimana dong kita mengukur proses belajar anak kita? Yaa, hmm.. Orangtua sebetulnya bebas aja sih kalau mau membuat semacam kuis untuk mengukur pemahaman anak, atau meminta anak melakukan presentasi suatu materi yang habis dipelajari anak. Itu sah-sah aja, bebas. Tapi yang namanya ujian sungguhan memang nggak ada (kecuali ujian sertifikasi buat dapat ijazah paket A, B, C kelak yaa).

Saya–sebagai orangtua yang merupakan “produk” sekolah selama bertahun-tahun—mengaku bahwa tidak adanya ujian ini memang rasanya ganjil. Tapi saat saya mengobrol dengan tetangga yang dahulu menyekolahkan anaknya di UK, dia bercerita kalau sepanjang masa SD anaknya itu nggak pernah kenal dengan ulangan, ujian atau tes ini itu. Saya semakin lega. I feel that we are in the right track. Lagi pula, bukankah kami memang ingin menanamkan motivasi belajar yang lurus pada diri anak ? Bahwa dia mesti belajar demi mendapat ilmu yang luas supaya bisa menjadi orang yang bisa membawa banyak manfaat bagi banyak orang. Bukan belajar hanya demi mendapat nilai yang baik, dan kemudian naik kelas.

Berikutnya, dari proses saya menimba ilmu dari para praktisi HS yang lebih dulu terjun ke ranah HS ini, saya mendapati bahwa anak HS memiliki alat ukur belajar tersendiri.

Apakah itu?

Kalau di sekolah formal ‘kan anak mendapat nilai kuantitatif di buku rapornya. Maka bagi anak HS, penilaiannya lebih kualitatif, yaitu dengan proses refleksi. Menurut praktisi HS, refleksi pembelajaran ini sebaiknya rutin dilakukan. Misalnya, setiap akhir bulan kita bisa melakukan refleksi proses pembelajaran Radi selama sebulan terakhir (apa yang perlu diperbaiki, apa yang bisa ditingkatkan, apa target untuk bulan berikut, etc). Begitu kira-kira.

Well, tiga bulan masih terhitung pendek, dan sejujurnya saya tidak tahu bagaimana proses HS putra kami ke depannya. Mungkin akan ada proses jatuh bangun, banting setir, dan banyaaak fase penggalian diri. Namun kami sangat berharap pilihan HS ini bisa memberi bekal yang kuat bagi Radi untuk melangkah di masa depannya—jauh lebih kuat dari bekal yang saya dapatkan dahulu. Dan yang terpenting, semoga, kami bisa terus menjaga gairah belajar anak kami sepanjang perjalanan hidupnya.

Amiin. ^^

Dokumentasi HS Radi: http://www.radinek.com