Juvenilia

juvenilia1

Penulis: Jane Austen

Penerjemah: Nuraini Mastura

Penerbit: Noura Books

Sinopsis:

“Jaga dirimu dari jebakan cinta pertama dan kau tak perlu takut terhadap cinta yang datang berikutnya.”

Cinta pertama, perjodohan, dan cinta tak berbalas adalah beberapa topik mengenai percintaan yang diangkat Jane Austen dalam Juvenilia. Namun tak hanya itu. Intrik politik pun tak luput dari sorotan mata tajam sang penulis legendaris ini.

Juvenila adalah kumpulan karya-karya Jane Austen berupa novela, cerpen, puisi, bahkan penggalan skenario drama yang ditulisnya ketika masih remaja.

Dituturkan dengan gaya bahasa yang lugas dan cerdas, buku ini merekam sudut pandang Jane Austen remaja dalam memandang arti cinta, persahabatan, dan keluarga. Tak heran bila karya-karya ini menjadi jejak awal Jane sebagai penulis yang sukses melahirkan karya yang diapresiasi pembaca sepanjang masa.

Iklan

Guantanamo Diary

34747-guantanamo-diary-vax-365x0

Penulis: Mohamedou Ould Slahi

Penerjemah: Nuraini Mastura

Penerbit: Noura Books

Sinopsis:

Mohamedou Ould Slahi tak pernah menyangka, bahkan tidak dalam mimpi terburuknya, bahwa sore itu ialah kali terakhir dia menjejakkan kaki sebagai manusia bebas. Dia datang ke markas kepolisian Mauritania dengan niat baik: memenuhi panggilan untuk dimintai keterangan. Namun, dia malah ditahan tanpa tuduhan yang jelas. Dia juga harus menjalani rangkaian interogasi, pemerasan informasi, dan penyiksaan. Dia dilarang shalat dan puasa, bahkan dipaksa melakukan hal-hal yang diharamkan ajaran Islam.

 

Lama ibu Slahi mengira anaknya ditahan di Mauritania. Keluarga­nya mengirimkan pakaian dan makanan, bahkan memberi uang kepada penjaga penjara untuk perawatannya. Hingga suatu hari, adik Slahi mengetahui nama sang kakak ada dalam daftar  tahanan di Guantánamo—sebuah penjara kebal hukum yang didirikan murni karena paranoia Amerika Serikat terhadap terorisme. Kini, sudah lebih dari empat belas tahun Slahi ditahan tanpa diadili. Bahkan ibunya pun meninggal dalam kesedihan menunggu pem­bebasannya.

 

Buku ini disunting dari 466 halaman tulisan tangan Slahi yang dibuatnya dalam sel yang sampai saat ini masih dihuninya. Amerika Serikat menyensornya dengan ketat sebelum catatan tersebut berhasil diperjuangkan selama tujuh tahun untuk diterbitkan. Itu sebabnya akan dijumpai lebih dari 2.500 coretan stabilo hitam di dalam buku ini. Namun, bahkan sensor pun tak mampu menutupi kejernihan dan ketajaman penuturan Slahi.

Life List

life list 

Pengarang: Lori Nelson Spielman

Penerjemah: Nuraini Mastura

Editor: Utti Setiawati

Penerbit: Gramedia, 2015

SINOPSIS:

Brett Bohlinger tampak memiliki segalanya: pekerjaan idaman,
apartemen luas, kekasih sangat tampan. Pendek kata, kehidupan
mujur. Maksudnya, sampai ibu yang sangat disayanginya meninggal
dunia dan meninggalkan wasiat dengan satu syarat istimewa: Agar
bisa memperoleh warisan, Brett harus terlebih dulu menyelesaikan
daftar cita-cita yang ditulisnya saat masih remaja polos berumur
empat belas tahun. Karena masih dirundung duka, Brett tidak bisa
memahami keputusan sang ibu—mimpi-mimpi masa kecilnya sudah
tidak lagi mewakili ambisinya pada usia 34. Sebagian bahkan tampak
mustahil. Bagaimana mungkin dia bisa menjalin hubungan dengan
ayah yang sudah meninggal tujuh tahun silam? Sementara cita-cita
lain (jadi guru hebat!) menuntut agar dia menyusun kembali seluruh
masa depannya. Sementara Brett dengan setengah hati memulai
perjalanan membingungkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi masa
remaja itu, satu hal makin jelas. Kadang hadiah termanis kehidupan
bisa ditemukan di tempat-tempat paling tak terduga.

Curhat soal Bullying

Bullying alias perundungan memang dekat dengan kehidupan anak-anak kita. Tapi, jujur, dulu saya mikirnya anak 5 tahun masih jauh dari dunia bully-membully. Boy, how I was wrong… karena sebetulnya, bibit-bibit bullying sudah bisa terlihat dari masa anak mulai bersosialisasi. Meski buat anak TK, level bullyingnya masih skala kecil karena anak-anaknya pun masih kecil-kecil *opo sih*.

—————————————————————————————————————————–

Suatu waktu, Radi pernah bercerita kalau ada teman sekelasnya yang suka mendorong-dorong dia. Saya pun serta-merta menasihati, “Radi kalau nggak suka dengan sesuatu, bilang aja langsung ‘AKU NGGAK SUKA.’”

—————————————————————————————————————————–

Nah, punya anak dengan kepribadian seperti Radi yang cenderung pasif dan nrimo jadi tantangan tersendiri dalam menghadapi bab bullying ini. Radi paling suka menghindar dari keributan. Daripada temannya nangis, Radi lebih memilih untuk mengalah saja … biarpun, misalnya, mainannya direbut. Dia akan memilih respon flight (kabur) daripada fight (melawan/membela haknya). Mending mengalah saja biar tenang, daripada nanti ribut. Sekali dua kali tak masalah, tapi kalau terus-menerus “flight” seperti itu, saya khawatir juga nanti dia akan selalu menghindar dari konflik. Selalu menghindar dari kondisi yang tidak nyaman baginya, dan dia akan tumbuh tanpa mempunyai kesadaran untuk membela haknya.

Saya memang ingin memiliki anak yang bisa berbagi, tapi penting juga bagi anak saya untuk menyadari bahwa dia memiliki hak untuk menolak permintaan temannya. Bahwa dia tidak boleh membiarkan dirinya selalu diinjak-injak dan “dimanfaatkan” orang lain.

Terus terang, saya suka gemas juga sih. Kalau saya melihat langsung kejadian temannya merebut mainannya dan melihat gelagat Radi yang kesal tapi mengalah saja, saya suka mengingatkan ke teman mainnya, “Minta izin dulu ya. Boleh nggak pinjam?” atau “Radi masih pingin main yang itu?” Lantas kalau Radi mengiyakan dengan cemberut, “Ya udah. Nggak papa, Radi main aja. Radi boleh kok menolak. Coba tawarkan temannya mainan yang lain saja.”

Tapi saya sadar, saya nggak akan selalu berada di sisi anak saya. Saya tidak bisa selalu membereskan konflik yang ditemuinya (dan jangan sampai deh, saya menjadi orangtua yang selalu turun tangan dalam konflik anaknya). Sebuah kepastian, sehari-hari begitu keluar rumah, dia akan bertemu dengan banyak anak dengan berbagai macam karakter. Bahkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang mungkin tidak berbagi nilai-nilai yang sama dengan yang dianut keluarga kami. Karena itu, menanamkan sikap asertif pada diri anak saya menjadi PR terpenting bagi saya. Sifat yang paling saya stabilo tebal saat ini.

Jujur, saya sendiri memiliki pengalaman nggak enak dibully di jaman SD. Sewaktu kecil, saya anak yang sangat pendiam, pasif, berbeda (terutama dari sisi ekonomi dari anak-anak kebanyakan di SD saya dulu). Dijahati oleh teman, saya diam saja, tidak mau bercerita pada siapapun (bingung juga bagaimana ngomongnya, meski ke keluarga sendiri). Tapi efeknya, setiap mau berangkat sekolah, pasti saya sakit perut. Saya benci sekolah dan saya tak punya teman seorang pun sampai kelas 4 SD. Melihat karakter Radi yang tak jauh berbeda dari emaknya inilah yang bikin saya rada cemas. Duh, jangan sampai deh kasus yang sama berulang pada anak saya.

Saya dan suami pun sepakat bahwa begitu masuk SD, Radi harus belajar bela diri. Selain untuk mengenal teknik membela diri, belajar bela diri akan bagus untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Saat melihat program karate untuk anak prasekolah, saya bahkan tertarik untuk langsung mendaftarkan Radi, tapi kata suami sih, minimal SD atuhlah karena belajar bela diri butuh kedisiplinan.

—————————————————————————————————————————

Balik ke sikap asertif. Pada kesempatan lain sepulang sekolah, Radi kembali bercerita:

“Lihat tanganku dicoret-coret sama Ochan tadi .. pakai SPIDOL.” *sambil nunjukin lengannya*.

“Radi suka nggak tangannya dicoret-coret?” Mama memastikan, soalnya Radi bercerita dengan santai. Tidak ada tanda-tanda kesal.

“Hm.. nggak suka.” *Radi tampak mikir.*

“Ingat, Radi harus bilang ke temannya, kalau nggak suka. Kalau temannya nggak nurut, bilang ke ibu guru.”

—————————————————————————————————————————–

Jangan sampai deh anak saya menuruti falsafah ibunya dulu yang menganut “Silence is Golden”. Penting bagi saya, agar anak saya berani “vokal” membela dirinya. Terutama karena anak saya laki-laki. Bahkan saya ingin sekali agar Radi  bukan hanya tahu membela dirinya sendiri. Bila melihat kasus bullying terjadi pada temannya, dia pun harus bisa stand-up membela para korban bullying ini.

Saya menyadari anak saya pun tidak berarti steril dari menjadi “pelaku bully.” Justru dengan sikapnya yang agak pasif, di tengah pergaulan dia bisa saja dengan mudahnya terseret oleh mereka yang berkepribadian lebih dominan. Mendiamkan saja ketika aksi bullying terjadi—bagi saya—berarti sudah terlibat sebagai “pelaku” (meski pelaku pasif). Its still the same though. Pelaku pasif tetaplah “pelaku”. Saya berharap, dia harus bisa “berdiri membela prinsip” ketika sebuah kezaliman terjadi.  Jadilah “pembela” bagi ibunya di masa dulu.  *Amiiin.*

—————————————————————————————————————————–

Untuk mencegah menjadi pelaku bully, sikap empati anaklah yang harus selalu diasah.

Kesempatan lain, Radi bercerita (lagi-lagi tentang Ochan :D):

“Tadi pas menggambar, kata A (teman baik Radi) Ochan gambarnya coret-coret..” *Radi ketawa-ketiwi*

“Oh, gitu. Radi sedih nggak kalau lagi menggambar Spiderman, trus dikomentarin temannya ‘ih coret-coret.’”

“Sedih sih.” *Radi jadi merenung lebih serius”.

“Nah, kasian kan Ochan dikomentarin gitu …”

“Iya, Ochan kan masih kecil. Belum bisa gambar.” *tiba-tiba jadi sok gede dan bijak*

—————————————————————————————————————————–

Nah, percaya deh. Anak terlahir membawa fitrah yang suci. Di lubuk hati, mereka tahu sendiri mana yang benar dan mana yang salah. Tugas kitalah—sebagai ortu—untuk mengasah dan mengarahkan fitrah bawaan mereka itu agar terus terjaga.

—————————————————————————————————————————–

Hm… kalau boleh merangkum catatan ini, berikut sejumlah bekal yang perlu kita siapkan selaku orangtua dalam menghadapi kasus perundungan (lebih enak pakai kata bullying sih).

  • Asah sedini mungkin sikap asertif sekaligus empati anak.
  • Banyak-banyak berdoa agar sebagai orangtua kita terus dibimbing dalam ikhtiar kita menjaga fitrah baik anak.
  • Terus jalin komunikasi yang intens dengan anak. Dengar, dengar, dengar. Banyakin dengarnya daripada komentarnya.
  • Kita juga mesti mawas diri dengan perilaku kita selaku orangtua karena anak adalah cerminan diri kita. Mereka peniru ulung, dan contoh pertama yang mereka turuti tak lain tak bukan … ORANGTUANYA. Kalau orangtuanya suka bercanda dengan mengolok-olok orang lain yang berbeda dari mereka, jangan-jangan anak jadi mendapat pesan “its ok to make fun of others who are different from them.” Atau orangtua yang bercanda dengan, secara tidak langsung, mengejek atau merendahkan anak—baik itu fisiknya, atau memberi panggilan (name-calling) yang anak sendiri sebetulnya tak suka.

Jangan sampai kita malah menanam bibit perundungan dari rumah kita sendiri.

——————————————————————————————————————————-

Mungkin ada saja orang yang akan berkomentar, nggak usah lebay juga kali menghadapi bullying. Kalau masalah ejek-mengejek kan sudah biasa. Namun masalahnya, setiap orang kan beda-beda. Tidak semua orang yang jadi korban bisa kebal menghadapinya. Ada sejumlah kasus yang berujung “suicidal”, banyak pula yang jatuh depresi atau meninggalkan efek jangka panjang. Toh tidak semua anak memiliki jaringan pendukung (keluarga dan teman) yang solid.

Dalam kasus saya, saya bersyukur kasus bullying yang terjadi pada saya berhenti begitu saya keluar dari lingkungan itu (baca: lulus SD). Entah apa jadinya kalau proses bullying itu masih terus berlanjut menimpa saya. Mungkin akan lain lagi ceritanya.

Jadi teringat dengan kutipan berikut: “Its nice to be important. But it is more important to be nice.”

Yup, siapa yang tidak senang jika buah hati kita memiliki segudang prestasi. Tapi berhasil mendidik anak menjadi manusia yang baik, itu jauh lebih penting bagi saya.[]

 

Journaling

Waah..udah lama banget nggak nengok dan ngisi blog ini hihihi

Jujur, belakangan ini sayanya mulai kembali aktif menjurnal. Blog versi tradisional 😛

What can I say. I am a classic lady. *feel free to vomit*

Enak sih… Di sana saya bisa menulis secara lebih intim, bebas dan tanpa edit. Jadi keterusan. Cobain deh sendiri! 😛

But sometime somehow i would probably still post some stuff here. Probably just random stuff when I feel more like typing keyboards instead of using a pen.

 

Cheers.

PS: Kelamaan dianggurin sampai lupa gimana cara nulis dan posting di sini.

*kembali gaptek*

 

Radi Renang

Berbeda dengan anak kebanyakan yang biasa senang bermain air, Radi punya pengalaman yang “unik” dengan air, khususnya renang. Walau mandi (dengan air) tidak masalah untuknya, air dalam jumlah besar lain cerita. Bahkan mandi berendam dalam bak pun Radi selalu menolak.

Saat masih bayi, kami pernah mengajak Radi bermain ke pantai dan kolam renang namun tidak pernah berhasil menceburkan si bocah ke dalam air meski hanya untuk mengecipak-cipukkan kaki… Gimana mau dicebur ke dalam air, kalau mendekatinya aja si bocah udah jejeritan kayak mau digorok *elap keringet* Kami pun heran karena seingat kami Radi nggak punya pengalaman traumatis sama sekali dengan air. Ya sudah, akhirnya kami pun jadi jarang (banget) mengajak lagi Radi berenang.

Meski begitu, perlahan-lahan kami tetap mencoba untuk membantunya menaklukkan rasa takutnya terhadap air.

Berikut pengalaman Radi berkenalan dengan renang:

kala Radi bayi diajak main ke pantai

kala Radi bayi diajak main ke pantai *throwback*

Saat bermukim di Sydney, kami sempat mengajak Radi berenang di kolam renang kampus Papa. Tapi tidak berujung dengan si bocah menceburkan diri 😛

Kolam Renang UNSW

Kolam Renang UNSW

Awalnya diajak jalan-jalan mengitari kolam dulu..

jalan-jalan dulu kite...

jalan-jalan dulu kite…

Tapi berhubung doi ga bersedia juga nyebur, jadilah Radi duduk manis di tribune memandangi papanya renang.

Berhubung tetep ogah nyebur, jadi deh radi ngemil roti aja di tribune. Ceritanya biar dia ga kapok dibawa renang..hehe

nyam lapeer abis nonton papa renang :D

nyam lapeer abis nonton papa renang 😀

Belum berhasil nyebur ke kolam nih!

Well, better luck next time!

Maret tahun ini saya kembali mengajak Radi (2,5 thn) renang. Kali ini di Bandung.

Beginilah penampakan Radi saat diajak nyebur ke kolam..

Beginilah penampakan awal Radi saat diajak nyebur ke kolam..

Demi menenangkan si bocah yang tampak panik khawatir dicebur ke dalam kolam, kita traktir eksrim walls deh..

mm..boleh nih..

mm… Mama tau aja apa mauku..

Tapi penasaran juga, mandangin orang-orang renang dari kejauhan.

Tapi penasaran juga si doi, mandangin orang-orang renang dari kejauhan.. acting so cool bak pengawas kolam 😛

Pelan-pelan kita ajak duduk di tepi kolam dipangku teta M.

Asik juga kecipak-kecipuk kaki di kolam..segerr..

Asik juga kecipak-kecipuk kaki di kolam..segerr..

Ternyata sekejap kemudian, pas Mama balik dari ambil barang, Radi udah masuk ke kolam ajaah..whooot??!

Saking euforianya Radi yang baru mulai menaklukkan rasa takutnya, sehabis mandi dan ganti baju eh doi kemudian nagih nyemplung lagih..

Asik juga kayaknya nyebur babak kedua. Masa bodo Mama yg mesti mandiin aku lagih :D

Asik juga kayaknya nyebur babak kedua. Masa bodo Mama yg mesti mandiin aku lagih 😀

Buat orangtua yang mungkin ga punya pengalaman anaknya takut air kolam selama ini mungkin ga akan tahu rasa bangganya saya pada Radi..Ga papa deh kalo Mama mesti mandiin dan ngebajuin kamu berulang-ulang karena kamu yang pengin nyemplung lagi dan lagih..I’m so proud of you! You did it, boy!

As a reward, bolehlah kamu makan eskrim lagih 😀

santaiiii..

santaiiii..

Buah dari pengalaman ini, Radi mulai mau deh mandi berendam di bak mandi..hihi.. Well done, boy!

Sore langsung teler gara-gara renang dua ronde :D

Sore langsung teler gara-gara renang dua ronde 😀

Membiasakan Anak Bertanggung Jawab atas Diri Sendiri

Semenjak dulu, sejak jaman belum punya anak, saya sudah mendambakan kelak ingin membesarkan anak yang berjiwa mandiri. Yang pandai bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Mungkin itu berangkat dari pengalaman masa kecil saya sendiri. Sedari kecil saya tak pernah “dilayani.” Ibu saya membesarkan lima anak tanpa pengasuh (hanya ART yang bertugas memasak dan membereskan rumah tok). Semua urusan anak dipegang langsung oleh tangan ibu saya. Otomatis saya diharapkan tumbuh lebih mandiri. Saya nggak pernah ingat makan disuapi, atau tas sekolah dijinjing ibu, atau barang-barang pribadi disimpan dan dirapikan orang lain.

Itu sebabnya saya tak ingin mempekerjakan bibi yang khusus mengasuh anak. Saya ingin anak saya belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Mengurus diri dan barangnya sendiri. Saat pulang sekolah, tidak menaruh tas dan kaus kaki di mana saja, baju kotor di mana-mana, piring makan dan sisa bungkusan sekehendak hati lantas simsalabim semua barang-barang miliknya sudah tersimpan rapi di tempatnya. Saya khawatir kebiasaan ini akan berimbas sampai usia dewasanya hingga kelak di alam bawah sadar anak, akan selalu ada si “bibi ajaib” yang membereskan segala-galanya. Oh nooo…

Sedari usia dini, saya sudah mulai menanamkan rasa kemandirian dan tanggung jawab ini sedikit demi sedikit pada anak, tentu disesuaikan dengan umur dan kemampuannya. Bukankah menanamkan kebiasaan baik seharusnya dimulai sedini mungkin? Alhamdulillah, sejak belum genap 3 tahun, Radi sudah menunjukkan kesadaran untuk membantu pekerjaan rumah emaknya (baca: bebersih dan merapikan barang-barangnya sendiri). Setiap melepas pakaian, baju-baju kotornya dia taruh di keranjang cucian. Sehabis mandi, Radi belum mau keluar kamar mandi dan dihanduk kalau belum membereskan peralatan mandinya ke tempatnya (sikat gigi, gayung, gelas kumur, mainan airnya). Setiap sampah selalu dibuangnya ke keranjang sampah. Malahan kalau berada di luar, Radi selalu semangat mencari tempat sampah untuk membuang sampahnya.

Berikut sejumlah kiat menanamkan kemandirian pada anak yang berusaha saya terapkan:

– I Am Not Your Maid

Jangan terlalu “melayani” anak. Untuk hal-hal yang masih dikira wajar, biarkan anak mengerjakannya sendiri. Sekalian mengajarkan konsep “kau harus berusaha untuk mendapat apa yang diinginkan.” Misal, mengambil peralatan makan sendiri ke ruang dapur. Kalau air tumpah karena perbuatannya, biarkan anak mengelap sendiri. Tentu sesuaikan dengan jenjang umur. Batita bisa saja dibantu, “Oh, tumpah. Tolong ambilkan lapnya di …. Nah, tinggal dielap tumpahnya, kan. Nggak usah panik.” Dalam penanaman kebiasaan, perhatikan kondisi anak. Jangan biarkan anak sampai frustrasi. Atau kalau kebetulan moodnya mungkin lagi nggak bagus, kita juga mesti bersikap lebih longgar.

– Empower Your Child

Ketika anak butuh bantuan, jangan dikerjakan dengan tuntas oleh kita sepenuhnya tanpa si anak tahu caranya. Misalnya, minta buka bungkusan makanan, mengikat tali, melipat pakaian, mengancing pakaian, merapikan selimut. “Dibantu” bukan berarti dihandle sepenuhnya. Biasakan untuk berkata: “Sini biar Mama bantu” ketimbang “Sini biar Mama yang kerjakan.” Tunjukkan kepada anak cara mengerjakan segala sesuatunya. Lama-lama kita akan kaget sendiri karena anak itu betul-betul memerhatikan.

– Lower Your Standard

Jangan terapkan standar terlampau tinggi dalam menilai kerapihan anak. Kalau setiap pekerjaan anak sedikit-sedikit dibereskan, lama-lama anak akan kesal sendiri. “Ya udah, ibu aja yang beresin kalau gituh…Kerjaanku toh selalu salah.” Melipat selimut agak awut-awutan, misalnya. Atau menyimpan celana kolor di bagian baju atasan… itu tak masalah selama tidak membahayakan jiwa anak… Beresin selimut molor sampai sejam alih-alih lima menit?… sekali lagi, ga masyaalah… Kita mesti tahu kapan saatnya mundur dan untuk tidak selalu turun tangan.  Hargai usaha anak yang sudah berusaha menyimpan barang pada tempatnya atau membereskan sesuatu.

– Setting

Pengkondisian rumah itu penting. Sebisa mungkin orangtua mesti menyiapkan setting di rumah yang akan memudahkan anak dalam upaya membersihkan dan merapikan barang-barangnya. Sediakan tempat sampah di setiap ruangan. Di kamar anak tata rak atau boks mainan yang mudah dijangkau oleh anak. Ajarkan pada anak bahwa setiap barang ada tempatnya masing-masing. Kemudian tunjukkan di mana letak tempat sampah, rak buku atau mainan, keranjang baju kotor.

– Reward

Mekanisme menanamkan kebiasaan baik dengan reward selalu bisa dipakai. Mengingat umur anak yang masih balita, saya hanya fokus memberi reward tanpa sanksi. Saya pikir pemberian sanksi baru bisa diterapkan di usia menginjak SD, ketika anak sudah semestinya mengerti apa yang dituntut sebagai kewajibannya.

Action Speaks More Volume!

Ini yang terpenting. Orangtua mesti menjadi teladan pertama bagi anak. Kalau tiap hari mamanya pungutin ini itu yang berceceran, diam-diam anak memerhatikan dan akan mengadopsi kebiasaan itu. Atau minimal setiap penghujung hari sebelum tidur, kamar sudah rapi. Ini akan tertanam di alam bawah sadar dan terbawa sampai anak besar nanti. Ketika kamar sudah kayak kapal pecah, anak nggak akan betah… gatel pengin ngeberesin.. (speaking from experience :P)

Semua pembiasaan mesti dimulai sejak masa awal kehidupan. Nggak bisa kita beragumen, nanti toh kalau sudah besar bisa dibilangin… Oh, noo, kalau sudah besar akan lebih susah lagi, karena hal ini kembali ke PEMBIASAAN. Dan konon katanya, lebih mudah untuk menumbuhkan kebiasaan baru daripada mengubah kebiasaan lama yang sudah mendarah daging. Saya percaya upaya penanaman kemandirian ini adalah wujud cinta kasih kita pada diri anak. Dengan begitu, kita telah membantu anak agar kelak dia tumbuh menjadi manusia mandiri yang tidak akan merepotkan orang lain tanpa disadarinya. Manusia yang pandai bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan tidak hanya tahu dilayani. Amiiin…

10423657_870030603043486_8288671668257745434_n