Renungan

Jelang umur kepala empat, rasanya saya semakin merenungi arti hidup ini.

Sudah cukup lama saya berjalan di bumi ini. Apa yang telah saya hadirkan?

Jika saya dipanggil pulang sekarang, apa yang bisa saya persembahkan kepada sang Pencipta yang telah menciptaku ke dunia fana ini?

Apa jejak yang bisa saya berikan pada dunia yang saya datangi puluhan tahun silam dan akan tinggalkan kelak?

Arti kontribusi dari umur saya ini semakin mengusik saya.

Apa pencapaian saya hingga saat ini?

Toh, rasanya saya bukan siapa-siapa.

Saya belum punya karya yang bisa dibanggakan. Pun saya tak punya karier gemilang yang dengannya saya bisa mengangkat harkat derajat keluarga dan bersedekah lebih banyak.

Suatu ketika pernah saya berpikir jikapun saya tidak punya kontribusi yang besar, ijinkan saya melahirkan dan membesarkan seorang anak. Setidaknya saya telah menyumbangkan satu manusia baik kepada dunia ini. Mungkin itu peran yang bisa saya mainkan. Mungkin itulah kontribusi terbesar saya.

Meski begitu, saya menyadari bahwa seorang anak adalah entitas terpisah yang tak bisa kita dikte sedemikian rupa. Kelak pada waktunya nanti ia akan mengambil perannya sendiri. Peran yang terpisah dari diri saya.

Lalu pertanyaan yang sama kembali berkumandang. Peran apa yang akan saya ambil saat ini sebelum waktu saya habis?

Pernah pula saya berpikir, saya ingin meninggalkan jejak dengan menorehkan sebuah mahakarya. Sebuah tulisan karya yang bisa membawa dampak positif dan menginspirasi banyak orang. Saya pikir hanya itu pilihan yang bisa saya ambil karena saya enggan berhubungan dengan banyak orang dan kegiatan menulis agaknya berbau soliter. Its just me and the world inside my head.  

Itu mimpi saya. Tetapi dengan berjalannya waktu, saya merasa mimpi besar ini serasa menyesakkan. Saya merasa dikejar-kejar waktu, padahal kemampuan saya segini-gini saja.

Paradigma saya pun diubah sehingga target saya tak lagi menjadi beban. Jika pun menulis, saya hanya ingin sekadar belajar menata pikiran saya dan berbagi. Masterpiece or not, at least Im leaving behind a bit of my legacy. Sekalipun itu hanya berupa kicauan di blog atau sosmed. 😛

Akhirnya,

jika ditanya saat ini, lalu apa sumbangsih dari umur yang saya habiskan di dunia?

Maka, saya akan menjawab.

Saya berusaha menjadi manusia yang sebaik-baiknya.

Sepanjang hidup, saya berusaha agar tidak pernah menyusahkan hidup orang lain.

Mungkin saya akan melakukan hal-hal yang dianggap sebelah mata, seperti memungut kucing liar di jalan dan merawatnya.

Saya berusaha memilah sampah dan membuat komposter di rumah sebagai bentuk kepedulian saya terhadap kelestarian bumi—planet tempat saya dilahirkan.

Saya senantiasa belajar ilmu parenting dan berusaha memutus rantai pengasuhan yang kurang baik.

Menyisihkan harta setiap kali dapat uang.

Menghibur dan menyemangati orang lewat tulisan sosmed kita.

Semua itu bernilai.

Ya. Untuk berkontribusi, kita tidak perlu berdiri di podium dan menggalang massa. Kita tidak perlu menerima imbalan finansial.

Setiap orang memiliki perannya masing-masing. Dan tak ada peran yang lebih penting atau lebih kecil dari yang lain. Setiap orang berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya.

Itu sudah cukup.

“Service to others is the rent you pay for your room here on earth.”

–Muhammad Ali

Toxic.

ada satu titik masa dalam hidupku

ketika kumemilih untuk memelankan laju

kuhirup udara di sekitarku dalam-dalam

kureguk panorama sekitarku

kusyukuri napasku hari itu.

 waktu terus berlari,

 lambat laun diri ini kembali terperosok

terseret masuk ke dalam spiral keriuhan dunia 

berebut menjadi yang terdepan.

menggegas pencapaian.

memenangkan penilaian dari orang lain.

terdepan. tercepat. terbaik.

tanpa disadari kutelah kembali berjalan di rute

yang semakin hari semakin toxic

saat jalan itu semakin menjauhkanku dari diriku yang sejati

maka satu pilihan nyata mesti kuambil

memilih keluar dari rute itu

dan kembali.

RESOLUSI LITERASI 2021

Kalian termasuk tim yang suka menuliskan target resolusi nggak ketika memasuki awal tahun?

Kalau saya sendiri sih suka. Tapi biasanya, targetnya itu nggak begitu spesifik. Misalnya aja tahun lalu, saya sempat menulis resolusi di tahun 2020 pingin bisa menjalani hidup dengan lebih mindful, ingin bisa menjalani kehidupan yang lebih green alias bersahabat dengan alam. Nah, karena gak ada tolak ukur dan nggak dijabarin lebih spesifik, biasanya targetnya itu buyar wkwkkk… Selain juga karena faktor pandemi ya, jadi sebagian resolusi tuh kayak bubar jalan. *lah, cari-cari alasan*

Anyway, di tahun 2021 ini, saya ingin mencoba membuat resolusi yang lebih spesifik dalam hal membaca dan tulis-menulis.

Saya menyebutnya, Resolusi Literasi.

  • Dalam Hal Baca Buku:

Target saya adalah menamatkan minimal 25 judul buku dalam setahun. It means I have to finish one book in 2 weeks time. Target Reading Challenge ini juga saya cantumkan di aplikasi Goodeads dan IG biar ke-track.

  • Dalam Hal Menulis:

Saya ingin konsisten menulis blog sekali seminggu.

Saya ingin bisa menyelesaikan satu naskah cerita novel setiap satu tahun.

(Kenapa satu tahun, kok lama? Because aside from a slow writer, I am also a moody and perfectionist one *yet, another excuse*).

Udah. Segitu aja sih sesungguhnya resolusi yang rada spesifiknya.

Selebihnya, tentu ada resolusi-resolusi yang agak buram. Saya ingin menjalankan HS anak saya dengan lebih baik lagi, belajar tentang pendidikan dan teori  perkembangan anak lebih banyak lagi, ingin rutin melakukan olahraga (minimal joget2 di rumah dan jalan kaki), menjalani hidup dengan lebih mindful dan penuh kesyukuran di setiap hal kecil. And so on, and so on.

Demikian sekilas info tentang resolusi saya. Yuk, jangan lupa bikin Resolusi Literasi!

Customized Education = The Future of Learning?

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa instansi sekolah berdiri dan berkembang pada era awal Revolusi Industri. Ketika negara membutuhkan lulusan-lulusan siap kerja untuk mengisi pasar tenaga kerja yang kebanyakan akan bergerak di sektor industri massal. Untuk itu, sekolah menyuguhkan pengajaran dengan standar massal (setiap murid berumur sama di suatu negara akan dikumpulkan ke dalam jenjang yang sama, menerima pelajaran dengan bobot muatan yang sama dan durasi belajar yang sama). Inilah yang terjadi dalam pengajaran di sekolah-sekolah.

Namun sekarang memasuki abad ke-21, teori-teori psikologi perkembangan telah membuktikan bahwa setiap anak itu memiliki kecerdasan bawaan yang unik atau berbeda-beda, kapasitas belajar yang berbeda, pun gaya belajar yang berbeda. Dan anak-anak di era kini akan menghadapi tantangan memasuki dunia kerja yang tidak bisa dipastikan. Bahkan dikatakan oleh Departemen Tenaga Kerja Amerika bahwa 65% anak-anak usia SD saat ini akan menekuni pekerjaan yang belum ada di saat ini.

Begitulah kenyataannya. Zaman terus berubah, begitu pula dengan tantangan yang akan dihadapi anak-anak kita kelak. Maka ada baiknya kita merefleksikan apakah sistem pendidikan yang berlaku mulai abad ke-19 itu masih relevan dengan kondisi  zaman sekarang—bahkan di zaman yang akan datang?

Apakah kepandaian anak yang rupa-rupa masih mungkin dievaluasi dengan satu standar yang seragam?

Tak heran, dikatakan bahwa Customized Learning atau Pendidikan Terkustomisasi menjadi arah bagi pendidikan kita di masa depan.

Memang, apa sih yang dimaksud dengan Customized Learning?

Customized Learning itu menyediakan proses pembelajaran yang fleksibel bagi anak. Bobot materi belajar dan durasi belajar disesuaikan dengan kapasitas belajar anak. Misal, anak A yang unggul di bahasa bisa saja di usia 8 tahun sudah mendalami materi bahasa inggris kelas 5,  sambil mempelajari matematika kelas 2, dan ilmu sains kelas 3. Paket belajarnya bisa dimodifikasi sesuai potensi dan minat anak.

Bukankah sudah menjadi hal lumrah, seorang anak stres setiap mau ujian matematika. Padahal bisa jadi anak itu merasa keteteran karena satu tangga belajar belum tuntas (konsep matematikanya belum ia pahami) tapi sudah dipaksa naik ke tangga berikut karena target kurikulum mengharuskan demikian. Akibatnya, satu anak yang tertinggal ini yang mesti dikorbanin. Ia dipaksa mengejar kemampuan semua anak lain di kelasnya. Entah ia harus mengikuti les tambahan untuk mengejar target atau tinggal kelas—hanya karena satu nilai mata pelajaran yang rendah meski, misalkan,  nilai pelajaran olahraganya sangat unggul.

Kurikulum yang meleset dengan potensi murid bisa juga mengerdilkan potensi anak. Misal, seorang anak unggul di matematika. Saat kelas 1 SD dia sudah paham soal perkalian, tapi kurikulum di sekolahnya baru mengenalkan dia pada konsep penambahan satu digit. Kebayanglah betapa anak itu bisa merasa bosan melewati jam demi jam pelajaran di saat dia semestinya bisa diberikan soal yang lebih mampu men-challenge dirinya. Betapa banyak waktu anak itu yang jadi terbuang percuma karena dia jadi lebih banyak melamun dan mengantuk di ruang kelas.

Kalau begitu kasusnya, kenapa anak itu nggak lompat kelas aja di sekolahnya?

Well, solusinya tidak semudah itu. Bisa jadi anak itu unggul di matematika tapi di sains, bahasa atau pelajaran lainnya tidak. Atau kognitifnya memang sudah bagus, tapi mentalnya atau kematangan emosinya belum. Bukankah untuk naik tingkat, kita harus lulus dari semua mata pelajaran karena setiap jenjang memiliki paket kurikulum yang baku dan tak bisa dipisah-pisah.

Bisa juga kasusnya berkebalikan. Radi sering bilang paling seneng pelajaran bahasa inggris di sekolahnya dulu karena dia merasa yang paling pandai di kelas. Tapi dia justru senang mengerjakan soal-soal di bawah level kemampuannya karena itu membuatnya pede. Begitu melihat buku pelajarannya, saya paham duduk perkaranya. Radi yang udah mulai baca novel bahasa inggris, nyatanya di sekolah baru mengenal kata-kata “This is a table. That is a house. Sunday, Monday… dan aktivitas mengeja sederhana.” Saya sempat berpikir untuk mengikutkannya les bahasa inggris sebagai aktivitas di luar sekolahnya biar dia lebih semangat belajar bahasa inggris. Saya ingin dia bisa bertemu anak-anak lain yang kecakapan englishnya lebih baik lagi untuk menyadarkan dirinya kalau ia masih ikan kecil di tengah samudra luas *naon sich*.  Tuntutan sekolah yang rendah otomatis akan merendahkan standar dirinya juga. (Ah, gak perlu belajar buat ulangan juga gak papa. Gampil da.) Tapi nggak jadi saya ikutkan les sih waktu itu karena selain faktor biaya, toh dia sudah menghabiskan waktu dari pagi ampe sore di sekolahan jadi kasian. Belum lagi karena anaknya komen setiap mama suruh belajar sepulang di rumah, “Ma, aku kan capek udah belajar dari pagi ampe sore di sekolah.” Iya juga yak 😀

Itulah salah hiji alasan kenapa saya beralih ke homeschooling dan memilih untuk menerapkan customized education pada anak saya sendiri. Saya tentu tidak bisa mengandalkan instansi sekolah yang terpaku dengan kurikulum yang berlaku dan memiliki targetnya sendiri. Sekolah mana pun tentu ingin bersaing dengan sekolah-sekolah lain setaraf dirinya untuk mencetak lulusan-lulusan unggul. Baik dari nilai NEM, atau hafalan juznya. Target yang bentrok antara keinginan ortu dan prioritas sekolah ini terkadang membuat kita terpaksa mengorbankan kecakapan anak kita dengan segala keunikannya.

Dan kenyataannya, ada mata pelajaran tertentu yang lebih dianakemaskan dari mata pelajaran lain. Matematika tetap menjadi mata pelajaran keemasan. Jaman saya SMA dulu, bahkan anak IPS dipandang lebih rendah dari anak IPA. Kurikulum jaman saya sekolah dulu telah sukses membuat anak merasa bodoh bila ia memiliki kecerdasan di luar dari jalur “utama” (seperti pintar matematika dan kuat menghafal).

Bila anak kita gemar matematika dan pintar mengaji misalkan, sekolah swasta Islam biasanya sudah memiliki jaringan untuk menyertakannya dalam aneka kejuaraan dan kompetisi, bahkan bisa menyediakan mentor yang baik buat mengasah kemampuan anak kita. Toh kepandaian anak kita itu bisa mengharumkan nama sekolahan. Namun bila kebetulan anak kita berbakat di kesenian, jangan harap potensinya itu bisa berkembang optimal dengan jadwal ekstrakurikuler yang hanya seuprit porsinya, pun dianggap kurang mampu mendongkrak isi rapor selebihnya. Inilah PR-nya ortu. Kudu mencari wadah-wadah di luar sekolahan supaya anak bisa leluasa mengeksplorasi bakat bawaannya itu di sela-sela jadwal sekolahnya.

Kembali tentang customized learning, lalu apakah mungkin untuk menerapkan konsep tersebut dalam pendidikan mainstream kita saat ini? Jawabnya, bisa saja. Sebagian PKBM (lembaga sekolah nonformal) bahkan sudah menyediakan paket-paket belajar yang bisa dikustomisasi sesuai keinginan anak, lengkap dengan tutor-tutornya. Sudah seperti memilih makanan di meja prasmanan saja. Bukan mustahil kelak sekolahan juga menerapkan hal serupa. Tentu tidak sekarang ini dengan rasio jumlah guru dan murid yang timpang. Bahkan tidak dalam waktu dekat. But in the distant future, it can be a solution.

A Prayer Answered

Suatu ketika, si bocah bertanya.

“Mama pas kecil dulu cita-citanya pingin jadi apa?”

Hmm.. sebetulnya, butuh waktu agak lama buat mikir jauh ke belakang, soalnya prasaan pas seusia Radi saya memang ga inget punya cita-cita selain jadi Ibu yang ngasuh dan ngedidik anak. Mungkin karena potret orang dewasa pas saya kecil dulu ya Mama saya sendiri yang memang seorang ibu rumah tangga (meski sempat berpraktek jadi dokter umum di Ceko).

Pokoke kalau ditanya cita-cita pasti saya jawab pingin jadi somebody’s Mom.

Ternyata jawaban saya itu bikin mata bocah berbinar-binar. Ia kemudian nyeletuk penuh semangat, “Cita-cita Mama udah terkabul. Kan Mama punya aku!”

“Yes, indeed boy. Cita-cita utama Mama udah terkabul.”

Nah, belakangan, bocah jadi sering bertanya. Bukan hanya tentang cita-cita masa kecil,  juga tentang mimpi-mimpi Mama yang mana itu dihubungkan dengan dirinya. Dia akan tiba-tiba aja bertanya di waktu-waktu yang random and seems out of the blue. Pas si bocah bersiap mau sholat sementara liat Mama lagi baca buku, pas kami lagi jalan-jalan sore berdua.

“Ma, dulu pas Mama hamil pingin punya anak laki atau perempuan?”

Hm, dulu sih ga ada preferensi apa-apa prasaan, tapi tentu aja kujawab, “Laki-laki.” (biar hati si bocah senang).

“Yeyy, Mama punya aku. Aku kan laki-laki,” serunya riang sambil merangkul Mama erat.

Omongan ini sudah bisa meningkatkan happiness mood bocah berkali-kali lipat. Kadang kita ga menyangka ya, bahwa ucapan-ucapan kita yang disampaikan dengan ringan tapi tulus bisa membekas begitu dalam di batin anak.

Mungkin ucapan seperti ini yang dinamai mantra positif yang terekam di pikiran bawah sadar anak dan bisa dibawa kelak hingga si anak dewasa.

And moments like these makes me wonder. Mungkin setiap orang butuh merasa keberadaan dirinya berarti, bahkan terutama anak kecil. Our little ones.

So, make sure to tell your kids bahwa kelahiran mereka ke dunia adalah hadiah terindah dari Sang Pencipta.

Hug them and tell them that they are a true blessing. Hujani hari-hari dia dengan mantra-mantra positif.

Hopefully, in the future, whenever they face hardships and feels as if their life means nothing, they would remember that their beings was actually somebody’s answered prayer.

Kuartal Pertama Homeschooling

Wah, nggak berasa 3 bulan sudah saya menjalankan HS bersama Radi. Setelah mengambil tekad penuh untuk mengambil rute HS lalu menjalankannya, rasa-rasanya saya sudah masuk fase nyaman dan semakin jatuh hati dengan metode pendidikan ini.

Meski begitu, jangan salah, proses awal kami tidak begitu mudah. Kami tentu butuh waktu beradaptasi, meski proses adaptasi itu bisa dibilang lebih smooth karena berbulan-bulan sebelumnya Radi udah merasakan versi PJJ (akibat pandemi) dari sekolah formalnya.

Saya tahu dari para praktisi HS bahwa setiap keluarga itu harus mencari “gaya” HS mereka sendiri karena setiap keluarga memiliki budaya keluarga yang berbeda. Kita jelas nggak bisa mengcopy-paste metode yang diterapkan keluarga-keluarga HS lain. Mencari dan menemukan pakem terbaik merupakan proses yang mesti kita jalani sendiri.

Maka, bismillah, saya membuka bab awal HS ini dengan pikiran terbuka dan kesiapan untuk terus belajar bareng anak saya. Saya lantas membaca-baca berbagai materi belajar dari berbagai sumber kurikulum (di antaranya, Kurikulum Nasional dan Cambridge ), mencobai berbagai metode belajar alternatif, dan mengutak-atik jadwal belajar yang dirasa paling pas dengan gaya belajar Radi. Intinya ya mencari jalan belajar paling klop dan yang dirasa paling bisa mengoptimalkan pengalaman belajar Radi.

Nah, bulan ketiga ini saya merasa jalan HS kami semakin mulus. Saya merasa sudah menemukan pola yang paling pas, tanpa saya perlu rutin merumuskan rencana belajar secara mendetail untuk sepekan ke depan seperti di saat-saat awal HS.

Rutinitas HS Radi

Bagi saya, membuat jadwal belajar harian itu penting. Dengan begitu, meski waktu belajar anak fleksibel, tapi dengan adanya target harian, rasanya proses belajar jadi lebih terarah. Anak juga jadi tahu apa yang diharapkan darinya. Subject yang dipelajari setiap hari ga perlu banyak-banyak. Dua aja cukup (jadwal favorit Radi di hari Kamis karena pelajarannya Science dan Art).

Tentang kurikulum, saya memutuskan untuk nggak mengacu ke kurikulum nasional soalnya kurang sreg. Trus, pakai kurikulum apa? Nah, bingung juga. Pokoknya Radi belajar dari mana-mana hihi..

Sebagai contoh, Radi belajar Math dari buku matematika yang dipakai di Jepang (yang kubeli di toped karena awalnya suka dengan ilustrasinya wadidaw) dan situs IXL. Untuk matpel English, Radi pakai buku-buku usborne, baca buku cerita impor, juga rutin buka aplikasi Reading Eggs. Untuk Sains, Radi belajar dari BBC Bitesize dan ensiklopedi sains. Media belajar Radi memang diambil dari banyak sumber. Kami menemukan banyak situs-situs belajar menarik. Ada BBC Bitesize, Nat Geo learning, Penpalschools…buanyaaak.*lope-lope* Sejujurnya, saya banyak mengambil sumber-sumber belajar dari luar karena muatan belajarnya memang lebih menarik. Kurikulum LN juga lebih banyak mendorong anak untuk mengembangkan daya nalar dan berpikir kritis mereka alih-alih menghafalkan teori.

Untuk mata pelajaran, kami hanya mewajibkan Radi mempelajari Matematika, English dan Sains karena itulah yang dirasa paling kepake di kehidupan. ^^

Tapi untuk menambah wawasan, pengetahuan tentang dunia dan Indonesia pun disertakan.

Nah, yang membuat saya jatuh hati dengan HS adalah adanya kesempatan bagi saya untuk menerapkan custom education bagi Radi. Prinsipnya, kita semestinya memfokuskan energi untuk menguatkan kelebihan anak alih-alih berfokus untuk menambal kekurangannya.

Karena Radi senang belajar bahasa, maka saya tawarkan Radi untuk belajar bahasa asing kedua (setelah English). Dan Radi ternyata tertarik belajar bahasa Jepang. Syukurlah, karena Mamanya bisa sedikit-sedikit Nihongo, jadi kita bisa belajar bareng (sukur2 kalau nanti bisa ketemu guru bahasa Jepang yang pas).

Karena Radi juga memiliki minat besar dalam bermusik, kami pun menyertakan pelajaran piano buat Radi. (Drum rehat dulu karena gak punya alat musiknya di rumah.)

Kami tidak mendikotomikan pelajaran seni dengan pelajaran yang mengasah logika semacam matematika atau bahasa. Bagi kami, semua itu dibutuhkan kok demi membangun dimensi manusia yang lebih utuh taela bahasanya.

Rapor = Refleksi?

Yang menjadi tantangan baru dari proses HS kami adalah pertanyaan tentang rapor yang menjadi alat ukur kemajuan belajar anak. Kalau di sekolah formal, ada yang namanya ujian dan di akhir tahun ajaran setiap anak akan menerima rapor (entah lulus atau tidak ke jenjang berikut). Lalu bagaimana dengan anak HS?

Anak HS (yang tidak mendaftarkan diri ke lembaga pendidikan nonformal) jelas tidak kenal yang namanya ujian. Trus bagaimana dong kita mengukur proses belajar anak kita? Yaa, hmm.. Orangtua sebetulnya bebas aja sih kalau mau membuat semacam kuis untuk mengukur pemahaman anak, atau meminta anak melakukan presentasi suatu materi yang habis dipelajari anak. Itu sah-sah aja, bebas. Tapi yang namanya ujian sungguhan memang nggak ada (kecuali ujian sertifikasi buat dapat ijazah paket A, B, C kelak yaa).

Saya–sebagai orangtua yang merupakan “produk” sekolah selama bertahun-tahun—mengaku bahwa tidak adanya ujian ini memang rasanya ganjil. Tapi saat saya mengobrol dengan tetangga yang dahulu menyekolahkan anaknya di UK, dia bercerita kalau sepanjang masa SD anaknya itu nggak pernah kenal dengan ulangan, ujian atau tes ini itu. Saya semakin lega. I feel that we are in the right track. Lagi pula, bukankah kami memang ingin menanamkan motivasi belajar yang lurus pada diri anak ? Bahwa dia mesti belajar demi mendapat ilmu yang luas supaya bisa menjadi orang yang bisa membawa banyak manfaat bagi banyak orang. Bukan belajar hanya demi mendapat nilai yang baik, dan kemudian naik kelas.

Berikutnya, dari proses saya menimba ilmu dari para praktisi HS yang lebih dulu terjun ke ranah HS ini, saya mendapati bahwa anak HS memiliki alat ukur belajar tersendiri.

Apakah itu?

Kalau di sekolah formal ‘kan anak mendapat nilai kuantitatif di buku rapornya. Maka bagi anak HS, penilaiannya lebih kualitatif, yaitu dengan proses refleksi. Menurut praktisi HS, refleksi pembelajaran ini sebaiknya rutin dilakukan. Misalnya, setiap akhir bulan kita bisa melakukan refleksi proses pembelajaran Radi selama sebulan terakhir (apa yang perlu diperbaiki, apa yang bisa ditingkatkan, apa target untuk bulan berikut, etc). Begitu kira-kira.

Well, tiga bulan masih terhitung pendek, dan sejujurnya saya tidak tahu bagaimana proses HS putra kami ke depannya. Mungkin akan ada proses jatuh bangun, banting setir, dan banyaaak fase penggalian diri. Namun kami sangat berharap pilihan HS ini bisa memberi bekal yang kuat bagi Radi untuk melangkah di masa depannya—jauh lebih kuat dari bekal yang saya dapatkan dahulu. Dan yang terpenting, semoga, kami bisa terus menjaga gairah belajar anak kami sepanjang perjalanan hidupnya.

Amiin. ^^

Dokumentasi HS Radi: http://www.radinek.com

Ketika Pandemi Terjadi…

Tidak terasa sudah hampir setahun wabah penyakit terjadi. Wabah Covid-19 dimulai di Cina sejak Desember 2019, tapi kami di Indonesia baru merasakan full-blown dampaknya di bulan Maret 2020. Ketika sekolah-sekolah mulai ditutup dan proses belajar mengajar dipindahkan ke rumah secara online. Sekarang sudah akhir September 2020, tapi di Indonesia pandemi masih saja merangkak menuju puncak kurva.

Siapa pernah menyangka… Pandemi terakhir terjadi di tahun 1919. Sekira 100 tahun kemudian, manusia kembali diterpa ujian serupa. Dan pandemi ini bisa saja berlangsung sampai 2 atau 3 tahun lagi bila vaksin yang efektif lambat ditemukan.

Semoga Allah melindungi kita semua dari ujian wabah ini. Dan semoga manusia bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. *amiin*

Rasanya tidak ada manusia yang siap menanggung masalah ini untuk jangka panjang. Menahan diri dari berkumpul dengan banyak orang, mengurangi interaksi, bahkan menjalani isolasi.

Namun manusia akan mencari cara dengan beradaptasi untuk survive.

Demi kesehatan mental, mau nggak mau kita memang mesti mencari cara untuk menghadapi situasi yang tak pernah disangka-sangka. Untuk tetap bisa bertumbuh di situasi yang terasa stagnan. Ketika kita merasa menjalani hidup dalam sebuah penantian panjang untuk bisa kembali ke kehidupan normal yang sebelumnya.

Berikut resep saya menjaga semangat dan kesehatan mental saya di tengah proses karantina panjang ini:

  •  Pertama dan utama, menguatkan frekuensi kita dengan Rabb (shalat mesti lebih khusyu, perbanyak infaq dan shodaqoh). Sekaranglah waktunya saling bantu.
  • Mencari kesenangan-kesenangan kecil di keseharian demi memecah rutinitas yang monoton. Menata-nata dekorasi rumah. Jalan kaki seputar komplek. Nyoba menu masakan baru.
  • Menekuni hobi lama, seperti bikin crossticth, membaca buku dengan tema macam-macam (bikin target baca lebih tinggi dari tahun sebelumnya), etc.
  • Mencari kesibukan baru untuk mengisi pikiran serta pertumbuhan diri (personal growth), seperti belajar bahasa asing, belajar berkebun secara hidroponik.
  • Some days just do something fun and indulging. Watch movie, nonton youtube, play video game, memesan activity boxes.
  • Memberi treat untuk diri sendiri. Saya suka memesan gofood alias jajan makanan minimal setiap akhir pekan sebagai pengalihan dari rutinitas memasak sekaligus reward bagi diri sendiri (“Hey, u did it! Kau berhasil melewati satu pekan lagi!”)
  • Tetap jalin koneksi. Silaturahmi onlen dengan keluarga dan teman-teman. Bertegur sapa dengan tetangga meski dengan masker dan menjaga jarak. Penting untuk merasa bahwa you are not alone in this.
  • Jangan lupa untuk tetap gerak tubuh dan mengonsumsi suplemen dan makanan bergizi.

Setiap berganti bulan, saya juga berusaha membuat target baik untuk diri pribadi maupun bagi anak saya. Misal bulan ini ingin bisa menulis 3 bab, sementara target Radi sudah bisa bersepeda roda dua. Membuat target ke depan mampu membangkitkan semangat kita.

Siapa menyangka, sudah setengah tahun lebih kami menjalani hidup dengan karantina. Berinteraksi seperlunya saja. Udah nggak pernah lagi saya pergi belanja ke supermarket. Segala-galanya serba online demi aman dan nyaman. Berjalan ke pos satpam komplek rumah pun selalu pakai masker.

Entah bagaimana situasinya ketika kami berhasil melewati situasi ini…

Will the world be as normal as before?

Bumi, cepatlah sembuh.

Setelahnya…

Kita mesti bertumbuh lebih hebat dari sebelumnya.

Membuka Bab Baru: Homeschooling

Bismillah, tepat bulan ini–Juni 2020–saya memutuskan untuk mengubah jalur pendidikan anak saya dari sebuah sekolah formal ke sekolah berbasis rumah (homeschooling). Kalau ditanya alasannya, sebetulnya Radi tidak punya masalah dengan sekolah ataupun pengajarnya. Meski berangkat pukul 6.00 pagi dan pulang di rumah pukul 15.00 petang (hiks), Radi masih cukup enjoy dengan sekolahnya.

Alasan memutuskan berpindah haluan ke jalur homeschooling di saat anak sudah terdaftar di sekolah formal tak lain karena kegalauan ibunya aja.

Bisa dibilang sebagai seorang yang senang belajar tentang tema-tema pendidikan anak dan selalu ingin hands-on (terlibat aktif) dalam proses pendidikan anak, pilihan homeschooling sebetulnya sudah lama menggugah minat saya, bahkan semenjak anak saya masih batita. Saya bahkan pernah membahas sekilas opini saya tentang jalur ini sebelumnya. Homeschooling? Why Not?—part 1

Namun keraguan masih banyak menghantui langkah saya untuk mengumpulkan komitmen dan nyebur langsung ke dalamnya. Mungkinkah saya bisa memegang peranan sebagai fasilitator utama pendidikannya? Akankah lingkungan sekitar mendukung, khususnya keluarga suami yang mayoritas guru formal? Dan masiiih buanyak lagi yang membuat langkah saya surut dan enggan melanjutkan ke pilihan tersebut.

Setelah menempuh proses survei SD ke sana-sini, saya dan suami kemudian sepakat mendaratkan hati pada satu sekolah. Sekolah yang ceklis kriterianya (versi saya) paling banyak mendapat contrengan. Meski tidak bisa memenuhi 100 persen kriteria harapan itu, saya siap untuk berkompromi dan sedikit menurunkan standar saya.

Alhasil, Radi menjalankan tahun pertama SD di sekolah tersebut.

Namun qadarullah terjadi, wabah corona melanda sepenjuru negeri bahkan seluruh dunia, hingga memaksakan semua siswa untuk meneruskan proses belajar di rumah masing-masing. Ini terjadi pada pertengahan bulan Maret, sekitar 2 bulan sebelum ujian kenaikan kelas.

Dalam proses belajar di rumah selama 3 bulan itu, saya justru mendapat momentum untuk mengevaluasi proses belajar Radi. Saya makin mengenal gaya belajarnya, tugas-tugas/kurikulum sekolah, dan masih banyak lagi. Dalam segi materi kurikulum, saya menemukan banyak kesenjangan antara harapan saya dengan realita di lapangan. Sementara dari segi pengajaran, saya menemukan keyakinan diri kembali untuk mengajari anak secara langsung.

Tibalah saya di sebuah persimpangan: Benarkah saya harus tetap menurunkan ekspektasi saya dalam pendidikan anak saya ataukah saya bisa mengambil kendali penuh pendidikan secara langsung dengan segala konsekuensinya.

Setelah diskusi panjang lebar dari A-Z dengan suami… Setelah diskusi dengan anak yang akan menjadi subjek belajar kelak (bukan “objek belajar”)…  Akhirnya, mantaplah saya untuk mengambil jalur Homeschooling dengan pendidikan yang terkustomisasi bagi anak saya.

So, here we are. Bismillah, membuka bab baru perjalanan belajar Radi.

Kami masih newbie sebagai praktisi homeschooler dan masih harus banyak-banyak-banyak lagi belajar. Tapi, I feel super duper excited. Ini akan jadi petualangan yang seru, Nak!

Sebagai dokumentasi belajar Radi, saya membuat sebuah blog terpisah yang diperuntukkan untuk merekam perjalanan belajarnya.

www.radinek.com

Feel free to check it out if you perhaps need some insights about a homeschooling world.

Ramadhan 2020

Ramadhan tahun ini akan datang dan berlalu dengan penuh kesahajaan.

Ramadhan tahun ini akan membasmi sisa-sisa ketamakan manusia.

Ramadhan tahun ini menjadi momen menyucikan diri bagi mereka yang menyegerakan bertaubat.

Ramadhan tahun ini akan memaksa kita bersimpuh di alas sajadah, memohon ampunan dan belas kasih-Nya.

Jauh lebih khusyu dari hari-hari sebelumnya.

Dalam kesahajaan.

Di rumah saja.

Selamat datang wahai bulan suci!

Hidup Minimalis, Bisakah?

Saya merasa, salah satu hikmah dari memiliki rumah mungil adalah saya jadi muak untuk menimbun barang-barang. Dengan luas yang nggak seberapa, rasanya rumah makin sempit dan sesak dengan barang. Alih-alih rumahku surgaku atawa home sweet home, yang ada tuh rasanya mumet bin sutres berlama-lama menghabiskan waktu di dalam rumah. Padahal sebagian besar waktu saya ya dihabiskan di dalam rumah.

Kesal melihat banyaknya barang yang ditimbun ini jadi mendorong saya untuk membeli barang seperlunya saja. Saya sendiri sering kali mengajukan pertanyaan begini ke diri sendiri: Perlukah saya memiliki tas hingga lima biji, sepatu selusin, baju seabrek-abrek? Can I live with less stuffs? Bisakah saya bernafas lebih lega dan nggak merasa tercekik oleh barang-barang ini? Saya hanya ingin merasa tinggal di sebuah rumah yang sederhana namun apik bak poto rumah-rumah mungil yang menghiasi folder pinterest saya dengan judul “Rumah Mungil Impian” alih-alih merasa tinggal di gudang atau ruko barang. Bisa gak siiih?

Jawabannya, ya tentu bisaaa…

Dan di tengah perjalanan saya yang mulai lebih cermat memilah barang untuk disimpan, saya pun berkenalan dengan prinsip hidup “sustainable living”, bahkan “minimalism”.

Saya nggak akan menguraikan panjang lebar tentang definisi masing-masingnya (silakan cari-cari sendiri ya, guys). Pokoknya, yang saya tangkap dari prinsip “sustainable living” ini adalah kita menjalankan hidup dengan penuh kesadaran untuk tetap menjaga kelestarian bumi. Umur bumi yang semakin tua makin ripuh jika mesti memuaskan nafsu konsumsi manusia yang seakan tak ada habissnya. Sustainable living akan memengaruhi cara kita dalam membeli dan memilih barang-barang konsumsi, memilah sisa konsumsi rumah tangga kita dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), dan masih buanyak lagi aspeknya.

Orang-orang yang sudah mengadopsi prinsip ini akan berpikir berulang-ulang kali untuk membeli barang konsumsi. Misalnya dalam membeli pakaian saja, mereka akan mengajukan pertanyaan: “Apakah saya butuh baju baru? Apakah baju yang lama sudah tidak bisa ditambal/diperbaiki? Apakah saya bisa dapatkan dari thrift store (berbelanja barang-barang second sangat dianjurkan?).” Jadi kalau udah punya prinsip ini, mau ada keranjang baju-baju diskonan juga nggak tertarik ngelirik, ngelengos aja lewat…da nggak butuh.

hierarchy

Saya pikir, keren banget filosofi ini.

Di tengah dunia yang makin marak dengan konsumerisme—orang-orang berlomba-lomba untuk membeli barang-barang bermerek dan paling hits demi menaikkan gengsi—masih ada ya kelompok manusia yang amat sangat minoritas ini. Membaca tentang gerakan mereka ini, saya sangat tertarik, bahkan mulai jatuh hati.

Mungkin tidak semua orang akan mudah untuk mengadopsi prinsip “minimalism” ini.

Saya merasa berjodoh dengan prinsip ini karena latar belakang keluarga saya dahulu. Saya ingat sedari kecil, kami tidak dipusingkan untuk membeli barang-barang bermerek (karena memang tidak ada duitnya). Meskipun bersekolah di sekolah borju, dan teman-teman sekolah berlomba-lomba mengoleksi sepatu dan jam tangan bermerek, tidak pernah terbersit dalam pikiran saya pengin memilikinya juga.  Saya akui saya buta merek, dan saya bangga kok. ^^

Masih membekas kuat pula dalam ingatan, betapa ibu saya cuma punya beberapa potong baju bagus buat pergi. Setiap ngejemput sekolah, baju yang dipakainya itu-itu mulu. Di tengah lingkungan ibu-ibu “the haves” alias borju, mami saya nggak minder tuh. Dia lebih memilih menyisihkan uang belanja untuk menyicil beli paket buku di koperasi sekolah atau malah membelikan buku cerita dan mainan buat anak-anaknya.

Gaya hidup mami saya ini amat banyak memengaruhi saya begitu tiba waktunya saya berumah tangga. Jauh sebelum saya mengenal prinsip sustainable living ini, saya ingat bila sedang jalan-jalan di toko dan suami menawarkan untuk membelikan sepasang sepatu baru, saya malah menanggapi, “Buat apa? Sepatuku masih bagus, belum rusak kok.”

Atau ketika suami menawarkan untuk membelikan baju baru, benak saya akan menghitung baju-baju saya yang masih tergantung manis di lemari mungil saya. “Ah, mending uangnya nanti buat saya belikan boardgame edukatif atau buku buat anak.” Those stuffs gives me more joy than spending it on clothes or shoes which I dont really need.

Pengalaman hidup susah jaman kecil dulu memang amat membekas.  Jadi kalau saya beli suatu barang yang harganya uwow hanya karena bermerk, saya merasa bersalah. Kenapa saya beli semahal itu, padahal di tempat lain bisa dapat yang lebih murah dengan substansi dan kualitas yang beti alias beda-beda tipis.  Bukan berarti saya menyalahkan masa silam dan seolah menyeret-nyeret pengalaman hidup susye masa lampau dengan memilih untuk menjalani hidup kere mulu meski sekarang sudah relatif lebih mampu. Justru sebaliknya, Alhamdulillah, saya merasa latar belakang saya itulah yang memudahkan saya untuk mengadopsi prinsip hidup yang lebih selaras dengan alam.

Saya sadari, tidak semua orang cocok mengadopsi prinsip hidup ini. Saya pun tidak akan memaksakan pasangan hidup untuk menganut konsep hidup ini. Saya pun memilih menjalankannya dengan moderat. Namun hal yang perlahan tapi pasti, karena kusudah jatuh hati dengan konsep gerakan ini, nilai-nilai sustainable living tentu akan saya tanamkan dan biasakan di keluarga saya.

Ada suatu ungkapan yang sangat mengena ke hati saya dan sangat tepat menggambarkan  filosofi bagi Sustainable Living ini:

“Kita jalani hidup dengan mengambil (dari bumi) secukupnya, dan memberi sebanyak-banyaknya.”