Hidup Minimalis, Bisakah?

Saya merasa, salah satu hikmah dari memiliki rumah mungil adalah saya jadi muak untuk menimbun barang-barang. Dengan luas yang nggak seberapa, rasanya rumah makin sempit dan sesak dengan barang. Alih-alih rumahku surgaku atawa home sweet home, yang ada tuh rasanya mumet bin sutres berlama-lama menghabiskan waktu di dalam rumah. Padahal sebagian besar waktu saya ya dihabiskan di dalam rumah.

Kemuakan saya melihat banyaknya barang yang ditimbun ini jadi mendorong saya untuk membeli barang seperlunya saja. Saya sendiri sering kali mengajukan pertanyaan begini ke diri sendiri: Perlukah saya memiliki tas hingga lima biji, sepatu selusin, baju seabrek-abrek? Can I live with less stuffs? Bisakah saya bernafas lebih lega dan nggak merasa tercekik oleh barang-barang ini? Saya hanya ingin merasa tinggal di sebuah rumah yang sederhana namun apik bak poto rumah-rumah mungil yang menghiasi folder pinterest saya dengan judul “Rumah Mungil Impian” alih-alih merasa tinggal di gudang atau ruko barang. Bisa gak siiih?

Jawabannya, ya tentu bisaaa…

Dan di tengah perjalanan saya yang mulai lebih cermat memilah barang untuk disimpan, saya pun berkenalan dengan prinsip hidup “sustainable living”, bahkan “minimalism”.

Saya nggak akan menguraikan panjang lebar tentang definisi masing-masingnya (silakan cari-cari sendiri ya, guys). Pokoknya, yang saya tangkap dari prinsip “sustainable living” ini adalah kita menjalankan hidup dengan penuh kesadaran untuk tetap menjaga kelestarian bumi. Umur bumi yang semakin tua makin ripuh jika mesti memuaskan nafsu konsumsi manusia yang seakan tak ada habissnya. Sustainable living akan memengaruhi cara kita dalam membeli dan memilih barang-barang konsumsi, memilah sisa konsumsi rumah tangga kita dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), dan masih buanyak lagi aspeknya.

Orang-orang yang sudah mengadopsi prinsip ini akan berpikir berulang-ulang kali untuk membeli barang konsumsi. Misalnya dalam membeli pakaian saja, mereka akan mengajukan pertanyaan: “Apakah saya butuh baju baru? Apakah baju yang lama sudah tidak bisa ditambal/diperbaiki? Apakah saya bisa dapatkan dari thrift store (berbelanja barang-barang second sangat dianjurkan?).” Jadi kalau udah punya prinsip ini, mau ada keranjang baju-baju diskonan juga nggak tertarik ngelirik, ngelengos aja lewat…da nggak butuh.

hierarchy

Saya pikir, keren banget filosofi ini.

Di tengah dunia yang makin marak dengan konsumerisme—orang-orang berlomba-lomba untuk membeli barang-barang bermerek dan paling hits demi menaikkan gengsi—masih ada ya kelompok manusia yang amat sangat minoritas ini. Membaca tentang gerakan mereka ini, saya sangat tertarik, bahkan mulai jatuh hati.

Mungkin tidak semua orang akan mudah untuk mengadopsi prinsip “minimalism” ini.

Saya merasa berjodoh dengan prinsip ini karena latar belakang keluarga saya dahulu. Saya ingat sedari kecil, kami tidak dipusingkan untuk membeli barang-barang bermerek (karena memang tidak ada duitnya). Meskipun bersekolah di sekolah borju, dan teman-teman sekolah berlomba-lomba mengoleksi sepatu dan jam tangan bermerek, tidak pernah terbersit dalam pikiran saya pengin memilikinya juga.  Saya akui saya buta merek, dan saya bangga kok. ^^

Masih membekas kuat pula dalam ingatan, betapa ibu saya cuma punya beberapa potong baju bagus buat pergi. Setiap ngejemput sekolah, baju yang dipakainya itu-itu mulu. Di tengah lingkungan ibu-ibu “the haves” alias borju, mami saya nggak minder tuh. Dia lebih memilih menyisihkan uang belanja untuk menyicil beli paket buku di koperasi sekolah atau malah membelikan buku cerita dan mainan buat anak-anaknya.

Gaya hidup mami saya ini amat banyak memengaruhi saya begitu tiba waktunya saya berumah tangga. Jauh sebelum saya mengenal prinsip sustainable living ini, saya ingat bila sedang jalan-jalan di toko dan suami menawarkan untuk membelikan sepasang sepatu baru, saya malah menanggapi, “Buat apa? Sepatuku masih bagus, belum rusak kok.”

Atau ketika suami menawarkan untuk membelikan baju baru, benak saya akan menghitung baju-baju saya yang masih tergantung manis di lemari mungil saya. “Ah, mending uangnya nanti buat saya belikan boardgame edukatif atau buku buat anak.” Those stuffs gives me more joy than spending it on clothes or shoes which I dont really need.

Pengalaman hidup susah jaman kecil dulu memang amat membekas.  Jadi kalau saya beli suatu barang yang harganya uwow hanya karena bermerk, saya merasa bersalah. Kenapa saya beli semahal itu, padahal di tempat lain bisa dapat yang lebih murah dengan substansi dan kualitas yang beti alias beda-beda tipis.  Bukan berarti saya menyalahkan masa silam dan seolah menyeret-nyeret pengalaman hidup susye masa lampau dengan memilih untuk menjalani hidup kere mulu meski sekarang sudah relatif lebih mampu. Justru sebaliknya, Alhamdulillah, saya merasa latar belakang saya itulah yang memudahkan saya untuk mengadopsi prinsip hidup yang lebih selaras dengan alam.

Saya sadari, tidak semua orang cocok mengadopsi prinsip hidup ini. Saya pun tidak akan memaksakan pasangan hidup untuk menganut konsep hidup ini. Saya pun memilih menjalankannya dengan moderat. Namun hal yang perlahan tapi pasti, karena kusudah jatuh hati dengan konsep gerakan ini, nilai-nilai sustainable living tentu akan saya tanamkan dan biasakan di keluarga saya.

Ada suatu ungkapan yang sangat mengena ke hati saya dan sangat tepat menggambarkan  filosofi bagi Sustainable Living ini:

“Kita jalani hidup dengan mengambil (dari bumi) secukupnya, dan memberi sebanyak-banyaknya.”

 

Mama

One of the moments that I trully treasure is picking up my son after school. Seeing his face brighten up when he catches the sight of me among the crowds of parents. With a wide smile, he calls me, “Mama!” He will then race his feet and throw his little hands to give a quick hug on my hips before going into a full rampant about how his day went.

That moment sometimes throw me to a different time and place.

There were days when I would be searching for my mom’s face among the parents outside of the school gate. And when I caught her presence with her usual flowers pattern dress (a bit worn because of her frequent wear),  my heart then would be filled with serenity.

The presence of Mum, is a calling for home.

Tips for Choosing Children’s Book

Tips untuk Memilih dan Membacakan Buku Bahasa Inggris untuk Anak:

  • Pilih tema yang sudah familier bagi anak atau yang disukainya.
  • Tidak masalah memilih buku di bawah levelnya, misalnya memilih buku yang diperuntukkan bagi anak usia 3 tahun padahal anak kita sudah usia TK.
  • Sebagai orangtua yang membacakan buku, sebaiknya kita baca bukunya terlebih dulu sebelum membacakan pada anak. Make sure you know how to pronounce the words correctly first.
  • Picture helps. Pointing to pictures help children to better understand.
  • Sound the onomatopoeia. Ex. Squeak, sizzle, roar, etc. Bacanya yang heboh supaya anak nggak bosen.
  • Always ask questions. Initiate fun & interesting discussions. Tunjukkan berbagai hal dari ilustrasi yang tidak dimuat dalam teks. Jadikan membaca buku sebagai pengalaman interaktif.
  • Jangan ragu untuk mengulang-ulang bacaan. Jika beruntung, Anda akan mendapatkan sebuah “Home-run book.” Home-run book adalah buku yang menjadi favorit anak, dan tandanya, si anak akan meminta buku itu untuk dibacakan berulang-ulang-ulang kali. “Home-run book” Radi saat ini adalah buku “Green Eggs & Ham” karya Dr. Seuss. book n paddington

 

Tips ini saya dapatkan dari workshop “mendidik anak bilingual” yang saya ikuti 2 tahun lalu. 😛 Entah kenapa, mangkrak lama di laptop.

Kurikulum Anak Milenium versi Ainka

Semakin dekatnya masa anak saya memasuki jenjang sekolah dasar, saya jadi merasa perlu untuk merumuskan kurikulum (tsah) pendidikan yang ingin saya fokuskan pada diri anak saya. Ceritanya, supaya dalam teknis pendidikan ke depannya, saya punya semacam rujukan juklak dan biar tidak melenceng dari jalur dalam proses pendidikannya ke depan nanti.

 

Bismillah…

 

Sebagai awal, sebelum merumuskan teknisnya, penting untuk mendefiniskan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Hm… tujuan mendidik anak, biasanya orangtua tentu ingin mencetak anak sukses. Nah, definisi “sukses” itu sendiri yang bagaimana.

Bagi saya, “SUKSES” itu adalah KEBERMANFAATAN. Jadi sukses itu bukan diukur dari skala materi, status sosial, dan pekerjaan bergengsi. Tidak! Bagi saya, sukses itu adalah kebermanfaatan bagi banyak orang.

 

Visi Pendidikan versi saya:

Saya ingin anak saya tumbuh menjadi manusia muslim yang cerdas dan tangguh, serta mampu menebar manfaat dan kebaikan bagi semesta (rahmatan lil ‘alamiin, selaras dengan tujuan penciptaan dirinya).

 

Untuk konsep pendidikan, saya tidak ingin men”drill” anak untuk hafal ina-itu, tapi lebih pada membangun pemahaman dan sikap mental tertentu. Menyiapkan anak untuk menghadapi era masa depan dengan tantangan dan karakteristik yang jelas berbeda dari zaman kita memang tidak mudah. Memasuki era teknologi dan informasi, anak dengan kecakapan akademis tinggi tidak lagi dinilai cukup. Bukankah semua informasi dan pengetahuan bisa dengan mudahnya diakses via komputer?

Modal terpenting bagi seorang anak, tapi sering kali diabaikan, adalah mental dan KARAKTER. Termasuk di dalamnya daya juang (grit), kreativitas, kemampuan beradaptasi dan berempati. Semua dimensi ini tidak mudah diukur memang, tapi keberadaannya amat penting.

 

Kualitas yang ingin ditanamkan secara simultan:

  1. Imtaq

Penanaman aqidah, ibadah, akhlak sebagai akar atau fondasi pendidikan. Untuk anak SD, porsi pendidikan terbesar ke penguatan akidah.

  • Sholat berjamaah min. Maghrib.
  • Celengan infaq anak.
  • Project amal tiap tahun.

 

  1. Ketahanan Mental/Kegigihan/Daya Juang
  • Menanamkan prinsip Growth Mindset.
  • Tidak fokus pada hasil, tapi proses.
  • Membiarkan anak mengerjakan urusannya sendiri, meski repot.
  • Menanamkan skill nonakademis (olahraga, beladiri, bermusik, etc).

“Pick yourself up whenever your down” adalah skill yang juga perlu diajarkan dan dimiliki setiap orang. Bagaimana menumbuhkan dan menjaga motivasi diri. Anak mesti punya hobi yang nonakademis karena bisa jadi sarana yang efektif untuk menyalurkan energi dan melepaskan stres, selain bisa untuk mengajarkan soal semangat kegigihan.

 

  1. Berpikir Kreatif, Kritis dan Solutif
  • Menghidupkan budaya diskusi.
  • Membiarkan anak memecahkan masalah sendiri dan tidak menyuapi jawaban.

 

  1. Berwawasan Global dan Luas
  • Membangun budaya membaca. Sehari minimal satu buku.
  • Menyiapkan budget khusus untuk perbukuan setiap bulan.
  • Membiasakan Bilingual.
  • Perjalanan ke perpustakaan dan toko buku.

 

  1. Kemandirian
  • Memberi tugas-tugas harian rumah tangga sesuai rentang usia.
  • Bertanggung jawab menyiapkan perlengkapan sekolah dan seragam sendiri di malam hari.
  • Belajar konsekuensi sejak dini. Misal, lupa membawa buku tugas biarkan saja.
  • Hanya membantu dalam proses belajar, bukan ngerjain PR.

 

  1. Adaptif

Meregangkan zona nyaman. Ini penting juga karena kita nggak tahu di masa depan kemana hidup akan membawa anak kita nanti.

  • Mencoba hal baru setiap minggu. Mulai dari mencicipi makanan sampai menjelajahi tempat baru.
  • Mengajak kemping.
  • Apa lagi yaa….

 

*latepost

Akan direvisi dan diupdate sewaktu-waktu. 🙂

 

 

 

Belajar Jadi Ahli Syukur

Pemikiran random di tengah sebuah percakapan random yang bisa terjadi di mana saja:

 

Skenario 1: Seorang istri mengeluhkan kepada suaminya karena keinginannya untuk menambah anak tampak pupus setelah dirinya divonis menderita suatu penyakit.

Sang suami berujar, “Kita mesti bersyukur. Coba lihat, ada pasangan A yang mendambakan satu anak kandung saja tapi tak kunjung diberi.”

 

Skenario 2: Seorang istri mengeluhkan uang belanja rumah tangganya yang pas-pasan dan kondisi suami yang tak kunjung naik pesangon.

Sang suami berkoar, “Lihat si anu, sepupumu itu. Anaknya banyak, utangnya banyak … Penghidupan kita masih lebih mending. Bersyukurlah kita, beib.”

 

Skenario 3: Seorang ibu yang mengkhawatirkan perkembangan kecerdasan anaknya yang dinilai lambat dari anak-anak sebaya tengah curhat pada seorang teman ngegosip  arisannya.

Si temen berkeok, “Jeung, mestinya kamu banyak-banyak bersyukur. Lihat tuh, si ibu tetangga sebelah, anaknya cacat mental. Sampai sekarang usia SD belum juga bisa ngomong.  Sementara anakmu kan udah lincah, sehat, lucu … cuma sayang ya, belum bisa baca.”

 

 

Sepintas, tidak ada yang salah dari percakapan-percakapan random sehari-hari ini. Intinya berpesan agar kita bersyukur dengan mengamati orang yang bernasib lebih malang dari diri kita. Lalu, adakah yang salah dari hal ini?

Hmm… tidak juga. Itu memang bisa jadi salah satu metode bersyukur, dan sah-sah saja.

Terkadang, manusia memang butuh sesuatu yang konkrit. Sesuatu yang akan menguatkan rasa kebersyukurannya. Dan “sesuatu yang konkrit” itu adalah  kasus-kasus “kemalangan” yang bisa dilihat, didengar, dan diraba di sekitar dirinya. Namun ini bisa dibilang cara bersyukur ala anak TK. Metode tingkat rendah. Sama seperti ketika kita menjelaskan konsep “pahala” atau mengajarkan konsep berhitung kepada mereka. Karena belum sanggup mencerna konsep-konsep abstrak, segala sesuatunya mesti dibuat sekonkrit mungkin. Begitu tabungan pemahaman mereka akan yang konkrit ini sudah cukup banyak, baru mereka bisa mulai beralih pada hal yang abstrak.

***

“Syukur adalah bahagia. Bahagia adalah syukur. Dengan kita bersyukur, kita akan temukan kebahagiaan.”

Bagian ruwet lainnya dari metode bersyukur tahap mendasar ini, adalah bahwa kasus-kasus konkrit itu merupakan faktor eksternal yang berada di luar diri kita. Ia tak dapat kita kendalikan atau kita manipulasi sesuka hati. Apakah kita lantas mesti melihat orang lebih menderita dulu, baru kita bisa merasa lebih bahagia? Atau sebaliknya, kadar kebahagiaan kita berkurang saat mereka ketiban untung. Mungkin fenomena inilah yang mencetuskan ungkapan “Susah melihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah.” Karena fenomena itu mau tidak mau memainkan peran penting dalam takaran kebahagiaan diri kita sendiri. Naudzubillah…

Hayuklah, kita mulai belajar bersyukur cukup dari dalam diri. Kita mulai beralih dari bangku kelas syukur ala anak TK. Tengoklah hanya ke dalam diri. Sering-sering lakukan refleksi dan komunikasi dengan kalbu kita, bukan kalbu orang-orang lain. Mari kita senantiasa berusaha menerjemahkan keinginan sang Penggenggam kalbu itu dalam skenario hidup kita, dalam setiap langkah hidup kita.

Tak perlu lagi tengok kanan-kiri, tak usah risau bin usil dengan nasib-nasib orang sekitar kita. Semua ada takaran masing-masing. Setiap manusia hanya menempuh garis takdirnya. Ukirlah kisah hidup kita seindah mungkin. Ciptakan mahakarya yang kelak layak kita persembahkan kepada sang Maha Agung, Asy-Syakur,yang telah mengembuskan nafas syukur ke dalam fitrah kalbu segenap insannya. Amiiin.

 

#averylatepost

My Sensitive Little Soul

Suatu malam saat menemaninya tidur, dengan tangan mendekap leher saya, saya dikagetkan oleh suara kecilnya, “Mama nggak boleh meninggal sampai aku jadi bapak-bapak.”

Sontak saya menoleh dari layar hape dan menumpahkan perhatian penuh kepadanya. Berbagai pertanyaan seketika berkecamuk di benak, “Mengapa out of the blue ia sampai berpikir begitu?” Terpikir pula berbagai jawaban untuk meredakan rasa takutnya. Saya merasa seakan harus menenangkannya dari mimpi buruknya. Hanya saja, ini bukan mimpi buruk. Ini adalah ketakutannya yang nyata.

Saya pun teringat, sayalah yang sesungguhnya menularkan ketakutan itu. Beberapa bulan belakangan saya memang cukup sering mengingatkannya agar bisa belajar lebih mandiri. Pergi tidur sendiri bila mengantuk, mandi sendiri, membereskan pakaian dan merapihkan mainannya sendiri. Pernah terucap oleh saya, bahwa ia harus mandiri demi kebaikannya sendiri karena mamanya belum tentu bisa selalu menemaninya. Kita tak pernah tahu umur. Bila amanah Mama menjaga Radi sudah selesai dan Mama sudah dipanggil pulang sama Allah (seperti Aki), Allah yang akan menjaga Radi langsung.

Tak disangka, nasihat itu membekas cukup dalam pada dirinya. Hingga ke malam hari itu, sekian lama kemudian. Saya pun akhirnya hanya bisa menenangkannya dengan berkata, “Insya Allah, Sayang. Kamu doain biar Papa Mama sehat-sehat terus, anak jagoan …”

Nyatanya ucapan itu tak cukup menenangkan hatinya. Ia pun tertidur malam itu dengan air mata masih membasahi kedua pipi sementara Mama hanya bisa menciumi dan memeluknya hingga ia lelap ke alam mimpi.

Ah, Nak, betapa bening dan halus hatimu. Dan betapa egoisnya Mama yang telah menularkan ketakutan terbesar Mama jika meninggalkanmu terlampau dini. Tanpa saya sadari bahwa bagi seorang anak, ketakutan ditinggalkan orangtua lebih menakutkan daripada ditakuti tentang neraka. Padahal bukankah selama ini neraka merupakan konsep yang saya hindari  untuk ceritakan kepada jiwanya yang masih suci dari dosa?

Ah Nak, sebelum menasihatimu, Mamalah sesungguhnya yang harus belajar lebih ikhlas dan lebih tegar. Bukan kamu. Belajar kemandirian tak perlulah diwanti-wanti dengan rasa takut. Yang perlu kita fokuskan saat ini adalah menciptakan begitu banyak momen dan kenangan indah bersama yang akan kamu bawa sepanjang kehidupanmu. Hingga kelak kamu tumbuh menjadi “bapak-bapak” yang paling tegar, paling bijak, paling baik dari semua “bapak-bapak” yang Mama kenal. 🙂

 

Mommy love u. :*

Menancapkan Akar Spiritual

Membesarkan anak di era keterbukaan dan di masa gadget merajalela seperti saat ini, banyak tantangannya—tantangan yang jelas belum ditemui di masa-masa sebelumnya. Banyak harapan yang tersemat dalam pengasuhan anak saya. Saya ingin anak saya bisa tumbuh menjadi seorang muslim yang cerdas, mendunia, dinamis, dan tidak gagap mengikuti perkembangan zaman. Saya ingin anak saya kelak pergi menjelajah dunia, tidak terkurung dalam tempurung. Kalau bisa, sejak remaja sudah mengikuti program pertukaran pelajar ke negara maju, belajar hal-hal baik dari mana-mana, sekaligus mengambil peran sebagai duta muslim yang cerdas, modern dan berakhlak mulia *amiiin*

Namun bersamaan dengan harapan itu, muncul pula kekhawatiran. Bagaimana jika keimanannya luruh akibat pergaulan dengan berbagai keyakinan dan isme-isme yang ada? Mampukah dia menjaga benteng keyakinannya tetap kukuh meski dia menjadi sosok satu-satunya di tengah keramaian? Terus menjaga shalatnya dan hubungannya dengan sang Khalik?

Karena itulah, di usianya sekarang yang baru lima tahun, sebelum dia berangkat menjelajahi dunia, sekaranglah saatnya yang krusial bagi saya untuk menanam fondasi itu. Mengukuhkan akar yang kuat menancap jauh ke bumi sehingga tidak mudah doyong diguncang badai dari luar.*bahasanya, euy*

 

Bismillah… di antara praktik penanaman akar spiritual ini, berikut yang saya upayakan:

  1. Setiap sehabis maghrib berjamaah ada waktu khusus untuk belajar mengaji dan meningkatkan interaksi kita dengan Al-Quran. No TV sampai isya. Murni belajar Al-Qur’an.
  2. Memilihkan SD berbasis agama, sehingga kongruen dengan penanaman akhlak islami.
  3. Setiap Minggu pagi, atas inisiatif Mamah mertua, beliau mengadakan program hafalan Qur’an keluarga. Sebenarnya, jujur, saya bukan orang yang ngoyo menghafal Qur’an dan tidak kurang berambisi untuk itu. Tapi, di hari pertama saya langsung termotivasi. Selain melatih sel-sel kelabu pada otak, insyaAllah berikhtiar menghafal juga menurunkan keberkahan dan menjadi kebiasaan keluarga yang langsung disaksikan oleh anak. Saya berharap, saat dewasa kelak, Radi akan selalu terkenang belajar mengaji dan menghafal Qur’an bersama keluarga di saung Ninin. Semoga kelak kebiasaan itu akan menjadi kenangan manis yang mengakar dalam dirinya dan selalu dirindukannya.

 

Yah, upayanya mungkin tidak seberapa. Tapi saya berharap, apapun yang akan dihadapinya di masa depan kelak; bagaimanapun ambisi, harapan, dan impiannya membawanya, kelak akan selalu ada sepercik kenangan yang mengingatkannya pada “jalan pulang.”

Wallahu’alam.

 

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah …” (QS. Jumu’ah: 10)