Belajar Jadi Ahli Syukur

Pemikiran random di tengah sebuah percakapan random yang bisa terjadi di mana saja:

 

Skenario 1: Seorang istri mengeluhkan kepada suaminya karena keinginannya untuk menambah anak tampak pupus setelah dirinya divonis menderita suatu penyakit.

Sang suami berujar, “Kita mesti bersyukur. Coba lihat, ada pasangan A yang mendambakan satu anak kandung saja tapi tak kunjung diberi.”

 

Skenario 2: Seorang istri mengeluhkan uang belanja rumah tangganya yang pas-pasan dan kondisi suami yang tak kunjung naik pesangon.

Sang suami berkoar, “Lihat si anu, sepupumu itu. Anaknya banyak, utangnya banyak … Penghidupan kita masih lebih mending. Bersyukurlah kita, beib.”

 

Skenario 3: Seorang ibu yang mengkhawatirkan perkembangan kecerdasan anaknya yang dinilai lambat dari anak-anak sebaya tengah curhat pada seorang teman ngegosip  arisannya.

Si temen berkeok, “Jeung, mestinya kamu banyak-banyak bersyukur. Lihat tuh, si ibu tetangga sebelah, anaknya cacat mental. Sampai sekarang usia SD belum juga bisa ngomong.  Sementara anakmu kan udah lincah, sehat, lucu … cuma sayang ya, belum bisa baca.”

 

 

Sepintas, tidak ada yang salah dari percakapan-percakapan random sehari-hari ini. Intinya berpesan agar kita bersyukur dengan mengamati orang yang bernasib lebih malang dari diri kita. Lalu, adakah yang salah dari hal ini?

Hmm… tidak juga. Itu memang bisa jadi salah satu metode bersyukur, dan sah-sah saja.

Terkadang, manusia memang butuh sesuatu yang konkrit. Sesuatu yang akan menguatkan rasa kebersyukurannya. Dan “sesuatu yang konkrit” itu adalah  kasus-kasus “kemalangan” yang bisa dilihat, didengar, dan diraba di sekitar dirinya. Namun ini bisa dibilang cara bersyukur ala anak TK. Metode tingkat rendah. Sama seperti ketika kita menjelaskan konsep “pahala” atau mengajarkan konsep berhitung kepada mereka. Karena belum sanggup mencerna konsep-konsep abstrak, segala sesuatunya mesti dibuat sekonkrit mungkin. Begitu tabungan pemahaman mereka akan yang konkrit ini sudah cukup banyak, baru mereka bisa mulai beralih pada hal yang abstrak.

***

“Syukur adalah bahagia. Bahagia adalah syukur. Dengan kita bersyukur, kita akan temukan kebahagiaan.”

Bagian ruwet lainnya dari metode bersyukur tahap mendasar ini, adalah bahwa kasus-kasus konkrit itu merupakan faktor eksternal yang berada di luar diri kita. Ia tak dapat kita kendalikan atau kita manipulasi sesuka hati. Apakah kita lantas mesti melihat orang lebih menderita dulu, baru kita bisa merasa lebih bahagia? Atau sebaliknya, kadar kebahagiaan kita berkurang saat mereka ketiban untung. Mungkin fenomena inilah yang mencetuskan ungkapan “Susah melihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah.” Karena fenomena itu mau tidak mau memainkan peran penting dalam takaran kebahagiaan diri kita sendiri. Naudzubillah…

Hayuklah, kita mulai belajar bersyukur cukup dari dalam diri. Kita mulai beralih dari bangku kelas syukur ala anak TK. Tengoklah hanya ke dalam diri. Sering-sering lakukan refleksi dan komunikasi dengan kalbu kita, bukan kalbu orang-orang lain. Mari kita senantiasa berusaha menerjemahkan keinginan sang Penggenggam kalbu itu dalam skenario hidup kita, dalam setiap langkah hidup kita.

Tak perlu lagi tengok kanan-kiri, tak usah risau bin usil dengan nasib-nasib orang sekitar kita. Semua ada takaran masing-masing. Setiap manusia hanya menempuh garis takdirnya. Ukirlah kisah hidup kita seindah mungkin. Ciptakan mahakarya yang kelak layak kita persembahkan kepada sang Maha Agung, Asy-Syakur,yang telah mengembuskan nafas syukur ke dalam fitrah kalbu segenap insannya. Amiiin.

 

#averylatepost

Iklan

My Sensitive Little Soul

Suatu malam saat menemaninya tidur, dengan tangan mendekap leher saya, saya dikagetkan oleh suara kecilnya, “Mama nggak boleh meninggal sampai aku jadi bapak-bapak.”

Sontak saya menoleh dari layar hape dan menumpahkan perhatian penuh kepadanya. Berbagai pertanyaan seketika berkecamuk di benak, “Mengapa out of the blue ia sampai berpikir begitu?” Terpikir pula berbagai jawaban untuk meredakan rasa takutnya. Saya merasa seakan harus menenangkannya dari mimpi buruknya. Hanya saja, ini bukan mimpi buruk. Ini adalah ketakutannya yang nyata.

Saya pun teringat, sayalah yang sesungguhnya menularkan ketakutan itu. Beberapa bulan belakangan saya memang cukup sering mengingatkannya agar bisa belajar lebih mandiri. Pergi tidur sendiri bila mengantuk, mandi sendiri, membereskan pakaian dan merapihkan mainannya sendiri. Pernah terucap oleh saya, bahwa ia harus mandiri demi kebaikannya sendiri karena mamanya belum tentu bisa selalu menemaninya. Kita tak pernah tahu umur. Bila amanah Mama menjaga Radi sudah selesai dan Mama sudah dipanggil pulang sama Allah (seperti Aki), Allah yang akan menjaga Radi langsung.

Tak disangka, nasihat itu membekas cukup dalam pada dirinya. Hingga ke malam hari itu, sekian lama kemudian. Saya pun akhirnya hanya bisa menenangkannya dengan berkata, “Insya Allah, Sayang. Kamu doain biar Papa Mama sehat-sehat terus, anak jagoan …”

Nyatanya ucapan itu tak cukup menenangkan hatinya. Ia pun tertidur malam itu dengan air mata masih membasahi kedua pipi sementara Mama hanya bisa menciumi dan memeluknya hingga ia lelap ke alam mimpi.

Ah, Nak, betapa bening dan halus hatimu. Dan betapa egoisnya Mama yang telah menularkan ketakutan terbesar Mama jika meninggalkanmu terlampau dini. Tanpa saya sadari bahwa bagi seorang anak, ketakutan ditinggalkan orangtua lebih menakutkan daripada ditakuti tentang neraka. Padahal bukankah selama ini neraka merupakan konsep yang saya hindari  untuk ceritakan kepada jiwanya yang masih suci dari dosa?

Ah Nak, sebelum menasihatimu, Mamalah sesungguhnya yang harus belajar lebih ikhlas dan lebih tegar. Bukan kamu. Belajar kemandirian tak perlulah diwanti-wanti dengan rasa takut. Yang perlu kita fokuskan saat ini adalah menciptakan begitu banyak momen dan kenangan indah bersama yang akan kamu bawa sepanjang kehidupanmu. Hingga kelak kamu tumbuh menjadi “bapak-bapak” yang paling tegar, paling bijak, paling baik dari semua “bapak-bapak” yang Mama kenal. 🙂

 

Mommy love u. :*

Menancapkan Akar Spiritual

Membesarkan anak di era keterbukaan dan di masa gadget merajalela seperti saat ini, banyak tantangannya—tantangan yang jelas belum ditemui di masa-masa sebelumnya. Banyak harapan yang tersemat dalam pengasuhan anak saya. Saya ingin anak saya bisa tumbuh menjadi seorang muslim yang cerdas, mendunia, dinamis, dan tidak gagap mengikuti perkembangan zaman. Saya ingin anak saya kelak pergi menjelajah dunia, tidak terkurung dalam tempurung. Kalau bisa, sejak remaja sudah mengikuti program pertukaran pelajar ke negara maju, belajar hal-hal baik dari mana-mana, sekaligus mengambil peran sebagai duta muslim yang cerdas, modern dan berakhlak mulia *amiiin*

Namun bersamaan dengan harapan itu, muncul pula kekhawatiran. Bagaimana jika keimanannya luruh akibat pergaulan dengan berbagai keyakinan dan isme-isme yang ada? Mampukah dia menjaga benteng keyakinannya tetap kukuh meski dia menjadi sosok satu-satunya di tengah keramaian? Terus menjaga shalatnya dan hubungannya dengan sang Khalik?

Karena itulah, di usianya sekarang yang baru lima tahun, sebelum dia berangkat menjelajahi dunia, sekaranglah saatnya yang krusial bagi saya untuk menanam fondasi itu. Mengukuhkan akar yang kuat menancap jauh ke bumi sehingga tidak mudah doyong diguncang badai dari luar.*bahasanya, euy*

 

Bismillah… di antara praktik penanaman akar spiritual ini, berikut yang saya upayakan:

  1. Setiap sehabis maghrib berjamaah ada waktu khusus untuk belajar mengaji dan meningkatkan interaksi kita dengan Al-Quran. No TV sampai isya. Murni belajar Al-Qur’an.
  2. Memilihkan SD berbasis agama, sehingga kongruen dengan penanaman akhlak islami.
  3. Setiap Minggu pagi, atas inisiatif Mamah mertua, beliau mengadakan program hafalan Qur’an keluarga. Sebenarnya, jujur, saya bukan orang yang ngoyo menghafal Qur’an dan tidak kurang berambisi untuk itu. Tapi, di hari pertama saya langsung termotivasi. Selain melatih sel-sel kelabu pada otak, insyaAllah berikhtiar menghafal juga menurunkan keberkahan dan menjadi kebiasaan keluarga yang langsung disaksikan oleh anak. Saya berharap, saat dewasa kelak, Radi akan selalu terkenang belajar mengaji dan menghafal Qur’an bersama keluarga di saung Ninin. Semoga kelak kebiasaan itu akan menjadi kenangan manis yang mengakar dalam dirinya dan selalu dirindukannya.

 

Yah, upayanya mungkin tidak seberapa. Tapi saya berharap, apapun yang akan dihadapinya di masa depan kelak; bagaimanapun ambisi, harapan, dan impiannya membawanya, kelak akan selalu ada sepercik kenangan yang mengingatkannya pada “jalan pulang.”

Wallahu’alam.

 

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah …” (QS. Jumu’ah: 10)

Saat Tiba Waktunya Memilih SD

Jeng … jeng …jeng

Ya, akhirnya tibalah waktunya bagi saya untuk memilah-milih SD bagi anak saya. Hmm..sebetulnya, Radi baru akan saya daftarkan masuk SD tahun ajaran depan saat usianya genap 7 tahun (karena anaknya masih betah di TK :D). Tapi untuk survei sekolah, lebih baik menetapkan pilihan lebih awal biar udah nggak galau pas sekolah-sekolah mulai buka pendaftaran. Ya kan?

Lagi pula, bagi saya memilih SD ini setahap lebih serius daripada saat memilih TK dulu. Lamanya waktu bersekolah selama rentang enam tahun adalah salah satu alasannya. Belum lagi usia 7 tahun hingga abege adalah tahun-tahun keemasan bagi pengembangan karakter anak. Memilih SD itu ibaratnya kita tengah memilihkan rumah kedua bagi anak kita, karena di sanalah dia akan menghabiskan sebagian besar porsi tahun-tahun keemasannya.

Berhubung kemarin suami lagi nggak ngantor dan mengusulkan survei bareng-bareng selagi Radi di sekolah, maka berangkatlah kami. Di luar perkiraan semula, ternyata kami sempat menjelajah ke tiga tempat meski hanya melakukan survei singkat.

Berikut secuplik review hasil pengamatan saya:

 

  1. SD Hikmah Teladan

Jadi, sekolah pertama yang kami survei adalah SD Hikmah Teladan. Saya cukup sering mendengar tentang nama SD HT ini, terutama dari lingkungan keluarga. Konon SD HT ini SD yang nggak mainstream dan memiliki program-program gebrakan yang cukup inovatif. Tapi dari segi jarak, lokasi SD ini terhitung yang terjauh dari rumah. Selama di perjalanan, saya sudah mewanti suami, kayaknya SD ini harus “wow banget” kalau sampai kami memilihnya. Well, here it goes…

Begitu sampai, kami ditunjukkan satpam ke arah gedung TU. Dan di sana, kami disambut seorang bapak yang bersedia menjelaskan tentang konsep SD HT (meski suara pesawat mendarat dan lepas landas sesekali memecah konsentrasi kami dan menenggelamkan suara pelan si bapak) *baru nyadar, lokasi SD ini mungkin agak-sedikit-terlalu dekat bandara*

 

Visi SD HT:

“Menjadi sekolah terdepan dalam menerapkan konsep pendidikan anak merdeka.”

 

SD HT ini banyak sekali peminatnya. Saat kami survei di bulan Januari, mereka sudah tutup pendaftaran untuk tahun ajaran 2018/2019. Beliau menyarankan bila kami berminat mendaftar untuk tahun depan, kami sebaiknya sudah mendaftar di bulan Juli saat tahun ajaran baru dimulai. Setelah mencantumkan kontak, kami nanti akan dihubungi saat sekolah melakukan sosialisasi/pengenalan kepada orangtua. Bila setelah sosialisasi, orangtua berminat, baru mereka diperkenankan mengisi formulir pendaftaran.

SD Hikmah Teladan tidak mengklaim sebagai SD Islam, tapi mereka menjalankan pengajaran selayaknya sekolah Islam. Terlihat jelas dari seragam murid perempuan yang dilengkapi kerudung, lalu ada pelajaran mengaji dan sholat dhuha di awal jam belajar setiap hari.

SD Hikmah Teladan adalah sekolah inklusif (menerima anak-anak berkebutuhan khusus, seperti anak dengan spektrum autis, ADHD, dan semacamnya). Satu kelas berisi 28 murid (26 murid reguler, dan 2 jatah murid berkebutuhan khusus) dengan 2 guru kelas dan 1 guru pendamping murid berkebutuhan khusus. Jam belajar dimulai pukul 07.30-13.50 (kelas 1 dan 2). Untuk kelas 3-6 sampai pukul 15.00 sore.

Program-program di luar kelas yang dijalankan sekolah saya akui cukup menarik. Di antaranya, ada program Wisata Buku (kegiatan berbelanja buku setiap 2 bulan sekali), Panggung Berani (memotivasi setiap anak agar pede tampil di depan umum), Unjuk Kerja (proyek bersama kelas), dan Family Day (outing sekali setahun bersama keluarga dan guru). Kegiatan humanioranya pun menarik (sebetulnya semacam ekskul) dan banyak pilihan. Siswa boleh memilih aktivitas humaniora yang diminati, mulai dari musik, memasak, sulap, merajut, catur, kepanduan, pencinta alam, kreasi daur ulang, … Dan murid diberi kesempatan dan waktu untuk mencobai berbagai kegiatan ini, sebelum kemudian menetapkan pilihan. Fleksibilitas ini cocok sekali bagi anak kecil yang masih perlu mencicipi berbagai pengalaman sebelum bisa menemukan minatnya dan menjalankannya dengan konsisten. Selain aktivitas humaniora yang dikelola sekolah, ada juga pilihan klub ekskul yang bekerja sama dengan pihak luar.

Terlihat sekali sekolah ini mengutamakan pada “proses” bukan “hasil”. Motto yang mereka sebarluaskan, “Berani Gagal, Berani Mencoba.” Setiap ada ajang lomba, mereka suka mendorong muridnya untuk turut berpartisipasi, tapi bukan titel kemenangan yang mereka harapkan. Targetnya, adalah agar siswa SD HT bersangkutan semakin percaya diri, semakin semangat belajar dan mencoba, serta mampu memperkaya pengalamannya. Demikian penuturan sang bapak perwakilan SD HT.

 

Biaya Pendidikan SD Hikmah Teladan Tahun Ajaran 2018-2019:

1.      Psikotes & Adm Rp.          300.000
2.      Uang Pangkal Rp.     12.250.000
3.      SPP & Catering Juli Rp.           870.000
4.      Seragam 3 setel Rp.           500.000
5.      Buku/LKS 1 tahun Rp.           500.000
6.      Uang Kegiatan/tahun Rp.           600.000
7.      Asuransi Kecelakaan Rp.             40.000
Total Rp.    15.060.000

Bagi siswa inklusi ada tambahan Rp. 525.000 per bulan.

Saat kelas 3 SD, ada kenaikan biaya SPP.

Untuk tahun ajaran berikutnya (2019-2020) kemungkinan akan ada kenaikan 1 juta.

 

  1. SD IT Nur Al Rahman

Sekolah berikut yang kami kunjungi, SDIT Nur Al Rahman. Lokasinya paling convenient dari rumah alias paling dekat. Begitu tiba di lokasi, kesan pertama yang kami dapatkan adalah betapa sekolah ini sangat mengedepankan prestasi. Ada spanduk super-jumbo di muka sekolah yang memajang foto-foto siswa yang baru-baru ini menyabet prestasi, lengkap dengan identitasnya (entah itu Olimpiade Fisika, Matematika, Taekwondo, and so on). Karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat celingak-celinguk sedikit mengamati gedung dan ruang kelasnya. Fasilitas sekolahnya sih cukup wah. Untuk kelas satu, toilet disediakan di dalam kelas. Ada deretan wastafel di pinggir lapangan (mungkin untuk membiasakan anak mencuci tangan dan piring bekal masing-masing dengan mandiri). Lapangan dan area bermain terlihat agak minimalis. Apalagi dengan adanya pembangunan gedung SMP baru (plus gedung TK) kok terkesan semakin berdesakan dan berebutan lahan.*ini kesan pengamatan dari luar yah karena kami memang tidak sempat menjelah keseluruhan* Konon katanya ada fasilitas kolam renang juga di sini.

 

Visi SD IT Nur Al Rahman:

“Berakhlak mulia, mandiri, dan unggul dalam prestasi menuju insan Indonesia bermartabat, cerdas komprehensif dan kompetitif.”

 

Jam belajar untuk kelas 1 dan 2 dimulai pukul 07.00-13.45, sementara kelas 3-6 dari pukul 07.00-15.30 (bada ashar). Jam belajar diawali dengan tahfidz selama 2 jam pelajaran. Ada 28 murid di kelas, dengan 2 guru. Sayang, sepertinya tidak ada program-program khas sekolah di luar jam belajar yang ditawarkan. Maksud saya, adalah program kegiatan yang menjadikannya “beda” dari sekolah lain, program yang bisa mendukung pengembangan diri siswa selain dari kegiatan ekskul (entah di bidang literasi, kepercayaan diri untuk tampil, atau apalah.) Entah memang tidak ada, atau bapak TU yang menjelaskan yang kurang tahu. Beliau hanya menyebutkan soal field trip setiap semester (yang saya tahu setiap sekolah pun ada). Saya pun membolak-balik lembar brosur, tapi memang program semacam itu tidak disebut sedikit pun. Yang dicantumkan di brosur, hanya pemaparan target SQ, IQ, EQ dan PQ (Physical Quotient) bagi para siswa. Poin-poin target akademisnya cukup spesifik dan ambisius sih (buat saya)—nilai rata-rata ujian siswa adalah 80, hafal AlQuran 2 juz (juz 29&30) plus hadits-hadits dan doa-doa pilihan, mampu menyusun karya ilmiah. *hmm kelihatannya sekolah ini agak terlalu condong “otak kiri”*

Ekskul yang ditawarkan sih cukup beragam (Pramuka, Tari, Vokal & Nasyid, Menggambar, Kaligrafi, Dokcil dan Marching Band). Meski pelajaran komputer di SD dihapus dan digeser ke ekskul. Sesi tanya jawab pun ditutup dengan dorongan agar anak saya sesegera mungkin didaftarkan di sana mumpung masih ada kesempatan. Oh ya, dari beliau, saya jadi tahu kalau sekarang nggak ada tes calistung untuk masuk SD. Hanya ada psikotes, alias tes kematangan siswa. Beliau menjamin, selama anaknya cukup umur (sudah 6 tahun) dan bisa mengikuti pelajaran, pasti masuk. *tapi anaknya kepingin TK B dulu, pak* 😛 Lagi pula, dengan bobot akademis seperti yang diterapkan di SD IT Nur Al Rahman, sepertinya saya tidak akan menggegas Radi untuk segera masuk. Bagi saya, sebaiknya si anak lebih puas bermain dan lebih matang dulu sebelum tiba waktunya saya bebani dia dengan tumpukan target IQ/EQ/SQ/PQ sebagaimana tercantum di brosur.

 

Biaya Pendidikan SD IT Nur Al Rahman Tahun Ajaran 2018-2019

1.      Infak Pendaftaran Rp.    450.000
2.      Infak Pengembangan Rp. 13.500.000
3.      Infak Kegiatan Rp.    1.800.000
4.      SPP/bulan Rp.    1.150.000
5.      Seragam Laki-Laki Rp.    1.200.000
             Seragam Perempuan Rp.    1.400.000
Total Murid Laki-Laki Rp. 18.100.000
Total Murid Perempuan Rp. 18.300.000

SPP ada kenaikan saat kelas 3 SD.

 

  1. SD Plus Nurul Aulia

Kunjungan tur singkat keliling SD kami berakhir di SD Plus Nurul Aulia. Ia tidak mengklaim sebagai SD IT, tapi karena memiliki kurikulum tambahan di luar dari kurikulum nasional, jadilah nama sekolahnya ditambah dengan embel-embel SD Plus. Dari segi lokasi, letaknya di tengah-tengah antara SD HT dan Nur Al Rahman. Tak begitu jauh, tak begitu dekat.

           

Visi SD Plus Nurul Aulia:

“Dengan iman dan takwa, SD Plus Nurul Aulia siap menjadi sekolah dasar termaju, berbudaya, serta tangguh menghadapi tantangan global.”

           

Untung, sesuai dengan namanya, saya mendapat kesan positif (Plus) pula begitu memasuki sekolah. Saat tiba, satpam langsung mengantar kami ke ruang tata usaha, dan di sana kami disambut dengan hangat meski kami datang bukan untuk mendaftar, bukan pada masa sosialisasi dan sedang jam belajar. Ada dua wanita di ruangan itu dengan baju pink cerah yang menyambut kami dan siap menjawab segala pertanyaan kami dari A hingga Z. Sama sekali tidak tampak kelabakan meladeni dua orang tamu tak diundang yang ujug-ujug mau survei.

Jam belajar untuk SD kelas 1 & 2 dimulai pukul 07.00-13.30. Untuk kelas 3-6 SD dari pukul 07.00-14.30. Sekolah diawali dengan shalat dhuha dan mengaji dengan metode yanbu’a *si wanita TU itu kemudian dengan sigap mengambilkan contoh buku pelajaran mengajinya untuk ditunjukkan kepada saya*. Menariknya, sebelum sesi belajar dimulai, ada program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) yang diadakan rutin selama 15 menit di awal sekolah. Ini memang bukan program baru, dan beberapa sekolah memang sudah menggalakkan program GLS sesuai himbauan pemerintah. Namun mengetahui SD Nurul Aulia turut mengadopsi kebijakan ini, dan membayangkan nanti saya menyiapkan buku cerita favorit Radi untuk dibawanya ke sekolah (selain buku teks pelajaran) jadi nilai plus tersendiri. *meski hanya 15 menit* Selain program GLS, ada juga “gerobak baca” dan penghargaan “Duta Baca” bagi siswa. Jadi untuk program penggiatan literasi, SD Nurul Aulia lumayan okelah.

Selain kurikulum nasional, SD Plus Nurul Aulia memberlakukan kurikulum tambahan, meliputi: tahfidz, yanbu’a, bahasa arab (mulai kelas 4), bahasa inggris, komputer, pramuka. Ada 24 murid di kelas, dengan 2 orang guru.

Ada ekskul wajib, yaitu renang dan bulu tangkis. Masing-masing diadakan setiap 2 minggu sekali saat jam pelajaran (bukan tambahan waktu pelajaran di hari Jumat atau Sabtu), selang-seling antara murid laki-laki dan perempuan (kalau minggu ini laki-laki lagi renang, perempuan bulu tangkis, begitu sebaliknya). SD ini memiliki kolam renang sendiri. Pilihan ekskulnya cukup banyak: mulai dari olahraga, keagamaan, seni dan bahasa, science, dokcil dan paskibra. Ada juga klub/sanggar: robotic, taekwondo, art and craft, english club, cooking class, cinematography, … *jadi pusing mo milih yang mana*

Beberapa program kegiatan yang rutin diadakan, di antaranya: GLS, periksa kesehatan umum, gigi & mata, bank sampah, kegiatan 3R (reduce, reuse, recycle). Oh ya, Nurul Aulia memiliki konsep sebagai sekolah berwawasan lingkungan dan telah memenangkan beberapa penghargaan sebagai “green school”. Kelihatan dari suasana sekolahnya yang cukup asri dan rapi. Nurul Aulia juga memiliki program penghargaan yang diberikan bagi siswa-siswanya. Ada penghargaan Student of the Month, Class of the Month, Duta Lingkungan Hidup, Duta Baca, Dokcil, Tahfidz Terbaik, Tilawah Terbaik, Hafidz Juz 30 (bukan 30 juz :P). Sapa tau Radi nanti jadi semangat meraih pin Student of the Month atau Duta Baca yaa hihi… Tapi menilai dari karakternya, kemungkinan besar si bocah malah akan menghindar sejauh-jauhnya wkwkkk :D.

 

Biaya Pendidikan SD Plus Nurul Aulia

1.      Pendaftaran dan Tes Kematangan Rp.      450.000
2.      SPP/bulan Rp.      675.000
3.      Dana Sumbangan Pendidikan Rp. 11.900.000
4.      Kegiatan Rp.    2.300.000
5.      Seragam Sekolah Rp.    1.320.000
6.      Buku Rp.        550.000
Total Rp.  17.195.000

SPP di atas belum termasuk biaya katering (10.000/hari belajar efektf). Tambahin aja kira-kira 200.000. Tapi katering hanya diwajibkan untuk kelas 1-2, mulai kelas 3 SD siswa boleh memilih untuk membawa bekal makan siang sendiri dari rumah.

SPP flat dari kelas 1 sampai tamat.

***

Demikian sekilas “review-reviewan” tiga SD (versi sayah) di lingkungan sekitar saya. Untuk memilih sekolah nanti, semua kembali ke visi misi yang dipegang orangtua karena pandangan masing-masing terhadap pendidikan anaknya bisa berbeda-beda. Saya akui, rasanya mustahil bisa menemukan satu sekolah yang SEMPURNA, yang semua poinnya sesuai dengan keinginan kita. Tapi minimal ya pilihlah yang paling mendekati, yang paling sreg bagi orangtua dan (yang terpenting) paling sesuai bagi kondisi anaknya. Berikut, tinggal kita tambal yang kurangnya di rumah. Ingat, rumahlah madrasah pertama anak, dan guru-guru di sekolah hanya pengajar sekunder.

 

 

“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”

                                                                              —Ki Hajar Dewantara

UPDATE:

4. SD Tridaya Tunas Bangsa

 

Berhubung kemarin berkesempatan menyurvei satu SD lagi yang tampak menjanjikan, saya tuliskan di sini reviewnya:

 

Slogan SD Tridaya, “Ramah, Unggul dan Berkarakter.” Begitu saya masuk ke ruang administrasi, ada seorang pegawai wanita yang dengan ramah menjelaskan tentang konsep sekolah plus membawa saya tur keliling sekolah. Yang paling membuat saya terkesan dari SD Tridaya adalah fasilitasnya. Untuk SPP seharga itu (masih di bawah SD Nurrahman dan Al-Azhar) sarana dan prasaranya terbilang cukup wow. Setiap kelas dilengkapi TV LED, komputer, ruang kelas lega, ada pojok baca (reading corner). Ada art class, komputer class, improvement class (untuk terapi ABK), music class. Bahkan sekarang sedang dibangun fasilitas lift di gedung empat lantai ini. Sayang mushola agak mungil dan tidak ada masjid di area sekolah. Minusnya juga, saya tidak melihat adanya area lapangan hijau. Dan ini selera pribadi ya, tapi kalau saya entah mengapa kurang suka sekolah tanpa taman dan lapangan hijau, dan hanya menghabiskan waktu bermain di dalam gedung (hm.. a bit claustrophobic, maybe :P). Dan karena gedung bercampur dengan PG/TK di lantai satu, kelas 1 baru di lantai dua, rasanya agak kelewat ramai di dalam satu gedung tertutup itu.

Untuk program belajar, saya acungi jempol. Kegiatan belajar sangat dinamis dan kelihatan banget sekolah ingin menanamkan cara belajar yang fun fun fun. Ada program unjuk kabisa yang melatih anak untuk pede tampil di depan umum, kegiatan cooking, membuat project, pelajaran alat musik. Ada cukup banyak pilihan ekskul juga (yang populer, membuat animasi). Untuk program literasi, ada jam belajar khusus untuk anak berkunjung ke perpus dan meminjam buku, selain juga ada pojok baca yang memuat rak buku di setiap kelas. Saya suka banget dengan konsep setiap anak memiliki buku jurnal (selain buku komunikasi dgn orgtua). Anak jadi dibiasakan untuk menulis dan mengekspresikan diri. Minusnya, kalau saya lihat, mungkin karena sekolah ini baru berdiri empat tahun, jadi belum ada jebolan alumninya dan kita belum bisa menakar kemampuan bersaing lulusannya dengan SD-SD lain. Siswa paling tua baru duduk di kelas 4 SD tahun ini, kelas 5 dan 6 baru ada ruangannya doang.

Oh ya, SD Tridaya tidak mengaku sekolah Islam, tapi berhubung 100% muridnya beragama Islam saat ini, kurikulumnya sangat Islami. Ada pembiasaan shalat Dhuha setiap pagi, ada muroja’ah hafalan dan belajar baca Quran. Murid perempuan disiapkan kerudung sebagai tambahan seragam tapi tidak diwajibkan. Murid laki-laki bercelana panjang. Setiap kelas berisi 25 murid dengan 2 orang guru. Jam belajar untuk kelas 1 SD mulai pukul 7.30 – 13.30. Kalau ikut ekskul, biasa mulai pukul 14.30-15.30 (weekdays). Yang perlu dicatat, SD Tridaya hanya membuka sedikit kuota bagi murid dari luar. Prioritas diperuntukkan bagi para alumni TK Tridaya lebih dulu sementara mereka hanya menerima 50 murid (2 kelas) setiap tahunnya. Jadi kalau tertarik mendaftarkan anak untuk bersekolah di sini, harus buru-buruu.. siapa cepat dia dapat 😛  Kalau mau browsing-browsing lebih jauh, berbeda dari kebanyakan SD, situs sakolatridaya.com cukup aktif.

 

Biaya Pendidikan SD Tridaya Tunas Bangsa (tahun ajar 2018-2019)

1.      Pendaftaran dan Tes Kematangan Rp.      550.000
2.      SPP/bulan Rp.      800.000
3.      Dana Sumbangan Pendidikan Rp. 13.000.000
4.      Kegiatan Rp.    2.200.000
5.      Seragam Sekolah Rp.    1.000.000
Total Rp.  17.550.000

SPP di atas belum termasuk biaya katering (10.000/hari belajar efektf). Tambahin aja kira-kira 200.000. Tapi katering tidak wajib, boleh membawa bekal snack dan lunch dari rumah.

SPP flat dari kelas 1 sampai tamat.

 

(Menuju) Hari yang Produktif

Tahun baru—tahun 2018—belum lama berlalu. WhoooT?… Udah tahun 2018 aja..

Kok rasa-rasanya tahun-tahun sebelumnya berlalu begitu aja.. tanpa jejak.. tanpa prestasi berarti … tanpa pertumbuhan diri. Rasanya kebisaanku ya gitu-gitu aja *huhu*

Mungkin ada siiih jejaknya … Radi sekarang udah lima tahun. Udah makin pinter. (trus apa lagi?) *huhuhiks*

But still, it seems I let my days gone wasted although I could have done more.

Bukankah waktu itu pun amanah?

Soo, masih di momentum awal tahun, saya mencoba menginisiasi sebuah rutinitas baru (dengan metode yang tidak sepenuhnya baru siih). Setiap pagi, saya akan membuat “my to-do list” di sebuah notes kecil. I wont write my humdrum everyday chores (such as wash and ironing clothes) on my to-do list. Saya hanya akan menorehkan rencana aktivitas menyangkut target profesional (menulis), target pendidikan Radi (aktivitas bermain & belajar sama anak), target pertumbuhan-diri (belajar bahasa asing, baking, mengkaji ilmu ukhrowi, etc), target kebugaran (bersepeda statis 10 menit, renang, yoga, etc), dan tak kalah penting … doing hobby (aka crosstitching). 😛

 

 

 

Saya akan tuliskan rencana aktivitas di buku jurnal ini setiap pagi sembari sarapan, dan setiap malam saya akan mereview hal-hal yang saya kerjakan (atau tidak) dengan ceklist. Saya merasa upaya mencatat aktivitas di buku jurnal setiap hari ini sangat dibutuhkan untuk menjadikan hari-hari yang saya lalui lebih produktif. Minimal, saya jadi tahu kemana hari-hari itu berlalu begitu saja.

 

Wish me luck!

 

UPDATE:

Ternyata eh ternyata, agak susah juga ye menuliskan target agenda per harinya. Ujung-ujungnya, saya lebih banyak melakukan “mental-note”, nyatet dalam hati aja hehehe

Membesarkan Anak Bilingual

Kemarin saya sempat menghadiri acara bincang parenting bertema “Raising a Bilingual Child for Non-native English Speaker Parents”  yang disampaikan oleh mbak Yoke Wulansari di Pustakalana. Menarik sekali temanya. Sayang sekali jika tidak saya catat secuplik rangkumannya. Semoga bermanfaat. Here it goes …

Setiap keluarga pasti memiliki visi dalam membesarkan dan mendidik anak. Mendidik anak menjadi seorang bilingual harus menjadi keputusan kompak antarsuami istri, mesti dijalankan secara konsisten dan prosesnya jangka panjang. You (and the CHILD) will only reap the benefits in the long-run. Jadi jangan berharap instan.

Tapi sebelum beranjak lebih jauh, sebenarnya apa sih definisi bilingual itu sendiri? Definisi yang disampaikan seorang pakar bahasa (linguist) asal Amerika, Leonard Bloomfield, ini mungkin bisa cukup menjelaskannya:

“Bilingualism is a native-like control of two languages.”

Jadi, seorang anak dikatakan bilingual jika dia memiliki penguasaan dua bahasa dengan sama fasihnya. He could switch between mother-language (majority-language) and minority-language with ease. Bukan sekadar mengerti bahasa kedua secara pasif, namun bicara tergagap-gagap. Seorang bilingual memiliki kefasihan bahasa kedua sama seperti seorang “native-speaker”. Nah, itulah tantangan kita sebagai orangtua yang bukan penutur asli bahasa kedua. Saya bukan seorang anak bilingual, tapi mempunyai cita-cita membesarkan anak bilingual (bahkan trilingual—Indonesian, English, and of course, Sundanese). Apalagi setelah tahu banyaknya keuntungan yang dimiliki seorang anak yang dibesarkan secara blilingual, keinginan itu pun semakin mantap.

Saya hanya akan menuliskan segelintir saja manfaatnya (yang sungguh bejibun adanya). Di antaranya, keuntungan secara kultural dan komunikasi: kemampuan mengakses literasi dari “dua dunia” jelas akan memperluas wawasan dan memperkaya diri sang anak, mengembangkan kemampuan toleransi dan apresasi akan keragaman, membuka pintu-pintu kesempatan di bidang pendidikan dan pekerjaan secara global. Belum lagi keuntungan kognitifnya, seperti kreativitas, multi-tasking, sensitif akan komunikasi, fokus, fleksibel, dan terbiasa berpikir kompleks. Menurut penelitian, anak yang dibesarkan secara bilingual terbiasa berpikir cepat dan karena otaknya selalu dibenturkan dengan konflik konsep antardua bahasa, perkembangan serabut-serabut halus otaknya jadi semakin aktif. Sebelumnya saya juga pernah baca di sebuah artikel bahwa belajar bahasa asing itu mampu mencegah kepikunan dini (ini mungkin buat emaknya :P).

 

Mengapa belajar bahasa asing sebaiknya dimulai semenjak kecil, dan apakah anak tidak akan kewalahan jika dicekoki banyak bahasa sejak dini?

Nah, inilah kesalahan asumsi kebanyakan orang, karena faktanya, anak-anak belajar bahasa itu sama naturalnya seperti mereka belajar melompat, berlari, melukis, bermain. Bagi seorang anak, bahasa itu diperoleh (acquired) alih-alih dipelajari. Language acquisition is a by-product of playing and interacting with people.

Selain itu, karena anak-anak menyerap apa yang didengarnya, mereka lebih mungkin memiliki pelafalan mendekati “native-speaker”. Anak kecil juga belajar bahasa asing melalui penyerapan langsung. Beda kasusnya, jika mereka baru mulai belajar di usia belia atau remaja. Pada saat itu, mereka akan memproses bahasa asing itu melalui filter “bahasa ibu” mereka, sudah tidak secara langsung.

 

Strategi Mengajar Bilingual

Setelah kedua orangtua kompak menetapkan tujuan mendidik anak sebagai penutur dua (atau tiga) bahasa, langkah berikut yang mesti diputuskan adalah memilih strateginya. Ada tiga strategi yang biasa digunakan:

  • OPOL: One Parent One Language. Cocok diterapkan bagi pasangan beda bangsa.
  • ML@H: Minority Language at Home. Cocok diterapkan bagi keluarga yang sedang bermukim di luar negeri. Misal, keluarga yang sedang tinggal di Jepang. Di luar sang anak tentu akan menggunakan bahasa Jepang (apalagi jika sudah bersekolah), sementara di rumah orangtua tetap membiasakan bahasa Indonesia agar bahasa ibu sang anak takkan luntur.

Suami saya yang dibesarkan bilingual juga dahulu menggunakan strategi ini (Di komunitas menggunakan bahasa Indonesia, di rumah sehari-hari berbicara bahasa Sunda).

  • Time & Space. Metode ini paling fleksibel dan paling banyak digunakan. Orangtua menetapkan waktu-waktu mereka menggunakan bahasa kedua, misal: setiap sore setelah mandi, setiap waktu story-telling, di hari-hari tertentu dalam seminggu, family outing, etc. Usahakan setiap hari ada sesi menggunakan bahasa kedua.

 

Tips … Tips … Tips!

Hal yang bisa kita lakukan saat kita berniat mengajarkan bahasa kedua kepada anak kita:

  • Rencanakan sebaik-baiknya. Planning is key.
  • Tetapkan strateginya, dan kompakkan diri dengan pasangan.
  • Cari lingkungan yang mendukung. Misal, rutinlah bertemu dengan keluarga yang juga menerapkan upaya yang sama, berpartisipasilah dalam klub bila ada, dan lain sebagainya. Lebih bagus lagi bila bisa rutin berbincang dengan native-speaker. (Bila anak sudah cukup besar, mungkin bisa mencari kesempatan mengikuti program tukar-budaya).
  • Selaku orangtua yang “memberi” bahasa kedua, selalu perbaiki dan tingkatkan kemampuan berbahasa asing kita sendiri, mulai dari pelafalan, tabungan kosakata, dll. Ingat, kita adalah role model sebagai penutur bahasa kedua (atau ketiga) bagi anak. Sementara anak peniru ulung dan kepercayaan mereka akan cepat rusak kalau memerhatikan kemampuan bahasa kedua kita sendiri pas-pasan. Kita pun tidak ingin menjadi sumber yang salah bagi anak. Sudah banyak aplikasi pembelajaran bahasa yang bisa kita gunakan, lengkap dengan pelafalannya. Belajar, belajar, belajar!
  • Awalnya, kita mungkin akan merasa canggung menggunakan bahasa kedua bersama anak. Tapi dalam prosesnya, perlahan-lahan rasa canggung itu akan hilang dengan sendiri. Jangan pula terintimidasi dengan omongan orang sekitar yang mungkin mempertanyakan upaya kita. People will always talk. Yang penting, kembali kepada visi keluarga di awal. Bukankah setiap keluarga memiliki visi mendidik anak masing-masing?
  • Start early! The earlier the better. (Sebagian alasannya sudah disebutkan di atas).
  • Make it fun and interactive. Inspire joy in the experiences of the minority language. Talk, read aloud, play games, use music and other media. Yang perlu diingat, tidak cukup mengembangkankan bahasa asing anak dengan hanya mengandalkan aplikasi games-games edukatif berbahasa asing atau tontonan youtube, cbeebies, etc. Kunci sukses mengajarkan bahasa adalah dengan interaksi bersama manusia lain. Talk, talk, talk and read, read, read. Kita juga bisa menggunakan “monolingual assistant.” Misalnya, Radi punya boneka tangan bernama “Mr. Clown” yang hanya bicara bahasa Inggris.
  • Consistency! Efforts must be consistent but also flexible to adapt.
  • Commitment! The passion you feel for raising a bilingual child must be strong enough to fuel the long-term success you seek. Seperti yang awal dibilang, prosesnya ini benar-benar jangka-panjang dan tidak instan. (Adakah yang instan dari sebuah proses pendidikan?)

 

Books n Mr Clown

Mr Clown and the books borrowed from local library

Saat acara bincang parenting berlangsung, sejumlah pertanyaan sempat mengemuka.

Q: Apa yang mesti kita lakukan jika kita telah menetapkan bahasa kedua yang ingin dibiasakan pada anak, tapi kemudian ada pandangan dari keluarga besar untuk belajar bahasa lain lagi? Apakah anak nanti akan kebingungan?

A: Itu tidak masalah. Jika, misalkan, kakek/neneknya mengajarkan tambahan bahasa daerah, justru itu bisa memperkaya sang anak. Anak pun mengerti dan otaknya akan mengotak-ngotakkan bahasa-bahasa yang didengarnya; yang mana bahasa A, B, C. Peran serta keluarga besar bisa dimanfaatkan bila kita ingin mengenalkan bahasa daerah pada anak, tapi kita sendiri memiliki keterbatasan dalam bahasa tersebut. Namun orangtua tetap memegang kunci, dan kembali ke visi keluarga bersangkutan. Merekalah yang sehari-hari berinteraksi dengan anak dan yang menentukan bahasa yang ingin dikenalkan lebih dulu.

 

Q: Tidakkah anak akan cenderung berbicara campur-aduk atau berbahasa gado-gado?

A: Mencampur kata atau mixing words dikenal juga sebagai code switching. Terjadi saat anak menggunakan semua sumber bahasa yang dikenalnya untuk menyampaikan makna secara lebih tepat. Namun hal ini biasa terjadi hanya ketika anak berbicara dengan lawan bicara yang paham dua bahasa sasaran yang digunakannya dan bisa diminimalisir.

Tips untuk meminimalisir code-switching ini adalah dengan memastikan anak mendapat paparan bahasa dalam kondisi murni atau tidak tercampur (unmixed-form). Itu berarti kita mesti memonitor penggunaan bahasa kita sendiri dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mencampur bahasa. Jangan sampai dalam satu kalimat saja kita menggunakan dua atau tiga bahasa berbeda. Namun hindari menegur atau menghukum anak bila hal itu terjadi. Cukup ulangi kata-kata yang dimaksud senatural mungkin. Dalam prosesnya, begitu anak memiliki tabungan kosakata yang semakin kaya dari kedua bahasa itu dan dengan pembiasaan untuk menggunakan bahasa secara murni, code-switching bisa hilang dengan sendiri.

 

Nah, bahasa asing apapun yang ingin kita kenalkan pada anak–mau itu bahasa Inggris, Jerman, Mandarin, Arab, Jawa—luruskan niat. Jangan berangkat karena obsesi ambisius belaka, pun demi gengsi-gengsian. Yakinlah, bahwa itu adalah pemberian terindah kita kepada anak.

 

“Bilingual child-rearing is like breastfeeding: it is giving a child a tender gift. It costs you nothing and fits in perfectly with everyday life.”

–Jane Merril

 

 

Bilingual-meme-Bilingual-quote.-Im-bilingual-whats-your-superpower-300x300

 

Pocket of Happiness

Whenever I feel down or gloomy or uninspired, then I would take something out of my pocket.

That “something” are special moments I’ve collected from many years of my life.

Some are from my childhood memories. When Papi started his car engines, and we were all excited because he would take us cruising the street in early morning on our PJ’s.

The moment I opened my box of crossstitch and started working on a new pattern.

Some are from my adulthood also.

When my baby nephew was born and I had a chance to splurge him with many gifts.

When I hold my son on my lap while I stroke his curly hair and point to an aeroplane zooming the sky as our car drove.

I called them my pocket of happiness.

With them, I could chase my troubles away bcos I feel like I own the world.  And maybe, just maybe … I would have some extra pocket to share it with others.