Journaling

Waah..udah lama banget nggak nengok dan ngisi blog ini hihihi

Jujur, belakangan ini sayanya mulai kembali aktif menjurnal. Blog versi tradisional 😛

What can I say. I am a classic lady. *feel free to vomit*

Enak sih… Di sana saya bisa menulis secara lebih intim, bebas dan tanpa edit. Jadi keterusan. Cobain deh sendiri! 😛

But sometime somehow i would probably still post some stuff here. Probably just random stuff when I feel more like typing keyboards instead of using a pen.

 

Cheers.

PS: Kelamaan dianggurin sampai lupa gimana cara nulis dan posting di sini.

*kembali gaptek*

 

Radi Renang

Berbeda dengan anak kebanyakan yang biasa senang bermain air, Radi punya pengalaman yang “unik” dengan air, khususnya renang. Walau mandi (dengan air) tidak masalah untuknya, air dalam jumlah besar lain cerita. Bahkan mandi berendam dalam bak pun Radi selalu menolak.

Saat masih bayi, kami pernah mengajak Radi bermain ke pantai dan kolam renang namun tidak pernah berhasil menceburkan si bocah ke dalam air meski hanya untuk mengecipak-cipukkan kaki… Gimana mau dicebur ke dalam air, kalau mendekatinya aja si bocah udah jejeritan kayak mau digorok *elap keringet* Kami pun heran karena seingat kami Radi nggak punya pengalaman traumatis sama sekali dengan air. Ya sudah, akhirnya kami pun jadi jarang (banget) mengajak lagi Radi berenang.

Meski begitu, perlahan-lahan kami tetap mencoba untuk membantunya menaklukkan rasa takutnya terhadap air.

Berikut pengalaman Radi berkenalan dengan renang:

kala Radi bayi diajak main ke pantai

kala Radi bayi diajak main ke pantai *throwback*

Saat bermukim di Sydney, kami sempat mengajak Radi berenang di kolam renang kampus Papa. Tapi tidak berujung dengan si bocah menceburkan diri 😛

Kolam Renang UNSW

Kolam Renang UNSW

Awalnya diajak jalan-jalan mengitari kolam dulu..

jalan-jalan dulu kite...

jalan-jalan dulu kite…

Tapi berhubung doi ga bersedia juga nyebur, jadilah Radi duduk manis di tribune memandangi papanya renang.

Berhubung tetep ogah nyebur, jadi deh radi ngemil roti aja di tribune. Ceritanya biar dia ga kapok dibawa renang..hehe

nyam lapeer abis nonton papa renang :D

nyam lapeer abis nonton papa renang 😀

Belum berhasil nyebur ke kolam nih!

Well, better luck next time!

Maret tahun ini saya kembali mengajak Radi (2,5 thn) renang. Kali ini di Bandung.

Beginilah penampakan Radi saat diajak nyebur ke kolam..

Beginilah penampakan awal Radi saat diajak nyebur ke kolam..

Demi menenangkan si bocah yang tampak panik khawatir dicebur ke dalam kolam, kita traktir eksrim walls deh..

mm..boleh nih..

mm… Mama tau aja apa mauku..

Tapi penasaran juga, mandangin orang-orang renang dari kejauhan.

Tapi penasaran juga si doi, mandangin orang-orang renang dari kejauhan.. acting so cool bak pengawas kolam 😛

Pelan-pelan kita ajak duduk di tepi kolam dipangku teta M.

Asik juga kecipak-kecipuk kaki di kolam..segerr..

Asik juga kecipak-kecipuk kaki di kolam..segerr..

Ternyata sekejap kemudian, pas Mama balik dari ambil barang, Radi udah masuk ke kolam ajaah..whooot??!

Saking euforianya Radi yang baru mulai menaklukkan rasa takutnya, sehabis mandi dan ganti baju eh doi kemudian nagih nyemplung lagih..

Asik juga kayaknya nyebur babak kedua. Masa bodo Mama yg mesti mandiin aku lagih :D

Asik juga kayaknya nyebur babak kedua. Masa bodo Mama yg mesti mandiin aku lagih 😀

Buat orangtua yang mungkin ga punya pengalaman anaknya takut air kolam selama ini mungkin ga akan tahu rasa bangganya saya pada Radi..Ga papa deh kalo Mama mesti mandiin dan ngebajuin kamu berulang-ulang karena kamu yang pengin nyemplung lagi dan lagih..I’m so proud of you! You did it, boy!

As a reward, bolehlah kamu makan eskrim lagih 😀

santaiiii..

santaiiii..

Buah dari pengalaman ini, Radi mulai mau deh mandi berendam di bak mandi..hihi.. Well done, boy!

Sore langsung teler gara-gara renang dua ronde :D

Sore langsung teler gara-gara renang dua ronde 😀

Membiasakan Anak Bertanggung Jawab atas Diri Sendiri

Semenjak dulu, sejak jaman belum punya anak, saya sudah mendambakan kelak ingin membesarkan anak yang berjiwa mandiri. Yang pandai bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Mungkin itu berangkat dari pengalaman masa kecil saya sendiri. Sedari kecil saya tak pernah “dilayani.” Ibu saya membesarkan lima anak tanpa pengasuh (hanya ART yang bertugas memasak dan membereskan rumah tok). Semua urusan anak dipegang langsung oleh tangan ibu saya. Otomatis saya diharapkan tumbuh lebih mandiri. Saya nggak pernah ingat makan disuapi, atau tas sekolah dijinjing ibu, atau barang-barang pribadi disimpan dan dirapikan orang lain.

Itu sebabnya saya tak ingin mempekerjakan bibi yang khusus mengasuh anak. Saya ingin anak saya belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Mengurus diri dan barangnya sendiri. Saat pulang sekolah, tidak menaruh tas dan kaus kaki di mana saja, baju kotor di mana-mana, piring makan dan sisa bungkusan sekehendak hati lantas simsalabim semua barang-barang miliknya sudah tersimpan rapi di tempatnya. Saya khawatir kebiasaan ini akan berimbas sampai usia dewasanya hingga kelak di alam bawah sadar anak, akan selalu ada si “bibi ajaib” yang membereskan segala-galanya. Oh nooo…

Sedari usia dini, saya sudah mulai menanamkan rasa kemandirian dan tanggung jawab ini sedikit demi sedikit pada anak, tentu disesuaikan dengan umur dan kemampuannya. Bukankah menanamkan kebiasaan baik seharusnya dimulai sedini mungkin? Alhamdulillah, sejak belum genap 3 tahun, Radi sudah menunjukkan kesadaran untuk membantu pekerjaan rumah emaknya (baca: bebersih dan merapikan barang-barangnya sendiri). Setiap melepas pakaian, baju-baju kotornya dia taruh di keranjang cucian. Sehabis mandi, Radi belum mau keluar kamar mandi dan dihanduk kalau belum membereskan peralatan mandinya ke tempatnya (sikat gigi, gayung, gelas kumur, mainan airnya). Setiap sampah selalu dibuangnya ke keranjang sampah. Malahan kalau berada di luar, Radi selalu semangat mencari tempat sampah untuk membuang sampahnya.

Berikut sejumlah kiat menanamkan kemandirian pada anak yang berusaha saya terapkan:

– I Am Not Your Maid

Jangan terlalu “melayani” anak. Untuk hal-hal yang masih dikira wajar, biarkan anak mengerjakannya sendiri. Sekalian mengajarkan konsep “kau harus berusaha untuk mendapat apa yang diinginkan.” Misal, mengambil peralatan makan sendiri ke ruang dapur. Kalau air tumpah karena perbuatannya, biarkan anak mengelap sendiri. Tentu sesuaikan dengan jenjang umur. Batita bisa saja dibantu, “Oh, tumpah. Tolong ambilkan lapnya di …. Nah, tinggal dielap tumpahnya, kan. Nggak usah panik.” Dalam penanaman kebiasaan, perhatikan kondisi anak. Jangan biarkan anak sampai frustrasi. Atau kalau kebetulan moodnya mungkin lagi nggak bagus, kita juga mesti bersikap lebih longgar.

– Empower Your Child

Ketika anak butuh bantuan, jangan dikerjakan dengan tuntas oleh kita sepenuhnya tanpa si anak tahu caranya. Misalnya, minta buka bungkusan makanan, mengikat tali, melipat pakaian, mengancing pakaian, merapikan selimut. “Dibantu” bukan berarti dihandle sepenuhnya. Biasakan untuk berkata: “Sini biar Mama bantu” ketimbang “Sini biar Mama yang kerjakan.” Tunjukkan kepada anak cara mengerjakan segala sesuatunya. Lama-lama kita akan kaget sendiri karena anak itu betul-betul memerhatikan.

– Lower Your Standard

Jangan terapkan standar terlampau tinggi dalam menilai kerapihan anak. Kalau setiap pekerjaan anak sedikit-sedikit dibereskan, lama-lama anak akan kesal sendiri. “Ya udah, ibu aja yang beresin kalau gituh…Kerjaanku toh selalu salah.” Melipat selimut agak awut-awutan, misalnya. Atau menyimpan celana kolor di bagian baju atasan… itu tak masalah selama tidak membahayakan jiwa anak… Beresin selimut molor sampai sejam alih-alih lima menit?… sekali lagi, ga masyaalah… Kita mesti tahu kapan saatnya mundur dan untuk tidak selalu turun tangan.  Hargai usaha anak yang sudah berusaha menyimpan barang pada tempatnya atau membereskan sesuatu.

– Setting

Pengkondisian rumah itu penting. Sebisa mungkin orangtua mesti menyiapkan setting di rumah yang akan memudahkan anak dalam upaya membersihkan dan merapikan barang-barangnya. Sediakan tempat sampah di setiap ruangan. Di kamar anak tata rak atau boks mainan yang mudah dijangkau oleh anak. Ajarkan pada anak bahwa setiap barang ada tempatnya masing-masing. Kemudian tunjukkan di mana letak tempat sampah, rak buku atau mainan, keranjang baju kotor.

– Reward

Mekanisme menanamkan kebiasaan baik dengan reward selalu bisa dipakai. Mengingat umur anak yang masih balita, saya hanya fokus memberi reward tanpa sanksi. Saya pikir pemberian sanksi baru bisa diterapkan di usia menginjak SD, ketika anak sudah semestinya mengerti apa yang dituntut sebagai kewajibannya.

Action Speaks More Volume!

Ini yang terpenting. Orangtua mesti menjadi teladan pertama bagi anak. Kalau tiap hari mamanya pungutin ini itu yang berceceran, diam-diam anak memerhatikan dan akan mengadopsi kebiasaan itu. Atau minimal setiap penghujung hari sebelum tidur, kamar sudah rapi. Ini akan tertanam di alam bawah sadar dan terbawa sampai anak besar nanti. Ketika kamar sudah kayak kapal pecah, anak nggak akan betah… gatel pengin ngeberesin.. (speaking from experience :P)

Semua pembiasaan mesti dimulai sejak masa awal kehidupan. Nggak bisa kita beragumen, nanti toh kalau sudah besar bisa dibilangin… Oh, noo, kalau sudah besar akan lebih susah lagi, karena hal ini kembali ke PEMBIASAAN. Dan konon katanya, lebih mudah untuk menumbuhkan kebiasaan baru daripada mengubah kebiasaan lama yang sudah mendarah daging. Saya percaya upaya penanaman kemandirian ini adalah wujud cinta kasih kita pada diri anak. Dengan begitu, kita telah membantu anak agar kelak dia tumbuh menjadi manusia mandiri yang tidak akan merepotkan orang lain tanpa disadarinya. Manusia yang pandai bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan tidak hanya tahu dilayani. Amiiin…

10423657_870030603043486_8288671668257745434_n

Banana Oatmeal Cupcake

Bahan:

2,5 pisang lumatkan (2 pisang besar, 1 kecil)

5 sdm oats

2 sdm tepung pecah beras (bisa diskip)

1 sdm minyak zaitun

2 sdm madu (sebagai pengganti gula)

sejumput garam

sejumput vanili

1/4  cangkir air

Taburan kismis buat tambahan

Cara Bikin:

Campur semua bahan dalam satu wadah. Tuang dalam cetakan cupcake.

Panggang dalam oven bersuhu 200 derajat Celcius selama kurang lebih 20 menit.

Hasil Eksekusi:

banana oatmeal cupcake

I Love it!

It’s chewy ‘n yummy ‘n a great healthy snacks 😛

Sumber resep: http://www.chocolatecoveredkatie.com (dengan mofifikasi)

I Thank You

I Thank You for the memories from my early days.

They are my source of inspiration. My most valuable life lessons.

 

I Thank You for the family whom I’ve grow up with.

We’ve been through a lot together.

However different we may have grown, I love them to pieces and nothing can replace them in my heart.

 

I Thank You for my new family who has welcomed me with open arms.

Having a large extended family by my side has been my lifelong dream.

 

I Thank You for the companion of this wonderful guy that You have sent me.

He has truly been my solid rock. May we be a couple in heaven and earth. Amen.

 

I Thank You for my circle of friends. They all bring laughter, joy, and colour to my world.

 

I Thank You for the ultimate gift of all, my bundle of joy, the answer of my prayer, my son, Radinek.

Having him really taught me a lot about life.

Since then, all of my other wishes seems trivial and greedy. His presence has given me much more than I could’ve asked for.

 

I Thank You for my journey so far.

My hapiness has taught me to be more giving.

My trials has taught me to be a humble piece of human being.

 

I Thank You for this 34 years of my life.

I am trully blessed.

Scary Tales

i scream

Judul : I Scream, You Scream (Scary Tales 2)
Penulis : James Preller
Penerjemah : Nuraini Mastura
Penyunting : Aan Wulandari
Tebal : 85 hlm
Cetakan : Februari 2015

Penerbit: Noura Books

Sinopsis:

AHHHHHHHHAHAHA!
Selamat datang. Silakan duduk. Pasanglah sabuk pengamanmu, yang nyaman dan kencang. Ada sebuah kisah yang ingin kami ceritakan. Namun, waspadalah. I SCREAM, YOU SCREAM! bukanlah cerita biasa. Ini adalah cerita yang menakutkan.
Perkenalkan, Sam Carver, seorang bocah biasa dengan selembar tiket sangat istimewa di sakunya. Tiket ini akan mengantarkan dia dan teman barunya ke sebuah wahana paling ganjil yang akan membuat mereka menjerit sekencang-kencangnya.

zombie

Judul           : Good Night, Zombie (Scary Tales 3)
Penulis        : James Preller
Penerjemah : Nuraini Mastura
Penyunting : Noor H. Dee
Tebal           :90 hlm
Cetakan       : Februari 2015
Penerbit       : Noura Books
Sinopsis       :

OOOOOAAAANNNN,
OOOOAAAANNNN.

Selamat datang. Silakan duduk. Abaikan mayat hidup yang tersandung di luar sana. Kami akan menceritakan sebuah kisah kepadamu. Namun, waspadalah. GOOD NIGHT, ZOMBIE bukanlah cerita biasa. Ini adalah cerita yang menakutkan.

Perkenalkan, Carter, Esme, dan Arnold, tiga murid yang terkunci di dalam sebuah sekolah yang hampir kosong. Mereka bukan teman. Mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Namun, di ruang bawah tanah, seorang petugas kebersihan yang misterius sedang menunggu mereka. Dan di luar, sesuatu bergerak dari dalam kabut, bentuknya gelap dan merayap semakin dekat ….

Catatan Perkembangan Bicara Radi (part 2)

Saat Radi menginjak usia 2 tahun 8 bulan, kami membawa Radi ke biro psikologi Swaparinama, masih terkait kemampuan bicara Radi. Sejak distimulasi lebih intensif, kami lihat kemajuan bicara Radi masih seperti jalan di tempat. Ada sih perkembangannya, tapi masih seperti merayap pelan. Biar orangtuanya lebih tenang dan karena ingin berkonsultasi dengan pakar secara langsung dan mencari tahu stimulasi yang lebih tepat sasaran bagi putra kami, jadilah kami putuskan untuk membawa Radi diperiksa oleh psikolog anak dan terapis wicara di sana.

Untuk konsul dengan psikolog, sebelumnya kami buat janji via telepon. Proses observasi dilakukan beberapa kali. Pertemuan pertama baru wawancara kedua orangtua. Dilanjutkan dengan observasi anak oleh psikolog anak pada hari lain, kemudian observasi anak dengan terapis wicara pada kesempatan lain lagi. Total ada tiga kali kesempatan pertemuan untuk observasi, dan sekali jadwal pertemuan untuk konsultasi hasil observasi. Sekali sesi pertemuan dengan psikolog dikenakan tarif 125rb, dengan terapis wicara 100rb.

asyik main jungkat-jungkit di biro psikologi Swaparinama

asyik main jungkat-jungkit di biro psikologi Swaparinama

Dari hasil observasi, bu psikolog menyampaikan banyak masukan baru. Untuk terapi wicara, beliau menilai belum diperlukan untuk Radi karena usianya yang masih fase perkembangan bicara (2 tahunan). Nanti dilihat lagi aja kemajuannya sampai setahun berikutnya, kira-kira saat Radi 3,5 tahun. Mudah-mudahan Radi udah bicara casciscus yah saat itu..amiiin. Karena kecerdasannya tampak tidak ada masalah, sebetulnya masih bisa-bisa saja kalau Radi mau diperkenalkan dengan bilingual di rumah. Tapi harus imbang, kalau mau fokus bahasa Indonesia, perbanyak tontonan bahasa Indonesia juga (Selama ini Radi memang lebih sering mengonsumsi tontonan berbahsa english). Perkenalkan dengan lagu-lagu bahasa Indonesia, banyak-banyak mendongeng, dan menarasikan segala yang kita lakukan. (Itu sebetulnya bukan tips-tips yang baru dan sudah mulai diterapkan dari lama.)

             Beliau juga memaparkan anak yang mengalami speech delay ini bisa disebabkan beberapa faktor: Pertama, faktor dalam diri atau genetik (ada riwayat dalam keluarga). Dengan kata lain, bisa jadi memang anaknya malas bicara udah dari sononya. Untuk ini, orangtua mesti sering mengondisikan anak agar BUTUH bicara. Jangan sering-sering menerjemahkan keinginan anak lewat bahasa kalbu atau menjawab mewakili anak bila anak ditanya. Misal, ketika anak meminta sesuatu dengan hanya menggunakan bahasa isyarat, minta dia mengucapkan permintaannya itu. Bimbing dengan jelas dan sabar, tapi jangan dipaksa pula sampai anaknya merasa frustrasi. (Penting untuk selalu melihat mood anak). Faktor kedua, bisa dari lingkungan. Misal, anak kurang sosialisasi atau lingkungan sekitar anak yang menggunakan banyak bahasa sehingga anak mengalami yang namanya “bingung bahasa”. Radi dibesarkan dalam lingkungan tiga bahasa (bahasa Indonesia, Inggris, dan Sunda). Faktor ini bisa jadi yang menambah lambatnya perkembangan bicara Radi. Saya akui, kedua faktor ini ada lengkap di diri Radi. Riwayat keluarga, kurangnya sosialisasi dengan teman sebaya, dan bingung bahasa.

               Bila bicara dengan Radi saya dan suami sudah kompak untuk fokus menggunakan bahasa Indonesia saja, tapi saya jelas takkan melarang keluarga besarnya (Aki,Ninin dan kerabat lainnya) berinteraksi dengan Radi menggunakan bahasa Sunda. Saya pikir tak apalah, Radi memang anak produk kaya budaya. Toh pelan-pelan dia akan menangkap sendiri. (Untung saya nggak menambah dengan bahasa Ceko atau Palu..weleh makin mabok deh Radi :D). Jadilah sekarang bicara Radi campur aduk. Kadang keluar bahasa Sunda, kalau minta dicebok bilang “Beh-beh alias ombeh”, kalau mandi “Bak-bak alias Ibak”. Berbagai warna dan angka dia sebut dengan bahasa Inggris. Selebihnya, bahasa ibu pertiwi alias endonesiah. Cara bicara Radi memang rada-rada absurd. Radi masih sering menyingkat-nyingkat kata, seperti “Ki” untuk panggilan “Aki”, “Pah” dan “Mau” mestinya Jerapah dan Harimau. Tapi untuk kata-kata tertentu bisa disebut lengkap, seperti “Toko bayi”. Entahlah, memang rada ganjil… hahaha… 😀

           Menurut psikolog lagi, perkembangan bicara Radi akan lebih cepat bila dia banyak berinteraksi dengan teman sebaya. Jadi alangkah baiknya kalau dia bisa diikutsertakan ke dalam kelompok bermain di lingkungan sekitar, bisa formal maupun informal. Boleh juga dicoba teknik pijat mulut untuk merangsang otot-otot bicara (Yang ini belum saya coba intensif, tapi video dan cara-caranya bisa diakses via google). Otot-otot bicara memang perlu dilatih agar luwes dan akhirnya anak bisa berartikulasi dengan jelas. Caranya ya dengan sering-sering mengulang kata. Jadi jangan bosen-bosen sebagai orangtua untuk mengulang-ulang kata atau kalimat, dan mendengarkan anak mengulang-ulang kata yang sama terus-menerus.

Radi 2 tahun 8 bulan

Radi 2 tahun 8 bulan

Daaan, selain soal perkembangan bicara, kami juga sempat bertanya masalah lain lagi (gak mo rugi, mumpung lagi sesi konsul dengan psikolog anak). Kami perhatikan Radi agak rewel dengan kebersihan (kotor dikit, protes), dikasih lotion antinyamuk di kulit marah, sangat pemilih dengan pakaiannya (hanya mau memakai bahan yang lembut kayak katun atau baju bobonya dan selalu menolak dikasih celana jins), takut berendam di air, dan belakangan label baju selalu minta diguntingnya. Apakah itu “fase” yang akan hilang dengan sendirinya atau mesti kita beri penanganan tertentu? Menurut psikolog, hal itu cukup umum terjadi. Biasanya pada anak-anak yang kurang mendapat banyak stimulasi motorik-sensoriknya. Dan fase kerewelan ini belum tentu bisa hilang begitu saja. Banyak anak yang ditemuinya hingga usia sekolah yang mudah rewel hanya karena panas atau cuaca atau hal-hal lainnya yang kita pandang kecil tapi menjadi besar baginya. Untuk itu, kita sebagai orangtua perlu membantu anak. Bagaimana cara membantunya? Dengan memberikan banyak-banyak pengalaman sensorik-motorik baginya. Di usianya yang baru 2 tahun, memang belum banyak pengalaman hidup yang dimilikinya. Nah, kita perkaya pengalaman sang anak. Kita ajak dia keluar setiap harinya, meski hanya ke warung sebelah atau melihat ayam tetangga. Jangan sungkan kita ajak main kotor-kotoran (tanah liat, lumpur, finger painting, face painting). Variasikan pengalaman sensoriknya. Misal, anak biasa mandi dengan diguyur gayung sesekali bisa menggunakan shower dengan tekanan rendah. Pijatan juga bisa menjadi pengalaman sensorik yang bagus (variasikan tekanan dan pijatannya).
Saya akui, mungkin sebagai perempuan saya lebih sering mengajak Radi beraktivitas di dalam rumah saja, seperti menyusun lego, puzzle, dan membuat prakarya sederhana. Lain kali, saya mesti lebih aktif mengajak dia keluar. Bermain bola, memanjat tangga, meniti balok, dan bereksplorasi (resiko LDR dengan papa Radi huhu…). Ini menjadi catatan penting bagi saya. Meski sibuk dengan deadline kerjaan, Radi tetap butuh porsi waktu dari kita sebagai orangtua. Dan pendidikannya tetaplah prioritas yang pertama. Dan catatan pula, kalau nanti mau memilih-milih kelompok bermain atau TK buat Radi, lihat yang porsi kurikulumnya lebih banyak memfokuskan pada pengembangan sensorik-motoriknya ketimbang duduk manis di kelas dan membuat prakarya yang kata psikolog lebih cocok untuk masa 5 tahunan ke atas nanti.
Sudah cukup panjang lebar saya bercerita tentang perkembangan Radi setelah sekian lama blog dianggurkan. Semoga ada manfaatnya, dan doakan Radi makin pintar ngoceh nggak lama lagi. Amiiin YRA.