Dua Manusia, Dua Irama Detak Jantung

Orang selalu mengira bahwa kami begitu mirip. Sama-sama kalem dan pendiam.

Namun itu baru penampakan luarnya.

Seiring berjalannya usia perkawinan, saya menemukan banyaknya perbedaan di antara kami.

Saya begitu suka dengan rencana yang terjadwal, sementara dia lebih suka spontanitas (yah lihat aja gimana nanti).

Saya lebih ekspresif dalam mengungkap perasaan, dia begitu rapat menyimpan emosi.

Saya senang dengan keterbukaan, dia lebih suka memilah mana yang pantas dibagi.

Yah, ternyata di balik permukaan, kami tetaplah dua pribadi yang sangat berbeda.

And that is what makes the marriage more colourful, I guess. 😛

Adaptasi

Sudah tiga bulan saya dan anak hijrah ke Sydney. Selama tinggal di sini, alhamdulillah saya kerasan. Meski, sedihnya, kita jauh dari sanak saudara dan kalau mau berkomunikasi via skype sering kali butut koneksinya, tapi di tanah Sydney ini masih banyak saudara setanah air sesama perantau yang bisa menemani hari-hari. Dan mungkin karena Sydney adalah tanah asing yang berdekatan dengan Indonesia, saya tidak menemui kesulitan mendapatkan barang-barang produk Indonesia langganan, kayak kopi susu kopiko (yang tak pernah absen saya seruput tiap pagi, meski harganya naik dua kali lipat) atau bumbu-bumbu masak Indonesia. Nyari makanan halal pun gampang. Sama sekali tak ada kesulitan berarti yang saya temukan selama pindah sementara ke sini. Proses adaptasi kami terbilang mudah. Apalagi kami tiba pas summer. Jadi cuacanya tidak begitu berbeda jauh dengan kondisi cuaca yang biasa dihadapi di tanah air. Meski anginnya sering kali dahsyat dan matahari baru terbenam pukul delapan malam (serasa aneh aja makan malam saat suasana luar masih terang benderang heuheu).

Selama proses adaptasi yang terbilang mulus, ada pula hal-hal berbeda dan suasana baru yang saya temui di Aussie. Di sini, tidak pernah lagi saya lihat nanny-nanny berseragam yang banyak lalu-lalang di mal-mal tanah air—satu tangan menggandeng anak majikan sementara tangan satunya lagi menenteng belanjaan. Orangtua di sini pada umumnya tidak menggunakan jasa pengasuh anak. Kalau pun menyewa jasa pembantu itu pun waktunya terbatas (upah nanny sekitar 20 dollaran per jam). Saya sering kali melihat seorang ibu dengan satu tangan menggendong bayi merah sementara tangan sebelah menggandeng kakaknya, atau mendorong stroller super jumbo yang memuat dua sampai tiga anak, atau seorang ibu di kereta memboyong tiga anaknya sendiri (satu bayi, dua balita)..huft. Saya jadi malu sendiri yang terkadang masih suka ngerasa kerepotan saat mesti bepergian dengan Radi—yang super lincah ini—sendiri. Yah mungkin kondisi juga yang menuntut mereka demikian. Toh mereka didukung oleh fasilitas yang sudah dibuat nyaman oleh negara, seperti jalanan yang mulus untuk menggunakan stroller, angkutan umum yang menampung stroller, banyak playground dan kelas-kelas konseling parenting gratis. Anyway, spiritnya bolehlah dicontoh. Jadiii, saya nggak boleh melulu mengandalkan bantuan suami. *kecuali kalau jalan-jalan keluar kota lah ya, aye takut nyasar*

Kemandirian ini juga tampak pada warga sepuh dan kaum dengan disabilitas. Awalnya saya suka nggak tega sendiri melihat kakek-nenek renta jalan kemana-mana seorang diri, dengan langkah terseok dan pandangan mata buram. Sering saya membatin, kemana sih sanak keluarga mereka, kok nggak ada yang ngurus kok nggak ada yang menemani. Tapi memang begitulah kultur mereka. Anak-anak mereka mungkin sudah sibuk dengan urusan dan tanggungan keluarga mereka sendiri. Mungkin sebagian memilih menempatkan orangtua mereka di nursing home tempat mereka bisa bersosialisasi dengan kawan-kawan seumur untuk menemani hari-hari tua mereka. Ya, hidup memang pilihan. Bagaimana pun semangat kemandirian dan tak ingin merepoti orang lain itu layak diajungi dua jempol *plus dua jempol kaki deh saking salutnya*

Dan saya akui, saya keburu prejudice mengecap masyarakat Barat cenderung individualis dan cuek terhadap sesama. Nyatanya, mereka cukup ramah dan senang menolong. Setiap kali saya membawa stroller sendiri dan bertemu dengan undakan selalu saja ada tangan yang terulur. Mereka cepat tanggap menolong. Saya rasa itu sudah menjadi common courtesy yang memang sudah semestinya. Sesama tetangga mereka masih sering bertegur sapa, bahkan terhadap orang asing yang sekadar berpapasan. Awalnya saya suka salting sendiri begitu disapa orang asing saat tengah berselisih jalan “Hello” “Good day”, atau saat disapa kasir “Hello. How was your day?” (Euu..gimana jawabnya yah. *mikir dulu*) Setelah ngapalin common courtesy and pleasantries di sini, saya pun mulai sok pede aja kadang nyapa duluan atau minimal tebar senyum hehe.

Di Sydney, demi menghemat ongkos transportasi umum yang lumayan mahal, saya sering kali jalan kaki kemana-mana. Toh fasilitas pejalan kakinya sudah dibuat nyaman. Jadi kadang nggak kerasa tau-tau saya sudah menempuh 3 km aja, meski kalau nanjak lumayan kerasa sih pegelnya. Apalagi kalau nanjak sambil dorong stroller yang memuat Radi yang montok plus belanjaan mingguan plus lagi aneka mainan yang dipinjam dari perpus *ngos ngos*. Nggak heran berat badan saya pun turun 2 kiloan selama berada di sini. Kayaknya bukan karena stress ini mah, tapi karena di sini saya dituntut banyak gerak. Lumayanlah buat saya yang suka males olahraga. Kalau dulu muter-muter PVJ aja suka kliyengan, mudah-mudahan nanti begitu pulang ke tanah air saya sudah punya stamina yang lebih wokeh.

Hal baru yang tidak pernah saya lakukan selama di tanah air adalah mulung buangan orang. Istilahnya dumping. Ya, di sini kadang dumpingan (buangan) orang pabalatak di sisi jalan. Dari furnitur, perkakas masak, sampai mainan anak kadang ada. Dari yang udah butut sampai yang masih baguuus. Apalagi kalau kita mau menyisir dumpingan di kawasan elit *niat benerr*. Sampai seringkali saya dinasihati nggak usah khawatir bila nanti mau nyewa unit flat tak berperabot, tinggal mulung sana-sini selain bisa nunggu perabot lungsuran dari orang-orang yang back for good ke tanah air. Baru sekali sih saya ambil barang dumpingan, dan itu adalah rak barang (storage rack). Kenapa mesti gengsi… toh kita hanya memanfaatkan barang yang masih memiliki daya guna, sekalian membantu orang yang butuh mengeluarkan barang daripada berserakan di pinggir jalan. Tak lupa raknya dicuci bersih dulu sebelum digunakan. Lumayan buat nyimpen barang-barang printilan Radi.


Well, itulah sekelumit pengalaman baru saya di perantauan yang mana udah lamua mengendap di arsip laptop dan lupa diposting hihi…

 

The Road to Recovery

Setelah menjalani operasi bypass jantung, lalu apa? Sedari masih dirawat di rumah sakit saya sudah berniat mengikuti Cardiac Rehabilitation Program seminggu setelah dipulangkan dari rumah sakit. Dari brosur yang saya dapat, program ini akan berlangsung selama 6 minggu dan free of charge.

Hari Jumat pagi saya pun berangkat sesuai jadwal temu yang sudah dibuat via telepon dan menunggu di ruang resepsi fisioterapi. Seorang suster tua bernama Jennifer menemui saya, dan proses assessment pun dimulai.

Selain bertanya-tanya tentang kondisi saya, dari dia saya jadi tahu lebih banyak tentang kondisi yang biasa ditemui oleh para pasien yang baru menjalani operasi jantung. Dia sempat kaget saat mengetahui saya berhenti menggunakan pain killer (panadol) yang diresepkan. Alasan saya simpel saja sebetulnya. Saya merasa ambang sakit yang saya rasakan masih bisa ditolerir dan saya memang tidak biasa mengonsumsi banyak obat. Jadi kalau khasiat obat itu hanya untuk menyamarkan rasa nyeri, saya tidak merasa begitu butuh untuk saat ini.

Sang suster nan baik hati ini (asli, susternya perhatian banget :P) kemudian bercerita panjang lebar bahwa saya baru saja menjalani sebuah operasi besar. Saat operasi berjalan, paru-paru saya dikempeskan sementara jantung saya dihentikan sementara. Kerja jantung lantas digantikan mesin yang mengambil alih tugas memompa darah ke seluruh tubuh. Arteri pada jantung dicangkok dengan pembuluh vena yang diambil dari paha saya. Balon juga dipasang di arteri utama selangkangan untuk membantu kerja jantung saya yang kemudian dicabut di hari ketiga usai operasi. Karena merupakan operasi yang cukup besar, jadi proses pemulihannya pun akan memakan waktu cukup lama. Minimal ada rentang 3 bulan sampai pasien diharapkan bisa kembali beraktivitas normal di masyarakat. So dont be too hard on yourself. Mengonsumsi pereda sakit akan membantu di masa-masa pemulihan luka operasi agar kita bisa beraktivitas secara lebih normal dengan ketidaknyamanan yang lebih minim.

Suster Jennifer juga menyarankan agar saya jangan terlalu takut-takut dengan diet makan saya. Setelah operasi saya memang sangat menjauhi daging-dagingan, segala makanan yang digoreng, santan, apa pun yang banyak mengandung saturated dan trans fat. Juga sangat mengurangi minum kopi susu yang dulu merupakan kegemaran saya. Kata suster, kopi sama sekali tidak masalah jika pun saya ingin minum secangkir setiap hari. Yang penting moderate. Yang jadi masalah kalau berlebihan, 5-6 cangkir tiap hari. Dia malah memastikan agar saya mengonsumsi daging sapi (a piece of red meat) tiap minggu karena biasanya setelah operasi jantung pasien kekurangan zat besi dalam darah yang berguna untuk pembentukan hemoglobin (noted, Bu Jennifer. Hari ini saya akan makan malam daging setelah kemarin-kemarin makan bubur oat doang :P) Siangnya saya juga langsung beli kopi susu soalnya kepala rada pening. Ah, suster coba dari dulu-dulu bilangnya. Teteuup saya akan sangat menjaga pola makan saya hingga seterusnya, tapi suster ini mengingatkan akan prinsip moderate (dibatasi bukan berarti tidak boleh sama sekali).

“It doesnt mean that we have to stop enjoying life. If you like to have a cup of coffe in the morning or eat a piece of cake, thats fine. Thats good. Sama sekali bukan masalah.” Begitu pesannya. 🙂

Suster Jennifer kemudian bertanya bagaimana perasaan saya saat mesti menjalani semua ini terutama di usia saya yang masih terbilang muda. Ini pasti berat bagi saya. Ditambah lagi kini mesti terpisah dengan putra saya untuk sementara waktu. Seketika pertahanan diri saya runtuh. Dia mungkin orang kesekian (oh, jangan ditanya yang keberapa) yang bertanya, “Mengapa orang seusia saya bisa sampai menjalani bedah bypass jantung? Kok bisa? Kok bisa?” Hanya saja dia menyampaikannya dengan gaya yang berbeda, “Apa yang kaurasakan? Pasti sangat berat untukmu. But I’m here to help.” Di hadapannya saya pun berterus terang bahwa peristiwa ini memang bagai petir di siang bolong. Mengagetkan diri saya dan keluarga saya sendiri karena selama ini saya tidak pernah tahu punya masalah jantung (meski ada riwayat dari keluarga). Kemarin-kemarin saya masih asyik bermain dengan Radi di playground. Beberapa hari berikutnya saya mendapat vonis adanya 5 sumbatan pada arteri jantung saya dan perlunya diambil tindakan bedah cangkok arteri (bypass) demi menyelamatkan nyawa saya. Dunia serasa jungkir balik setelahnya. Dan entah akankah sama lagi seperti sedia kala. Itu emosi yang kadang terselip.

Tapi saya tak pernah larut mengasihani diri, meratapi nasib, apalagi menyalahkan Tuhan. Saya justru merasa, seperti perkataan salah seorang teman dan Mama saya, bahwa ini bentuk kasih sayang Allah pada saya. Dia ingin saya lebih dekat lagi pada-Nya. Dia “memilih” saya untuk merasakan kuasa-Nya secara langsung. Bayangkan jantung saya yang telah berdetak semasa dalam kandungan ibu saya bisa dihentikan, untuk kemudian dihidupkan lagi (itu baru secuil kebesaran-Nya dari yang saya rasakan dan alami belakangan). Ya, ujian ini menjadi jalan bagi saya untuk semakin mendekatkan diri pada Rabb Penguasa semesta dan penggerak jantung ini, untuk menyucikan dosa-dosa saya, untuk menjadi seorang ibu, istri dan hamba yang lebih baik lagi. (bismillah…)

Kembali ke soal penyakit jantung, saya ingin sedikit berbagi. Menjadi seorang wanita di awal usia 30, tanpa pernah merokok dan minum alkohol, dan tensi darah yang rendah, kondisi saya memang luput didiagnosis dokter meski keluhannya sudah cukup lama dirasa. Bahkan GP saya di klinik sempat mengatakan bahwa wanita terlindungi dari serangan jantung sampai usia menopause. Sering orang bertanya seperti apa keluhan yang saya rasakan atau apa tanda-tandanya. Well, sudah beberapa tahun belakangan saya sering merasakan nyeri di pundak kanan saya bila merasa letih, dan nyeri itu menjalar ke kepala dan tangan kanan (bukan kiri) diikuti rasa sesak di dada. Saat itu saya tidak merasakan keringat dingin sama sekali, dan gejala serta merta hilang begitu saya cukup beristirahat. Diagnosis awal dokter (5 tahun yang lalu) itu adalah muscle strain atau kejang otot karena saya biasa menggunakan tangan kanan untuk bekerja alias ketak-ketik tuts kompie. Baru beberapa minggu belakangan saja selama berada di Sydney selain merasa nyeri pundak dan sesak dada, saya mulai merasa kliyengan kayak mau pingsan. Jadi kalau menemukan gejala-gejala seperti ini jangan disepelekan ya, kawans.

heart attack symptoms

heart attack symptoms

Yah, beginilah proses my road to recovery. Hope it’ll be a smooth ride and I’ll be much stronger and fitter than I were before… supaya bisa lebih gesit ngejar-ngejar Radi yang super duper lincah:P Mulai Selasa besok saya akan mengawali sesi rehabilitasi, disuruh bersepeda (untung sepeda statis wkwkk). Wish me luck!

 

Surat Cinta untuk Radi #1

Radiii, my very precious son, permata hidup dan penyemangat hari-hari Mama…

Surat ini ditulis pada hari Rabu 25 Juni 2014. Hampir genap seminggu setelah operasi bypass jantung Mama. Mama bersyukur hingga saat ini masih diberi amanah usia untuk terus mendampingi Radi yang sekarang baru 2 tahun dan lagi lucu-lucunya.

Masih berat sekali rasanya meninggalkanmu lama. Semoga Mama bisa cepat pulang dan lekas pulih. Mama akan terus berjuang untuk sehat sehat sehat…

Pesan Mama pada Radi, apa pun yang terjadi di hadapan, ingat kalau Radi banyak yang sayang. Radi punya Papa, Ninin, Aki, para mamang dan bibi Maleber, teta Lia, Mira ‘n Dewi, om Rudin dan tentu Oma. Belum lagi teman-teman yang tak terhitung banyaknya.

Jadi Radi jangan pernah tumbuh galau atau merasa kekurangan dengan ada atau tidak adanya Mama di sisi Radi secara langsung. Doa Mama pasti selalu menyertai.

 

Amir Rahadi Naufan…

Harapan Mama dan Papa, agar Radi kelak tumbuh menjadi seorang pemimpin pembawa cahaya dan kemuliaan. Bisa memberi manfaat kepada yang lain dengan keutamaan ilmu dan akhlak yang mulia.

Tumbuhlah menjadi pemuda berperilaku lurus, dekat dengan Tuhannya, dan yang kehadirannya selalu menyejukkan sekitar.

Radi anak Mama yang saleh, banyak-banyaklah baca agar ilmumu luas dan selalu minta pada Allah agar dikaruniai ilmu yang manfaat. Makin tinggi ilmu makin rendah hati selalu karena kedudukan seorang yang berilmu tinggi terlihat dari perilakunya dan caranya memperlakukan orang lain. Dari kemampuannya menjaga lisan, hati, dan pikirannya.

Mungkin banyak sekali petuah yang ingin Mama sampaikan dalam surat cinta Mama ini. Tapi untuk saat ini, cukup salah satu ayat Quran berikut dijadikan pegangan:

“Adapun bagi orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.” (Al-Insyiqaq:25)

Ayat-ayat seperti ini banyak bertaburan di dalam Qur’an. Allah selalu menggandeng keimanan dengan amal saleh karena keduanya saling bergantungan. Tiada gunanya keimanan tanpa amal kebajikan, begitu pula sebaliknya. Amal kebajikan tanpa disertai keimanan sia-sia saja.

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”

 

Radi, anak Mama yang shaleh…

Teruslah berusaha menempa diri agar termasuk ke dalam golongan mereka yang beriman & beramal shaleh ini. Jangan letih memperbaiki diri, senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan memohon agar selalu ditunjukkan pada jalan yang lurus.

Semoga kita kelak bisa dikumpulkan kembali di dalam surgaNya. Amiiin YRA.

Mama sayaaang sekali dengan Radi, dan tidak akan pernah putus mendoakan kebaikan bagimu, permata hati Mama.

 

Ditulis dengan penuh rindu di Bed 5 South Dickinson Building Prince of Wales Hospital.

IMG-20140703-WA0000

NB: InsyaAllah setiap 20 Juni Mama akan tuliskan “surat cinta” buat Radi. Meski orang biasa menganggap tabu untuk menulis wasiat seakan mau mati besok saja, tapi menurut saya berwasiat kepada anak merupakan salah satu bentuk cinta dan ikhtiar kita agar terjaga dari meninggalkan generasi yang lemah nan galau di belakang.

Mukjizat Kehidupan Kedua

Ya, mukjizat rasanya kata yang pantas untuk menggambarkan syukur tak terkira karena masih diberi nikmat amanah usia dan jasad hingga saat ini.

Jelang tengah malam hari Kamis 19 Juni 2014 saya memutuskan berangkat ke UGD Prince of Wales Hospital karena rasa sesak di dada dan kliyengan yang makin sering. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan (tes EKG, chest x-ray, USG jantung, dan terakhir angiogram), tim dokter memutuskan perlunya diambil tindakan bedah bypass jantung karena tiga arteri utama jantung saya tersumbat.

Saya ingat sekali kata-kata sang dokter usai melalui pemeriksaan angiogram yang terasa begituuu lama untuk mencari tahu letak sumbatan di jantung. “Menurut hasil pemeriksaan, dua arteri utama Anda sudah tertutup sementara arteri jalan belakang pun mulai menyempit. Saat ini yang mesti kami lakukan adalah mengambil tindakan penyelamatan nyawa dengan segera melakukan operasi bypass jantung darurat. Hope you’ll have a healthy long live ahead of you.”

Bersama dengan akhir ucapannya, tim dokter anestesi tiba di tempat dan mengambil alih. Saat ranjang didorong menuju ruang operasi, mereka memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan pesan kepada suami, dan pesan yang terpikirkan saya saat itu hanya, “Jaga Radi. Jaga Radi. Jaga Radi, Pa.”

Entah jika diri ini masih diberi kesempatan untuk turut membesarkan putra kami atau tidak, yang jelas saya ingin Radi dijaga dengan sebaik-baiknya. Memang masih sangat berat rasanya jika harus meninggalkan putra kecil saya yang kemarin baru genap 2 tahun. Apalagi pas berangkat ke UGD tadi masih terekam jelas di benak Radi nangis-nangis nggak mau ditinggal mamanya. Itu yang terus memberatkan batin ini. Tapi saya berusaha pasrah dan ikhlas atas segala ketetapan Tuhan.

Sekarang telah berlalu dua minggu usai operasi jantung saya. Berat juga rasanya menjalani masa pemulihan 4 hari di ruang ICCU, masa perawatan selama 7 hari, belum lagi serangkaian tes yang serasa tak ada habisnya saat berada di tanah rantau, jauh dari keluarga dan kerabat. Jujur, rasanya saya tidak akan sanggup menjalani hari-hari di Prince of Wales Hospital sendiri tanpa pertolongan dari Allah. Bayangkan, baru sorenya saya mengeluhkan (alias mengira) rematik pada tangan kanan saya ke dokter di klinik kampus. Tanpa menyangka hanya selang beberapa jam kemudian saya akan menjalani operasi jantung darurat yang sekaligus merupakan operasi pertama saya.

Kini Radi sudah dibawa pulang ke tanah air lebih dulu oleh mama mertua karena saya masih kesulitan ngasuh Radi sendiri dengan kondisi fisik yang terbatas sementara suami sibuk kuliah. Dengan begitu, saya bisa fokus untuk pemulihan dan harapannya, Agustus saya sudah bisa pulang kampung. Amiiin YRA.

at Prince of Wales Hospital

12 hari di Rumah Sakit Prince of Wales