For My Son, The Best of the World

 

Sebagai seorang ibu, saya ingin sekali memberi Radi segala yang terbaik di dunia. Yang terbaik di sini tidak berarti dari segi materi. Memberi segala yang ia inginkan… oh, tidak. No, no, not that.

Maksud saya itu, saya ingin mencemplungkan Radi dengan banyak aktivitas yang (tentu) ia sukai. Membekali dan memperkaya ia dengan beragam pengalaman. Membiarkan ia mencobai berbagai sisi dunia. Kelak belajar bersepeda, berenang, bercocok tanam, kemping di alam bebas, dan banyak bersosialisasi—hal yang dulu tidak dirasakan ibunya, even though I have a wonderful childhood 😛.

 I want him to experience it all. Absorb and getting the best of what the world has to offer. I want him to roam free and explore the world. To see how the world works through his own exploration and experimenting.

Saya tidak bermaksud mencetak anak super multi-talenta dengan mengenalkannya pada banyak aktivitas, baik di alam bebas maupun di dalam ruangan (kayak seni lukis dan berprakarya). Saya hanya berharap, dengan berbekal banyak pengalamannya ini, kelak ia akan belajar tentang nilai-nilai kemandirian, kreativitas, kepercayaan diri, kecintaan akan lingkungan, berempati dan tidak mudah putus asa. Semua itu ditimba dari pengalamannya sendiri—bukan dari omongan dan cerita-cerita orang, atau yang lebih parahnya, cuma didapat dari tontonan atau buku cerita yang dibacanya.

Saya memang lebih suka saat melihat anak saya menikmati kumpulan keluarga ayam berkotek-kotek di dekat rumah daripada saat ia menikmati teletubbies joget-joget dan berpelukaaan. Saya juga jauuuh lebih suka berlelah-lelah mengajak anak bermain di luar daripada membiarkan ia terhipnotis berjam-jam depan ipad.

Saya ingin meminimalisir peran gadget nanny sebisa mungkin. Gadget nanny di sini maksudnya ya TV, tab, ipad, dkk. Mengapa hanya meminimalisir tidak sekalian saja mengharamkan keberadaan TV di rumah? Saya memang tidak tertarik mengambil tindakan seekstrem itu, karena meski muatan tayangan TV banyak negatifnya tetap masih ada pula manfaatnya. Dan selama sesuatu itu masih ada manfaatnya ya mengapa tidak kita ambil dalam proses mendidik anak? Asal selektif, kita bisa suguhkan anak dengan tontonan yang menghibur sekaligus edukatif. Toh Radi banyak belajar bahasa asing justru dari tontonan cbeebies. Dan saya tidak ingin merampas kesenangan anak dengan menggemari karakter-karakter jagoan yang berasal dari tayangan kartun, misalkan superman, batman, handy mandy atau elmo (di usianya sekarang). Toh dengan menggemari karakter-karakter macam itu anak akan belajar dan (semoga) meniru sifat-sifat baik sang jagoan—seperti suka menolong, jujur, berani membela kebenaran dan orang-orang yang lemah. Hal-hal seperti itu kan didapat dari tontonan. Baik acara TV atau DVD. Hanya saja, ya tentu durasi menonton sebaiknya dibatasi, misal 2-3 jam maksimal tiap harinya demi menghindari ketergantungan anak pada si gadget nanny ini.

It’s a tough job as a parent, but you only have your childhood once. A childhood which then you would take to cherish and inspire you for the rest of your life.

06

A Story of Mommy and Me

If action speaks louder than words, then perhaps pictures convey stories more than writing does. Anyway, heres some stories from a few pics of mom and me.

Sampai jumpa di edisi yang lain. The story of me and daddy, juga me and oma. 😛

Oleh-Oleh Jakarta

Jadi ceritanya, hari Rabu 9 Oktober 2013 saya bersama oma dan Radi berangkat ke Jakarta untuk keperluan medical check up sebagai prasyarat visa dependen ke Australia. Setelah hampir seminggu diundur-undur karena Radi yang sempat sakit, akhirnya jadi juga berangkat. Radi masih batuk sedikit, tapi insyaAllah nggak masalah. Toh anaknya tetap lincah dan badannya udah nggak anget. Kalau diundur terus ntar keburu kepotong libur Idul Adha, terus minggu depan lagi ntar jadwal tamu bulanan jadi nggak bisa periksa urine. Nah kalau gitu kapan keluar visa ‘n nyusul si papa atuuh…

Maka bismillah saja… Hari Selasa saya pun pergi beli tiket ke PT KAI. Ternyata antrean pembelian sudah ramai gara-gara menjelang long wiken Idul Adha *halah, baru inget* Tiket eksekutif sekarang Rp. 80.000, oma dapat diskon manula jadi Rp. 64.000, sementara Radi yang baru 1 tahun bayar 10% (da gak dapat kursi) jadi Rp. 8.000.

Setelah tiga tahun lebih tidak menggunakan jasa kereta, saya lumayan kaget dengan banyaknya perubahan yang terjadi. Contohnya, pembelian tiket sekarang udah kayak di teller bank—pakai ngambil nomor antrean. Ini gebrakan bagus sih mengingat budaya antre masyarakat kita yang masih amat rendah, saling serobot sana-sini. Lihat aja cara orang-orang kita naek lift. Langsung berusaha menerobos masuk tanpa mempersilakan orang-orang di dalam lift buat keluar lebih dulu. Tuh, jadi out of topic, kan. Gara-gara suka kebawa emosi sendiri kalau udah soal perkara antre-mengantre. *too much negative experiences*

Selain itu, sekarang orang-orang yang mengantar dan menjemput penumpang sudah nggak boleh masuk peron. Bagus sih… mungkin demi menghindari calo, selain itu juga jadi lebih tertib dan itung-itung berbagi rejeki sama kuli angkut barang. Kalau di dalam kereta sendiri sih nampak tidak banyak perubahan berarti. Tapi saya lihat kondisi WC sudah dilengkapi wastafel dan sabun cair. Dan di samping kursi penumpang dilengkapi colokan listrik buat ngecharge hape or laptop. Oh ya, satu perubahan yang disesali, sekarang sudah nggak ada bagi-bagi snack di kereta. 😛

Doa saya sebelum berangkat, semoga Radi nggak pup di jalan, alhamdulillah terkabul. Heuheu…untunglah si bocah milih pupnya pagi-pagi banget sebelum berangkat. Sementara jadwal keberangkatan kereta pukul 9 pagi.

Ini adalah pengalaman pertama Radi naik kereta looh… Di usia 16 bulan…horee!  Agak cemas juga karena pas awal masuk kereta Radi nampak ingin lari-lari terus sepanjang lorong, sambil tangannya ngoprek-ngoprek segala yang dia lewati. Duh gimana yah kalau sepanjang perjalanan 3 jam ini Radi– yang rasa ingin tahunya begitu tinggi ini–nggak mau duduk manis di tempat. Tapi syukurlah begitu kereta mulai jalan dan diimingi susu, Radi mau juga duduk dipangku sambil minum susu dan lihat-lihat pemandangan. Nggak lama, Radi pun tertidur lelap sampai 1,5 jam. Sisa waktu selebihnya dihabiskan Radi dengan bermain papan gambar yang sengaja saya beli untuk perjalanan selama 30 menit, lihat-lihat pemandangan 30 menit, digendong sambil berjalan-jalan di lorong kereta saat Radi mulai rewel mau menjelajah lagi selama 15 menit, dan bacain buku cerita 15 menit. Alhamdulillah, 3 jam perjalanan terlewati tanpa insiden berarti. Radi cuma sempat teriak-teriak protes sedikit waktu dilarang jalan-jalan di lorong sewaktu kereta bergoyang-goyang di relnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Keesokan hari, baru kami berangkat ke Medikaloka Health Centre di Kuningan. Untuk keperluan medical check-up mereka melayani dari pukul 12.00-15.00.Tarifnya lumayan mahal. Untuk pemeriksaan kesehatan saya dikenakan tarif Rp. 525.000, plus bayi satu tahunan Rp. 250.000. Jadi total saya keluar kocek Rp. 775.000. Tapi layanannya sesuai dengan tarifnya. Ruangannya cozy, dan nggak pakai antre (mungkin juga karena memang kebetulan lagi sedikit aja yang datang yah :P).

Proses medical check-up saya meliputi: periksa urine, periksa mata, chest x-ray dan sesi pemeriksaan umum/tanya jawab dengan dokter. Kalau Radi cuma ditimbang dan diukur kayak di posyandu, plus sesi tanya jawab dengan dokter. Saya ngasih catatan imunisasi anak saya, tapi si dokter cuma lihat sekilas saja. Tadinya sempet ngirain Radi mesti diberi vaksin tambahan, kayak vaksin influenza, cacar, atau semacamnya yang mungkin di Australia sana diwajibkan sementara di sini tidak. Tapi ternyata tidak. Alhamdulillah deh. Kata dokter sih, visa biasa keluar sekitar 2-4 minggu setelah proses medical check-up. Mudah-mudahan saja visa saya sudah bisa keluar dalam 2 minggu *fingers crossed*.

Keseluruhan proses pemeriksaan nggak sampai memakan waktu satu jam. Syukurlah, soalnya Radi udah mulai rewel. Kayaknya si bocah capek. Tadi sempat macet lumayan lama menuju Kuningan. Belum lagi sepanjang perjalanan di mobil tadi Radi nangis-nangis mulu minta duduk di balik kemudi. Ini gara-gara om Yudi—yang dengan baik hati sedia mengantar—suka memangku si bocah sambil nyetir saat memasukkan mobil ke garasi atau saat keluar gedung sebelum masuk jalan raya. Tapi semenjak insiden Radi mengamuk nagih terus pengin jadi sopir, saya sudah nggak ijinkan lagi Radi duduk di balik kemudi. Kasian juga kan kalau anaknya jadi bingung dengan mixed message yang diterimanya; kadang dikasih (kalau di komplek atau macet) kadang nggak. Mana nangisnya heboh dan lama banget lagi. Maafkan Mama, ya, Nak. Cup cup. 😛

Perjalanan ke Jakarta kali ini juga menyisipkan banyak pengalaman pertama Radi. Kali pertama Radi berkunjung sekaligus menginap di rumah teta Dewi di Kemandoran Pluis. Juga kali pertama Radi nyobain naik odong-odong di pagi hari. Hehe. Ini sih dulu aktivitas sehari-hari kakak Rian pas masih seumur Radi. Tiap pagi pasti nagih naik odong-odong. 😀 Tapi Radi nampak bosenan duduk di odong-odong. Mungkin karena odong-odongnya cuma goyang-goyang di tempat, nggak maju-maju.. hihihi.

Mimpi Siang Bolong

Suatu siang karena butuh uang tunai buat belanja popok di Carrefour PVJ, saya mampir ke atm BRI. Setelah ambil sedikit uang tunai, saya lihat sisa saldo tinggal 900 jutaan. Eh buseet… nggak salah tuh! *kucek-kucek mata* Dicoba cek info saldo lagi, sama aja nilai nominal yang keluar ternyata. Mulai berseliweranlah berbagai pikiran di benak. Dari ide yang fantastis, jangan-jangan si papa habis menang undian nggak bilang-bilang ke mama buat surprise. Atau ada kiriman uang hasil pencucian uang. Sampai pikiran yang biasa-biasa saja, ni atm jangan-jangan eror.

Yah saya sih sebetulnya yakin 99% kalau suami nggak habis menang lotere, jadi saya belum sempet kepikiran dengan uang nominal segitu saya bisa melunasi hutang KPR, beli rumah impian oma, plus beli kendaraan biar bisa lebih mobile. *lap iler*

Begitu mampir ke atm bjb sebelum pulang—bank muasal kartu suami—dan mendapati digit saldonya sudah menggelinding kemana-mana, ada rasa lega. Minimal saya jadi nggak perlu repot-repot lapor ke pihak bank kalau saya baru dapat uang siluman. Tapi ada pula sedikit rasa kecewa menyelinap. Harapan 1% itu. Mimpi menang undian. 😛