Membiasakan Anak Bertanggung Jawab atas Diri Sendiri

Semenjak dulu, sejak jaman belum punya anak, saya sudah mendambakan kelak ingin membesarkan anak yang berjiwa mandiri. Yang pandai bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Mungkin itu berangkat dari pengalaman masa kecil saya sendiri. Sedari kecil saya tak pernah “dilayani.” Ibu saya membesarkan lima anak tanpa pengasuh (hanya ART yang bertugas memasak dan membereskan rumah tok). Semua urusan anak dipegang langsung oleh tangan ibu saya. Otomatis saya diharapkan tumbuh lebih mandiri. Saya nggak pernah ingat makan disuapi, atau tas sekolah dijinjing ibu, atau barang-barang pribadi disimpan dan dirapikan orang lain.

Itu sebabnya saya tak ingin mempekerjakan bibi yang khusus mengasuh anak. Saya ingin anak saya belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Mengurus diri dan barangnya sendiri. Saat pulang sekolah, tidak menaruh tas dan kaus kaki di mana saja, baju kotor di mana-mana, piring makan dan sisa bungkusan sekehendak hati lantas simsalabim semua barang-barang miliknya sudah tersimpan rapi di tempatnya. Saya khawatir kebiasaan ini akan berimbas sampai usia dewasanya hingga kelak di alam bawah sadar anak, akan selalu ada si “bibi ajaib” yang membereskan segala-galanya. Oh nooo…

Sedari usia dini, saya sudah mulai menanamkan rasa kemandirian dan tanggung jawab ini sedikit demi sedikit pada anak, tentu disesuaikan dengan umur dan kemampuannya. Bukankah menanamkan kebiasaan baik seharusnya dimulai sedini mungkin? Alhamdulillah, sejak belum genap 3 tahun, Radi sudah menunjukkan kesadaran untuk membantu pekerjaan rumah emaknya (baca: bebersih dan merapikan barang-barangnya sendiri). Setiap melepas pakaian, baju-baju kotornya dia taruh di keranjang cucian. Sehabis mandi, Radi belum mau keluar kamar mandi dan dihanduk kalau belum membereskan peralatan mandinya ke tempatnya (sikat gigi, gayung, gelas kumur, mainan airnya). Setiap sampah selalu dibuangnya ke keranjang sampah. Malahan kalau berada di luar, Radi selalu semangat mencari tempat sampah untuk membuang sampahnya.

Berikut sejumlah kiat menanamkan kemandirian pada anak yang berusaha saya terapkan:

– I Am Not Your Maid

Jangan terlalu “melayani” anak. Untuk hal-hal yang masih dikira wajar, biarkan anak mengerjakannya sendiri. Sekalian mengajarkan konsep “kau harus berusaha untuk mendapat apa yang diinginkan.” Misal, mengambil peralatan makan sendiri ke ruang dapur. Kalau air tumpah karena perbuatannya, biarkan anak mengelap sendiri. Tentu sesuaikan dengan jenjang umur. Batita bisa saja dibantu, “Oh, tumpah. Tolong ambilkan lapnya di …. Nah, tinggal dielap tumpahnya, kan. Nggak usah panik.” Dalam penanaman kebiasaan, perhatikan kondisi anak. Jangan biarkan anak sampai frustrasi. Atau kalau kebetulan moodnya mungkin lagi nggak bagus, kita juga mesti bersikap lebih longgar.

– Empower Your Child

Ketika anak butuh bantuan, jangan dikerjakan dengan tuntas oleh kita sepenuhnya tanpa si anak tahu caranya. Misalnya, minta buka bungkusan makanan, mengikat tali, melipat pakaian, mengancing pakaian, merapikan selimut. “Dibantu” bukan berarti dihandle sepenuhnya. Biasakan untuk berkata: “Sini biar Mama bantu” ketimbang “Sini biar Mama yang kerjakan.” Tunjukkan kepada anak cara mengerjakan segala sesuatunya. Lama-lama kita akan kaget sendiri karena anak itu betul-betul memerhatikan.

– Lower Your Standard

Jangan terapkan standar terlampau tinggi dalam menilai kerapihan anak. Kalau setiap pekerjaan anak sedikit-sedikit dibereskan, lama-lama anak akan kesal sendiri. “Ya udah, ibu aja yang beresin kalau gituh…Kerjaanku toh selalu salah.” Melipat selimut agak awut-awutan, misalnya. Atau menyimpan celana kolor di bagian baju atasan… itu tak masalah selama tidak membahayakan jiwa anak… Beresin selimut molor sampai sejam alih-alih lima menit?… sekali lagi, ga masyaalah… Kita mesti tahu kapan saatnya mundur dan untuk tidak selalu turun tangan.  Hargai usaha anak yang sudah berusaha menyimpan barang pada tempatnya atau membereskan sesuatu.

– Setting

Pengkondisian rumah itu penting. Sebisa mungkin orangtua mesti menyiapkan setting di rumah yang akan memudahkan anak dalam upaya membersihkan dan merapikan barang-barangnya. Sediakan tempat sampah di setiap ruangan. Di kamar anak tata rak atau boks mainan yang mudah dijangkau oleh anak. Ajarkan pada anak bahwa setiap barang ada tempatnya masing-masing. Kemudian tunjukkan di mana letak tempat sampah, rak buku atau mainan, keranjang baju kotor.

– Reward

Mekanisme menanamkan kebiasaan baik dengan reward selalu bisa dipakai. Mengingat umur anak yang masih balita, saya hanya fokus memberi reward tanpa sanksi. Saya pikir pemberian sanksi baru bisa diterapkan di usia menginjak SD, ketika anak sudah semestinya mengerti apa yang dituntut sebagai kewajibannya.

Action Speaks More Volume!

Ini yang terpenting. Orangtua mesti menjadi teladan pertama bagi anak. Kalau tiap hari mamanya pungutin ini itu yang berceceran, diam-diam anak memerhatikan dan akan mengadopsi kebiasaan itu. Atau minimal setiap penghujung hari sebelum tidur, kamar sudah rapi. Ini akan tertanam di alam bawah sadar dan terbawa sampai anak besar nanti. Ketika kamar sudah kayak kapal pecah, anak nggak akan betah… gatel pengin ngeberesin.. (speaking from experience :P)

Semua pembiasaan mesti dimulai sejak masa awal kehidupan. Nggak bisa kita beragumen, nanti toh kalau sudah besar bisa dibilangin… Oh, noo, kalau sudah besar akan lebih susah lagi, karena hal ini kembali ke PEMBIASAAN. Dan konon katanya, lebih mudah untuk menumbuhkan kebiasaan baru daripada mengubah kebiasaan lama yang sudah mendarah daging. Saya percaya upaya penanaman kemandirian ini adalah wujud cinta kasih kita pada diri anak. Dengan begitu, kita telah membantu anak agar kelak dia tumbuh menjadi manusia mandiri yang tidak akan merepotkan orang lain tanpa disadarinya. Manusia yang pandai bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan tidak hanya tahu dilayani. Amiiin…

10423657_870030603043486_8288671668257745434_n