Mendongeng Bersama Anak

“If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.”
― Albert Einstein

Ada banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan anak dari kegiatan mendongeng atau membaca cerita bersama anak. Mengembangkan imajinasi, memperkaya kosakata, mengenalkan berbagai macam konsep (berhitung, warna, mengukur, dll) hingga mengajarkan kebiasaan baik dan menanamkan nilai-nilai positif dalam diri sang anak, merupakan sebagian manfaatnya. Selain tentu, mendongeng bersama akan menguatkan bonding antara orangtua dengan anak.

Berikut tips yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan manfaat saat kita sedang mendongeng bersama anak:

  • Kenalkan anak pada kosakata baru yang mungkin terkandung dalam buku.
  • Ambil jeda untuk memberi komentar dan bertanya. Lihat wajah bebek ini. Menurutmu apa yang dirasakannya? Apa yang akan kaulakukan seandainya kau jadi bebek itu? Hal ini akan membantu anak lebih memahami isi cerita dan mengaitkan dengan pengalaman mereka sendiri.
  • Biarkan anak Anda bercerita tentang hal-hal yang ditemuinya dalam lembaran yang menurut mereka menarik.
  • Dorong anak untuk ikut membaca jika mereka mau.
  • Ajak anak untuk menebak atau membuat prediksi tentang kisah di dalam buku. Menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya? Mama ingin tahu apa yang akan dilakukan bebek itu.

 

Usai Mendongeng, kita bisa:

  • Renungkan bersama.
  1. Apa hal terlucu dari cerita barusan?
  2. Apa kau menikmati kisah tadi?
  3. Apa bagian favoritmu?
  • Bicarakan tentang pesan yang terkandung di dalam cerita.
  • Menghidupkan-ulang kisah yang dibaca menggunakan boneka atau mainannya, atau Anda bisa pura-pura berperan sebagai karakter di dalam buku bersama anak Anda.
  • Perkenalkan anak dengan berbagai ragam aktivitas yang bisa mereka lakukan, seperti berikut:
  1. Minta ia menggambarkan karakter utama cerita.
  2. Minta ia menuliskan atau menggambarkan kisah akhir yang berbeda.
  3. Jika mungkin, hubungkan kisah dalam buku dengan pengalaman dalam hidup anak dan bicarakan bersamanya.
  4. Anda bisa membantu anak Anda membuat buku mereka sendiri berdasarkan kisah yang baru dibaca. Sebagai contoh, setelah membaca buku The Very Hungry Caterpillar karya Eric Carle, Anda bisa menulis bersama sebuah cerita berjudul The Very Hungry Boy atau The Very Hungry Snake.
  5. Anak Anda bisa membuat sebuah poster tentang buku itu untuk membiarkan orang lain tahu betapa menariknya cerita itu. Pilih dari buku favorit anak Anda.
  6. Minta anak Anda memberikan rating pada buku yang dibaca. Anda bisa mendorong mereka memberikan muka tersenyum, nilai dari 1-10, atau memberi komentar dan alasannya.

* Ingat untuk tidak mendesak anak Anda melakukan berbagai kegiatan ini kecuali mereka tertarik. Tujuan Anda yang utama adalah untuk memberikan kesan bahwa kegiatan membaca itu menyenangkan.

ilustration

“You may have tangible wealth untold. Caskets of jewels and coffers of gold. Richer than you can never be… I had a mother who read to me.” — Strickland Gillilan


Sumber:
Springboard to Reading and Writing (Kerrie Shanahan)

Sumber ilustrasi: abduzeedo.com (by Teagan White)

Mengoptimalkan Masa Prasekolah Anak

Anak-anak belajar dengan bermain. Kecerdasan dan bakat mereka akan berkembang melalui pengalaman belajar yang mereka anggap menyenangkan dan yang melibatkan tubuh dan pikiran mereka. Karena itulah, orangtua harus memastikan bahwa masa prasekolah anak penuh dengan kesenangan. Tujuannya, adalah untuk membantu anak agar dapat mencapai potensi optimalnya.

Mainan, buku, atau lingkungan fisik bukanlah hal yang paling penting bagi anak. Yang paling berharga adalah lingkungan sosialnya. Kita bisa saja memenuhi rumah dengan berbagai mainan dan mengisi harinya dengan berbagai aktivitas. Namun, bila kita tidak terlibat langsung dalam kegiatan sang anak, maka sedikit sekali manfaat yang akan didapat. Kreativitas dan kepercayaan diri anak akan terbangun jika orangtua—selaku orang terdekat sang anak—menyediakan diri untuk ikut bermain bersama mereka. Jadi, turutlah berperan aktif dalam pengalaman belajar sang anak.

Poin-poin lain yang mesti dicatat untuk mengoptimalkan aktivitas bermain anak di masa prasekolah:

–          Biarkan anak merasa bebas mengekspresikan diri.

–          Biarkan anak tumbuh di lingkungan yang terbuka terhadap pengalaman dan gagasan baru.

–          Dorong anak untuk mempertimbangkan lebih dari satu penyelesaian untuk tiap masalah.

–          Disiplin itu tegas, tapi tidak bersifat menghukum.

–          Membiarkan keadaan rumah sedikit berantakan.

–          Orangtua terkadang harus membiarkan anak terus bermain jika ia menikmatinya.

–          Orangtua memberikan dukungan dan arahan tanpa ikut campur.

–          Anak diperkenalkan pada dongeng.

–          Anak didorong untuk berkhayal.

–          Anak dibiasakan bergaul dengan anak-anak lain.

 

Sumber: Permainan Cerdas usia 2-6 tahun karya Dr. Dorothy Einon (Erlangga for kids)

Youtube and Gadget Addiction

Saya suka bingung dengan orangtua yang membebaskan anaknya main game di tab atau ipad seharian. Lebih heran lagi, mereka yang membiarkan anaknya nonton youtube di gadget itu sesuka hati. Padahal anaknya masih balita, bahkan batita.

Menurut saya situs youtube belumlah pantas untuk diakses oleh anak kecil. Bagi balita yang baru belajar mengenal dunia sekitarnya, memang sungguh ajaib sekali situs ini. Hanya dengan satu klik jari ada ribuan video yang bisa dinikmati—mulai dari kartun, musik, iklan produk, sampai video-video absurd dan sampah sekalipun.

Namun sayang sekali bila anak kecil yang masih polos dan murni ini dikenalkan dengan segala sisi dunia mereka dari video youtube yang bisa diunggah dengan seenak udelnya oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Jelas-jelas ada begitu banyak konten pornografi dan kekerasan berserakan di sana.

Bagi saya, orangtua yang menyerahkan gadget dan membiarkan anaknya mengakses youtube atau situs mana pun tanpa pengawasan dan tanpa ada child lock adalah orang dewasa yang teledor. Itu sama saja kalau di jaman saya dulu kayak menyerahkan banyak judul video—mulai dari video kartun, video horor sampai video bokep—ke anak kecil sambil berkata, “silakan saja tonton apa yang disuka.”

Sungguh edan memang… Entah mengapa orangtua suka lebih khawatir terhadap keselamatan fisik anaknya, “Jangan panjat pohon terlalu tinggi. Nanti jatuh..nanti luka…nanti sakit…” Tapi untuk kesehatan batin yang tidak kasat mata diabaikan begitu saja. Ketika nilai-nilai kefitrahan mereka dirongrong. Digempur oleh nilai-nilai konsumerisme, kekerasan, pornografi *tarik napas panjang dulu*.

Sebetulnya, nilai-nilai apa yang ingin kita tanamkan kepada anak kita dengan membiarkan mereka bermain gadget dan menonton youtube day in day out?

Memang, gadget itu memudahkan hidup orangtua. Mereka nggak perlu repot sementara anak mereka bisa berjam-jam duduk manis depan gadget. Tapi… apa juga sih susahnya mendownload video yang digemari anak kita dari situs secara langsung, baru nanti pasang playlist video hasil downloadan ini dan membiarkan anak menonton sendiri. Memang siiih lebih repot dikit, perlu meluangkan waktu buat pilah-pilih video dan menyimpannya kan?… Hei, siapa bilang mendidik dan membesarkan anak itu nggak repot? Tapi itulah tugas orangtua.

Toh effort kita akan sepadan kok ketimbang anak kita terpapar pada konten-konten “menyeramkan” sejak usia dini.

Sebagai korban pelecehan di masa kanak-kanak, saya mungkin bisa dibilang agak parno (alias extra carefull) dengan hal beginian. Kalau bisa memilih, saya ingin sekali mempertahankan kepolosan anak selama mungkin. Malah kalau anak kita bisa dimuseumkan.. eh, disterilkan dari hal-hal macam begini betapa indahnya dunia… Tapi kan memang tidak mungkin ya…*ya sudahlah*  Itu memang kenyataan yang mesti dihadapi. Faktanya, kita memang sekarang hidup di era informasi digital yang kebablasan.

Kata orang-orang, anak jaman sekarang mesti melek teknologi sejak dini. Tapi hati kecil saya bertanya-tanya, apakah menyerahkan gadget—macam smartphone, tab atau ipad—kayak begitu sudah berarti mengajarkan anak akan teknologi? Saya pun tidak lantas mengharamkan anak kecil dari menggunakan gadget. Hanya saja, sebagai orangtua, tugas kitalah untuk mengajarkan anak supaya arif menggunakannya. Jangan sampai malah ketergantungan. Sebaiknya waktu penggunaan dibatasi dan konten gamesnya dipantau, alangkah baiknya yang bersifat edukatif. Dan sebisa mungkin jangan kasih akses buat nonton via situs langsung. Kalau mau nonton kan ada dvd, ada acara tv kabel yang masih aman macam cbeebies. Banyak pilihan kok. Intinya, jadi orangtua kudu selektif.

Anak saya memang masih sangat kecil saat ini. Baru satu tahun. Entah apa jadinya nanti ketika Radi sudah mulai ngerti menggunakan gadget begitu. Tapi saya percaya keinginan saya ini bukan sebuah utopia. Hanya saja untuk saat ini, mungkin saya mesti berkaca dulu. Tidak ingin anak kerajingan gadget, jangan-jangan saya sebagai orangtua juga tidak pernah lepas dari smartphone saya. Sebagai “stay-at-home mum” yang selalu menghabiskan waktu di rumah, saya akui saya sering merasa mati gaya kalau tidak buka sosmed tiap hari. Bahkan itu sudah jadi semacam kebutuhan.

Padahal kalau dipikir-pikir, orang-orang tua jaman dulu mana kenal dengan yang namanya fesbuk atau hape. Tapi mereka santai dan tampak content with their life. Jangan-jangan terlalu banyak terekspos dengan “dunia luar” malah nambah-nambah beban pikiran. Menjejali kapasitas otak dengan banyak pesan-pesan spam yang tidak dibutuhkan. Jangan-jangan lagi, kita malah menciptakan sebuah kebutuhan baru yang sebetulnya tidak (begitu) dibutuhkan. Yah cukuplah jadi kebutuhan tertier—kebutuhan aktualisasi diri alias eksis setelah sandang pangan papan tea.

So maybe from now on, I will write my new family rule: Kalau sedang bermain dan menghabiskan quality time dengan anak jangan kutak-katik smartphone, browsing ini itu, ceting sana sini. Hadirlah “sepenuhnya” (mind, body and soul) *apa coba* bersama mereka. Kita sendiri kerasa banget kan betenya setengah dicuekin oleh lawan bicara. Nah, itu pula yang dirasakan oleh anak. Meski mereka masih anak kecil, hargai mereka. Salah satu cara menghargai keberadaan mereka, adalah dengan memberi perhatian penuh kita pada mereka. Tentu tidak bisa 24 jam kita beri perhatian penuh. Toh sebagai seorang ibu (apalagi kalau tanpa ART seperti sayah) kita juga mesti masak, nyetrika, dan berkegiatan lainnya. Tapi tentu tiap hari kita bisa mengagendakan waktu bermain berkualitas dengan anak, saat kita sama-sama lepas dari gadget. Pure playing ‘n bonding.

Well sambil menulis ini, saya ingin kembali memperbarui ikrar saya…

Ketika tengah bermain dengan anak, akan saya tinggalkan hape saya dari jangkauan.

Ketika tengah bicara dengan anak, saya akan menatap matanya dan bukan layar hape.

Anak kita terlalu berharga, dan tanpa terasa masa kecil mereka akan berlalu begitu saja di depan mata kita.  So time to write more memories with them instead of with the gadget.