EVALUASI DAN REFLEKSI PERJALANAN HS

Sudah lama nian tak menulis di blog ini. 😛

Katanya, proses pendidikan homeschooling itu sebaiknya terdokumentasikan dengan baik. Dengan begitu, kita bisa melacak kemajuan belajar anak. Apalagi bagi kami yang tidak memberlakukan kurikulum yang ketat dalam pendidikan HS anak kami. Kurikulumnya suka-suka dan mungkin lebih menyerupai Unschooling.

So, okelah. Di akhir tahun 2021 ini, saya ingin mengevaluasi kembali perjalanan HS Radi yang sudah berjalan selama 2 tahun (sepanjang umur pandemi). *yes, its been that long*

Itung-itung, ini seperti dokumentasi ala kadar sekaligus bahan refleksi ke depannya.

Jujur, selama 2 tahun menempuh pendidikan anak sekolah rumahan, ada masa-masa labil dan goyah di tengah jalan. Target mandek, rencana buyar, motivasi redup. Ini menimpa bukan hanya pada subjek belajar (murid), tetapi juga pada fasilitator belajarnya (yakni saya). Terkadang saat melihat status anak-anak teman (terutama lewat media sosial) yang udah bisa begini-begitu, saya jadi membandingkan dengan kemampuan anak sendiri. Ada yang sudah hafal beberapa surat panjang, ada yang sudah khatam Quran, ada yang matematikanya udah endeswey blablabla…

Bukan hanya bagi anak-anak sekolah konvensional, tetapi juga anak-anak HS yang sudah menunjukkan prestasi dan pembelajaran yang lebih terfokus. Yah, namanya manusia biasa, saya tetap tak ingin anak saya tertinggal dari teman-teman sebayanya.

Memang benar perkataan para praktisi HS yang menasihati bahwa orang-orang yang memilih untuk menjalani HS harus memiliki mental perintis. Mengambil jalan sunyi HS tentu kudu tahan banting dan pakai kaca mata kuda. Kuncinya, sedari awal kita harus punya prinsip pendidikan di keluarga yang solid. Kalau akar kita udah kokoh, ga akan mudah tuh doyong ke sana kemari… apalagi sampai tumbang terhempas badai kehidupan *naon sih*.

Yah, begitulah… Intinya sekarang sambil menulis blog catatan ini, saya ingin merefleksikan kembali apa sih falsafah tentang pendidikan anak di tengah keluarga kami.

Alhamdulillah, sewaktu ngobrol dengan suami, pemahaman kami masih sejalan. Bahwa homeschooling di masa SD ini adalah keputusan terbaik yang kami ambil bagi buah hati kami. Meski begitu, kami tak menutupi pilihan untuk kembali mengambil jalur sekolah konvensional bila di masa belajar berikutnya kami merasa itu pilihan paling tepat bagi anak kami untuk lebih bisa mengembangkan diri lagi.

  • Fase 7-11 tahun: penanaman karakter, masa eksplorasi minat & bakat
  • Fase 12-15 tahun: pengembangan diri yang terfokus
  • Fase 16-18 tahun: memasuki dunia profesi/bimbingan karier, bersiap terjun ke masyarakat, pertajam portofolio diri

Jenjang berikutnya optional bagi subjek belajar karena lembar ijazah tak pernah jadi target. Yang penting aktualisasi diri (kebermanfaatan) dan perbaikan diri terus-menerus (peningkatan). Kami berharap, menuntut ilmu terus-menerus sudah akan menjadi kebiasaan yang mengakar dalam diri karena budaya yang dikembangkan di keluarga secara konsisten.

Nah, dengan falsafah sebagai akar HS yang solid sudah dalam genggaman, saya semestinya takkan lagi banyak labil dan bimbang. Meski pencapaian dalam bidang akademis di atas kertas mungkin belum terlalu terlihat dibanding teman sebayanya, kami tetap berpegang bahwa masa SD Radi itu yang ingin kami kuatkan adalah pendidikan karakter dan eksplorasi minat dan bakat sepuasnya. Coba ini-itu, bersosialisasi dengan banyak tipe orang, memperkaya pengalaman hidupnya.

Sejujurnya, karena masa pandemi, banyak kegiatan belajar yang terpaksa ditunda dulu sepanjang tahun HS kemarin. Tahun 2021 ini Radi hanya mengikuti kelas zoom les bahasa jepang, eksperimen sains dan bookclub sesekali. Kelas musik dihentikan, perjalanan belajar (berkunjung ke museum, pasar, naik aneka transportasi umum) ditiadakan. Pandemi ini memang benar-benar mengacak-acak agenda kami.

Namun sebagai resolusi HS tahun depan: Rencananya Radi akan melanjutkan les piano, belajar coding (via udemy), dan mulai belajar renang. Saya pun akan mulai menugasi satu project belajar setiap bulannya. Misal, bulan Januari, project membuat game; Februari, menulis buku; Maret, social project; April, green project, … dll.

Bismillah, semoga tahun 2022 kita bisa bertumbuh lebih baik lagi.

Ganbatte!

Kuartal Pertama Homeschooling

Wah, nggak berasa 3 bulan sudah saya menjalankan HS bersama Radi. Setelah mengambil tekad penuh untuk mengambil rute HS lalu menjalankannya, rasa-rasanya saya sudah masuk fase nyaman dan semakin jatuh hati dengan metode pendidikan ini.

Meski begitu, jangan salah, proses awal kami tidak begitu mudah. Kami tentu butuh waktu beradaptasi, meski proses adaptasi itu bisa dibilang lebih smooth karena berbulan-bulan sebelumnya Radi udah merasakan versi PJJ (akibat pandemi) dari sekolah formalnya.

Saya tahu dari para praktisi HS bahwa setiap keluarga itu harus mencari “gaya” HS mereka sendiri karena setiap keluarga memiliki budaya keluarga yang berbeda. Kita jelas nggak bisa mengcopy-paste metode yang diterapkan keluarga-keluarga HS lain. Mencari dan menemukan pakem terbaik merupakan proses yang mesti kita jalani sendiri.

Maka, bismillah, saya membuka bab awal HS ini dengan pikiran terbuka dan kesiapan untuk terus belajar bareng anak saya. Saya lantas membaca-baca berbagai materi belajar dari berbagai sumber kurikulum (di antaranya, Kurikulum Nasional dan Cambridge ), mencobai berbagai metode belajar alternatif, dan mengutak-atik jadwal belajar yang dirasa paling pas dengan gaya belajar Radi. Intinya ya mencari jalan belajar paling klop dan yang dirasa paling bisa mengoptimalkan pengalaman belajar Radi.

Nah, bulan ketiga ini saya merasa jalan HS kami semakin mulus. Saya merasa sudah menemukan pola yang paling pas, tanpa saya perlu rutin merumuskan rencana belajar secara mendetail untuk sepekan ke depan seperti di saat-saat awal HS.

Rutinitas HS Radi

Bagi saya, membuat jadwal belajar harian itu penting. Dengan begitu, meski waktu belajar anak fleksibel, tapi dengan adanya target harian, rasanya proses belajar jadi lebih terarah. Anak juga jadi tahu apa yang diharapkan darinya. Subject yang dipelajari setiap hari ga perlu banyak-banyak. Dua aja cukup (jadwal favorit Radi di hari Kamis karena pelajarannya Science dan Art).

Tentang kurikulum, saya memutuskan untuk nggak mengacu ke kurikulum nasional soalnya kurang sreg. Trus, pakai kurikulum apa? Nah, bingung juga. Pokoknya Radi belajar dari mana-mana hihi..

Sebagai contoh, Radi belajar Math dari buku matematika yang dipakai di Jepang (yang kubeli di toped karena awalnya suka dengan ilustrasinya wadidaw) dan situs IXL. Untuk matpel English, Radi pakai buku-buku usborne, baca buku cerita impor, juga rutin buka aplikasi Reading Eggs. Untuk Sains, Radi belajar dari BBC Bitesize dan ensiklopedi sains. Media belajar Radi memang diambil dari banyak sumber. Kami menemukan banyak situs-situs belajar menarik. Ada BBC Bitesize, Nat Geo learning, Penpalschools…buanyaaak.*lope-lope* Sejujurnya, saya banyak mengambil sumber-sumber belajar dari luar karena muatan belajarnya memang lebih menarik. Kurikulum LN juga lebih banyak mendorong anak untuk mengembangkan daya nalar dan berpikir kritis mereka alih-alih menghafalkan teori.

Untuk mata pelajaran, kami hanya mewajibkan Radi mempelajari Matematika, English dan Sains karena itulah yang dirasa paling kepake di kehidupan. ^^

Tapi untuk menambah wawasan, pengetahuan tentang dunia dan Indonesia pun disertakan.

Nah, yang membuat saya jatuh hati dengan HS adalah adanya kesempatan bagi saya untuk menerapkan custom education bagi Radi. Prinsipnya, kita semestinya memfokuskan energi untuk menguatkan kelebihan anak alih-alih berfokus untuk menambal kekurangannya.

Karena Radi senang belajar bahasa, maka saya tawarkan Radi untuk belajar bahasa asing kedua (setelah English). Dan Radi ternyata tertarik belajar bahasa Jepang. Syukurlah, karena Mamanya bisa sedikit-sedikit Nihongo, jadi kita bisa belajar bareng (sukur2 kalau nanti bisa ketemu guru bahasa Jepang yang pas).

Karena Radi juga memiliki minat besar dalam bermusik, kami pun menyertakan pelajaran piano buat Radi. (Drum rehat dulu karena gak punya alat musiknya di rumah.)

Kami tidak mendikotomikan pelajaran seni dengan pelajaran yang mengasah logika semacam matematika atau bahasa. Bagi kami, semua itu dibutuhkan kok demi membangun dimensi manusia yang lebih utuh taela bahasanya.

Rapor = Refleksi?

Yang menjadi tantangan baru dari proses HS kami adalah pertanyaan tentang rapor yang menjadi alat ukur kemajuan belajar anak. Kalau di sekolah formal, ada yang namanya ujian dan di akhir tahun ajaran setiap anak akan menerima rapor (entah lulus atau tidak ke jenjang berikut). Lalu bagaimana dengan anak HS?

Anak HS (yang tidak mendaftarkan diri ke lembaga pendidikan nonformal) jelas tidak kenal yang namanya ujian. Trus bagaimana dong kita mengukur proses belajar anak kita? Yaa, hmm.. Orangtua sebetulnya bebas aja sih kalau mau membuat semacam kuis untuk mengukur pemahaman anak, atau meminta anak melakukan presentasi suatu materi yang habis dipelajari anak. Itu sah-sah aja, bebas. Tapi yang namanya ujian sungguhan memang nggak ada (kecuali ujian sertifikasi buat dapat ijazah paket A, B, C kelak yaa).

Saya–sebagai orangtua yang merupakan “produk” sekolah selama bertahun-tahun—mengaku bahwa tidak adanya ujian ini memang rasanya ganjil. Tapi saat saya mengobrol dengan tetangga yang dahulu menyekolahkan anaknya di UK, dia bercerita kalau sepanjang masa SD anaknya itu nggak pernah kenal dengan ulangan, ujian atau tes ini itu. Saya semakin lega. I feel that we are in the right track. Lagi pula, bukankah kami memang ingin menanamkan motivasi belajar yang lurus pada diri anak ? Bahwa dia mesti belajar demi mendapat ilmu yang luas supaya bisa menjadi orang yang bisa membawa banyak manfaat bagi banyak orang. Bukan belajar hanya demi mendapat nilai yang baik, dan kemudian naik kelas.

Berikutnya, dari proses saya menimba ilmu dari para praktisi HS yang lebih dulu terjun ke ranah HS ini, saya mendapati bahwa anak HS memiliki alat ukur belajar tersendiri.

Apakah itu?

Kalau di sekolah formal ‘kan anak mendapat nilai kuantitatif di buku rapornya. Maka bagi anak HS, penilaiannya lebih kualitatif, yaitu dengan proses refleksi. Menurut praktisi HS, refleksi pembelajaran ini sebaiknya rutin dilakukan. Misalnya, setiap akhir bulan kita bisa melakukan refleksi proses pembelajaran Radi selama sebulan terakhir (apa yang perlu diperbaiki, apa yang bisa ditingkatkan, apa target untuk bulan berikut, etc). Begitu kira-kira.

Well, tiga bulan masih terhitung pendek, dan sejujurnya saya tidak tahu bagaimana proses HS putra kami ke depannya. Mungkin akan ada proses jatuh bangun, banting setir, dan banyaaak fase penggalian diri. Namun kami sangat berharap pilihan HS ini bisa memberi bekal yang kuat bagi Radi untuk melangkah di masa depannya—jauh lebih kuat dari bekal yang saya dapatkan dahulu. Dan yang terpenting, semoga, kami bisa terus menjaga gairah belajar anak kami sepanjang perjalanan hidupnya.

Amiin. ^^

Dokumentasi HS Radi: http://www.radinek.com

Membuka Bab Baru: Homeschooling

Bismillah, tepat bulan ini–Juni 2020–saya memutuskan untuk mengubah jalur pendidikan anak saya dari sebuah sekolah formal ke sekolah berbasis rumah (homeschooling). Kalau ditanya alasannya, sebetulnya Radi tidak punya masalah dengan sekolah ataupun pengajarnya. Meski berangkat pukul 6.00 pagi dan pulang di rumah pukul 15.00 petang (hiks), Radi masih cukup enjoy dengan sekolahnya.

Alasan memutuskan berpindah haluan ke jalur homeschooling di saat anak sudah terdaftar di sekolah formal tak lain karena kegalauan ibunya aja.

Bisa dibilang sebagai seorang yang senang belajar tentang tema-tema pendidikan anak dan selalu ingin hands-on (terlibat aktif) dalam proses pendidikan anak, pilihan homeschooling sebetulnya sudah lama menggugah minat saya, bahkan semenjak anak saya masih batita. Saya bahkan pernah membahas sekilas opini saya tentang jalur ini sebelumnya. Homeschooling? Why Not?—part 1

Namun keraguan masih banyak menghantui langkah saya untuk mengumpulkan komitmen dan nyebur langsung ke dalamnya. Mungkinkah saya bisa memegang peranan sebagai fasilitator utama pendidikannya? Akankah lingkungan sekitar mendukung, khususnya keluarga suami yang mayoritas guru formal? Dan masiiih buanyak lagi yang membuat langkah saya surut dan enggan melanjutkan ke pilihan tersebut.

Setelah menempuh proses survei SD ke sana-sini, saya dan suami kemudian sepakat mendaratkan hati pada satu sekolah. Sekolah yang ceklis kriterianya (versi saya) paling banyak mendapat contrengan. Meski tidak bisa memenuhi 100 persen kriteria harapan itu, saya siap untuk berkompromi dan sedikit menurunkan standar saya.

Alhasil, Radi menjalankan tahun pertama SD di sekolah tersebut.

Namun qadarullah terjadi, wabah corona melanda sepenjuru negeri bahkan seluruh dunia, hingga memaksakan semua siswa untuk meneruskan proses belajar di rumah masing-masing. Ini terjadi pada pertengahan bulan Maret, sekitar 2 bulan sebelum ujian kenaikan kelas.

Dalam proses belajar di rumah selama 3 bulan itu, saya justru mendapat momentum untuk mengevaluasi proses belajar Radi. Saya makin mengenal gaya belajarnya, tugas-tugas/kurikulum sekolah, dan masih banyak lagi. Dalam segi materi kurikulum, saya menemukan banyak kesenjangan antara harapan saya dengan realita di lapangan. Sementara dari segi pengajaran, saya menemukan keyakinan diri kembali untuk mengajari anak secara langsung.

Tibalah saya di sebuah persimpangan: Benarkah saya harus tetap menurunkan ekspektasi saya dalam pendidikan anak saya ataukah saya bisa mengambil kendali penuh pendidikan secara langsung dengan segala konsekuensinya.

Setelah diskusi panjang lebar dari A-Z dengan suami… Setelah diskusi dengan anak yang akan menjadi subjek belajar kelak (bukan “objek belajar”)…  Akhirnya, mantaplah saya untuk mengambil jalur Homeschooling dengan pendidikan yang terkustomisasi bagi anak saya.

So, here we are. Bismillah, membuka bab baru perjalanan belajar Radi.

Kami masih newbie sebagai praktisi homeschooler dan masih harus banyak-banyak-banyak lagi belajar. Tapi, I feel super duper excited. Ini akan jadi petualangan yang seru, Nak!

Sebagai dokumentasi belajar Radi, saya membuat sebuah blog terpisah yang diperuntukkan untuk merekam perjalanan belajarnya.

www.radinek.com

Feel free to check it out if you perhaps need some insights about a homeschooling world.