WOOL (Silo Trilogy)

woolPenulis: Hugh Howey

Penerjemah: Dina Begum

Penyunting: Nuraini Mastura

Penyelaras Aksara: Herlinawati Sitorus

Terbit: September 2014

Tebal: 732 hlm

Penerbit: Mizan Fantasi

Sinopsis:

Di masa depan, dunia tidak lagi aman untuk para manusia. Bahkan, udara yang mereka hirup pun bias mematikan. Umat manusia harus hidup dalam sebuah tempat bernama Silo—bungker raksasa dengan ratusan lapis ke kedalaman bumi.

Holston, seorang sheriff dalam Silo, telah puluhan tahun bertugas. Namun, kematian istrinya yang menyisakan misteri membuatnya melakukan hal gila: mengajukan dirinya untuk mengikuti sebuah misi mematikan.

Juliette, mekanik andal yang hidup dalam lapis Silo terbawah, terpilih menduduki sebuah jabatan kosong di pemerintahan. Tanpa terduga, dari Silo atas itu, dia menemukan sebuah rahasia besar yang bias menghancurkan Silo dan seluruh penghuninya.

Dua pahlawan Silo itu berbagi takdir yang sama—mencari jawaban atas misteri besar di dalam Silo. Berhasilkah mereka mencegah kehancuran Silo?

Penghargaan:

#1 Kindle Book Review’s 2012 Indie Book of the Year Award

New York Times Bestseller

USA Today Bestseller

Sunday Times Bestseller

Melepas Rasa Takut

Menghabiskan hari di bangsal rumah sakit bagian jantung. Bertukar kisah dengan para manula. Menyusuri lorong-lorong rumah sakit usai tilawah subuh. Memandang hilir mudik orang berbalut mantel musim dingin dan lepas landasnya pesawat lewat jendela utama, sambil menanti kunjungan anak dan suami sementara keluarga selebihnya berada jauh di tanah air. Sangat menanti-nanti saat kepulangan agar bisa memeluk anak sepuasnya, merawat dan menemaninya bermain—melaksanakan tugas seorang ibu dengan semestinya.

Terkadang saya kembali terlempar pada hari-hari sepi dan penuh perenungan kala itu (halah!). Meski sekarang sudah hampir tiga bulan sejak saat operasi bypass jantung saya dilaksanakan dan hampir dua bulan sejak prosedur ablasi diambil terhadap sinyal listrik yang korslet pada jantung saya.

Menjalani hari-hari setelahnya tidak selalu mudah. Terkadang reaksi tubuh apa pun bisa memberi saya kecemasan, meski ternyata itu sekadar pusing dan pegal biasa. Luka-luka yang melintang di tengah dada dan sepanjang paha masih menyisakan nyeri meski tidak sampai menghambat aktivitas saya (thank God!). Pun meski saya mengira melaksanakan diet ketat tidak akan jadi masalah bagi saya, namun berpisah dengan makanan dan minuman kesukaan itu nyatanya gampang-gampang susah, terutama dengan kue, roti-rotian dan cokelat karena sebelumnya pencuci mulut macam itu sudah jadi semacam comfort food yang bisa mengangkat mood saya (ihiks!).

Tapi yang terasa paling berat mungkin dari segi mental. Efek dari penyakit jantung saya ini juga telah memangkas sebagian mimpi saya dan suami, juga orangtua kami. Apalagi… kalau bukan kembali melahirkan buah hati, memberikan adik sekaligus “teman” bagi Radi kami tersayang. Meski saya sudah berusaha ikhlas menerimanya, terkadang terselip kecemasan jika saya telah mengecewakan orang-orang dekat akibat kondisi ini (ini mungkin akibatnya jika diri terlalu sensyitiiif).

Satu-satunya hal yang saat ini bisa saya lakukan ya kembali menghadapkan wajah pada sang Pencipta. Membangun bonding yang begitu kuatnya hingga ujian dan badai apa pun di dunia yang fana tidak akan mampu “menggoyang” saya. Hm… berat ya. Tapi memang tiada jalan lain. Ketika fisik diuji, spiritual harus dikukuhkan (tentu selain pengobatan dan terapi fisik).

Saya sempat bertukar cerita dengan seorang kawan dekat yang juga diberi ujian sakit dan mengharuskannya berobat rutin ke dokter. Dia mengingatkan, bahwa mungkin kita sama-sama diberi ujian di masa-masa golden age—masa keemasan usia produktif—agar kita tidak lalai. Juga agar dosa-dosa kita dibersihkan sedari usia “relatif” muda. Ujian ini menjadi salah satu bentuk “penjagaan” Allah atas diri kita. (hiks..menohok dan dalem sekali kata-katanya..)

Yah, hal yang paling ingin saya kejar dari hubungan yang dekat dengan sang Pencipta adalah agar diri ini terlepas dari rasa takut dan kekhawatiran. Rasa takut jelas bisa jadi pemicu stres yang sangat tidak baik bagi kondisi jantung saya. Padahal saya memang dasar orangnya mudah cemas. Sisi perfeksionis diri saya pun bisa menambah ruwet masalah. Hal-hal kecil yang melenceng dari rencana awal saja bisa membuat saya stres. Padahal dua kali perjalanan ke UGD makin menyadarkan saya akan betapa rapuhnya dunia yang saya tinggali. Jadi buat apa menghabiskan energi untuk mengkhawatirkan ini itu. Tidak ada waktu untuk itu. Nikmat dunia toh bisa direnggut sewaktu-waktu. Bukankah ajal tak pernah mengenal usia?

Ingin sekali saya memiliki jiwa yang ikhlas, jiwa yang nrimo atas segala ketetapan-Nya. Memiliki hati yang selalu lapang, tenang, dan penuh syukur.

Tidak perlu takut akan datangnya ajal. Toh Allah sudah menetapkan skenario hidup kita dan peranan kita di dunia. Dan tugas kita sebagai manusia, cukup jalankan peran itu sebaik-baiknya; sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri, sebagai seorang anak, sebagai seorang anggota masyarakat …

Tidak perlu takut meninggalkan anak di dunia. Anak toh bukan milik kita. Kita hanya dipinjamkan alias diamanahi, dan Pemilik sesungguhnyalah yang akan menjaga. Tugas saya hanya mendidik “titipan” ini sebaik mungkin hingga saat sang Pemilik menetapkan lain… saat sang Pencipta berkata, “Sudah, tugasmu sudah selesai sampai di sini. Kamu sudah menjalankan tugasmu (mendidik anak) dengan begitu baik dan penuh amanah.” (amiiin YRA).

Pun, saya tidak perlu takut akan rejeki.  Bukankah rejeki juga ada yang menjamin? Bukankah Allah Maha Kaya? Selama kita terus berikhtiar menjemput rejeki di jalan yang lurus. Menjalani hidup dengan prinsip kesederhanaan dan tak lupa berbagi.

Lepaskan rasa takut. Perbanyak rasa syukur…

Bersyukur masih diberi kesempatan terbangun di pagi hari. Untuk memeluk anak dan orang-orang terkasih satu hari lagi. Karena masih diberikan kesempatan dan kemampuan untuk kembali berbuat kebaikan.

Pintaku saat ini pada sang Pengasih ialah, agar dimudahkan langkahku dalam menempuh jalan keikhlasan dan karuniakan padaku hati yang lapang dan penuh syukur. Hati yang selalu ridho atas segala ketetapan-Mu.

 

“Hai, jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku. Masuklah ke surgaku.” (Al-Fajr: 27-30)

Catatan Perkembangan Bicara Radi (part 1)

Masalah Radi mengalami telat bicara sudah pernah saya tuliskan di sini. Sekarang sebagai salah satu upaya memantau perkembangan bicaranya, saya akan menuliskan catatan secara rutin. Bismillah… Ini catatan pertama.

Pada usia 2 tahun lebih 2 bulan, saya perhatikan Radi baru bisa mengucapkan sekitar 5 kata (mama, papa, mo buat elmo, nek buat nininnya…). Sepulang dari Australia, setelah sempat terpisah sebulanan sama anak, saya pun fokus menggiatkan stimulasi untuk kemampuan bicara Radi ini.

Saya batasi penggunaan gadget sebisa mungkin. Untuk mengalihkan perhatiannya dari tablet oma dan nininnya, saya beli berbagai permainan alternatif semacam puzzle dan playdough. Apa pun asal bisa mendetoks dirinya dari gadget yang jadi terlalu digandrunginya selama absennya mama di sisinya. Sebisa mungkin saya temani dia saat bermain. Sesering mungkin saya ajak bicara, menarasikan apa pun yang sedang saya atau dia lakukan.

Untuk stimulasi bicaranya, saya banyak mencontek tips-tips dari sini (nuhun mbk Andiani atas sharingnya). Saya memang tidak segera membawa Radi untuk mengikuti terapi wicara karena masih ingin menstimulasinya sendiri dan melihat perkembangannya dulu. Ini juga atas masukan dari bibi suami yang praktisi PAUD. Katanya stimulasi bicara itu kuncinya pada orangtuanya bukan terapis karena kitalah yang akan menemani sang anak 24 jam dalam sehari. Sementara sesi terapi paling juga cuma sejam dalam sehari, dan orangtua akan diberi PR oleh terapis akan apa-apa saja yang mesti dilakukan dan dicatat di rumah untuk memantau perkembangan sang anak. Dan cara-cara terapi wicara ini juga bukankah sudah bisa diakses dari mana-mana (sebagian besar berkat jasa om gugel)? Jadi bismillah saja, untuk saat ini saya akan memegang sendiri tanggung jawab mengembangkan kemampuan bicara Radi. Bersama keluarga besar Radi tentunya, sebagai lingkungan hidup dan bermainnya sehari-hari. Meski begitu, saya tidak menutup kemungkinan untuk suatu saat membawanya ke terapis.

Lalu, apa saja cara yang saya lakukan untuk menstimulasinya, selain banyak-banyak bicara dan menemaninya bermain?

–          Story telling. Setiap hari saya upayakan untuk membacakannya cerita dari buku. Story telling ini dijamin akan mengasah kreativitas ortu juga karenaaa… Radi belum minat mengikuti alur cerita sebatas yang tertera dalam buku. Kita harus mengarang abis cerita, menunjukkan setiap ilustrasi dalam buku sambil menyebutkan nama-namanya. Dan lebih baik lagi bila disertai dengan properti tambahan, seperti boneka jari atau gambar karakter cerita yang ditempelkan ke bekas stik eskrim. Untuk menggugah minat anak 2 tahun buat duduk manis mendengar cerita memang butuh upaya besuar, tapi insyaAllah ini jadi bagian ikhtiar supaya si anak kelak dekat dan mencintai buku pula. Amiiin.

boneka jari

boneka jari

–          Flash card. Kartu berbagai macam gambar juga bisa menjadi sarana yang bagus untuk mengenalkan nama berbagai objek kepada anak. Tapi biasanya saya mesti lihat mood si anak dulu dan paling maksimal 15 menit saja saya gunakan flash card ini. Kalau moodnya lagi nggak bagus (rewel, ngantuk, atau playful alias jahil) paling-paling kartu-kartunya dihambur kemana-mana. Sementara kalau lagi semangat, dia suka-suka aja “diuji” mamanya. Misalnya saya menaruh 10 kartu berbagai objek, kemudian saya akan minta Radi untuk mengambil objek tertentu. Meski Radi hampir selalu benar saat menunjuk benda yang saya minta, tapi untuk menyebut namanya masih ogah-ogahan. Tunjuk mobil, dia bilang bbbrrrm. Kereta, bilangnya tutut. Tempat tidur, bilangnya bobo. 😀

–          Lagu-lagu. Mungkin bosan juga anaknya dengar mamanya ngoceh mulu. Nah, untuk variasi upaya memotivasinya lebih aktif berbicara, saya kenalkan dia dengan lagu-lagu. Kalau udah capek ngomong, saya nyanyi aja. Dulu sih Radi cuma kenal dengan lagu-lagu Barat versy nursery rhyme semacam “Itsy bitsy spider”, atau “Twinkle twinkle little star.” Sekarang saya tambahkan perbendarahaan lagu-lagu anak Indonesia, seperti “naik kereta api, “balonku”, dll.

Oh ya, sekarang saya juga fokus menggunakan satu bahasa saja, yakni bahasa Indonesia.

Sekarang Radi 2 tahun 3 bulan. Sebulan sejak upaya stimulasi yang lebih gencar ini, saya lihat Radi ada perkembangannya. Sekarang sudah bisa 20-an kata yang suka diulang, seperti susu, bobok, duduk, popok. Namun untuk sebagian besar kata, masih suka dipotong-potong (pi untuk topi, ki untuk kaki) dan masih lebih suka mengandalkan bahasa isyarat saja.

We will see how it goes.. doakan kami.. Radi yang semangaaat belajarnya!

Mummy loves you… :*