Menanamkan Kesenangan Baca Tulis pada Anak

Harus diakui, menanamkan kebiasaan membaca pada anak menjadi sebuah tantangan tersendiri di era serba digital kini. Ketika anak lebih senang memegang gadget dan asyik memainkan games terbaru daripada memegang sebuah buku dan menghabiskan waktu untuk menamatkannya. Tapi tak usahlah risau ataupun gelisah. Masih banyak jalan menuju Roma. Atau dalam kasus ini, masih banyak cara dan upaya yang bisa dilakukan orangtua untuk memiliki anak yang selain gape dengan teknologi, ia pun dekat dengan dunia buku dan memiliki kecintaan membaca dan menulis—yang merupakan dua kunci menuntut ilmu dan menyebarluaskannya.

Dalam buku Springboard to Reading and Writing, Kerrie Shanahan memaparkan beberapa tips yang bisa dilakukan orangtua untuk menumbuhkan kesenangan membaca dan menulis pada diri anak yang sudah bisa dibiasakan semenjak usia dini.

Books everywhere!

  • Sediakan buku hampir di segala sudut rumah.
  • Taruh buku di tempat anak-anak bisa raih dengan mudah.
  • Sediakan buku di mobil.
  • Dorong anak untuk membaca di tempat tidur.
  • Berikan buku sebagai kado.
  • Manjakan anak dengan membelikan mereka buku atau majalah anak, sebagai pengganti cokelat atau mainan.
  • Ajak anak untuk menukar buku dengan teman-teman.
  • Dorong saudara untuk saling membacakan buku pada satu sama lain.
  • Lihat-lihat buku di penjaja buku bekas untuk mencari bacaan murmer dengan berbagai pilihan tema.
  • Sediakan tempat yang nyaman di rumah khusus untuk aktivitas baca buku. Bisa jadi sebuah sudut di kamar anak atau di ruang santai keluarga. Sediakan bantal-bantal empuk, buku-buku di rak yang mudah dijangkau, dan poster inspiratif di dinding.

Make it exciting!

  • Saat membaca pada anak, upayakan untuk membuatnya jadi menarik. Buat kisah makin seru dengan mengubah suara dan kecepatan membaca. Gunakan berbagai karakter suara yang menarik.
  • Beri pilihan pada anak.
  1. Kamu mau memilih buku apa untuk kita baca bersama?
  2. Kamu putuskan apa yang mau ditulis di kartu ultah Ayah.
  • Bermain peran karakter dari cerita kesukaan anak.
  • Bila anak ingin, beri mereka kesempatan untuk membacakan cerita pada kita. Tunjukkan minat dan semangat pada bacaan anak—meskipun Anda telah mendengarnya jutaan kali.
  • Selipkan sebuah pesan penuh cinta dalam secarik kertas di kotak bekal makan siang, di saku jaket, atau di bawah bantal mereka. Hal ini akan membiasakan dan menyemangati anak untuk berkomunikasi lewat tulisan juga.

Confidence is the key!

Kalau anak Anda percaya diri dengan kemampuannya membaca, mereka akan mau membaca. Tumbuhkan kepercayaan dirinya dengan menciptakan peluang-peluang bagi anak belajar menulis dan membaca. Dengan mengetahui kemampuan anak Anda, Anda akan menguatkan kepercayaan diri mereka sendiri dalam aktivitas baca-tulis.

Langkah yang dapat dilakukan:

  • Minta anak untuk mengenali huruf-huruf yang Anda tahu diketahui anak Anda.

              Kau bisa lihat huruf T di kata ini seperti di awal nama kamu?

  • Minta anak Anda mencarikan buku yang mereka tahu judulnya.

              Apa kau bisa mengambilkan kepada Mama buku berjudul Ruby Roo’s Teddy?

             Apa judul buku ini?

  • Minta anak Anda membantu Anda menulis dalam aktivitas sehari-hari, misalnya menulis daftar belanjaan.

             Bisa kau tuliskan benda-benda yang ingin kau bawa untuk piknik minggu depan?

            Bisa kau tambahkan susu di daftar belanja kita?

            Bisa kau tuliskan pesan di kartu ultah Rina?

  • Kalau anak Anda sudah bisa membaca beberapa buku (yang kemungkinan berdasarkan ingatan), dorong ia melakukannya.

             Tolong, apa kau bisa membacakan buku ini buat Mama? Ini salah satu cerita favorit Mama dan Mama senang sekali kalau kau membacakannya untuk Mama.

  • Minta anak Anda untuk membacakan kepada adik kecil atau kawannya.

             Kau bisa bacakan cerita ini kepada adik Sarah? Dia akan senang sekali mendengarkan anak sebesar kau mendongeng          kepadanya.

Be Positive!

Memberikan tanggapan positif terhadap usaha anak membaca dan menulis sangat penting.

  • Selalu gunakan kata-kata positif tentang kegiatan membaca. Hindasi mengasosiasikan buku dengan penghargaan atau hukuman. Membaca semestinya menjadi bagian wajar dari keseharian. Sebagai orangtua, kita mesti menciptakan kesempatan bagi terwujudnya sebuah hubungan antara anak dengan buku. Kita mesti mendorong mereka untuk memandang kegiatan membaca sebagai pengalaman berharga alih-alih sebuah kewajiban yang hanya terkait dengan tugas sekolah.
  • Bicaralah dengan anak seakan mereka pembaca dan penulis “sungguhan”.

              Kau bisa membaca begitu banyak buku!

              Aku suka tulisanmu ini. Bisa kau bacakan apa arti tulisan ini? Apa yang kaupikirkan waktu menulis ini?

  • Tantang anak Anda untuk mencobai berbagai hal baru.

              Bisa kau bacakan buku tentang bebek untuk Mama?

             Kau mau menulis di kartu pos untuk Nenek?

  • Tanggapi dengan penuh antusiasme saat anak Anda berusaha mencoba suatu hal baru.

             Hebat! Kau bisa menulis namamu sendiri.

             Wow! Kau membaca buku itu dengan pandai sekali.

  • Beri tanggapan spesifik alih-alih general.

             Huruf B yang kau tulis ini bagus, jelas sekali.

             Kau mengenali namamu di amplop ini. Pandai sekali.

  • Tanggapi penuh antusiasme dengan buku yang dibawakan anak Anda dari sekolah atau perpustakaan. Puji upaya dia membacanya.
  • Berkomunikasilah dengan guru anak Anda tentang kemajuannya di rumah dan sekolah agar umpan balik positif bisa diberikan dalam kedua latar.

Do As I Do…

Children see children do. Sepanjang kehidupan anak, mereka akan belajar begitu banyak dari Anda dan keseharian Anda, terutama di awal masa kehidupan mereka. So, be the first role model for your kids. Anda bisa tunjukkan betapa pentingnya membaca dan menulis dalam keseharian Anda!

  • Biarkan anak Anda melihat diri Anda dan anggota keluarga Anda yang lain membaca. Tunjukkan betapa menyenangkan dan bermanfaatnya aktivitas membaca itu.
  • Bicarakan dengan anak Anda tentang buku-buku yang Anda gemari dan alasannya.
  • Bahas dengan anak Anda aspek-aspek menarik dari bacaan Anda.

Lihat foto anak kecil di koran ini. Anak ini mengendarai sepeda seperti yang biasa kamu lakukan.

  • Saat Anda mengunjungi perpustakaan atau toko buku, pinjam atau beli buku untuk diri Anda sendiri selain untuk anak Anda.
  • Tunjukkan berbagai manfaat dari membaca—mencari alamat seorang teman, membaca iklan di surat kabar, mencari tahu petunjuk menggunakan peralatan baru, membaca resep, dll. Libatkan anak Anda dalam kegiatan ini dengan menjelaskan apa yang sedang Anda lakukan dan alasannya.

Share Your Child’s Achievement

  • Pajang hasil karya anak. Sediakan sebuah tempat khusus di rumah seperti pojok prestasi untuk memajang hasil karya anak Anda. Bisa di pintu kulkas, di papan bulletin, atau di dinding.
  • Kumpulkan sebagian hasil karya anak dan simpan di dalam scrapbook. Anda bisa tambahkan tanggal dan komentar pada setiap hasil karya.
  • Ajak anak untuk memberikan sebagian karyanya kepada teman-teman terdekat atau anggota keluarga.
  • Jika Anda bekerja di luar, minta anak Anda untuk membuat sebuah karya istimewa—sebuah tulisan, gambar atau lukisan—untuk Anda bawa dan pajang di ruang-kerja Anda.
  • Anda bisa membingkai satu atau dua hasil karya anak Anda. Bisa lukisan pertama mereka di TK atau kartu hari ibu yang dibuatnya sendiri.

 kids books

sumber foto: flickr

 

“There is more treasure in books than in all the pirate’s loot on Treasure Island.” — Walt Disney

“The more that you read, the more things you will know. The more you learn, the more places you’ll go.” — Dr. Seuss

“There is no substitute for books in the life of a child.” — Mary Ellen Chase (educator & author)

House of Hades

house of hades

Judul: House of Hades (The Heroes of Olympus #4)

Penulis: Rick Riordan

Penerjemah: Rika Iffati Farihah, Nuraini Mastura, Reni Indardini

Penerbit: Noura Books

Tanggal Terbit: Februari 2014

 

 

 

Sinopsis:

Semua pilihan mengandung risiko.

Kau boleh percaya … atau mengabaikannya.

Tapi, ingat, apa tujuanmu?

 

Setelah terjatuh ke Dunia Bawah, Percy dan Annabeth disiksa oleh rasa lapar dan dahaga serta suara tangisan tak terperi yang membuat pikiran mereka kacau. Tak hanya itu, para monster yang telah mereka bunuh pun bermunculan, bermaksud membalas dendam. Sementara di langit, kru Argo II mati-matian mempertahankan kapal dari serangan para putra Gaea, kura-kura raksasa, dan seorang dewa berkaki busuk. 

Di tengah petualangan menantang itu, kecerdasan dan jiwa kepemimpinan mereka ditantang. Pilihan harus diambil, keputusan besar harus dibuat, sedangkan kematian menghantui dan masa depan dunia menjadi taruhan. Akankah mereka membuat keputusan dan memilih jalan yang tepat?

 

 

Homeschooling? Why Not?—part 2

Meski selalu tertarik dengan prinsip homeschooling, sebagaimana terungkap dalam riwayat belajar saya dalam lembaga sekolah pada bagian sebelumnya, namun homeshooling ini bagi saya tetaplah sebuah pilihan yang tak akan pernah saya jalani. Alasan utama, adalah karena tidak adanya sumber daya yang memadai, yakni waktu dan (keraguan akan) kemampuan diri selaku pengajar. Bahkan saya akui, mengambil keputusan meng-homeschooling-kan anak itu agak menakutkan bagi saya. Karena itu berarti, saya memutuskan untuk mengambil tanggung jawab penuh bagi pengajaran anak saya alih-alih mendelegasikan (sebagian) tanggung jawab kepada pihak  lain. Selain masih banyak pula kekhawatiran yang menghantui saya dengan alternatif pendidikan ini, seperti akankah kecerdasan sosial anak saya kelak menemui hambatan? Akankah di masa depan ia menemui kesulitan menghadapi konflik? Saya juga khawatir anak saya nanti terlalu nempel ke mamanya padahal ia akan hidup di masyarakat bukan di lingkungan keluarga kecilnya.

Selain faktor-faktor kecemasan ini, saya juga sudah berasumsi bahwa ide homeschooling ini tak akan pernah disetujui oleh partner hidup saya alias papanya Radi yang keluarga besarnya sebagian besar merupakan kalangan pengajar sekolah. Itu asumsi saya… hingga suatu hari tiba-tiba saja suami mengeluarkan wacana itu sendiri. Ternyata beliau makin terbuka dengan ide homeschooling ini setelah salah seorang temannya mengambil langkah ini. Beliau kemudian menceritakan pengalaman kawannya itu: Anak si kawan suami itu dahulu sering ditegur gurunya saat bersekolah di Indonesia karena sering kali melamun di tengah pelajaran. Saat anaknya bersekolah di Brisbane, kebetulan ia mendapat seorang guru yang lebih proaktif. Alih-alih menegur karena kebanyakan melamun, anaknya justru sering diberi challenge-challenge lebih ketika sang guru melihat anak didiknya sudah cukup mengerti dengan materi. Begitu pulang ke tanah air, ayahnya ingin menerapkan pendidikan yang lebih progresif dan lebih fokus pada minat dan kemampuan anak yang bersifat individual. Setelah meriset sana-sini dan menemukan satu atau dua sekolah yang cukup sesuai dengan keinginannya, nyatanya sekolah-sekolah itu mengaku tidak bisa menyediakan tempat bagi anaknya. Karena itulah ayah dan ibunya akhirnya memilih bahwa homeschooling merupakan metode yang paling tepat bagi anak mereka saat ini.

Suami saya kemudian berujar bahwa homeschooling ini bisa menjadi salah satu alternatif pilihan untuk mendidik anak kami kelak, khususnya di usia TK hingga SD karena masa itu adalah masa kritis dalam pembentukan karakter, penanaman kebiasaan baik, dan penguatan pondasi bagaimana dia memandang proses belajar hingga ke depan.

Ada macam-macam alasan orang memilih metode homeschooling ini. Sebagian besar karena sudah skeptis dengan metode pengajaran yang terlalu membebani anak dengan kurikulum tidak tepat sasaran, karena faktor biaya sekolah yang kian hari kian tinggi, karena jadwal yang sempit untuk bersekolah jika anak kita kebetulan ngartis *tepok jidat*, karena orangtua ingin menerapkan “personalized education” yakni memilah ilmu yang lebih dekat dengan minat dan bakat si anak, dan alasan macam-macam lagi.

Ada baiknya memang kita memikirkan ulang tujuan kita menyekolahkan anak di instansi sekolah itu apa sebetulnya. Untuk mencetak anak multitalenta? Atau sekadar untuk ngumpulin nilai dan dapat ijazah (seperti saya dahulu kala)?

Pengalaman buruk saya dengan sekolah tidak lantas membuat saya apatis terhadap sekolah lhooo. Optimisme itu tetap ada. Toh, saya lihat kini semakin banyak sekolah-sekolah berdiri yang menawarkan metode pengajaran alternatif, meski harganya banyak yang aduhai. Tidak seperti orangtua jaman dulu, orangtua jaman sekarang memang lebih disuguhi beragam pilihan sekolah bagi anaknya. Ada sekolah alam, montessori, ataupun sekolah yang mengklaim sebagai global school, dan bermacam-ragam lagi. Tinggal memilih dan memilah yang paling sreg di hati dan paling sesuai dengan konsep pendidikan orangtuanya.

Meski belum memiliki kecondongan akan memilih sekolah model apa untuk anak saya kelak *sabar, Radi belum genap 2 tahun*, saya sudah mengurut sejumlah syarat untuk memilih sekolah yang ideal baginya, yang kurang-lebih seperti beginilah: Sekolah yang metode belajarnya memfokuskan pada pengembangan bakat dan minat siswa dengan kurikulum yang tidak membebani (layaknya sekolah tottochan); porsi yang imbang antara bobot akademis dengan pengembangan kreativitas dan bakat anak; penekanan pada penguatan karakter (akhlak); tidak ada dikotomi antara pendidikan agama dan duniawi; tidak mengenal sistem rangking; di kelas tidak boleh lebih dari 20 siswa; dan biaya masuk maupun SPPnya tidak kelewat mahal. (Saya tidak ingin Radi merasakan pengalaman yang sama dengan yang dialami mamanya saat bersekolah di tengah lingkungan anak-anak borju). *dan daftar ini mungkin masih akan berkembang seiring perkembangan anak kami*

Mudah-mudahan kami berjodoh dengan sekolah yang demikian. Kalau nggak, homeschooling mungkin akan menjadi opsi terbaik. Kekhawatiran yang sebelumnya ada akan homeschooling ini nyatanya bukanlah sebuah hal yang mesti menyurutkan langkah. Kemampuan bersosialisasi toh bisa diasah di mana saja. Dan memilih homeschooling kan tidak lantas berarti memutuskan pergaulan anak dengan seisi dunia. Tinggal pintar-pintar pendidiknya saja kelak membuka ruang dan kesempatan yang luas bagi si anak untuk mengasah kemampuan sosialisasinya. Ada tutor, ada tetangga, ada komunitas. Malah saya lihat siswa homeschool (HS) cenderung memiliki kelebihan karena terbiasa berinteraksi rutin dengan komunitas lintas-usia alih-alih menghabiskan sepanjang hari dengan teman sebaya di kelas. Dan, kecemasan bahwa siswa HS tidak terbiasa menghadapi konflik itu kata siapa. Lantas apakah tekanan dari teman sebaya (peer pressure) atau bullying yang semakin marak merupakan konflik yang dibutuhkan bagi anak? Khawatirnya, konflik yang tidak proporsional malah akan kontradiktif dengan pengalaman belajarnya yang mestinya dibuat positif.

Sesungguhnya masih panjang perjalanan anak kami sebelum tiba masanya bagi kami untuk memilih sekolah yang paling sesuai baginya. Yah, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangan anak dan kondisi di depan. Yang jelas, homeschooling merupakan pilihan terbuka bagi kami. Pilihan yang jika pun kami ambil itu bukanlah karena ingin berbeda dari mainstream, bukan pula karena sikap apatisme (putus harapan) terhadap lembaga sekolah. Pun bukan sekadar untuk melampiaskan obsesi terpendam ibunya untuk menjadi guru taman kanak-kanak 😛 Kalau pun pada akhirnya nanti kami memilih metode homeschool, itu karena kami menganggap pilihan itu adalah jalan yang dirasa paling cocok bagi Radi untuk saat itu. Yang paling memuaskan batin dan mendekati cita-cita kami untuk mendidiknya menjadi manusia paripurna *ciyye.. eh, amiiin*.

Namun apa pun pilihan yang kelak kami ambil, saya tetap bertekad akan mengambil peranan sebagai pendidik pertama dan utama bagi Radi. Saya menganggap, instansi sekolah dan lingkungan hanyalah pendidik sekunder dan tertier bagi proses pengajaran anak kami. Basis pengajaran yang utama, tetaplah berpusat dari rumah.  Jadi sedikit banyak kami akan mengadopsi prinsip-prinsip homeschooling itu sendiri, dengan mengambil peranan aktif dan keterlibatan penuh dalam proses pendidikan buah hati kami.

 mom n son

Baby and Kids Market (Fun Day Sunday #4)

Setelah sekian lama nunggu-nunggu pengin main ke Baby & Kids Market (BKM), akhirnya kesampaian juga hari Minggu kemarin. Udah lama penasaran BKM ini kayak apa, soalnya banyak yang bilang kalau nyari barang-barang murah buat anak mending ke sana. BKM ini diadakan setiap hari Minggu dengan lokasi gonta-ganti kota tiap pekannya. Event BKM yang kita datangi adalah saat di Sutherland, arah selatan Sydney. Dari Kingsford menuju Sutherland, kami mesti naik bus 20 menitan ke stasiun kereta. Kemudian naik kereta menuju Sutherland selama 45 menit.

Radi ga bisa duduk manis di dalam kereta :P

Radi ga bisa duduk manis di dalam kereta 😛

Di lokasi BKM, orang-orang buka lapak dari pukul 9-12 siang. Kami tiba di lokasi pukul 10 lewat, dan langsuuung kayak orang kalap. Bingung mau pilih yang mana. Meski kebanyakan yang dijual barang-barang bekas, tapi kondisinya masih lumayan bangeeet. Malah banyak yang nampak masih baru. Akhirnya kami pulang dengan memborong barang-barang elmo (pilihan Radi)—topi elmo, buku-buku elmo, tirai elmo, tas elmo..hehehe. Plus, akhirnya beli stroller merk mclaren seharga $130 (yang baru harganya $400an di toko) masih dalam kondisi bagus karena cuma sempat dipakai sebentar sama ibu penjualnya. Niat awal kami ke BKM memang sebetulnya buat nyari stroller second karena stroller Radi yang ada sekarang kurang mantap dan kursinya nggak bisa disandarkan jadi kasian kalau Radi bobo di jalan (yang mana itu sering terjadi). Di Aussie stroller itu memang penting banget karena kemana-mana kami hampir selalu jalan kaki. Jadi nggak apa lah beli stroller yang rada mahal tapi berkualitas… demi anak. Mudah-mudahan awet, minimal selama di Aussie nggak perlu gonta-ganti stroller lagi. Sukur-sukur sampai bisa dibawa pulang ke Indonesia buat calon adeknya ntar 😛

Sutherland ini kotanya kecil namun apik. Sejauh pandangan mata dari stasiun kereta menuju stadion basket lokasi BKM sih tampak begitu. Dan kalau dilihat dari google map, lokasi BKM itu bersebelahan dengan hutan yang luas. Meski penasaran pengin jalan-jalan menyusuri kota Sutherland lebih jauh, tapi dengan berat hati kami mesti langsung pulang karena bawaan seabrek. Kami pulang sambil ngedorong dua stroller (stroller yang sebelumnya dibawa dan stroller yang baru dibeli) plus ngangkut belanjaan borongan Radi. *apa nanti kita sekalian buka lapak aja di Indo yah, nak? 😛 *

pamer borongan serba elmo :)

pamer borongan serba elmo 🙂

Kalau mau tahu lebih banyak tentang Baby & Kids Market (BKM) ini, bisa ditengok di sini: http://www.babykidsmarket.com.au

Homeschooling? Why Not?—part 1

Jujur, meng-homeschooling-kan anak selama ini selalu menjadi isu menarik bagi saya.  Mungkin itu berangkat dari pengalaman saya yang buruk dengan sekolah. Ya, saya tidak pernah suka bersekolah. Entah kapan hal itu bermula, tapi saya rasa itu diawali sejak saya dimasukkan ke TK lalu lanjut selama di bangku SD. Saat kali pertama bersentuhan dengan sistem yang bernama sekolah—yakni TK—kebetulan saya mendapat guru yang kurang sabaran menghadapi anak “bermasalah” seperti saya.  Saya akui, saya bukanlah anak yang mudah kala itu (baca: anak yang selalu riang ceria). Saya sangat pendiam, belum tahu cara bersosialisasi, dan enggan ditinggal oleh mama saya. Jadilah, setiap hari saya menangis sepanjang masa TK. Diganggu teman saya menangis, teman merebut mainan saya menangis, ditinggal mami saya apalagi. Sekalinya saya dipuji oleh guru TK adalah saat saya tidak menangis di hari itu. Saya ingat beliau berujar di depan teman-teman sekelas menjelang bel pulang, “Lihatlah Nuraini yang tidak menangis hari ini. Nampaknya setan telah pergi meninggalkannya. Alhamdulillah, segala puja dan puji bagi Allah…”  Saya pun mendongakkan wajah dengan bangga hari itu.

So, taman kanak-kanak dalam memori saya adalah pengalaman teror diganggu anak bully, dirampas buku tulis favorit saat upacara, tak diacuhkan oleh guru dan kawan-kawan (karena siapa yang mau berteman dengan anak yang nggak bisa ngomong dan selalu menangis). Tamat TK ditutup dengan pesan sang guru kepada ibu saya bahwa saya akan sulit naik ke bangku SD karena belum bisa membaca. Maka sepanjang masa libur kelulusan TK, saya perlahan mulai belajar membaca di rumah dengan sendiri. Masuk kelas satu SD wali kelas yang baru menyampaikan pada ibu saya bahwa saya adalah murid yang paling pandai membaca di kelas.

Masa SD tidaklah membaik. Sebagai anak yang pendiam, tak memiliki kemampuan asertif dan membela diri, saya cukup sering menjadi objek bullying. Anak yang pendiam ini pun makin mengucilkan diri. Praktis hingga kelas 4 SD saya tidak punya teman. Kebetulan saat itu saya bersekolah di kalangan anak-anak “the haves” alias borju. Anak dari ekonomi ngepas nyaris tak memiliki tempat di tengah pergaulan mereka. Saya mengerti pilihan orangtua saya menyekolahkan saya di sana kala itu. Prinsip mereka, tak apa merogoh kocek banyak demi pendidikan anak asal anak medapat pendidikan terbaik dari segi agama juga duniawi di tengah masih terbatasnya pilihan sekolah pada masa itu. Maka hampir sepanjang masa SD saya selalu sakit perut setiap pagi saat hendak berangkat sekolah, dan hubungan tak baik dengan sistem sekolah ini nampaknya jadi terbawa terus selama masa bersekolah saya ke depannya.

Masa SMP bisa saya bilang adalah masa yang terbaik dari riwayat bersekolah saya. Kebetulan karena tidak sanggup dari segi ekonomi untuk meneruskan pendidikan di sekolah swasta yang sama, saya pun dipindahkan ke sekolah negeri yang agak pinggiran. Di sana berbaur anak-anak dari berbagai kalangan; dari anak dirut sampai anak sopir angkot. Di satu sisi saya bersyukur bisa keluar dari lingkaran anak borju yang sehari-hari hanya ngomongin barang bermerk, tren terkini, liburan ke luar negeri dan any other artificial stuffs *hoek*.

Satu pengalaman yang membuat hati saya terkesan hingga saat ini, adalah ketika suatu hari saya ketinggalan uang jajan di awal masa SMP saya. Saat mengetahui hal itu, beberapa teman baru saya (yang bisa dibilang dari ekonomi lemah) mendatangi saya dengan uang saweran mereka. Mereka mengumpulkan sedikit receh dari uang jajan yang mereka punya agar saya tidak bersedih. Saat saya menampiknya dengan halus, mereka akhirnya membelikan langsung es jeruk buat saya yang kemudian saya seruput dengan hati yang hangat dan mata berkaca-kaca. Saya belum pernah mengenal ketulusan semacam itu sebelumnya.

Meski tetap dikenal sebagai anak yang pemalu, saya akui kemampuan sosial saya mengalami perkembangan di masa SMP. Tapi dari segi pengajaran, sekolah yang agak buangan ini masih agak tertinggal. Guru-gurunya pun masih so old-fashion, tak jarang menerapkan hukuman fisik—memukul, mencubit, menjewer (yang sebenarnya tidak jauh beda dengan SD saya sebelumnya) juga verbal—membentak, mengejek dan melecehkan di hadapan kelas.

Lompat dari SMP yang dulu sempat heboh masuk berita nasional karena digusur itu, alhamdulillah saya berhasil masuk sekolah unggulan di SMA 70. Saya agak keteteran di kelas satu dan dua SMA, terutama karena saya tidak mengikuti materi pengayaan wajib yang berlangsung hingga sore setiap harinya (dengan upaya keras dari ibu saya untuk meminta izin ke pihak sekolah agar saya dibebaskan dari kelas-kelas tambahan itu. Alasan ibu saya sederhana saja, kasian melihat anaknya disuruh belajar di kelas dari pagi hingga sore hari). Entah karena ingin menjadi sekolah terunggul atau ingin mengurung siswa-siswanya di dalam kelas agar tidak keluar tawuran di siang hari, pihak sekolah menambahkan pelajaran pengayaan hingga waktu ashar yang diwajibkan dari kelas satu. Yang jelas, saya merasa sekolah kala itu terlalu memforsir siswa-siswanya dalam bidang akademis dan malah mematikan kegiatan ekstrakurikulernya.

Saya menemukan kesulitan dalam pelajaran eksakta dan hanya menyukai pelajaran bahasa dan sejarah.  Saya pun tahu akan memilih IPS saat penjurusan di kelas tiga karena tak sudi lagi bertemu dengan matematika—dengan sinus cosinus dan bilangan integral—yang saya sudah tahu pasti tak akan ada gunanya dalam kehidupan saya.

Selama bersekolah di SMA, rasanya motivasi saya masuk hanya sekadar mengisi absensi saja. Untung begitu masuk kelas 3 IPS 4, saya menemukan teman sebangku yang sama-sama doyan berkhayal. Saya pun jadi punya motivasi lebih untuk berangkat sekolah setiap harinya dan mengurangi durasi membolos saya. Kami selalu mengarang-ngarang cerita dan imajinasi kami di selembar kertas yang selalu dioper di antara kami saat pengajaran tengah berlangsung (yang tumpukannya udah jadi bundelan tebal). Syukur, meski jarang memerhatikan guru saat mengajar dan agak sering membolos, saya masih selalu masuk peringkat tiga besar. Saya pikir, mungkin memang begitulah gaya belajar saya—mesti soliter. Dan lagi-lagi, paling efektif di rumah sendiri. Selebihnya, saya merasa masa SMA adalah proses panjang mengisi absensi, belanja seragam, upaya kabur dari timpukan batu saat tawuran (yang sempat mencederai betis saya), dan kesempatan mengasah imajinasi saya bersama teman sebangku.

 

To be continued.

Radinek 20 bulan

Sudah lama nggak nyetor tulisan di “rekam jejak radi” hehe. So here it goes…

Radinek di usia 20 bulan, adalah seperti ini:

  • Selera humornya semakin berkembang. Udah sering ketawa-ketiwi sendiri saat nonton TV.
  • Kata favoritnya yang selalu diulang-ulang tetap “Mama”. Dilanjutkan “emam” (makan), “nyonyo” (no-no) sambil ngacungin jari, “bu” untuk nyebut burung, “moo” “ngrok” “wuf” dan “raaa” buat mengidentifikasi sapi-babi-anjing-singa.
  • Paling senang main ayunan kalau lagi di playground. Bisa duduk di ayunan berjam-jam meski kulitnya kebakar matahari musim panas.
  • Masih takut berenang. Udah dicoba dibawa ke pantai dan kolam renang kampus papa. But no luck.. hihi.
  • Teteuuup doyan banget makan. Alhamdulillah Radi nggak pilih-pilih makan. Apa pun bisa disikat, jadi mamanya nggak perlu pusing-pusing nyusun menu. Tapi eu eu… sekarang ngemilnya akan lebih diperbanyak bubuahan dan cemilan rendah-gula aja deh soalnya berat badannya sekarang udah 14 kg 😛
Radi 20 bulan sedang menunggu bus

Radi 20 bulan sedang menunggu bus

A Child’s Memories

“When I write my stories, I do not use childhood memories. I use a child’s memory. Through that child’s mind, I am too inexperienced to have assumptions. So the world is still full of magic. Anything can happen. All possibilities. I have dreams. I have fantasies. At will, I can enter that world again…”

—Amy Tan, The Opposite of Fate (author of the Joy Luck Club and Kitchen God’s Wives)