Farewell (for now), Papa!

24 Juni 2013

Tanggal itu suami akhirnya pergi meninggalkan tanah air. Meninggalkan pula anak istrinya…untuk sementara waktu. Tiba sudah waktunya bagi sang suami untuk pergi menuntut ilmu di negeri kangguru. Tepatnya, di kota Sydney. Di Universitas New South Wales aka UNSW.

Ada dua rombongan mobil yang ikut mengantar suami ke Cengkareng. Rombongan mobil pertama: Ayah ‘n Mama mertua, Emak uu, Emak maleber dan bi Ai, plus Cecep (kalo gak slah) sang sopir. Mobil kedua berisi: Mang Edi (nyetir), suami, saya ‘n Radi, ibu saya, plus krucils Zahra ‘n Mang Pulki. Buanyak juga yaa..heuheu..

at Cengkareng

mengantar papa di Cengkareng

Sedih juga berpisah-pisahan di bandara. Apalagi Radi lagi demam sejak pagi papanya mau berangkat. Tau kali si bocah mau ditinggal lama papanya…heu. Padahal cuma akan ditinggal beberapa bulan sih. Rencana suami, sekitar 3 bulanan udah pengen ngeboyong saya dan Radi ke sana. InsyaAllah.

But for now, met menuntut ilmu, Pa! Don’t worry about us. Sampai ketemu di bandara Sydney kapan-kapan. Semoga nanti Radi kecil kita udah bisa lari-lari menghampiri Papa di sana. Mwahh mwah!

 

Satu Tahun

Welcome to toddlerhood, son! Its been a fascinating first year.. I’ve experienced your first laugh, crawl, stand, ‘n then fall.  Your first tooth ‘n your first love with elmo ‘n cheese..

my new toddler son :)

my new toddler son 🙂

Catatan Satu Tahun Pertama Radi:

0 bulan

Tidur ‘n nenen aja sepanjang hari. Belum ada jadwal rutinitas yang jelas.

Masih belajar nenen yang benar (radi makannya buanyuak banget).

Kalau dimandiin selalu nangis kenceng.

Imunisasi: Hepatitis B ke-1 pas lahir. Polio seminggu kemudian.

1 bulan
Udah lebih jelas jadwalnya. Kegiatan: nenen, jemur, mandi, nenen lagi…

Kalau nangis, biasanya karena lapar atau sakit perut. Radi sering sakit perut kayak banyak angin. Kentut-kentut terus. L Jangan-jangan pengaruh hernia juga.

Radi sekarang pengen digendong teruuus. Gak mau ditaro begitu aja *emangnya aku ini barang*

Mulai senang mandi. Sudah jarang nangis.

Waktu Radi 1,5 bulan dicoba dikasih sufor karena asinya kurang sementara Radi nangis terus dan bobonya kurang karena masih lapar. Tapi nggak sukses. Radi menolak minum dari botol. Biarpun itu isinya asi. Mesti fresh langsung dari pabriknya.

Udah bisa ngangkat kepala bentar kalo tengkurep.

Mata lebih fokus untuk jarak dekat.

Waktu 7 minggu Radi berenang untuk pertama kalinya *horeee!* Sekaligus dipijat di galenia mcc *lah, promo?!*

Imunisasi: Hepatitis B ke-2. Dan BCG.

2 bulan

Usia 2 bulan kurang 1 hari (27 Juli 2012) Radi menjalani operasi hernia di RS Advent. It’s the worst experience ever *huhuhu* Sehat-sehat terus ya, Nak! *big smooching wet kiss* *elap*

Aktivitas paling digemari Radi ialah bonen (bobo+nenen) bareng mama.

Senang ngemut tangan.

Suka duduk di bouncer.

15 Agustus *catet* his first laugh with timmy the mouse.

Sudah bisa berguling dari tengkurep ke telentang.

Imunisasi: DPT (yang nggak panas Rp. 320 ribu *mahils yak*) dan polio.

3 bulan

Kalo bonen suka heboh, pindah-pindah posisi.

Menyatukan kedua tangan.

Hampir selalu memasukkan tangan ke mulut. Mulai pake slabber deh.

Makin suka ngoceh.

Suka digendong gaya duduk dengan posisi Radi menghadap keluar. Radi senaang banget mengamati sekitar.

4 bulan

Tangan senang menggapai dan mencengkeram.

Makin ekspresif.

Imunisasi: DPT ke-2

5 bulan

Kalau direbahin suka angkat badan kayak udah nggak sabar pengen duduk.

Masukin segala barang yang ditemui ke dalam mulut.

Mulai suka main kaki. Bisa melepas kauskaki sendiri pake mulut *bravo! Ini prestasi yak?*

Radi belum pernah tengkurep sendiri dan nggak suka berguling tapi mau langsung duduk.

Lagi demen teriak-teriak (but it only lasted for about 2 weeks).

6 bulan

Mulai makan *horee!* Radi mengenal buah-buahan dulu.

Suka main kaki sampai ngemut jempol kaki.

Kalo dipangku suka bouncing-bouncing.

Akhir 6 bulan sudah bisa duduk sendiri.

Suka nonton elmo. Lumayan bisa anteng agak lama dikit kalo lagi nonton. Jadi bisa ditinggal bentar sambil mamanya ngejemur, masak, atau nyetrika.

Imunisasi: DPT ke-3.

7 bulan

Makin mantap duduk sendiri.

Mulai ditaro di babywalker.

Meraih semua barang di sekitar.

Punya gaya baru, dari duduk ke tengkurep.

Gak mau ditinggal sendiri. Mesti selalu ditemani orang.

Radi sempat kena diare parah selama 1 minggu lebih. Mencret bisa sampai 10x sehari. Selama diare itu dikasih suplemen zinc dan probiotik.

8 bulan

Merangkak (crawling) maju mundur dan berputar.

Senang menjatuh-jatuhkan barang dari ketinggian, trus dilihat proses jatuhnya (berbunyi atau nggak, jatuhnya kemana).

Radi suka banget makan keju.

9 bulan

Ocehan favorit: eh buat manggil orang dan senang melafal huruf r kalo lagi bete atau kesal.

Suka buka-buka laci dan mengobrak-abrik barang.

Proses mainnya Radi: keluar-keluarin barang dari tempatnya, dimasukin ke mulut untuk dicicip, trus dilempar.

Makin lincah di babywalker. Lari ke sana kemari.

Merangkak kemana-mana.

Tumbuh gigi pertama. Gigi kanan bawah.

Suka gigit-gigit puting kalo nenen. Dahsyat bener gigitannya. Jadi asinya mulai sering dipompa pas lagi luka.

Lagi suka banget nonton TV, terutama acara-acara cbeebies yang banyak lagu-lagunya dan Elmo.

Berdiri sambil berpegang pada perabot.

Suka banget lihat orang makan. Pasti nagih minta juga.

Akhir 9 bulan Radi udah punya 2 gigi bawah.

10 bulan

Suka didorong pakai stroller. Ini jadi trik baru untuk boboin Radi. Beurat soalnya kalo boboinnya mesti digendong terus.

Mulai berjalan merayap (cruising) dengan berpegang pada perabot.

Nambah 2 gigi atas.

Hobi banget nonton.

11 bulan

Gigi Radi udah 4. Dua atas, dua bawah.

Suka mengucap “pa-pa-pa” *kok bukannya ma-ma dulu yak*

Radi disapih lebih dini dari rencana. ASI mama makin habis (mungkin juga efek sering dipompa karena luka dan berdarah). Tapi alhamdulillah Radi udah ketemu susu yang disuka (Danstart alias Dancow buat bayi). Kalau dulu Radi maunya ASI aja. Sekarang Radi maunya sufor aja, males ASI (atau mungkin karena cuman sedikit jadi kesel). So, bismillah aja, meski meng-asinya stop, mudah-mudahan anakku tetep cukup gizi dan tidak terganggu tumbuh kembangnya. Karena kandungan ASI ‘n sufor itu memang nggak bisa disamakan.

12 bulan

Mulai kurang minat nonton TV. Lebih pengin explore the world.

Permainan yang digemari Radi: cilukba, kejar-kejaran (pake babywalker), semacam petak umpet (kita sembunyi di balik tembok atau gorden, Radi yang menemukan).

Akhir 12 bulan mengucap ma-mma *horeee..syenangnyah hatiku 🙂 *

Nasi Tahu Gurih

Berhubung Radi lagi menggemari tahu, jadi dicarilah variasi menu dengan kandungan tahu. Dan dari hasil browsing, didapatlah resep Nasi Tahu Gurih.

Berikut cara bikinnya:

Campur telur, nasi, bawang putih parut, tahu (lumatkan), sedikit air kaldu ayam (kalo ada), wortel serut, dan sedikit keju parut. Kukus 25 menit.

Radi doyan. Akhirnyaaa… ada juga uji coba resep yang berhasil disenangi anak. Uhuuuy!*emak kegirangan*

Senengnya lagi, resep ini simpel banget tapi padat gizi. Dibuat tiap hari juga hayuk aja. Eh tapi jangan ding, takut keburu bosen ;P

nasi tahu
inspirasi resep: bunda Amanda Pingkan (hhbf)

Roti Kukus Pisang Keju

bahan:
– roti gandum sobek-sobek

-lembar keju sobek-sobek

-pisang lumatkan

-unsalted butter

cara buat:
Olesi loyang tahan panas dengan butter. Tata sobekan roti gandum, kemudian keju, kemudian pisang. Bisa dibuat lebih selapis sesuai selera. Kukus.

Berhubung saya penyuka pisang gabung keju (yummy!), menu cemilan ini kayaknya bakal jadi one of my fave. Lah kok malah favorit emaknya? Kalo Radi gimana? Alhamdulillah resep ini sukses… sukses dilepeh *yaiks*

Inspirasi resep: grup homemade healthy baby food (hhbf)

First Time at the Beach

Jadi ceritanya, kami sekeluarga pergi berlibur. Awalnya ibu mertua ingin mengunjungi adik suami yang sedang kerja praktek di salah satu rumah sakit di Banten. Sekaliguslah bikin agenda pelesir sekeluarga. Dan tujuan wisata kami kali ini adalah Pantai Carita.

Pelesir ria ini juga menjadi pengalaman pertama Radi ke pantai. Di usianya yang ke-10 bulan 🙂

Radi masih takut mendengar suara gemuruh ombak dari dekat. Tapi kalau duduk dari zona aman (tak terlalu dekat bibir pantai) sih, Radi nampak enjoy. Senang memandang gulungan ombak dan orang-orang yang asik bermain di pantai.

Here’s a few pics of his first time at the beach.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Fritatta Rice

Karena Radi sudah mulai nampak bosan dengan makanan regulernya, yakni bubur ayam plus (plus wortel/buncis/brokoli/etc), jadilah Mamanya mesti mulai kreatif menyusun menu baru. Siap, Nak! Kusambut tantangan ini dengan tangan terbuka. Ya eyalah, memang siapa lagi yang bakal masakin kalau bukan emaknya.

Sebelumnya, udah pernah nyobain masak aneka menu lain selain buryam buat si bayi. Tapi biasanya Radi kurang antusias, bahkan beberapa menu ditolak mentah-mentah (terutama kalau nasi diganti kentang atau makaroni). Cinta masakan Indonesia kau, Nak. Ujung-ujungnya, balik lagi ke bubur atau nasi tim ayam. Baru belakangan ini aja Radi nampak mulai ingin bereksplorasi dengan makanannya. Dikasih menu biasa, mulai kurang lahap. Tapi suka mengincar makanan yang tidak diperuntukkan baginya saat anggota keluarga lain sedang makan (kentang goreng, tape, kerupuk, eskrim, n so on).

Jadilah, Mamanya kembali sibuk mencari-cari aneka resep makanan bayi. Yang simpel-simpel sajalah, berhubung Mamanya suka malas berlama-lama di dapur. Tapi tetap ingin memberi makanan kaya nutrisi untuk sang buah hati tercintah. Saya cukup sering merujuk ke grup mamak-mamak hhbf (homemade healthy baby food) di fesbuk.

Untuk kali ini, saya mencoba membuat menu Fritatta Rice. Namanya keren yak. Padahal penampakannya nggak jauh beda dengan telor dadar.

Berikut resepnya:

Bahan:

–          Dua kuning telur

–          Segenggam irisan daging ayam

–          Bawang putih

–          Tomat

–          Daun bawang

–          Nasi

–          Keju parut

–          Unsalted butter

Cara buat:

Tumis daging ayam dan bawang putih dengan unsalted butter. Sisihkan.

Kocok lepas 2 kuning telur (berhubung Radi belum genap 1 tahun, jadi belum dikenalin dengan si putih telurnya). Masukkan tumisan ayam tadi ke adonan telur kuning. Tambahkan sedikit potongan tomat merah, irisan daun bawang, keju parut, dan nasi. Aduk rata.

Panggang adonan di wajan anti lengket dengan unsalted butter.

HASIL EKSEKUSI:

Rasa: Enak juga. Wangiii dari butter dan keju. Cuma kurang asin untuk lidah orang dewasa. Maklum, belum pakai garam karena dibikin buat bayi di bawah setahun. Kalau ingin lebih gurih dan asin lagi, mungkin porsi kejunya bisa ditambah lebih banyak.

Radi: kurang antusias ternyata. Hiks. Awal dikasih malah nggak mau. Nampak curiga gituh. Pas mamanya berakting makan lahap di depan muka dia, barulah Radi mau. Tapi lumayanlah.. Meski nggak lahap banget, bisa habis juga tuh separoh porsi.

Sumber resep: bunda Amanda Pingkan (hhbf)

This Big Year’s Theme

Every year has a big theme. Yep. Biasanya, setiap tahun selalu ada tema besarnya. Meski kadang baru kelihatan di pertengahan tahun, atau bahkan di akhir tahunnya.. hehe

Kalau dilihat dari dua tahun ke belakang aja, kira-kira beginilah temanya:

2011 bertema Rumah Sakit

Tema yang nggak bagus sih :(. Tapi memang tidak disengaja dan memang begitulah kenyataannya. Keluarga kita dekat banget dengan rumah sakit di tahun ini. Ibu mertua dua kali menjalani operasi. Pertama, operasi tangan di RS. Advent. Nggak lama kemudian, operasi tulang punggung (dipasang pen) di RS. Hasan Sadikin. Lalu, nenek suami menjalani operasi katarak di RS Cicendo. Tentu sebagai seorang anak yang berbakti (hatsyii!), kita ikutan bolak-balik ke rumah sakit. Membawa barang yang diperlukan, memberi sedikit bantuan atau pun hiburan, dan semacamnyalah. Saya bahkan sering mengajukan diri (sendiri tanpa perlu persetujuan) sebagai suster sang nenek suami tersayang yang perlu bantuan penanganan rutin usai operasi matanya (memberikan tetes mata di jam-jam tertentu, membetulkan perban mata,etc). Halah…lihat darah aja nggak kuat berlagak jadi suster 😀

Dan di bulan Oktober, saya pun merasakan pengalaman bermalam di rumah sakit untuk pertama kalinya dalam hidup. Gara-garanya, saat janin 7 minggu, saya mengalami pendarahan. Karena khawatir, takut pengalaman keguguran yang sebelumnya terjadi lagi pada kehamilan ini, saya dan suami memutuskan agar saya dirawat sementara di RS Hermina sampai pendarahan terhenti dan janin dinilai kuat. Alhamdulillah, Allah menyelamatkan janin saya ini. Dua hari dirawat saya pun pulang.

2012 bertema Awal Baru

Tema tahun ini jelas dijuduli Awal Baru karena adanya kelahiran seorang manusia baru. Lahirnya sang buah hati tercinta, Amir Rahadi Naufan pada 28 Mei 2012. Bersamaan dengan itu, lahirlah pula seorang ibu baru. Dan juga ayah baru. Ini sebuah peran baru yang benar-benar berat bagi kami. Tapi semoga kami berdua bisa menjadi orangtua yang amanah. Kami akan bertumbuh dan belajar terus, Nak. Hosh!

Dan pada bulan September 2012, akhirnya kami memberanikan diri pindah ke rumah baru kami di Cihanjuang. Our new home sweet home. Kami pindah saat Radi sudah hampir 4 bulan. Jadi saya udah lumayan pede buat mengurus sendiri tanpa bantuan ART dan orangtua. Awalnya memang beuraaat. Segala mesti dilakoni sendiri. Tapi seru. Saya dan suami jadi belajar berbagi beban. Awal baru bagi sebuah keluarga baru.

Begitulah tema besar dua tahun sebelumnya.

Dan, untuk tahun 2013 ini, temanya sudah didapat, Saudara-Saudara. Yaitu…jreng jreng jreeeng *tiup terompet*

…Merantau…

Yep, 2013 adalah tahun bagi kami untuk memulai perantauan. Sejak awal menikah, suami memang sudah getol mengincar beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya. Dan Alhamdulillah, rejekinya didapat dari Pemerintah Australia lewat program Australia Awardsnya. So menurut rencana, suami akan berangkat ke Sydney bulan Juni 2013 ini. Untuk melanjutkan studi S-2 program Water Resource di UNSW.

So, sebagian besar agenda tahun 2013 ini akan berkaitan dengan rencana perjalanan studi suami. Mulai dari kesibukan ngurus ini-itu terkait paspor dan visa sekeluarga, medical checkup saya dan Radi, belanja keperluan di sana (khususnya baju-baju dingin), pelatihan suami selama 1,5 bulan di Jakarta untuk persiapan keberangkatan, sampai nanti pada akhirnya berangkat beneran, beradaptasi dan menetap hingga 2 tahun ke depan. Doakan keluarga kecil kami di perantauan nanti ya (lho?..).

Sebuah nasihat yang selalu saya ingat adalah, “Seorang muslim harus menjadi rahmat di bumi mana pun dipijaknya.” Semoga merantaunya kami ke tanah asing ini (seumur-umur belum pernah ke luar negeri ih) bisa membawa kebaikan bukan hanya bagi kami sendiri, tapi juga bisa memberi cipratan kebaikan bagi orang-orang sekitar (minimal maskapai penerbangan :P). Amiiin.

Blue Diary of Mumbai

blue diary of mumbaiJudul: The Blue Diary of Mumbai (The Blue Notebook)

Penulis: James A. Levine

Penerjemah: Nuraini Mastura

Penyunting: Endah Wijayanti

Penerbit: Salamadani (PT Grafindo Media Pratama)

Cetakan: I, September 2012

Tebal: 340 hlm

 

 

Sinopsis:

 Dengan tangan kirinya dia menjambak rambutku dan menarik kepalaku dari ranjang. Dengan tangan kanan, dia menampar wajahku begitu keras. Dia menamparku lagi dengan punggung tangannya. ‘Sekarang, apa yang mau kau katakan?’ Aku tak sanggup melawan. Aku berbisik patuh, ‘Terima kasih. Terima kasih, Tuan’.”

Batuk terseret pada kegelapan sejak ia berusia sembilan tahun. Ia mesti merelakan sang Ayah menukar dirinya dengan lembaran rupee untuk menghuni sebuah rumah bordil di Mumbai. Menjalani hidup sebatang kara di tengah pusaran kekejian manusia, Batuk menemukan pelariannya dengan menulis pada sebuah  buku catatn biru. Dia meleburkan dirinya pada kata-kata, hingga yang tersisa hanyalah harapan dalam lembar-lembar buku harian birunya. Di tengah belenggu yang mengekang hidupnya, mampukah Batuk menyelamatkan diri dari kepungan derita lewat sebuah buku catatan biru?

“Kisah ini sangat menyentuh sekaligus mampu menggugah jiwa kita; menunjukkan betapa goresan-goresan pena dapat menolong kita untuk melewati rangkaian situasi yang paling mengerikan sekalipun. Karya ini akan terus dikenang.”—Khaled Hosseini, penulis the Kite Runner

 

EONA

eona2Judul: EONA (Punggawa Naga Terakhir)

Penulis: Alison Goodman

Penerjemah: Putra Nugroho

Penyunting: Nuraini Mastura

Penerbit: Mizan Fantasi

Cetakan: I, Juli 2012

Tebal: 655 hlm

 

 

Sinopsis:

Kerajaan Naga kayangan kini berada di ambang kehancuran. Lord Sethon membantai dan meluluhlantakkan seluruh negeri. Anggota kerajaan dibunuh, istana diruntuhkan. Tidak banyak yang selamat dari serangan Lord Sethon dan pasukannya.

Satu-satunya cara menyelamatkan kerajaan adalah dengan menyatukan kekuatan Pangeran Kygo, Manuskrip Hitam dan kekuatan kedua belas Punggawa Naga dan naga mereka. Namun, hanya tersisa dua punggawa Naga yang masih hidup, Eona—seorang Punggawa Naga baru—dan Lord Ido. Sementara, manuskrip hitam hilang dicuri oleh Dillon yang haus kekuatan gelap. Eona dan dua temannya—Ryko dan Dela—berhasil lari dari kejaran Lord Sethon, dan kini berusaha mencari sang Pangeran serta Manuskrip Hitam tersebut.

Dibumbui romansa cinta segitiga dan adegan pertarungan seru, kisah seru Eona akan membuat kita semakin tenggelam dalam dunia avatar bersama Punggawa Naga.

“… Goodman seolah membangun negeri Naga bersama pembacanya. Tidak ada penjelasan yang bertele-tele, dan pembaca semakin sulit untuk berhenti membaca buku ini ….”

Goodreading Magazine

Welcome, Radi!

27 Mei 2012

Tepat saat usia kandungan menginjak hari ke-40, Minggu pagi saya mulai ngerasa mules-mules. Mulesnya kayak kram haid biasa (baru nantinya tau kalau itu tuh yang namanya kontraksi..he..maklum belum pernah ngalamin). Siang harinya, mulai keluar banyak lendir dengan sedikit warna cokelat pudar. Oke. Dari menurut berbagai sumber yang dibaca, itu adalah mucus plug (sumbatan ketuban). Artinya, si bayi sudah bersiap mau keluar nih. Akhirnyaaa si dedek mau keluar juga. On time sekali kau, Nak. Setelah begitu lama ditunggu-tunggu.

Sebetulnya, pengin ke rumah sakitnya besok hari Seninnya, karena dokter saya (dokter Indri) lagi keluar kota dan baru balik besok. Tapi karena menjelang sore lendir makin banyak dan mulai bercampur dengan air rembesan ketuban, saya dan suami memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit Minggu sorenya. Daripada malamnya nggak bisa tidur. Tegang ngebayangin gimana kalau si dedek pengin launchingnya tengah malam. 😀

bumil ainka

berpose sebelum berangkat ke RS

Dalam hati riang, merasa akhirnya tibalah saat yang dinanti-nanti. Nggak lama lagi kita akan berjumpa dengan Radi. Sudah tidak sabar ingin melihat wajahnya. Bercampur tegang juga, pastinya. Nanti kita berjuang bersama-sama, ya Nak. Bismillahirahmanirahiim…

Sekitar pukul 17.00 Minggu kita masuk ruang observasi. Diperiksa suster sudah masuk bukaan 2 dan ketuban sudah merembes. Jadi saya sudah nggak diperbolehkan jalan-jalan. Kudu bedrest. Pipis juga mesti di ranjang.:(  Dan karena ketuban sudah pecah, saya mendapat infusan antibiotik. Ini khususnya supaya si bayi tercegah dari infeksi.

Mendengar kabar saya yang sudah masuk rumah sakit, ibu saya langsung datang. Ikut menginap bareng suami (Love u, Mom. Ibu saya memang selalu rajin mengikuti perkembangan calon cucunya. Selalu ikut waktu jadwal USG dan dari jauh-jauh hari udah menekankan mau ikut menemani pas saya melahirkan).

28 Mei 2012

Karena tengah malamnya mules-mules saya malah makin reda bukan bertambah, maka nggak heran pas diperiksa lagi besok paginya bukaan masih 2 aja, Sodara-Sodara. Halaah…alamat bakal beneran diinduksi ini mah.

Mama mertua mampir pagi harinya sebelum ke kantor. Memberi dorongan moriil sekaligus mendoakan agar saya bisa melahirkan secara normal dan lancar. Amiin. Nuhun, Niniiin.

Sayangnya, karena bukaan berjalan lambat sementara ketuban sudah bocor, saya pun diinduksi siangnya. Berdasar instruksi dari dokter Indri yang sampai siang itu masih berada di Jakarta.

Sempat makin tegang juga. Soalnya sudah sering banget mendengar cerita-cerita temen betapa sakitnya diinduksi. Suami berusaha menenangkan melihat saya yang begitu tegang. Sambil memijit-mijit kaki saya, dia terus berdoa.

Berjam-jam efek induksi belum terasa. Sempat berpikir, ternyata induksi segini aja (weys). Jangan-jangan saya perlu dosis dobel dari orang-orang kebanyakan.

Benarlah. Menurut pemeriksaan sekitar jam 2 siang, bukaan baru mau masuk 3. Lama benerr…

Tapi setelah diperiksa terakhir itu, saya mulai mendapat serangan mules hebat dan sering. Malah seperti tanpa jeda, dari satu kontraksi ke kontraksi berikut. Tadinya suster baru mau meriksa bukaan lagi jam 5 sore sesuai jadwal. Tapi karena ibu saya seperti nggak tega melihat saya yang mulai kesakitan menahan nyeri terus-menerus, dia langsung panggil suster. Minta agar saya kembali diperiksa.

Si suster sempat komplain. Katanya pemeriksaan bukaan mesti sesuai jadwal. Nggak bisa sedikit-sedikit mules minta diperiksa.

Tapi suster tetap memeriksa, karena didesak ibu saya. Dan ternyata… saya sudah masuk bukaan 4. Dan sesuai aturan, kalau udah bukaan 4, pasien mesti dipindahkan ke ruang bersalin dari ruang observasi.

Saat dipindahkan dari antara dua ruang itu, saya merasa hantaman kontraksi makin dahsyat. Rasanya kayak diare parah, sakit punggung dan kejang rahim hebat (mungkin bayinya lagi turun, karena sebelumnya memang posisi si bayi masih di atas banget). Dahsyat benerr dah!…

Masuk ruang bersalin, saat diperiksa lagi saya sudah masuk bukaan 7.

Dalam hati bersyukur, bukaan langsung besar dalam waktu cepat. Mungkin efek induksi baru bekerja.

Waktu diperiksa sekitar sepuluh menit kemudian, dan sudah bukaan 8, terasa dorongan kuat untuk mengejan. Dan susah banget ditahannya karena nyeri kontraksi yang seolah tanpa jeda dan tenaga yang ada juga sisa-sisa setelah semalaman nggak bisa tidur.

Pas ada dorongan hebat dari kontraksi, saya merasa mengompol dan sempat meminta maaf pada suster. Tapi kata suster, itu air ketuban. Ketuban sudah banyak mengalir keluar.

Behubung dokter saya sedang tidak di tempat, datanglah dokter pengganti. Dokter Yogi.  Akhirnyaaa…

Mungkin melihat saya yang sudah kepayahan menahan dorongan kontraksi, saya merasa dokter menyuntik lalu menggunting sedikit jalan keluar bayi. Kemudian memperbolehkan saya untuk mulai mengejan.

Menerima aba-aba dari dokter, semua pun langsung bersiap. Pasang posisi. Suster-suster memberi semangat. Ibu saya mengambil posisi di sisi kiri saya sambil menahan paha. Sementara suami mengambil posisi di belakang saya, duduk bersila sambil memangku kepala saya. Menyuruh saya untuk terus membuka mata dan menutup mulut saat mengejan.

Proses mengejannya agak lama karena tenaga saya yang sudah banyak terkuras. Orang-orang bilang kepala bayi saya sudah terlihat. Malah pak dokter berseru, “Wah, keriting rambutnya tuh.” Saya makin nggak sabar. Tapi tetap aja…Rasanya sudah sepuluh kali mengejan, si bayi belum jua muncul.

Dokter sampai sudah mulai menyiapkan alat vakum.

Tapi Alhamdulillah sebelum sempat dipakai, tangisan nyaring pun terdengar.

Allahu Akbar. Maha Besar Allah.

Amir Rahadi Naufan terlahir di dunia hari Senin pukul 16.19 sore. Dengan berat 2,7 kg dan panjang 49,5 cm.

foto perdana radi

Hari Pertama Jadi Orangtua

Momen sangat indah bin mengharukan usai persalinan itu, adalah ketika Radi dibawa dan dibaringkan di sisi kanan saya. Waktu proses IMD itu, tubuh saya sudah lemes banget. Tapi bahagianya tak terkira saat merasakan bibir mungilnya mulai mencecap ASI saya. Begitu damaiii… Maha Suci Allah.. Perjuangan sepanjang proses kehamilan dan melahirkan ini rasanya tak ada apa-apanya dibanding nikmat karunia bisa memeluk si kecil Radi.

Tapi malam harinya, saat kami sudah masuk kamar dan seluruh keluarga sudah pulang—hanya ada saya dan suami—Radi dibawa kembali oleh suster untuk disusui dan Radi tidak mau. Malah sebagai orangtua baru, kami sempat diceramahi oleh sang suster yang menilai cara kami menggendong nggak bener. Masih takut-takut. Apalagi cara saya memangku dan menyusuinya. Si suster ketahuan belum ngalamin yang namanya baru abis melahirkan normal. Mencari posisi duduk aja susah dengan bekas jahitan yang masih segar, seluruh otot badan masih kejang dan lemes. Ya butuh waktu, sampai eike mahir menyusui. Give me time… Saya kan juga ibu baru. Plis, deh… 😀 Ternyata yang kudu belajar menyusu bukan bayinya aja. Ibunya juga.

Malam itu, tubuh saya menggigil hebat. Suami sempat panik. Jadi mengebel suster. Untung yang datang, suster yang lain bukan yang itu *lap keringet*. Kata suster, itu reaksi tubuh yang normal usai melahirkan. Tubuh saya letih (dengan proses persalinan 24 jam) dan baru saja kehilangan banyak darah. Setelah dibungkus jaket suami yang super tebel, akhirnya tubuh saya berhenti menggigil…malah kegerahan.

Saya mungkin hanya tertidur sejam malam itu. Lalu sekitar jam 2 dini hari kami dihubungi dari kamar bayi. Katanya, Radi nangis-nangis minta disusui. Karena sebelumnya kami sudah berpesan ingin memberi ASI eksklusif, maka sayalah yang dipanggil ke sana untuk menyusuinya.

Rasanya sungguh momen yang memorable saat saya dan suami berjalan bergandengan tangan menyusuri lorong-lorong rumah sakit pada dini hari untuk menemui putra kecil kita. Saya dengan baju daster hehe..

Sayangnya, begitu tiba di sana, lagi-lagi Radi malah tidur dan nggak mau minum. Setelah beberapa kali mencoba membangunkan, dan gagal, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Dan akan kembali menjenguknya dua jam kemudian.

Sempat cemas juga. Kok Radi bobo terus, gak mau minum-minum. Jangan-jangan tidur terusnya karena lemes gak makan-makan. Tapi dari (lagi-lagi) sumber yang saya baca—jadi ibu memang harus banyak bekal ilmunya ternyata—bayi yang baru dilahirkan masih menyimpan cadangan makanan dari dalam perut ibunya dulu, dan ia bisa bertahan hingga tiga hari tanpa asupan ASI setelah lahir. Makanya saya masih tenang dan nggak buru-buru mengambil keputusan untuk langsung memberinya susu formula.

Well, itulah hari pertama saya dan suami menjadi orangtua for many many days to come. Masih banyaak yang mesti kami pelajari. Sebuah amanah baru kini diberikan pada kami. Untuk mendidik dan membesarkan Amir Rahadi Naufan menjadi manusia yang sholeh. Manusia yang mengabdi pada sang Pencipta dan bisa membawa manfaat bagi orang banyak.

Ada harapan tersendiri yang kami sematkan pada pemilihan nama anak kami ini. Amir artinya pemimpin dari bahasa Arab. Rahadi, dari Sansekerta, artinya pelita atau yang menerangi. Naufan dari nama bapaknya, yang artinya tinggi. Jadi harapan kami sebagai ortunya, kelak ia bisa menjadi pemimpin yang mampu menerangi sekitar. Minimal dengan ilmunya kelak. Amiiin ya Rabbal alamiiin…

Panggilan anak kami ini Radi. Yang dari suatu sumber, Radi dalam tradisi Islam, artinya yang ridho, puas, senang (happy). Sementara dalam bahasa Jawa, Radi artinya berkah Tuhan. A gift from God.

Kami merasa Radi memang benar-benar sebuah berkah Tuhan yang luar biasa. Sekaligus sebuah amanah yang beuraaat. Ya, tugas baru kami sebagai orangtua ini memang nggak enteng, dan proses belajarnya pasti seumur hidup. I just hope, semoga kami bisa menjadi orangtua terbaik bagi Radi kami tersayang.

But for now, welcome to the world baby!!!