Menancapkan Akar Spiritual

Membesarkan anak di era keterbukaan dan di masa gadget merajalela seperti saat ini, banyak tantangannya—tantangan yang jelas belum ditemui di masa-masa sebelumnya. Banyak harapan yang tersemat dalam pengasuhan anak saya. Saya ingin anak saya bisa tumbuh menjadi seorang muslim yang cerdas, mendunia, dinamis, dan tidak gagap mengikuti perkembangan zaman. Saya ingin anak saya kelak pergi menjelajah dunia, tidak terkurung dalam tempurung. Kalau bisa, sejak remaja sudah mengikuti program pertukaran pelajar ke negara maju, belajar hal-hal baik dari mana-mana, sekaligus mengambil peran sebagai duta muslim yang cerdas, modern dan berakhlak mulia *amiiin*

Namun bersamaan dengan harapan itu, muncul pula kekhawatiran. Bagaimana jika keimanannya luruh akibat pergaulan dengan berbagai keyakinan dan isme-isme yang ada? Mampukah dia menjaga benteng keyakinannya tetap kukuh meski dia menjadi sosok satu-satunya di tengah keramaian? Terus menjaga shalatnya dan hubungannya dengan sang Khalik?

Karena itulah, di usianya sekarang yang baru lima tahun, sebelum dia berangkat menjelajahi dunia, sekaranglah saatnya yang krusial bagi saya untuk menanam fondasi itu. Mengukuhkan akar yang kuat menancap jauh ke bumi sehingga tidak mudah doyong diguncang badai dari luar.*bahasanya, euy*

 

Bismillah… di antara praktik penanaman akar spiritual ini, berikut yang saya upayakan:

  1. Setiap sehabis maghrib berjamaah ada waktu khusus untuk belajar mengaji dan meningkatkan interaksi kita dengan Al-Quran. No TV sampai isya. Murni belajar Al-Qur’an.
  2. Memilihkan SD berbasis agama, sehingga kongruen dengan penanaman akhlak islami.
  3. Setiap Minggu pagi, atas inisiatif Mamah mertua, beliau mengadakan program hafalan Qur’an keluarga. Sebenarnya, jujur, saya bukan orang yang ngoyo menghafal Qur’an dan tidak kurang berambisi untuk itu. Tapi, di hari pertama saya langsung termotivasi. Selain melatih sel-sel kelabu pada otak, insyaAllah berikhtiar menghafal juga menurunkan keberkahan dan menjadi kebiasaan keluarga yang langsung disaksikan oleh anak. Saya berharap, saat dewasa kelak, Radi akan selalu terkenang belajar mengaji dan menghafal Qur’an bersama keluarga di saung Ninin. Semoga kelak kebiasaan itu akan menjadi kenangan manis yang mengakar dalam dirinya dan selalu dirindukannya.

 

Yah, upayanya mungkin tidak seberapa. Tapi saya berharap, apapun yang akan dihadapinya di masa depan kelak; bagaimanapun ambisi, harapan, dan impiannya membawanya, kelak akan selalu ada sepercik kenangan yang mengingatkannya pada “jalan pulang.”

Wallahu’alam.

 

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah …” (QS. Jumu’ah: 10)