Renungan

Jelang umur kepala empat, rasanya saya semakin merenungi arti hidup ini.

Sudah cukup lama saya berjalan di bumi ini. Apa yang telah saya hadirkan?

Jika saya dipanggil pulang sekarang, apa yang bisa saya persembahkan kepada sang Pencipta yang telah menciptaku ke dunia fana ini?

Apa jejak yang bisa saya berikan pada dunia yang saya datangi puluhan tahun silam dan akan tinggalkan kelak?

Arti kontribusi dari umur saya ini semakin mengusik saya.

Apa pencapaian saya hingga saat ini?

Toh, rasanya saya bukan siapa-siapa.

Saya belum punya karya yang bisa dibanggakan. Pun saya tak punya karier gemilang yang dengannya saya bisa mengangkat harkat derajat keluarga dan bersedekah lebih banyak.

Suatu ketika pernah saya berpikir jikapun saya tidak punya kontribusi yang besar, ijinkan saya melahirkan dan membesarkan seorang anak. Setidaknya saya telah menyumbangkan satu manusia baik kepada dunia ini. Mungkin itu peran yang bisa saya mainkan. Mungkin itulah kontribusi terbesar saya.

Meski begitu, saya menyadari bahwa seorang anak adalah entitas terpisah yang tak bisa kita dikte sedemikian rupa. Kelak pada waktunya nanti ia akan mengambil perannya sendiri. Peran yang terpisah dari diri saya.

Lalu pertanyaan yang sama kembali berkumandang. Peran apa yang akan saya ambil saat ini sebelum waktu saya habis?

Pernah pula saya berpikir, saya ingin meninggalkan jejak dengan menorehkan sebuah mahakarya. Sebuah tulisan karya yang bisa membawa dampak positif dan menginspirasi banyak orang. Saya pikir hanya itu pilihan yang bisa saya ambil karena saya enggan berhubungan dengan banyak orang dan kegiatan menulis agaknya berbau soliter. Its just me and the world inside my head.  

Itu mimpi saya. Tetapi dengan berjalannya waktu, saya merasa mimpi besar ini serasa menyesakkan. Saya merasa dikejar-kejar waktu, padahal kemampuan saya segini-gini saja.

Paradigma saya pun diubah sehingga target saya tak lagi menjadi beban. Jika pun menulis, saya hanya ingin sekadar belajar menata pikiran saya dan berbagi. Masterpiece or not, at least Im leaving behind a bit of my legacy. Sekalipun itu hanya berupa kicauan di blog atau sosmed. 😛

Akhirnya,

jika ditanya saat ini, lalu apa sumbangsih dari umur yang saya habiskan di dunia?

Maka, saya akan menjawab.

Saya berusaha menjadi manusia yang sebaik-baiknya.

Sepanjang hidup, saya berusaha agar tidak pernah menyusahkan hidup orang lain.

Mungkin saya akan melakukan hal-hal yang dianggap sebelah mata, seperti memungut kucing liar di jalan dan merawatnya.

Saya berusaha memilah sampah dan membuat komposter di rumah sebagai bentuk kepedulian saya terhadap kelestarian bumi—planet tempat saya dilahirkan.

Saya senantiasa belajar ilmu parenting dan berusaha memutus rantai pengasuhan yang kurang baik.

Menyisihkan harta setiap kali dapat uang.

Menghibur dan menyemangati orang lewat tulisan sosmed kita.

Semua itu bernilai.

Ya. Untuk berkontribusi, kita tidak perlu berdiri di podium dan menggalang massa. Kita tidak perlu menerima imbalan finansial.

Setiap orang memiliki perannya masing-masing. Dan tak ada peran yang lebih penting atau lebih kecil dari yang lain. Setiap orang berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya.

Itu sudah cukup.

“Service to others is the rent you pay for your room here on earth.”

–Muhammad Ali

Toxic.

ada satu titik masa dalam hidupku

ketika kumemilih untuk memelankan laju

kuhirup udara di sekitarku dalam-dalam

kureguk panorama sekitarku

kusyukuri napasku hari itu.

 waktu terus berlari,

 lambat laun diri ini kembali terperosok

terseret masuk ke dalam spiral keriuhan dunia 

berebut menjadi yang terdepan.

menggegas pencapaian.

memenangkan penilaian dari orang lain.

terdepan. tercepat. terbaik.

tanpa disadari kutelah kembali berjalan di rute

yang semakin hari semakin toxic

saat jalan itu semakin menjauhkanku dari diriku yang sejati

maka satu pilihan nyata mesti kuambil

memilih keluar dari rute itu

dan kembali.

Mama

One of the moments that I trully treasure is picking up my son after school. Seeing his face brighten up when he catches the sight of me among the crowds of parents. With a wide smile, he calls me, “Mama!” He will then race his feet and throw his little hands to give a quick hug on my hips before going into a full rampant about how his day went.

That moment sometimes throw me to a different time and place.

There were days when I would be searching for my mom’s face among the parents outside of the school gate. And when I caught her presence with her usual flowers pattern dress (a bit worn because of her frequent wear),  my heart then would be filled with serenity.

The presence of Mum, is a calling for home.

Belajar Jadi Ahli Syukur

Pemikiran random di tengah sebuah percakapan random yang bisa terjadi di mana saja:

 

Skenario 1: Seorang istri mengeluhkan kepada suaminya karena keinginannya untuk menambah anak tampak pupus setelah dirinya divonis menderita suatu penyakit.

Sang suami berujar, “Kita mesti bersyukur. Coba lihat, ada pasangan A yang mendambakan satu anak kandung saja tapi tak kunjung diberi.”

 

Skenario 2: Seorang istri mengeluhkan uang belanja rumah tangganya yang pas-pasan dan kondisi suami yang tak kunjung naik pesangon.

Sang suami berkoar, “Lihat si anu, sepupumu itu. Anaknya banyak, utangnya banyak … Penghidupan kita masih lebih mending. Bersyukurlah kita, beib.”

 

Skenario 3: Seorang ibu yang mengkhawatirkan perkembangan kecerdasan anaknya yang dinilai lambat dari anak-anak sebaya tengah curhat pada seorang teman ngegosip  arisannya.

Si temen berkeok, “Jeung, mestinya kamu banyak-banyak bersyukur. Lihat tuh, si ibu tetangga sebelah, anaknya cacat mental. Sampai sekarang usia SD belum juga bisa ngomong.  Sementara anakmu kan udah lincah, sehat, lucu … cuma sayang ya, belum bisa baca.”

 

 

Sepintas, tidak ada yang salah dari percakapan-percakapan random sehari-hari ini. Intinya berpesan agar kita bersyukur dengan mengamati orang yang bernasib lebih malang dari diri kita. Lalu, adakah yang salah dari hal ini?

Hmm… tidak juga. Itu memang bisa jadi salah satu metode bersyukur, dan sah-sah saja.

Terkadang, manusia memang butuh sesuatu yang konkrit. Sesuatu yang akan menguatkan rasa kebersyukurannya. Dan “sesuatu yang konkrit” itu adalah  kasus-kasus “kemalangan” yang bisa dilihat, didengar, dan diraba di sekitar dirinya. Namun ini bisa dibilang cara bersyukur ala anak TK. Metode tingkat rendah. Sama seperti ketika kita menjelaskan konsep “pahala” atau mengajarkan konsep berhitung kepada mereka. Karena belum sanggup mencerna konsep-konsep abstrak, segala sesuatunya mesti dibuat sekonkrit mungkin. Begitu tabungan pemahaman mereka akan yang konkrit ini sudah cukup banyak, baru mereka bisa mulai beralih pada hal yang abstrak.

***

“Syukur adalah bahagia. Bahagia adalah syukur. Dengan kita bersyukur, kita akan temukan kebahagiaan.”

Bagian ruwet lainnya dari metode bersyukur tahap mendasar ini, adalah bahwa kasus-kasus konkrit itu merupakan faktor eksternal yang berada di luar diri kita. Ia tak dapat kita kendalikan atau kita manipulasi sesuka hati. Apakah kita lantas mesti melihat orang lebih menderita dulu, baru kita bisa merasa lebih bahagia? Atau sebaliknya, kadar kebahagiaan kita berkurang saat mereka ketiban untung. Mungkin fenomena inilah yang mencetuskan ungkapan “Susah melihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah.” Karena fenomena itu mau tidak mau memainkan peran penting dalam takaran kebahagiaan diri kita sendiri. Naudzubillah…

Hayuklah, kita mulai belajar bersyukur cukup dari dalam diri. Kita mulai beralih dari bangku kelas syukur ala anak TK. Tengoklah hanya ke dalam diri. Sering-sering lakukan refleksi dan komunikasi dengan kalbu kita, bukan kalbu orang-orang lain. Mari kita senantiasa berusaha menerjemahkan keinginan sang Penggenggam kalbu itu dalam skenario hidup kita, dalam setiap langkah hidup kita.

Tak perlu lagi tengok kanan-kiri, tak usah risau bin usil dengan nasib-nasib orang sekitar kita. Semua ada takaran masing-masing. Setiap manusia hanya menempuh garis takdirnya. Ukirlah kisah hidup kita seindah mungkin. Ciptakan mahakarya yang kelak layak kita persembahkan kepada sang Maha Agung, Asy-Syakur,yang telah mengembuskan nafas syukur ke dalam fitrah kalbu segenap insannya. Amiiin.

 

#averylatepost

My Sensitive Little Soul

Suatu malam saat menemaninya tidur, dengan tangan mendekap leher saya, saya dikagetkan oleh suara kecilnya, “Mama nggak boleh meninggal sampai aku jadi bapak-bapak.”

Sontak saya menoleh dari layar hape dan menumpahkan perhatian penuh kepadanya. Berbagai pertanyaan seketika berkecamuk di benak, “Mengapa out of the blue ia sampai berpikir begitu?” Terpikir pula berbagai jawaban untuk meredakan rasa takutnya. Saya merasa seakan harus menenangkannya dari mimpi buruknya. Hanya saja, ini bukan mimpi buruk. Ini adalah ketakutannya yang nyata.

Saya pun teringat, sayalah yang sesungguhnya menularkan ketakutan itu. Beberapa bulan belakangan saya memang cukup sering mengingatkannya agar bisa belajar lebih mandiri. Pergi tidur sendiri bila mengantuk, mandi sendiri, membereskan pakaian dan merapihkan mainannya sendiri. Pernah terucap oleh saya, bahwa ia harus mandiri demi kebaikannya sendiri karena mamanya belum tentu bisa selalu menemaninya. Kita tak pernah tahu umur. Bila amanah Mama menjaga Radi sudah selesai dan Mama sudah dipanggil pulang sama Allah (seperti Aki), Allah yang akan menjaga Radi langsung.

Tak disangka, nasihat itu membekas cukup dalam pada dirinya. Hingga ke malam hari itu, sekian lama kemudian. Saya pun akhirnya hanya bisa menenangkannya dengan berkata, “Insya Allah, Sayang. Kamu doain biar Papa Mama sehat-sehat terus, anak jagoan …”

Nyatanya ucapan itu tak cukup menenangkan hatinya. Ia pun tertidur malam itu dengan air mata masih membasahi kedua pipi sementara Mama hanya bisa menciumi dan memeluknya hingga ia lelap ke alam mimpi.

Ah, Nak, betapa bening dan halus hatimu. Dan betapa egoisnya Mama yang telah menularkan ketakutan terbesar Mama jika meninggalkanmu terlampau dini. Tanpa saya sadari bahwa bagi seorang anak, ketakutan ditinggalkan orangtua lebih menakutkan daripada ditakuti tentang neraka. Padahal bukankah selama ini neraka merupakan konsep yang saya hindari  untuk ceritakan kepada jiwanya yang masih suci dari dosa?

Ah Nak, sebelum menasihatimu, Mamalah sesungguhnya yang harus belajar lebih ikhlas dan lebih tegar. Bukan kamu. Belajar kemandirian tak perlulah diwanti-wanti dengan rasa takut. Yang perlu kita fokuskan saat ini adalah menciptakan begitu banyak momen dan kenangan indah bersama yang akan kamu bawa sepanjang kehidupanmu. Hingga kelak kamu tumbuh menjadi “bapak-bapak” yang paling tegar, paling bijak, paling baik dari semua “bapak-bapak” yang Mama kenal. 🙂

 

Mommy love u. :*

I Thank You

I Thank You for the memories from my early days.

They are my source of inspiration. My most valuable life lessons.

 

I Thank You for the family whom I’ve grow up with.

We’ve been through a lot together.

However different we may have grown, I love them to pieces and nothing can replace them in my heart.

 

I Thank You for my new family who has welcomed me with open arms.

Having a large extended family by my side has been my lifelong dream.

 

I Thank You for the companion of this wonderful guy that You have sent me.

He has truly been my solid rock. May we be a couple in heaven and earth. Amen.

 

I Thank You for my circle of friends. They all bring laughter, joy, and colour to my world.

 

I Thank You for the ultimate gift of all, my bundle of joy, the answer of my prayer, my son, Radinek.

Having him really taught me a lot about life.

Since then, all of my other wishes seems trivial and greedy. His presence has given me much more than I could’ve asked for.

 

I Thank You for my journey so far.

My hapiness has taught me to be more giving.

My trials has taught me to be a humble piece of human being.

 

I Thank You for this 34 years of my life.

I am trully blessed.

Melepas Rasa Takut

Menghabiskan hari di bangsal rumah sakit bagian jantung. Bertukar kisah dengan para manula. Menyusuri lorong-lorong rumah sakit usai tilawah subuh. Memandang hilir mudik orang berbalut mantel musim dingin dan lepas landasnya pesawat lewat jendela utama, sambil menanti kunjungan anak dan suami sementara keluarga selebihnya berada jauh di tanah air. Sangat menanti-nanti saat kepulangan agar bisa memeluk anak sepuasnya, merawat dan menemaninya bermain—melaksanakan tugas seorang ibu dengan semestinya.

Terkadang saya kembali terlempar pada hari-hari sepi dan penuh perenungan kala itu (halah!). Meski sekarang sudah hampir tiga bulan sejak saat operasi bypass jantung saya dilaksanakan dan hampir dua bulan sejak prosedur ablasi diambil terhadap sinyal listrik yang korslet pada jantung saya.

Menjalani hari-hari setelahnya tidak selalu mudah. Terkadang reaksi tubuh apa pun bisa memberi saya kecemasan, meski ternyata itu sekadar pusing dan pegal biasa. Luka-luka yang melintang di tengah dada dan sepanjang paha masih menyisakan nyeri meski tidak sampai menghambat aktivitas saya (thank God!). Pun meski saya mengira melaksanakan diet ketat tidak akan jadi masalah bagi saya, namun berpisah dengan makanan dan minuman kesukaan itu nyatanya gampang-gampang susah, terutama dengan kue, roti-rotian dan cokelat karena sebelumnya pencuci mulut macam itu sudah jadi semacam comfort food yang bisa mengangkat mood saya (ihiks!).

Tapi yang terasa paling berat mungkin dari segi mental. Efek dari penyakit jantung saya ini juga telah memangkas sebagian mimpi saya dan suami, juga orangtua kami. Apalagi… kalau bukan kembali melahirkan buah hati, memberikan adik sekaligus “teman” bagi Radi kami tersayang. Meski saya sudah berusaha ikhlas menerimanya, terkadang terselip kecemasan jika saya telah mengecewakan orang-orang dekat akibat kondisi ini (ini mungkin akibatnya jika diri terlalu sensyitiiif).

Satu-satunya hal yang saat ini bisa saya lakukan ya kembali menghadapkan wajah pada sang Pencipta. Membangun bonding yang begitu kuatnya hingga ujian dan badai apa pun di dunia yang fana tidak akan mampu “menggoyang” saya. Hm… berat ya. Tapi memang tiada jalan lain. Ketika fisik diuji, spiritual harus dikukuhkan (tentu selain pengobatan dan terapi fisik).

Saya sempat bertukar cerita dengan seorang kawan dekat yang juga diberi ujian sakit dan mengharuskannya berobat rutin ke dokter. Dia mengingatkan, bahwa mungkin kita sama-sama diberi ujian di masa-masa golden age—masa keemasan usia produktif—agar kita tidak lalai. Juga agar dosa-dosa kita dibersihkan sedari usia “relatif” muda. Ujian ini menjadi salah satu bentuk “penjagaan” Allah atas diri kita. (hiks..menohok dan dalem sekali kata-katanya..)

Yah, hal yang paling ingin saya kejar dari hubungan yang dekat dengan sang Pencipta adalah agar diri ini terlepas dari rasa takut dan kekhawatiran. Rasa takut jelas bisa jadi pemicu stres yang sangat tidak baik bagi kondisi jantung saya. Padahal saya memang dasar orangnya mudah cemas. Sisi perfeksionis diri saya pun bisa menambah ruwet masalah. Hal-hal kecil yang melenceng dari rencana awal saja bisa membuat saya stres. Padahal dua kali perjalanan ke UGD makin menyadarkan saya akan betapa rapuhnya dunia yang saya tinggali. Jadi buat apa menghabiskan energi untuk mengkhawatirkan ini itu. Tidak ada waktu untuk itu. Nikmat dunia toh bisa direnggut sewaktu-waktu. Bukankah ajal tak pernah mengenal usia?

Ingin sekali saya memiliki jiwa yang ikhlas, jiwa yang nrimo atas segala ketetapan-Nya. Memiliki hati yang selalu lapang, tenang, dan penuh syukur.

Tidak perlu takut akan datangnya ajal. Toh Allah sudah menetapkan skenario hidup kita dan peranan kita di dunia. Dan tugas kita sebagai manusia, cukup jalankan peran itu sebaik-baiknya; sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri, sebagai seorang anak, sebagai seorang anggota masyarakat …

Tidak perlu takut meninggalkan anak di dunia. Anak toh bukan milik kita. Kita hanya dipinjamkan alias diamanahi, dan Pemilik sesungguhnyalah yang akan menjaga. Tugas saya hanya mendidik “titipan” ini sebaik mungkin hingga saat sang Pemilik menetapkan lain… saat sang Pencipta berkata, “Sudah, tugasmu sudah selesai sampai di sini. Kamu sudah menjalankan tugasmu (mendidik anak) dengan begitu baik dan penuh amanah.” (amiiin YRA).

Pun, saya tidak perlu takut akan rejeki.  Bukankah rejeki juga ada yang menjamin? Bukankah Allah Maha Kaya? Selama kita terus berikhtiar menjemput rejeki di jalan yang lurus. Menjalani hidup dengan prinsip kesederhanaan dan tak lupa berbagi.

Lepaskan rasa takut. Perbanyak rasa syukur…

Bersyukur masih diberi kesempatan terbangun di pagi hari. Untuk memeluk anak dan orang-orang terkasih satu hari lagi. Karena masih diberikan kesempatan dan kemampuan untuk kembali berbuat kebaikan.

Pintaku saat ini pada sang Pengasih ialah, agar dimudahkan langkahku dalam menempuh jalan keikhlasan dan karuniakan padaku hati yang lapang dan penuh syukur. Hati yang selalu ridho atas segala ketetapan-Mu.

 

“Hai, jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku. Masuklah ke surgaku.” (Al-Fajr: 27-30)

Dua Manusia, Dua Irama Detak Jantung

Orang selalu mengira bahwa kami begitu mirip. Sama-sama kalem dan pendiam.

Namun itu baru penampakan luarnya.

Seiring berjalannya usia perkawinan, saya menemukan banyaknya perbedaan di antara kami.

Saya begitu suka dengan rencana yang terjadwal, sementara dia lebih suka spontanitas (yah lihat aja gimana nanti).

Saya lebih ekspresif dalam mengungkap perasaan, dia begitu rapat menyimpan emosi.

Saya senang dengan keterbukaan, dia lebih suka memilah mana yang pantas dibagi.

Yah, ternyata di balik permukaan, kami tetaplah dua pribadi yang sangat berbeda.

And that is what makes the marriage more colourful, I guess. 😛

Homeschooling? Why Not?—part 2

Meski selalu tertarik dengan prinsip homeschooling, sebagaimana terungkap dalam riwayat belajar saya dalam lembaga sekolah pada bagian sebelumnya, namun homeshooling ini bagi saya tetaplah sebuah pilihan yang tak akan pernah saya jalani. Alasan utama, adalah karena tidak adanya sumber daya yang memadai, yakni waktu dan (keraguan akan) kemampuan diri selaku pengajar. Bahkan saya akui, mengambil keputusan meng-homeschooling-kan anak itu agak menakutkan bagi saya. Karena itu berarti, saya memutuskan untuk mengambil tanggung jawab penuh bagi pengajaran anak saya alih-alih mendelegasikan (sebagian) tanggung jawab kepada pihak  lain. Selain masih banyak pula kekhawatiran yang menghantui saya dengan alternatif pendidikan ini, seperti akankah kecerdasan sosial anak saya kelak menemui hambatan? Akankah di masa depan ia menemui kesulitan menghadapi konflik? Saya juga khawatir anak saya nanti terlalu nempel ke mamanya padahal ia akan hidup di masyarakat bukan di lingkungan keluarga kecilnya.

Selain faktor-faktor kecemasan ini, saya juga sudah berasumsi bahwa ide homeschooling ini tak akan pernah disetujui oleh partner hidup saya alias papanya Radi yang keluarga besarnya sebagian besar merupakan kalangan pengajar sekolah. Itu asumsi saya… hingga suatu hari tiba-tiba saja suami mengeluarkan wacana itu sendiri. Ternyata beliau makin terbuka dengan ide homeschooling ini setelah salah seorang temannya mengambil langkah ini. Beliau kemudian menceritakan pengalaman kawannya itu: Anak si kawan suami itu dahulu sering ditegur gurunya saat bersekolah di Indonesia karena sering kali melamun di tengah pelajaran. Saat anaknya bersekolah di Brisbane, kebetulan ia mendapat seorang guru yang lebih proaktif. Alih-alih menegur karena kebanyakan melamun, anaknya justru sering diberi challenge-challenge lebih ketika sang guru melihat anak didiknya sudah cukup mengerti dengan materi. Begitu pulang ke tanah air, ayahnya ingin menerapkan pendidikan yang lebih progresif dan lebih fokus pada minat dan kemampuan anak yang bersifat individual. Setelah meriset sana-sini dan menemukan satu atau dua sekolah yang cukup sesuai dengan keinginannya, nyatanya sekolah-sekolah itu mengaku tidak bisa menyediakan tempat bagi anaknya. Karena itulah ayah dan ibunya akhirnya memilih bahwa homeschooling merupakan metode yang paling tepat bagi anak mereka saat ini.

Suami saya kemudian berujar bahwa homeschooling ini bisa menjadi salah satu alternatif pilihan untuk mendidik anak kami kelak, khususnya di usia TK hingga SD karena masa itu adalah masa kritis dalam pembentukan karakter, penanaman kebiasaan baik, dan penguatan pondasi bagaimana dia memandang proses belajar hingga ke depan.

Ada macam-macam alasan orang memilih metode homeschooling ini. Sebagian besar karena sudah skeptis dengan metode pengajaran yang terlalu membebani anak dengan kurikulum tidak tepat sasaran, karena faktor biaya sekolah yang kian hari kian tinggi, karena jadwal yang sempit untuk bersekolah jika anak kita kebetulan ngartis *tepok jidat*, karena orangtua ingin menerapkan “personalized education” yakni memilah ilmu yang lebih dekat dengan minat dan bakat si anak, dan alasan macam-macam lagi.

Ada baiknya memang kita memikirkan ulang tujuan kita menyekolahkan anak di instansi sekolah itu apa sebetulnya. Untuk mencetak anak multitalenta? Atau sekadar untuk ngumpulin nilai dan dapat ijazah (seperti saya dahulu kala)?

Pengalaman buruk saya dengan sekolah tidak lantas membuat saya apatis terhadap sekolah lhooo. Optimisme itu tetap ada. Toh, saya lihat kini semakin banyak sekolah-sekolah berdiri yang menawarkan metode pengajaran alternatif, meski harganya banyak yang aduhai. Tidak seperti orangtua jaman dulu, orangtua jaman sekarang memang lebih disuguhi beragam pilihan sekolah bagi anaknya. Ada sekolah alam, montessori, ataupun sekolah yang mengklaim sebagai global school, dan bermacam-ragam lagi. Tinggal memilih dan memilah yang paling sreg di hati dan paling sesuai dengan konsep pendidikan orangtuanya.

Meski belum memiliki kecondongan akan memilih sekolah model apa untuk anak saya kelak *sabar, Radi belum genap 2 tahun*, saya sudah mengurut sejumlah syarat untuk memilih sekolah yang ideal baginya, yang kurang-lebih seperti beginilah: Sekolah yang metode belajarnya memfokuskan pada pengembangan bakat dan minat siswa dengan kurikulum yang tidak membebani (layaknya sekolah tottochan); porsi yang imbang antara bobot akademis dengan pengembangan kreativitas dan bakat anak; penekanan pada penguatan karakter (akhlak); tidak ada dikotomi antara pendidikan agama dan duniawi; tidak mengenal sistem rangking; di kelas tidak boleh lebih dari 20 siswa; dan biaya masuk maupun SPPnya tidak kelewat mahal. (Saya tidak ingin Radi merasakan pengalaman yang sama dengan yang dialami mamanya saat bersekolah di tengah lingkungan anak-anak borju). *dan daftar ini mungkin masih akan berkembang seiring perkembangan anak kami*

Mudah-mudahan kami berjodoh dengan sekolah yang demikian. Kalau nggak, homeschooling mungkin akan menjadi opsi terbaik. Kekhawatiran yang sebelumnya ada akan homeschooling ini nyatanya bukanlah sebuah hal yang mesti menyurutkan langkah. Kemampuan bersosialisasi toh bisa diasah di mana saja. Dan memilih homeschooling kan tidak lantas berarti memutuskan pergaulan anak dengan seisi dunia. Tinggal pintar-pintar pendidiknya saja kelak membuka ruang dan kesempatan yang luas bagi si anak untuk mengasah kemampuan sosialisasinya. Ada tutor, ada tetangga, ada komunitas. Malah saya lihat siswa homeschool (HS) cenderung memiliki kelebihan karena terbiasa berinteraksi rutin dengan komunitas lintas-usia alih-alih menghabiskan sepanjang hari dengan teman sebaya di kelas. Dan, kecemasan bahwa siswa HS tidak terbiasa menghadapi konflik itu kata siapa. Lantas apakah tekanan dari teman sebaya (peer pressure) atau bullying yang semakin marak merupakan konflik yang dibutuhkan bagi anak? Khawatirnya, konflik yang tidak proporsional malah akan kontradiktif dengan pengalaman belajarnya yang mestinya dibuat positif.

Sesungguhnya masih panjang perjalanan anak kami sebelum tiba masanya bagi kami untuk memilih sekolah yang paling sesuai baginya. Yah, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangan anak dan kondisi di depan. Yang jelas, homeschooling merupakan pilihan terbuka bagi kami. Pilihan yang jika pun kami ambil itu bukanlah karena ingin berbeda dari mainstream, bukan pula karena sikap apatisme (putus harapan) terhadap lembaga sekolah. Pun bukan sekadar untuk melampiaskan obsesi terpendam ibunya untuk menjadi guru taman kanak-kanak 😛 Kalau pun pada akhirnya nanti kami memilih metode homeschool, itu karena kami menganggap pilihan itu adalah jalan yang dirasa paling cocok bagi Radi untuk saat itu. Yang paling memuaskan batin dan mendekati cita-cita kami untuk mendidiknya menjadi manusia paripurna *ciyye.. eh, amiiin*.

Namun apa pun pilihan yang kelak kami ambil, saya tetap bertekad akan mengambil peranan sebagai pendidik pertama dan utama bagi Radi. Saya menganggap, instansi sekolah dan lingkungan hanyalah pendidik sekunder dan tertier bagi proses pengajaran anak kami. Basis pengajaran yang utama, tetaplah berpusat dari rumah.  Jadi sedikit banyak kami akan mengadopsi prinsip-prinsip homeschooling itu sendiri, dengan mengambil peranan aktif dan keterlibatan penuh dalam proses pendidikan buah hati kami.

 mom n son

Homeschooling? Why Not?—part 1

Jujur, meng-homeschooling-kan anak selama ini selalu menjadi isu menarik bagi saya.  Mungkin itu berangkat dari pengalaman saya yang buruk dengan sekolah. Ya, saya tidak pernah suka bersekolah. Entah kapan hal itu bermula, tapi saya rasa itu diawali sejak saya dimasukkan ke TK lalu lanjut selama di bangku SD. Saat kali pertama bersentuhan dengan sistem yang bernama sekolah—yakni TK—kebetulan saya mendapat guru yang kurang sabaran menghadapi anak “bermasalah” seperti saya.  Saya akui, saya bukanlah anak yang mudah kala itu (baca: anak yang selalu riang ceria). Saya sangat pendiam, belum tahu cara bersosialisasi, dan enggan ditinggal oleh mama saya. Jadilah, setiap hari saya menangis sepanjang masa TK. Diganggu teman saya menangis, teman merebut mainan saya menangis, ditinggal mami saya apalagi. Sekalinya saya dipuji oleh guru TK adalah saat saya tidak menangis di hari itu. Saya ingat beliau berujar di depan teman-teman sekelas menjelang bel pulang, “Lihatlah Nuraini yang tidak menangis hari ini. Nampaknya setan telah pergi meninggalkannya. Alhamdulillah, segala puja dan puji bagi Allah…”  Saya pun mendongakkan wajah dengan bangga hari itu.

So, taman kanak-kanak dalam memori saya adalah pengalaman teror diganggu anak bully, dirampas buku tulis favorit saat upacara, tak diacuhkan oleh guru dan kawan-kawan (karena siapa yang mau berteman dengan anak yang nggak bisa ngomong dan selalu menangis). Tamat TK ditutup dengan pesan sang guru kepada ibu saya bahwa saya akan sulit naik ke bangku SD karena belum bisa membaca. Maka sepanjang masa libur kelulusan TK, saya perlahan mulai belajar membaca di rumah dengan sendiri. Masuk kelas satu SD wali kelas yang baru menyampaikan pada ibu saya bahwa saya adalah murid yang paling pandai membaca di kelas.

Masa SD tidaklah membaik. Sebagai anak yang pendiam, tak memiliki kemampuan asertif dan membela diri, saya cukup sering menjadi objek bullying. Anak yang pendiam ini pun makin mengucilkan diri. Praktis hingga kelas 4 SD saya tidak punya teman. Kebetulan saat itu saya bersekolah di kalangan anak-anak “the haves” alias borju. Anak dari ekonomi ngepas nyaris tak memiliki tempat di tengah pergaulan mereka. Saya mengerti pilihan orangtua saya menyekolahkan saya di sana kala itu. Prinsip mereka, tak apa merogoh kocek banyak demi pendidikan anak asal anak medapat pendidikan terbaik dari segi agama juga duniawi di tengah masih terbatasnya pilihan sekolah pada masa itu. Maka hampir sepanjang masa SD saya selalu sakit perut setiap pagi saat hendak berangkat sekolah, dan hubungan tak baik dengan sistem sekolah ini nampaknya jadi terbawa terus selama masa bersekolah saya ke depannya.

Masa SMP bisa saya bilang adalah masa yang terbaik dari riwayat bersekolah saya. Kebetulan karena tidak sanggup dari segi ekonomi untuk meneruskan pendidikan di sekolah swasta yang sama, saya pun dipindahkan ke sekolah negeri yang agak pinggiran. Di sana berbaur anak-anak dari berbagai kalangan; dari anak dirut sampai anak sopir angkot. Di satu sisi saya bersyukur bisa keluar dari lingkaran anak borju yang sehari-hari hanya ngomongin barang bermerk, tren terkini, liburan ke luar negeri dan any other artificial stuffs *hoek*.

Satu pengalaman yang membuat hati saya terkesan hingga saat ini, adalah ketika suatu hari saya ketinggalan uang jajan di awal masa SMP saya. Saat mengetahui hal itu, beberapa teman baru saya (yang bisa dibilang dari ekonomi lemah) mendatangi saya dengan uang saweran mereka. Mereka mengumpulkan sedikit receh dari uang jajan yang mereka punya agar saya tidak bersedih. Saat saya menampiknya dengan halus, mereka akhirnya membelikan langsung es jeruk buat saya yang kemudian saya seruput dengan hati yang hangat dan mata berkaca-kaca. Saya belum pernah mengenal ketulusan semacam itu sebelumnya.

Meski tetap dikenal sebagai anak yang pemalu, saya akui kemampuan sosial saya mengalami perkembangan di masa SMP. Tapi dari segi pengajaran, sekolah yang agak buangan ini masih agak tertinggal. Guru-gurunya pun masih so old-fashion, tak jarang menerapkan hukuman fisik—memukul, mencubit, menjewer (yang sebenarnya tidak jauh beda dengan SD saya sebelumnya) juga verbal—membentak, mengejek dan melecehkan di hadapan kelas.

Lompat dari SMP yang dulu sempat heboh masuk berita nasional karena digusur itu, alhamdulillah saya berhasil masuk sekolah unggulan di SMA 70. Saya agak keteteran di kelas satu dan dua SMA, terutama karena saya tidak mengikuti materi pengayaan wajib yang berlangsung hingga sore setiap harinya (dengan upaya keras dari ibu saya untuk meminta izin ke pihak sekolah agar saya dibebaskan dari kelas-kelas tambahan itu. Alasan ibu saya sederhana saja, kasian melihat anaknya disuruh belajar di kelas dari pagi hingga sore hari). Entah karena ingin menjadi sekolah terunggul atau ingin mengurung siswa-siswanya di dalam kelas agar tidak keluar tawuran di siang hari, pihak sekolah menambahkan pelajaran pengayaan hingga waktu ashar yang diwajibkan dari kelas satu. Yang jelas, saya merasa sekolah kala itu terlalu memforsir siswa-siswanya dalam bidang akademis dan malah mematikan kegiatan ekstrakurikulernya.

Saya menemukan kesulitan dalam pelajaran eksakta dan hanya menyukai pelajaran bahasa dan sejarah.  Saya pun tahu akan memilih IPS saat penjurusan di kelas tiga karena tak sudi lagi bertemu dengan matematika—dengan sinus cosinus dan bilangan integral—yang saya sudah tahu pasti tak akan ada gunanya dalam kehidupan saya.

Selama bersekolah di SMA, rasanya motivasi saya masuk hanya sekadar mengisi absensi saja. Untung begitu masuk kelas 3 IPS 4, saya menemukan teman sebangku yang sama-sama doyan berkhayal. Saya pun jadi punya motivasi lebih untuk berangkat sekolah setiap harinya dan mengurangi durasi membolos saya. Kami selalu mengarang-ngarang cerita dan imajinasi kami di selembar kertas yang selalu dioper di antara kami saat pengajaran tengah berlangsung (yang tumpukannya udah jadi bundelan tebal). Syukur, meski jarang memerhatikan guru saat mengajar dan agak sering membolos, saya masih selalu masuk peringkat tiga besar. Saya pikir, mungkin memang begitulah gaya belajar saya—mesti soliter. Dan lagi-lagi, paling efektif di rumah sendiri. Selebihnya, saya merasa masa SMA adalah proses panjang mengisi absensi, belanja seragam, upaya kabur dari timpukan batu saat tawuran (yang sempat mencederai betis saya), dan kesempatan mengasah imajinasi saya bersama teman sebangku.

 

To be continued.