Renungan

Jelang umur kepala empat, rasanya saya semakin merenungi arti hidup ini.

Sudah cukup lama saya berjalan di bumi ini. Apa yang telah saya hadirkan?

Jika saya dipanggil pulang sekarang, apa yang bisa saya persembahkan kepada sang Pencipta yang telah menciptaku ke dunia fana ini?

Apa jejak yang bisa saya berikan pada dunia yang saya datangi puluhan tahun silam dan akan tinggalkan kelak?

Arti kontribusi dari umur saya ini semakin mengusik saya.

Apa pencapaian saya hingga saat ini?

Toh, rasanya saya bukan siapa-siapa.

Saya belum punya karya yang bisa dibanggakan. Pun saya tak punya karier gemilang yang dengannya saya bisa mengangkat harkat derajat keluarga dan bersedekah lebih banyak.

Suatu ketika pernah saya berpikir jikapun saya tidak punya kontribusi yang besar, ijinkan saya melahirkan dan membesarkan seorang anak. Setidaknya saya telah menyumbangkan satu manusia baik kepada dunia ini. Mungkin itu peran yang bisa saya mainkan. Mungkin itulah kontribusi terbesar saya.

Meski begitu, saya menyadari bahwa seorang anak adalah entitas terpisah yang tak bisa kita dikte sedemikian rupa. Kelak pada waktunya nanti ia akan mengambil perannya sendiri. Peran yang terpisah dari diri saya.

Lalu pertanyaan yang sama kembali berkumandang. Peran apa yang akan saya ambil saat ini sebelum waktu saya habis?

Pernah pula saya berpikir, saya ingin meninggalkan jejak dengan menorehkan sebuah mahakarya. Sebuah tulisan karya yang bisa membawa dampak positif dan menginspirasi banyak orang. Saya pikir hanya itu pilihan yang bisa saya ambil karena saya enggan berhubungan dengan banyak orang dan kegiatan menulis agaknya berbau soliter. Its just me and the world inside my head.  

Itu mimpi saya. Tetapi dengan berjalannya waktu, saya merasa mimpi besar ini serasa menyesakkan. Saya merasa dikejar-kejar waktu, padahal kemampuan saya segini-gini saja.

Paradigma saya pun diubah sehingga target saya tak lagi menjadi beban. Jika pun menulis, saya hanya ingin sekadar belajar menata pikiran saya dan berbagi. Masterpiece or not, at least Im leaving behind a bit of my legacy. Sekalipun itu hanya berupa kicauan di blog atau sosmed. 😛

Akhirnya,

jika ditanya saat ini, lalu apa sumbangsih dari umur yang saya habiskan di dunia?

Maka, saya akan menjawab.

Saya berusaha menjadi manusia yang sebaik-baiknya.

Sepanjang hidup, saya berusaha agar tidak pernah menyusahkan hidup orang lain.

Mungkin saya akan melakukan hal-hal yang dianggap sebelah mata, seperti memungut kucing liar di jalan dan merawatnya.

Saya berusaha memilah sampah dan membuat komposter di rumah sebagai bentuk kepedulian saya terhadap kelestarian bumi—planet tempat saya dilahirkan.

Saya senantiasa belajar ilmu parenting dan berusaha memutus rantai pengasuhan yang kurang baik.

Menyisihkan harta setiap kali dapat uang.

Menghibur dan menyemangati orang lewat tulisan sosmed kita.

Semua itu bernilai.

Ya. Untuk berkontribusi, kita tidak perlu berdiri di podium dan menggalang massa. Kita tidak perlu menerima imbalan finansial.

Setiap orang memiliki perannya masing-masing. Dan tak ada peran yang lebih penting atau lebih kecil dari yang lain. Setiap orang berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya.

Itu sudah cukup.

“Service to others is the rent you pay for your room here on earth.”

–Muhammad Ali

A Prayer Answered

Suatu ketika, si bocah bertanya.

“Mama pas kecil dulu cita-citanya pingin jadi apa?”

Hmm.. sebetulnya, butuh waktu agak lama buat mikir jauh ke belakang, soalnya prasaan pas seusia Radi saya memang ga inget punya cita-cita selain jadi Ibu yang ngasuh dan ngedidik anak. Mungkin karena potret orang dewasa pas saya kecil dulu ya Mama saya sendiri yang memang seorang ibu rumah tangga (meski sempat berpraktek jadi dokter umum di Ceko).

Pokoke kalau ditanya cita-cita pasti saya jawab pingin jadi somebody’s Mom.

Ternyata jawaban saya itu bikin mata bocah berbinar-binar. Ia kemudian nyeletuk penuh semangat, “Cita-cita Mama udah terkabul. Kan Mama punya aku!”

“Yes, indeed boy. Cita-cita utama Mama udah terkabul.”

Nah, belakangan, bocah jadi sering bertanya. Bukan hanya tentang cita-cita masa kecil,  juga tentang mimpi-mimpi Mama yang mana itu dihubungkan dengan dirinya. Dia akan tiba-tiba aja bertanya di waktu-waktu yang random and seems out of the blue. Pas si bocah bersiap mau sholat sementara liat Mama lagi baca buku, pas kami lagi jalan-jalan sore berdua.

“Ma, dulu pas Mama hamil pingin punya anak laki atau perempuan?”

Hm, dulu sih ga ada preferensi apa-apa prasaan, tapi tentu aja kujawab, “Laki-laki.” (biar hati si bocah senang).

“Yeyy, Mama punya aku. Aku kan laki-laki,” serunya riang sambil merangkul Mama erat.

Omongan ini sudah bisa meningkatkan happiness mood bocah berkali-kali lipat. Kadang kita ga menyangka ya, bahwa ucapan-ucapan kita yang disampaikan dengan ringan tapi tulus bisa membekas begitu dalam di batin anak.

Mungkin ucapan seperti ini yang dinamai mantra positif yang terekam di pikiran bawah sadar anak dan bisa dibawa kelak hingga si anak dewasa.

And moments like these makes me wonder. Mungkin setiap orang butuh merasa keberadaan dirinya berarti, bahkan terutama anak kecil. Our little ones.

So, make sure to tell your kids bahwa kelahiran mereka ke dunia adalah hadiah terindah dari Sang Pencipta.

Hug them and tell them that they are a true blessing. Hujani hari-hari dia dengan mantra-mantra positif.

Hopefully, in the future, whenever they face hardships and feels as if their life means nothing, they would remember that their beings was actually somebody’s answered prayer.

Ramadhan 2020

Ramadhan tahun ini akan datang dan berlalu dengan penuh kesahajaan.

Ramadhan tahun ini akan membasmi sisa-sisa ketamakan manusia.

Ramadhan tahun ini menjadi momen menyucikan diri bagi mereka yang menyegerakan bertaubat.

Ramadhan tahun ini akan memaksa kita bersimpuh di alas sajadah, memohon ampunan dan belas kasih-Nya.

Jauh lebih khusyu dari hari-hari sebelumnya.

Dalam kesahajaan.

Di rumah saja.

Selamat datang wahai bulan suci!

Menancapkan Akar Spiritual

Membesarkan anak di era keterbukaan dan di masa gadget merajalela seperti saat ini, banyak tantangannya—tantangan yang jelas belum ditemui di masa-masa sebelumnya. Banyak harapan yang tersemat dalam pengasuhan anak saya. Saya ingin anak saya bisa tumbuh menjadi seorang muslim yang cerdas, mendunia, dinamis, dan tidak gagap mengikuti perkembangan zaman. Saya ingin anak saya kelak pergi menjelajah dunia, tidak terkurung dalam tempurung. Kalau bisa, sejak remaja sudah mengikuti program pertukaran pelajar ke negara maju, belajar hal-hal baik dari mana-mana, sekaligus mengambil peran sebagai duta muslim yang cerdas, modern dan berakhlak mulia *amiiin*

Namun bersamaan dengan harapan itu, muncul pula kekhawatiran. Bagaimana jika keimanannya luruh akibat pergaulan dengan berbagai keyakinan dan isme-isme yang ada? Mampukah dia menjaga benteng keyakinannya tetap kukuh meski dia menjadi sosok satu-satunya di tengah keramaian? Terus menjaga shalatnya dan hubungannya dengan sang Khalik?

Karena itulah, di usianya sekarang yang baru lima tahun, sebelum dia berangkat menjelajahi dunia, sekaranglah saatnya yang krusial bagi saya untuk menanam fondasi itu. Mengukuhkan akar yang kuat menancap jauh ke bumi sehingga tidak mudah doyong diguncang badai dari luar.*bahasanya, euy*

 

Bismillah… di antara praktik penanaman akar spiritual ini, berikut yang saya upayakan:

  1. Setiap sehabis maghrib berjamaah ada waktu khusus untuk belajar mengaji dan meningkatkan interaksi kita dengan Al-Quran. No TV sampai isya. Murni belajar Al-Qur’an.
  2. Memilihkan SD berbasis agama, sehingga kongruen dengan penanaman akhlak islami.
  3. Setiap Minggu pagi, atas inisiatif Mamah mertua, beliau mengadakan program hafalan Qur’an keluarga. Sebenarnya, jujur, saya bukan orang yang ngoyo menghafal Qur’an dan tidak kurang berambisi untuk itu. Tapi, di hari pertama saya langsung termotivasi. Selain melatih sel-sel kelabu pada otak, insyaAllah berikhtiar menghafal juga menurunkan keberkahan dan menjadi kebiasaan keluarga yang langsung disaksikan oleh anak. Saya berharap, saat dewasa kelak, Radi akan selalu terkenang belajar mengaji dan menghafal Qur’an bersama keluarga di saung Ninin. Semoga kelak kebiasaan itu akan menjadi kenangan manis yang mengakar dalam dirinya dan selalu dirindukannya.

 

Yah, upayanya mungkin tidak seberapa. Tapi saya berharap, apapun yang akan dihadapinya di masa depan kelak; bagaimanapun ambisi, harapan, dan impiannya membawanya, kelak akan selalu ada sepercik kenangan yang mengingatkannya pada “jalan pulang.”

Wallahu’alam.

 

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah …” (QS. Jumu’ah: 10)

(Menuju) Hari yang Produktif

Tahun baru—tahun 2018—belum lama berlalu. WhoooT?… Udah tahun 2018 aja..

Kok rasa-rasanya tahun-tahun sebelumnya berlalu begitu aja.. tanpa jejak.. tanpa prestasi berarti … tanpa pertumbuhan diri. Rasanya kebisaanku ya gitu-gitu aja *huhu*

Mungkin ada siiih jejaknya … Radi sekarang udah lima tahun. Udah makin pinter. (trus apa lagi?) *huhuhiks*

But still, it seems I let my days gone wasted although I could have done more.

Bukankah waktu itu pun amanah?

Soo, masih di momentum awal tahun, saya mencoba menginisiasi sebuah rutinitas baru (dengan metode yang tidak sepenuhnya baru siih). Setiap pagi, saya akan membuat “my to-do list” di sebuah notes kecil. I wont write my humdrum everyday chores (such as wash and ironing clothes) on my to-do list. Saya hanya akan menorehkan rencana aktivitas menyangkut target profesional (menulis), target pendidikan Radi (aktivitas bermain & belajar sama anak), target pertumbuhan-diri (belajar bahasa asing, baking, mengkaji ilmu ukhrowi, etc), target kebugaran (bersepeda statis 10 menit, renang, yoga, etc), dan tak kalah penting … doing hobby (aka crosstitching). 😛

 

 

 

Saya akan tuliskan rencana aktivitas di buku jurnal ini setiap pagi sembari sarapan, dan setiap malam saya akan mereview hal-hal yang saya kerjakan (atau tidak) dengan ceklist. Saya merasa upaya mencatat aktivitas di buku jurnal setiap hari ini sangat dibutuhkan untuk menjadikan hari-hari yang saya lalui lebih produktif. Minimal, saya jadi tahu kemana hari-hari itu berlalu begitu saja.

 

Wish me luck!

 

UPDATE:

Ternyata eh ternyata, agak susah juga ye menuliskan target agenda per harinya. Ujung-ujungnya, saya lebih banyak melakukan “mental-note”, nyatet dalam hati aja hehehe

Pocket of Happiness

Whenever I feel down or gloomy or uninspired, then I would take something out of my pocket.

That “something” are special moments I’ve collected from many years of my life.

Some are from my childhood memories. When Papi started his car engines, and we were all excited because he would take us cruising the street in early morning on our PJ’s.

The moment I opened my box of crossstitch and started working on a new pattern.

Some are from my adulthood also.

When my baby nephew was born and I had a chance to splurge him with many gifts.

When I hold my son on my lap while I stroke his curly hair and point to an aeroplane zooming the sky as our car drove.

I called them my pocket of happiness.

With them, I could chase my troubles away bcos I feel like I own the world.  And maybe, just maybe … I would have some extra pocket to share it with others.

Give Back

Bersyukurlah kau, Nak, memiliki kesempatan tinggal di bumi Indonesia yang damai. Bayangkan jika kau tinggal di negeri yang masih dicekam konflik. Bayangkan jika sehari-hari kau mendengar dentuman meriam dan harus melindungi diri dari pecahan mortir.

Bersyukurlah kau, Nak, terlahir di tengah keluarga besar yang begitu menyayangimu. Masih banyak anak yang dibesarkan dengan kurang kasih sayang dan perhatian.

Bersyukurlah kau, Nak, masih diberikan nikmat sehat jasmani dan rohani. Betapa banyak anak yang terlahir tak sempurna atau didera sakit panjang.

Bersyukurlah kau, Nak, dibesarkan di tengah keluarga yang memiliki tingkat ekonomi cukup. Berapa banyak anak yang luntang-lantung di jalanan demi mencari sesuap nasi, sementara kamarmu bertabur mainan dan buku cerita.

Bersyukurlah kau, mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan terbaik. Pendidikan yang bisa mengembangkan dan mengarahkan minat dan bakatmu. Jangan sia-siakan. Berapa banyak anak yang terpaksa putus sekolah, buta huruf, atau bahkan tak mengenyam bangku sekolah sama sekali.

Kau mungkin termasuk salah seorang dari segelintir yang beruntung. Dan karenanya, segelintir orang ini sebenarnya memiliki TANGGUNG JAWAB lebih. Give Back! Kita harus membantu, mengayomi dan melakukan kebaikan sekecil apapun bagi orang-orang lain yang lebih “berkekurangan.”  Dengan cara apapun yang kau bisa. Entah dengan tenaga, waktu, harta, juga ilmu. Terutama ilmu. Sekecil apapun itu. Tak ada yang sia-sia.

Bersyukurlah kau, Nak, dengan Memberi.

 

I Thank You

I Thank You for the memories from my early days.

They are my source of inspiration. My most valuable life lessons.

 

I Thank You for the family whom I’ve grow up with.

We’ve been through a lot together.

However different we may have grown, I love them to pieces and nothing can replace them in my heart.

 

I Thank You for my new family who has welcomed me with open arms.

Having a large extended family by my side has been my lifelong dream.

 

I Thank You for the companion of this wonderful guy that You have sent me.

He has truly been my solid rock. May we be a couple in heaven and earth. Amen.

 

I Thank You for my circle of friends. They all bring laughter, joy, and colour to my world.

 

I Thank You for the ultimate gift of all, my bundle of joy, the answer of my prayer, my son, Radinek.

Having him really taught me a lot about life.

Since then, all of my other wishes seems trivial and greedy. His presence has given me much more than I could’ve asked for.

 

I Thank You for my journey so far.

My hapiness has taught me to be more giving.

My trials has taught me to be a humble piece of human being.

 

I Thank You for this 34 years of my life.

I am trully blessed.

A Child’s Memories

“When I write my stories, I do not use childhood memories. I use a child’s memory. Through that child’s mind, I am too inexperienced to have assumptions. So the world is still full of magic. Anything can happen. All possibilities. I have dreams. I have fantasies. At will, I can enter that world again…”

—Amy Tan, The Opposite of Fate (author of the Joy Luck Club and Kitchen God’s Wives)

Keep On…

Keep on writing. Writing will sharpen your brain and carved your memories in stone. It will eternalize your quick passage in life, although you have long gone.

Keep on praying. Pray with your absolute surrender.

Keep on being the best mom who can truly inspire your child. Teach him to be a great human being. But first, try to be a great human being yourself.

Keep on loving. It’s the best medicine the world could never get enough.

Keep on giving kindness and keep on perservere in doing so…

Keep on Moving. Don’t ever feel complacent and don’t ever stay in the same place.