RESOLUSI LITERASI 2021

Kalian termasuk tim yang suka menuliskan target resolusi nggak ketika memasuki awal tahun?

Kalau saya sendiri sih suka. Tapi biasanya, targetnya itu nggak begitu spesifik. Misalnya aja tahun lalu, saya sempat menulis resolusi di tahun 2020 pingin bisa menjalani hidup dengan lebih mindful, ingin bisa menjalani kehidupan yang lebih green alias bersahabat dengan alam. Nah, karena gak ada tolak ukur dan nggak dijabarin lebih spesifik, biasanya targetnya itu buyar wkwkkk… Selain juga karena faktor pandemi ya, jadi sebagian resolusi tuh kayak bubar jalan. *lah, cari-cari alasan*

Anyway, di tahun 2021 ini, saya ingin mencoba membuat resolusi yang lebih spesifik dalam hal membaca dan tulis-menulis.

Saya menyebutnya, Resolusi Literasi.

  • Dalam Hal Baca Buku:

Target saya adalah menamatkan minimal 25 judul buku dalam setahun. It means I have to finish one book in 2 weeks time. Target Reading Challenge ini juga saya cantumkan di aplikasi Goodeads dan IG biar ke-track.

  • Dalam Hal Menulis:

Saya ingin konsisten menulis blog sekali seminggu.

Saya ingin bisa menyelesaikan satu naskah cerita novel setiap satu tahun.

(Kenapa satu tahun, kok lama? Because aside from a slow writer, I am also a moody and perfectionist one *yet, another excuse*).

Udah. Segitu aja sih sesungguhnya resolusi yang rada spesifiknya.

Selebihnya, tentu ada resolusi-resolusi yang agak buram. Saya ingin menjalankan HS anak saya dengan lebih baik lagi, belajar tentang pendidikan dan teori  perkembangan anak lebih banyak lagi, ingin rutin melakukan olahraga (minimal joget2 di rumah dan jalan kaki), menjalani hidup dengan lebih mindful dan penuh kesyukuran di setiap hal kecil. And so on, and so on.

Demikian sekilas info tentang resolusi saya. Yuk, jangan lupa bikin Resolusi Literasi!

Ketika Pandemi Terjadi…

Tidak terasa sudah hampir setahun wabah penyakit terjadi. Wabah Covid-19 dimulai di Cina sejak Desember 2019, tapi kami di Indonesia baru merasakan full-blown dampaknya di bulan Maret 2020. Ketika sekolah-sekolah mulai ditutup dan proses belajar mengajar dipindahkan ke rumah secara online. Sekarang sudah akhir September 2020, tapi di Indonesia pandemi masih saja merangkak menuju puncak kurva.

Siapa pernah menyangka… Pandemi terakhir terjadi di tahun 1919. Sekira 100 tahun kemudian, manusia kembali diterpa ujian serupa. Dan pandemi ini bisa saja berlangsung sampai 2 atau 3 tahun lagi bila vaksin yang efektif lambat ditemukan.

Semoga Allah melindungi kita semua dari ujian wabah ini. Dan semoga manusia bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. *amiin*

Rasanya tidak ada manusia yang siap menanggung masalah ini untuk jangka panjang. Menahan diri dari berkumpul dengan banyak orang, mengurangi interaksi, bahkan menjalani isolasi.

Namun manusia akan mencari cara dengan beradaptasi untuk survive.

Demi kesehatan mental, mau nggak mau kita memang mesti mencari cara untuk menghadapi situasi yang tak pernah disangka-sangka. Untuk tetap bisa bertumbuh di situasi yang terasa stagnan. Ketika kita merasa menjalani hidup dalam sebuah penantian panjang untuk bisa kembali ke kehidupan normal yang sebelumnya.

Berikut resep saya menjaga semangat dan kesehatan mental saya di tengah proses karantina panjang ini:

  •  Pertama dan utama, menguatkan frekuensi kita dengan Rabb (shalat mesti lebih khusyu, perbanyak infaq dan shodaqoh). Sekaranglah waktunya saling bantu.
  • Mencari kesenangan-kesenangan kecil di keseharian demi memecah rutinitas yang monoton. Menata-nata dekorasi rumah. Jalan kaki seputar komplek. Nyoba menu masakan baru.
  • Menekuni hobi lama, seperti bikin crossticth, membaca buku dengan tema macam-macam (bikin target baca lebih tinggi dari tahun sebelumnya), etc.
  • Mencari kesibukan baru untuk mengisi pikiran serta pertumbuhan diri (personal growth), seperti belajar bahasa asing, belajar berkebun secara hidroponik.
  • Some days just do something fun and indulging. Watch movie, nonton youtube, play video game, memesan activity boxes.
  • Memberi treat untuk diri sendiri. Saya suka memesan gofood alias jajan makanan minimal setiap akhir pekan sebagai pengalihan dari rutinitas memasak sekaligus reward bagi diri sendiri (“Hey, u did it! Kau berhasil melewati satu pekan lagi!”)
  • Tetap jalin koneksi. Silaturahmi onlen dengan keluarga dan teman-teman. Bertegur sapa dengan tetangga meski dengan masker dan menjaga jarak. Penting untuk merasa bahwa you are not alone in this.
  • Jangan lupa untuk tetap gerak tubuh dan mengonsumsi suplemen dan makanan bergizi.

Setiap berganti bulan, saya juga berusaha membuat target baik untuk diri pribadi maupun bagi anak saya. Misal bulan ini ingin bisa menulis 3 bab, sementara target Radi sudah bisa bersepeda roda dua. Membuat target ke depan mampu membangkitkan semangat kita.

Siapa menyangka, sudah setengah tahun lebih kami menjalani hidup dengan karantina. Berinteraksi seperlunya saja. Udah nggak pernah lagi saya pergi belanja ke supermarket. Segala-galanya serba online demi aman dan nyaman. Berjalan ke pos satpam komplek rumah pun selalu pakai masker.

Entah bagaimana situasinya ketika kami berhasil melewati situasi ini…

Will the world be as normal as before?

Bumi, cepatlah sembuh.

Setelahnya…

Kita mesti bertumbuh lebih hebat dari sebelumnya.

Membuka Bab Baru: Homeschooling

Bismillah, tepat bulan ini–Juni 2020–saya memutuskan untuk mengubah jalur pendidikan anak saya dari sebuah sekolah formal ke sekolah berbasis rumah (homeschooling). Kalau ditanya alasannya, sebetulnya Radi tidak punya masalah dengan sekolah ataupun pengajarnya. Meski berangkat pukul 6.00 pagi dan pulang di rumah pukul 15.00 petang (hiks), Radi masih cukup enjoy dengan sekolahnya.

Alasan memutuskan berpindah haluan ke jalur homeschooling di saat anak sudah terdaftar di sekolah formal tak lain karena kegalauan ibunya aja.

Bisa dibilang sebagai seorang yang senang belajar tentang tema-tema pendidikan anak dan selalu ingin hands-on (terlibat aktif) dalam proses pendidikan anak, pilihan homeschooling sebetulnya sudah lama menggugah minat saya, bahkan semenjak anak saya masih batita. Saya bahkan pernah membahas sekilas opini saya tentang jalur ini sebelumnya. Homeschooling? Why Not?—part 1

Namun keraguan masih banyak menghantui langkah saya untuk mengumpulkan komitmen dan nyebur langsung ke dalamnya. Mungkinkah saya bisa memegang peranan sebagai fasilitator utama pendidikannya? Akankah lingkungan sekitar mendukung, khususnya keluarga suami yang mayoritas guru formal? Dan masiiih buanyak lagi yang membuat langkah saya surut dan enggan melanjutkan ke pilihan tersebut.

Setelah menempuh proses survei SD ke sana-sini, saya dan suami kemudian sepakat mendaratkan hati pada satu sekolah. Sekolah yang ceklis kriterianya (versi saya) paling banyak mendapat contrengan. Meski tidak bisa memenuhi 100 persen kriteria harapan itu, saya siap untuk berkompromi dan sedikit menurunkan standar saya.

Alhasil, Radi menjalankan tahun pertama SD di sekolah tersebut.

Namun qadarullah terjadi, wabah corona melanda sepenjuru negeri bahkan seluruh dunia, hingga memaksakan semua siswa untuk meneruskan proses belajar di rumah masing-masing. Ini terjadi pada pertengahan bulan Maret, sekitar 2 bulan sebelum ujian kenaikan kelas.

Dalam proses belajar di rumah selama 3 bulan itu, saya justru mendapat momentum untuk mengevaluasi proses belajar Radi. Saya makin mengenal gaya belajarnya, tugas-tugas/kurikulum sekolah, dan masih banyak lagi. Dalam segi materi kurikulum, saya menemukan banyak kesenjangan antara harapan saya dengan realita di lapangan. Sementara dari segi pengajaran, saya menemukan keyakinan diri kembali untuk mengajari anak secara langsung.

Tibalah saya di sebuah persimpangan: Benarkah saya harus tetap menurunkan ekspektasi saya dalam pendidikan anak saya ataukah saya bisa mengambil kendali penuh pendidikan secara langsung dengan segala konsekuensinya.

Setelah diskusi panjang lebar dari A-Z dengan suami… Setelah diskusi dengan anak yang akan menjadi subjek belajar kelak (bukan “objek belajar”)…  Akhirnya, mantaplah saya untuk mengambil jalur Homeschooling dengan pendidikan yang terkustomisasi bagi anak saya.

So, here we are. Bismillah, membuka bab baru perjalanan belajar Radi.

Kami masih newbie sebagai praktisi homeschooler dan masih harus banyak-banyak-banyak lagi belajar. Tapi, I feel super duper excited. Ini akan jadi petualangan yang seru, Nak!

Sebagai dokumentasi belajar Radi, saya membuat sebuah blog terpisah yang diperuntukkan untuk merekam perjalanan belajarnya.

www.radinek.com

Feel free to check it out if you perhaps need some insights about a homeschooling world.

Hidup Minimalis, Bisakah?

Saya merasa, salah satu hikmah dari memiliki rumah mungil adalah saya jadi muak untuk menimbun barang-barang. Dengan luas yang nggak seberapa, rasanya rumah makin sempit dan sesak dengan barang. Alih-alih rumahku surgaku atawa home sweet home, yang ada tuh rasanya mumet bin sutres berlama-lama menghabiskan waktu di dalam rumah. Padahal sebagian besar waktu saya ya dihabiskan di dalam rumah.

Kesal melihat banyaknya barang yang ditimbun ini jadi mendorong saya untuk membeli barang seperlunya saja. Saya sendiri sering kali mengajukan pertanyaan begini ke diri sendiri: Perlukah saya memiliki tas hingga lima biji, sepatu selusin, baju seabrek-abrek? Can I live with less stuffs? Bisakah saya bernafas lebih lega dan nggak merasa tercekik oleh barang-barang ini? Saya hanya ingin merasa tinggal di sebuah rumah yang sederhana namun apik bak poto rumah-rumah mungil yang menghiasi folder pinterest saya dengan judul “Rumah Mungil Impian” alih-alih merasa tinggal di gudang atau ruko barang. Bisa gak siiih?

Jawabannya, ya tentu bisaaa…

Dan di tengah perjalanan saya yang mulai lebih cermat memilah barang untuk disimpan, saya pun berkenalan dengan prinsip hidup “sustainable living”, bahkan “minimalism”.

Saya nggak akan menguraikan panjang lebar tentang definisi masing-masingnya (silakan cari-cari sendiri ya, guys). Pokoknya, yang saya tangkap dari prinsip “sustainable living” ini adalah kita menjalankan hidup dengan penuh kesadaran untuk tetap menjaga kelestarian bumi. Umur bumi yang semakin tua makin ripuh jika mesti memuaskan nafsu konsumsi manusia yang seakan tak ada habissnya. Sustainable living akan memengaruhi cara kita dalam membeli dan memilih barang-barang konsumsi, memilah sisa konsumsi rumah tangga kita dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), dan masih buanyak lagi aspeknya.

Orang-orang yang sudah mengadopsi prinsip ini akan berpikir berulang-ulang kali untuk membeli barang konsumsi. Misalnya dalam membeli pakaian saja, mereka akan mengajukan pertanyaan: “Apakah saya butuh baju baru? Apakah baju yang lama sudah tidak bisa ditambal/diperbaiki? Apakah saya bisa dapatkan dari thrift store (berbelanja barang-barang second sangat dianjurkan?).” Jadi kalau udah punya prinsip ini, mau ada keranjang baju-baju diskonan juga nggak tertarik ngelirik, ngelengos aja lewat…da nggak butuh.

hierarchy

Saya pikir, keren banget filosofi ini.

Di tengah dunia yang makin marak dengan konsumerisme—orang-orang berlomba-lomba untuk membeli barang-barang bermerek dan paling hits demi menaikkan gengsi—masih ada ya kelompok manusia yang amat sangat minoritas ini. Membaca tentang gerakan mereka ini, saya sangat tertarik, bahkan mulai jatuh hati.

Mungkin tidak semua orang akan mudah untuk mengadopsi prinsip “minimalism” ini.

Saya merasa berjodoh dengan prinsip ini karena latar belakang keluarga saya dahulu. Saya ingat sedari kecil, kami tidak dipusingkan untuk membeli barang-barang bermerek (karena memang tidak ada duitnya). Meskipun bersekolah di sekolah borju, dan teman-teman sekolah berlomba-lomba mengoleksi sepatu dan jam tangan bermerek, tidak pernah terbersit dalam pikiran saya pengin memilikinya juga.  Saya akui saya buta merek, dan saya bangga kok. ^^

Masih membekas kuat pula dalam ingatan, betapa ibu saya cuma punya beberapa potong baju bagus buat pergi. Setiap ngejemput sekolah, baju yang dipakainya itu-itu mulu. Di tengah lingkungan ibu-ibu “the haves” alias borju, mami saya nggak minder tuh. Dia lebih memilih menyisihkan uang belanja untuk menyicil beli paket buku di koperasi sekolah atau malah membelikan buku cerita dan mainan buat anak-anaknya.

Gaya hidup mami saya ini amat banyak memengaruhi saya begitu tiba waktunya saya berumah tangga. Jauh sebelum saya mengenal prinsip sustainable living ini, saya ingat bila sedang jalan-jalan di toko dan suami menawarkan untuk membelikan sepasang sepatu baru, saya malah menanggapi, “Buat apa? Sepatuku masih bagus, belum rusak kok.”

Atau ketika suami menawarkan untuk membelikan baju baru, benak saya akan menghitung baju-baju saya yang masih tergantung manis di lemari mungil saya. “Ah, mending uangnya nanti buat saya belikan boardgame edukatif atau buku buat anak.” Those stuffs gives me more joy than spending it on clothes or shoes which I dont really need.

Pengalaman hidup susah jaman kecil dulu memang amat membekas.  Jadi kalau saya beli suatu barang yang harganya uwow hanya karena bermerk, saya merasa bersalah. Kenapa saya beli semahal itu, padahal di tempat lain bisa dapat yang lebih murah dengan substansi dan kualitas yang beti alias beda-beda tipis.  Bukan berarti saya menyalahkan masa silam dan seolah menyeret-nyeret pengalaman hidup susye masa lampau dengan memilih untuk menjalani hidup kere mulu meski sekarang sudah relatif lebih mampu. Justru sebaliknya, Alhamdulillah, saya merasa latar belakang saya itulah yang memudahkan saya untuk mengadopsi prinsip hidup yang lebih selaras dengan alam.

Saya sadari, tidak semua orang cocok mengadopsi prinsip hidup ini. Saya pun tidak akan memaksakan pasangan hidup untuk menganut konsep hidup ini. Saya pun memilih menjalankannya dengan moderat. Namun hal yang perlahan tapi pasti, karena kusudah jatuh hati dengan konsep gerakan ini, nilai-nilai sustainable living tentu akan saya tanamkan dan biasakan di keluarga saya.

Ada suatu ungkapan yang sangat mengena ke hati saya dan sangat tepat menggambarkan  filosofi bagi Sustainable Living ini:

“Kita jalani hidup dengan mengambil (dari bumi) secukupnya, dan memberi sebanyak-banyaknya.”

 

Saat Tiba Waktunya Memilih SD

Jeng … jeng …jeng

Ya, akhirnya tibalah waktunya bagi saya untuk memilah-milih SD bagi anak saya. Hmm..sebetulnya, Radi baru akan saya daftarkan masuk SD tahun ajaran depan saat usianya genap 7 tahun (karena anaknya masih betah di TK :D). Tapi untuk survei sekolah, lebih baik menetapkan pilihan lebih awal biar udah nggak galau pas sekolah-sekolah mulai buka pendaftaran. Ya kan?

Lagi pula, bagi saya memilih SD ini setahap lebih serius daripada saat memilih TK dulu. Lamanya waktu bersekolah selama rentang enam tahun adalah salah satu alasannya. Belum lagi usia 7 tahun hingga abege adalah tahun-tahun keemasan bagi pengembangan karakter anak. Memilih SD itu ibaratnya kita tengah memilihkan rumah kedua bagi anak kita, karena di sanalah dia akan menghabiskan sebagian besar porsi tahun-tahun keemasannya.

Berhubung kemarin suami lagi nggak ngantor dan mengusulkan survei bareng-bareng selagi Radi di sekolah, maka berangkatlah kami. Di luar perkiraan semula, ternyata kami sempat menjelajah ke tiga tempat meski hanya melakukan survei singkat.

Berikut secuplik review hasil pengamatan saya:

 

  1. SD Hikmah Teladan

Jadi, sekolah pertama yang kami survei adalah SD Hikmah Teladan. Saya cukup sering mendengar tentang nama SD HT ini, terutama dari lingkungan keluarga. Konon SD HT ini SD yang nggak mainstream dan memiliki program-program gebrakan yang cukup inovatif. Tapi dari segi jarak, lokasi SD ini terhitung yang terjauh dari rumah. Selama di perjalanan, saya sudah mewanti suami, kayaknya SD ini harus “wow banget” kalau sampai kami memilihnya. Well, here it goes…

Begitu sampai, kami ditunjukkan satpam ke arah gedung TU. Dan di sana, kami disambut seorang bapak yang bersedia menjelaskan tentang konsep SD HT (meski suara pesawat mendarat dan lepas landas sesekali memecah konsentrasi kami dan menenggelamkan suara pelan si bapak) *baru nyadar, lokasi SD ini mungkin agak-sedikit-terlalu dekat bandara*

 

Visi SD HT:

“Menjadi sekolah terdepan dalam menerapkan konsep pendidikan anak merdeka.”

 

SD HT ini banyak sekali peminatnya. Saat kami survei di bulan Januari, mereka sudah tutup pendaftaran untuk tahun ajaran 2018/2019. Beliau menyarankan bila kami berminat mendaftar untuk tahun depan, kami sebaiknya sudah mendaftar di bulan Juli saat tahun ajaran baru dimulai. Setelah mencantumkan kontak, kami nanti akan dihubungi saat sekolah melakukan sosialisasi/pengenalan kepada orangtua. Bila setelah sosialisasi, orangtua berminat, baru mereka diperkenankan mengisi formulir pendaftaran.

SD Hikmah Teladan tidak mengklaim sebagai SD Islam, tapi mereka menjalankan pengajaran selayaknya sekolah Islam. Terlihat jelas dari seragam murid perempuan yang dilengkapi kerudung, lalu ada pelajaran mengaji dan sholat dhuha di awal jam belajar setiap hari.

SD Hikmah Teladan adalah sekolah inklusif (menerima anak-anak berkebutuhan khusus, seperti anak dengan spektrum autis, ADHD, dan semacamnya). Satu kelas berisi 28 murid (26 murid reguler, dan 2 jatah murid berkebutuhan khusus) dengan 2 guru kelas dan 1 guru pendamping murid berkebutuhan khusus. Jam belajar dimulai pukul 07.30-13.50 (kelas 1 dan 2). Untuk kelas 3-6 sampai pukul 15.00 sore.

Program-program di luar kelas yang dijalankan sekolah saya akui cukup menarik. Di antaranya, ada program Wisata Buku (kegiatan berbelanja buku setiap 2 bulan sekali), Panggung Berani (memotivasi setiap anak agar pede tampil di depan umum), Unjuk Kerja (proyek bersama kelas), dan Family Day (outing sekali setahun bersama keluarga dan guru). Kegiatan humanioranya pun menarik (sebetulnya semacam ekskul) dan banyak pilihan. Siswa boleh memilih aktivitas humaniora yang diminati, mulai dari musik, memasak, sulap, merajut, catur, kepanduan, pencinta alam, kreasi daur ulang, … Dan murid diberi kesempatan dan waktu untuk mencobai berbagai kegiatan ini, sebelum kemudian menetapkan pilihan. Fleksibilitas ini cocok sekali bagi anak kecil yang masih perlu mencicipi berbagai pengalaman sebelum bisa menemukan minatnya dan menjalankannya dengan konsisten. Selain aktivitas humaniora yang dikelola sekolah, ada juga pilihan klub ekskul yang bekerja sama dengan pihak luar.

Terlihat sekali sekolah ini mengutamakan pada “proses” bukan “hasil”. Motto yang mereka sebarluaskan, “Berani Gagal, Berani Mencoba.” Setiap ada ajang lomba, mereka suka mendorong muridnya untuk turut berpartisipasi, tapi bukan titel kemenangan yang mereka harapkan. Targetnya, adalah agar siswa SD HT bersangkutan semakin percaya diri, semakin semangat belajar dan mencoba, serta mampu memperkaya pengalamannya. Demikian penuturan sang bapak perwakilan SD HT.

 

Biaya Pendidikan SD Hikmah Teladan Tahun Ajaran 2018-2019:

1.      Psikotes & Adm Rp.          300.000
2.      Uang Pangkal Rp.     12.250.000
3.      SPP & Catering Juli Rp.           870.000
4.      Seragam 3 setel Rp.           500.000
5.      Buku/LKS 1 tahun Rp.           500.000
6.      Uang Kegiatan/tahun Rp.           600.000
7.      Asuransi Kecelakaan Rp.             40.000
Total Rp.    15.060.000

Bagi siswa inklusi ada tambahan Rp. 525.000 per bulan.

Saat kelas 3 SD, ada kenaikan biaya SPP.

Untuk tahun ajaran berikutnya (2019-2020) kemungkinan akan ada kenaikan 1 juta.

 

  1. SD IT Nur Al Rahman

Sekolah berikut yang kami kunjungi, SDIT Nur Al Rahman. Lokasinya paling convenient dari rumah alias paling dekat. Begitu tiba di lokasi, kesan pertama yang kami dapatkan adalah betapa sekolah ini sangat mengedepankan prestasi. Ada spanduk super-jumbo di muka sekolah yang memajang foto-foto siswa yang baru-baru ini menyabet prestasi, lengkap dengan identitasnya (entah itu Olimpiade Fisika, Matematika, Taekwondo, and so on). Karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat celingak-celinguk sedikit mengamati gedung dan ruang kelasnya. Fasilitas sekolahnya sih cukup wah. Untuk kelas satu, toilet disediakan di dalam kelas. Ada deretan wastafel di pinggir lapangan (mungkin untuk membiasakan anak mencuci tangan dan piring bekal masing-masing dengan mandiri). Lapangan dan area bermain terlihat agak minimalis. Apalagi dengan adanya pembangunan gedung SMP baru (plus gedung TK) kok terkesan semakin berdesakan dan berebutan lahan.*ini kesan pengamatan dari luar yah karena kami memang tidak sempat menjelah keseluruhan* Konon katanya ada fasilitas kolam renang juga di sini.

 

Visi SD IT Nur Al Rahman:

“Berakhlak mulia, mandiri, dan unggul dalam prestasi menuju insan Indonesia bermartabat, cerdas komprehensif dan kompetitif.”

 

Jam belajar untuk kelas 1 dan 2 dimulai pukul 07.00-13.45, sementara kelas 3-6 dari pukul 07.00-15.30 (bada ashar). Jam belajar diawali dengan tahfidz selama 2 jam pelajaran. Ada 28 murid di kelas, dengan 2 guru. Sayang, sepertinya tidak ada program-program khas sekolah di luar jam belajar yang ditawarkan. Maksud saya, adalah program kegiatan yang menjadikannya “beda” dari sekolah lain, program yang bisa mendukung pengembangan diri siswa selain dari kegiatan ekskul (entah di bidang literasi, kepercayaan diri untuk tampil, atau apalah.) Entah memang tidak ada, atau bapak TU yang menjelaskan yang kurang tahu. Beliau hanya menyebutkan soal field trip setiap semester (yang saya tahu setiap sekolah pun ada). Saya pun membolak-balik lembar brosur, tapi memang program semacam itu tidak disebut sedikit pun. Yang dicantumkan di brosur, hanya pemaparan target SQ, IQ, EQ dan PQ (Physical Quotient) bagi para siswa. Poin-poin target akademisnya cukup spesifik dan ambisius sih (buat saya)—nilai rata-rata ujian siswa adalah 80, hafal AlQuran 2 juz (juz 29&30) plus hadits-hadits dan doa-doa pilihan, mampu menyusun karya ilmiah. *hmm kelihatannya sekolah ini agak terlalu condong “otak kiri”*

Ekskul yang ditawarkan sih cukup beragam (Pramuka, Tari, Vokal & Nasyid, Menggambar, Kaligrafi, Dokcil dan Marching Band). Meski pelajaran komputer di SD dihapus dan digeser ke ekskul. Sesi tanya jawab pun ditutup dengan dorongan agar anak saya sesegera mungkin didaftarkan di sana mumpung masih ada kesempatan. Oh ya, dari beliau, saya jadi tahu kalau sekarang nggak ada tes calistung untuk masuk SD. Hanya ada psikotes, alias tes kematangan siswa. Beliau menjamin, selama anaknya cukup umur (sudah 6 tahun) dan bisa mengikuti pelajaran, pasti masuk. *tapi anaknya kepingin TK B dulu, pak* 😛 Lagi pula, dengan bobot akademis seperti yang diterapkan di SD IT Nur Al Rahman, sepertinya saya tidak akan menggegas Radi untuk segera masuk. Bagi saya, sebaiknya si anak lebih puas bermain dan lebih matang dulu sebelum tiba waktunya saya bebani dia dengan tumpukan target IQ/EQ/SQ/PQ sebagaimana tercantum di brosur.

 

Biaya Pendidikan SD IT Nur Al Rahman Tahun Ajaran 2018-2019

1.      Infak Pendaftaran Rp.    450.000
2.      Infak Pengembangan Rp. 13.500.000
3.      Infak Kegiatan Rp.    1.800.000
4.      SPP/bulan Rp.    1.150.000
5.      Seragam Laki-Laki Rp.    1.200.000
             Seragam Perempuan Rp.    1.400.000
Total Murid Laki-Laki Rp. 18.100.000
Total Murid Perempuan Rp. 18.300.000

SPP ada kenaikan saat kelas 3 SD.

 

  1. SD Plus Nurul Aulia

Kunjungan tur singkat keliling SD kami berakhir di SD Plus Nurul Aulia. Ia tidak mengklaim sebagai SD IT, tapi karena memiliki kurikulum tambahan di luar dari kurikulum nasional, jadilah nama sekolahnya ditambah dengan embel-embel SD Plus. Dari segi lokasi, letaknya di tengah-tengah antara SD HT dan Nur Al Rahman. Tak begitu jauh, tak begitu dekat.

           

Visi SD Plus Nurul Aulia:

“Dengan iman dan takwa, SD Plus Nurul Aulia siap menjadi sekolah dasar termaju, berbudaya, serta tangguh menghadapi tantangan global.”

           

Untung, sesuai dengan namanya, saya mendapat kesan positif (Plus) pula begitu memasuki sekolah. Saat tiba, satpam langsung mengantar kami ke ruang tata usaha, dan di sana kami disambut dengan hangat meski kami datang bukan untuk mendaftar, bukan pada masa sosialisasi dan sedang jam belajar. Ada dua wanita di ruangan itu dengan baju pink cerah yang menyambut kami dan siap menjawab segala pertanyaan kami dari A hingga Z. Sama sekali tidak tampak kelabakan meladeni dua orang tamu tak diundang yang ujug-ujug mau survei.

Jam belajar untuk SD kelas 1 & 2 dimulai pukul 07.00-13.30. Untuk kelas 3-6 SD dari pukul 07.00-14.30. Sekolah diawali dengan shalat dhuha dan mengaji dengan metode yanbu’a *si wanita TU itu kemudian dengan sigap mengambilkan contoh buku pelajaran mengajinya untuk ditunjukkan kepada saya*. Menariknya, sebelum sesi belajar dimulai, ada program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) yang diadakan rutin selama 15 menit di awal sekolah. Ini memang bukan program baru, dan beberapa sekolah memang sudah menggalakkan program GLS sesuai himbauan pemerintah. Namun mengetahui SD Nurul Aulia turut mengadopsi kebijakan ini, dan membayangkan nanti saya menyiapkan buku cerita favorit Radi untuk dibawanya ke sekolah (selain buku teks pelajaran) jadi nilai plus tersendiri. *meski hanya 15 menit* Selain program GLS, ada juga “gerobak baca” dan penghargaan “Duta Baca” bagi siswa. Jadi untuk program penggiatan literasi, SD Nurul Aulia lumayan okelah.

Selain kurikulum nasional, SD Plus Nurul Aulia memberlakukan kurikulum tambahan, meliputi: tahfidz, yanbu’a, bahasa arab (mulai kelas 4), bahasa inggris, komputer, pramuka. Ada 24 murid di kelas, dengan 2 orang guru.

Ada ekskul wajib, yaitu renang dan bulu tangkis. Masing-masing diadakan setiap 2 minggu sekali saat jam pelajaran (bukan tambahan waktu pelajaran di hari Jumat atau Sabtu), selang-seling antara murid laki-laki dan perempuan (kalau minggu ini laki-laki lagi renang, perempuan bulu tangkis, begitu sebaliknya). SD ini memiliki kolam renang sendiri. Pilihan ekskulnya cukup banyak: mulai dari olahraga, keagamaan, seni dan bahasa, science, dokcil dan paskibra. Ada juga klub/sanggar: robotic, taekwondo, art and craft, english club, cooking class, cinematography, … *jadi pusing mo milih yang mana*

Beberapa program kegiatan yang rutin diadakan, di antaranya: GLS, periksa kesehatan umum, gigi & mata, bank sampah, kegiatan 3R (reduce, reuse, recycle). Oh ya, Nurul Aulia memiliki konsep sebagai sekolah berwawasan lingkungan dan telah memenangkan beberapa penghargaan sebagai “green school”. Kelihatan dari suasana sekolahnya yang cukup asri dan rapi. Nurul Aulia juga memiliki program penghargaan yang diberikan bagi siswa-siswanya. Ada penghargaan Student of the Month, Class of the Month, Duta Lingkungan Hidup, Duta Baca, Dokcil, Tahfidz Terbaik, Tilawah Terbaik, Hafidz Juz 30 (bukan 30 juz :P). Sapa tau Radi nanti jadi semangat meraih pin Student of the Month atau Duta Baca yaa hihi… Tapi menilai dari karakternya, kemungkinan besar si bocah malah akan menghindar sejauh-jauhnya wkwkkk :D.

 

Biaya Pendidikan SD Plus Nurul Aulia

1.      Pendaftaran dan Tes Kematangan Rp.      450.000
2.      SPP/bulan Rp.      675.000
3.      Dana Sumbangan Pendidikan Rp. 11.900.000
4.      Kegiatan Rp.    2.300.000
5.      Seragam Sekolah Rp.    1.320.000
6.      Buku Rp.        550.000
Total Rp.  17.195.000

SPP di atas belum termasuk biaya katering (10.000/hari belajar efektf). Tambahin aja kira-kira 200.000. Tapi katering hanya diwajibkan untuk kelas 1-2, mulai kelas 3 SD siswa boleh memilih untuk membawa bekal makan siang sendiri dari rumah.

SPP flat dari kelas 1 sampai tamat.

***

Demikian sekilas “review-reviewan” tiga SD (versi sayah) di lingkungan sekitar saya. Untuk memilih sekolah nanti, semua kembali ke visi misi yang dipegang orangtua karena pandangan masing-masing terhadap pendidikan anaknya bisa berbeda-beda. Saya akui, rasanya mustahil bisa menemukan satu sekolah yang SEMPURNA, yang semua poinnya sesuai dengan keinginan kita. Tapi minimal ya pilihlah yang paling mendekati, yang paling sreg bagi orangtua dan (yang terpenting) paling sesuai bagi kondisi anaknya. Berikut, tinggal kita tambal yang kurangnya di rumah. Ingat, rumahlah madrasah pertama anak, dan guru-guru di sekolah hanya pengajar sekunder.

 

 

“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”

                                                                              —Ki Hajar Dewantara

UPDATE:

4. SD Tridaya Tunas Bangsa

 

Berhubung kemarin berkesempatan menyurvei satu SD lagi yang tampak menjanjikan, saya tuliskan di sini reviewnya:

 

Slogan SD Tridaya, “Ramah, Unggul dan Berkarakter.” Begitu saya masuk ke ruang administrasi, ada seorang pegawai wanita yang dengan ramah menjelaskan tentang konsep sekolah plus membawa saya tur keliling sekolah. Yang paling membuat saya terkesan dari SD Tridaya adalah fasilitasnya. Untuk SPP seharga itu (masih di bawah SD Nurrahman dan Al-Azhar) sarana dan prasaranya terbilang cukup wow. Setiap kelas dilengkapi TV LED, komputer, ruang kelas lega, ada pojok baca (reading corner). Ada art class, komputer class, improvement class (untuk terapi ABK), music class. Bahkan sekarang sedang dibangun fasilitas lift di gedung empat lantai ini. Sayang mushola agak mungil dan tidak ada masjid di area sekolah. Minusnya juga, saya tidak melihat adanya area lapangan hijau. Dan ini selera pribadi ya, tapi kalau saya entah mengapa kurang suka sekolah tanpa taman dan lapangan hijau, dan hanya menghabiskan waktu bermain di dalam gedung (hm.. a bit claustrophobic, maybe :P). Dan karena gedung bercampur dengan PG/TK di lantai satu, kelas 1 baru di lantai dua, rasanya agak kelewat ramai di dalam satu gedung tertutup itu.

Untuk program belajar, saya acungi jempol. Kegiatan belajar sangat dinamis dan kelihatan banget sekolah ingin menanamkan cara belajar yang fun fun fun. Ada program unjuk kabisa yang melatih anak untuk pede tampil di depan umum, kegiatan cooking, membuat project, pelajaran alat musik. Ada cukup banyak pilihan ekskul juga (yang populer, membuat animasi). Untuk program literasi, ada jam belajar khusus untuk anak berkunjung ke perpus dan meminjam buku, selain juga ada pojok baca yang memuat rak buku di setiap kelas. Saya suka banget dengan konsep setiap anak memiliki buku jurnal (selain buku komunikasi dgn orgtua). Anak jadi dibiasakan untuk menulis dan mengekspresikan diri. Minusnya, kalau saya lihat, mungkin karena sekolah ini baru berdiri empat tahun, jadi belum ada jebolan alumninya dan kita belum bisa menakar kemampuan bersaing lulusannya dengan SD-SD lain. Siswa paling tua baru duduk di kelas 4 SD tahun ini, kelas 5 dan 6 baru ada ruangannya doang.

Oh ya, SD Tridaya tidak mengaku sekolah Islam, tapi berhubung 100% muridnya beragama Islam saat ini, kurikulumnya sangat Islami. Ada pembiasaan shalat Dhuha setiap pagi, ada muroja’ah hafalan dan belajar baca Quran. Murid perempuan disiapkan kerudung sebagai tambahan seragam tapi tidak diwajibkan. Murid laki-laki bercelana panjang. Setiap kelas berisi 25 murid dengan 2 orang guru. Jam belajar untuk kelas 1 SD mulai pukul 7.30 – 13.30. Kalau ikut ekskul, biasa mulai pukul 14.30-15.30 (weekdays). Yang perlu dicatat, SD Tridaya hanya membuka sedikit kuota bagi murid dari luar. Prioritas diperuntukkan bagi para alumni TK Tridaya lebih dulu sementara mereka hanya menerima 50 murid (2 kelas) setiap tahunnya. Jadi kalau tertarik mendaftarkan anak untuk bersekolah di sini, harus buru-buruu.. siapa cepat dia dapat 😛  Kalau mau browsing-browsing lebih jauh, berbeda dari kebanyakan SD, situs sakolatridaya.com cukup aktif.

 

Biaya Pendidikan SD Tridaya Tunas Bangsa (tahun ajar 2018-2019)

1.      Pendaftaran dan Tes Kematangan Rp.      550.000
2.      SPP/bulan Rp.      800.000
3.      Dana Sumbangan Pendidikan Rp. 13.000.000
4.      Kegiatan Rp.    2.200.000
5.      Seragam Sekolah Rp.    1.000.000
Total Rp.  17.550.000

SPP di atas belum termasuk biaya katering (10.000/hari belajar efektf). Tambahin aja kira-kira 200.000. Tapi katering tidak wajib, boleh membawa bekal snack dan lunch dari rumah.

SPP flat dari kelas 1 sampai tamat.

 

(Menuju) Hari yang Produktif

Tahun baru—tahun 2018—belum lama berlalu. WhoooT?… Udah tahun 2018 aja..

Kok rasa-rasanya tahun-tahun sebelumnya berlalu begitu aja.. tanpa jejak.. tanpa prestasi berarti … tanpa pertumbuhan diri. Rasanya kebisaanku ya gitu-gitu aja *huhu*

Mungkin ada siiih jejaknya … Radi sekarang udah lima tahun. Udah makin pinter. (trus apa lagi?) *huhuhiks*

But still, it seems I let my days gone wasted although I could have done more.

Bukankah waktu itu pun amanah?

Soo, masih di momentum awal tahun, saya mencoba menginisiasi sebuah rutinitas baru (dengan metode yang tidak sepenuhnya baru siih). Setiap pagi, saya akan membuat “my to-do list” di sebuah notes kecil. I wont write my humdrum everyday chores (such as wash and ironing clothes) on my to-do list. Saya hanya akan menorehkan rencana aktivitas menyangkut target profesional (menulis), target pendidikan Radi (aktivitas bermain & belajar sama anak), target pertumbuhan-diri (belajar bahasa asing, baking, mengkaji ilmu ukhrowi, etc), target kebugaran (bersepeda statis 10 menit, renang, yoga, etc), dan tak kalah penting … doing hobby (aka crosstitching). 😛

 

 

 

Saya akan tuliskan rencana aktivitas di buku jurnal ini setiap pagi sembari sarapan, dan setiap malam saya akan mereview hal-hal yang saya kerjakan (atau tidak) dengan ceklist. Saya merasa upaya mencatat aktivitas di buku jurnal setiap hari ini sangat dibutuhkan untuk menjadikan hari-hari yang saya lalui lebih produktif. Minimal, saya jadi tahu kemana hari-hari itu berlalu begitu saja.

 

Wish me luck!

 

UPDATE:

Ternyata eh ternyata, agak susah juga ye menuliskan target agenda per harinya. Ujung-ujungnya, saya lebih banyak melakukan “mental-note”, nyatet dalam hati aja hehehe

Journaling

Waah..udah lama banget nggak nengok dan ngisi blog ini hihihi

Jujur, belakangan ini sayanya mulai kembali aktif menjurnal. Blog versi tradisional 😛

What can I say. I am a classic lady. *feel free to vomit*

Enak sih… Di sana saya bisa menulis secara lebih intim, bebas dan tanpa edit. Jadi keterusan. Cobain deh sendiri! 😛

But sometime somehow i would probably still post some stuff here. Probably just random stuff when I feel more like typing keyboards instead of using a pen.

 

Cheers.

PS: Kelamaan dianggurin sampai lupa gimana cara nulis dan posting di sini.

*kembali gaptek*

 

Jalan-Jalan Minggu

30 November 2014. Sambil mengantar Ninin ke gedung balai kota untuk menghadiri acara launching penerapan Peraturan Dilarang Buang Sampah Sembarangan di Bandung yang mulai aktif 1 Desember besok, kami menyempatkan jalan-jalan sehat di hari Minggu. Kebetulan di ruas jalan  Merdeka dekat balaikota kan lagi Car Free Day.

 

pose samping balkot

pose samping balkot

Jalanan bebas kendaraan bermotornya cuma sisi ruas jalan area depan BIP-Gramed. Nggak begitu rame. Yang jualan bisa dihitung pakai jari. Ruas jalan itu cuma dipakai ibu-ibu buat senam aerobik dan sejumlah pesepeda yang lalu-lalang. Tapi lumayanlah, itung-itung jalan sehat meski agak saltum. 😛

 

Setelah jalan-jalan sejenak di area Car Free Day, kami pun kembali ke taman balaikota. We’ll let the pictures tell the stories for themselves. 

 

Kembali ke balkot

Kembali ke balkot

 

Hm..Theres something strange about this photo.

Hm..Theres something strange about this photo.

 

Seperti biasa, setiap habis dipoto Radi pengen ngecek hasilnya. (dah ok belum ya?)

Seperti biasa, setiap habis dipoto Radi pengen ngecek hasilnya. (dah ok belum ya?)

Eitts..gaya apa inih?..

Eitts..gaya apa inih?..

What..feeling tired already?

What..feeling tired already?

 

NB: Can’t believe this is my 100 posts! \(^.^)/ 

 

 

Sembilan Bulan di Kingsford

Sembilan bulan waktu yang tak singkat. Ah, saya tentu akan sangat merindukan berjalan kaki di Sydney, khususnya seputaran Kingsford. Menikmati tempat-tempat ramah pejalan kaki dan stroller.

Tapi saya juga merasa bahwa, bila kau sudah merasa terlalu nyaman di suatu tempat, mungkin sudah tiba saatnya kau beranjak dari sana. Melepaskan diri dari zona nyaman. Stretch yourself. Challenge your limit. Dan ini tidak hanya berlaku untuk tempat saja. Tidak berarti kita kudu jadi perantau sepanjang hidup. Namun lebih ke kondisi. Bila kita sudah merasa terlalu asyik “duduk” di satu tempat, jangan-jangan kita malah jadi stagnan. Saatnya berdiri dan meneruskan perjalanan. Pelajari kebisaan baru.  Keterampilan baru. Menambah kawan. Menambah ilmu. Terus… selama kaki ini masih bisa melangkah…

Dan, kini tibalah saatnya saya beranjak pergi dari Kingsford…

Tapi sebelum itu, ingin sekali saya merekam tempat-tempat favorit selama persinggahan saya di Sydney ini. Oh, how I will surely miss these places. 😛

 

Randwick dan Bowen Library

Ini tempat tujuan langganan saya dan Radi. Biasanya sekali seminggu kita mampir ke perpus. Cukup naik bus sekali dan perjalanan hanya memakan waktu 10 menitan. Malah, saya dulu biasa jalan kaki sambil ngedorong stroller Radi (yah, sebelum keluhan jantung saya kambuh). Kami akan pinjam sejumlah buku dan mainan (kesukaan Radi puzzle kayu), atau menghadiri kelas “Baby Love Books” di perpus tempat Radi belajar menyanyi dan menari bersama anak-anak lain.

Jujur, sudah lama sekali saya tidak berinteraksi dengan perpustakaan. Padahal ingin sekali saya menularkan kecintaan saya dengan perpus—yang sempat menjadi semacam tempat sanctuary bagi saya kala usia sekolah—kepada anak saya. Pengalaman berinteraksi kembali dengan perpus selama di sini semakin memantapkan tekad saya untuk kelak membuat perpustakaan sendiri di tanah air. InsyaAllah bila ada rejeki akan dibuka bagi semua anak Indonesiah yang sudi mampir. Amiiin.

 

Kampus UNSW tercintah!

Wooo, memangnya kampus siapa inih? Meski tidak tercatat (secara resmi) sebagai salah satu mahasiswi di sini, saya lumayan sering lho wara-wiri ke sini. Selain buat mampir ke klinik dan bertemu GP langganan, bu Kathryn Medynski yang cerdas nan ramah, saya sering mampir ke Matthews Buildingnya. Tiada lain tiada bukan demi menjadi kelinci percobaan para mahasiswa psikologi yang sibuk mengerjakan riset akhir mereka. Biasanya menjadi kelinci ini dibayar minimal 15$ per jamnya. Lumayanlah ya… buat nambah-nambah ongkos pulang dan modal belanja buku dan mainan di BKM *sayang anak sayang anak* 😀

 

 

 

White Lotus

Ah, toko kelontong ini mampu memuaskan kerinduan saya pada segelintir produk kebanggaan tanah air, seperti kecap bango dan kopiko brown (meski harganya bisa naik tiga kali lipat 😛 ).

IMG-20140807-WA0000

 

Vinnies

Vinnies adalah salah satu tempat saya berburu aneka barang seken. Toko kecil ini menjadi semacam my guilty pleasure, soalnya suka nggak kerasa uang receh sisa belanja di white lotus langsung pindah tangan ke toko sebelah (Vinnies) demi ditukar sebuah panci kukus, novel, buku anak, hingga topi dan baju. He he… segala ada deh di sini.

 

Kensington dan Rainbow Playground

Playground terdekat rumah yang sekali waktu didatangi Radi. Biasanya sekaligus playdate sama teman dan ibu-ibu yang lain. Memasuki winter agak jarang main ke playground, habis rada males juga sih naik ayunan sambil digempur angin dingin membekukan :P. Tapi selalu menyenangkan menemaninya bermain di kedua playground ini. Selain bermain ayunan dan perosotan, kita akan bermain tiup balon, sambil ngemil pappa roti (yang rasanya percis roti boy) dan bercengkerama dengan para mommy dan anak-anak lain.

 

Baby Kids Market (BKM)

Meski bazar barang anak ini biasa diselenggarakan di lokasi yang letaknya lumayan jauh dari Kingsford, tapi bener-bener nggak rugi deh didatangi. (Ya eyyalah, toh saban hari Minggu naik transportasi apa pun dan kemana pun cukup $2,5 sajah :P) Saya suka kalap setiap kali datang ke BKM ini. Barang-barang anak yang dijual buanyak macemnya dan lucu-lucu. Meskipun kebanyakan barang seken, tapi kondisinya masih wokeh apalagi kalau kita pandai-pandai milih (malah banyak pula yang masih tersegel). Nggak heran biasanya duit yang dibelanjakan setiap ke BKM jebol dari dana yang semula dianggarkan. Hihihi…

Oh, seandainya BKM ini bisa hadir secara onlen di tanah air. Eh, nggak papa juga deng, nanti tabungan Mama habis cuma karena laper mata lihat macam-macam mainan. 😛

 

Radi looking at the bustiling crowd at BKM Sutherland

Radi looking at the bustiling crowd at BKM Sutherland

 

People always say that home is where your heart is. Well, my heart has always been with my family. I guess thats why “merantau”—although it enriches my lifehas never been able to suit my lifestyle perfectly. I cant wait to reunite with them all. See you in Bandung.

Radi…  Mommy’s coming home…

Adaptasi

Sudah tiga bulan saya dan anak hijrah ke Sydney. Selama tinggal di sini, alhamdulillah saya kerasan. Meski, sedihnya, kita jauh dari sanak saudara dan kalau mau berkomunikasi via skype sering kali butut koneksinya, tapi di tanah Sydney ini masih banyak saudara setanah air sesama perantau yang bisa menemani hari-hari. Dan mungkin karena Sydney adalah tanah asing yang berdekatan dengan Indonesia, saya tidak menemui kesulitan mendapatkan barang-barang produk Indonesia langganan, kayak kopi susu kopiko (yang tak pernah absen saya seruput tiap pagi, meski harganya naik dua kali lipat) atau bumbu-bumbu masak Indonesia. Nyari makanan halal pun gampang. Sama sekali tak ada kesulitan berarti yang saya temukan selama pindah sementara ke sini. Proses adaptasi kami terbilang mudah. Apalagi kami tiba pas summer. Jadi cuacanya tidak begitu berbeda jauh dengan kondisi cuaca yang biasa dihadapi di tanah air. Meski anginnya sering kali dahsyat dan matahari baru terbenam pukul delapan malam (serasa aneh aja makan malam saat suasana luar masih terang benderang heuheu).

Selama proses adaptasi yang terbilang mulus, ada pula hal-hal berbeda dan suasana baru yang saya temui di Aussie. Di sini, tidak pernah lagi saya lihat nanny-nanny berseragam yang banyak lalu-lalang di mal-mal tanah air—satu tangan menggandeng anak majikan sementara tangan satunya lagi menenteng belanjaan. Orangtua di sini pada umumnya tidak menggunakan jasa pengasuh anak. Kalau pun menyewa jasa pembantu itu pun waktunya terbatas (upah nanny sekitar 20 dollaran per jam). Saya sering kali melihat seorang ibu dengan satu tangan menggendong bayi merah sementara tangan sebelah menggandeng kakaknya, atau mendorong stroller super jumbo yang memuat dua sampai tiga anak, atau seorang ibu di kereta memboyong tiga anaknya sendiri (satu bayi, dua balita)..huft. Saya jadi malu sendiri yang terkadang masih suka ngerasa kerepotan saat mesti bepergian dengan Radi—yang super lincah ini—sendiri. Yah mungkin kondisi juga yang menuntut mereka demikian. Toh mereka didukung oleh fasilitas yang sudah dibuat nyaman oleh negara, seperti jalanan yang mulus untuk menggunakan stroller, angkutan umum yang menampung stroller, banyak playground dan kelas-kelas konseling parenting gratis. Anyway, spiritnya bolehlah dicontoh. Jadiii, saya nggak boleh melulu mengandalkan bantuan suami. *kecuali kalau jalan-jalan keluar kota lah ya, aye takut nyasar*

Kemandirian ini juga tampak pada warga sepuh dan kaum dengan disabilitas. Awalnya saya suka nggak tega sendiri melihat kakek-nenek renta jalan kemana-mana seorang diri, dengan langkah terseok dan pandangan mata buram. Sering saya membatin, kemana sih sanak keluarga mereka, kok nggak ada yang ngurus kok nggak ada yang menemani. Tapi memang begitulah kultur mereka. Anak-anak mereka mungkin sudah sibuk dengan urusan dan tanggungan keluarga mereka sendiri. Mungkin sebagian memilih menempatkan orangtua mereka di nursing home tempat mereka bisa bersosialisasi dengan kawan-kawan seumur untuk menemani hari-hari tua mereka. Ya, hidup memang pilihan. Bagaimana pun semangat kemandirian dan tak ingin merepoti orang lain itu layak diajungi dua jempol *plus dua jempol kaki deh saking salutnya*

Dan saya akui, saya keburu prejudice mengecap masyarakat Barat cenderung individualis dan cuek terhadap sesama. Nyatanya, mereka cukup ramah dan senang menolong. Setiap kali saya membawa stroller sendiri dan bertemu dengan undakan selalu saja ada tangan yang terulur. Mereka cepat tanggap menolong. Saya rasa itu sudah menjadi common courtesy yang memang sudah semestinya. Sesama tetangga mereka masih sering bertegur sapa, bahkan terhadap orang asing yang sekadar berpapasan. Awalnya saya suka salting sendiri begitu disapa orang asing saat tengah berselisih jalan “Hello” “Good day”, atau saat disapa kasir “Hello. How was your day?” (Euu..gimana jawabnya yah. *mikir dulu*) Setelah ngapalin common courtesy and pleasantries di sini, saya pun mulai sok pede aja kadang nyapa duluan atau minimal tebar senyum hehe.

Di Sydney, demi menghemat ongkos transportasi umum yang lumayan mahal, saya sering kali jalan kaki kemana-mana. Toh fasilitas pejalan kakinya sudah dibuat nyaman. Jadi kadang nggak kerasa tau-tau saya sudah menempuh 3 km aja, meski kalau nanjak lumayan kerasa sih pegelnya. Apalagi kalau nanjak sambil dorong stroller yang memuat Radi yang montok plus belanjaan mingguan plus lagi aneka mainan yang dipinjam dari perpus *ngos ngos*. Nggak heran berat badan saya pun turun 2 kiloan selama berada di sini. Kayaknya bukan karena stress ini mah, tapi karena di sini saya dituntut banyak gerak. Lumayanlah buat saya yang suka males olahraga. Kalau dulu muter-muter PVJ aja suka kliyengan, mudah-mudahan nanti begitu pulang ke tanah air saya sudah punya stamina yang lebih wokeh.

Hal baru yang tidak pernah saya lakukan selama di tanah air adalah mulung buangan orang. Istilahnya dumping. Ya, di sini kadang dumpingan (buangan) orang pabalatak di sisi jalan. Dari furnitur, perkakas masak, sampai mainan anak kadang ada. Dari yang udah butut sampai yang masih baguuus. Apalagi kalau kita mau menyisir dumpingan di kawasan elit *niat benerr*. Sampai seringkali saya dinasihati nggak usah khawatir bila nanti mau nyewa unit flat tak berperabot, tinggal mulung sana-sini selain bisa nunggu perabot lungsuran dari orang-orang yang back for good ke tanah air. Baru sekali sih saya ambil barang dumpingan, dan itu adalah rak barang (storage rack). Kenapa mesti gengsi… toh kita hanya memanfaatkan barang yang masih memiliki daya guna, sekalian membantu orang yang butuh mengeluarkan barang daripada berserakan di pinggir jalan. Tak lupa raknya dicuci bersih dulu sebelum digunakan. Lumayan buat nyimpen barang-barang printilan Radi.


Well, itulah sekelumit pengalaman baru saya di perantauan yang mana udah lamua mengendap di arsip laptop dan lupa diposting hihi…