Jalan-Jalan Minggu

30 November 2014. Sambil mengantar Ninin ke gedung balai kota untuk menghadiri acara launching penerapan Peraturan Dilarang Buang Sampah Sembarangan di Bandung yang mulai aktif 1 Desember besok, kami menyempatkan jalan-jalan sehat di hari Minggu. Kebetulan di ruas jalan  Merdeka dekat balaikota kan lagi Car Free Day.

 

pose samping balkot

pose samping balkot

Jalanan bebas kendaraan bermotornya cuma sisi ruas jalan area depan BIP-Gramed. Nggak begitu rame. Yang jualan bisa dihitung pakai jari. Ruas jalan itu cuma dipakai ibu-ibu buat senam aerobik dan sejumlah pesepeda yang lalu-lalang. Tapi lumayanlah, itung-itung jalan sehat meski agak saltum. 😛

 

Setelah jalan-jalan sejenak di area Car Free Day, kami pun kembali ke taman balaikota. We’ll let the pictures tell the stories for themselves. 

 

Kembali ke balkot

Kembali ke balkot

 

Hm..Theres something strange about this photo.

Hm..Theres something strange about this photo.

 

Seperti biasa, setiap habis dipoto Radi pengen ngecek hasilnya. (dah ok belum ya?)

Seperti biasa, setiap habis dipoto Radi pengen ngecek hasilnya. (dah ok belum ya?)

Eitts..gaya apa inih?..

Eitts..gaya apa inih?..

What..feeling tired already?

What..feeling tired already?

 

NB: Can’t believe this is my 100 posts! \(^.^)/ 

 

 

Hopping with Baby Kangaroo (Fun Day Sunday #6)

Akhirnyaaa, kesampaian juga moto-moto dan ngelus anak kangguru—dua bulan jelang kepulangan ke tanah air :P. Sebelumnya sih, kami berkeinginan mengunjungi Taronga Zoo—kebun binatang terbesar di Australia. Tapi setelah melalui banyak pertimbangan dan mendengar cerita-cerita dari pengalaman orang, kami akhirnya memutuskan untuk berbelok arah dan pergi ke Featherdale Wildlife Park. Selain harga tiket masuknya lebih murah, kami berpikiran ya kalau ingin lihat jerapah atau gajah sih di kebun binatang Indonesia juga banyaaak, dan saya rasa nggak akan kalah bagusnya. Yang kami inginkan, kan, bisa berinteraksi lebih dekat dengan satwa-satwa khas Australia.
Nah, Featherdale ini semacam tempat penangkaran berbagai macam hewan khas Australia tapi dalam skala kecil dan hewan-hewan yang ditampungnya pun yang ukurannya mini-mini—khususnya baby kangaroo. Jadi, anak-anak kangguru dibiarkan bebas berkeliaran, pengunjung boleh mengambil foto dan memberi makan, dan tentu saja, mengelusnya. Radi seneng bisa ngelus dan ngasih makan anak kangguru. Malah saat ada satu anak kangguru melompat-lompat balik ke kandang, Radi ikutan masuk ke kandangnya.*tepok jidat*


Kenapa hanya ada anak kangguru dan tidak ada emaknya? Itu karena konon katanya kangguru dewasa termasuk hewan galak dan tidak aman bila dibiarkan berada dalam radius dekat dengan pengunjung. Jadi di Taronga Zoo, mau lihat kangguru juga cuma bisa dadah-dadah aja dari kejauhan.
Puas bermain dengan kangguru, tapi lain halnya dengan saudara sesukunya si koala. Cuma sempat ambil poto sekali dan itu pun kepotong *potografernya gimane nih, papa radi?* Koalanya juga nggak mengembara keluar-masuk kandang kayak para kangguru. Sok jual mahal. Cuma duduk nongkrong di pohon eukalyptus *ya eyyalah*.

koala

maap yah pa or bu koala, kepalanya gak ikut kepoto 😛

Karena kebun binatangnya nggak begitu besar, dalam dua jam kami sudah puas menjelajah. Dan pengin balik pulang, rasanya kok masih siang. Jadi kami pun meneruskan perjalanan naik kereta menuju Blackheath Blue Mountain. Niatnya sih, ingin mencari suasana musim gugur dengan pohon-pohon keemasan itu sebelum keburu masuk musim dingin dan daun-daunnya rontok semua.
Perjalanan kereta menuju Blue Mountainnya jauh lebih lama dari waktu yang dihabiskan di tempat tujuan. Tiga setengah jam total di perjalanan, sementara di lokasi cuma menghabiskan sekitar 20 menit. Cuma moto-moto suasana sedikit soalnya langsung ngejar jadwal kereta pulang yang muncul saban sejam sekali. Jangan lupa, musim gugur begini jam 5 kurang udah gelap aja. Hihi… tapi lumayan puaslah melihat pepohonan emasnya meski kebanyakan sudah pada rontok. Dan minimal sudah pernah menginjakkan kaki ke Blue Mountain yang konon terkenal itu. 😛

at Blackheath Train Station

the autumn tree

Luna Park (Fun Day Sunday #5)

Sudah lama tidak meliput agenda Sunday Funday saban Minggu. Belakangan emang lagi jarang pelesir sih hihi. Si suami sedang sibuk berkutat dengan tugas-tugas kuliah, sementara si saya kejar tayang suntingan. Nah… berhubung sekarang sudah bebas tugas dan tak lama lagi akan meninggalkan Sydney, pengin dijabanin lagi si Sunday Funday dan dituliskan di blog bila mana sempat. 😛
Well, edisi pelesir hari Minggu 4 Mei lalu, kami sekeluarga memilih destinasi Luna Park di Darling Harbour. Kami memilih paket hemat saja, $16 cuma dapet naik carousel dan ferris wheel. For me, its a bit overpriced... Tapiii, dari kemarin udah kepingin banget ke wahana bermain. Gara-gara nonton salah satu dvd the Wiggles yang menampilkan cuplikan Dorothy mampir ke Luna Park..:P
Dan Luna Park ini ternyata nggak seluas dan serame Dufan (beneran lho, bukan karena saya terlalu cinta tanah air wkwkk). Tempatnya lebih seperti pasar malam biasa. Naik carouselnya nggak berasa, bentar amiiit. Tau-tau musiknya udah selesai ajah… dan penumpang “diusir” turun dengan manis :P. Naik ferris wheelnya lumayan. Ngantri nggak pakai lama, tapi di dalam wahananya serasa hampir setengah jam. Dan puas bisa sambil liat pemandangan Darling Harbour dari ketinggian. Naik ferris wheel ini juga jadi spot yang bagus buat moto-moto suasana sekitar hehe.
Overall, tamasya ke Luna Park jadi hiburan yang lumayan buat keluarga, terutama bagi si bocah yang kesenengan ngejar-ngejar burung camar di sudut dermaga. Apalagi perjalanan pulang-perginya jadi pengalaman pertama saya dan Radi naik feri. Bolak-balik Darling Harbour. So fun…
Di bawah ini foto-fotonya:

Family pic at Luna Park taken with 10 sec timer tripod (Radi udah ngebet banget mau lanjut ngejar burung 😛 ).

poto keluarga di Luna Park

Smile!

Baby and Kids Market (Fun Day Sunday #4)

Setelah sekian lama nunggu-nunggu pengin main ke Baby & Kids Market (BKM), akhirnya kesampaian juga hari Minggu kemarin. Udah lama penasaran BKM ini kayak apa, soalnya banyak yang bilang kalau nyari barang-barang murah buat anak mending ke sana. BKM ini diadakan setiap hari Minggu dengan lokasi gonta-ganti kota tiap pekannya. Event BKM yang kita datangi adalah saat di Sutherland, arah selatan Sydney. Dari Kingsford menuju Sutherland, kami mesti naik bus 20 menitan ke stasiun kereta. Kemudian naik kereta menuju Sutherland selama 45 menit.

Radi ga bisa duduk manis di dalam kereta :P

Radi ga bisa duduk manis di dalam kereta 😛

Di lokasi BKM, orang-orang buka lapak dari pukul 9-12 siang. Kami tiba di lokasi pukul 10 lewat, dan langsuuung kayak orang kalap. Bingung mau pilih yang mana. Meski kebanyakan yang dijual barang-barang bekas, tapi kondisinya masih lumayan bangeeet. Malah banyak yang nampak masih baru. Akhirnya kami pulang dengan memborong barang-barang elmo (pilihan Radi)—topi elmo, buku-buku elmo, tirai elmo, tas elmo..hehehe. Plus, akhirnya beli stroller merk mclaren seharga $130 (yang baru harganya $400an di toko) masih dalam kondisi bagus karena cuma sempat dipakai sebentar sama ibu penjualnya. Niat awal kami ke BKM memang sebetulnya buat nyari stroller second karena stroller Radi yang ada sekarang kurang mantap dan kursinya nggak bisa disandarkan jadi kasian kalau Radi bobo di jalan (yang mana itu sering terjadi). Di Aussie stroller itu memang penting banget karena kemana-mana kami hampir selalu jalan kaki. Jadi nggak apa lah beli stroller yang rada mahal tapi berkualitas… demi anak. Mudah-mudahan awet, minimal selama di Aussie nggak perlu gonta-ganti stroller lagi. Sukur-sukur sampai bisa dibawa pulang ke Indonesia buat calon adeknya ntar 😛

Sutherland ini kotanya kecil namun apik. Sejauh pandangan mata dari stasiun kereta menuju stadion basket lokasi BKM sih tampak begitu. Dan kalau dilihat dari google map, lokasi BKM itu bersebelahan dengan hutan yang luas. Meski penasaran pengin jalan-jalan menyusuri kota Sutherland lebih jauh, tapi dengan berat hati kami mesti langsung pulang karena bawaan seabrek. Kami pulang sambil ngedorong dua stroller (stroller yang sebelumnya dibawa dan stroller yang baru dibeli) plus ngangkut belanjaan borongan Radi. *apa nanti kita sekalian buka lapak aja di Indo yah, nak? 😛 *

pamer borongan serba elmo :)

pamer borongan serba elmo 🙂

Kalau mau tahu lebih banyak tentang Baby & Kids Market (BKM) ini, bisa ditengok di sini: http://www.babykidsmarket.com.au

Berburu Bacaan Anak (Fun Day Sunday #3)

Percobaan pertama belanja di e-bay Australia telah mengantarkan kami ke wilayah barat Sydney, tepatnya di Berala. Berawal dari iseng-iseng browsing situs e-bay Australia dengan keyword sesame street (yang lagi sangat digemari Radi). Ketemulah beraneka macam item di sana, dan langsung naksir berat dengan koleksi 9 buku hardcover bekas bertema Sesame Street dalam kondisi masih sangat bagus yang hanya dijual seharga 5 dollar sajah. Cuma syaratnya, barang diambil sendiri ke rumah sang penjual—yang justru sangat cocok dengan keinginan saya yang ogah bayar ongkir lebih mahal dari belanjaannya dan lebih memilih menjemput sendiri karena bisa sekalian pelesir ke tempat baru..hehe.

Jadi, agenda Sunday Funday kami minggu ini adalah dalam rangka menjemput belanjaan e-bay *sayang anak… sayang anak*. Kami pakai tiket Sunday Funday demi mengirit ongkos karena jarak tempuh ke Berala—lokasi rumah si penjual—yang lumayan jauh. Satu kali naik bus dari halte Kingsford, dua kali naik kereta.

Sayangnya, di stasiun kereta Berala nggak ada fasilitas lift buat pengguna kursi roda atau pemakai stroller. Jadi terpaksa stroller diangkut naik-turun tangga sementara Radi digendong. 😦

Tanpa perlu berjalan kaki lama dari stasiun, kami menemukan alamat rumah si penjual. Setelah menyelipkan uang lima dollar di bawah pintunya, dan mengangkut belanjaan kami yang sudah ditaruh di pinggir carportnya (sesuai perjanjian karena penjualnya sebelumnya berencana keluar rumah), kami pun berangkat pulang. Radi tertidur pulas sepanjang perjalanan kaki kami di Berala.

Sebelum sampai kembali di halte, kami sempat belanja bubuahan (jeruk, pisang, dan semangka) di sebuah toko kelontong sana karena buah-buahannya murah meriah. Lumayanlah, daripada jauh-jauh lagi ke Paddys Market.

Sampai di stasiun Berala kembali, kami enggan membangunkan Radi yang masih lelap dan mengangkatnya dari strolernya untuk kembali menaiki tangga yang cukup tinggi. Untung, saat itu kebetulan saja ada wanita berbadan kekar mengajukan diri untuk membantu mengangkat stroller dengan Radi tidur di atasnya. Secepat kilat dia mengangkat stroller dari atas dengan satu tangan sementara si papa mendorong dari bawah tangga. What a nice lady, and a strong one too. Go girl power!  😛

Sebelum pulang ke rumah, kami memutuskan untuk singgah sebentar di Hyde Park untuk melihat Lawn Library dan merasakan suasana Sydney Festival di sana. Kami berhenti di stasiun kereta bawah tanah Museum NSW. Dan lagi-lagi, nggak ada lift. Huff… I wonder why. Bukankah ini pusat kota yah?  And where is that nice lady again when we needed her? Oh, well… saya kan juga punya girl power. *Mari angkut stroller lagi menapaki tangga. Hosh!*

Tiba di Hyde Park kami menyantap makan siang di bangku sejenak sementara Radi berlarian di taman. Lalu lanjut ke lokasi Lawn Library yang ternyata di taman seberang lagi. Di Lawn Library setiap orang dibolehkan mengambil buku gratis. Saya memilih buku klasik The Little Prince dengan hard cover buat Radi, sementara Papa mengambil buku panduan fotografi. Saya juga menaruh satu buku anak yang kurang digemari Radi ke dalam rak Lawn Library. Sebagai sumbangsih aja, biar kayak tukeran buku. 😛

Overall, it was a really Fun Sunday. Puas belanja buku buat nanti ngisi koleksi perpustakaan mungil Radi di Bandung *amin*. Entah mengapa sekarang saya lebih senang berburu buku buat bacaan anak saya daripada buat saya sendiri. Apalagi kalau udah melihat wajah sumringah Radi begitu bangun dari tidurnya dan disodori buku bergambar Big Bird dan Cookie Monster. “Ma, bu…ma, bu…!” seru Radi sambil jarinya antusias menunjuk gambar si burung Big Bird, lalu meniru gaya Cookie Monster melahap habis cookies dengan maruknya “Ammnyamnyam.” Its priceless!  😀

Radi 'n books

Radi ‘n books

An Oasis Called the Library

Aktivitas rutin nan mengasyikkan kami selama di Sydney adalah mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan favorit yang sering kami datangi adalah Margaret Martin Library dan Bowen Library. Martin Library bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 20 menitan dari rumah *cihuy*.

Selain buku, di perpustakaan sini juga tersedia berbagai mainan anak. Makanya Radi betah 😛 Mainan boleh dipinjam kalau kita bikin kartu peminjaman khusus mainan dengan biaya $40 selama setahun. Kartu mainan ini memberi kita hak untuk meminjam mainan sampai 5 item selama 2 minggu yang boleh diperpanjang sampai dua kali. Juga kesempatan untuk mengikuti workshop yang diadakan perpustakaan.

Papa Radi paling seneng pinjam dvd di perpustakaan. Kalau saya paling seneng minjam mainan; puzzle dan boardgamenya.. hihi..padahal pakai kartu mainan Radi. Saya juga sering pinjam buku-buku parenting. Lumayan buat bekal membesarkan anak 😛  Isi buku yang saya pinjam bakal saya catat di blog, kalau ada yang menurut saya patut dicatat. Mumpung di luar negeri dan dapat akses banyak dari  perpus, sayang kalau tidak dimanfaatkan, buat menambah ilmu dan berbagi dengan yang lain.

Sekali seminggu saya juga mendaftarkan Radi ikut kelas batita “Baby Love Books”. Gratis! Selama setengah jam, Radi menyanyi, menari, dan mendengarkan cerita anak dan nursery rhyme bersama anak-anak lainnya. Radi girang abis selama sesi kelas itu berlangsung. Nanti kalau udah genap 2 tahun, Radi bakal naik kelas ke “Bop 2 Books”—program buat anak usia 2 tahunan.

Saya suka mikir, kapan yaa di Indonesia ada fasilitas seperti ini buat anak-anak. Tapi memang capek juga kalau kita terus saja membanding-bandingkan situasi dan fasilitas yang ada di negara maju dengan negara kita. Mestinya, ini malah semakin memicu saya—yang alhamdulillah diberi kesempatan menikmati fasilitas dari negara lain—untuk bisa membawa perubahan saat kelak kembali ke tanah air.

Siapa tahu, kelak saya bisa mewujudkan mimpi saya untuk mendirikan semacam rumah bacaan anak. Di tengah gencarnya teknologi digital menggempur anak-anak kita, saya ingin sekali melihat anak-anak bisa tetap dekat dengan dunia buku. Karena buku adalah jendela dunia yang mampu membuka wawasan dan mendorong mereka untuk berani bercita-cita. Siapa tahu, nanti di “rumah” itu kita bisa bikin kelas-kelas gratis yang mampu menunjang kreativitas mereka seperti yang diikuti Radi saat ini. Siapa tahu…

 

Wisata Spontan (Fun Day Sunday #2)

Mengapa disebut wisata spontan? Karena perjalanan kami kali ini memang tidak direncanakan secara matang. Pada awal pagi suami mengeluhkan hidung pilek jadi mengurungkan rencana kami jalan-jalan ke objek wisata pantai Kiama—yang mesti ditempuh dengan dua jam lebih perjalanan kereta. Okelah *tarik selimut bobo lagi*

Eh, sekitar pukul 9 pagi, beliau berubah rencana. Mungkin bingung juga mau ngisi hari Minggu dengan apa, masa’ mendekam di kamar nonton Elmo terus sementara masih ada tiket Sunday Funday yang dibelinya minggu kemarin. Akhirnya, setelah beliau browsing-browsing sekadarnya, ditetapkanlah agenda Minggu itu kita akan pergi mengunjungi perpustakaan nasional dan mungkiiin, mampir ke pantai… *kali ini, rencananya fleksibel banget deh.*

Maka berangkatlah kami naik bus menuju central Sydney sementara waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Turun di Circular Qay. Rencana semula dari sana mau naik feri, tapi kelihatannya yang ngantri feri lagi penuh… Males ah. Marilah kita lanjut sight-seeing sambil moto-moto. Eh, dapat juga kesempatan moto di depan Opera House yang nggak jauh beda sama Keong Mas.

funday8

“Ma, aku sudah sampai di Sydney, Ma!” 🙂

funday9

ramai depan Keong Mas..eh Opera House

Lanjut menyusuri jalan sampai ketemu taman luaaas banget. Keren banget tamannya. Namanya Botany Bay Garden. Jalan-jalan jauh nggak kerasa pegelnya karena selama jalan kita disuguhi pemandangan keren, jalanannya mulus tanpa lubang, dan banyak spot-spot tempat istirahat.

funday10

masuk Botany Bay Garden

Di Botany Bay Garden, kami sempat ketemu gedung menyerupai kastil *keren*. Sepertinya bekas Government House dari abad 18-an. Tadinya kami pengen coba ikut tur ke dalam gedung itu. Free of charge! Tapi kudu bawa identitas diri sementara saya nggak bawa paspor, dan lagipula tur itu memakan waktu 45 menit. Paling Radi keburu bangun, dan kami masih ingin jalan-jalan ke tempat lain, belum lagi perut yang mulai keruyukan.

depan Government House

depan Government House

Yo wis, lanjutlah kami menyusuri taman Botany yang indah itu. Saat Radi terbangun, dia langsung bersemangat lompat turun dari stroller. Berlari-larian di taman sepuasnya sambil ngejar burung-burung yang dikit-dikit jalan dikit-dikit terbang. Saking semangatnya ngejar burung, Radi sempat kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan muka membentur aspal di jalan turunan.

Oh no, my darling sweet boy… Kenapa kamu selalu saja membawa oleh-oleh luka setiap kita pesiar ke taman. Dasar jagoan, dengan kening dan pipi lecet dan berdarah *dikit kok, oma :P* Radi langsung bangkit berdiri tanpa nangis *keprok*. Jadi ingat waktu imunisasi kemarin, untuk kali pertamanya Radi juga nggak nangis sama sekali saat disuntik *Ah, Nak, kamu sudah besar ternyata sekarang. Mama jadi terharu.*

Radi seneng bangeeet lari-larian di taman. :*

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kami pun kemudian nyari spot teduh buat gelar tikar dan bersiap menyantap makan siang. Papa ngeluarin kompor portabel trangia (yang dimilikinya dari jaman hobi naik gunung) buat ngerebus indomie (yang di sini harganya 5 ribu satu bungkus, saudara-saudarah).

Beres makan siang, kami pengen melanjutkan perjalanan ke perpustakaan nasional *sesuai rencana awal tea*. Arsitektur gedung perpusnya keren banget, bergaya Yunani kuno. Tapi rada repot nyari jalan masuknya. Akhirnya muter lagi rada jauh setelah si papa ngambil peta denah perpus. Dan sesampainya di dalam, ternyata ruang perpus buat anak-anaknya lagi libur *booo...penonton kuciwa* Perpusnya sepi. Hanya nampak kakek-nenek dan orang-orang bertampang terdidik sedang sibuk depan laptop masing-masing *sibuk ngerjain disertasi mungkin, atau main candy crush*.

depan State Library NSW

depan State Library NSW

Satu poin yang mesti dicatat, kalau mau pelesir keluarga bikin rencana yang matang lebih dulu. Kalau lebih menggali informasi sebelumnya, kita kan sudah bisa tahu kalau perpus anak tutup tanpa mendatanginya lebih dulu. Apalagi kalau jalan-jalannya sambil bawa keluarga lengkap dengan bayi. Kalau pelesir sendirian sih, mau asal lempar pena ke peta sebagai tujuan juga fine-fine ajah. Tapi kalau bawa bayi, memang kudu banyak persiapan karena cuaca yang panas atau situasi membosankan bisa bikin doi rewel *lah katanya udah gede, kok jadi bayi lagih :P*

Habis numpang pipis di toilet perpusnya, kami pun cabut lagi. Kembali berjalan menembus taman *yang lain, bukan Botany Bay* di bawah sinar matahari yang bersinar kian terik. Kami mengistirahatkan kaki sejenak di bangku taman, sementara Papa pergi beli es loli dan jus dingin. Segerrrr…cucok dikonsumsi di hari yang panas.

es lolinya enak juga Pa *apa sih yang ga enak buat kamu, Nak*

es lolinya enak juga Pa *apa sih yang ga enak buat kamu, Nak*

ngadeeem dulu...

ngadeeem dulu di Hyde Park…

Lucunya, di taman itu Radi tiba-tiba nyamperin satu set keluarga India yang duduk tak jauh dari bangku kami. Ada nenek-nenek dengan sarinya, ada pula anak kecil, lengkap dengan bapak dan ibunya. Radi sok akrab banget, bahkan pakai minta peluk segala. Mungkin Radi teringat sanak keluarganya yang rame di Bandung. Biasanya ada banyak paman, bibi, nenek, sepupu-sepupu yang mengelilinginya. Hihihi. Nanti pulang kita skypean aja ya Nak sama mereka yang di Bandung. :*

Mari Nak, kita pulang sekarang, lalu berdadah-dadahlah Radi kepada keluarga indiahe itu lengkap dengan kiss-bye mesranya. 😀

Nggak kerasa,  seharian ini saya jalan kaki jauh juga. Udah menempuh berkilo-kilometer. Ada kali KPAD-Srigunting *hiperbola :P* Meski berjalan kaki jauh di bawah terik matahari musim panas, pegal nggak begitu terasa karena sepatu yang nyaman di kaki *alhamdulillah, meski pake sepatu obralan yang dibelinya juga nggak gitu niat* dan itu tadi, tersedia banyak spot-spot untuk mengistirahatkan badan sejenak di sepanjang jalan.

di tepi Botany Bay

di tepi Botany Bay

Oleh-oleh Fun Day Sunday kali ini adalah kulit yang terbakar matahari. Sampai di rumah, baru kelihatan Radi mukanya udah kayak kepiting kukus *merah tapi nggak merah banget* dan si papa kulit lengannya langsung belang. Untung saya dijilbab, jadi mungkin tidak terlalu terkena sun burn karena sinar mataharinya nggak banyak kena langsung ke kulit 😛

PS: Minggu depan mungkin rehat dulu Sunday Fundaynya, saya mau menghadiri pengajian ibu-ibu. *loh kok minta izin 😛 *

Edisi Trial (Fun Day Sunday #1)

Fun Day Sunday adalah program pemerintah negara bagian New South Wales demi mendukung agenda jalan-jalan keluarga di hari Minggu. Khusus setiap Minggu bagi keluarga dengan anak, tarif transportasi hanya dikenakan $2,5 per orang dewasa untuk seluruh transportasi di satu hari itu. Cihuuuy… jadilah kami sekeluarga mengagendakan puas-puas pelesir hingga ke pelosok New South Wales setiap hari Minggunya. Judulnya, pelesir hemat. Lima dolar saja—saya dan suami—bisa menikmati transportasi bus, kereta, trem, dan feri bolak-balik seharian penuh. *yeyy*

Agenda Fun Day Sunday pertama ingin kami habiskan dengan wisata ke Central Sydney terlebih dulu. Tapi baru berangkat naik bus dari halte Kingsford, tiket Funday Sunday kami sudah tertelan mesin. Hangus deh, nggak bisa dipake lagi…:(  Ya sudahlah. Cuma 2,5 dollar ini yang melayang. *gaya*

Begitu sampai di pusat kota Sydney, suami langsung beli dua tiket Sunday Funday lagi di kios pinggir jalan. Tapi katanya, tiketnya dipakai buat jalan-jalan minggu depan aja soalnya sayang, kita sudah sampai di lokasi dan kita toh membatalkan naik feri mengingat angin hari itu yang bertiup sangat kencang plus Radi masih rada pilek. Yo wis.

Sampai di Central Sydney kitaaa...

Sampai di Central Sydney kitaaa…

Begitu sampai, langsung cari tempat ngadem. Si bocah nagih brunch.

pose kemayu :P

pose kemayu 😛

Tujuan pertama kami ke Queen Victoria Building (QVB). Bekas kantor pemerintahan jaman baheula yang kini diubah jadi shoping mal . Malnya isinya butik-butik mahal dan bermerek. Nggak minat lah shoping di sini. Kita hanya mengagumi arsitektur gedung lamanya aja. Plus merasakan naik lift model jadul, serasa balik ke abad 19-an.

pose depan nenek buyut Ratu Elizabeth

Beginilah tampilan di dalam QVBnya.

papa girang ketemu lift era kompeni.

papa girang ketemu lift era kompeni.

Habis dari QVB, kita singgah sebentar ke Abbey Bookshop di dekat sana. Saya penasaran belum mampir ke toko buku selama di Australia. Ternyata harga bukunya relatif mahal buat saya, dan pilihan judul bukunya pun tak banyak.*sigh*

Hayuklah... mari kita lanjutkan perjalanan! Kemana-mana kita jalan kaki dong. Pelesir hemat, dan sehat! :)

Hayuklah… mari kita lanjutkan perjalanan! Kemana-mana kita jalan kaki dong. Pelesir hemat, dan sehat! 🙂

Dari sana, kita nyeberang ke Darling Harbor. Anginnya kuenceng banget waktu kita melintasi jembatannya. Radi langsung diselimuti selain tadi udah dijaket karena takut masuk angin, meski  bayi-bayi bule di sana pada pede make kaos kutang dan celana pendek.*da Radi kan sebelumnya anak tropis*

Tempat wisata ini ramai banget dengan orang, terutama turis. Apalagi saat di Tumbalong Park. Taman dengan wahana bermain air buat anak. Kita duduk di taman itu buat makan siang sambil melihat bocah-bocah cilik bermain air. Bingung juga lihat balita yang bisa main air dengan kolor aja. Memang sih, sekarang musim panas, tapi cuaca waktu itu lagi dingin plus banyak angin… brrr… Untung Radi nggak nagih ikut main air. Dia anteng makan kentang goreng McD dan nasi nori plus ikan sambil nonton anak-anak main air dan burung-burung camar yang berseliweran di sekitarnya.

Sebelum pulang, mampir dulu ke Paddys Market soalnya saya penasaran. Ternyata Paddys Market itu serupa dengan Pasar Baru. Lokasinya di dalam Chinese Town. Yang ngejual juga kebanyakan barang-barang buatan Cina—mainan, tas-tas KW, barang-barang suvenir.  Katanya ada juga yang jual buku-buku dan buah-buahan dengan harga dibanting, tapi kita nggak sempat nemu tuh. Sumpek lalu-lalang orang bikin nggak betah berlama-lama di sana, apalagi sambil ngedorong stroller. Paling berencana singgah ke Paddys Market lagi pas butuh cari souvenir aja nanti-nanti jelang kepulangan.

Paddys Marketnya di dalam China Town ini. Ga usah dipoto lah dalamnya, da ga jauh-jauh sama pasar kebanyakan. Berjubelan orang2.

Paddys Marketnya di dalam China Town ini. Ga usah dipoto lah dalamnya, da ga jauh-jauh sama pasar kebanyakan. Berjubelan orang-orang.

Oleh-oleh Fun Day Sunday ini adalah *hatsyiii* pilek. Ternyata badan saya masih badan tropis. Belum kuat jalan-jalan menahan deru angin kencang seharian. Mudah-mudahan Radi nggak tertular, nanti jadwal vaksinasinya terpaksa mundur lagi. 😛

Sebetulnya ini Fun Day Sunday yang gagal. Kan nggak jadi kepake tiketnya. Yah kita sebut saja “trial” Fun Day Sunday pertama kita. Daaan, nantikan agenda Fun Day Sunday kami berikutnya. Hm..kemana yah agenda minggu depan?… Mari kita renungkan dan berdoa bersama, agar saya sudah kembali sehat dan bisa pelesir lagi minggu depan *nenggak sanaflu*.

Oleh-Oleh Jakarta

Jadi ceritanya, hari Rabu 9 Oktober 2013 saya bersama oma dan Radi berangkat ke Jakarta untuk keperluan medical check up sebagai prasyarat visa dependen ke Australia. Setelah hampir seminggu diundur-undur karena Radi yang sempat sakit, akhirnya jadi juga berangkat. Radi masih batuk sedikit, tapi insyaAllah nggak masalah. Toh anaknya tetap lincah dan badannya udah nggak anget. Kalau diundur terus ntar keburu kepotong libur Idul Adha, terus minggu depan lagi ntar jadwal tamu bulanan jadi nggak bisa periksa urine. Nah kalau gitu kapan keluar visa ‘n nyusul si papa atuuh…

Maka bismillah saja… Hari Selasa saya pun pergi beli tiket ke PT KAI. Ternyata antrean pembelian sudah ramai gara-gara menjelang long wiken Idul Adha *halah, baru inget* Tiket eksekutif sekarang Rp. 80.000, oma dapat diskon manula jadi Rp. 64.000, sementara Radi yang baru 1 tahun bayar 10% (da gak dapat kursi) jadi Rp. 8.000.

Setelah tiga tahun lebih tidak menggunakan jasa kereta, saya lumayan kaget dengan banyaknya perubahan yang terjadi. Contohnya, pembelian tiket sekarang udah kayak di teller bank—pakai ngambil nomor antrean. Ini gebrakan bagus sih mengingat budaya antre masyarakat kita yang masih amat rendah, saling serobot sana-sini. Lihat aja cara orang-orang kita naek lift. Langsung berusaha menerobos masuk tanpa mempersilakan orang-orang di dalam lift buat keluar lebih dulu. Tuh, jadi out of topic, kan. Gara-gara suka kebawa emosi sendiri kalau udah soal perkara antre-mengantre. *too much negative experiences*

Selain itu, sekarang orang-orang yang mengantar dan menjemput penumpang sudah nggak boleh masuk peron. Bagus sih… mungkin demi menghindari calo, selain itu juga jadi lebih tertib dan itung-itung berbagi rejeki sama kuli angkut barang. Kalau di dalam kereta sendiri sih nampak tidak banyak perubahan berarti. Tapi saya lihat kondisi WC sudah dilengkapi wastafel dan sabun cair. Dan di samping kursi penumpang dilengkapi colokan listrik buat ngecharge hape or laptop. Oh ya, satu perubahan yang disesali, sekarang sudah nggak ada bagi-bagi snack di kereta. 😛

Doa saya sebelum berangkat, semoga Radi nggak pup di jalan, alhamdulillah terkabul. Heuheu…untunglah si bocah milih pupnya pagi-pagi banget sebelum berangkat. Sementara jadwal keberangkatan kereta pukul 9 pagi.

Ini adalah pengalaman pertama Radi naik kereta looh… Di usia 16 bulan…horee!  Agak cemas juga karena pas awal masuk kereta Radi nampak ingin lari-lari terus sepanjang lorong, sambil tangannya ngoprek-ngoprek segala yang dia lewati. Duh gimana yah kalau sepanjang perjalanan 3 jam ini Radi– yang rasa ingin tahunya begitu tinggi ini–nggak mau duduk manis di tempat. Tapi syukurlah begitu kereta mulai jalan dan diimingi susu, Radi mau juga duduk dipangku sambil minum susu dan lihat-lihat pemandangan. Nggak lama, Radi pun tertidur lelap sampai 1,5 jam. Sisa waktu selebihnya dihabiskan Radi dengan bermain papan gambar yang sengaja saya beli untuk perjalanan selama 30 menit, lihat-lihat pemandangan 30 menit, digendong sambil berjalan-jalan di lorong kereta saat Radi mulai rewel mau menjelajah lagi selama 15 menit, dan bacain buku cerita 15 menit. Alhamdulillah, 3 jam perjalanan terlewati tanpa insiden berarti. Radi cuma sempat teriak-teriak protes sedikit waktu dilarang jalan-jalan di lorong sewaktu kereta bergoyang-goyang di relnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Keesokan hari, baru kami berangkat ke Medikaloka Health Centre di Kuningan. Untuk keperluan medical check-up mereka melayani dari pukul 12.00-15.00.Tarifnya lumayan mahal. Untuk pemeriksaan kesehatan saya dikenakan tarif Rp. 525.000, plus bayi satu tahunan Rp. 250.000. Jadi total saya keluar kocek Rp. 775.000. Tapi layanannya sesuai dengan tarifnya. Ruangannya cozy, dan nggak pakai antre (mungkin juga karena memang kebetulan lagi sedikit aja yang datang yah :P).

Proses medical check-up saya meliputi: periksa urine, periksa mata, chest x-ray dan sesi pemeriksaan umum/tanya jawab dengan dokter. Kalau Radi cuma ditimbang dan diukur kayak di posyandu, plus sesi tanya jawab dengan dokter. Saya ngasih catatan imunisasi anak saya, tapi si dokter cuma lihat sekilas saja. Tadinya sempet ngirain Radi mesti diberi vaksin tambahan, kayak vaksin influenza, cacar, atau semacamnya yang mungkin di Australia sana diwajibkan sementara di sini tidak. Tapi ternyata tidak. Alhamdulillah deh. Kata dokter sih, visa biasa keluar sekitar 2-4 minggu setelah proses medical check-up. Mudah-mudahan saja visa saya sudah bisa keluar dalam 2 minggu *fingers crossed*.

Keseluruhan proses pemeriksaan nggak sampai memakan waktu satu jam. Syukurlah, soalnya Radi udah mulai rewel. Kayaknya si bocah capek. Tadi sempat macet lumayan lama menuju Kuningan. Belum lagi sepanjang perjalanan di mobil tadi Radi nangis-nangis mulu minta duduk di balik kemudi. Ini gara-gara om Yudi—yang dengan baik hati sedia mengantar—suka memangku si bocah sambil nyetir saat memasukkan mobil ke garasi atau saat keluar gedung sebelum masuk jalan raya. Tapi semenjak insiden Radi mengamuk nagih terus pengin jadi sopir, saya sudah nggak ijinkan lagi Radi duduk di balik kemudi. Kasian juga kan kalau anaknya jadi bingung dengan mixed message yang diterimanya; kadang dikasih (kalau di komplek atau macet) kadang nggak. Mana nangisnya heboh dan lama banget lagi. Maafkan Mama, ya, Nak. Cup cup. 😛

Perjalanan ke Jakarta kali ini juga menyisipkan banyak pengalaman pertama Radi. Kali pertama Radi berkunjung sekaligus menginap di rumah teta Dewi di Kemandoran Pluis. Juga kali pertama Radi nyobain naik odong-odong di pagi hari. Hehe. Ini sih dulu aktivitas sehari-hari kakak Rian pas masih seumur Radi. Tiap pagi pasti nagih naik odong-odong. 😀 Tapi Radi nampak bosenan duduk di odong-odong. Mungkin karena odong-odongnya cuma goyang-goyang di tempat, nggak maju-maju.. hihihi.

First Time at the Beach

Jadi ceritanya, kami sekeluarga pergi berlibur. Awalnya ibu mertua ingin mengunjungi adik suami yang sedang kerja praktek di salah satu rumah sakit di Banten. Sekaliguslah bikin agenda pelesir sekeluarga. Dan tujuan wisata kami kali ini adalah Pantai Carita.

Pelesir ria ini juga menjadi pengalaman pertama Radi ke pantai. Di usianya yang ke-10 bulan 🙂

Radi masih takut mendengar suara gemuruh ombak dari dekat. Tapi kalau duduk dari zona aman (tak terlalu dekat bibir pantai) sih, Radi nampak enjoy. Senang memandang gulungan ombak dan orang-orang yang asik bermain di pantai.

Here’s a few pics of his first time at the beach.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.