Hopping with Baby Kangaroo (Fun Day Sunday #6)

Akhirnyaaa, kesampaian juga moto-moto dan ngelus anak kangguru—dua bulan jelang kepulangan ke tanah air :P. Sebelumnya sih, kami berkeinginan mengunjungi Taronga Zoo—kebun binatang terbesar di Australia. Tapi setelah melalui banyak pertimbangan dan mendengar cerita-cerita dari pengalaman orang, kami akhirnya memutuskan untuk berbelok arah dan pergi ke Featherdale Wildlife Park. Selain harga tiket masuknya lebih murah, kami berpikiran ya kalau ingin lihat jerapah atau gajah sih di kebun binatang Indonesia juga banyaaak, dan saya rasa nggak akan kalah bagusnya. Yang kami inginkan, kan, bisa berinteraksi lebih dekat dengan satwa-satwa khas Australia.
Nah, Featherdale ini semacam tempat penangkaran berbagai macam hewan khas Australia tapi dalam skala kecil dan hewan-hewan yang ditampungnya pun yang ukurannya mini-mini—khususnya baby kangaroo. Jadi, anak-anak kangguru dibiarkan bebas berkeliaran, pengunjung boleh mengambil foto dan memberi makan, dan tentu saja, mengelusnya. Radi seneng bisa ngelus dan ngasih makan anak kangguru. Malah saat ada satu anak kangguru melompat-lompat balik ke kandang, Radi ikutan masuk ke kandangnya.*tepok jidat*


Kenapa hanya ada anak kangguru dan tidak ada emaknya? Itu karena konon katanya kangguru dewasa termasuk hewan galak dan tidak aman bila dibiarkan berada dalam radius dekat dengan pengunjung. Jadi di Taronga Zoo, mau lihat kangguru juga cuma bisa dadah-dadah aja dari kejauhan.
Puas bermain dengan kangguru, tapi lain halnya dengan saudara sesukunya si koala. Cuma sempat ambil poto sekali dan itu pun kepotong *potografernya gimane nih, papa radi?* Koalanya juga nggak mengembara keluar-masuk kandang kayak para kangguru. Sok jual mahal. Cuma duduk nongkrong di pohon eukalyptus *ya eyyalah*.

koala

maap yah pa or bu koala, kepalanya gak ikut kepoto 😛

Karena kebun binatangnya nggak begitu besar, dalam dua jam kami sudah puas menjelajah. Dan pengin balik pulang, rasanya kok masih siang. Jadi kami pun meneruskan perjalanan naik kereta menuju Blackheath Blue Mountain. Niatnya sih, ingin mencari suasana musim gugur dengan pohon-pohon keemasan itu sebelum keburu masuk musim dingin dan daun-daunnya rontok semua.
Perjalanan kereta menuju Blue Mountainnya jauh lebih lama dari waktu yang dihabiskan di tempat tujuan. Tiga setengah jam total di perjalanan, sementara di lokasi cuma menghabiskan sekitar 20 menit. Cuma moto-moto suasana sedikit soalnya langsung ngejar jadwal kereta pulang yang muncul saban sejam sekali. Jangan lupa, musim gugur begini jam 5 kurang udah gelap aja. Hihi… tapi lumayan puaslah melihat pepohonan emasnya meski kebanyakan sudah pada rontok. Dan minimal sudah pernah menginjakkan kaki ke Blue Mountain yang konon terkenal itu. 😛

at Blackheath Train Station

the autumn tree

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s