Sembilan Bulan di Kingsford

Sembilan bulan waktu yang tak singkat. Ah, saya tentu akan sangat merindukan berjalan kaki di Sydney, khususnya seputaran Kingsford. Menikmati tempat-tempat ramah pejalan kaki dan stroller.

Tapi saya juga merasa bahwa, bila kau sudah merasa terlalu nyaman di suatu tempat, mungkin sudah tiba saatnya kau beranjak dari sana. Melepaskan diri dari zona nyaman. Stretch yourself. Challenge your limit. Dan ini tidak hanya berlaku untuk tempat saja. Tidak berarti kita kudu jadi perantau sepanjang hidup. Namun lebih ke kondisi. Bila kita sudah merasa terlalu asyik “duduk” di satu tempat, jangan-jangan kita malah jadi stagnan. Saatnya berdiri dan meneruskan perjalanan. Pelajari kebisaan baru.  Keterampilan baru. Menambah kawan. Menambah ilmu. Terus… selama kaki ini masih bisa melangkah…

Dan, kini tibalah saatnya saya beranjak pergi dari Kingsford…

Tapi sebelum itu, ingin sekali saya merekam tempat-tempat favorit selama persinggahan saya di Sydney ini. Oh, how I will surely miss these places. 😛

 

Randwick dan Bowen Library

Ini tempat tujuan langganan saya dan Radi. Biasanya sekali seminggu kita mampir ke perpus. Cukup naik bus sekali dan perjalanan hanya memakan waktu 10 menitan. Malah, saya dulu biasa jalan kaki sambil ngedorong stroller Radi (yah, sebelum keluhan jantung saya kambuh). Kami akan pinjam sejumlah buku dan mainan (kesukaan Radi puzzle kayu), atau menghadiri kelas “Baby Love Books” di perpus tempat Radi belajar menyanyi dan menari bersama anak-anak lain.

Jujur, sudah lama sekali saya tidak berinteraksi dengan perpustakaan. Padahal ingin sekali saya menularkan kecintaan saya dengan perpus—yang sempat menjadi semacam tempat sanctuary bagi saya kala usia sekolah—kepada anak saya. Pengalaman berinteraksi kembali dengan perpus selama di sini semakin memantapkan tekad saya untuk kelak membuat perpustakaan sendiri di tanah air. InsyaAllah bila ada rejeki akan dibuka bagi semua anak Indonesiah yang sudi mampir. Amiiin.

 

Kampus UNSW tercintah!

Wooo, memangnya kampus siapa inih? Meski tidak tercatat (secara resmi) sebagai salah satu mahasiswi di sini, saya lumayan sering lho wara-wiri ke sini. Selain buat mampir ke klinik dan bertemu GP langganan, bu Kathryn Medynski yang cerdas nan ramah, saya sering mampir ke Matthews Buildingnya. Tiada lain tiada bukan demi menjadi kelinci percobaan para mahasiswa psikologi yang sibuk mengerjakan riset akhir mereka. Biasanya menjadi kelinci ini dibayar minimal 15$ per jamnya. Lumayanlah ya… buat nambah-nambah ongkos pulang dan modal belanja buku dan mainan di BKM *sayang anak sayang anak* 😀

 

 

 

White Lotus

Ah, toko kelontong ini mampu memuaskan kerinduan saya pada segelintir produk kebanggaan tanah air, seperti kecap bango dan kopiko brown (meski harganya bisa naik tiga kali lipat 😛 ).

IMG-20140807-WA0000

 

Vinnies

Vinnies adalah salah satu tempat saya berburu aneka barang seken. Toko kecil ini menjadi semacam my guilty pleasure, soalnya suka nggak kerasa uang receh sisa belanja di white lotus langsung pindah tangan ke toko sebelah (Vinnies) demi ditukar sebuah panci kukus, novel, buku anak, hingga topi dan baju. He he… segala ada deh di sini.

 

Kensington dan Rainbow Playground

Playground terdekat rumah yang sekali waktu didatangi Radi. Biasanya sekaligus playdate sama teman dan ibu-ibu yang lain. Memasuki winter agak jarang main ke playground, habis rada males juga sih naik ayunan sambil digempur angin dingin membekukan :P. Tapi selalu menyenangkan menemaninya bermain di kedua playground ini. Selain bermain ayunan dan perosotan, kita akan bermain tiup balon, sambil ngemil pappa roti (yang rasanya percis roti boy) dan bercengkerama dengan para mommy dan anak-anak lain.

 

Baby Kids Market (BKM)

Meski bazar barang anak ini biasa diselenggarakan di lokasi yang letaknya lumayan jauh dari Kingsford, tapi bener-bener nggak rugi deh didatangi. (Ya eyyalah, toh saban hari Minggu naik transportasi apa pun dan kemana pun cukup $2,5 sajah :P) Saya suka kalap setiap kali datang ke BKM ini. Barang-barang anak yang dijual buanyak macemnya dan lucu-lucu. Meskipun kebanyakan barang seken, tapi kondisinya masih wokeh apalagi kalau kita pandai-pandai milih (malah banyak pula yang masih tersegel). Nggak heran biasanya duit yang dibelanjakan setiap ke BKM jebol dari dana yang semula dianggarkan. Hihihi…

Oh, seandainya BKM ini bisa hadir secara onlen di tanah air. Eh, nggak papa juga deng, nanti tabungan Mama habis cuma karena laper mata lihat macam-macam mainan. 😛

 

Radi looking at the bustiling crowd at BKM Sutherland

Radi looking at the bustiling crowd at BKM Sutherland

 

People always say that home is where your heart is. Well, my heart has always been with my family. I guess thats why “merantau”—although it enriches my lifehas never been able to suit my lifestyle perfectly. I cant wait to reunite with them all. See you in Bandung.

Radi…  Mommy’s coming home…

Adaptasi

Sudah tiga bulan saya dan anak hijrah ke Sydney. Selama tinggal di sini, alhamdulillah saya kerasan. Meski, sedihnya, kita jauh dari sanak saudara dan kalau mau berkomunikasi via skype sering kali butut koneksinya, tapi di tanah Sydney ini masih banyak saudara setanah air sesama perantau yang bisa menemani hari-hari. Dan mungkin karena Sydney adalah tanah asing yang berdekatan dengan Indonesia, saya tidak menemui kesulitan mendapatkan barang-barang produk Indonesia langganan, kayak kopi susu kopiko (yang tak pernah absen saya seruput tiap pagi, meski harganya naik dua kali lipat) atau bumbu-bumbu masak Indonesia. Nyari makanan halal pun gampang. Sama sekali tak ada kesulitan berarti yang saya temukan selama pindah sementara ke sini. Proses adaptasi kami terbilang mudah. Apalagi kami tiba pas summer. Jadi cuacanya tidak begitu berbeda jauh dengan kondisi cuaca yang biasa dihadapi di tanah air. Meski anginnya sering kali dahsyat dan matahari baru terbenam pukul delapan malam (serasa aneh aja makan malam saat suasana luar masih terang benderang heuheu).

Selama proses adaptasi yang terbilang mulus, ada pula hal-hal berbeda dan suasana baru yang saya temui di Aussie. Di sini, tidak pernah lagi saya lihat nanny-nanny berseragam yang banyak lalu-lalang di mal-mal tanah air—satu tangan menggandeng anak majikan sementara tangan satunya lagi menenteng belanjaan. Orangtua di sini pada umumnya tidak menggunakan jasa pengasuh anak. Kalau pun menyewa jasa pembantu itu pun waktunya terbatas (upah nanny sekitar 20 dollaran per jam). Saya sering kali melihat seorang ibu dengan satu tangan menggendong bayi merah sementara tangan sebelah menggandeng kakaknya, atau mendorong stroller super jumbo yang memuat dua sampai tiga anak, atau seorang ibu di kereta memboyong tiga anaknya sendiri (satu bayi, dua balita)..huft. Saya jadi malu sendiri yang terkadang masih suka ngerasa kerepotan saat mesti bepergian dengan Radi—yang super lincah ini—sendiri. Yah mungkin kondisi juga yang menuntut mereka demikian. Toh mereka didukung oleh fasilitas yang sudah dibuat nyaman oleh negara, seperti jalanan yang mulus untuk menggunakan stroller, angkutan umum yang menampung stroller, banyak playground dan kelas-kelas konseling parenting gratis. Anyway, spiritnya bolehlah dicontoh. Jadiii, saya nggak boleh melulu mengandalkan bantuan suami. *kecuali kalau jalan-jalan keluar kota lah ya, aye takut nyasar*

Kemandirian ini juga tampak pada warga sepuh dan kaum dengan disabilitas. Awalnya saya suka nggak tega sendiri melihat kakek-nenek renta jalan kemana-mana seorang diri, dengan langkah terseok dan pandangan mata buram. Sering saya membatin, kemana sih sanak keluarga mereka, kok nggak ada yang ngurus kok nggak ada yang menemani. Tapi memang begitulah kultur mereka. Anak-anak mereka mungkin sudah sibuk dengan urusan dan tanggungan keluarga mereka sendiri. Mungkin sebagian memilih menempatkan orangtua mereka di nursing home tempat mereka bisa bersosialisasi dengan kawan-kawan seumur untuk menemani hari-hari tua mereka. Ya, hidup memang pilihan. Bagaimana pun semangat kemandirian dan tak ingin merepoti orang lain itu layak diajungi dua jempol *plus dua jempol kaki deh saking salutnya*

Dan saya akui, saya keburu prejudice mengecap masyarakat Barat cenderung individualis dan cuek terhadap sesama. Nyatanya, mereka cukup ramah dan senang menolong. Setiap kali saya membawa stroller sendiri dan bertemu dengan undakan selalu saja ada tangan yang terulur. Mereka cepat tanggap menolong. Saya rasa itu sudah menjadi common courtesy yang memang sudah semestinya. Sesama tetangga mereka masih sering bertegur sapa, bahkan terhadap orang asing yang sekadar berpapasan. Awalnya saya suka salting sendiri begitu disapa orang asing saat tengah berselisih jalan “Hello” “Good day”, atau saat disapa kasir “Hello. How was your day?” (Euu..gimana jawabnya yah. *mikir dulu*) Setelah ngapalin common courtesy and pleasantries di sini, saya pun mulai sok pede aja kadang nyapa duluan atau minimal tebar senyum hehe.

Di Sydney, demi menghemat ongkos transportasi umum yang lumayan mahal, saya sering kali jalan kaki kemana-mana. Toh fasilitas pejalan kakinya sudah dibuat nyaman. Jadi kadang nggak kerasa tau-tau saya sudah menempuh 3 km aja, meski kalau nanjak lumayan kerasa sih pegelnya. Apalagi kalau nanjak sambil dorong stroller yang memuat Radi yang montok plus belanjaan mingguan plus lagi aneka mainan yang dipinjam dari perpus *ngos ngos*. Nggak heran berat badan saya pun turun 2 kiloan selama berada di sini. Kayaknya bukan karena stress ini mah, tapi karena di sini saya dituntut banyak gerak. Lumayanlah buat saya yang suka males olahraga. Kalau dulu muter-muter PVJ aja suka kliyengan, mudah-mudahan nanti begitu pulang ke tanah air saya sudah punya stamina yang lebih wokeh.

Hal baru yang tidak pernah saya lakukan selama di tanah air adalah mulung buangan orang. Istilahnya dumping. Ya, di sini kadang dumpingan (buangan) orang pabalatak di sisi jalan. Dari furnitur, perkakas masak, sampai mainan anak kadang ada. Dari yang udah butut sampai yang masih baguuus. Apalagi kalau kita mau menyisir dumpingan di kawasan elit *niat benerr*. Sampai seringkali saya dinasihati nggak usah khawatir bila nanti mau nyewa unit flat tak berperabot, tinggal mulung sana-sini selain bisa nunggu perabot lungsuran dari orang-orang yang back for good ke tanah air. Baru sekali sih saya ambil barang dumpingan, dan itu adalah rak barang (storage rack). Kenapa mesti gengsi… toh kita hanya memanfaatkan barang yang masih memiliki daya guna, sekalian membantu orang yang butuh mengeluarkan barang daripada berserakan di pinggir jalan. Tak lupa raknya dicuci bersih dulu sebelum digunakan. Lumayan buat nyimpen barang-barang printilan Radi.


Well, itulah sekelumit pengalaman baru saya di perantauan yang mana udah lamua mengendap di arsip laptop dan lupa diposting hihi…

 

Mukjizat Kehidupan Kedua

Ya, mukjizat rasanya kata yang pantas untuk menggambarkan syukur tak terkira karena masih diberi nikmat amanah usia dan jasad hingga saat ini.

Jelang tengah malam hari Kamis 19 Juni 2014 saya memutuskan berangkat ke UGD Prince of Wales Hospital karena rasa sesak di dada dan kliyengan yang makin sering. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan (tes EKG, chest x-ray, USG jantung, dan terakhir angiogram), tim dokter memutuskan perlunya diambil tindakan bedah bypass jantung karena tiga arteri utama jantung saya tersumbat.

Saya ingat sekali kata-kata sang dokter usai melalui pemeriksaan angiogram yang terasa begituuu lama untuk mencari tahu letak sumbatan di jantung. “Menurut hasil pemeriksaan, dua arteri utama Anda sudah tertutup sementara arteri jalan belakang pun mulai menyempit. Saat ini yang mesti kami lakukan adalah mengambil tindakan penyelamatan nyawa dengan segera melakukan operasi bypass jantung darurat. Hope you’ll have a healthy long live ahead of you.”

Bersama dengan akhir ucapannya, tim dokter anestesi tiba di tempat dan mengambil alih. Saat ranjang didorong menuju ruang operasi, mereka memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan pesan kepada suami, dan pesan yang terpikirkan saya saat itu hanya, “Jaga Radi. Jaga Radi. Jaga Radi, Pa.”

Entah jika diri ini masih diberi kesempatan untuk turut membesarkan putra kami atau tidak, yang jelas saya ingin Radi dijaga dengan sebaik-baiknya. Memang masih sangat berat rasanya jika harus meninggalkan putra kecil saya yang kemarin baru genap 2 tahun. Apalagi pas berangkat ke UGD tadi masih terekam jelas di benak Radi nangis-nangis nggak mau ditinggal mamanya. Itu yang terus memberatkan batin ini. Tapi saya berusaha pasrah dan ikhlas atas segala ketetapan Tuhan.

Sekarang telah berlalu dua minggu usai operasi jantung saya. Berat juga rasanya menjalani masa pemulihan 4 hari di ruang ICCU, masa perawatan selama 7 hari, belum lagi serangkaian tes yang serasa tak ada habisnya saat berada di tanah rantau, jauh dari keluarga dan kerabat. Jujur, rasanya saya tidak akan sanggup menjalani hari-hari di Prince of Wales Hospital sendiri tanpa pertolongan dari Allah. Bayangkan, baru sorenya saya mengeluhkan (alias mengira) rematik pada tangan kanan saya ke dokter di klinik kampus. Tanpa menyangka hanya selang beberapa jam kemudian saya akan menjalani operasi jantung darurat yang sekaligus merupakan operasi pertama saya.

Kini Radi sudah dibawa pulang ke tanah air lebih dulu oleh mama mertua karena saya masih kesulitan ngasuh Radi sendiri dengan kondisi fisik yang terbatas sementara suami sibuk kuliah. Dengan begitu, saya bisa fokus untuk pemulihan dan harapannya, Agustus saya sudah bisa pulang kampung. Amiiin YRA.

at Prince of Wales Hospital

12 hari di Rumah Sakit Prince of Wales

Hopping with Baby Kangaroo (Fun Day Sunday #6)

Akhirnyaaa, kesampaian juga moto-moto dan ngelus anak kangguru—dua bulan jelang kepulangan ke tanah air :P. Sebelumnya sih, kami berkeinginan mengunjungi Taronga Zoo—kebun binatang terbesar di Australia. Tapi setelah melalui banyak pertimbangan dan mendengar cerita-cerita dari pengalaman orang, kami akhirnya memutuskan untuk berbelok arah dan pergi ke Featherdale Wildlife Park. Selain harga tiket masuknya lebih murah, kami berpikiran ya kalau ingin lihat jerapah atau gajah sih di kebun binatang Indonesia juga banyaaak, dan saya rasa nggak akan kalah bagusnya. Yang kami inginkan, kan, bisa berinteraksi lebih dekat dengan satwa-satwa khas Australia.
Nah, Featherdale ini semacam tempat penangkaran berbagai macam hewan khas Australia tapi dalam skala kecil dan hewan-hewan yang ditampungnya pun yang ukurannya mini-mini—khususnya baby kangaroo. Jadi, anak-anak kangguru dibiarkan bebas berkeliaran, pengunjung boleh mengambil foto dan memberi makan, dan tentu saja, mengelusnya. Radi seneng bisa ngelus dan ngasih makan anak kangguru. Malah saat ada satu anak kangguru melompat-lompat balik ke kandang, Radi ikutan masuk ke kandangnya.*tepok jidat*


Kenapa hanya ada anak kangguru dan tidak ada emaknya? Itu karena konon katanya kangguru dewasa termasuk hewan galak dan tidak aman bila dibiarkan berada dalam radius dekat dengan pengunjung. Jadi di Taronga Zoo, mau lihat kangguru juga cuma bisa dadah-dadah aja dari kejauhan.
Puas bermain dengan kangguru, tapi lain halnya dengan saudara sesukunya si koala. Cuma sempat ambil poto sekali dan itu pun kepotong *potografernya gimane nih, papa radi?* Koalanya juga nggak mengembara keluar-masuk kandang kayak para kangguru. Sok jual mahal. Cuma duduk nongkrong di pohon eukalyptus *ya eyyalah*.

koala

maap yah pa or bu koala, kepalanya gak ikut kepoto 😛

Karena kebun binatangnya nggak begitu besar, dalam dua jam kami sudah puas menjelajah. Dan pengin balik pulang, rasanya kok masih siang. Jadi kami pun meneruskan perjalanan naik kereta menuju Blackheath Blue Mountain. Niatnya sih, ingin mencari suasana musim gugur dengan pohon-pohon keemasan itu sebelum keburu masuk musim dingin dan daun-daunnya rontok semua.
Perjalanan kereta menuju Blue Mountainnya jauh lebih lama dari waktu yang dihabiskan di tempat tujuan. Tiga setengah jam total di perjalanan, sementara di lokasi cuma menghabiskan sekitar 20 menit. Cuma moto-moto suasana sedikit soalnya langsung ngejar jadwal kereta pulang yang muncul saban sejam sekali. Jangan lupa, musim gugur begini jam 5 kurang udah gelap aja. Hihi… tapi lumayan puaslah melihat pepohonan emasnya meski kebanyakan sudah pada rontok. Dan minimal sudah pernah menginjakkan kaki ke Blue Mountain yang konon terkenal itu. 😛

at Blackheath Train Station

the autumn tree

Luna Park (Fun Day Sunday #5)

Sudah lama tidak meliput agenda Sunday Funday saban Minggu. Belakangan emang lagi jarang pelesir sih hihi. Si suami sedang sibuk berkutat dengan tugas-tugas kuliah, sementara si saya kejar tayang suntingan. Nah… berhubung sekarang sudah bebas tugas dan tak lama lagi akan meninggalkan Sydney, pengin dijabanin lagi si Sunday Funday dan dituliskan di blog bila mana sempat. 😛
Well, edisi pelesir hari Minggu 4 Mei lalu, kami sekeluarga memilih destinasi Luna Park di Darling Harbour. Kami memilih paket hemat saja, $16 cuma dapet naik carousel dan ferris wheel. For me, its a bit overpriced... Tapiii, dari kemarin udah kepingin banget ke wahana bermain. Gara-gara nonton salah satu dvd the Wiggles yang menampilkan cuplikan Dorothy mampir ke Luna Park..:P
Dan Luna Park ini ternyata nggak seluas dan serame Dufan (beneran lho, bukan karena saya terlalu cinta tanah air wkwkk). Tempatnya lebih seperti pasar malam biasa. Naik carouselnya nggak berasa, bentar amiiit. Tau-tau musiknya udah selesai ajah… dan penumpang “diusir” turun dengan manis :P. Naik ferris wheelnya lumayan. Ngantri nggak pakai lama, tapi di dalam wahananya serasa hampir setengah jam. Dan puas bisa sambil liat pemandangan Darling Harbour dari ketinggian. Naik ferris wheel ini juga jadi spot yang bagus buat moto-moto suasana sekitar hehe.
Overall, tamasya ke Luna Park jadi hiburan yang lumayan buat keluarga, terutama bagi si bocah yang kesenengan ngejar-ngejar burung camar di sudut dermaga. Apalagi perjalanan pulang-perginya jadi pengalaman pertama saya dan Radi naik feri. Bolak-balik Darling Harbour. So fun…
Di bawah ini foto-fotonya:

Family pic at Luna Park taken with 10 sec timer tripod (Radi udah ngebet banget mau lanjut ngejar burung 😛 ).

poto keluarga di Luna Park

Smile!

Baby and Kids Market (Fun Day Sunday #4)

Setelah sekian lama nunggu-nunggu pengin main ke Baby & Kids Market (BKM), akhirnya kesampaian juga hari Minggu kemarin. Udah lama penasaran BKM ini kayak apa, soalnya banyak yang bilang kalau nyari barang-barang murah buat anak mending ke sana. BKM ini diadakan setiap hari Minggu dengan lokasi gonta-ganti kota tiap pekannya. Event BKM yang kita datangi adalah saat di Sutherland, arah selatan Sydney. Dari Kingsford menuju Sutherland, kami mesti naik bus 20 menitan ke stasiun kereta. Kemudian naik kereta menuju Sutherland selama 45 menit.

Radi ga bisa duduk manis di dalam kereta :P

Radi ga bisa duduk manis di dalam kereta 😛

Di lokasi BKM, orang-orang buka lapak dari pukul 9-12 siang. Kami tiba di lokasi pukul 10 lewat, dan langsuuung kayak orang kalap. Bingung mau pilih yang mana. Meski kebanyakan yang dijual barang-barang bekas, tapi kondisinya masih lumayan bangeeet. Malah banyak yang nampak masih baru. Akhirnya kami pulang dengan memborong barang-barang elmo (pilihan Radi)—topi elmo, buku-buku elmo, tirai elmo, tas elmo..hehehe. Plus, akhirnya beli stroller merk mclaren seharga $130 (yang baru harganya $400an di toko) masih dalam kondisi bagus karena cuma sempat dipakai sebentar sama ibu penjualnya. Niat awal kami ke BKM memang sebetulnya buat nyari stroller second karena stroller Radi yang ada sekarang kurang mantap dan kursinya nggak bisa disandarkan jadi kasian kalau Radi bobo di jalan (yang mana itu sering terjadi). Di Aussie stroller itu memang penting banget karena kemana-mana kami hampir selalu jalan kaki. Jadi nggak apa lah beli stroller yang rada mahal tapi berkualitas… demi anak. Mudah-mudahan awet, minimal selama di Aussie nggak perlu gonta-ganti stroller lagi. Sukur-sukur sampai bisa dibawa pulang ke Indonesia buat calon adeknya ntar 😛

Sutherland ini kotanya kecil namun apik. Sejauh pandangan mata dari stasiun kereta menuju stadion basket lokasi BKM sih tampak begitu. Dan kalau dilihat dari google map, lokasi BKM itu bersebelahan dengan hutan yang luas. Meski penasaran pengin jalan-jalan menyusuri kota Sutherland lebih jauh, tapi dengan berat hati kami mesti langsung pulang karena bawaan seabrek. Kami pulang sambil ngedorong dua stroller (stroller yang sebelumnya dibawa dan stroller yang baru dibeli) plus ngangkut belanjaan borongan Radi. *apa nanti kita sekalian buka lapak aja di Indo yah, nak? 😛 *

pamer borongan serba elmo :)

pamer borongan serba elmo 🙂

Kalau mau tahu lebih banyak tentang Baby & Kids Market (BKM) ini, bisa ditengok di sini: http://www.babykidsmarket.com.au

An Oasis Called the Library

Aktivitas rutin nan mengasyikkan kami selama di Sydney adalah mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan favorit yang sering kami datangi adalah Margaret Martin Library dan Bowen Library. Martin Library bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 20 menitan dari rumah *cihuy*.

Selain buku, di perpustakaan sini juga tersedia berbagai mainan anak. Makanya Radi betah 😛 Mainan boleh dipinjam kalau kita bikin kartu peminjaman khusus mainan dengan biaya $40 selama setahun. Kartu mainan ini memberi kita hak untuk meminjam mainan sampai 5 item selama 2 minggu yang boleh diperpanjang sampai dua kali. Juga kesempatan untuk mengikuti workshop yang diadakan perpustakaan.

Papa Radi paling seneng pinjam dvd di perpustakaan. Kalau saya paling seneng minjam mainan; puzzle dan boardgamenya.. hihi..padahal pakai kartu mainan Radi. Saya juga sering pinjam buku-buku parenting. Lumayan buat bekal membesarkan anak 😛  Isi buku yang saya pinjam bakal saya catat di blog, kalau ada yang menurut saya patut dicatat. Mumpung di luar negeri dan dapat akses banyak dari  perpus, sayang kalau tidak dimanfaatkan, buat menambah ilmu dan berbagi dengan yang lain.

Sekali seminggu saya juga mendaftarkan Radi ikut kelas batita “Baby Love Books”. Gratis! Selama setengah jam, Radi menyanyi, menari, dan mendengarkan cerita anak dan nursery rhyme bersama anak-anak lainnya. Radi girang abis selama sesi kelas itu berlangsung. Nanti kalau udah genap 2 tahun, Radi bakal naik kelas ke “Bop 2 Books”—program buat anak usia 2 tahunan.

Saya suka mikir, kapan yaa di Indonesia ada fasilitas seperti ini buat anak-anak. Tapi memang capek juga kalau kita terus saja membanding-bandingkan situasi dan fasilitas yang ada di negara maju dengan negara kita. Mestinya, ini malah semakin memicu saya—yang alhamdulillah diberi kesempatan menikmati fasilitas dari negara lain—untuk bisa membawa perubahan saat kelak kembali ke tanah air.

Siapa tahu, kelak saya bisa mewujudkan mimpi saya untuk mendirikan semacam rumah bacaan anak. Di tengah gencarnya teknologi digital menggempur anak-anak kita, saya ingin sekali melihat anak-anak bisa tetap dekat dengan dunia buku. Karena buku adalah jendela dunia yang mampu membuka wawasan dan mendorong mereka untuk berani bercita-cita. Siapa tahu, nanti di “rumah” itu kita bisa bikin kelas-kelas gratis yang mampu menunjang kreativitas mereka seperti yang diikuti Radi saat ini. Siapa tahu…

 

Edisi Trial (Fun Day Sunday #1)

Fun Day Sunday adalah program pemerintah negara bagian New South Wales demi mendukung agenda jalan-jalan keluarga di hari Minggu. Khusus setiap Minggu bagi keluarga dengan anak, tarif transportasi hanya dikenakan $2,5 per orang dewasa untuk seluruh transportasi di satu hari itu. Cihuuuy… jadilah kami sekeluarga mengagendakan puas-puas pelesir hingga ke pelosok New South Wales setiap hari Minggunya. Judulnya, pelesir hemat. Lima dolar saja—saya dan suami—bisa menikmati transportasi bus, kereta, trem, dan feri bolak-balik seharian penuh. *yeyy*

Agenda Fun Day Sunday pertama ingin kami habiskan dengan wisata ke Central Sydney terlebih dulu. Tapi baru berangkat naik bus dari halte Kingsford, tiket Funday Sunday kami sudah tertelan mesin. Hangus deh, nggak bisa dipake lagi…:(  Ya sudahlah. Cuma 2,5 dollar ini yang melayang. *gaya*

Begitu sampai di pusat kota Sydney, suami langsung beli dua tiket Sunday Funday lagi di kios pinggir jalan. Tapi katanya, tiketnya dipakai buat jalan-jalan minggu depan aja soalnya sayang, kita sudah sampai di lokasi dan kita toh membatalkan naik feri mengingat angin hari itu yang bertiup sangat kencang plus Radi masih rada pilek. Yo wis.

Sampai di Central Sydney kitaaa...

Sampai di Central Sydney kitaaa…

Begitu sampai, langsung cari tempat ngadem. Si bocah nagih brunch.

pose kemayu :P

pose kemayu 😛

Tujuan pertama kami ke Queen Victoria Building (QVB). Bekas kantor pemerintahan jaman baheula yang kini diubah jadi shoping mal . Malnya isinya butik-butik mahal dan bermerek. Nggak minat lah shoping di sini. Kita hanya mengagumi arsitektur gedung lamanya aja. Plus merasakan naik lift model jadul, serasa balik ke abad 19-an.

pose depan nenek buyut Ratu Elizabeth

Beginilah tampilan di dalam QVBnya.

papa girang ketemu lift era kompeni.

papa girang ketemu lift era kompeni.

Habis dari QVB, kita singgah sebentar ke Abbey Bookshop di dekat sana. Saya penasaran belum mampir ke toko buku selama di Australia. Ternyata harga bukunya relatif mahal buat saya, dan pilihan judul bukunya pun tak banyak.*sigh*

Hayuklah... mari kita lanjutkan perjalanan! Kemana-mana kita jalan kaki dong. Pelesir hemat, dan sehat! :)

Hayuklah… mari kita lanjutkan perjalanan! Kemana-mana kita jalan kaki dong. Pelesir hemat, dan sehat! 🙂

Dari sana, kita nyeberang ke Darling Harbor. Anginnya kuenceng banget waktu kita melintasi jembatannya. Radi langsung diselimuti selain tadi udah dijaket karena takut masuk angin, meski  bayi-bayi bule di sana pada pede make kaos kutang dan celana pendek.*da Radi kan sebelumnya anak tropis*

Tempat wisata ini ramai banget dengan orang, terutama turis. Apalagi saat di Tumbalong Park. Taman dengan wahana bermain air buat anak. Kita duduk di taman itu buat makan siang sambil melihat bocah-bocah cilik bermain air. Bingung juga lihat balita yang bisa main air dengan kolor aja. Memang sih, sekarang musim panas, tapi cuaca waktu itu lagi dingin plus banyak angin… brrr… Untung Radi nggak nagih ikut main air. Dia anteng makan kentang goreng McD dan nasi nori plus ikan sambil nonton anak-anak main air dan burung-burung camar yang berseliweran di sekitarnya.

Sebelum pulang, mampir dulu ke Paddys Market soalnya saya penasaran. Ternyata Paddys Market itu serupa dengan Pasar Baru. Lokasinya di dalam Chinese Town. Yang ngejual juga kebanyakan barang-barang buatan Cina—mainan, tas-tas KW, barang-barang suvenir.  Katanya ada juga yang jual buku-buku dan buah-buahan dengan harga dibanting, tapi kita nggak sempat nemu tuh. Sumpek lalu-lalang orang bikin nggak betah berlama-lama di sana, apalagi sambil ngedorong stroller. Paling berencana singgah ke Paddys Market lagi pas butuh cari souvenir aja nanti-nanti jelang kepulangan.

Paddys Marketnya di dalam China Town ini. Ga usah dipoto lah dalamnya, da ga jauh-jauh sama pasar kebanyakan. Berjubelan orang2.

Paddys Marketnya di dalam China Town ini. Ga usah dipoto lah dalamnya, da ga jauh-jauh sama pasar kebanyakan. Berjubelan orang-orang.

Oleh-oleh Fun Day Sunday ini adalah *hatsyiii* pilek. Ternyata badan saya masih badan tropis. Belum kuat jalan-jalan menahan deru angin kencang seharian. Mudah-mudahan Radi nggak tertular, nanti jadwal vaksinasinya terpaksa mundur lagi. 😛

Sebetulnya ini Fun Day Sunday yang gagal. Kan nggak jadi kepake tiketnya. Yah kita sebut saja “trial” Fun Day Sunday pertama kita. Daaan, nantikan agenda Fun Day Sunday kami berikutnya. Hm..kemana yah agenda minggu depan?… Mari kita renungkan dan berdoa bersama, agar saya sudah kembali sehat dan bisa pelesir lagi minggu depan *nenggak sanaflu*.

Bye-Bye Bandung, Hello Sydney!

Tanggal 12 Desember 2013, resmi kami meninggalkan Bandung untuk sementara waktu. Berangkat naik pesawat Garuda yang terbang pukul 23.00 malam. Harapan kami, jam segitu Radi udah bobo pulas. Nyatanya, di bandara si bocah masih ceria ajah. Bersemangat naik-turun tangga terminal keberangkatan terus-menerus *yang nemenin yang encok* Excited kali dengan tempat yang asing.

Untunglah, selama penerbangan kami tidak menemukan kesulitan yang berarti. Meski si bocah pas pesawat mendarat ogah dipangku. Dan malamnya sempat rewel, nangis-nangis bentar. Mungkin kesel karena tempat tidur yang disediakan buat bayi udah gak muat buat Radi (maksimal 9 kg). Jadilah Radi bobo dipangku. Pas dia mau bergaya akrobat saat bobo—sebagaimana biasanya—jadi kebangun-bangun dan rewel karena tidak ada ruang buatnya “berekspresi”. 😛

Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Bandara Kingsford Sydney pukul. 9.30 pagi waktu setempat.

Mungkin karena sudah dekat holiday season, antrean bea cukai di bandara cukup panjang. Kami yang menenteng banyak bawaan plus ngejar-ngejar Radi karena strolernya belum dijemput dari pesawat cukup ngos-ngosan dibuatnya. Pas strolernya udah bisa diambil, Radi jadi lumayan “jinak” dan kami pun bisa bernafas lebih lega dikit. Asal strolernya mesti gerak terus, kalau diam di tempat bentar pasti si bocah protes. Sewaktu di konter pemeriksaan makanan pabean (dengan abon yang diragukan kelolosannya karena nggak berlabel), saya sempat ditegur keras petugas tuanya yang mengira saya mau kabur karena strolernya digerak-gerakkin maju-mundur. *yah, mungkin memang begitu protokolernya. But chill out a bit, sir. Mana mungkin juga saya lari sambil ngedorong stroller seberat ini* Untung abonnya lolos, dengan pesan jangan bawa lagi makanan homemade macam begitu. Padahal kalau nggak lolos juga nggak apa-apa sih. Banyak yang jual di Sydney juga:P

Akhirnyaaa…kami beres dari segala urusan keimigrasian yang ribet itu pukul 12.00 siang. Matahari sudah bersinar terik. Kami dijemput Ko David (landlord kami) dengan mobilnya. Radi yang duduk di carseat tidur pulas sepanjang perjalanan *capek nih ye*.

akhirnya, sampailah kita di bandara Kingsford Sydney

akhirnya, sampailah kita di bandara Kingsford Sydney

Seminggu di Randwick

Judulnya seminggu di Randwick bukan di negeri kangguru karena saya memang baru “beredar” di seputar komplek rumah seminggu pertama ini. Di sekitar distrik Randwick aja. Belum mampir ke Opera House yang termahsyur itu, belum pula liat bayi koala atau kangguru. Yah…take your time. We will be here till mid 2015. Dan Opera House kayaknya nggak akan kemana-mana.

Tiga hari berada di sini, saya masih agak overwhelmed. Segalanya serba tertata dan sistematis. Contoh, saat membayar di supermarket dan kita mesti bayar sendiri pakai mesin layaknya atm. Naik bus sudah ada rute pasti, nggak bisa minta naik-turun di halte sesuka hati (ya eyyalah mang kudunya begituh :P). Tentang penggunaan tiket bus pepaid dan angkutan umum lainnya. Tentang tata aturan yang berlaku di sini, seperti berdiri di eskalator mesti di sisi kiri kalau nggak buru-buru, stroller di bus mesti ditaruh menghadap belakang bus dengan ibu duduk menghadap bayinya. Dan aturan-aturan lain sebagainyah.

Tapi seminggu menjelajahi kota, saya sudah lumayan kerasan. Saya sudah berani pergi dengan Radi sendiri minimal sampai bundaran kota (sekitar dua blok dari rumah :D). Dan saya rasa, saya bisa dengan mudahnya jatuh hati dengan kota ini. Sudah kebayang sendiri betapa akan serunya membesarkan Radi di sini. Gimana nggak, kata orang-orang, di sini anak kecil dianggap sebagai warga negara kelas satu. Fasilitas anak tersedia di mana-mana. Taman bermain, kelas bermain gratis, stroller bisa masuk bus, fasilitas kesehatan, pilihan produk makanan sehat buat anak, and I can go on and on…

Terlepas dari keluhan orang tentang betapa bebasnya masyarakat di sini, tapi saya lihat itu lebih hanya ke busana dan cara berpenampilan mereka. Mereka tidak malu menunjukkan jati diri mereka sebenarnya. Mau bergaya bencong abis-abisan, mau bertelanjang dada ke supermarket, sah sah saja di sini. But, the common courtesy here is really admirable alias patut diacungi jempol. Kalah jauuuhlah Indonesia. Disiplin mengantre, membantu ibu-ibu bawa naik dan turun stroller dari bus, selalu mengucapkan “maaf” dan “terima kasih”, menjaga kebersihan, mendahulukan orang sepuh dan anak kecil terutama di kendaraan umum… Nggak heran, banyak yang bilang “Kalau mau nyari di mana prinsip-prinsip Islam dijalankan, jangan nyari ke negeri Islam. Cari ke negeri-negeri maju di Barat.” (meski miris dengernya, tapi memang ucapan itu ada benarnya kalau menurut saya)

Well, semoga saja Radi juga betah (kayak mamanya) untuk menjalani hari-harinya di Sydney sampai 1,5 tahun mendatang. Naga-naganya sih, anak saya yang memang nggak betah di dalam rumah ini bakalan senang. Keinginan besarnya untuk menjelajahi dunia akan lebih tersalurkan, pastinya. It’s gonna be a fun adventure, son. Bismillah…

sydney26

This Big Year’s Theme

Every year has a big theme. Yep. Biasanya, setiap tahun selalu ada tema besarnya. Meski kadang baru kelihatan di pertengahan tahun, atau bahkan di akhir tahunnya.. hehe

Kalau dilihat dari dua tahun ke belakang aja, kira-kira beginilah temanya:

2011 bertema Rumah Sakit

Tema yang nggak bagus sih :(. Tapi memang tidak disengaja dan memang begitulah kenyataannya. Keluarga kita dekat banget dengan rumah sakit di tahun ini. Ibu mertua dua kali menjalani operasi. Pertama, operasi tangan di RS. Advent. Nggak lama kemudian, operasi tulang punggung (dipasang pen) di RS. Hasan Sadikin. Lalu, nenek suami menjalani operasi katarak di RS Cicendo. Tentu sebagai seorang anak yang berbakti (hatsyii!), kita ikutan bolak-balik ke rumah sakit. Membawa barang yang diperlukan, memberi sedikit bantuan atau pun hiburan, dan semacamnyalah. Saya bahkan sering mengajukan diri (sendiri tanpa perlu persetujuan) sebagai suster sang nenek suami tersayang yang perlu bantuan penanganan rutin usai operasi matanya (memberikan tetes mata di jam-jam tertentu, membetulkan perban mata,etc). Halah…lihat darah aja nggak kuat berlagak jadi suster 😀

Dan di bulan Oktober, saya pun merasakan pengalaman bermalam di rumah sakit untuk pertama kalinya dalam hidup. Gara-garanya, saat janin 7 minggu, saya mengalami pendarahan. Karena khawatir, takut pengalaman keguguran yang sebelumnya terjadi lagi pada kehamilan ini, saya dan suami memutuskan agar saya dirawat sementara di RS Hermina sampai pendarahan terhenti dan janin dinilai kuat. Alhamdulillah, Allah menyelamatkan janin saya ini. Dua hari dirawat saya pun pulang.

2012 bertema Awal Baru

Tema tahun ini jelas dijuduli Awal Baru karena adanya kelahiran seorang manusia baru. Lahirnya sang buah hati tercinta, Amir Rahadi Naufan pada 28 Mei 2012. Bersamaan dengan itu, lahirlah pula seorang ibu baru. Dan juga ayah baru. Ini sebuah peran baru yang benar-benar berat bagi kami. Tapi semoga kami berdua bisa menjadi orangtua yang amanah. Kami akan bertumbuh dan belajar terus, Nak. Hosh!

Dan pada bulan September 2012, akhirnya kami memberanikan diri pindah ke rumah baru kami di Cihanjuang. Our new home sweet home. Kami pindah saat Radi sudah hampir 4 bulan. Jadi saya udah lumayan pede buat mengurus sendiri tanpa bantuan ART dan orangtua. Awalnya memang beuraaat. Segala mesti dilakoni sendiri. Tapi seru. Saya dan suami jadi belajar berbagi beban. Awal baru bagi sebuah keluarga baru.

Begitulah tema besar dua tahun sebelumnya.

Dan, untuk tahun 2013 ini, temanya sudah didapat, Saudara-Saudara. Yaitu…jreng jreng jreeeng *tiup terompet*

…Merantau…

Yep, 2013 adalah tahun bagi kami untuk memulai perantauan. Sejak awal menikah, suami memang sudah getol mengincar beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya. Dan Alhamdulillah, rejekinya didapat dari Pemerintah Australia lewat program Australia Awardsnya. So menurut rencana, suami akan berangkat ke Sydney bulan Juni 2013 ini. Untuk melanjutkan studi S-2 program Water Resource di UNSW.

So, sebagian besar agenda tahun 2013 ini akan berkaitan dengan rencana perjalanan studi suami. Mulai dari kesibukan ngurus ini-itu terkait paspor dan visa sekeluarga, medical checkup saya dan Radi, belanja keperluan di sana (khususnya baju-baju dingin), pelatihan suami selama 1,5 bulan di Jakarta untuk persiapan keberangkatan, sampai nanti pada akhirnya berangkat beneran, beradaptasi dan menetap hingga 2 tahun ke depan. Doakan keluarga kecil kami di perantauan nanti ya (lho?..).

Sebuah nasihat yang selalu saya ingat adalah, “Seorang muslim harus menjadi rahmat di bumi mana pun dipijaknya.” Semoga merantaunya kami ke tanah asing ini (seumur-umur belum pernah ke luar negeri ih) bisa membawa kebaikan bukan hanya bagi kami sendiri, tapi juga bisa memberi cipratan kebaikan bagi orang-orang sekitar (minimal maskapai penerbangan :P). Amiiin.