Welcome, Radi!

27 Mei 2012

Tepat saat usia kandungan menginjak hari ke-40, Minggu pagi saya mulai ngerasa mules-mules. Mulesnya kayak kram haid biasa (baru nantinya tau kalau itu tuh yang namanya kontraksi..he..maklum belum pernah ngalamin). Siang harinya, mulai keluar banyak lendir dengan sedikit warna cokelat pudar. Oke. Dari menurut berbagai sumber yang dibaca, itu adalah mucus plug (sumbatan ketuban). Artinya, si bayi sudah bersiap mau keluar nih. Akhirnyaaa si dedek mau keluar juga. On time sekali kau, Nak. Setelah begitu lama ditunggu-tunggu.

Sebetulnya, pengin ke rumah sakitnya besok hari Seninnya, karena dokter saya (dokter Indri) lagi keluar kota dan baru balik besok. Tapi karena menjelang sore lendir makin banyak dan mulai bercampur dengan air rembesan ketuban, saya dan suami memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit Minggu sorenya. Daripada malamnya nggak bisa tidur. Tegang ngebayangin gimana kalau si dedek pengin launchingnya tengah malam. 😀

bumil ainka

berpose sebelum berangkat ke RS

Dalam hati riang, merasa akhirnya tibalah saat yang dinanti-nanti. Nggak lama lagi kita akan berjumpa dengan Radi. Sudah tidak sabar ingin melihat wajahnya. Bercampur tegang juga, pastinya. Nanti kita berjuang bersama-sama, ya Nak. Bismillahirahmanirahiim…

Sekitar pukul 17.00 Minggu kita masuk ruang observasi. Diperiksa suster sudah masuk bukaan 2 dan ketuban sudah merembes. Jadi saya sudah nggak diperbolehkan jalan-jalan. Kudu bedrest. Pipis juga mesti di ranjang.:(  Dan karena ketuban sudah pecah, saya mendapat infusan antibiotik. Ini khususnya supaya si bayi tercegah dari infeksi.

Mendengar kabar saya yang sudah masuk rumah sakit, ibu saya langsung datang. Ikut menginap bareng suami (Love u, Mom. Ibu saya memang selalu rajin mengikuti perkembangan calon cucunya. Selalu ikut waktu jadwal USG dan dari jauh-jauh hari udah menekankan mau ikut menemani pas saya melahirkan).

28 Mei 2012

Karena tengah malamnya mules-mules saya malah makin reda bukan bertambah, maka nggak heran pas diperiksa lagi besok paginya bukaan masih 2 aja, Sodara-Sodara. Halaah…alamat bakal beneran diinduksi ini mah.

Mama mertua mampir pagi harinya sebelum ke kantor. Memberi dorongan moriil sekaligus mendoakan agar saya bisa melahirkan secara normal dan lancar. Amiin. Nuhun, Niniiin.

Sayangnya, karena bukaan berjalan lambat sementara ketuban sudah bocor, saya pun diinduksi siangnya. Berdasar instruksi dari dokter Indri yang sampai siang itu masih berada di Jakarta.

Sempat makin tegang juga. Soalnya sudah sering banget mendengar cerita-cerita temen betapa sakitnya diinduksi. Suami berusaha menenangkan melihat saya yang begitu tegang. Sambil memijit-mijit kaki saya, dia terus berdoa.

Berjam-jam efek induksi belum terasa. Sempat berpikir, ternyata induksi segini aja (weys). Jangan-jangan saya perlu dosis dobel dari orang-orang kebanyakan.

Benarlah. Menurut pemeriksaan sekitar jam 2 siang, bukaan baru mau masuk 3. Lama benerr…

Tapi setelah diperiksa terakhir itu, saya mulai mendapat serangan mules hebat dan sering. Malah seperti tanpa jeda, dari satu kontraksi ke kontraksi berikut. Tadinya suster baru mau meriksa bukaan lagi jam 5 sore sesuai jadwal. Tapi karena ibu saya seperti nggak tega melihat saya yang mulai kesakitan menahan nyeri terus-menerus, dia langsung panggil suster. Minta agar saya kembali diperiksa.

Si suster sempat komplain. Katanya pemeriksaan bukaan mesti sesuai jadwal. Nggak bisa sedikit-sedikit mules minta diperiksa.

Tapi suster tetap memeriksa, karena didesak ibu saya. Dan ternyata… saya sudah masuk bukaan 4. Dan sesuai aturan, kalau udah bukaan 4, pasien mesti dipindahkan ke ruang bersalin dari ruang observasi.

Saat dipindahkan dari antara dua ruang itu, saya merasa hantaman kontraksi makin dahsyat. Rasanya kayak diare parah, sakit punggung dan kejang rahim hebat (mungkin bayinya lagi turun, karena sebelumnya memang posisi si bayi masih di atas banget). Dahsyat benerr dah!…

Masuk ruang bersalin, saat diperiksa lagi saya sudah masuk bukaan 7.

Dalam hati bersyukur, bukaan langsung besar dalam waktu cepat. Mungkin efek induksi baru bekerja.

Waktu diperiksa sekitar sepuluh menit kemudian, dan sudah bukaan 8, terasa dorongan kuat untuk mengejan. Dan susah banget ditahannya karena nyeri kontraksi yang seolah tanpa jeda dan tenaga yang ada juga sisa-sisa setelah semalaman nggak bisa tidur.

Pas ada dorongan hebat dari kontraksi, saya merasa mengompol dan sempat meminta maaf pada suster. Tapi kata suster, itu air ketuban. Ketuban sudah banyak mengalir keluar.

Behubung dokter saya sedang tidak di tempat, datanglah dokter pengganti. Dokter Yogi.  Akhirnyaaa…

Mungkin melihat saya yang sudah kepayahan menahan dorongan kontraksi, saya merasa dokter menyuntik lalu menggunting sedikit jalan keluar bayi. Kemudian memperbolehkan saya untuk mulai mengejan.

Menerima aba-aba dari dokter, semua pun langsung bersiap. Pasang posisi. Suster-suster memberi semangat. Ibu saya mengambil posisi di sisi kiri saya sambil menahan paha. Sementara suami mengambil posisi di belakang saya, duduk bersila sambil memangku kepala saya. Menyuruh saya untuk terus membuka mata dan menutup mulut saat mengejan.

Proses mengejannya agak lama karena tenaga saya yang sudah banyak terkuras. Orang-orang bilang kepala bayi saya sudah terlihat. Malah pak dokter berseru, “Wah, keriting rambutnya tuh.” Saya makin nggak sabar. Tapi tetap aja…Rasanya sudah sepuluh kali mengejan, si bayi belum jua muncul.

Dokter sampai sudah mulai menyiapkan alat vakum.

Tapi Alhamdulillah sebelum sempat dipakai, tangisan nyaring pun terdengar.

Allahu Akbar. Maha Besar Allah.

Amir Rahadi Naufan terlahir di dunia hari Senin pukul 16.19 sore. Dengan berat 2,7 kg dan panjang 49,5 cm.

foto perdana radi

Hari Pertama Jadi Orangtua

Momen sangat indah bin mengharukan usai persalinan itu, adalah ketika Radi dibawa dan dibaringkan di sisi kanan saya. Waktu proses IMD itu, tubuh saya sudah lemes banget. Tapi bahagianya tak terkira saat merasakan bibir mungilnya mulai mencecap ASI saya. Begitu damaiii… Maha Suci Allah.. Perjuangan sepanjang proses kehamilan dan melahirkan ini rasanya tak ada apa-apanya dibanding nikmat karunia bisa memeluk si kecil Radi.

Tapi malam harinya, saat kami sudah masuk kamar dan seluruh keluarga sudah pulang—hanya ada saya dan suami—Radi dibawa kembali oleh suster untuk disusui dan Radi tidak mau. Malah sebagai orangtua baru, kami sempat diceramahi oleh sang suster yang menilai cara kami menggendong nggak bener. Masih takut-takut. Apalagi cara saya memangku dan menyusuinya. Si suster ketahuan belum ngalamin yang namanya baru abis melahirkan normal. Mencari posisi duduk aja susah dengan bekas jahitan yang masih segar, seluruh otot badan masih kejang dan lemes. Ya butuh waktu, sampai eike mahir menyusui. Give me time… Saya kan juga ibu baru. Plis, deh… 😀 Ternyata yang kudu belajar menyusu bukan bayinya aja. Ibunya juga.

Malam itu, tubuh saya menggigil hebat. Suami sempat panik. Jadi mengebel suster. Untung yang datang, suster yang lain bukan yang itu *lap keringet*. Kata suster, itu reaksi tubuh yang normal usai melahirkan. Tubuh saya letih (dengan proses persalinan 24 jam) dan baru saja kehilangan banyak darah. Setelah dibungkus jaket suami yang super tebel, akhirnya tubuh saya berhenti menggigil…malah kegerahan.

Saya mungkin hanya tertidur sejam malam itu. Lalu sekitar jam 2 dini hari kami dihubungi dari kamar bayi. Katanya, Radi nangis-nangis minta disusui. Karena sebelumnya kami sudah berpesan ingin memberi ASI eksklusif, maka sayalah yang dipanggil ke sana untuk menyusuinya.

Rasanya sungguh momen yang memorable saat saya dan suami berjalan bergandengan tangan menyusuri lorong-lorong rumah sakit pada dini hari untuk menemui putra kecil kita. Saya dengan baju daster hehe..

Sayangnya, begitu tiba di sana, lagi-lagi Radi malah tidur dan nggak mau minum. Setelah beberapa kali mencoba membangunkan, dan gagal, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Dan akan kembali menjenguknya dua jam kemudian.

Sempat cemas juga. Kok Radi bobo terus, gak mau minum-minum. Jangan-jangan tidur terusnya karena lemes gak makan-makan. Tapi dari (lagi-lagi) sumber yang saya baca—jadi ibu memang harus banyak bekal ilmunya ternyata—bayi yang baru dilahirkan masih menyimpan cadangan makanan dari dalam perut ibunya dulu, dan ia bisa bertahan hingga tiga hari tanpa asupan ASI setelah lahir. Makanya saya masih tenang dan nggak buru-buru mengambil keputusan untuk langsung memberinya susu formula.

Well, itulah hari pertama saya dan suami menjadi orangtua for many many days to come. Masih banyaak yang mesti kami pelajari. Sebuah amanah baru kini diberikan pada kami. Untuk mendidik dan membesarkan Amir Rahadi Naufan menjadi manusia yang sholeh. Manusia yang mengabdi pada sang Pencipta dan bisa membawa manfaat bagi orang banyak.

Ada harapan tersendiri yang kami sematkan pada pemilihan nama anak kami ini. Amir artinya pemimpin dari bahasa Arab. Rahadi, dari Sansekerta, artinya pelita atau yang menerangi. Naufan dari nama bapaknya, yang artinya tinggi. Jadi harapan kami sebagai ortunya, kelak ia bisa menjadi pemimpin yang mampu menerangi sekitar. Minimal dengan ilmunya kelak. Amiiin ya Rabbal alamiiin…

Panggilan anak kami ini Radi. Yang dari suatu sumber, Radi dalam tradisi Islam, artinya yang ridho, puas, senang (happy). Sementara dalam bahasa Jawa, Radi artinya berkah Tuhan. A gift from God.

Kami merasa Radi memang benar-benar sebuah berkah Tuhan yang luar biasa. Sekaligus sebuah amanah yang beuraaat. Ya, tugas baru kami sebagai orangtua ini memang nggak enteng, dan proses belajarnya pasti seumur hidup. I just hope, semoga kami bisa menjadi orangtua terbaik bagi Radi kami tersayang.

But for now, welcome to the world baby!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s