Belajar Jadi Ahli Syukur

Pemikiran random di tengah sebuah percakapan random yang bisa terjadi di mana saja:

 

Skenario 1: Seorang istri mengeluhkan kepada suaminya karena keinginannya untuk menambah anak tampak pupus setelah dirinya divonis menderita suatu penyakit.

Sang suami berujar, “Kita mesti bersyukur. Coba lihat, ada pasangan A yang mendambakan satu anak kandung saja tapi tak kunjung diberi.”

 

Skenario 2: Seorang istri mengeluhkan uang belanja rumah tangganya yang pas-pasan dan kondisi suami yang tak kunjung naik pesangon.

Sang suami berkoar, “Lihat si anu, sepupumu itu. Anaknya banyak, utangnya banyak … Penghidupan kita masih lebih mending. Bersyukurlah kita, beib.”

 

Skenario 3: Seorang ibu yang mengkhawatirkan perkembangan kecerdasan anaknya yang dinilai lambat dari anak-anak sebaya tengah curhat pada seorang teman ngegosip  arisannya.

Si temen berkeok, “Jeung, mestinya kamu banyak-banyak bersyukur. Lihat tuh, si ibu tetangga sebelah, anaknya cacat mental. Sampai sekarang usia SD belum juga bisa ngomong.  Sementara anakmu kan udah lincah, sehat, lucu … cuma sayang ya, belum bisa baca.”

 

 

Sepintas, tidak ada yang salah dari percakapan-percakapan random sehari-hari ini. Intinya berpesan agar kita bersyukur dengan mengamati orang yang bernasib lebih malang dari diri kita. Lalu, adakah yang salah dari hal ini?

Hmm… tidak juga. Itu memang bisa jadi salah satu metode bersyukur, dan sah-sah saja.

Terkadang, manusia memang butuh sesuatu yang konkrit. Sesuatu yang akan menguatkan rasa kebersyukurannya. Dan “sesuatu yang konkrit” itu adalah  kasus-kasus “kemalangan” yang bisa dilihat, didengar, dan diraba di sekitar dirinya. Namun ini bisa dibilang cara bersyukur ala anak TK. Metode tingkat rendah. Sama seperti ketika kita menjelaskan konsep “pahala” atau mengajarkan konsep berhitung kepada mereka. Karena belum sanggup mencerna konsep-konsep abstrak, segala sesuatunya mesti dibuat sekonkrit mungkin. Begitu tabungan pemahaman mereka akan yang konkrit ini sudah cukup banyak, baru mereka bisa mulai beralih pada hal yang abstrak.

***

“Syukur adalah bahagia. Bahagia adalah syukur. Dengan kita bersyukur, kita akan temukan kebahagiaan.”

Bagian ruwet lainnya dari metode bersyukur tahap mendasar ini, adalah bahwa kasus-kasus konkrit itu merupakan faktor eksternal yang berada di luar diri kita. Ia tak dapat kita kendalikan atau kita manipulasi sesuka hati. Apakah kita lantas mesti melihat orang lebih menderita dulu, baru kita bisa merasa lebih bahagia? Atau sebaliknya, kadar kebahagiaan kita berkurang saat mereka ketiban untung. Mungkin fenomena inilah yang mencetuskan ungkapan “Susah melihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah.” Karena fenomena itu mau tidak mau memainkan peran penting dalam takaran kebahagiaan diri kita sendiri. Naudzubillah…

Hayuklah, kita mulai belajar bersyukur cukup dari dalam diri. Kita mulai beralih dari bangku kelas syukur ala anak TK. Tengoklah hanya ke dalam diri. Sering-sering lakukan refleksi dan komunikasi dengan kalbu kita, bukan kalbu orang-orang lain. Mari kita senantiasa berusaha menerjemahkan keinginan sang Penggenggam kalbu itu dalam skenario hidup kita, dalam setiap langkah hidup kita.

Tak perlu lagi tengok kanan-kiri, tak usah risau bin usil dengan nasib-nasib orang sekitar kita. Semua ada takaran masing-masing. Setiap manusia hanya menempuh garis takdirnya. Ukirlah kisah hidup kita seindah mungkin. Ciptakan mahakarya yang kelak layak kita persembahkan kepada sang Maha Agung, Asy-Syakur,yang telah mengembuskan nafas syukur ke dalam fitrah kalbu segenap insannya. Amiiin.

 

#averylatepost

Second Pregnancy for First Child

Setelah menikah selama 5 bulan, akhir bulan April 2011 aku mengetahui kalo aku sudah berbadan dua. Senang banget karena kehamilan ini memang sudah sangat dinanti-nanti oleh diriku dan suami. Sayangnya, kehamilan ini mesti diakhiri pada 12 Juni 2011. Vonis dokter, janin tidak berkembang. Sebenarnya sempat syok juga sih, soalnya selama kehamilan rasanya lancar. Nggak ada keluhan apa-apa, nggak pernah flek, nyeri berlebih dan semacamnya. Tapi suatu hari aja pas jadwal pemeriksaan kandungan, lewat layar USG, dokter langsung bilang ada kemungkinan janin nggak bisa berkembang. Sedih banget, apalagi itu pas pengalaman pertama check-up bareng suami..hiks..(cek-up sebelumnya ditemani ibu pas janin 6 minggu). Setelah perkiraan dokter itu, kita masih diberi waktu dua minggu untuk melihat masih ada kemungkinan berkembang atau nggak. Ternyata 2 minggu berikut, hasilnya sama saja, malah kata dokter sudah nggak ada denyut jantungnya. Jadi dengan terpaksalah, aku dikasih obat untuk mengeluarkan janin itu (yang pada tahap itu masih disebut embrio).

Meski cukup berat, tapi kami berusaha ikhlaskan aja..Mungkin memang belum waktunya. Masih ada yang mesti kita pelajari lagi sebelum menerima amanah berat itu. Alhamdulillah, kalau sudah mengikhlaskan, rasanya tenang. Memang semua semata milik Allah dan aku mesti bersyukur diberi kesempatan untuk naik tingkat lewat ujiannya dan menggugurkan dosa-dosaku…

Usai mengistirahatkan rahim selama 3 bulan sesuai saran dokter, tak kusangka ternyata Allah langsung mengisinya lagi. Bulan September 2011 usai Ramadhan, test pack menunjukkan dua garis merah. Inikah jawaban bagi doa-doa kami?

hasil test pack September 2011

hasil test pack September 2011

Tapi kehamilan kedua ini jelas berbeda dari yang pertama. Tak ada sorakan gembira dan gembar-gembor ke khalayak. Kami masih H2C. Senang bercampur cemas. Terutama aku. Mungkinkah kejadian sebelumnya akan berulang kembali?

Awal-awal kehamilan aku banyak gelisah (mungkin pengaruh hormon juga yang lagi jumpalitan). Lama-lama sih udah tenang. Toh mau berpikir positif atau negatif, sama saja outcomenya. Semua sudah ketetapan Tuhan. So, ya mending think positif aja dan be happy..’N its best for the baby that way..:)

Hanya saja, kehamilan sekarang dengan yang pertama terasa banget bedanya. Gejala mualnya lebih sering muncul, juga rasa kembung perutnya (terutama mulai minggu ke-5). Fatiguenya juga lebih-lebih, nyaris 24/7 (all day long). Jam 19.30 malam udah nguap-nguap tak tertahankan (padahal udah pakai bobok siang loh). Setiap malam sering kebangun entah karena perlu pipis atau perut melilit ampun-ampunan (makanya kudu nyiapin stoples cemilan di samping tempat tidur).

Entah sugesti atau bukan, pada hamil kedua ini, suami suka ikut-ikutan mual..hehe.. ‘N puncaknya, pernah suatu ketika waktu perjalanan dinas ke Sukabumi, dia terpaksa diturunkan dari mobil di tengah jalan karena nggak kuat nahan mual dan muntah. Diturunkannya di antah berantah pula di tengah-tengah sawah. Jadi untuk pulang ke Bandung, dengan terpaksa dia nunggu jemputan usai rekan sekantor beres memantau proyek irigasi sore harinya. Poor, my hubby… Kata keluarga suami, itu mual-mual karena bawaan istri hamil karena Akang nggak ada riwayat mabok darat..hihi.. Aneh-aneh wae..

Dan, pada hamil kedua ini, aku menjadi sangat-sangat terobsesi memandangi diri sendiri di depan cermin untuk memantau perkembangan perut. Sambil membatin, si dedek berkembang nggak ya?… Alhamdulillah, pada bulan ke-5, akhirnya aku nampak pula bak wanita hamil. Sebelumnya sih, hanya nampak buncit karena kebanyakan ngemil..hihi

Well, that’s a little story of my second blessed pregnancy for baby numero uno. Insya Allah. Amin.