Catatan Perkembangan Bicara Radi (part 2)

Saat Radi menginjak usia 2 tahun 8 bulan, kami membawa Radi ke biro psikologi Swaparinama, masih terkait kemampuan bicara Radi. Sejak distimulasi lebih intensif, kami lihat kemajuan bicara Radi masih seperti jalan di tempat. Ada sih perkembangannya, tapi masih seperti merayap pelan. Biar orangtuanya lebih tenang dan karena ingin berkonsultasi dengan pakar secara langsung dan mencari tahu stimulasi yang lebih tepat sasaran bagi putra kami, jadilah kami putuskan untuk membawa Radi diperiksa oleh psikolog anak dan terapis wicara di sana.

Untuk konsul dengan psikolog, sebelumnya kami buat janji via telepon. Proses observasi dilakukan beberapa kali. Pertemuan pertama baru wawancara kedua orangtua. Dilanjutkan dengan observasi anak oleh psikolog anak pada hari lain, kemudian observasi anak dengan terapis wicara pada kesempatan lain lagi. Total ada tiga kali kesempatan pertemuan untuk observasi, dan sekali jadwal pertemuan untuk konsultasi hasil observasi. Sekali sesi pertemuan dengan psikolog dikenakan tarif 125rb, dengan terapis wicara 100rb.

asyik main jungkat-jungkit di biro psikologi Swaparinama

asyik main jungkat-jungkit di biro psikologi Swaparinama

Dari hasil observasi, bu psikolog menyampaikan banyak masukan baru. Untuk terapi wicara, beliau menilai belum diperlukan untuk Radi karena usianya yang masih fase perkembangan bicara (2 tahunan). Nanti dilihat lagi aja kemajuannya sampai setahun berikutnya, kira-kira saat Radi 3,5 tahun. Mudah-mudahan Radi udah bicara casciscus yah saat itu..amiiin. Karena kecerdasannya tampak tidak ada masalah, sebetulnya masih bisa-bisa saja kalau Radi mau diperkenalkan dengan bilingual di rumah. Tapi harus imbang, kalau mau fokus bahasa Indonesia, perbanyak tontonan bahasa Indonesia juga (Selama ini Radi memang lebih sering mengonsumsi tontonan berbahsa english). Perkenalkan dengan lagu-lagu bahasa Indonesia, banyak-banyak mendongeng, dan menarasikan segala yang kita lakukan. (Itu sebetulnya bukan tips-tips yang baru dan sudah mulai diterapkan dari lama.)

             Beliau juga memaparkan anak yang mengalami speech delay ini bisa disebabkan beberapa faktor: Pertama, faktor dalam diri atau genetik (ada riwayat dalam keluarga). Dengan kata lain, bisa jadi memang anaknya malas bicara udah dari sononya. Untuk ini, orangtua mesti sering mengondisikan anak agar BUTUH bicara. Jangan sering-sering menerjemahkan keinginan anak lewat bahasa kalbu atau menjawab mewakili anak bila anak ditanya. Misal, ketika anak meminta sesuatu dengan hanya menggunakan bahasa isyarat, minta dia mengucapkan permintaannya itu. Bimbing dengan jelas dan sabar, tapi jangan dipaksa pula sampai anaknya merasa frustrasi. (Penting untuk selalu melihat mood anak). Faktor kedua, bisa dari lingkungan. Misal, anak kurang sosialisasi atau lingkungan sekitar anak yang menggunakan banyak bahasa sehingga anak mengalami yang namanya “bingung bahasa”. Radi dibesarkan dalam lingkungan tiga bahasa (bahasa Indonesia, Inggris, dan Sunda). Faktor ini bisa jadi yang menambah lambatnya perkembangan bicara Radi. Saya akui, kedua faktor ini ada lengkap di diri Radi. Riwayat keluarga, kurangnya sosialisasi dengan teman sebaya, dan bingung bahasa.

               Bila bicara dengan Radi saya dan suami sudah kompak untuk fokus menggunakan bahasa Indonesia saja, tapi saya jelas takkan melarang keluarga besarnya (Aki,Ninin dan kerabat lainnya) berinteraksi dengan Radi menggunakan bahasa Sunda. Saya pikir tak apalah, Radi memang anak produk kaya budaya. Toh pelan-pelan dia akan menangkap sendiri. (Untung saya nggak menambah dengan bahasa Ceko atau Palu..weleh makin mabok deh Radi :D). Jadilah sekarang bicara Radi campur aduk. Kadang keluar bahasa Sunda, kalau minta dicebok bilang “Beh-beh alias ombeh”, kalau mandi “Bak-bak alias Ibak”. Berbagai warna dan angka dia sebut dengan bahasa Inggris. Selebihnya, bahasa ibu pertiwi alias endonesiah. Cara bicara Radi memang rada-rada absurd. Radi masih sering menyingkat-nyingkat kata, seperti “Ki” untuk panggilan “Aki”, “Pah” dan “Mau” mestinya Jerapah dan Harimau. Tapi untuk kata-kata tertentu bisa disebut lengkap, seperti “Toko bayi”. Entahlah, memang rada ganjil… hahaha… 😀

           Menurut psikolog lagi, perkembangan bicara Radi akan lebih cepat bila dia banyak berinteraksi dengan teman sebaya. Jadi alangkah baiknya kalau dia bisa diikutsertakan ke dalam kelompok bermain di lingkungan sekitar, bisa formal maupun informal. Boleh juga dicoba teknik pijat mulut untuk merangsang otot-otot bicara (Yang ini belum saya coba intensif, tapi video dan cara-caranya bisa diakses via google). Otot-otot bicara memang perlu dilatih agar luwes dan akhirnya anak bisa berartikulasi dengan jelas. Caranya ya dengan sering-sering mengulang kata. Jadi jangan bosen-bosen sebagai orangtua untuk mengulang-ulang kata atau kalimat, dan mendengarkan anak mengulang-ulang kata yang sama terus-menerus.

Radi 2 tahun 8 bulan

Radi 2 tahun 8 bulan

Daaan, selain soal perkembangan bicara, kami juga sempat bertanya masalah lain lagi (gak mo rugi, mumpung lagi sesi konsul dengan psikolog anak). Kami perhatikan Radi agak rewel dengan kebersihan (kotor dikit, protes), dikasih lotion antinyamuk di kulit marah, sangat pemilih dengan pakaiannya (hanya mau memakai bahan yang lembut kayak katun atau baju bobonya dan selalu menolak dikasih celana jins), takut berendam di air, dan belakangan label baju selalu minta diguntingnya. Apakah itu “fase” yang akan hilang dengan sendirinya atau mesti kita beri penanganan tertentu? Menurut psikolog, hal itu cukup umum terjadi. Biasanya pada anak-anak yang kurang mendapat banyak stimulasi motorik-sensoriknya. Dan fase kerewelan ini belum tentu bisa hilang begitu saja. Banyak anak yang ditemuinya hingga usia sekolah yang mudah rewel hanya karena panas atau cuaca atau hal-hal lainnya yang kita pandang kecil tapi menjadi besar baginya. Untuk itu, kita sebagai orangtua perlu membantu anak. Bagaimana cara membantunya? Dengan memberikan banyak-banyak pengalaman sensorik-motorik baginya. Di usianya yang baru 2 tahun, memang belum banyak pengalaman hidup yang dimilikinya. Nah, kita perkaya pengalaman sang anak. Kita ajak dia keluar setiap harinya, meski hanya ke warung sebelah atau melihat ayam tetangga. Jangan sungkan kita ajak main kotor-kotoran (tanah liat, lumpur, finger painting, face painting). Variasikan pengalaman sensoriknya. Misal, anak biasa mandi dengan diguyur gayung sesekali bisa menggunakan shower dengan tekanan rendah. Pijatan juga bisa menjadi pengalaman sensorik yang bagus (variasikan tekanan dan pijatannya).
Saya akui, mungkin sebagai perempuan saya lebih sering mengajak Radi beraktivitas di dalam rumah saja, seperti menyusun lego, puzzle, dan membuat prakarya sederhana. Lain kali, saya mesti lebih aktif mengajak dia keluar. Bermain bola, memanjat tangga, meniti balok, dan bereksplorasi (resiko LDR dengan papa Radi huhu…). Ini menjadi catatan penting bagi saya. Meski sibuk dengan deadline kerjaan, Radi tetap butuh porsi waktu dari kita sebagai orangtua. Dan pendidikannya tetaplah prioritas yang pertama. Dan catatan pula, kalau nanti mau memilih-milih kelompok bermain atau TK buat Radi, lihat yang porsi kurikulumnya lebih banyak memfokuskan pada pengembangan sensorik-motoriknya ketimbang duduk manis di kelas dan membuat prakarya yang kata psikolog lebih cocok untuk masa 5 tahunan ke atas nanti.
Sudah cukup panjang lebar saya bercerita tentang perkembangan Radi setelah sekian lama blog dianggurkan. Semoga ada manfaatnya, dan doakan Radi makin pintar ngoceh nggak lama lagi. Amiiin YRA.

Catatan Perkembangan Bicara Radi (part 1)

Masalah Radi mengalami telat bicara sudah pernah saya tuliskan di sini. Sekarang sebagai salah satu upaya memantau perkembangan bicaranya, saya akan menuliskan catatan secara rutin. Bismillah… Ini catatan pertama.

Pada usia 2 tahun lebih 2 bulan, saya perhatikan Radi baru bisa mengucapkan sekitar 5 kata (mama, papa, mo buat elmo, nek buat nininnya…). Sepulang dari Australia, setelah sempat terpisah sebulanan sama anak, saya pun fokus menggiatkan stimulasi untuk kemampuan bicara Radi ini.

Saya batasi penggunaan gadget sebisa mungkin. Untuk mengalihkan perhatiannya dari tablet oma dan nininnya, saya beli berbagai permainan alternatif semacam puzzle dan playdough. Apa pun asal bisa mendetoks dirinya dari gadget yang jadi terlalu digandrunginya selama absennya mama di sisinya. Sebisa mungkin saya temani dia saat bermain. Sesering mungkin saya ajak bicara, menarasikan apa pun yang sedang saya atau dia lakukan.

Untuk stimulasi bicaranya, saya banyak mencontek tips-tips dari sini (nuhun mbk Andiani atas sharingnya). Saya memang tidak segera membawa Radi untuk mengikuti terapi wicara karena masih ingin menstimulasinya sendiri dan melihat perkembangannya dulu. Ini juga atas masukan dari bibi suami yang praktisi PAUD. Katanya stimulasi bicara itu kuncinya pada orangtuanya bukan terapis karena kitalah yang akan menemani sang anak 24 jam dalam sehari. Sementara sesi terapi paling juga cuma sejam dalam sehari, dan orangtua akan diberi PR oleh terapis akan apa-apa saja yang mesti dilakukan dan dicatat di rumah untuk memantau perkembangan sang anak. Dan cara-cara terapi wicara ini juga bukankah sudah bisa diakses dari mana-mana (sebagian besar berkat jasa om gugel)? Jadi bismillah saja, untuk saat ini saya akan memegang sendiri tanggung jawab mengembangkan kemampuan bicara Radi. Bersama keluarga besar Radi tentunya, sebagai lingkungan hidup dan bermainnya sehari-hari. Meski begitu, saya tidak menutup kemungkinan untuk suatu saat membawanya ke terapis.

Lalu, apa saja cara yang saya lakukan untuk menstimulasinya, selain banyak-banyak bicara dan menemaninya bermain?

–          Story telling. Setiap hari saya upayakan untuk membacakannya cerita dari buku. Story telling ini dijamin akan mengasah kreativitas ortu juga karenaaa… Radi belum minat mengikuti alur cerita sebatas yang tertera dalam buku. Kita harus mengarang abis cerita, menunjukkan setiap ilustrasi dalam buku sambil menyebutkan nama-namanya. Dan lebih baik lagi bila disertai dengan properti tambahan, seperti boneka jari atau gambar karakter cerita yang ditempelkan ke bekas stik eskrim. Untuk menggugah minat anak 2 tahun buat duduk manis mendengar cerita memang butuh upaya besuar, tapi insyaAllah ini jadi bagian ikhtiar supaya si anak kelak dekat dan mencintai buku pula. Amiiin.

boneka jari

boneka jari

–          Flash card. Kartu berbagai macam gambar juga bisa menjadi sarana yang bagus untuk mengenalkan nama berbagai objek kepada anak. Tapi biasanya saya mesti lihat mood si anak dulu dan paling maksimal 15 menit saja saya gunakan flash card ini. Kalau moodnya lagi nggak bagus (rewel, ngantuk, atau playful alias jahil) paling-paling kartu-kartunya dihambur kemana-mana. Sementara kalau lagi semangat, dia suka-suka aja “diuji” mamanya. Misalnya saya menaruh 10 kartu berbagai objek, kemudian saya akan minta Radi untuk mengambil objek tertentu. Meski Radi hampir selalu benar saat menunjuk benda yang saya minta, tapi untuk menyebut namanya masih ogah-ogahan. Tunjuk mobil, dia bilang bbbrrrm. Kereta, bilangnya tutut. Tempat tidur, bilangnya bobo. 😀

–          Lagu-lagu. Mungkin bosan juga anaknya dengar mamanya ngoceh mulu. Nah, untuk variasi upaya memotivasinya lebih aktif berbicara, saya kenalkan dia dengan lagu-lagu. Kalau udah capek ngomong, saya nyanyi aja. Dulu sih Radi cuma kenal dengan lagu-lagu Barat versy nursery rhyme semacam “Itsy bitsy spider”, atau “Twinkle twinkle little star.” Sekarang saya tambahkan perbendarahaan lagu-lagu anak Indonesia, seperti “naik kereta api, “balonku”, dll.

Oh ya, sekarang saya juga fokus menggunakan satu bahasa saja, yakni bahasa Indonesia.

Sekarang Radi 2 tahun 3 bulan. Sebulan sejak upaya stimulasi yang lebih gencar ini, saya lihat Radi ada perkembangannya. Sekarang sudah bisa 20-an kata yang suka diulang, seperti susu, bobok, duduk, popok. Namun untuk sebagian besar kata, masih suka dipotong-potong (pi untuk topi, ki untuk kaki) dan masih lebih suka mengandalkan bahasa isyarat saja.

We will see how it goes.. doakan kami.. Radi yang semangaaat belajarnya!

Mummy loves you… :*