Telat Bicara

Radi, anak semata wayang dan kesayangan saya, cenderung telat bicara dari anak kebanyakan. Kenapa saya bilang telat bicara? Karena menurut panduan umum perkembangan anak, dalam hal kecakapan berbicara, anak usia 18 bulan mestinya minimal sudah mengucapkan 5-20 kata, sementara rentang 18-24 bulan sudah mulai menggabungkan dua kata, misal: “Mama susu”, “Papa pergi” (babycenter.com)

Sementara Radi yang bulan ini akan menginjak usia tepat 2 tahun, baru mahir berucap “mama,” “mam” untuk makan, “mo” untuk elmo dan sapi, “bu” untuk burung dan bigbird. Dan hingga sekarang, dia belum pernah menyebut bunyi namanya sendiri. Itu tidak jauh berbeda dari kecakapan yang sudah dikuasainya sejak umur setahun. Dengan kata lain, kecakapan verbal Radi seakan jalan di tempat. hiks

Tapi, selain dari aspek bicara itu, alhamdulillah perkembangan Radi sungguh  positif. Radi sudah lancar bermain puzzle mencocokkan bentuk, mendirikan menara. Dalam kecakapan emosi, Radi cukup mudah bersosialisasi, bisa diajak mengantre bila ingin memainkan sebuah barang yang sedang digunakan anak lain atau menunggu ayunan, bisa diajak berbagi (kadang-kadang), dan kalau mood isengnya lagi muncul, senang menjahili teman-temannya hihihi (gak tau yang ini ngikut dari siapa). Kalau nonton TV, bisa ketawa ngakak sampai mukanya merah dan berurai air mata, kalau lagi joget-joget ngikutin musik harus ada penonton yang menyaksikan. Udah bisa nyetel DVD sendiri, meski lebih baik dengan pengawasan orangtua :P. Jiwa eksplorasinya sangat tinggi; kalau lagi di tempat umum Radi ingin menjelajah ke seluruh pelosok dan sudut, nggak mau digandeng, nggak mau ditaruh di stroller, dan nggak peduli meski sudah jauh dari orangtuanya. Oh ya, Radi sekarang makin sering melancarkan aksi tantrum bila keinginannya tidak dipenuhi (yang seringkali adalah, keinginan menjelajahnya). Yap, tantrum ini saya sebut perkembangan positif karena ini memang tahap perkembangan emosi si anak menuju kemandirian, meski bukan perkembangan yang dinantikan para orangtua… terutama bila berada di tempat umum. *lap keringet*

Nah, selain dari perkembangan si anak yang superduper lincah bin jahil ini, satu hal yang hingga kini bikin saya rada cemas adalah kemampuan bicaranya itu. Entah karena selaku orangtua baru dan ini anak pertama, jadi saya hanya khawatir berlebihan, entah karena saya terlalu banyak membaca teori perkembangan anak, atau memang kekhawatiran saya sudah sesuai proporsinya. Saya tahu peta umum perkembangan anak itu jangan dijadikan bahan stres bagi orangtua. Itu toh hanya panduan umum. Bila ada tahapan perkembangan yang semestinya sudah dikuasai anak pada usia tertentu, mungkin pemberian stimulasi pada aspek yang tertinggal harus lebih digenjot lagi.

Saya pun sempat bertanya-tanya apa yang mungkin menyebabkan anak saya telat bicara. Kalau ditilik-tilik, memang ada banyak faktor yang mungkiiin bisa mencetusnya. Pertama, faktor keturunan/genetis. Kalau dari cerita para leluhur, eh oma, opanya Radi juga baru mulai ngomong usia 3 tahun. Sampai sudah panggil “orang pinter” segala (mungkin jaman sekarang ini sama dengan “speech therapist” :D). Faktor kedua, pengaruh lingkungan atau kurangnya stimulasi dari luar. Well, sebagai anak pertama dan satu-satunya di rumah dan dalam kondisi merantau saat ini, Radi sehari-hari memang praktis hanya berinteraksi dengan kedua orangtua. Ada sih teman-teman sebayanya di sini, tapi untuk bertemu dua kali seminggu aja itu sudah bagus dan durasinya pun terbatas, maksimal biasanya 4 jam. Sementara, kalau orangtuanya dua-duanya lagi sibuk, Papa dengan kuliah dan tugas-tugasnya, Mama dengan deadline editan, saya akui saya sering biarkan Radi nonton aja sendiri berjam-jam (dengan acara pavoritnya). Meski sering sembari multitasking, ketak-ketik tuts kompie sambil meladeninya.

Faktor ketiga, penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi. Menurut survei, anak yang dibesarkan di rumah dengan lebih dari satu bahasa cenderung lebih telat bicara daripada anak yang sehari-hari mendengar satu bahasa. Yah, Radi ini kan bisa dibilang terbiasa trilingual. Saya sendiri kalau bicara dengan Radi di rumah selalu dengan bahasa Indonesia, Papanya kalau bicara dengan Radi selalu dengan bahasa Sunda, sementara dari tontonan (karena saya tidak pernah kasih acara dubingan), bacaan dan aktivitas di playgroup Radi selalu mendengar bahasa inggris. Hm…pernah sih saya kepikiran kompakan sama papanya untuk fokus ke bahasa indonesia aja dulu, mengingat itu bahasa nasional dan bahasa ibunya. Tapi setelah mendengar saran dari praktisi pendidikan usia dini di sini, saya urungkan niat itu. Ternyata, mereka justru mendorong anak dibiasakan bilingual di rumah dan malah menyayangkan anak Indonesia yang fasih bahasa  inggris tapi  kehilangan bahasa ibu. Bagi mereka, dibesarkan dalam lingkungan bilingual justru merupakan keuntungan besar bagi si anak, terutama dalam jangka panjang kelak. Mereka mendasari pada fakta bahwa anak itu cepat nyerap, dan pada akhirnya mereka akan mengejar ketinggalan. In the long run it will be worth the efforts.

Saya sih tidak mau khawatir berlebihan. Dan kadang saya menghibur diri dengan mengingat orang macam Einstein, Thomas Edison dan Newton semua juga mengalami telat bicara semasa kecil menurut berbagai sumber (entah nyata entah tidak). Meski tidak berniat menyamakan anak saya dengan para jenius itu (oh, no), tapi minimal itu agak sedikit menghibur hati dan kembali membuka pemikiran bahwa aspek kecerdasan manusia itu sangat luas. Nggak bisa dilihat dari satu segi.

Dan saat ini, yang bisa saya lakukan selaku orangtua adalah memperbanyak stimulasi. Banyak-banyakin bicara dengan anak, menarasikan segala yang terjadi, apa yang dilihat, apa yang didengar. Kalau udah bingung mau ngoceh apa, menyanyi aja deh. Perbanyak interaksi one-on-one dengan anak. Setiap hari harus bacain cerita. Lebih sering ngajak Radi playdate dengan teman sebaya. Menggeser waktu kerja optimal ke waktu bobo siang Radi atau dini hari.

Meski kebanyakan orang biasa bertanya, “Radi udah bisa ngomong apa?”, saya nggak usah berkecil hati dan berlagak jadi ibu defensif. I know they all means well. Mungkin sama kayak mamanya, mereka juga sudah nggak sabar ingin mendengar Radi bicara.

Saya pun perlu belajar menata sikap. Belajar untuk tidak membandingkan perkembangan anak sendiri dengan anak-anak lain. Meski sudah tahu dari jaman dahulu kala bahwa tumbuh kembang anak itu beda-beda, tapi pada kenyataannya saya sering penasaran dengan perkembangan anak-anak lain yang sebaya dengan Radi. Saat di playgroup, saya terkadang bertanya kepada ibu lain (sambil membuka percakapan), “apakah anaknya sudah mulai bicara, n so on…” Padahal dipikir-pikir buat apa pula saya tahu. Kalau si ibu (yang anaknya sebaya dengan Radi) menanggapi “iya, anak saya sudah mahir bicara cas cis cus… sampai pusiing saya meladeninya”, ntar saya makin ciut. Sementara kalau dijawab belum, ntar saya malah membatin “yess, ada juga yang samaan. Ternyata bukan anak saya sendiri yang begitu.” So its all pointless. Semestinya, saya percayakan saja pada kemampuan anak sendiri. Kalau mau membandingkan, cukup dengan mengukur perkembangannya sendiri, kemampuan sekarang dengan hari-hari kemarin. Belakangan ini sih, Radi makin banyak ngoceh dari setahun sebelumnya, meski masih baceo tanpa arti. But I hope thats a good sign.

Ah, Radi, mama memang sudah tidak sabar ingin mendengarmu berbicara (dengan bahasa yang dimengerti tentunya).

Tapi yang terpenting, tumbuhlah menjadi anak yang baik hati, sehat dan senang selalu ya, Nak. Mommy will be with you in every steps of the way!… xoxo