Sembilan Bulan di Kingsford

Sembilan bulan waktu yang tak singkat. Ah, saya tentu akan sangat merindukan berjalan kaki di Sydney, khususnya seputaran Kingsford. Menikmati tempat-tempat ramah pejalan kaki dan stroller.

Tapi saya juga merasa bahwa, bila kau sudah merasa terlalu nyaman di suatu tempat, mungkin sudah tiba saatnya kau beranjak dari sana. Melepaskan diri dari zona nyaman. Stretch yourself. Challenge your limit. Dan ini tidak hanya berlaku untuk tempat saja. Tidak berarti kita kudu jadi perantau sepanjang hidup. Namun lebih ke kondisi. Bila kita sudah merasa terlalu asyik “duduk” di satu tempat, jangan-jangan kita malah jadi stagnan. Saatnya berdiri dan meneruskan perjalanan. Pelajari kebisaan baru.  Keterampilan baru. Menambah kawan. Menambah ilmu. Terus… selama kaki ini masih bisa melangkah…

Dan, kini tibalah saatnya saya beranjak pergi dari Kingsford…

Tapi sebelum itu, ingin sekali saya merekam tempat-tempat favorit selama persinggahan saya di Sydney ini. Oh, how I will surely miss these places. 😛

 

Randwick dan Bowen Library

Ini tempat tujuan langganan saya dan Radi. Biasanya sekali seminggu kita mampir ke perpus. Cukup naik bus sekali dan perjalanan hanya memakan waktu 10 menitan. Malah, saya dulu biasa jalan kaki sambil ngedorong stroller Radi (yah, sebelum keluhan jantung saya kambuh). Kami akan pinjam sejumlah buku dan mainan (kesukaan Radi puzzle kayu), atau menghadiri kelas “Baby Love Books” di perpus tempat Radi belajar menyanyi dan menari bersama anak-anak lain.

Jujur, sudah lama sekali saya tidak berinteraksi dengan perpustakaan. Padahal ingin sekali saya menularkan kecintaan saya dengan perpus—yang sempat menjadi semacam tempat sanctuary bagi saya kala usia sekolah—kepada anak saya. Pengalaman berinteraksi kembali dengan perpus selama di sini semakin memantapkan tekad saya untuk kelak membuat perpustakaan sendiri di tanah air. InsyaAllah bila ada rejeki akan dibuka bagi semua anak Indonesiah yang sudi mampir. Amiiin.

 

Kampus UNSW tercintah!

Wooo, memangnya kampus siapa inih? Meski tidak tercatat (secara resmi) sebagai salah satu mahasiswi di sini, saya lumayan sering lho wara-wiri ke sini. Selain buat mampir ke klinik dan bertemu GP langganan, bu Kathryn Medynski yang cerdas nan ramah, saya sering mampir ke Matthews Buildingnya. Tiada lain tiada bukan demi menjadi kelinci percobaan para mahasiswa psikologi yang sibuk mengerjakan riset akhir mereka. Biasanya menjadi kelinci ini dibayar minimal 15$ per jamnya. Lumayanlah ya… buat nambah-nambah ongkos pulang dan modal belanja buku dan mainan di BKM *sayang anak sayang anak* 😀

 

 

 

White Lotus

Ah, toko kelontong ini mampu memuaskan kerinduan saya pada segelintir produk kebanggaan tanah air, seperti kecap bango dan kopiko brown (meski harganya bisa naik tiga kali lipat 😛 ).

IMG-20140807-WA0000

 

Vinnies

Vinnies adalah salah satu tempat saya berburu aneka barang seken. Toko kecil ini menjadi semacam my guilty pleasure, soalnya suka nggak kerasa uang receh sisa belanja di white lotus langsung pindah tangan ke toko sebelah (Vinnies) demi ditukar sebuah panci kukus, novel, buku anak, hingga topi dan baju. He he… segala ada deh di sini.

 

Kensington dan Rainbow Playground

Playground terdekat rumah yang sekali waktu didatangi Radi. Biasanya sekaligus playdate sama teman dan ibu-ibu yang lain. Memasuki winter agak jarang main ke playground, habis rada males juga sih naik ayunan sambil digempur angin dingin membekukan :P. Tapi selalu menyenangkan menemaninya bermain di kedua playground ini. Selain bermain ayunan dan perosotan, kita akan bermain tiup balon, sambil ngemil pappa roti (yang rasanya percis roti boy) dan bercengkerama dengan para mommy dan anak-anak lain.

 

Baby Kids Market (BKM)

Meski bazar barang anak ini biasa diselenggarakan di lokasi yang letaknya lumayan jauh dari Kingsford, tapi bener-bener nggak rugi deh didatangi. (Ya eyyalah, toh saban hari Minggu naik transportasi apa pun dan kemana pun cukup $2,5 sajah :P) Saya suka kalap setiap kali datang ke BKM ini. Barang-barang anak yang dijual buanyak macemnya dan lucu-lucu. Meskipun kebanyakan barang seken, tapi kondisinya masih wokeh apalagi kalau kita pandai-pandai milih (malah banyak pula yang masih tersegel). Nggak heran biasanya duit yang dibelanjakan setiap ke BKM jebol dari dana yang semula dianggarkan. Hihihi…

Oh, seandainya BKM ini bisa hadir secara onlen di tanah air. Eh, nggak papa juga deng, nanti tabungan Mama habis cuma karena laper mata lihat macam-macam mainan. 😛

 

Radi looking at the bustiling crowd at BKM Sutherland

Radi looking at the bustiling crowd at BKM Sutherland

 

People always say that home is where your heart is. Well, my heart has always been with my family. I guess thats why “merantau”—although it enriches my lifehas never been able to suit my lifestyle perfectly. I cant wait to reunite with them all. See you in Bandung.

Radi…  Mommy’s coming home…

Bye-Bye Bandung, Hello Sydney!

Tanggal 12 Desember 2013, resmi kami meninggalkan Bandung untuk sementara waktu. Berangkat naik pesawat Garuda yang terbang pukul 23.00 malam. Harapan kami, jam segitu Radi udah bobo pulas. Nyatanya, di bandara si bocah masih ceria ajah. Bersemangat naik-turun tangga terminal keberangkatan terus-menerus *yang nemenin yang encok* Excited kali dengan tempat yang asing.

Untunglah, selama penerbangan kami tidak menemukan kesulitan yang berarti. Meski si bocah pas pesawat mendarat ogah dipangku. Dan malamnya sempat rewel, nangis-nangis bentar. Mungkin kesel karena tempat tidur yang disediakan buat bayi udah gak muat buat Radi (maksimal 9 kg). Jadilah Radi bobo dipangku. Pas dia mau bergaya akrobat saat bobo—sebagaimana biasanya—jadi kebangun-bangun dan rewel karena tidak ada ruang buatnya “berekspresi”. 😛

Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Bandara Kingsford Sydney pukul. 9.30 pagi waktu setempat.

Mungkin karena sudah dekat holiday season, antrean bea cukai di bandara cukup panjang. Kami yang menenteng banyak bawaan plus ngejar-ngejar Radi karena strolernya belum dijemput dari pesawat cukup ngos-ngosan dibuatnya. Pas strolernya udah bisa diambil, Radi jadi lumayan “jinak” dan kami pun bisa bernafas lebih lega dikit. Asal strolernya mesti gerak terus, kalau diam di tempat bentar pasti si bocah protes. Sewaktu di konter pemeriksaan makanan pabean (dengan abon yang diragukan kelolosannya karena nggak berlabel), saya sempat ditegur keras petugas tuanya yang mengira saya mau kabur karena strolernya digerak-gerakkin maju-mundur. *yah, mungkin memang begitu protokolernya. But chill out a bit, sir. Mana mungkin juga saya lari sambil ngedorong stroller seberat ini* Untung abonnya lolos, dengan pesan jangan bawa lagi makanan homemade macam begitu. Padahal kalau nggak lolos juga nggak apa-apa sih. Banyak yang jual di Sydney juga:P

Akhirnyaaa…kami beres dari segala urusan keimigrasian yang ribet itu pukul 12.00 siang. Matahari sudah bersinar terik. Kami dijemput Ko David (landlord kami) dengan mobilnya. Radi yang duduk di carseat tidur pulas sepanjang perjalanan *capek nih ye*.

akhirnya, sampailah kita di bandara Kingsford Sydney

akhirnya, sampailah kita di bandara Kingsford Sydney

Seminggu di Randwick

Judulnya seminggu di Randwick bukan di negeri kangguru karena saya memang baru “beredar” di seputar komplek rumah seminggu pertama ini. Di sekitar distrik Randwick aja. Belum mampir ke Opera House yang termahsyur itu, belum pula liat bayi koala atau kangguru. Yah…take your time. We will be here till mid 2015. Dan Opera House kayaknya nggak akan kemana-mana.

Tiga hari berada di sini, saya masih agak overwhelmed. Segalanya serba tertata dan sistematis. Contoh, saat membayar di supermarket dan kita mesti bayar sendiri pakai mesin layaknya atm. Naik bus sudah ada rute pasti, nggak bisa minta naik-turun di halte sesuka hati (ya eyyalah mang kudunya begituh :P). Tentang penggunaan tiket bus pepaid dan angkutan umum lainnya. Tentang tata aturan yang berlaku di sini, seperti berdiri di eskalator mesti di sisi kiri kalau nggak buru-buru, stroller di bus mesti ditaruh menghadap belakang bus dengan ibu duduk menghadap bayinya. Dan aturan-aturan lain sebagainyah.

Tapi seminggu menjelajahi kota, saya sudah lumayan kerasan. Saya sudah berani pergi dengan Radi sendiri minimal sampai bundaran kota (sekitar dua blok dari rumah :D). Dan saya rasa, saya bisa dengan mudahnya jatuh hati dengan kota ini. Sudah kebayang sendiri betapa akan serunya membesarkan Radi di sini. Gimana nggak, kata orang-orang, di sini anak kecil dianggap sebagai warga negara kelas satu. Fasilitas anak tersedia di mana-mana. Taman bermain, kelas bermain gratis, stroller bisa masuk bus, fasilitas kesehatan, pilihan produk makanan sehat buat anak, and I can go on and on…

Terlepas dari keluhan orang tentang betapa bebasnya masyarakat di sini, tapi saya lihat itu lebih hanya ke busana dan cara berpenampilan mereka. Mereka tidak malu menunjukkan jati diri mereka sebenarnya. Mau bergaya bencong abis-abisan, mau bertelanjang dada ke supermarket, sah sah saja di sini. But, the common courtesy here is really admirable alias patut diacungi jempol. Kalah jauuuhlah Indonesia. Disiplin mengantre, membantu ibu-ibu bawa naik dan turun stroller dari bus, selalu mengucapkan “maaf” dan “terima kasih”, menjaga kebersihan, mendahulukan orang sepuh dan anak kecil terutama di kendaraan umum… Nggak heran, banyak yang bilang “Kalau mau nyari di mana prinsip-prinsip Islam dijalankan, jangan nyari ke negeri Islam. Cari ke negeri-negeri maju di Barat.” (meski miris dengernya, tapi memang ucapan itu ada benarnya kalau menurut saya)

Well, semoga saja Radi juga betah (kayak mamanya) untuk menjalani hari-harinya di Sydney sampai 1,5 tahun mendatang. Naga-naganya sih, anak saya yang memang nggak betah di dalam rumah ini bakalan senang. Keinginan besarnya untuk menjelajahi dunia akan lebih tersalurkan, pastinya. It’s gonna be a fun adventure, son. Bismillah…

sydney26