Ketika Pandemi Terjadi…

Tidak terasa sudah hampir setahun wabah penyakit terjadi. Wabah Covid-19 dimulai di Cina sejak Desember 2019, tapi kami di Indonesia baru merasakan full-blown dampaknya di bulan Maret 2020. Ketika sekolah-sekolah mulai ditutup dan proses belajar mengajar dipindahkan ke rumah secara online. Sekarang sudah akhir September 2020, tapi di Indonesia pandemi masih saja merangkak menuju puncak kurva.

Siapa pernah menyangka… Pandemi terakhir terjadi di tahun 1919. Sekira 100 tahun kemudian, manusia kembali diterpa ujian serupa. Dan pandemi ini bisa saja berlangsung sampai 2 atau 3 tahun lagi bila vaksin yang efektif lambat ditemukan.

Semoga Allah melindungi kita semua dari ujian wabah ini. Dan semoga manusia bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. *amiin*

Rasanya tidak ada manusia yang siap menanggung masalah ini untuk jangka panjang. Menahan diri dari berkumpul dengan banyak orang, mengurangi interaksi, bahkan menjalani isolasi.

Namun manusia akan mencari cara dengan beradaptasi untuk survive.

Demi kesehatan mental, mau nggak mau kita memang mesti mencari cara untuk menghadapi situasi yang tak pernah disangka-sangka. Untuk tetap bisa bertumbuh di situasi yang terasa stagnan. Ketika kita merasa menjalani hidup dalam sebuah penantian panjang untuk bisa kembali ke kehidupan normal yang sebelumnya.

Berikut resep saya menjaga semangat dan kesehatan mental saya di tengah proses karantina panjang ini:

  •  Pertama dan utama, menguatkan frekuensi kita dengan Rabb (shalat mesti lebih khusyu, perbanyak infaq dan shodaqoh). Sekaranglah waktunya saling bantu.
  • Mencari kesenangan-kesenangan kecil di keseharian demi memecah rutinitas yang monoton. Menata-nata dekorasi rumah. Jalan kaki seputar komplek. Nyoba menu masakan baru.
  • Menekuni hobi lama, seperti bikin crossticth, membaca buku dengan tema macam-macam (bikin target baca lebih tinggi dari tahun sebelumnya), etc.
  • Mencari kesibukan baru untuk mengisi pikiran serta pertumbuhan diri (personal growth), seperti belajar bahasa asing, belajar berkebun secara hidroponik.
  • Some days just do something fun and indulging. Watch movie, nonton youtube, play video game, memesan activity boxes.
  • Memberi treat untuk diri sendiri. Saya suka memesan gofood alias jajan makanan minimal setiap akhir pekan sebagai pengalihan dari rutinitas memasak sekaligus reward bagi diri sendiri (“Hey, u did it! Kau berhasil melewati satu pekan lagi!”)
  • Tetap jalin koneksi. Silaturahmi onlen dengan keluarga dan teman-teman. Bertegur sapa dengan tetangga meski dengan masker dan menjaga jarak. Penting untuk merasa bahwa you are not alone in this.
  • Jangan lupa untuk tetap gerak tubuh dan mengonsumsi suplemen dan makanan bergizi.

Setiap berganti bulan, saya juga berusaha membuat target baik untuk diri pribadi maupun bagi anak saya. Misal bulan ini ingin bisa menulis 3 bab, sementara target Radi sudah bisa bersepeda roda dua. Membuat target ke depan mampu membangkitkan semangat kita.

Siapa menyangka, sudah setengah tahun lebih kami menjalani hidup dengan karantina. Berinteraksi seperlunya saja. Udah nggak pernah lagi saya pergi belanja ke supermarket. Segala-galanya serba online demi aman dan nyaman. Berjalan ke pos satpam komplek rumah pun selalu pakai masker.

Entah bagaimana situasinya ketika kami berhasil melewati situasi ini…

Will the world be as normal as before?

Bumi, cepatlah sembuh.

Setelahnya…

Kita mesti bertumbuh lebih hebat dari sebelumnya.