Adaptasi

Sudah tiga bulan saya dan anak hijrah ke Sydney. Selama tinggal di sini, alhamdulillah saya kerasan. Meski, sedihnya, kita jauh dari sanak saudara dan kalau mau berkomunikasi via skype sering kali butut koneksinya, tapi di tanah Sydney ini masih banyak saudara setanah air sesama perantau yang bisa menemani hari-hari. Dan mungkin karena Sydney adalah tanah asing yang berdekatan dengan Indonesia, saya tidak menemui kesulitan mendapatkan barang-barang produk Indonesia langganan, kayak kopi susu kopiko (yang tak pernah absen saya seruput tiap pagi, meski harganya naik dua kali lipat) atau bumbu-bumbu masak Indonesia. Nyari makanan halal pun gampang. Sama sekali tak ada kesulitan berarti yang saya temukan selama pindah sementara ke sini. Proses adaptasi kami terbilang mudah. Apalagi kami tiba pas summer. Jadi cuacanya tidak begitu berbeda jauh dengan kondisi cuaca yang biasa dihadapi di tanah air. Meski anginnya sering kali dahsyat dan matahari baru terbenam pukul delapan malam (serasa aneh aja makan malam saat suasana luar masih terang benderang heuheu).

Selama proses adaptasi yang terbilang mulus, ada pula hal-hal berbeda dan suasana baru yang saya temui di Aussie. Di sini, tidak pernah lagi saya lihat nanny-nanny berseragam yang banyak lalu-lalang di mal-mal tanah air—satu tangan menggandeng anak majikan sementara tangan satunya lagi menenteng belanjaan. Orangtua di sini pada umumnya tidak menggunakan jasa pengasuh anak. Kalau pun menyewa jasa pembantu itu pun waktunya terbatas (upah nanny sekitar 20 dollaran per jam). Saya sering kali melihat seorang ibu dengan satu tangan menggendong bayi merah sementara tangan sebelah menggandeng kakaknya, atau mendorong stroller super jumbo yang memuat dua sampai tiga anak, atau seorang ibu di kereta memboyong tiga anaknya sendiri (satu bayi, dua balita)..huft. Saya jadi malu sendiri yang terkadang masih suka ngerasa kerepotan saat mesti bepergian dengan Radi—yang super lincah ini—sendiri. Yah mungkin kondisi juga yang menuntut mereka demikian. Toh mereka didukung oleh fasilitas yang sudah dibuat nyaman oleh negara, seperti jalanan yang mulus untuk menggunakan stroller, angkutan umum yang menampung stroller, banyak playground dan kelas-kelas konseling parenting gratis. Anyway, spiritnya bolehlah dicontoh. Jadiii, saya nggak boleh melulu mengandalkan bantuan suami. *kecuali kalau jalan-jalan keluar kota lah ya, aye takut nyasar*

Kemandirian ini juga tampak pada warga sepuh dan kaum dengan disabilitas. Awalnya saya suka nggak tega sendiri melihat kakek-nenek renta jalan kemana-mana seorang diri, dengan langkah terseok dan pandangan mata buram. Sering saya membatin, kemana sih sanak keluarga mereka, kok nggak ada yang ngurus kok nggak ada yang menemani. Tapi memang begitulah kultur mereka. Anak-anak mereka mungkin sudah sibuk dengan urusan dan tanggungan keluarga mereka sendiri. Mungkin sebagian memilih menempatkan orangtua mereka di nursing home tempat mereka bisa bersosialisasi dengan kawan-kawan seumur untuk menemani hari-hari tua mereka. Ya, hidup memang pilihan. Bagaimana pun semangat kemandirian dan tak ingin merepoti orang lain itu layak diajungi dua jempol *plus dua jempol kaki deh saking salutnya*

Dan saya akui, saya keburu prejudice mengecap masyarakat Barat cenderung individualis dan cuek terhadap sesama. Nyatanya, mereka cukup ramah dan senang menolong. Setiap kali saya membawa stroller sendiri dan bertemu dengan undakan selalu saja ada tangan yang terulur. Mereka cepat tanggap menolong. Saya rasa itu sudah menjadi common courtesy yang memang sudah semestinya. Sesama tetangga mereka masih sering bertegur sapa, bahkan terhadap orang asing yang sekadar berpapasan. Awalnya saya suka salting sendiri begitu disapa orang asing saat tengah berselisih jalan “Hello” “Good day”, atau saat disapa kasir “Hello. How was your day?” (Euu..gimana jawabnya yah. *mikir dulu*) Setelah ngapalin common courtesy and pleasantries di sini, saya pun mulai sok pede aja kadang nyapa duluan atau minimal tebar senyum hehe.

Di Sydney, demi menghemat ongkos transportasi umum yang lumayan mahal, saya sering kali jalan kaki kemana-mana. Toh fasilitas pejalan kakinya sudah dibuat nyaman. Jadi kadang nggak kerasa tau-tau saya sudah menempuh 3 km aja, meski kalau nanjak lumayan kerasa sih pegelnya. Apalagi kalau nanjak sambil dorong stroller yang memuat Radi yang montok plus belanjaan mingguan plus lagi aneka mainan yang dipinjam dari perpus *ngos ngos*. Nggak heran berat badan saya pun turun 2 kiloan selama berada di sini. Kayaknya bukan karena stress ini mah, tapi karena di sini saya dituntut banyak gerak. Lumayanlah buat saya yang suka males olahraga. Kalau dulu muter-muter PVJ aja suka kliyengan, mudah-mudahan nanti begitu pulang ke tanah air saya sudah punya stamina yang lebih wokeh.

Hal baru yang tidak pernah saya lakukan selama di tanah air adalah mulung buangan orang. Istilahnya dumping. Ya, di sini kadang dumpingan (buangan) orang pabalatak di sisi jalan. Dari furnitur, perkakas masak, sampai mainan anak kadang ada. Dari yang udah butut sampai yang masih baguuus. Apalagi kalau kita mau menyisir dumpingan di kawasan elit *niat benerr*. Sampai seringkali saya dinasihati nggak usah khawatir bila nanti mau nyewa unit flat tak berperabot, tinggal mulung sana-sini selain bisa nunggu perabot lungsuran dari orang-orang yang back for good ke tanah air. Baru sekali sih saya ambil barang dumpingan, dan itu adalah rak barang (storage rack). Kenapa mesti gengsi… toh kita hanya memanfaatkan barang yang masih memiliki daya guna, sekalian membantu orang yang butuh mengeluarkan barang daripada berserakan di pinggir jalan. Tak lupa raknya dicuci bersih dulu sebelum digunakan. Lumayan buat nyimpen barang-barang printilan Radi.


Well, itulah sekelumit pengalaman baru saya di perantauan yang mana udah lamua mengendap di arsip laptop dan lupa diposting hihi…