Membiasakan Anak Bertanggung Jawab atas Diri Sendiri

Semenjak dulu, sejak jaman belum punya anak, saya sudah mendambakan kelak ingin membesarkan anak yang berjiwa mandiri. Yang pandai bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Mungkin itu berangkat dari pengalaman masa kecil saya sendiri. Sedari kecil saya tak pernah “dilayani.” Ibu saya membesarkan lima anak tanpa pengasuh (hanya ART yang bertugas memasak dan membereskan rumah tok). Semua urusan anak dipegang langsung oleh tangan ibu saya. Otomatis saya diharapkan tumbuh lebih mandiri. Saya nggak pernah ingat makan disuapi, atau tas sekolah dijinjing ibu, atau barang-barang pribadi disimpan dan dirapikan orang lain.

Itu sebabnya saya tak ingin mempekerjakan bibi yang khusus mengasuh anak. Saya ingin anak saya belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Mengurus diri dan barangnya sendiri. Saat pulang sekolah, tidak menaruh tas dan kaus kaki di mana saja, baju kotor di mana-mana, piring makan dan sisa bungkusan sekehendak hati lantas simsalabim semua barang-barang miliknya sudah tersimpan rapi di tempatnya. Saya khawatir kebiasaan ini akan berimbas sampai usia dewasanya hingga kelak di alam bawah sadar anak, akan selalu ada si “bibi ajaib” yang membereskan segala-galanya. Oh nooo…

Sedari usia dini, saya sudah mulai menanamkan rasa kemandirian dan tanggung jawab ini sedikit demi sedikit pada anak, tentu disesuaikan dengan umur dan kemampuannya. Bukankah menanamkan kebiasaan baik seharusnya dimulai sedini mungkin? Alhamdulillah, sejak belum genap 3 tahun, Radi sudah menunjukkan kesadaran untuk membantu pekerjaan rumah emaknya (baca: bebersih dan merapikan barang-barangnya sendiri). Setiap melepas pakaian, baju-baju kotornya dia taruh di keranjang cucian. Sehabis mandi, Radi belum mau keluar kamar mandi dan dihanduk kalau belum membereskan peralatan mandinya ke tempatnya (sikat gigi, gayung, gelas kumur, mainan airnya). Setiap sampah selalu dibuangnya ke keranjang sampah. Malahan kalau berada di luar, Radi selalu semangat mencari tempat sampah untuk membuang sampahnya.

Berikut sejumlah kiat menanamkan kemandirian pada anak yang berusaha saya terapkan:

– I Am Not Your Maid

Jangan terlalu “melayani” anak. Untuk hal-hal yang masih dikira wajar, biarkan anak mengerjakannya sendiri. Sekalian mengajarkan konsep “kau harus berusaha untuk mendapat apa yang diinginkan.” Misal, mengambil peralatan makan sendiri ke ruang dapur. Kalau air tumpah karena perbuatannya, biarkan anak mengelap sendiri. Tentu sesuaikan dengan jenjang umur. Batita bisa saja dibantu, “Oh, tumpah. Tolong ambilkan lapnya di …. Nah, tinggal dielap tumpahnya, kan. Nggak usah panik.” Dalam penanaman kebiasaan, perhatikan kondisi anak. Jangan biarkan anak sampai frustrasi. Atau kalau kebetulan moodnya mungkin lagi nggak bagus, kita juga mesti bersikap lebih longgar.

– Empower Your Child

Ketika anak butuh bantuan, jangan dikerjakan dengan tuntas oleh kita sepenuhnya tanpa si anak tahu caranya. Misalnya, minta buka bungkusan makanan, mengikat tali, melipat pakaian, mengancing pakaian, merapikan selimut. “Dibantu” bukan berarti dihandle sepenuhnya. Biasakan untuk berkata: “Sini biar Mama bantu” ketimbang “Sini biar Mama yang kerjakan.” Tunjukkan kepada anak cara mengerjakan segala sesuatunya. Lama-lama kita akan kaget sendiri karena anak itu betul-betul memerhatikan.

– Lower Your Standard

Jangan terapkan standar terlampau tinggi dalam menilai kerapihan anak. Kalau setiap pekerjaan anak sedikit-sedikit dibereskan, lama-lama anak akan kesal sendiri. “Ya udah, ibu aja yang beresin kalau gituh…Kerjaanku toh selalu salah.” Melipat selimut agak awut-awutan, misalnya. Atau menyimpan celana kolor di bagian baju atasan… itu tak masalah selama tidak membahayakan jiwa anak… Beresin selimut molor sampai sejam alih-alih lima menit?… sekali lagi, ga masyaalah… Kita mesti tahu kapan saatnya mundur dan untuk tidak selalu turun tangan.  Hargai usaha anak yang sudah berusaha menyimpan barang pada tempatnya atau membereskan sesuatu.

– Setting

Pengkondisian rumah itu penting. Sebisa mungkin orangtua mesti menyiapkan setting di rumah yang akan memudahkan anak dalam upaya membersihkan dan merapikan barang-barangnya. Sediakan tempat sampah di setiap ruangan. Di kamar anak tata rak atau boks mainan yang mudah dijangkau oleh anak. Ajarkan pada anak bahwa setiap barang ada tempatnya masing-masing. Kemudian tunjukkan di mana letak tempat sampah, rak buku atau mainan, keranjang baju kotor.

– Reward

Mekanisme menanamkan kebiasaan baik dengan reward selalu bisa dipakai. Mengingat umur anak yang masih balita, saya hanya fokus memberi reward tanpa sanksi. Saya pikir pemberian sanksi baru bisa diterapkan di usia menginjak SD, ketika anak sudah semestinya mengerti apa yang dituntut sebagai kewajibannya.

Action Speaks More Volume!

Ini yang terpenting. Orangtua mesti menjadi teladan pertama bagi anak. Kalau tiap hari mamanya pungutin ini itu yang berceceran, diam-diam anak memerhatikan dan akan mengadopsi kebiasaan itu. Atau minimal setiap penghujung hari sebelum tidur, kamar sudah rapi. Ini akan tertanam di alam bawah sadar dan terbawa sampai anak besar nanti. Ketika kamar sudah kayak kapal pecah, anak nggak akan betah… gatel pengin ngeberesin.. (speaking from experience :P)

Semua pembiasaan mesti dimulai sejak masa awal kehidupan. Nggak bisa kita beragumen, nanti toh kalau sudah besar bisa dibilangin… Oh, noo, kalau sudah besar akan lebih susah lagi, karena hal ini kembali ke PEMBIASAAN. Dan konon katanya, lebih mudah untuk menumbuhkan kebiasaan baru daripada mengubah kebiasaan lama yang sudah mendarah daging. Saya percaya upaya penanaman kemandirian ini adalah wujud cinta kasih kita pada diri anak. Dengan begitu, kita telah membantu anak agar kelak dia tumbuh menjadi manusia mandiri yang tidak akan merepotkan orang lain tanpa disadarinya. Manusia yang pandai bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan tidak hanya tahu dilayani. Amiiin…

10423657_870030603043486_8288671668257745434_n

Catatan Perkembangan Bicara Radi (part 2)

Saat Radi menginjak usia 2 tahun 8 bulan, kami membawa Radi ke biro psikologi Swaparinama, masih terkait kemampuan bicara Radi. Sejak distimulasi lebih intensif, kami lihat kemajuan bicara Radi masih seperti jalan di tempat. Ada sih perkembangannya, tapi masih seperti merayap pelan. Biar orangtuanya lebih tenang dan karena ingin berkonsultasi dengan pakar secara langsung dan mencari tahu stimulasi yang lebih tepat sasaran bagi putra kami, jadilah kami putuskan untuk membawa Radi diperiksa oleh psikolog anak dan terapis wicara di sana.

Untuk konsul dengan psikolog, sebelumnya kami buat janji via telepon. Proses observasi dilakukan beberapa kali. Pertemuan pertama baru wawancara kedua orangtua. Dilanjutkan dengan observasi anak oleh psikolog anak pada hari lain, kemudian observasi anak dengan terapis wicara pada kesempatan lain lagi. Total ada tiga kali kesempatan pertemuan untuk observasi, dan sekali jadwal pertemuan untuk konsultasi hasil observasi. Sekali sesi pertemuan dengan psikolog dikenakan tarif 125rb, dengan terapis wicara 100rb.

asyik main jungkat-jungkit di biro psikologi Swaparinama

asyik main jungkat-jungkit di biro psikologi Swaparinama

Dari hasil observasi, bu psikolog menyampaikan banyak masukan baru. Untuk terapi wicara, beliau menilai belum diperlukan untuk Radi karena usianya yang masih fase perkembangan bicara (2 tahunan). Nanti dilihat lagi aja kemajuannya sampai setahun berikutnya, kira-kira saat Radi 3,5 tahun. Mudah-mudahan Radi udah bicara casciscus yah saat itu..amiiin. Karena kecerdasannya tampak tidak ada masalah, sebetulnya masih bisa-bisa saja kalau Radi mau diperkenalkan dengan bilingual di rumah. Tapi harus imbang, kalau mau fokus bahasa Indonesia, perbanyak tontonan bahasa Indonesia juga (Selama ini Radi memang lebih sering mengonsumsi tontonan berbahsa english). Perkenalkan dengan lagu-lagu bahasa Indonesia, banyak-banyak mendongeng, dan menarasikan segala yang kita lakukan. (Itu sebetulnya bukan tips-tips yang baru dan sudah mulai diterapkan dari lama.)

             Beliau juga memaparkan anak yang mengalami speech delay ini bisa disebabkan beberapa faktor: Pertama, faktor dalam diri atau genetik (ada riwayat dalam keluarga). Dengan kata lain, bisa jadi memang anaknya malas bicara udah dari sononya. Untuk ini, orangtua mesti sering mengondisikan anak agar BUTUH bicara. Jangan sering-sering menerjemahkan keinginan anak lewat bahasa kalbu atau menjawab mewakili anak bila anak ditanya. Misal, ketika anak meminta sesuatu dengan hanya menggunakan bahasa isyarat, minta dia mengucapkan permintaannya itu. Bimbing dengan jelas dan sabar, tapi jangan dipaksa pula sampai anaknya merasa frustrasi. (Penting untuk selalu melihat mood anak). Faktor kedua, bisa dari lingkungan. Misal, anak kurang sosialisasi atau lingkungan sekitar anak yang menggunakan banyak bahasa sehingga anak mengalami yang namanya “bingung bahasa”. Radi dibesarkan dalam lingkungan tiga bahasa (bahasa Indonesia, Inggris, dan Sunda). Faktor ini bisa jadi yang menambah lambatnya perkembangan bicara Radi. Saya akui, kedua faktor ini ada lengkap di diri Radi. Riwayat keluarga, kurangnya sosialisasi dengan teman sebaya, dan bingung bahasa.

               Bila bicara dengan Radi saya dan suami sudah kompak untuk fokus menggunakan bahasa Indonesia saja, tapi saya jelas takkan melarang keluarga besarnya (Aki,Ninin dan kerabat lainnya) berinteraksi dengan Radi menggunakan bahasa Sunda. Saya pikir tak apalah, Radi memang anak produk kaya budaya. Toh pelan-pelan dia akan menangkap sendiri. (Untung saya nggak menambah dengan bahasa Ceko atau Palu..weleh makin mabok deh Radi :D). Jadilah sekarang bicara Radi campur aduk. Kadang keluar bahasa Sunda, kalau minta dicebok bilang “Beh-beh alias ombeh”, kalau mandi “Bak-bak alias Ibak”. Berbagai warna dan angka dia sebut dengan bahasa Inggris. Selebihnya, bahasa ibu pertiwi alias endonesiah. Cara bicara Radi memang rada-rada absurd. Radi masih sering menyingkat-nyingkat kata, seperti “Ki” untuk panggilan “Aki”, “Pah” dan “Mau” mestinya Jerapah dan Harimau. Tapi untuk kata-kata tertentu bisa disebut lengkap, seperti “Toko bayi”. Entahlah, memang rada ganjil… hahaha… 😀

           Menurut psikolog lagi, perkembangan bicara Radi akan lebih cepat bila dia banyak berinteraksi dengan teman sebaya. Jadi alangkah baiknya kalau dia bisa diikutsertakan ke dalam kelompok bermain di lingkungan sekitar, bisa formal maupun informal. Boleh juga dicoba teknik pijat mulut untuk merangsang otot-otot bicara (Yang ini belum saya coba intensif, tapi video dan cara-caranya bisa diakses via google). Otot-otot bicara memang perlu dilatih agar luwes dan akhirnya anak bisa berartikulasi dengan jelas. Caranya ya dengan sering-sering mengulang kata. Jadi jangan bosen-bosen sebagai orangtua untuk mengulang-ulang kata atau kalimat, dan mendengarkan anak mengulang-ulang kata yang sama terus-menerus.

Radi 2 tahun 8 bulan

Radi 2 tahun 8 bulan

Daaan, selain soal perkembangan bicara, kami juga sempat bertanya masalah lain lagi (gak mo rugi, mumpung lagi sesi konsul dengan psikolog anak). Kami perhatikan Radi agak rewel dengan kebersihan (kotor dikit, protes), dikasih lotion antinyamuk di kulit marah, sangat pemilih dengan pakaiannya (hanya mau memakai bahan yang lembut kayak katun atau baju bobonya dan selalu menolak dikasih celana jins), takut berendam di air, dan belakangan label baju selalu minta diguntingnya. Apakah itu “fase” yang akan hilang dengan sendirinya atau mesti kita beri penanganan tertentu? Menurut psikolog, hal itu cukup umum terjadi. Biasanya pada anak-anak yang kurang mendapat banyak stimulasi motorik-sensoriknya. Dan fase kerewelan ini belum tentu bisa hilang begitu saja. Banyak anak yang ditemuinya hingga usia sekolah yang mudah rewel hanya karena panas atau cuaca atau hal-hal lainnya yang kita pandang kecil tapi menjadi besar baginya. Untuk itu, kita sebagai orangtua perlu membantu anak. Bagaimana cara membantunya? Dengan memberikan banyak-banyak pengalaman sensorik-motorik baginya. Di usianya yang baru 2 tahun, memang belum banyak pengalaman hidup yang dimilikinya. Nah, kita perkaya pengalaman sang anak. Kita ajak dia keluar setiap harinya, meski hanya ke warung sebelah atau melihat ayam tetangga. Jangan sungkan kita ajak main kotor-kotoran (tanah liat, lumpur, finger painting, face painting). Variasikan pengalaman sensoriknya. Misal, anak biasa mandi dengan diguyur gayung sesekali bisa menggunakan shower dengan tekanan rendah. Pijatan juga bisa menjadi pengalaman sensorik yang bagus (variasikan tekanan dan pijatannya).
Saya akui, mungkin sebagai perempuan saya lebih sering mengajak Radi beraktivitas di dalam rumah saja, seperti menyusun lego, puzzle, dan membuat prakarya sederhana. Lain kali, saya mesti lebih aktif mengajak dia keluar. Bermain bola, memanjat tangga, meniti balok, dan bereksplorasi (resiko LDR dengan papa Radi huhu…). Ini menjadi catatan penting bagi saya. Meski sibuk dengan deadline kerjaan, Radi tetap butuh porsi waktu dari kita sebagai orangtua. Dan pendidikannya tetaplah prioritas yang pertama. Dan catatan pula, kalau nanti mau memilih-milih kelompok bermain atau TK buat Radi, lihat yang porsi kurikulumnya lebih banyak memfokuskan pada pengembangan sensorik-motoriknya ketimbang duduk manis di kelas dan membuat prakarya yang kata psikolog lebih cocok untuk masa 5 tahunan ke atas nanti.
Sudah cukup panjang lebar saya bercerita tentang perkembangan Radi setelah sekian lama blog dianggurkan. Semoga ada manfaatnya, dan doakan Radi makin pintar ngoceh nggak lama lagi. Amiiin YRA.

Catatan Perkembangan Bicara Radi (part 1)

Masalah Radi mengalami telat bicara sudah pernah saya tuliskan di sini. Sekarang sebagai salah satu upaya memantau perkembangan bicaranya, saya akan menuliskan catatan secara rutin. Bismillah… Ini catatan pertama.

Pada usia 2 tahun lebih 2 bulan, saya perhatikan Radi baru bisa mengucapkan sekitar 5 kata (mama, papa, mo buat elmo, nek buat nininnya…). Sepulang dari Australia, setelah sempat terpisah sebulanan sama anak, saya pun fokus menggiatkan stimulasi untuk kemampuan bicara Radi ini.

Saya batasi penggunaan gadget sebisa mungkin. Untuk mengalihkan perhatiannya dari tablet oma dan nininnya, saya beli berbagai permainan alternatif semacam puzzle dan playdough. Apa pun asal bisa mendetoks dirinya dari gadget yang jadi terlalu digandrunginya selama absennya mama di sisinya. Sebisa mungkin saya temani dia saat bermain. Sesering mungkin saya ajak bicara, menarasikan apa pun yang sedang saya atau dia lakukan.

Untuk stimulasi bicaranya, saya banyak mencontek tips-tips dari sini (nuhun mbk Andiani atas sharingnya). Saya memang tidak segera membawa Radi untuk mengikuti terapi wicara karena masih ingin menstimulasinya sendiri dan melihat perkembangannya dulu. Ini juga atas masukan dari bibi suami yang praktisi PAUD. Katanya stimulasi bicara itu kuncinya pada orangtuanya bukan terapis karena kitalah yang akan menemani sang anak 24 jam dalam sehari. Sementara sesi terapi paling juga cuma sejam dalam sehari, dan orangtua akan diberi PR oleh terapis akan apa-apa saja yang mesti dilakukan dan dicatat di rumah untuk memantau perkembangan sang anak. Dan cara-cara terapi wicara ini juga bukankah sudah bisa diakses dari mana-mana (sebagian besar berkat jasa om gugel)? Jadi bismillah saja, untuk saat ini saya akan memegang sendiri tanggung jawab mengembangkan kemampuan bicara Radi. Bersama keluarga besar Radi tentunya, sebagai lingkungan hidup dan bermainnya sehari-hari. Meski begitu, saya tidak menutup kemungkinan untuk suatu saat membawanya ke terapis.

Lalu, apa saja cara yang saya lakukan untuk menstimulasinya, selain banyak-banyak bicara dan menemaninya bermain?

–          Story telling. Setiap hari saya upayakan untuk membacakannya cerita dari buku. Story telling ini dijamin akan mengasah kreativitas ortu juga karenaaa… Radi belum minat mengikuti alur cerita sebatas yang tertera dalam buku. Kita harus mengarang abis cerita, menunjukkan setiap ilustrasi dalam buku sambil menyebutkan nama-namanya. Dan lebih baik lagi bila disertai dengan properti tambahan, seperti boneka jari atau gambar karakter cerita yang ditempelkan ke bekas stik eskrim. Untuk menggugah minat anak 2 tahun buat duduk manis mendengar cerita memang butuh upaya besuar, tapi insyaAllah ini jadi bagian ikhtiar supaya si anak kelak dekat dan mencintai buku pula. Amiiin.

boneka jari

boneka jari

–          Flash card. Kartu berbagai macam gambar juga bisa menjadi sarana yang bagus untuk mengenalkan nama berbagai objek kepada anak. Tapi biasanya saya mesti lihat mood si anak dulu dan paling maksimal 15 menit saja saya gunakan flash card ini. Kalau moodnya lagi nggak bagus (rewel, ngantuk, atau playful alias jahil) paling-paling kartu-kartunya dihambur kemana-mana. Sementara kalau lagi semangat, dia suka-suka aja “diuji” mamanya. Misalnya saya menaruh 10 kartu berbagai objek, kemudian saya akan minta Radi untuk mengambil objek tertentu. Meski Radi hampir selalu benar saat menunjuk benda yang saya minta, tapi untuk menyebut namanya masih ogah-ogahan. Tunjuk mobil, dia bilang bbbrrrm. Kereta, bilangnya tutut. Tempat tidur, bilangnya bobo. 😀

–          Lagu-lagu. Mungkin bosan juga anaknya dengar mamanya ngoceh mulu. Nah, untuk variasi upaya memotivasinya lebih aktif berbicara, saya kenalkan dia dengan lagu-lagu. Kalau udah capek ngomong, saya nyanyi aja. Dulu sih Radi cuma kenal dengan lagu-lagu Barat versy nursery rhyme semacam “Itsy bitsy spider”, atau “Twinkle twinkle little star.” Sekarang saya tambahkan perbendarahaan lagu-lagu anak Indonesia, seperti “naik kereta api, “balonku”, dll.

Oh ya, sekarang saya juga fokus menggunakan satu bahasa saja, yakni bahasa Indonesia.

Sekarang Radi 2 tahun 3 bulan. Sebulan sejak upaya stimulasi yang lebih gencar ini, saya lihat Radi ada perkembangannya. Sekarang sudah bisa 20-an kata yang suka diulang, seperti susu, bobok, duduk, popok. Namun untuk sebagian besar kata, masih suka dipotong-potong (pi untuk topi, ki untuk kaki) dan masih lebih suka mengandalkan bahasa isyarat saja.

We will see how it goes.. doakan kami.. Radi yang semangaaat belajarnya!

Mummy loves you… :*

Oleh-Oleh Jakarta

Jadi ceritanya, hari Rabu 9 Oktober 2013 saya bersama oma dan Radi berangkat ke Jakarta untuk keperluan medical check up sebagai prasyarat visa dependen ke Australia. Setelah hampir seminggu diundur-undur karena Radi yang sempat sakit, akhirnya jadi juga berangkat. Radi masih batuk sedikit, tapi insyaAllah nggak masalah. Toh anaknya tetap lincah dan badannya udah nggak anget. Kalau diundur terus ntar keburu kepotong libur Idul Adha, terus minggu depan lagi ntar jadwal tamu bulanan jadi nggak bisa periksa urine. Nah kalau gitu kapan keluar visa ‘n nyusul si papa atuuh…

Maka bismillah saja… Hari Selasa saya pun pergi beli tiket ke PT KAI. Ternyata antrean pembelian sudah ramai gara-gara menjelang long wiken Idul Adha *halah, baru inget* Tiket eksekutif sekarang Rp. 80.000, oma dapat diskon manula jadi Rp. 64.000, sementara Radi yang baru 1 tahun bayar 10% (da gak dapat kursi) jadi Rp. 8.000.

Setelah tiga tahun lebih tidak menggunakan jasa kereta, saya lumayan kaget dengan banyaknya perubahan yang terjadi. Contohnya, pembelian tiket sekarang udah kayak di teller bank—pakai ngambil nomor antrean. Ini gebrakan bagus sih mengingat budaya antre masyarakat kita yang masih amat rendah, saling serobot sana-sini. Lihat aja cara orang-orang kita naek lift. Langsung berusaha menerobos masuk tanpa mempersilakan orang-orang di dalam lift buat keluar lebih dulu. Tuh, jadi out of topic, kan. Gara-gara suka kebawa emosi sendiri kalau udah soal perkara antre-mengantre. *too much negative experiences*

Selain itu, sekarang orang-orang yang mengantar dan menjemput penumpang sudah nggak boleh masuk peron. Bagus sih… mungkin demi menghindari calo, selain itu juga jadi lebih tertib dan itung-itung berbagi rejeki sama kuli angkut barang. Kalau di dalam kereta sendiri sih nampak tidak banyak perubahan berarti. Tapi saya lihat kondisi WC sudah dilengkapi wastafel dan sabun cair. Dan di samping kursi penumpang dilengkapi colokan listrik buat ngecharge hape or laptop. Oh ya, satu perubahan yang disesali, sekarang sudah nggak ada bagi-bagi snack di kereta. 😛

Doa saya sebelum berangkat, semoga Radi nggak pup di jalan, alhamdulillah terkabul. Heuheu…untunglah si bocah milih pupnya pagi-pagi banget sebelum berangkat. Sementara jadwal keberangkatan kereta pukul 9 pagi.

Ini adalah pengalaman pertama Radi naik kereta looh… Di usia 16 bulan…horee!  Agak cemas juga karena pas awal masuk kereta Radi nampak ingin lari-lari terus sepanjang lorong, sambil tangannya ngoprek-ngoprek segala yang dia lewati. Duh gimana yah kalau sepanjang perjalanan 3 jam ini Radi– yang rasa ingin tahunya begitu tinggi ini–nggak mau duduk manis di tempat. Tapi syukurlah begitu kereta mulai jalan dan diimingi susu, Radi mau juga duduk dipangku sambil minum susu dan lihat-lihat pemandangan. Nggak lama, Radi pun tertidur lelap sampai 1,5 jam. Sisa waktu selebihnya dihabiskan Radi dengan bermain papan gambar yang sengaja saya beli untuk perjalanan selama 30 menit, lihat-lihat pemandangan 30 menit, digendong sambil berjalan-jalan di lorong kereta saat Radi mulai rewel mau menjelajah lagi selama 15 menit, dan bacain buku cerita 15 menit. Alhamdulillah, 3 jam perjalanan terlewati tanpa insiden berarti. Radi cuma sempat teriak-teriak protes sedikit waktu dilarang jalan-jalan di lorong sewaktu kereta bergoyang-goyang di relnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Keesokan hari, baru kami berangkat ke Medikaloka Health Centre di Kuningan. Untuk keperluan medical check-up mereka melayani dari pukul 12.00-15.00.Tarifnya lumayan mahal. Untuk pemeriksaan kesehatan saya dikenakan tarif Rp. 525.000, plus bayi satu tahunan Rp. 250.000. Jadi total saya keluar kocek Rp. 775.000. Tapi layanannya sesuai dengan tarifnya. Ruangannya cozy, dan nggak pakai antre (mungkin juga karena memang kebetulan lagi sedikit aja yang datang yah :P).

Proses medical check-up saya meliputi: periksa urine, periksa mata, chest x-ray dan sesi pemeriksaan umum/tanya jawab dengan dokter. Kalau Radi cuma ditimbang dan diukur kayak di posyandu, plus sesi tanya jawab dengan dokter. Saya ngasih catatan imunisasi anak saya, tapi si dokter cuma lihat sekilas saja. Tadinya sempet ngirain Radi mesti diberi vaksin tambahan, kayak vaksin influenza, cacar, atau semacamnya yang mungkin di Australia sana diwajibkan sementara di sini tidak. Tapi ternyata tidak. Alhamdulillah deh. Kata dokter sih, visa biasa keluar sekitar 2-4 minggu setelah proses medical check-up. Mudah-mudahan saja visa saya sudah bisa keluar dalam 2 minggu *fingers crossed*.

Keseluruhan proses pemeriksaan nggak sampai memakan waktu satu jam. Syukurlah, soalnya Radi udah mulai rewel. Kayaknya si bocah capek. Tadi sempat macet lumayan lama menuju Kuningan. Belum lagi sepanjang perjalanan di mobil tadi Radi nangis-nangis mulu minta duduk di balik kemudi. Ini gara-gara om Yudi—yang dengan baik hati sedia mengantar—suka memangku si bocah sambil nyetir saat memasukkan mobil ke garasi atau saat keluar gedung sebelum masuk jalan raya. Tapi semenjak insiden Radi mengamuk nagih terus pengin jadi sopir, saya sudah nggak ijinkan lagi Radi duduk di balik kemudi. Kasian juga kan kalau anaknya jadi bingung dengan mixed message yang diterimanya; kadang dikasih (kalau di komplek atau macet) kadang nggak. Mana nangisnya heboh dan lama banget lagi. Maafkan Mama, ya, Nak. Cup cup. 😛

Perjalanan ke Jakarta kali ini juga menyisipkan banyak pengalaman pertama Radi. Kali pertama Radi berkunjung sekaligus menginap di rumah teta Dewi di Kemandoran Pluis. Juga kali pertama Radi nyobain naik odong-odong di pagi hari. Hehe. Ini sih dulu aktivitas sehari-hari kakak Rian pas masih seumur Radi. Tiap pagi pasti nagih naik odong-odong. 😀 Tapi Radi nampak bosenan duduk di odong-odong. Mungkin karena odong-odongnya cuma goyang-goyang di tempat, nggak maju-maju.. hihihi.