Behind Money Motivation

Many people may not understand why I’m so money minded. So determined to find new source of income, to earn more cash. It’s not just about the money. It’s the motivation that lies behind my so called money-minded attitude. See… I come from a struggling family, financially. I don’t call ourselves poor yet we have never own a home of our own, or a car. Our family never set a foot on what its called “financial stability”.  And there were times when we didn’t know how were we gonna pay for our education fees or how were we gonna pay for groceries the next week.

Because we have always deal with money issues, especially my mom as the pillar of the family, I always have a dream that someday I would be able to pamper her financially in her old days, to be able to lavish her with so many things she could only dreamed of in the past.

Although I have a family of my own now to look after, this dream I had never waver a bit. I still feel that I have a responsibility to realizing that dream I had. To be able to make my mom feel secure financially. I want to repay her for all those times she saved and counted every pennies she had so she could treat us kids with special meals. Or all the times when she lavished us with so many toys and nice dresses while she can use it to buy something else to pamper herself. I never recall her ever going to the beauty salon, to the cinema, or buy a perfume or dress for herself.

She always puts her children above everything else. She has sacrificed so much for us.

And now in her 72 years of age, I feel my time is running out. I have to run as fast as I can to chase that long-ago yet still glimmering dream. To wipe the worries in her wrinkled forehead while counting her pennies left and to be able to say to her, “Don’t worry now, Ma. I’ll take care of you as you have taken care us all these times.”

Resolusi 2014

Resolusi saya tahun 2014 ini sederhana saja. Secara profesional, saya ingin bisa fokus. Begitu fokus menggarap satu proyek, ya diterusin sampai kelar. Nggak lompat-lompat ke hal lain di tengah jalan. Membagi kreativitas, pikiran, dan waktu ke banyak garapan, eh..ujung-ujungnya nggak ada satu pun yang beres. Maka itulah… tahun 2014 ini ingin berusaha jadi orang yang bisa fokus. Menetapkan satu hal untuk difokuskan sampai akhir, sebelum beralih ke yang lainnya. Supaya nggak setengah-setengah, supaya bisa tuntas. Ganbatte! *menyemangati diri sendiri*

Secara pribadi, tentu saya ingin bertumbuh menjadi orang yang lebih baik lagi. Itu harus. Orang yang berkurang umurnya, tapi tidak membaik akhlaknya tentulah merugi.

Saya ingin menjadi orang yang senantiasa bersyukur dengan kondisi yang ada. Tanpa perlu melihat apa yang dimiliki orang lain. Mensyukuri segala karuniaNya. Kesehatan, waktu, dan keluarga. Kesempatan untuk membahagiakan orang-orang tersayang.

Bersyukur. Setiap saat.

Begitulah, kalau saya ditanya tentang resolusi saya jelang 2014.

Kapan Mau Ngasih Adik?

 

Ini pertanyaan yang saat ini cukup sering dilontarkan pada saya. Jujur, merantau di Sydney ini telah menunda program kami untuk menjalani kehamilan lagi.

Pertimbangan pertama kami adalah masalah finansial. Tinggal di Sydney dengan biaya hidup yang tinggi adalah faktor utama yang menciutkan nyali kami. Masih simpang-siur pula berita tentang apakah melahirkan di sini akan ditanggung asuransi atau nggak (bagi keluarga mahasiswa asing). Ada yang bilang ditanggung penuh asal sudah setahun (entah setahun dalam hitungan apa), ada yang bilang ditanggung sebagian, ada yang bilang nggak ditanggung sekarang ini. Wallahu alam (nampaknya mesti ngobrol dengan pihak asuransinya, kalau mau diseriusi kelak).

Saya bukanlah orang yang bisa dengan ringannya menyerahkan segala sesuatunya kepada takdir. Yah kalau memang Tuhan berkehendak memberikan anak lagi, berarti memang sudah rejeki dan waktunya. Bagi saya, segala sesuatu itu butuh perencanaan. Kegiatan liburan akhir pekan saja biasanya mesti saya persiapkan dari seminggu sebelumnya. Apalagi rencana untuk punya anak.

Ya, bagi saya, menghadirkan anak ke dunia butuh banyak persiapan; ya mental, finansial, kesehatan.

Perjalanan kehamilan saya sebelumnya pun tidak begitu mulus. Dua kali pendarahan, satu kali keguguran membuat saya berpikir banyak untuk mengambil keputusan menjalani kehamilan di perantauan.

Meski terkadang ada saja yang mendorong dengan bilang, rejeki Tuhan jangan ditolak atau ditunda-tunda. Atau motivasi segera beranak karena kecemasan dari diri sendiri, mengingat usia kami yang semakin matang. 😛

Namun, salahkah jika saya masih ingin berpuas-puas menikmati tumbuh-kembang Radi tanpa dibebani dengan mengurusi bayi yang tentu butuh perhatian dan tenaga ekstra dari kita? Untuk seru-seruan dengannya menjelajahi negeri asing ini tanpa dibebani fisik yang mudah capek, mual, dan kliyengan saat hamil?

Ah, bila melihat Radi (kini 19 bulan) yang super-lincah dan masih menuntut perhatian mamanya hampir setiap waktu, nggak tega juga rasanya untuk membagi fokus ini dengan yang lain. Memberi adik atau menjalani kehamilan otomatis akan mengurangi jatah Radi untuk menerima perhatian dari mamanya—baik waktu, fisik, maupun pikiran dari saya.

Prinsip saya, bila masih ada sekelumit kekhawatiran terselip, ya mending nggak usah aja. Berarti memang belum saatnya. Menghadirkan anak butuh keyakinan dan kesiapan penuh dari diri kita. Tidak boleh ada secuil pun keraguan, atau nanti akan siap sendiri sembari jalan. Jangan pula mengambil keputusan itu gara-gara latah lihat teman-teman sebaya sudah beranak dua, tiga, bahkan empat. Kasihan si anak ntar. Ia harus tumbuh-besar di kandungan dan terlahir dengan kesiapan penuh kedua orangtuanya. Bukan dalam atmosfer stres dan banyak kekhawatiran.

Kelak, kami pun akan siap menyambut buah hati lagi. Insya Allah, bila diizinkan, dan pada saat yang tepat menurut Sang Pemberi Kehidupan. Tapi bukan sekarang.

Heart Replacement

Sometimes a foolish thought crossed my mind.

If I were given a chance to make a stupid wish and be granted,

I wish I could exchange my heart.

I want a more solid one, a resilient one.

This one I have is too fragile, too easily broken.

And it caused too much pain once it cracked.

Being too sensitive sometimes can just be too unnerving

When this world is full with ignorant and insensitive people.

 

I need a stronger heart because I need to be a stronger person.

I don’t have time for this nonsense.

For self-critisizing myself whenever I feel I couldn’t please someone.

Or that I deeply feel that my existence is just being ignored.

I should just stop trying to fit in altogether

And just be an individual.

 

That’s why I need a more solid heart, a thougher one

So I couldn’t care less whenever someone throw an insentive remarks…again and again *why don’t you just pick a knife and stab my heart wont ya*

I could just brush it off over my shoulder and just say “yeah right… go eat sh*t” *not outloud though*

As easy as that.

 

I need to replace my heart because I want to feel more powerful.

I should rise above them.

Pitying them for they must feel insecure of themselves.

But instead I usually end-up self-pondering how come someone can be as rude and insensitive as that…

Disregarding other people feelings with a snap of a finger.

 

I guess some people just tend to see everyone else as their competitors.

They need to look the smartest with their “clever” yet filled with egosentric and prejudice comments.

Stupid me for letting myself being carried away by their silly imaginary race.

That’s why I need a stronger heart… I need to exchange it.

 

But then, when I think of all the wondrous things I felt for just the simplest things,

When I see my loved ones and instantly my heart burst with this tremendous joy and thankfulness,

Playing with my child for hours on end can caused me so much joy,

And feeling genuinely happy with other peoples achievement,

A concern troubled me,

Im afraid that I may not be able to feel the same again with my new heart.

 

And when people often come to me to disclose their feelings

Its because of my heart

Because of my sensitivity

Because I always listen and I respect others

And always manage to put myself on other peoples shoes.

 

Whenever I think of all those things my poor old heart had offered me through the years

I guess I just have to make do with this one.

And be thankful.

 

 

*writing about this can be a good heart therapy too…:P*

LDR

 

Oh long distance relationship is not for me..not for me..not for me…

(Dinyanyikan dengan ketukan 4/4 dan nada A mayor)

 

Tiga bulan sudah saya menjalani hubungan jarak jauh—atau istilah populernya, LDR (long distance relationship)—dengan sang suami. Tidak bermaksud mengeluh, hanya bermaksud meracau…*loh?*

Well dari laporan pengalaman selama tiga bulan yang telah berjalan, sesuai dengan kutipan lagu di atas, saya merasa LDR ini is not for moi. LDR bolehlah untuk sementara waktu, tapi untuk jangka panjang no way lah yauw.

Kalau disuruh memilih antara hidup pas-pasan tapi keluarga ngumpul dengan hidup makmur tapi beda domisili, saya mending pilih yang pertama deh. Lagian rejeki kan bisa dicari. Tapi bonding antara orangtua dengan anak, nah itu beda cerita. Pun kenangan-kenangan manis antara ayah dengan anak tentu nggak akan sempat banyak tercipta bila sang anak ketemu ayahnya saban sekali atau dua kali setahun saja.

Sudah tiga bulan ini Radi tidak bersua dengan papanya. Tiga bulan mungkin durasi yang terkesan rada singkat. Tapi buat bayi, banyak sekali yang terjadi dalam rentang waktu itu. Khususnya dalam hal tumbuh kembangnya. Dalam tiga bulan saja, papanya sudah melewatkan banyak milestone putranya. Yang tadinya pas papanya berangkat, masih merangkak ke sana kemari, kini Radi sudah lancar berjalan. Radi sudah pandai nyeruput pakai sedotan. Dan giginya sudah tambah empat biji lagi. Radi juga makin pandai joget dan berputar-putar di tempat, meniru gerak tarian boogie beebies di chanel cbeebies. Sudah gesit main kejar-kejaran. Sudah bisa protes dan akting ngambek pula :P. Dan diam-diam, Radi suka mengamati gerak-gerik orang yang kemudian ia tiru. Misalnya, dibawa gelas minumnya ke dispenser buat diisi sendiri. Alhasil air tumpah kemana-mana *ups..*

Tiga bulan berjauhan dari papanya mungkin membuatnya makin lupa akan sosok ayahnya. Tapi kata orang, meski bayi cepat lupa ia nanti cepat ingat. Yang jelas, papanya nanti kudu extra bonding dengan anaknya. Dan itulah harga yang mesti dibayar dari hubungan long distance ini *fiuh*.

 

30 Tahun Dari Sekarang…

Kata orang, kalau mau jadi sukses di masa kini, kita mesti punya bayangan visualisasi yang menggambarkan kesuksesan kita di masa depan. Lebih detail visualisasinya lebih baik.  So, saya pun nggak akan tanggung-tanggung. Membayangkan kehidupan saya bukan 5 atau 10 tahun dari sekarang. Tidak. Mari kita melangkah lebih jauh…

Jika Allah masih memberi saya kesempatan untuk menghirup udara di dunia yang fana 30 tahun dari sekarang, mungkin begini kiranya bayangan visualisasi saya:

Kala itu, tentulah usia saya tidak muda lagi. 62 tahun. Saya ingin hidup tenang, dengan kondisi finansial yang sudah mapan. Harapannya, di umur segitu saya sudah tidak perlu pusing-pusing mikirin pemasukan. Dan kemapanan ini didapat karena saya sudah bersusah-susah di usia produktif, jerih payah dari menulis diselingi menerjemahkan dan menyunting sesekali. Ah, kata siapa, penulis punya masa depan suram dari segi finansial.*bolehlah saya berasumsi lain :P*

Kala itu, Radi mungkin sudah pergi meninggalkan rumah. Membangun rumah tangganya sendiri.  Mengejar mimpi-mimpinya. Ah, saya tidak ingin memetakan profesi apa yang ditekuninya kelak. Biarlah itu menjadi misteri ilahi. Yang penting, Radi saat itu sudah tahu benar apa yang menjadi mimpinya dan fokus mengejarnya…*jangan kayak mamanya dulu yang telat menyadari panggilan jiwanya… pakai acara terdampar di fakultas ekonomi segala :P*  *ini jadi PR buat saya sekarang, dalam perkembangannya nanti, penting pula memantau dan memberi perhatian khusus terhadap bakat dan minat si bocah*.

Kala itu, meski tak muda lagi, saya tetap ingin produktif. Tetap punya karya dan kontribusi kepada masyarakat. Bukan karena tuntutan hidup, tapi lebih karena kesadaran ingin punya daya guna hingga amanah usia ini habis sudah. Yang terbayang saat ini, saya ingin punya perpustakaan kecil di rumah atau di dekat rumah. Koleksi buku Radi saat kecil memang selalu saya rawat dan kumpulkan. Begitu koleksi sudah cukup banyak sementara si bocah sudah tumbuh dewasa alih-alih diloakkan atau disumbangkan entah kemana, saya ingin menyimpannya di rumah, dan kelak membuka perpustakaan anak. Mungil saja, tapi nyaman. Terbuka bagi siapa saja. Anak dari kalangan mana pun bebas membaca dan meminjam. Mungkin tidak dibuka 24 jam, hanya jam-jam tertentu saja. Senin sampai Jumat. Pukul 10.00-15.00, misalnya yaa.

Dengan anak yang sudah beranjak besar dan pergi meninggalkan rumah, saya tentu akan merindukan suara celotehan anak-anak. Suasana rumah memang terasa berbeda dengan kehadiran mereka. Lebih hangat. Saya ingin memiliki peranan dalam membina anak-anak kecil, minimal di lingkungan saya sendiri.  Saya ingin menjadikan rumah saya tempat yang kelak akan berkesan dalam ingatan anak-anak ini dan mampu memotivasi mereka untuk menjadi apa pun yang mereka inginkan. Seperti rumah di buku-buku dongeng anak-anak—tapi bukan dongeng Hansel ‘n Gretel *krauk krauk nyam :D*.  Rumah yang hangat, menyenangkan, dan mampu menumbuhkan kecintaan anak akan ilmu, meluaskan cakrawala mereka, dan menantang mereka untuk berani bermimpi.

Mungkin saya akan mengadakan sesi mendongeng di rumah perpustakaan ini minimal sekali seminggu atau mengadakan acara prakarya bersama. Mengenalkan anak pada permainan puzzle (bukan di aplikasi gadget), meronce, bikin buku, bercerita. Atau mengadakan sesi parenting class sesekali—diskusi sedikit dan pencerahan saja bagi para orangtua di lingkungan sekitar.*atau sekalian aja bikin TK yak? Heu..beda tanggungjawabnya meureun…*

Dalam bayangan ini, saya mungkin akan menjadi seperti nenek-nenek di cerita “Celengan Babi Ungu” karya Enid Blyton—salah satu buku cerita pertama yang saya baca saat baru mulai bisa baca. Sang nenek yang dikira galak dan penyendiri, ternyata menyenangkan sekali. Saat ada dua anak datang bertamu ke rumahnya karena ingin meminta maaf setelah memecahkan celengan babi ungunya, ia justru menjamu mereka dengan kue-kue cokelat yang baru diangkatnya dari panggangan. Ditambah cenderamata bagi masing-masing anak.

Tapi berbeda dari cerita si nenek, saya tidak hidup sendiri. Hari-hari tua saya tentu ditemani oleh sang suami setia yang di usia 65 tahun masih segar bugar karena sudah berhenti merokok hingga seterusnya sejak studi di Australia *fingers crossed*. Terkadang, kami suka traveling sama-sama, melanglang buana melihat dunia. Berlibur ke Selandia Baru, ke Ceko, ke Yogyakarta (karena suami pernah berjanji akan membawa saya melihat Candi Borobudur :P). Hal yang jarang dilakukan saat muda karena banyaknya urusan dan tanggungan…hehe

Itu mungkin sekelumit bayangan saya 30 tahun di masa yang akan datang. Mudah-mudahan bayangan ini bukanlah mimpi belaka. Amin. 😛

Malaikat Tanpa Sayap

Kami mungkin tidak selalu sepaham. Tidak selalu seiring sejalan.

Tapi darinyalah saya pertama belajar nilai-nilai pengorbanan, kesabaran, welas asih, cinta <3.

Dan jika saya membutuhkan telaga penyemangat, ke sanalah saya pergi mencari.

Ibu telah mengguratkan contoh pengorbanan yang hakiki. Masa mudanya, kampung halamannya, kariernya telah dia tinggalkan demi anak-anaknya.

Ibu seolah tak kenal letih. Meski di rumah ada asisten, ia asuh sendiri kelima buah hati dengan tangannya. Mulai dari memandikan, menceboki, menyuapi, meninabobokan.

Dalam ingatan saya, jarang sekali ibu memanjakan diri dengan membeli barang-barang mewah, perhiasan, pakaian-pakaian cantik, atau perjalanan ke salon. Uang yang dipegangnya selalu dibelanjakan demi kesenangan buah hatinya. Ya, kami berasal dari keluarga sederhana saja, tapi kami memiliki banyak sekali mainan, koleksi buku cerita, juga baju-baju cantik.

Bagi ibu, tak ada istilah “me time” dalam kamus hidupnya. “Me time” baginya adalah bermain dengan anak-anaknya. Atau menonton acara kegemarannya dengan ditemani oleh (lagi-lagi) anak-anak.

Maka, ketika saya merasa lelah mengurus anak, jemu dengan rutinitas domestik yang itu-itu aja, tak pantaslah rasanya saya mengeluh. Karena pengorbanan saya belumlah ada apa-apanya dibandingkan beliau.

Dan bila saya rindu dimanjakan oleh suami—yang sedang menimba ilmu di negeri seberang—saya pun teringat akan kehidupan yang dijalani ibu. Dengan ayah mengais rejeki di luar pulau, ibu nyaris tak pernah dimanjakan oleh pasangan hidupnya. Dan dengan keluarga dan sanak saudara berada di luar benua, ibu pun seolah tak punya tempat untuk berkeluh-kesah.

Hartanya dan sumber kebahagiaan hidupnya, hanyalah anak-anaknya.

Ibu memang bukanlah seorang malaikat. Seorang manusia tanpa cela. Tidak. Ia lebih dari itu.

Ia seorang IBU.

Dari dialah, saya paham muasal pesan sang nabi “surga di bawah telapak kaki ibumu.”

me n mom

me ‘n Mom

Life-long Dream

 

Look at that bright stars in the distant sky. Those are your dreams and wishes. Now flap your little wings and fly…

 

I miss reading a good novel. I miss translating and editing.

But deadlines are my worst enemies now.

Juggling between taking care of highly demanding toddler with literacy work is just too much of a challenge.

In order to keep my sanity, I must choose.

 

Maybe it’s about time for me to start pursuing my other interest.

My life long dream actually.

To write and publish my own book.

To inspire people through my writings.

At least then I don’t have to worry about meeting strict deadlines.

And it’ll keep my mind—imagination and creativity—from being numb.

 

InsyaAllah. Amin…

 

*learn to flap.. flap.. flap.. my little wings*

 

Home

Sometimes I feel like I don’t belong in any place ‘n time. Theres a part of me that felt like a lost soul.

Or maybe its just me that are too damn sensitive ‘n often overthink too much.

But when I see his smile ‘n his eyes brighten up as he sees my face, I felt at home.

This is my place. This is where I belong.

 I’m your mommy.

 

*Dedicated to my precious Radinek.