Mendongeng Bersama Anak

“If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.”
― Albert Einstein

Ada banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan anak dari kegiatan mendongeng atau membaca cerita bersama anak. Mengembangkan imajinasi, memperkaya kosakata, mengenalkan berbagai macam konsep (berhitung, warna, mengukur, dll) hingga mengajarkan kebiasaan baik dan menanamkan nilai-nilai positif dalam diri sang anak, merupakan sebagian manfaatnya. Selain tentu, mendongeng bersama akan menguatkan bonding antara orangtua dengan anak.

Berikut tips yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan manfaat saat kita sedang mendongeng bersama anak:

  • Kenalkan anak pada kosakata baru yang mungkin terkandung dalam buku.
  • Ambil jeda untuk memberi komentar dan bertanya. Lihat wajah bebek ini. Menurutmu apa yang dirasakannya? Apa yang akan kaulakukan seandainya kau jadi bebek itu? Hal ini akan membantu anak lebih memahami isi cerita dan mengaitkan dengan pengalaman mereka sendiri.
  • Biarkan anak Anda bercerita tentang hal-hal yang ditemuinya dalam lembaran yang menurut mereka menarik.
  • Dorong anak untuk ikut membaca jika mereka mau.
  • Ajak anak untuk menebak atau membuat prediksi tentang kisah di dalam buku. Menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya? Mama ingin tahu apa yang akan dilakukan bebek itu.

 

Usai Mendongeng, kita bisa:

  • Renungkan bersama.
  1. Apa hal terlucu dari cerita barusan?
  2. Apa kau menikmati kisah tadi?
  3. Apa bagian favoritmu?
  • Bicarakan tentang pesan yang terkandung di dalam cerita.
  • Menghidupkan-ulang kisah yang dibaca menggunakan boneka atau mainannya, atau Anda bisa pura-pura berperan sebagai karakter di dalam buku bersama anak Anda.
  • Perkenalkan anak dengan berbagai ragam aktivitas yang bisa mereka lakukan, seperti berikut:
  1. Minta ia menggambarkan karakter utama cerita.
  2. Minta ia menuliskan atau menggambarkan kisah akhir yang berbeda.
  3. Jika mungkin, hubungkan kisah dalam buku dengan pengalaman dalam hidup anak dan bicarakan bersamanya.
  4. Anda bisa membantu anak Anda membuat buku mereka sendiri berdasarkan kisah yang baru dibaca. Sebagai contoh, setelah membaca buku The Very Hungry Caterpillar karya Eric Carle, Anda bisa menulis bersama sebuah cerita berjudul The Very Hungry Boy atau The Very Hungry Snake.
  5. Anak Anda bisa membuat sebuah poster tentang buku itu untuk membiarkan orang lain tahu betapa menariknya cerita itu. Pilih dari buku favorit anak Anda.
  6. Minta anak Anda memberikan rating pada buku yang dibaca. Anda bisa mendorong mereka memberikan muka tersenyum, nilai dari 1-10, atau memberi komentar dan alasannya.

* Ingat untuk tidak mendesak anak Anda melakukan berbagai kegiatan ini kecuali mereka tertarik. Tujuan Anda yang utama adalah untuk memberikan kesan bahwa kegiatan membaca itu menyenangkan.

ilustration

“You may have tangible wealth untold. Caskets of jewels and coffers of gold. Richer than you can never be… I had a mother who read to me.” — Strickland Gillilan


Sumber:
Springboard to Reading and Writing (Kerrie Shanahan)

Sumber ilustrasi: abduzeedo.com (by Teagan White)

Telat Bicara

Radi, anak semata wayang dan kesayangan saya, cenderung telat bicara dari anak kebanyakan. Kenapa saya bilang telat bicara? Karena menurut panduan umum perkembangan anak, dalam hal kecakapan berbicara, anak usia 18 bulan mestinya minimal sudah mengucapkan 5-20 kata, sementara rentang 18-24 bulan sudah mulai menggabungkan dua kata, misal: “Mama susu”, “Papa pergi” (babycenter.com)

Sementara Radi yang bulan ini akan menginjak usia tepat 2 tahun, baru mahir berucap “mama,” “mam” untuk makan, “mo” untuk elmo dan sapi, “bu” untuk burung dan bigbird. Dan hingga sekarang, dia belum pernah menyebut bunyi namanya sendiri. Itu tidak jauh berbeda dari kecakapan yang sudah dikuasainya sejak umur setahun. Dengan kata lain, kecakapan verbal Radi seakan jalan di tempat. hiks

Tapi, selain dari aspek bicara itu, alhamdulillah perkembangan Radi sungguh  positif. Radi sudah lancar bermain puzzle mencocokkan bentuk, mendirikan menara. Dalam kecakapan emosi, Radi cukup mudah bersosialisasi, bisa diajak mengantre bila ingin memainkan sebuah barang yang sedang digunakan anak lain atau menunggu ayunan, bisa diajak berbagi (kadang-kadang), dan kalau mood isengnya lagi muncul, senang menjahili teman-temannya hihihi (gak tau yang ini ngikut dari siapa). Kalau nonton TV, bisa ketawa ngakak sampai mukanya merah dan berurai air mata, kalau lagi joget-joget ngikutin musik harus ada penonton yang menyaksikan. Udah bisa nyetel DVD sendiri, meski lebih baik dengan pengawasan orangtua :P. Jiwa eksplorasinya sangat tinggi; kalau lagi di tempat umum Radi ingin menjelajah ke seluruh pelosok dan sudut, nggak mau digandeng, nggak mau ditaruh di stroller, dan nggak peduli meski sudah jauh dari orangtuanya. Oh ya, Radi sekarang makin sering melancarkan aksi tantrum bila keinginannya tidak dipenuhi (yang seringkali adalah, keinginan menjelajahnya). Yap, tantrum ini saya sebut perkembangan positif karena ini memang tahap perkembangan emosi si anak menuju kemandirian, meski bukan perkembangan yang dinantikan para orangtua… terutama bila berada di tempat umum. *lap keringet*

Nah, selain dari perkembangan si anak yang superduper lincah bin jahil ini, satu hal yang hingga kini bikin saya rada cemas adalah kemampuan bicaranya itu. Entah karena selaku orangtua baru dan ini anak pertama, jadi saya hanya khawatir berlebihan, entah karena saya terlalu banyak membaca teori perkembangan anak, atau memang kekhawatiran saya sudah sesuai proporsinya. Saya tahu peta umum perkembangan anak itu jangan dijadikan bahan stres bagi orangtua. Itu toh hanya panduan umum. Bila ada tahapan perkembangan yang semestinya sudah dikuasai anak pada usia tertentu, mungkin pemberian stimulasi pada aspek yang tertinggal harus lebih digenjot lagi.

Saya pun sempat bertanya-tanya apa yang mungkin menyebabkan anak saya telat bicara. Kalau ditilik-tilik, memang ada banyak faktor yang mungkiiin bisa mencetusnya. Pertama, faktor keturunan/genetis. Kalau dari cerita para leluhur, eh oma, opanya Radi juga baru mulai ngomong usia 3 tahun. Sampai sudah panggil “orang pinter” segala (mungkin jaman sekarang ini sama dengan “speech therapist” :D). Faktor kedua, pengaruh lingkungan atau kurangnya stimulasi dari luar. Well, sebagai anak pertama dan satu-satunya di rumah dan dalam kondisi merantau saat ini, Radi sehari-hari memang praktis hanya berinteraksi dengan kedua orangtua. Ada sih teman-teman sebayanya di sini, tapi untuk bertemu dua kali seminggu aja itu sudah bagus dan durasinya pun terbatas, maksimal biasanya 4 jam. Sementara, kalau orangtuanya dua-duanya lagi sibuk, Papa dengan kuliah dan tugas-tugasnya, Mama dengan deadline editan, saya akui saya sering biarkan Radi nonton aja sendiri berjam-jam (dengan acara pavoritnya). Meski sering sembari multitasking, ketak-ketik tuts kompie sambil meladeninya.

Faktor ketiga, penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi. Menurut survei, anak yang dibesarkan di rumah dengan lebih dari satu bahasa cenderung lebih telat bicara daripada anak yang sehari-hari mendengar satu bahasa. Yah, Radi ini kan bisa dibilang terbiasa trilingual. Saya sendiri kalau bicara dengan Radi di rumah selalu dengan bahasa Indonesia, Papanya kalau bicara dengan Radi selalu dengan bahasa Sunda, sementara dari tontonan (karena saya tidak pernah kasih acara dubingan), bacaan dan aktivitas di playgroup Radi selalu mendengar bahasa inggris. Hm…pernah sih saya kepikiran kompakan sama papanya untuk fokus ke bahasa indonesia aja dulu, mengingat itu bahasa nasional dan bahasa ibunya. Tapi setelah mendengar saran dari praktisi pendidikan usia dini di sini, saya urungkan niat itu. Ternyata, mereka justru mendorong anak dibiasakan bilingual di rumah dan malah menyayangkan anak Indonesia yang fasih bahasa  inggris tapi  kehilangan bahasa ibu. Bagi mereka, dibesarkan dalam lingkungan bilingual justru merupakan keuntungan besar bagi si anak, terutama dalam jangka panjang kelak. Mereka mendasari pada fakta bahwa anak itu cepat nyerap, dan pada akhirnya mereka akan mengejar ketinggalan. In the long run it will be worth the efforts.

Saya sih tidak mau khawatir berlebihan. Dan kadang saya menghibur diri dengan mengingat orang macam Einstein, Thomas Edison dan Newton semua juga mengalami telat bicara semasa kecil menurut berbagai sumber (entah nyata entah tidak). Meski tidak berniat menyamakan anak saya dengan para jenius itu (oh, no), tapi minimal itu agak sedikit menghibur hati dan kembali membuka pemikiran bahwa aspek kecerdasan manusia itu sangat luas. Nggak bisa dilihat dari satu segi.

Dan saat ini, yang bisa saya lakukan selaku orangtua adalah memperbanyak stimulasi. Banyak-banyakin bicara dengan anak, menarasikan segala yang terjadi, apa yang dilihat, apa yang didengar. Kalau udah bingung mau ngoceh apa, menyanyi aja deh. Perbanyak interaksi one-on-one dengan anak. Setiap hari harus bacain cerita. Lebih sering ngajak Radi playdate dengan teman sebaya. Menggeser waktu kerja optimal ke waktu bobo siang Radi atau dini hari.

Meski kebanyakan orang biasa bertanya, “Radi udah bisa ngomong apa?”, saya nggak usah berkecil hati dan berlagak jadi ibu defensif. I know they all means well. Mungkin sama kayak mamanya, mereka juga sudah nggak sabar ingin mendengar Radi bicara.

Saya pun perlu belajar menata sikap. Belajar untuk tidak membandingkan perkembangan anak sendiri dengan anak-anak lain. Meski sudah tahu dari jaman dahulu kala bahwa tumbuh kembang anak itu beda-beda, tapi pada kenyataannya saya sering penasaran dengan perkembangan anak-anak lain yang sebaya dengan Radi. Saat di playgroup, saya terkadang bertanya kepada ibu lain (sambil membuka percakapan), “apakah anaknya sudah mulai bicara, n so on…” Padahal dipikir-pikir buat apa pula saya tahu. Kalau si ibu (yang anaknya sebaya dengan Radi) menanggapi “iya, anak saya sudah mahir bicara cas cis cus… sampai pusiing saya meladeninya”, ntar saya makin ciut. Sementara kalau dijawab belum, ntar saya malah membatin “yess, ada juga yang samaan. Ternyata bukan anak saya sendiri yang begitu.” So its all pointless. Semestinya, saya percayakan saja pada kemampuan anak sendiri. Kalau mau membandingkan, cukup dengan mengukur perkembangannya sendiri, kemampuan sekarang dengan hari-hari kemarin. Belakangan ini sih, Radi makin banyak ngoceh dari setahun sebelumnya, meski masih baceo tanpa arti. But I hope thats a good sign.

Ah, Radi, mama memang sudah tidak sabar ingin mendengarmu berbicara (dengan bahasa yang dimengerti tentunya).

Tapi yang terpenting, tumbuhlah menjadi anak yang baik hati, sehat dan senang selalu ya, Nak. Mommy will be with you in every steps of the way!… xoxo

 

 

Menanamkan Kesenangan Baca Tulis pada Anak

Harus diakui, menanamkan kebiasaan membaca pada anak menjadi sebuah tantangan tersendiri di era serba digital kini. Ketika anak lebih senang memegang gadget dan asyik memainkan games terbaru daripada memegang sebuah buku dan menghabiskan waktu untuk menamatkannya. Tapi tak usahlah risau ataupun gelisah. Masih banyak jalan menuju Roma. Atau dalam kasus ini, masih banyak cara dan upaya yang bisa dilakukan orangtua untuk memiliki anak yang selain gape dengan teknologi, ia pun dekat dengan dunia buku dan memiliki kecintaan membaca dan menulis—yang merupakan dua kunci menuntut ilmu dan menyebarluaskannya.

Dalam buku Springboard to Reading and Writing, Kerrie Shanahan memaparkan beberapa tips yang bisa dilakukan orangtua untuk menumbuhkan kesenangan membaca dan menulis pada diri anak yang sudah bisa dibiasakan semenjak usia dini.

Books everywhere!

  • Sediakan buku hampir di segala sudut rumah.
  • Taruh buku di tempat anak-anak bisa raih dengan mudah.
  • Sediakan buku di mobil.
  • Dorong anak untuk membaca di tempat tidur.
  • Berikan buku sebagai kado.
  • Manjakan anak dengan membelikan mereka buku atau majalah anak, sebagai pengganti cokelat atau mainan.
  • Ajak anak untuk menukar buku dengan teman-teman.
  • Dorong saudara untuk saling membacakan buku pada satu sama lain.
  • Lihat-lihat buku di penjaja buku bekas untuk mencari bacaan murmer dengan berbagai pilihan tema.
  • Sediakan tempat yang nyaman di rumah khusus untuk aktivitas baca buku. Bisa jadi sebuah sudut di kamar anak atau di ruang santai keluarga. Sediakan bantal-bantal empuk, buku-buku di rak yang mudah dijangkau, dan poster inspiratif di dinding.

Make it exciting!

  • Saat membaca pada anak, upayakan untuk membuatnya jadi menarik. Buat kisah makin seru dengan mengubah suara dan kecepatan membaca. Gunakan berbagai karakter suara yang menarik.
  • Beri pilihan pada anak.
  1. Kamu mau memilih buku apa untuk kita baca bersama?
  2. Kamu putuskan apa yang mau ditulis di kartu ultah Ayah.
  • Bermain peran karakter dari cerita kesukaan anak.
  • Bila anak ingin, beri mereka kesempatan untuk membacakan cerita pada kita. Tunjukkan minat dan semangat pada bacaan anak—meskipun Anda telah mendengarnya jutaan kali.
  • Selipkan sebuah pesan penuh cinta dalam secarik kertas di kotak bekal makan siang, di saku jaket, atau di bawah bantal mereka. Hal ini akan membiasakan dan menyemangati anak untuk berkomunikasi lewat tulisan juga.

Confidence is the key!

Kalau anak Anda percaya diri dengan kemampuannya membaca, mereka akan mau membaca. Tumbuhkan kepercayaan dirinya dengan menciptakan peluang-peluang bagi anak belajar menulis dan membaca. Dengan mengetahui kemampuan anak Anda, Anda akan menguatkan kepercayaan diri mereka sendiri dalam aktivitas baca-tulis.

Langkah yang dapat dilakukan:

  • Minta anak untuk mengenali huruf-huruf yang Anda tahu diketahui anak Anda.

              Kau bisa lihat huruf T di kata ini seperti di awal nama kamu?

  • Minta anak Anda mencarikan buku yang mereka tahu judulnya.

              Apa kau bisa mengambilkan kepada Mama buku berjudul Ruby Roo’s Teddy?

             Apa judul buku ini?

  • Minta anak Anda membantu Anda menulis dalam aktivitas sehari-hari, misalnya menulis daftar belanjaan.

             Bisa kau tuliskan benda-benda yang ingin kau bawa untuk piknik minggu depan?

            Bisa kau tambahkan susu di daftar belanja kita?

            Bisa kau tuliskan pesan di kartu ultah Rina?

  • Kalau anak Anda sudah bisa membaca beberapa buku (yang kemungkinan berdasarkan ingatan), dorong ia melakukannya.

             Tolong, apa kau bisa membacakan buku ini buat Mama? Ini salah satu cerita favorit Mama dan Mama senang sekali kalau kau membacakannya untuk Mama.

  • Minta anak Anda untuk membacakan kepada adik kecil atau kawannya.

             Kau bisa bacakan cerita ini kepada adik Sarah? Dia akan senang sekali mendengarkan anak sebesar kau mendongeng          kepadanya.

Be Positive!

Memberikan tanggapan positif terhadap usaha anak membaca dan menulis sangat penting.

  • Selalu gunakan kata-kata positif tentang kegiatan membaca. Hindasi mengasosiasikan buku dengan penghargaan atau hukuman. Membaca semestinya menjadi bagian wajar dari keseharian. Sebagai orangtua, kita mesti menciptakan kesempatan bagi terwujudnya sebuah hubungan antara anak dengan buku. Kita mesti mendorong mereka untuk memandang kegiatan membaca sebagai pengalaman berharga alih-alih sebuah kewajiban yang hanya terkait dengan tugas sekolah.
  • Bicaralah dengan anak seakan mereka pembaca dan penulis “sungguhan”.

              Kau bisa membaca begitu banyak buku!

              Aku suka tulisanmu ini. Bisa kau bacakan apa arti tulisan ini? Apa yang kaupikirkan waktu menulis ini?

  • Tantang anak Anda untuk mencobai berbagai hal baru.

              Bisa kau bacakan buku tentang bebek untuk Mama?

             Kau mau menulis di kartu pos untuk Nenek?

  • Tanggapi dengan penuh antusiasme saat anak Anda berusaha mencoba suatu hal baru.

             Hebat! Kau bisa menulis namamu sendiri.

             Wow! Kau membaca buku itu dengan pandai sekali.

  • Beri tanggapan spesifik alih-alih general.

             Huruf B yang kau tulis ini bagus, jelas sekali.

             Kau mengenali namamu di amplop ini. Pandai sekali.

  • Tanggapi penuh antusiasme dengan buku yang dibawakan anak Anda dari sekolah atau perpustakaan. Puji upaya dia membacanya.
  • Berkomunikasilah dengan guru anak Anda tentang kemajuannya di rumah dan sekolah agar umpan balik positif bisa diberikan dalam kedua latar.

Do As I Do…

Children see children do. Sepanjang kehidupan anak, mereka akan belajar begitu banyak dari Anda dan keseharian Anda, terutama di awal masa kehidupan mereka. So, be the first role model for your kids. Anda bisa tunjukkan betapa pentingnya membaca dan menulis dalam keseharian Anda!

  • Biarkan anak Anda melihat diri Anda dan anggota keluarga Anda yang lain membaca. Tunjukkan betapa menyenangkan dan bermanfaatnya aktivitas membaca itu.
  • Bicarakan dengan anak Anda tentang buku-buku yang Anda gemari dan alasannya.
  • Bahas dengan anak Anda aspek-aspek menarik dari bacaan Anda.

Lihat foto anak kecil di koran ini. Anak ini mengendarai sepeda seperti yang biasa kamu lakukan.

  • Saat Anda mengunjungi perpustakaan atau toko buku, pinjam atau beli buku untuk diri Anda sendiri selain untuk anak Anda.
  • Tunjukkan berbagai manfaat dari membaca—mencari alamat seorang teman, membaca iklan di surat kabar, mencari tahu petunjuk menggunakan peralatan baru, membaca resep, dll. Libatkan anak Anda dalam kegiatan ini dengan menjelaskan apa yang sedang Anda lakukan dan alasannya.

Share Your Child’s Achievement

  • Pajang hasil karya anak. Sediakan sebuah tempat khusus di rumah seperti pojok prestasi untuk memajang hasil karya anak Anda. Bisa di pintu kulkas, di papan bulletin, atau di dinding.
  • Kumpulkan sebagian hasil karya anak dan simpan di dalam scrapbook. Anda bisa tambahkan tanggal dan komentar pada setiap hasil karya.
  • Ajak anak untuk memberikan sebagian karyanya kepada teman-teman terdekat atau anggota keluarga.
  • Jika Anda bekerja di luar, minta anak Anda untuk membuat sebuah karya istimewa—sebuah tulisan, gambar atau lukisan—untuk Anda bawa dan pajang di ruang-kerja Anda.
  • Anda bisa membingkai satu atau dua hasil karya anak Anda. Bisa lukisan pertama mereka di TK atau kartu hari ibu yang dibuatnya sendiri.

 kids books

sumber foto: flickr

 

“There is more treasure in books than in all the pirate’s loot on Treasure Island.” — Walt Disney

“The more that you read, the more things you will know. The more you learn, the more places you’ll go.” — Dr. Seuss

“There is no substitute for books in the life of a child.” — Mary Ellen Chase (educator & author)

Homeschooling? Why Not?—part 2

Meski selalu tertarik dengan prinsip homeschooling, sebagaimana terungkap dalam riwayat belajar saya dalam lembaga sekolah pada bagian sebelumnya, namun homeshooling ini bagi saya tetaplah sebuah pilihan yang tak akan pernah saya jalani. Alasan utama, adalah karena tidak adanya sumber daya yang memadai, yakni waktu dan (keraguan akan) kemampuan diri selaku pengajar. Bahkan saya akui, mengambil keputusan meng-homeschooling-kan anak itu agak menakutkan bagi saya. Karena itu berarti, saya memutuskan untuk mengambil tanggung jawab penuh bagi pengajaran anak saya alih-alih mendelegasikan (sebagian) tanggung jawab kepada pihak  lain. Selain masih banyak pula kekhawatiran yang menghantui saya dengan alternatif pendidikan ini, seperti akankah kecerdasan sosial anak saya kelak menemui hambatan? Akankah di masa depan ia menemui kesulitan menghadapi konflik? Saya juga khawatir anak saya nanti terlalu nempel ke mamanya padahal ia akan hidup di masyarakat bukan di lingkungan keluarga kecilnya.

Selain faktor-faktor kecemasan ini, saya juga sudah berasumsi bahwa ide homeschooling ini tak akan pernah disetujui oleh partner hidup saya alias papanya Radi yang keluarga besarnya sebagian besar merupakan kalangan pengajar sekolah. Itu asumsi saya… hingga suatu hari tiba-tiba saja suami mengeluarkan wacana itu sendiri. Ternyata beliau makin terbuka dengan ide homeschooling ini setelah salah seorang temannya mengambil langkah ini. Beliau kemudian menceritakan pengalaman kawannya itu: Anak si kawan suami itu dahulu sering ditegur gurunya saat bersekolah di Indonesia karena sering kali melamun di tengah pelajaran. Saat anaknya bersekolah di Brisbane, kebetulan ia mendapat seorang guru yang lebih proaktif. Alih-alih menegur karena kebanyakan melamun, anaknya justru sering diberi challenge-challenge lebih ketika sang guru melihat anak didiknya sudah cukup mengerti dengan materi. Begitu pulang ke tanah air, ayahnya ingin menerapkan pendidikan yang lebih progresif dan lebih fokus pada minat dan kemampuan anak yang bersifat individual. Setelah meriset sana-sini dan menemukan satu atau dua sekolah yang cukup sesuai dengan keinginannya, nyatanya sekolah-sekolah itu mengaku tidak bisa menyediakan tempat bagi anaknya. Karena itulah ayah dan ibunya akhirnya memilih bahwa homeschooling merupakan metode yang paling tepat bagi anak mereka saat ini.

Suami saya kemudian berujar bahwa homeschooling ini bisa menjadi salah satu alternatif pilihan untuk mendidik anak kami kelak, khususnya di usia TK hingga SD karena masa itu adalah masa kritis dalam pembentukan karakter, penanaman kebiasaan baik, dan penguatan pondasi bagaimana dia memandang proses belajar hingga ke depan.

Ada macam-macam alasan orang memilih metode homeschooling ini. Sebagian besar karena sudah skeptis dengan metode pengajaran yang terlalu membebani anak dengan kurikulum tidak tepat sasaran, karena faktor biaya sekolah yang kian hari kian tinggi, karena jadwal yang sempit untuk bersekolah jika anak kita kebetulan ngartis *tepok jidat*, karena orangtua ingin menerapkan “personalized education” yakni memilah ilmu yang lebih dekat dengan minat dan bakat si anak, dan alasan macam-macam lagi.

Ada baiknya memang kita memikirkan ulang tujuan kita menyekolahkan anak di instansi sekolah itu apa sebetulnya. Untuk mencetak anak multitalenta? Atau sekadar untuk ngumpulin nilai dan dapat ijazah (seperti saya dahulu kala)?

Pengalaman buruk saya dengan sekolah tidak lantas membuat saya apatis terhadap sekolah lhooo. Optimisme itu tetap ada. Toh, saya lihat kini semakin banyak sekolah-sekolah berdiri yang menawarkan metode pengajaran alternatif, meski harganya banyak yang aduhai. Tidak seperti orangtua jaman dulu, orangtua jaman sekarang memang lebih disuguhi beragam pilihan sekolah bagi anaknya. Ada sekolah alam, montessori, ataupun sekolah yang mengklaim sebagai global school, dan bermacam-ragam lagi. Tinggal memilih dan memilah yang paling sreg di hati dan paling sesuai dengan konsep pendidikan orangtuanya.

Meski belum memiliki kecondongan akan memilih sekolah model apa untuk anak saya kelak *sabar, Radi belum genap 2 tahun*, saya sudah mengurut sejumlah syarat untuk memilih sekolah yang ideal baginya, yang kurang-lebih seperti beginilah: Sekolah yang metode belajarnya memfokuskan pada pengembangan bakat dan minat siswa dengan kurikulum yang tidak membebani (layaknya sekolah tottochan); porsi yang imbang antara bobot akademis dengan pengembangan kreativitas dan bakat anak; penekanan pada penguatan karakter (akhlak); tidak ada dikotomi antara pendidikan agama dan duniawi; tidak mengenal sistem rangking; di kelas tidak boleh lebih dari 20 siswa; dan biaya masuk maupun SPPnya tidak kelewat mahal. (Saya tidak ingin Radi merasakan pengalaman yang sama dengan yang dialami mamanya saat bersekolah di tengah lingkungan anak-anak borju). *dan daftar ini mungkin masih akan berkembang seiring perkembangan anak kami*

Mudah-mudahan kami berjodoh dengan sekolah yang demikian. Kalau nggak, homeschooling mungkin akan menjadi opsi terbaik. Kekhawatiran yang sebelumnya ada akan homeschooling ini nyatanya bukanlah sebuah hal yang mesti menyurutkan langkah. Kemampuan bersosialisasi toh bisa diasah di mana saja. Dan memilih homeschooling kan tidak lantas berarti memutuskan pergaulan anak dengan seisi dunia. Tinggal pintar-pintar pendidiknya saja kelak membuka ruang dan kesempatan yang luas bagi si anak untuk mengasah kemampuan sosialisasinya. Ada tutor, ada tetangga, ada komunitas. Malah saya lihat siswa homeschool (HS) cenderung memiliki kelebihan karena terbiasa berinteraksi rutin dengan komunitas lintas-usia alih-alih menghabiskan sepanjang hari dengan teman sebaya di kelas. Dan, kecemasan bahwa siswa HS tidak terbiasa menghadapi konflik itu kata siapa. Lantas apakah tekanan dari teman sebaya (peer pressure) atau bullying yang semakin marak merupakan konflik yang dibutuhkan bagi anak? Khawatirnya, konflik yang tidak proporsional malah akan kontradiktif dengan pengalaman belajarnya yang mestinya dibuat positif.

Sesungguhnya masih panjang perjalanan anak kami sebelum tiba masanya bagi kami untuk memilih sekolah yang paling sesuai baginya. Yah, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangan anak dan kondisi di depan. Yang jelas, homeschooling merupakan pilihan terbuka bagi kami. Pilihan yang jika pun kami ambil itu bukanlah karena ingin berbeda dari mainstream, bukan pula karena sikap apatisme (putus harapan) terhadap lembaga sekolah. Pun bukan sekadar untuk melampiaskan obsesi terpendam ibunya untuk menjadi guru taman kanak-kanak 😛 Kalau pun pada akhirnya nanti kami memilih metode homeschool, itu karena kami menganggap pilihan itu adalah jalan yang dirasa paling cocok bagi Radi untuk saat itu. Yang paling memuaskan batin dan mendekati cita-cita kami untuk mendidiknya menjadi manusia paripurna *ciyye.. eh, amiiin*.

Namun apa pun pilihan yang kelak kami ambil, saya tetap bertekad akan mengambil peranan sebagai pendidik pertama dan utama bagi Radi. Saya menganggap, instansi sekolah dan lingkungan hanyalah pendidik sekunder dan tertier bagi proses pengajaran anak kami. Basis pengajaran yang utama, tetaplah berpusat dari rumah.  Jadi sedikit banyak kami akan mengadopsi prinsip-prinsip homeschooling itu sendiri, dengan mengambil peranan aktif dan keterlibatan penuh dalam proses pendidikan buah hati kami.

 mom n son

Homeschooling? Why Not?—part 1

Jujur, meng-homeschooling-kan anak selama ini selalu menjadi isu menarik bagi saya.  Mungkin itu berangkat dari pengalaman saya yang buruk dengan sekolah. Ya, saya tidak pernah suka bersekolah. Entah kapan hal itu bermula, tapi saya rasa itu diawali sejak saya dimasukkan ke TK lalu lanjut selama di bangku SD. Saat kali pertama bersentuhan dengan sistem yang bernama sekolah—yakni TK—kebetulan saya mendapat guru yang kurang sabaran menghadapi anak “bermasalah” seperti saya.  Saya akui, saya bukanlah anak yang mudah kala itu (baca: anak yang selalu riang ceria). Saya sangat pendiam, belum tahu cara bersosialisasi, dan enggan ditinggal oleh mama saya. Jadilah, setiap hari saya menangis sepanjang masa TK. Diganggu teman saya menangis, teman merebut mainan saya menangis, ditinggal mami saya apalagi. Sekalinya saya dipuji oleh guru TK adalah saat saya tidak menangis di hari itu. Saya ingat beliau berujar di depan teman-teman sekelas menjelang bel pulang, “Lihatlah Nuraini yang tidak menangis hari ini. Nampaknya setan telah pergi meninggalkannya. Alhamdulillah, segala puja dan puji bagi Allah…”  Saya pun mendongakkan wajah dengan bangga hari itu.

So, taman kanak-kanak dalam memori saya adalah pengalaman teror diganggu anak bully, dirampas buku tulis favorit saat upacara, tak diacuhkan oleh guru dan kawan-kawan (karena siapa yang mau berteman dengan anak yang nggak bisa ngomong dan selalu menangis). Tamat TK ditutup dengan pesan sang guru kepada ibu saya bahwa saya akan sulit naik ke bangku SD karena belum bisa membaca. Maka sepanjang masa libur kelulusan TK, saya perlahan mulai belajar membaca di rumah dengan sendiri. Masuk kelas satu SD wali kelas yang baru menyampaikan pada ibu saya bahwa saya adalah murid yang paling pandai membaca di kelas.

Masa SD tidaklah membaik. Sebagai anak yang pendiam, tak memiliki kemampuan asertif dan membela diri, saya cukup sering menjadi objek bullying. Anak yang pendiam ini pun makin mengucilkan diri. Praktis hingga kelas 4 SD saya tidak punya teman. Kebetulan saat itu saya bersekolah di kalangan anak-anak “the haves” alias borju. Anak dari ekonomi ngepas nyaris tak memiliki tempat di tengah pergaulan mereka. Saya mengerti pilihan orangtua saya menyekolahkan saya di sana kala itu. Prinsip mereka, tak apa merogoh kocek banyak demi pendidikan anak asal anak medapat pendidikan terbaik dari segi agama juga duniawi di tengah masih terbatasnya pilihan sekolah pada masa itu. Maka hampir sepanjang masa SD saya selalu sakit perut setiap pagi saat hendak berangkat sekolah, dan hubungan tak baik dengan sistem sekolah ini nampaknya jadi terbawa terus selama masa bersekolah saya ke depannya.

Masa SMP bisa saya bilang adalah masa yang terbaik dari riwayat bersekolah saya. Kebetulan karena tidak sanggup dari segi ekonomi untuk meneruskan pendidikan di sekolah swasta yang sama, saya pun dipindahkan ke sekolah negeri yang agak pinggiran. Di sana berbaur anak-anak dari berbagai kalangan; dari anak dirut sampai anak sopir angkot. Di satu sisi saya bersyukur bisa keluar dari lingkaran anak borju yang sehari-hari hanya ngomongin barang bermerk, tren terkini, liburan ke luar negeri dan any other artificial stuffs *hoek*.

Satu pengalaman yang membuat hati saya terkesan hingga saat ini, adalah ketika suatu hari saya ketinggalan uang jajan di awal masa SMP saya. Saat mengetahui hal itu, beberapa teman baru saya (yang bisa dibilang dari ekonomi lemah) mendatangi saya dengan uang saweran mereka. Mereka mengumpulkan sedikit receh dari uang jajan yang mereka punya agar saya tidak bersedih. Saat saya menampiknya dengan halus, mereka akhirnya membelikan langsung es jeruk buat saya yang kemudian saya seruput dengan hati yang hangat dan mata berkaca-kaca. Saya belum pernah mengenal ketulusan semacam itu sebelumnya.

Meski tetap dikenal sebagai anak yang pemalu, saya akui kemampuan sosial saya mengalami perkembangan di masa SMP. Tapi dari segi pengajaran, sekolah yang agak buangan ini masih agak tertinggal. Guru-gurunya pun masih so old-fashion, tak jarang menerapkan hukuman fisik—memukul, mencubit, menjewer (yang sebenarnya tidak jauh beda dengan SD saya sebelumnya) juga verbal—membentak, mengejek dan melecehkan di hadapan kelas.

Lompat dari SMP yang dulu sempat heboh masuk berita nasional karena digusur itu, alhamdulillah saya berhasil masuk sekolah unggulan di SMA 70. Saya agak keteteran di kelas satu dan dua SMA, terutama karena saya tidak mengikuti materi pengayaan wajib yang berlangsung hingga sore setiap harinya (dengan upaya keras dari ibu saya untuk meminta izin ke pihak sekolah agar saya dibebaskan dari kelas-kelas tambahan itu. Alasan ibu saya sederhana saja, kasian melihat anaknya disuruh belajar di kelas dari pagi hingga sore hari). Entah karena ingin menjadi sekolah terunggul atau ingin mengurung siswa-siswanya di dalam kelas agar tidak keluar tawuran di siang hari, pihak sekolah menambahkan pelajaran pengayaan hingga waktu ashar yang diwajibkan dari kelas satu. Yang jelas, saya merasa sekolah kala itu terlalu memforsir siswa-siswanya dalam bidang akademis dan malah mematikan kegiatan ekstrakurikulernya.

Saya menemukan kesulitan dalam pelajaran eksakta dan hanya menyukai pelajaran bahasa dan sejarah.  Saya pun tahu akan memilih IPS saat penjurusan di kelas tiga karena tak sudi lagi bertemu dengan matematika—dengan sinus cosinus dan bilangan integral—yang saya sudah tahu pasti tak akan ada gunanya dalam kehidupan saya.

Selama bersekolah di SMA, rasanya motivasi saya masuk hanya sekadar mengisi absensi saja. Untung begitu masuk kelas 3 IPS 4, saya menemukan teman sebangku yang sama-sama doyan berkhayal. Saya pun jadi punya motivasi lebih untuk berangkat sekolah setiap harinya dan mengurangi durasi membolos saya. Kami selalu mengarang-ngarang cerita dan imajinasi kami di selembar kertas yang selalu dioper di antara kami saat pengajaran tengah berlangsung (yang tumpukannya udah jadi bundelan tebal). Syukur, meski jarang memerhatikan guru saat mengajar dan agak sering membolos, saya masih selalu masuk peringkat tiga besar. Saya pikir, mungkin memang begitulah gaya belajar saya—mesti soliter. Dan lagi-lagi, paling efektif di rumah sendiri. Selebihnya, saya merasa masa SMA adalah proses panjang mengisi absensi, belanja seragam, upaya kabur dari timpukan batu saat tawuran (yang sempat mencederai betis saya), dan kesempatan mengasah imajinasi saya bersama teman sebangku.

 

To be continued.

19 THINGS A MOM SHOULD TELL HER SON

1. Play a sport.
It will teach you how to win honorably,
lose gracefully, respect authority,
work with others, manage your time
and stay out of trouble.
And maybe even throw or catch.

2. Use careful aim when you pee.
Somebody’s got to clean that up, you know.

3. Save money when you’re young
because you’re going to need it someday.

4. Allow me to introduce you
to the dishwasher, oven,
washing machine, iron,
vacuum, mop and broom.
Now please go use them.

5. Pray and be a spiritual leader.

6. Don’t ever be a bully
and don’t ever start a fight,
but if some idiot clocks you,
please defend yourself.

7. Your knowledge and education is something
that nobody can take away from you.

8. Treat women kindly.
Forever is a long time to live alone
and it’s even longer to live with somebody
who hates your guts.

9. Take pride in your appearance.

10. Be strong and tender at the same time.

11. A woman can do everything that you can do.
This includes her having a successful career
and you changing diapers at 3 A.M.
Mutual respect is the key to a good relationship.

12. “Yes ma’am” and “yes sir”
still go a long way.

13. The reason that they’re called “private parts”
is because they’re “private”.
Please do not scratch them in public.

14. Peer pressure is a scary thing.
Be a good leader and others will follow.

15. Bringing her flowers for no reason
is always a good idea.

16. It is better to be kind
than to be right.

17. A sense of humor
goes a long way
in the healing process.

18. Please choose your spouse wisely.
My daughter-in-law will be the gatekeeper for me
spending time with you and my grandchildren.

19. Remember to call your mother
because I might be missing you.

 

(Taken from Blindfod facebook page)

For My Son, The Best of the World

 

Sebagai seorang ibu, saya ingin sekali memberi Radi segala yang terbaik di dunia. Yang terbaik di sini tidak berarti dari segi materi. Memberi segala yang ia inginkan… oh, tidak. No, no, not that.

Maksud saya itu, saya ingin mencemplungkan Radi dengan banyak aktivitas yang (tentu) ia sukai. Membekali dan memperkaya ia dengan beragam pengalaman. Membiarkan ia mencobai berbagai sisi dunia. Kelak belajar bersepeda, berenang, bercocok tanam, kemping di alam bebas, dan banyak bersosialisasi—hal yang dulu tidak dirasakan ibunya, even though I have a wonderful childhood 😛.

 I want him to experience it all. Absorb and getting the best of what the world has to offer. I want him to roam free and explore the world. To see how the world works through his own exploration and experimenting.

Saya tidak bermaksud mencetak anak super multi-talenta dengan mengenalkannya pada banyak aktivitas, baik di alam bebas maupun di dalam ruangan (kayak seni lukis dan berprakarya). Saya hanya berharap, dengan berbekal banyak pengalamannya ini, kelak ia akan belajar tentang nilai-nilai kemandirian, kreativitas, kepercayaan diri, kecintaan akan lingkungan, berempati dan tidak mudah putus asa. Semua itu ditimba dari pengalamannya sendiri—bukan dari omongan dan cerita-cerita orang, atau yang lebih parahnya, cuma didapat dari tontonan atau buku cerita yang dibacanya.

Saya memang lebih suka saat melihat anak saya menikmati kumpulan keluarga ayam berkotek-kotek di dekat rumah daripada saat ia menikmati teletubbies joget-joget dan berpelukaaan. Saya juga jauuuh lebih suka berlelah-lelah mengajak anak bermain di luar daripada membiarkan ia terhipnotis berjam-jam depan ipad.

Saya ingin meminimalisir peran gadget nanny sebisa mungkin. Gadget nanny di sini maksudnya ya TV, tab, ipad, dkk. Mengapa hanya meminimalisir tidak sekalian saja mengharamkan keberadaan TV di rumah? Saya memang tidak tertarik mengambil tindakan seekstrem itu, karena meski muatan tayangan TV banyak negatifnya tetap masih ada pula manfaatnya. Dan selama sesuatu itu masih ada manfaatnya ya mengapa tidak kita ambil dalam proses mendidik anak? Asal selektif, kita bisa suguhkan anak dengan tontonan yang menghibur sekaligus edukatif. Toh Radi banyak belajar bahasa asing justru dari tontonan cbeebies. Dan saya tidak ingin merampas kesenangan anak dengan menggemari karakter-karakter jagoan yang berasal dari tayangan kartun, misalkan superman, batman, handy mandy atau elmo (di usianya sekarang). Toh dengan menggemari karakter-karakter macam itu anak akan belajar dan (semoga) meniru sifat-sifat baik sang jagoan—seperti suka menolong, jujur, berani membela kebenaran dan orang-orang yang lemah. Hal-hal seperti itu kan didapat dari tontonan. Baik acara TV atau DVD. Hanya saja, ya tentu durasi menonton sebaiknya dibatasi, misal 2-3 jam maksimal tiap harinya demi menghindari ketergantungan anak pada si gadget nanny ini.

It’s a tough job as a parent, but you only have your childhood once. A childhood which then you would take to cherish and inspire you for the rest of your life.

06

Mengoptimalkan Masa Prasekolah Anak

Anak-anak belajar dengan bermain. Kecerdasan dan bakat mereka akan berkembang melalui pengalaman belajar yang mereka anggap menyenangkan dan yang melibatkan tubuh dan pikiran mereka. Karena itulah, orangtua harus memastikan bahwa masa prasekolah anak penuh dengan kesenangan. Tujuannya, adalah untuk membantu anak agar dapat mencapai potensi optimalnya.

Mainan, buku, atau lingkungan fisik bukanlah hal yang paling penting bagi anak. Yang paling berharga adalah lingkungan sosialnya. Kita bisa saja memenuhi rumah dengan berbagai mainan dan mengisi harinya dengan berbagai aktivitas. Namun, bila kita tidak terlibat langsung dalam kegiatan sang anak, maka sedikit sekali manfaat yang akan didapat. Kreativitas dan kepercayaan diri anak akan terbangun jika orangtua—selaku orang terdekat sang anak—menyediakan diri untuk ikut bermain bersama mereka. Jadi, turutlah berperan aktif dalam pengalaman belajar sang anak.

Poin-poin lain yang mesti dicatat untuk mengoptimalkan aktivitas bermain anak di masa prasekolah:

–          Biarkan anak merasa bebas mengekspresikan diri.

–          Biarkan anak tumbuh di lingkungan yang terbuka terhadap pengalaman dan gagasan baru.

–          Dorong anak untuk mempertimbangkan lebih dari satu penyelesaian untuk tiap masalah.

–          Disiplin itu tegas, tapi tidak bersifat menghukum.

–          Membiarkan keadaan rumah sedikit berantakan.

–          Orangtua terkadang harus membiarkan anak terus bermain jika ia menikmatinya.

–          Orangtua memberikan dukungan dan arahan tanpa ikut campur.

–          Anak diperkenalkan pada dongeng.

–          Anak didorong untuk berkhayal.

–          Anak dibiasakan bergaul dengan anak-anak lain.

 

Sumber: Permainan Cerdas usia 2-6 tahun karya Dr. Dorothy Einon (Erlangga for kids)

Youtube and Gadget Addiction

Saya suka bingung dengan orangtua yang membebaskan anaknya main game di tab atau ipad seharian. Lebih heran lagi, mereka yang membiarkan anaknya nonton youtube di gadget itu sesuka hati. Padahal anaknya masih balita, bahkan batita.

Menurut saya situs youtube belumlah pantas untuk diakses oleh anak kecil. Bagi balita yang baru belajar mengenal dunia sekitarnya, memang sungguh ajaib sekali situs ini. Hanya dengan satu klik jari ada ribuan video yang bisa dinikmati—mulai dari kartun, musik, iklan produk, sampai video-video absurd dan sampah sekalipun.

Namun sayang sekali bila anak kecil yang masih polos dan murni ini dikenalkan dengan segala sisi dunia mereka dari video youtube yang bisa diunggah dengan seenak udelnya oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Jelas-jelas ada begitu banyak konten pornografi dan kekerasan berserakan di sana.

Bagi saya, orangtua yang menyerahkan gadget dan membiarkan anaknya mengakses youtube atau situs mana pun tanpa pengawasan dan tanpa ada child lock adalah orang dewasa yang teledor. Itu sama saja kalau di jaman saya dulu kayak menyerahkan banyak judul video—mulai dari video kartun, video horor sampai video bokep—ke anak kecil sambil berkata, “silakan saja tonton apa yang disuka.”

Sungguh edan memang… Entah mengapa orangtua suka lebih khawatir terhadap keselamatan fisik anaknya, “Jangan panjat pohon terlalu tinggi. Nanti jatuh..nanti luka…nanti sakit…” Tapi untuk kesehatan batin yang tidak kasat mata diabaikan begitu saja. Ketika nilai-nilai kefitrahan mereka dirongrong. Digempur oleh nilai-nilai konsumerisme, kekerasan, pornografi *tarik napas panjang dulu*.

Sebetulnya, nilai-nilai apa yang ingin kita tanamkan kepada anak kita dengan membiarkan mereka bermain gadget dan menonton youtube day in day out?

Memang, gadget itu memudahkan hidup orangtua. Mereka nggak perlu repot sementara anak mereka bisa berjam-jam duduk manis depan gadget. Tapi… apa juga sih susahnya mendownload video yang digemari anak kita dari situs secara langsung, baru nanti pasang playlist video hasil downloadan ini dan membiarkan anak menonton sendiri. Memang siiih lebih repot dikit, perlu meluangkan waktu buat pilah-pilih video dan menyimpannya kan?… Hei, siapa bilang mendidik dan membesarkan anak itu nggak repot? Tapi itulah tugas orangtua.

Toh effort kita akan sepadan kok ketimbang anak kita terpapar pada konten-konten “menyeramkan” sejak usia dini.

Sebagai korban pelecehan di masa kanak-kanak, saya mungkin bisa dibilang agak parno (alias extra carefull) dengan hal beginian. Kalau bisa memilih, saya ingin sekali mempertahankan kepolosan anak selama mungkin. Malah kalau anak kita bisa dimuseumkan.. eh, disterilkan dari hal-hal macam begini betapa indahnya dunia… Tapi kan memang tidak mungkin ya…*ya sudahlah*  Itu memang kenyataan yang mesti dihadapi. Faktanya, kita memang sekarang hidup di era informasi digital yang kebablasan.

Kata orang-orang, anak jaman sekarang mesti melek teknologi sejak dini. Tapi hati kecil saya bertanya-tanya, apakah menyerahkan gadget—macam smartphone, tab atau ipad—kayak begitu sudah berarti mengajarkan anak akan teknologi? Saya pun tidak lantas mengharamkan anak kecil dari menggunakan gadget. Hanya saja, sebagai orangtua, tugas kitalah untuk mengajarkan anak supaya arif menggunakannya. Jangan sampai malah ketergantungan. Sebaiknya waktu penggunaan dibatasi dan konten gamesnya dipantau, alangkah baiknya yang bersifat edukatif. Dan sebisa mungkin jangan kasih akses buat nonton via situs langsung. Kalau mau nonton kan ada dvd, ada acara tv kabel yang masih aman macam cbeebies. Banyak pilihan kok. Intinya, jadi orangtua kudu selektif.

Anak saya memang masih sangat kecil saat ini. Baru satu tahun. Entah apa jadinya nanti ketika Radi sudah mulai ngerti menggunakan gadget begitu. Tapi saya percaya keinginan saya ini bukan sebuah utopia. Hanya saja untuk saat ini, mungkin saya mesti berkaca dulu. Tidak ingin anak kerajingan gadget, jangan-jangan saya sebagai orangtua juga tidak pernah lepas dari smartphone saya. Sebagai “stay-at-home mum” yang selalu menghabiskan waktu di rumah, saya akui saya sering merasa mati gaya kalau tidak buka sosmed tiap hari. Bahkan itu sudah jadi semacam kebutuhan.

Padahal kalau dipikir-pikir, orang-orang tua jaman dulu mana kenal dengan yang namanya fesbuk atau hape. Tapi mereka santai dan tampak content with their life. Jangan-jangan terlalu banyak terekspos dengan “dunia luar” malah nambah-nambah beban pikiran. Menjejali kapasitas otak dengan banyak pesan-pesan spam yang tidak dibutuhkan. Jangan-jangan lagi, kita malah menciptakan sebuah kebutuhan baru yang sebetulnya tidak (begitu) dibutuhkan. Yah cukuplah jadi kebutuhan tertier—kebutuhan aktualisasi diri alias eksis setelah sandang pangan papan tea.

So maybe from now on, I will write my new family rule: Kalau sedang bermain dan menghabiskan quality time dengan anak jangan kutak-katik smartphone, browsing ini itu, ceting sana sini. Hadirlah “sepenuhnya” (mind, body and soul) *apa coba* bersama mereka. Kita sendiri kerasa banget kan betenya setengah dicuekin oleh lawan bicara. Nah, itu pula yang dirasakan oleh anak. Meski mereka masih anak kecil, hargai mereka. Salah satu cara menghargai keberadaan mereka, adalah dengan memberi perhatian penuh kita pada mereka. Tentu tidak bisa 24 jam kita beri perhatian penuh. Toh sebagai seorang ibu (apalagi kalau tanpa ART seperti sayah) kita juga mesti masak, nyetrika, dan berkegiatan lainnya. Tapi tentu tiap hari kita bisa mengagendakan waktu bermain berkualitas dengan anak, saat kita sama-sama lepas dari gadget. Pure playing ‘n bonding.

Well sambil menulis ini, saya ingin kembali memperbarui ikrar saya…

Ketika tengah bermain dengan anak, akan saya tinggalkan hape saya dari jangkauan.

Ketika tengah bicara dengan anak, saya akan menatap matanya dan bukan layar hape.

Anak kita terlalu berharga, dan tanpa terasa masa kecil mereka akan berlalu begitu saja di depan mata kita.  So time to write more memories with them instead of with the gadget.