The Road to Recovery

Setelah menjalani operasi bypass jantung, lalu apa? Sedari masih dirawat di rumah sakit saya sudah berniat mengikuti Cardiac Rehabilitation Program seminggu setelah dipulangkan dari rumah sakit. Dari brosur yang saya dapat, program ini akan berlangsung selama 6 minggu dan free of charge.

Hari Jumat pagi saya pun berangkat sesuai jadwal temu yang sudah dibuat via telepon dan menunggu di ruang resepsi fisioterapi. Seorang suster tua bernama Jennifer menemui saya, dan proses assessment pun dimulai.

Selain bertanya-tanya tentang kondisi saya, dari dia saya jadi tahu lebih banyak tentang kondisi yang biasa ditemui oleh para pasien yang baru menjalani operasi jantung. Dia sempat kaget saat mengetahui saya berhenti menggunakan pain killer (panadol) yang diresepkan. Alasan saya simpel saja sebetulnya. Saya merasa ambang sakit yang saya rasakan masih bisa ditolerir dan saya memang tidak biasa mengonsumsi banyak obat. Jadi kalau khasiat obat itu hanya untuk menyamarkan rasa nyeri, saya tidak merasa begitu butuh untuk saat ini.

Sang suster nan baik hati ini (asli, susternya perhatian banget :P) kemudian bercerita panjang lebar bahwa saya baru saja menjalani sebuah operasi besar. Saat operasi berjalan, paru-paru saya dikempeskan sementara jantung saya dihentikan sementara. Kerja jantung lantas digantikan mesin yang mengambil alih tugas memompa darah ke seluruh tubuh. Arteri pada jantung dicangkok dengan pembuluh vena yang diambil dari paha saya. Balon juga dipasang di arteri utama selangkangan untuk membantu kerja jantung saya yang kemudian dicabut di hari ketiga usai operasi. Karena merupakan operasi yang cukup besar, jadi proses pemulihannya pun akan memakan waktu cukup lama. Minimal ada rentang 3 bulan sampai pasien diharapkan bisa kembali beraktivitas normal di masyarakat. So dont be too hard on yourself. Mengonsumsi pereda sakit akan membantu di masa-masa pemulihan luka operasi agar kita bisa beraktivitas secara lebih normal dengan ketidaknyamanan yang lebih minim.

Suster Jennifer juga menyarankan agar saya jangan terlalu takut-takut dengan diet makan saya. Setelah operasi saya memang sangat menjauhi daging-dagingan, segala makanan yang digoreng, santan, apa pun yang banyak mengandung saturated dan trans fat. Juga sangat mengurangi minum kopi susu yang dulu merupakan kegemaran saya. Kata suster, kopi sama sekali tidak masalah jika pun saya ingin minum secangkir setiap hari. Yang penting moderate. Yang jadi masalah kalau berlebihan, 5-6 cangkir tiap hari. Dia malah memastikan agar saya mengonsumsi daging sapi (a piece of red meat) tiap minggu karena biasanya setelah operasi jantung pasien kekurangan zat besi dalam darah yang berguna untuk pembentukan hemoglobin (noted, Bu Jennifer. Hari ini saya akan makan malam daging setelah kemarin-kemarin makan bubur oat doang :P) Siangnya saya juga langsung beli kopi susu soalnya kepala rada pening. Ah, suster coba dari dulu-dulu bilangnya. Teteuup saya akan sangat menjaga pola makan saya hingga seterusnya, tapi suster ini mengingatkan akan prinsip moderate (dibatasi bukan berarti tidak boleh sama sekali).

“It doesnt mean that we have to stop enjoying life. If you like to have a cup of coffe in the morning or eat a piece of cake, thats fine. Thats good. Sama sekali bukan masalah.” Begitu pesannya. 🙂

Suster Jennifer kemudian bertanya bagaimana perasaan saya saat mesti menjalani semua ini terutama di usia saya yang masih terbilang muda. Ini pasti berat bagi saya. Ditambah lagi kini mesti terpisah dengan putra saya untuk sementara waktu. Seketika pertahanan diri saya runtuh. Dia mungkin orang kesekian (oh, jangan ditanya yang keberapa) yang bertanya, “Mengapa orang seusia saya bisa sampai menjalani bedah bypass jantung? Kok bisa? Kok bisa?” Hanya saja dia menyampaikannya dengan gaya yang berbeda, “Apa yang kaurasakan? Pasti sangat berat untukmu. But I’m here to help.” Di hadapannya saya pun berterus terang bahwa peristiwa ini memang bagai petir di siang bolong. Mengagetkan diri saya dan keluarga saya sendiri karena selama ini saya tidak pernah tahu punya masalah jantung (meski ada riwayat dari keluarga). Kemarin-kemarin saya masih asyik bermain dengan Radi di playground. Beberapa hari berikutnya saya mendapat vonis adanya 5 sumbatan pada arteri jantung saya dan perlunya diambil tindakan bedah cangkok arteri (bypass) demi menyelamatkan nyawa saya. Dunia serasa jungkir balik setelahnya. Dan entah akankah sama lagi seperti sedia kala. Itu emosi yang kadang terselip.

Tapi saya tak pernah larut mengasihani diri, meratapi nasib, apalagi menyalahkan Tuhan. Saya justru merasa, seperti perkataan salah seorang teman dan Mama saya, bahwa ini bentuk kasih sayang Allah pada saya. Dia ingin saya lebih dekat lagi pada-Nya. Dia “memilih” saya untuk merasakan kuasa-Nya secara langsung. Bayangkan jantung saya yang telah berdetak semasa dalam kandungan ibu saya bisa dihentikan, untuk kemudian dihidupkan lagi (itu baru secuil kebesaran-Nya dari yang saya rasakan dan alami belakangan). Ya, ujian ini menjadi jalan bagi saya untuk semakin mendekatkan diri pada Rabb Penguasa semesta dan penggerak jantung ini, untuk menyucikan dosa-dosa saya, untuk menjadi seorang ibu, istri dan hamba yang lebih baik lagi. (bismillah…)

Kembali ke soal penyakit jantung, saya ingin sedikit berbagi. Menjadi seorang wanita di awal usia 30, tanpa pernah merokok dan minum alkohol, dan tensi darah yang rendah, kondisi saya memang luput didiagnosis dokter meski keluhannya sudah cukup lama dirasa. Bahkan GP saya di klinik sempat mengatakan bahwa wanita terlindungi dari serangan jantung sampai usia menopause. Sering orang bertanya seperti apa keluhan yang saya rasakan atau apa tanda-tandanya. Well, sudah beberapa tahun belakangan saya sering merasakan nyeri di pundak kanan saya bila merasa letih, dan nyeri itu menjalar ke kepala dan tangan kanan (bukan kiri) diikuti rasa sesak di dada. Saat itu saya tidak merasakan keringat dingin sama sekali, dan gejala serta merta hilang begitu saya cukup beristirahat. Diagnosis awal dokter (5 tahun yang lalu) itu adalah muscle strain atau kejang otot karena saya biasa menggunakan tangan kanan untuk bekerja alias ketak-ketik tuts kompie. Baru beberapa minggu belakangan saja selama berada di Sydney selain merasa nyeri pundak dan sesak dada, saya mulai merasa kliyengan kayak mau pingsan. Jadi kalau menemukan gejala-gejala seperti ini jangan disepelekan ya, kawans.

heart attack symptoms

heart attack symptoms

Yah, beginilah proses my road to recovery. Hope it’ll be a smooth ride and I’ll be much stronger and fitter than I were before… supaya bisa lebih gesit ngejar-ngejar Radi yang super duper lincah:P Mulai Selasa besok saya akan mengawali sesi rehabilitasi, disuruh bersepeda (untung sepeda statis wkwkk). Wish me luck!

 

Surat Cinta untuk Radi #1

Radiii, my very precious son, permata hidup dan penyemangat hari-hari Mama…

Surat ini ditulis pada hari Rabu 25 Juni 2014. Hampir genap seminggu setelah operasi bypass jantung Mama. Mama bersyukur hingga saat ini masih diberi amanah usia untuk terus mendampingi Radi yang sekarang baru 2 tahun dan lagi lucu-lucunya.

Masih berat sekali rasanya meninggalkanmu lama. Semoga Mama bisa cepat pulang dan lekas pulih. Mama akan terus berjuang untuk sehat sehat sehat…

Pesan Mama pada Radi, apa pun yang terjadi di hadapan, ingat kalau Radi banyak yang sayang. Radi punya Papa, Ninin, Aki, para mamang dan bibi Maleber, teta Lia, Mira ‘n Dewi, om Rudin dan tentu Oma. Belum lagi teman-teman yang tak terhitung banyaknya.

Jadi Radi jangan pernah tumbuh galau atau merasa kekurangan dengan ada atau tidak adanya Mama di sisi Radi secara langsung. Doa Mama pasti selalu menyertai.

 

Amir Rahadi Naufan…

Harapan Mama dan Papa, agar Radi kelak tumbuh menjadi seorang pemimpin pembawa cahaya dan kemuliaan. Bisa memberi manfaat kepada yang lain dengan keutamaan ilmu dan akhlak yang mulia.

Tumbuhlah menjadi pemuda berperilaku lurus, dekat dengan Tuhannya, dan yang kehadirannya selalu menyejukkan sekitar.

Radi anak Mama yang saleh, banyak-banyaklah baca agar ilmumu luas dan selalu minta pada Allah agar dikaruniai ilmu yang manfaat. Makin tinggi ilmu makin rendah hati selalu karena kedudukan seorang yang berilmu tinggi terlihat dari perilakunya dan caranya memperlakukan orang lain. Dari kemampuannya menjaga lisan, hati, dan pikirannya.

Mungkin banyak sekali petuah yang ingin Mama sampaikan dalam surat cinta Mama ini. Tapi untuk saat ini, cukup salah satu ayat Quran berikut dijadikan pegangan:

“Adapun bagi orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.” (Al-Insyiqaq:25)

Ayat-ayat seperti ini banyak bertaburan di dalam Qur’an. Allah selalu menggandeng keimanan dengan amal saleh karena keduanya saling bergantungan. Tiada gunanya keimanan tanpa amal kebajikan, begitu pula sebaliknya. Amal kebajikan tanpa disertai keimanan sia-sia saja.

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”

 

Radi, anak Mama yang shaleh…

Teruslah berusaha menempa diri agar termasuk ke dalam golongan mereka yang beriman & beramal shaleh ini. Jangan letih memperbaiki diri, senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan memohon agar selalu ditunjukkan pada jalan yang lurus.

Semoga kita kelak bisa dikumpulkan kembali di dalam surgaNya. Amiiin YRA.

Mama sayaaang sekali dengan Radi, dan tidak akan pernah putus mendoakan kebaikan bagimu, permata hati Mama.

 

Ditulis dengan penuh rindu di Bed 5 South Dickinson Building Prince of Wales Hospital.

IMG-20140703-WA0000

NB: InsyaAllah setiap 20 Juni Mama akan tuliskan “surat cinta” buat Radi. Meski orang biasa menganggap tabu untuk menulis wasiat seakan mau mati besok saja, tapi menurut saya berwasiat kepada anak merupakan salah satu bentuk cinta dan ikhtiar kita agar terjaga dari meninggalkan generasi yang lemah nan galau di belakang.

Mukjizat Kehidupan Kedua

Ya, mukjizat rasanya kata yang pantas untuk menggambarkan syukur tak terkira karena masih diberi nikmat amanah usia dan jasad hingga saat ini.

Jelang tengah malam hari Kamis 19 Juni 2014 saya memutuskan berangkat ke UGD Prince of Wales Hospital karena rasa sesak di dada dan kliyengan yang makin sering. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan (tes EKG, chest x-ray, USG jantung, dan terakhir angiogram), tim dokter memutuskan perlunya diambil tindakan bedah bypass jantung karena tiga arteri utama jantung saya tersumbat.

Saya ingat sekali kata-kata sang dokter usai melalui pemeriksaan angiogram yang terasa begituuu lama untuk mencari tahu letak sumbatan di jantung. “Menurut hasil pemeriksaan, dua arteri utama Anda sudah tertutup sementara arteri jalan belakang pun mulai menyempit. Saat ini yang mesti kami lakukan adalah mengambil tindakan penyelamatan nyawa dengan segera melakukan operasi bypass jantung darurat. Hope you’ll have a healthy long live ahead of you.”

Bersama dengan akhir ucapannya, tim dokter anestesi tiba di tempat dan mengambil alih. Saat ranjang didorong menuju ruang operasi, mereka memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan pesan kepada suami, dan pesan yang terpikirkan saya saat itu hanya, “Jaga Radi. Jaga Radi. Jaga Radi, Pa.”

Entah jika diri ini masih diberi kesempatan untuk turut membesarkan putra kami atau tidak, yang jelas saya ingin Radi dijaga dengan sebaik-baiknya. Memang masih sangat berat rasanya jika harus meninggalkan putra kecil saya yang kemarin baru genap 2 tahun. Apalagi pas berangkat ke UGD tadi masih terekam jelas di benak Radi nangis-nangis nggak mau ditinggal mamanya. Itu yang terus memberatkan batin ini. Tapi saya berusaha pasrah dan ikhlas atas segala ketetapan Tuhan.

Sekarang telah berlalu dua minggu usai operasi jantung saya. Berat juga rasanya menjalani masa pemulihan 4 hari di ruang ICCU, masa perawatan selama 7 hari, belum lagi serangkaian tes yang serasa tak ada habisnya saat berada di tanah rantau, jauh dari keluarga dan kerabat. Jujur, rasanya saya tidak akan sanggup menjalani hari-hari di Prince of Wales Hospital sendiri tanpa pertolongan dari Allah. Bayangkan, baru sorenya saya mengeluhkan (alias mengira) rematik pada tangan kanan saya ke dokter di klinik kampus. Tanpa menyangka hanya selang beberapa jam kemudian saya akan menjalani operasi jantung darurat yang sekaligus merupakan operasi pertama saya.

Kini Radi sudah dibawa pulang ke tanah air lebih dulu oleh mama mertua karena saya masih kesulitan ngasuh Radi sendiri dengan kondisi fisik yang terbatas sementara suami sibuk kuliah. Dengan begitu, saya bisa fokus untuk pemulihan dan harapannya, Agustus saya sudah bisa pulang kampung. Amiiin YRA.

at Prince of Wales Hospital

12 hari di Rumah Sakit Prince of Wales

The Day the Boy Turned Two (In Pictures)

Horeee, 28 Mei 2014 Amir Rahadi Naufan (alias Radi) genap berusia 2 tahun! Berikut rangkuman hari istimewa Radi dalam jepretan foto. 🙂

 
Awal hari, Radi yang belum ngeh sedang berulang tahun (yeah you are the birthday boy, son!) disuguhi hadiah spesial (tanpa bungkus kado karena gak sempet hihi..) dari papa mama. DVD the Wiggles (kelompok nyanyi bapak-bapak kesukaan Radi), puzzle djeco ‘n bus boardbook sesame street. Yeyy *kok mamanya yang girang* 😀

ultah8

potonya nabrak cahaya yee

Boardbook sesame street langsung jadi favorit birthday boy. Buku dengan kertas tebal yang bisa disusun menyerupai bus. Daan… nggak lama kemudian, busnya sobek sodara-sodara hiks…saking super excitednya Radi bolak-balik keluar masuk bus. Seneng banget dia merasa berangkat sekolah naik bus bareng Elmo. 😀 Ya sudahlah, memang petunjuknya sebetulnya diperuntukkan bagi anak usia 3 tahun ke atas.

Pukul sepuluh pagi, ada yang datang mengetuk pintu. Wow, surprise! Ternyata teman-teman kosan mampir mengantar kue ultah buat Radi. Terharu… thanks you guys, it means a lot. Radi syeneeeng banget makannya. Dan mamanya jadi nggak perlu bikin kue deh, hehe… Sayang nggak kepoto temen-temen Ubudersnya 😛

Jelang sore, mulai mati gaya. Radi cuma bobo siang bentar dan tampak mulai bosan terkurung dalam rumah. Akhirnya, mama berinisiatif ngajak Radi ke tempat bermain favoritnya, the playground. Ok, kiddo, since this is your special day we have to make it extra special then. Your wish is my command. Lets hit the playground! (Radi emang nggak betahan seharian di dalam rumah, padahal mamanya anak rumahan banget huhu..eh yihaa ding..let us explore the world together 😛 )
Si bocah pun puas bermain ayunan dan perosotan. Bagian susahnya adalah ngajak dia pulang hihiy… Yang tadi niatnya cuma main setengah jam di taman, jadi molor satu setengah jam. Biar deh nak, yang penting kamu puas (selain pengobat kecewa setelah bus elmonya sobek dan terpaksa disingkirkan mama dulu 😛 ).

Di jalan pulang, Papa Radi nelpon ngasih tahu karena tugas kuliahnya udah beres hari ini, mau ngajakin kita jalan-jalan ke Darling Harbour lihat pertunjukan sinar laser dan tarian air mancur (salah satu program Vivid Sydney 2014). Asyiiik…hayuk deh, kita lanjut jalan lagi! Radi super girang meski kurang bobo siang. (Hey we told you we were going to make your day extra special, you outdoorsy boy you 😛 )

ultah15

menunggu di halte bus

Pukul tujuh malam, pertunjukan sinar laser baru dimulai. *psst, ternyata di sebelah si Maliq n the Essentials ikutan nonton… tapi si papa ogah minta tandatangan ‘n poto bareng haha*
Pas musik menggelegar, Radi malah kabuuur dari barisan depan. Kaget kali denger volume musiknya yang kuenceng (he doesnt like loud noises).

ultah3

pertunjukan sinar laser ‘n air mancur dimulai!

Beginilah wajah Radi selama atraksi sinar laser berlangsung. Penuh kewaspadaan. 😀

Sempat nonton street performance (entah ini tarian atau atraksi debus).

Okay, the boy look sleepy now. Time to head home. Nighty night, my favourite son.


Selamat dua tahun, Nak! Go ahead, grab and enjoy your terribly (terrific) two to the fullest cos you only live it once! :*

An Oasis Called the Library

Aktivitas rutin nan mengasyikkan kami selama di Sydney adalah mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan favorit yang sering kami datangi adalah Margaret Martin Library dan Bowen Library. Martin Library bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 20 menitan dari rumah *cihuy*.

Selain buku, di perpustakaan sini juga tersedia berbagai mainan anak. Makanya Radi betah 😛 Mainan boleh dipinjam kalau kita bikin kartu peminjaman khusus mainan dengan biaya $40 selama setahun. Kartu mainan ini memberi kita hak untuk meminjam mainan sampai 5 item selama 2 minggu yang boleh diperpanjang sampai dua kali. Juga kesempatan untuk mengikuti workshop yang diadakan perpustakaan.

Papa Radi paling seneng pinjam dvd di perpustakaan. Kalau saya paling seneng minjam mainan; puzzle dan boardgamenya.. hihi..padahal pakai kartu mainan Radi. Saya juga sering pinjam buku-buku parenting. Lumayan buat bekal membesarkan anak 😛  Isi buku yang saya pinjam bakal saya catat di blog, kalau ada yang menurut saya patut dicatat. Mumpung di luar negeri dan dapat akses banyak dari  perpus, sayang kalau tidak dimanfaatkan, buat menambah ilmu dan berbagi dengan yang lain.

Sekali seminggu saya juga mendaftarkan Radi ikut kelas batita “Baby Love Books”. Gratis! Selama setengah jam, Radi menyanyi, menari, dan mendengarkan cerita anak dan nursery rhyme bersama anak-anak lainnya. Radi girang abis selama sesi kelas itu berlangsung. Nanti kalau udah genap 2 tahun, Radi bakal naik kelas ke “Bop 2 Books”—program buat anak usia 2 tahunan.

Saya suka mikir, kapan yaa di Indonesia ada fasilitas seperti ini buat anak-anak. Tapi memang capek juga kalau kita terus saja membanding-bandingkan situasi dan fasilitas yang ada di negara maju dengan negara kita. Mestinya, ini malah semakin memicu saya—yang alhamdulillah diberi kesempatan menikmati fasilitas dari negara lain—untuk bisa membawa perubahan saat kelak kembali ke tanah air.

Siapa tahu, kelak saya bisa mewujudkan mimpi saya untuk mendirikan semacam rumah bacaan anak. Di tengah gencarnya teknologi digital menggempur anak-anak kita, saya ingin sekali melihat anak-anak bisa tetap dekat dengan dunia buku. Karena buku adalah jendela dunia yang mampu membuka wawasan dan mendorong mereka untuk berani bercita-cita. Siapa tahu, nanti di “rumah” itu kita bisa bikin kelas-kelas gratis yang mampu menunjang kreativitas mereka seperti yang diikuti Radi saat ini. Siapa tahu…

 

Bye-Bye Bandung, Hello Sydney!

Tanggal 12 Desember 2013, resmi kami meninggalkan Bandung untuk sementara waktu. Berangkat naik pesawat Garuda yang terbang pukul 23.00 malam. Harapan kami, jam segitu Radi udah bobo pulas. Nyatanya, di bandara si bocah masih ceria ajah. Bersemangat naik-turun tangga terminal keberangkatan terus-menerus *yang nemenin yang encok* Excited kali dengan tempat yang asing.

Untunglah, selama penerbangan kami tidak menemukan kesulitan yang berarti. Meski si bocah pas pesawat mendarat ogah dipangku. Dan malamnya sempat rewel, nangis-nangis bentar. Mungkin kesel karena tempat tidur yang disediakan buat bayi udah gak muat buat Radi (maksimal 9 kg). Jadilah Radi bobo dipangku. Pas dia mau bergaya akrobat saat bobo—sebagaimana biasanya—jadi kebangun-bangun dan rewel karena tidak ada ruang buatnya “berekspresi”. 😛

Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Bandara Kingsford Sydney pukul. 9.30 pagi waktu setempat.

Mungkin karena sudah dekat holiday season, antrean bea cukai di bandara cukup panjang. Kami yang menenteng banyak bawaan plus ngejar-ngejar Radi karena strolernya belum dijemput dari pesawat cukup ngos-ngosan dibuatnya. Pas strolernya udah bisa diambil, Radi jadi lumayan “jinak” dan kami pun bisa bernafas lebih lega dikit. Asal strolernya mesti gerak terus, kalau diam di tempat bentar pasti si bocah protes. Sewaktu di konter pemeriksaan makanan pabean (dengan abon yang diragukan kelolosannya karena nggak berlabel), saya sempat ditegur keras petugas tuanya yang mengira saya mau kabur karena strolernya digerak-gerakkin maju-mundur. *yah, mungkin memang begitu protokolernya. But chill out a bit, sir. Mana mungkin juga saya lari sambil ngedorong stroller seberat ini* Untung abonnya lolos, dengan pesan jangan bawa lagi makanan homemade macam begitu. Padahal kalau nggak lolos juga nggak apa-apa sih. Banyak yang jual di Sydney juga:P

Akhirnyaaa…kami beres dari segala urusan keimigrasian yang ribet itu pukul 12.00 siang. Matahari sudah bersinar terik. Kami dijemput Ko David (landlord kami) dengan mobilnya. Radi yang duduk di carseat tidur pulas sepanjang perjalanan *capek nih ye*.

akhirnya, sampailah kita di bandara Kingsford Sydney

akhirnya, sampailah kita di bandara Kingsford Sydney

Seminggu di Randwick

Judulnya seminggu di Randwick bukan di negeri kangguru karena saya memang baru “beredar” di seputar komplek rumah seminggu pertama ini. Di sekitar distrik Randwick aja. Belum mampir ke Opera House yang termahsyur itu, belum pula liat bayi koala atau kangguru. Yah…take your time. We will be here till mid 2015. Dan Opera House kayaknya nggak akan kemana-mana.

Tiga hari berada di sini, saya masih agak overwhelmed. Segalanya serba tertata dan sistematis. Contoh, saat membayar di supermarket dan kita mesti bayar sendiri pakai mesin layaknya atm. Naik bus sudah ada rute pasti, nggak bisa minta naik-turun di halte sesuka hati (ya eyyalah mang kudunya begituh :P). Tentang penggunaan tiket bus pepaid dan angkutan umum lainnya. Tentang tata aturan yang berlaku di sini, seperti berdiri di eskalator mesti di sisi kiri kalau nggak buru-buru, stroller di bus mesti ditaruh menghadap belakang bus dengan ibu duduk menghadap bayinya. Dan aturan-aturan lain sebagainyah.

Tapi seminggu menjelajahi kota, saya sudah lumayan kerasan. Saya sudah berani pergi dengan Radi sendiri minimal sampai bundaran kota (sekitar dua blok dari rumah :D). Dan saya rasa, saya bisa dengan mudahnya jatuh hati dengan kota ini. Sudah kebayang sendiri betapa akan serunya membesarkan Radi di sini. Gimana nggak, kata orang-orang, di sini anak kecil dianggap sebagai warga negara kelas satu. Fasilitas anak tersedia di mana-mana. Taman bermain, kelas bermain gratis, stroller bisa masuk bus, fasilitas kesehatan, pilihan produk makanan sehat buat anak, and I can go on and on…

Terlepas dari keluhan orang tentang betapa bebasnya masyarakat di sini, tapi saya lihat itu lebih hanya ke busana dan cara berpenampilan mereka. Mereka tidak malu menunjukkan jati diri mereka sebenarnya. Mau bergaya bencong abis-abisan, mau bertelanjang dada ke supermarket, sah sah saja di sini. But, the common courtesy here is really admirable alias patut diacungi jempol. Kalah jauuuhlah Indonesia. Disiplin mengantre, membantu ibu-ibu bawa naik dan turun stroller dari bus, selalu mengucapkan “maaf” dan “terima kasih”, menjaga kebersihan, mendahulukan orang sepuh dan anak kecil terutama di kendaraan umum… Nggak heran, banyak yang bilang “Kalau mau nyari di mana prinsip-prinsip Islam dijalankan, jangan nyari ke negeri Islam. Cari ke negeri-negeri maju di Barat.” (meski miris dengernya, tapi memang ucapan itu ada benarnya kalau menurut saya)

Well, semoga saja Radi juga betah (kayak mamanya) untuk menjalani hari-harinya di Sydney sampai 1,5 tahun mendatang. Naga-naganya sih, anak saya yang memang nggak betah di dalam rumah ini bakalan senang. Keinginan besarnya untuk menjelajahi dunia akan lebih tersalurkan, pastinya. It’s gonna be a fun adventure, son. Bismillah…

sydney26

The Reunion

Saat melepasnya pergi malam hari di Bandara kala itu—tanggal 24 Juni—tak kusangka perpisahan kami akan begitu lama. Sebelumnya saya mengira akan segera menyusulnya di bulan September, atau paling lama Oktober. Tapi, karena satu dan lain hal—utamanya karena proses visa yang berbelit dan kurangnya antisipasi—akhirnya reuni kami baru kesampaian di penghujung malam 29 November.

Suami menjejakkan kaki di rumah saat jam sudah menunjukkan pkl.22.30 malam. Radi sudah tertidur pulas sedari lepas magrib. Baru saat bangun paginya, si bocah nampak terpekur bingung saat dilihatnya ada sosok pria menggeletak di sisi ranjang. It’s your Papa..

Biasanya saat ditanya “Papa mana?” Radi selalu menunjuk ke foto yang terpampang di atas ranjang. Kali ini saat bangun pagi ditanya pertanyaan yang sama oleh mama, Radi nampak bingung. Matanya berkali-kali memandangi antara foto dengan pria di sampingnya, berganti-ganti.  hihihi

Memang awal-awalnya Radi kayak bingung dan nggak “ngeh” dengan kehadiran kembali papanya. Tapi tak lama, saat diajak bermain bola dan jalan-jalan di halaman pagi harinya, digendong-gendong dan main bersama siang harinya, menjelang malam Radi udah lengkeeet seperti gak mau lepas dari papanya. Si bocah nampak gak puas-puas memberi ciuman, pelukan dan ngajak Papanya main terus. Duh…yang kangen nih ye..:P

*late posting 😛 *

Our Three Years Journey

 

I asked one day to the man of my life, “Will your feelings for me be lesser when I’m older and my face covered with wrinkles?”

“No,” he replied reassuringly, “my feelings towards you will only blossom by then.”

At first I thought his quick reply was only to please me.

But it’s true, perhaps. That a genuine affection should blossom by time.

A true love is not an artificial feeling that depends only on exterior beauty.

It’s a feeling that will grow and strengthen through our shared experiences.

When we carved new memories together.

Akad 21 November 2010

Akad 21 November 2010

 

Our three years journey is filled with many bitter sweet stories—way more on the sweetness, for sure.

We have shared many tears and laughter together.

When we lost the long-awaited baby in my womb.

The birth of our first son.

Our hesitation—me for the most part—to buy our own house where we intend to build a new foundation for our little family with our own identity, but then decided to just go for it.

And finally, experiencing long-distance relationship for nearly half a year—half year which feels like half a decade.

 

Along the journey, I’m proud to say we’ve manage our conflicts pretty well.

We have learned to compromise wisely.

And to respect each other characters as an individual.

 

Though three years is relatively a short period of time.

And we may have only taken some baby steps.

But I believe, darling, hand in hand our love will only strengthen and blossom through the test of time.

 

I love you, Ihsan Naufan.

Thank you for being such a best friend for the past three years.

I cant wait to see what the future holds for us.

To pursue our dreams together and to spend the rest of my life time with you.

sejoli

Ahoj, Karinka!

“Karinanya udah ada, teta!” seru Rian penuh semangat di ujung sambungan telepon. Mengabarkan kehadiran adik kecilnya di dunia fana usai operasi SC mamanya di Rumah Sakit Jakarta.

 

Karina Syifa Mastura lahir Jumat pagi tanggal 1 November 2013 di Jakarta. Berat 2,9 kg dan panjang 46 cm. My new baby niece! 🙂

IMG-20131101-WA0003

Oma ikut menginap di RS Jakarta selama beberapa hari. Ikut membantu merawat cucu ketiganya dan mamanya yang masih proses pemulihan.

Bersama Papa dan abang siaga 🙂

IMG-20131102-WA0001

Ya, selamat! Anda telah resmi menjadi seorang kakak!

Ahoj, Karinka! Selamat datang, Karina tersayang! Semoga kelak kau tumbuh menjadi anak yang sholehah, indah akhlaknya, penyejuk hati dan kebanggaan keluarga. (kiss :*)

karina mastura

the beautiful angel :*

Oleh-Oleh Jakarta

Jadi ceritanya, hari Rabu 9 Oktober 2013 saya bersama oma dan Radi berangkat ke Jakarta untuk keperluan medical check up sebagai prasyarat visa dependen ke Australia. Setelah hampir seminggu diundur-undur karena Radi yang sempat sakit, akhirnya jadi juga berangkat. Radi masih batuk sedikit, tapi insyaAllah nggak masalah. Toh anaknya tetap lincah dan badannya udah nggak anget. Kalau diundur terus ntar keburu kepotong libur Idul Adha, terus minggu depan lagi ntar jadwal tamu bulanan jadi nggak bisa periksa urine. Nah kalau gitu kapan keluar visa ‘n nyusul si papa atuuh…

Maka bismillah saja… Hari Selasa saya pun pergi beli tiket ke PT KAI. Ternyata antrean pembelian sudah ramai gara-gara menjelang long wiken Idul Adha *halah, baru inget* Tiket eksekutif sekarang Rp. 80.000, oma dapat diskon manula jadi Rp. 64.000, sementara Radi yang baru 1 tahun bayar 10% (da gak dapat kursi) jadi Rp. 8.000.

Setelah tiga tahun lebih tidak menggunakan jasa kereta, saya lumayan kaget dengan banyaknya perubahan yang terjadi. Contohnya, pembelian tiket sekarang udah kayak di teller bank—pakai ngambil nomor antrean. Ini gebrakan bagus sih mengingat budaya antre masyarakat kita yang masih amat rendah, saling serobot sana-sini. Lihat aja cara orang-orang kita naek lift. Langsung berusaha menerobos masuk tanpa mempersilakan orang-orang di dalam lift buat keluar lebih dulu. Tuh, jadi out of topic, kan. Gara-gara suka kebawa emosi sendiri kalau udah soal perkara antre-mengantre. *too much negative experiences*

Selain itu, sekarang orang-orang yang mengantar dan menjemput penumpang sudah nggak boleh masuk peron. Bagus sih… mungkin demi menghindari calo, selain itu juga jadi lebih tertib dan itung-itung berbagi rejeki sama kuli angkut barang. Kalau di dalam kereta sendiri sih nampak tidak banyak perubahan berarti. Tapi saya lihat kondisi WC sudah dilengkapi wastafel dan sabun cair. Dan di samping kursi penumpang dilengkapi colokan listrik buat ngecharge hape or laptop. Oh ya, satu perubahan yang disesali, sekarang sudah nggak ada bagi-bagi snack di kereta. 😛

Doa saya sebelum berangkat, semoga Radi nggak pup di jalan, alhamdulillah terkabul. Heuheu…untunglah si bocah milih pupnya pagi-pagi banget sebelum berangkat. Sementara jadwal keberangkatan kereta pukul 9 pagi.

Ini adalah pengalaman pertama Radi naik kereta looh… Di usia 16 bulan…horee!  Agak cemas juga karena pas awal masuk kereta Radi nampak ingin lari-lari terus sepanjang lorong, sambil tangannya ngoprek-ngoprek segala yang dia lewati. Duh gimana yah kalau sepanjang perjalanan 3 jam ini Radi– yang rasa ingin tahunya begitu tinggi ini–nggak mau duduk manis di tempat. Tapi syukurlah begitu kereta mulai jalan dan diimingi susu, Radi mau juga duduk dipangku sambil minum susu dan lihat-lihat pemandangan. Nggak lama, Radi pun tertidur lelap sampai 1,5 jam. Sisa waktu selebihnya dihabiskan Radi dengan bermain papan gambar yang sengaja saya beli untuk perjalanan selama 30 menit, lihat-lihat pemandangan 30 menit, digendong sambil berjalan-jalan di lorong kereta saat Radi mulai rewel mau menjelajah lagi selama 15 menit, dan bacain buku cerita 15 menit. Alhamdulillah, 3 jam perjalanan terlewati tanpa insiden berarti. Radi cuma sempat teriak-teriak protes sedikit waktu dilarang jalan-jalan di lorong sewaktu kereta bergoyang-goyang di relnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Keesokan hari, baru kami berangkat ke Medikaloka Health Centre di Kuningan. Untuk keperluan medical check-up mereka melayani dari pukul 12.00-15.00.Tarifnya lumayan mahal. Untuk pemeriksaan kesehatan saya dikenakan tarif Rp. 525.000, plus bayi satu tahunan Rp. 250.000. Jadi total saya keluar kocek Rp. 775.000. Tapi layanannya sesuai dengan tarifnya. Ruangannya cozy, dan nggak pakai antre (mungkin juga karena memang kebetulan lagi sedikit aja yang datang yah :P).

Proses medical check-up saya meliputi: periksa urine, periksa mata, chest x-ray dan sesi pemeriksaan umum/tanya jawab dengan dokter. Kalau Radi cuma ditimbang dan diukur kayak di posyandu, plus sesi tanya jawab dengan dokter. Saya ngasih catatan imunisasi anak saya, tapi si dokter cuma lihat sekilas saja. Tadinya sempet ngirain Radi mesti diberi vaksin tambahan, kayak vaksin influenza, cacar, atau semacamnya yang mungkin di Australia sana diwajibkan sementara di sini tidak. Tapi ternyata tidak. Alhamdulillah deh. Kata dokter sih, visa biasa keluar sekitar 2-4 minggu setelah proses medical check-up. Mudah-mudahan saja visa saya sudah bisa keluar dalam 2 minggu *fingers crossed*.

Keseluruhan proses pemeriksaan nggak sampai memakan waktu satu jam. Syukurlah, soalnya Radi udah mulai rewel. Kayaknya si bocah capek. Tadi sempat macet lumayan lama menuju Kuningan. Belum lagi sepanjang perjalanan di mobil tadi Radi nangis-nangis mulu minta duduk di balik kemudi. Ini gara-gara om Yudi—yang dengan baik hati sedia mengantar—suka memangku si bocah sambil nyetir saat memasukkan mobil ke garasi atau saat keluar gedung sebelum masuk jalan raya. Tapi semenjak insiden Radi mengamuk nagih terus pengin jadi sopir, saya sudah nggak ijinkan lagi Radi duduk di balik kemudi. Kasian juga kan kalau anaknya jadi bingung dengan mixed message yang diterimanya; kadang dikasih (kalau di komplek atau macet) kadang nggak. Mana nangisnya heboh dan lama banget lagi. Maafkan Mama, ya, Nak. Cup cup. 😛

Perjalanan ke Jakarta kali ini juga menyisipkan banyak pengalaman pertama Radi. Kali pertama Radi berkunjung sekaligus menginap di rumah teta Dewi di Kemandoran Pluis. Juga kali pertama Radi nyobain naik odong-odong di pagi hari. Hehe. Ini sih dulu aktivitas sehari-hari kakak Rian pas masih seumur Radi. Tiap pagi pasti nagih naik odong-odong. 😀 Tapi Radi nampak bosenan duduk di odong-odong. Mungkin karena odong-odongnya cuma goyang-goyang di tempat, nggak maju-maju.. hihihi.