Membuka Bab Baru: Homeschooling

Bismillah, tepat bulan ini–Juni 2020–saya memutuskan untuk mengubah jalur pendidikan anak saya dari sebuah sekolah formal ke sekolah berbasis rumah (homeschooling). Kalau ditanya alasannya, sebetulnya Radi tidak punya masalah dengan sekolah ataupun pengajarnya. Meski berangkat pukul 6.00 pagi dan pulang di rumah pukul 15.00 petang (hiks), Radi masih cukup enjoy dengan sekolahnya.

Alasan memutuskan berpindah haluan ke jalur homeschooling di saat anak sudah terdaftar di sekolah formal tak lain karena kegalauan ibunya aja.

Bisa dibilang sebagai seorang yang senang belajar tentang tema-tema pendidikan anak dan selalu ingin hands-on (terlibat aktif) dalam proses pendidikan anak, pilihan homeschooling sebetulnya sudah lama menggugah minat saya, bahkan semenjak anak saya masih batita. Saya bahkan pernah membahas sekilas opini saya tentang jalur ini sebelumnya. Homeschooling? Why Not?—part 1

Namun keraguan masih banyak menghantui langkah saya untuk mengumpulkan komitmen dan nyebur langsung ke dalamnya. Mungkinkah saya bisa memegang peranan sebagai fasilitator utama pendidikannya? Akankah lingkungan sekitar mendukung, khususnya keluarga suami yang mayoritas guru formal? Dan masiiih buanyak lagi yang membuat langkah saya surut dan enggan melanjutkan ke pilihan tersebut.

Setelah menempuh proses survei SD ke sana-sini, saya dan suami kemudian sepakat mendaratkan hati pada satu sekolah. Sekolah yang ceklis kriterianya (versi saya) paling banyak mendapat contrengan. Meski tidak bisa memenuhi 100 persen kriteria harapan itu, saya siap untuk berkompromi dan sedikit menurunkan standar saya.

Alhasil, Radi menjalankan tahun pertama SD di sekolah tersebut.

Namun qadarullah terjadi, wabah corona melanda sepenjuru negeri bahkan seluruh dunia, hingga memaksakan semua siswa untuk meneruskan proses belajar di rumah masing-masing. Ini terjadi pada pertengahan bulan Maret, sekitar 2 bulan sebelum ujian kenaikan kelas.

Dalam proses belajar di rumah selama 3 bulan itu, saya justru mendapat momentum untuk mengevaluasi proses belajar Radi. Saya makin mengenal gaya belajarnya, tugas-tugas/kurikulum sekolah, dan masih banyak lagi. Dalam segi materi kurikulum, saya menemukan banyak kesenjangan antara harapan saya dengan realita di lapangan. Sementara dari segi pengajaran, saya menemukan keyakinan diri kembali untuk mengajari anak secara langsung.

Tibalah saya di sebuah persimpangan: Benarkah saya harus tetap menurunkan ekspektasi saya dalam pendidikan anak saya ataukah saya bisa mengambil kendali penuh pendidikan secara langsung dengan segala konsekuensinya.

Setelah diskusi panjang lebar dari A-Z dengan suami… Setelah diskusi dengan anak yang akan menjadi subjek belajar kelak (bukan “objek belajar”)…  Akhirnya, mantaplah saya untuk mengambil jalur Homeschooling dengan pendidikan yang terkustomisasi bagi anak saya.

So, here we are. Bismillah, membuka bab baru perjalanan belajar Radi.

Kami masih newbie sebagai praktisi homeschooler dan masih harus banyak-banyak-banyak lagi belajar. Tapi, I feel super duper excited. Ini akan jadi petualangan yang seru, Nak!

Sebagai dokumentasi belajar Radi, saya membuat sebuah blog terpisah yang diperuntukkan untuk merekam perjalanan belajarnya.

www.radinek.com

Feel free to check it out if you perhaps need some insights about a homeschooling world.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s