Kurikulum Anak Milenium versi Ainka

Semakin dekatnya masa anak saya memasuki jenjang sekolah dasar, saya jadi merasa perlu untuk merumuskan kurikulum (tsah) pendidikan yang ingin saya fokuskan pada diri anak saya. Ceritanya, supaya dalam teknis pendidikan ke depannya, saya punya semacam rujukan juklak dan biar tidak melenceng dari jalur dalam proses pendidikannya ke depan nanti.

 

Bismillah…

 

Sebagai awal, sebelum merumuskan teknisnya, penting untuk mendefiniskan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Hm… tujuan mendidik anak, biasanya orangtua tentu ingin mencetak anak sukses. Nah, definisi “sukses” itu sendiri yang bagaimana.

Bagi saya, “SUKSES” itu adalah KEBERMANFAATAN. Jadi sukses itu bukan diukur dari skala materi, status sosial, dan pekerjaan bergengsi. Tidak! Bagi saya, sukses itu adalah kebermanfaatan bagi banyak orang.

 

Visi Pendidikan versi saya:

Saya ingin anak saya tumbuh menjadi manusia muslim yang cerdas dan tangguh, serta mampu menebar manfaat dan kebaikan bagi semesta (rahmatan lil ‘alamiin, selaras dengan tujuan penciptaan dirinya).

 

Untuk konsep pendidikan, saya tidak ingin men”drill” anak untuk hafal ina-itu, tapi lebih pada membangun pemahaman dan sikap mental tertentu. Menyiapkan anak untuk menghadapi era masa depan dengan tantangan dan karakteristik yang jelas berbeda dari zaman kita memang tidak mudah. Memasuki era teknologi dan informasi, anak dengan kecakapan akademis tinggi tidak lagi dinilai cukup. Bukankah semua informasi dan pengetahuan bisa dengan mudahnya diakses via komputer?

Modal terpenting bagi seorang anak, tapi sering kali diabaikan, adalah mental dan KARAKTER. Termasuk di dalamnya daya juang (grit), kreativitas, kemampuan beradaptasi dan berempati. Semua dimensi ini tidak mudah diukur memang, tapi keberadaannya amat penting.

 

Kualitas yang ingin ditanamkan secara simultan:

  1. Imtaq

Penanaman aqidah, ibadah, akhlak sebagai akar atau fondasi pendidikan. Untuk anak SD, porsi pendidikan terbesar ke penguatan akidah.

  • Sholat berjamaah min. Maghrib.
  • Celengan infaq anak.
  • Project amal tiap tahun.

 

  1. Ketahanan Mental/Kegigihan/Daya Juang
  • Menanamkan prinsip Growth Mindset.
  • Tidak fokus pada hasil, tapi proses.
  • Membiarkan anak mengerjakan urusannya sendiri, meski repot.
  • Menanamkan skill nonakademis (olahraga, beladiri, bermusik, etc).

“Pick yourself up whenever your down” adalah skill yang juga perlu diajarkan dan dimiliki setiap orang. Bagaimana menumbuhkan dan menjaga motivasi diri. Anak mesti punya hobi yang nonakademis karena bisa jadi sarana yang efektif untuk menyalurkan energi dan melepaskan stres, selain bisa untuk mengajarkan soal semangat kegigihan.

 

  1. Berpikir Kreatif, Kritis dan Solutif
  • Menghidupkan budaya diskusi.
  • Membiarkan anak memecahkan masalah sendiri dan tidak menyuapi jawaban.

 

  1. Berwawasan Global dan Luas
  • Membangun budaya membaca. Sehari minimal satu buku.
  • Menyiapkan budget khusus untuk perbukuan setiap bulan.
  • Membiasakan Bilingual.
  • Perjalanan ke perpustakaan dan toko buku.

 

  1. Kemandirian
  • Memberi tugas-tugas harian rumah tangga sesuai rentang usia.
  • Bertanggung jawab menyiapkan perlengkapan sekolah dan seragam sendiri di malam hari.
  • Belajar konsekuensi sejak dini. Misal, lupa membawa buku tugas biarkan saja.
  • Hanya membantu dalam proses belajar, bukan ngerjain PR.

 

  1. Adaptif

Meregangkan zona nyaman. Ini penting juga karena kita nggak tahu di masa depan kemana hidup akan membawa anak kita nanti.

  • Mencoba hal baru setiap minggu. Mulai dari mencicipi makanan sampai menjelajahi tempat baru.
  • Mengajak kemping.
  • Apa lagi yaa….

 

*latepost

Akan direvisi dan diupdate sewaktu-waktu. 🙂

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s