The Road to Recovery

Setelah menjalani operasi bypass jantung, lalu apa? Sedari masih dirawat di rumah sakit saya sudah berniat mengikuti Cardiac Rehabilitation Program seminggu setelah dipulangkan dari rumah sakit. Dari brosur yang saya dapat, program ini akan berlangsung selama 6 minggu dan free of charge.

Hari Jumat pagi saya pun berangkat sesuai jadwal temu yang sudah dibuat via telepon dan menunggu di ruang resepsi fisioterapi. Seorang suster tua bernama Jennifer menemui saya, dan proses assessment pun dimulai.

Selain bertanya-tanya tentang kondisi saya, dari dia saya jadi tahu lebih banyak tentang kondisi yang biasa ditemui oleh para pasien yang baru menjalani operasi jantung. Dia sempat kaget saat mengetahui saya berhenti menggunakan pain killer (panadol) yang diresepkan. Alasan saya simpel saja sebetulnya. Saya merasa ambang sakit yang saya rasakan masih bisa ditolerir dan saya memang tidak biasa mengonsumsi banyak obat. Jadi kalau khasiat obat itu hanya untuk menyamarkan rasa nyeri, saya tidak merasa begitu butuh untuk saat ini.

Sang suster nan baik hati ini (asli, susternya perhatian banget :P) kemudian bercerita panjang lebar bahwa saya baru saja menjalani sebuah operasi besar. Saat operasi berjalan, paru-paru saya dikempeskan sementara jantung saya dihentikan sementara. Kerja jantung lantas digantikan mesin yang mengambil alih tugas memompa darah ke seluruh tubuh. Arteri pada jantung dicangkok dengan pembuluh vena yang diambil dari paha saya. Balon juga dipasang di arteri utama selangkangan untuk membantu kerja jantung saya yang kemudian dicabut di hari ketiga usai operasi. Karena merupakan operasi yang cukup besar, jadi proses pemulihannya pun akan memakan waktu cukup lama. Minimal ada rentang 3 bulan sampai pasien diharapkan bisa kembali beraktivitas normal di masyarakat. So dont be too hard on yourself. Mengonsumsi pereda sakit akan membantu di masa-masa pemulihan luka operasi agar kita bisa beraktivitas secara lebih normal dengan ketidaknyamanan yang lebih minim.

Suster Jennifer juga menyarankan agar saya jangan terlalu takut-takut dengan diet makan saya. Setelah operasi saya memang sangat menjauhi daging-dagingan, segala makanan yang digoreng, santan, apa pun yang banyak mengandung saturated dan trans fat. Juga sangat mengurangi minum kopi susu yang dulu merupakan kegemaran saya. Kata suster, kopi sama sekali tidak masalah jika pun saya ingin minum secangkir setiap hari. Yang penting moderate. Yang jadi masalah kalau berlebihan, 5-6 cangkir tiap hari. Dia malah memastikan agar saya mengonsumsi daging sapi (a piece of red meat) tiap minggu karena biasanya setelah operasi jantung pasien kekurangan zat besi dalam darah yang berguna untuk pembentukan hemoglobin (noted, Bu Jennifer. Hari ini saya akan makan malam daging setelah kemarin-kemarin makan bubur oat doang :P) Siangnya saya juga langsung beli kopi susu soalnya kepala rada pening. Ah, suster coba dari dulu-dulu bilangnya. Teteuup saya akan sangat menjaga pola makan saya hingga seterusnya, tapi suster ini mengingatkan akan prinsip moderate (dibatasi bukan berarti tidak boleh sama sekali).

“It doesnt mean that we have to stop enjoying life. If you like to have a cup of coffe in the morning or eat a piece of cake, thats fine. Thats good. Sama sekali bukan masalah.” Begitu pesannya. 🙂

Suster Jennifer kemudian bertanya bagaimana perasaan saya saat mesti menjalani semua ini terutama di usia saya yang masih terbilang muda. Ini pasti berat bagi saya. Ditambah lagi kini mesti terpisah dengan putra saya untuk sementara waktu. Seketika pertahanan diri saya runtuh. Dia mungkin orang kesekian (oh, jangan ditanya yang keberapa) yang bertanya, “Mengapa orang seusia saya bisa sampai menjalani bedah bypass jantung? Kok bisa? Kok bisa?” Hanya saja dia menyampaikannya dengan gaya yang berbeda, “Apa yang kaurasakan? Pasti sangat berat untukmu. But I’m here to help.” Di hadapannya saya pun berterus terang bahwa peristiwa ini memang bagai petir di siang bolong. Mengagetkan diri saya dan keluarga saya sendiri karena selama ini saya tidak pernah tahu punya masalah jantung (meski ada riwayat dari keluarga). Kemarin-kemarin saya masih asyik bermain dengan Radi di playground. Beberapa hari berikutnya saya mendapat vonis adanya 5 sumbatan pada arteri jantung saya dan perlunya diambil tindakan bedah cangkok arteri (bypass) demi menyelamatkan nyawa saya. Dunia serasa jungkir balik setelahnya. Dan entah akankah sama lagi seperti sedia kala. Itu emosi yang kadang terselip.

Tapi saya tak pernah larut mengasihani diri, meratapi nasib, apalagi menyalahkan Tuhan. Saya justru merasa, seperti perkataan salah seorang teman dan Mama saya, bahwa ini bentuk kasih sayang Allah pada saya. Dia ingin saya lebih dekat lagi pada-Nya. Dia “memilih” saya untuk merasakan kuasa-Nya secara langsung. Bayangkan jantung saya yang telah berdetak semasa dalam kandungan ibu saya bisa dihentikan, untuk kemudian dihidupkan lagi (itu baru secuil kebesaran-Nya dari yang saya rasakan dan alami belakangan). Ya, ujian ini menjadi jalan bagi saya untuk semakin mendekatkan diri pada Rabb Penguasa semesta dan penggerak jantung ini, untuk menyucikan dosa-dosa saya, untuk menjadi seorang ibu, istri dan hamba yang lebih baik lagi. (bismillah…)

Kembali ke soal penyakit jantung, saya ingin sedikit berbagi. Menjadi seorang wanita di awal usia 30, tanpa pernah merokok dan minum alkohol, dan tensi darah yang rendah, kondisi saya memang luput didiagnosis dokter meski keluhannya sudah cukup lama dirasa. Bahkan GP saya di klinik sempat mengatakan bahwa wanita terlindungi dari serangan jantung sampai usia menopause. Sering orang bertanya seperti apa keluhan yang saya rasakan atau apa tanda-tandanya. Well, sudah beberapa tahun belakangan saya sering merasakan nyeri di pundak kanan saya bila merasa letih, dan nyeri itu menjalar ke kepala dan tangan kanan (bukan kiri) diikuti rasa sesak di dada. Saat itu saya tidak merasakan keringat dingin sama sekali, dan gejala serta merta hilang begitu saya cukup beristirahat. Diagnosis awal dokter (5 tahun yang lalu) itu adalah muscle strain atau kejang otot karena saya biasa menggunakan tangan kanan untuk bekerja alias ketak-ketik tuts kompie. Baru beberapa minggu belakangan saja selama berada di Sydney selain merasa nyeri pundak dan sesak dada, saya mulai merasa kliyengan kayak mau pingsan. Jadi kalau menemukan gejala-gejala seperti ini jangan disepelekan ya, kawans.

heart attack symptoms

heart attack symptoms

Yah, beginilah proses my road to recovery. Hope it’ll be a smooth ride and I’ll be much stronger and fitter than I were before… supaya bisa lebih gesit ngejar-ngejar Radi yang super duper lincah:P Mulai Selasa besok saya akan mengawali sesi rehabilitasi, disuruh bersepeda (untung sepeda statis wkwkk). Wish me luck!

 

3 pemikiran pada “The Road to Recovery

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s