Mukjizat Kehidupan Kedua

Ya, mukjizat rasanya kata yang pantas untuk menggambarkan syukur tak terkira karena masih diberi nikmat amanah usia dan jasad hingga saat ini.

Jelang tengah malam hari Kamis 19 Juni 2014 saya memutuskan berangkat ke UGD Prince of Wales Hospital karena rasa sesak di dada dan kliyengan yang makin sering. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan (tes EKG, chest x-ray, USG jantung, dan terakhir angiogram), tim dokter memutuskan perlunya diambil tindakan bedah bypass jantung karena tiga arteri utama jantung saya tersumbat.

Saya ingat sekali kata-kata sang dokter usai melalui pemeriksaan angiogram yang terasa begituuu lama untuk mencari tahu letak sumbatan di jantung. “Menurut hasil pemeriksaan, dua arteri utama Anda sudah tertutup sementara arteri jalan belakang pun mulai menyempit. Saat ini yang mesti kami lakukan adalah mengambil tindakan penyelamatan nyawa dengan segera melakukan operasi bypass jantung darurat. Hope you’ll have a healthy long live ahead of you.”

Bersama dengan akhir ucapannya, tim dokter anestesi tiba di tempat dan mengambil alih. Saat ranjang didorong menuju ruang operasi, mereka memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan pesan kepada suami, dan pesan yang terpikirkan saya saat itu hanya, “Jaga Radi. Jaga Radi. Jaga Radi, Pa.”

Entah jika diri ini masih diberi kesempatan untuk turut membesarkan putra kami atau tidak, yang jelas saya ingin Radi dijaga dengan sebaik-baiknya. Memang masih sangat berat rasanya jika harus meninggalkan putra kecil saya yang kemarin baru genap 2 tahun. Apalagi pas berangkat ke UGD tadi masih terekam jelas di benak Radi nangis-nangis nggak mau ditinggal mamanya. Itu yang terus memberatkan batin ini. Tapi saya berusaha pasrah dan ikhlas atas segala ketetapan Tuhan.

Sekarang telah berlalu dua minggu usai operasi jantung saya. Berat juga rasanya menjalani masa pemulihan 4 hari di ruang ICCU, masa perawatan selama 7 hari, belum lagi serangkaian tes yang serasa tak ada habisnya saat berada di tanah rantau, jauh dari keluarga dan kerabat. Jujur, rasanya saya tidak akan sanggup menjalani hari-hari di Prince of Wales Hospital sendiri tanpa pertolongan dari Allah. Bayangkan, baru sorenya saya mengeluhkan (alias mengira) rematik pada tangan kanan saya ke dokter di klinik kampus. Tanpa menyangka hanya selang beberapa jam kemudian saya akan menjalani operasi jantung darurat yang sekaligus merupakan operasi pertama saya.

Kini Radi sudah dibawa pulang ke tanah air lebih dulu oleh mama mertua karena saya masih kesulitan ngasuh Radi sendiri dengan kondisi fisik yang terbatas sementara suami sibuk kuliah. Dengan begitu, saya bisa fokus untuk pemulihan dan harapannya, Agustus saya sudah bisa pulang kampung. Amiiin YRA.

at Prince of Wales Hospital

12 hari di Rumah Sakit Prince of Wales

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s