Homeschooling? Why Not?—part 2

Meski selalu tertarik dengan prinsip homeschooling, sebagaimana terungkap dalam riwayat belajar saya dalam lembaga sekolah pada bagian sebelumnya, namun homeshooling ini bagi saya tetaplah sebuah pilihan yang tak akan pernah saya jalani. Alasan utama, adalah karena tidak adanya sumber daya yang memadai, yakni waktu dan (keraguan akan) kemampuan diri selaku pengajar. Bahkan saya akui, mengambil keputusan meng-homeschooling-kan anak itu agak menakutkan bagi saya. Karena itu berarti, saya memutuskan untuk mengambil tanggung jawab penuh bagi pengajaran anak saya alih-alih mendelegasikan (sebagian) tanggung jawab kepada pihak  lain. Selain masih banyak pula kekhawatiran yang menghantui saya dengan alternatif pendidikan ini, seperti akankah kecerdasan sosial anak saya kelak menemui hambatan? Akankah di masa depan ia menemui kesulitan menghadapi konflik? Saya juga khawatir anak saya nanti terlalu nempel ke mamanya padahal ia akan hidup di masyarakat bukan di lingkungan keluarga kecilnya.

Selain faktor-faktor kecemasan ini, saya juga sudah berasumsi bahwa ide homeschooling ini tak akan pernah disetujui oleh partner hidup saya alias papanya Radi yang keluarga besarnya sebagian besar merupakan kalangan pengajar sekolah. Itu asumsi saya… hingga suatu hari tiba-tiba saja suami mengeluarkan wacana itu sendiri. Ternyata beliau makin terbuka dengan ide homeschooling ini setelah salah seorang temannya mengambil langkah ini. Beliau kemudian menceritakan pengalaman kawannya itu: Anak si kawan suami itu dahulu sering ditegur gurunya saat bersekolah di Indonesia karena sering kali melamun di tengah pelajaran. Saat anaknya bersekolah di Brisbane, kebetulan ia mendapat seorang guru yang lebih proaktif. Alih-alih menegur karena kebanyakan melamun, anaknya justru sering diberi challenge-challenge lebih ketika sang guru melihat anak didiknya sudah cukup mengerti dengan materi. Begitu pulang ke tanah air, ayahnya ingin menerapkan pendidikan yang lebih progresif dan lebih fokus pada minat dan kemampuan anak yang bersifat individual. Setelah meriset sana-sini dan menemukan satu atau dua sekolah yang cukup sesuai dengan keinginannya, nyatanya sekolah-sekolah itu mengaku tidak bisa menyediakan tempat bagi anaknya. Karena itulah ayah dan ibunya akhirnya memilih bahwa homeschooling merupakan metode yang paling tepat bagi anak mereka saat ini.

Suami saya kemudian berujar bahwa homeschooling ini bisa menjadi salah satu alternatif pilihan untuk mendidik anak kami kelak, khususnya di usia TK hingga SD karena masa itu adalah masa kritis dalam pembentukan karakter, penanaman kebiasaan baik, dan penguatan pondasi bagaimana dia memandang proses belajar hingga ke depan.

Ada macam-macam alasan orang memilih metode homeschooling ini. Sebagian besar karena sudah skeptis dengan metode pengajaran yang terlalu membebani anak dengan kurikulum tidak tepat sasaran, karena faktor biaya sekolah yang kian hari kian tinggi, karena jadwal yang sempit untuk bersekolah jika anak kita kebetulan ngartis *tepok jidat*, karena orangtua ingin menerapkan “personalized education” yakni memilah ilmu yang lebih dekat dengan minat dan bakat si anak, dan alasan macam-macam lagi.

Ada baiknya memang kita memikirkan ulang tujuan kita menyekolahkan anak di instansi sekolah itu apa sebetulnya. Untuk mencetak anak multitalenta? Atau sekadar untuk ngumpulin nilai dan dapat ijazah (seperti saya dahulu kala)?

Pengalaman buruk saya dengan sekolah tidak lantas membuat saya apatis terhadap sekolah lhooo. Optimisme itu tetap ada. Toh, saya lihat kini semakin banyak sekolah-sekolah berdiri yang menawarkan metode pengajaran alternatif, meski harganya banyak yang aduhai. Tidak seperti orangtua jaman dulu, orangtua jaman sekarang memang lebih disuguhi beragam pilihan sekolah bagi anaknya. Ada sekolah alam, montessori, ataupun sekolah yang mengklaim sebagai global school, dan bermacam-ragam lagi. Tinggal memilih dan memilah yang paling sreg di hati dan paling sesuai dengan konsep pendidikan orangtuanya.

Meski belum memiliki kecondongan akan memilih sekolah model apa untuk anak saya kelak *sabar, Radi belum genap 2 tahun*, saya sudah mengurut sejumlah syarat untuk memilih sekolah yang ideal baginya, yang kurang-lebih seperti beginilah: Sekolah yang metode belajarnya memfokuskan pada pengembangan bakat dan minat siswa dengan kurikulum yang tidak membebani (layaknya sekolah tottochan); porsi yang imbang antara bobot akademis dengan pengembangan kreativitas dan bakat anak; penekanan pada penguatan karakter (akhlak); tidak ada dikotomi antara pendidikan agama dan duniawi; tidak mengenal sistem rangking; di kelas tidak boleh lebih dari 20 siswa; dan biaya masuk maupun SPPnya tidak kelewat mahal. (Saya tidak ingin Radi merasakan pengalaman yang sama dengan yang dialami mamanya saat bersekolah di tengah lingkungan anak-anak borju). *dan daftar ini mungkin masih akan berkembang seiring perkembangan anak kami*

Mudah-mudahan kami berjodoh dengan sekolah yang demikian. Kalau nggak, homeschooling mungkin akan menjadi opsi terbaik. Kekhawatiran yang sebelumnya ada akan homeschooling ini nyatanya bukanlah sebuah hal yang mesti menyurutkan langkah. Kemampuan bersosialisasi toh bisa diasah di mana saja. Dan memilih homeschooling kan tidak lantas berarti memutuskan pergaulan anak dengan seisi dunia. Tinggal pintar-pintar pendidiknya saja kelak membuka ruang dan kesempatan yang luas bagi si anak untuk mengasah kemampuan sosialisasinya. Ada tutor, ada tetangga, ada komunitas. Malah saya lihat siswa homeschool (HS) cenderung memiliki kelebihan karena terbiasa berinteraksi rutin dengan komunitas lintas-usia alih-alih menghabiskan sepanjang hari dengan teman sebaya di kelas. Dan, kecemasan bahwa siswa HS tidak terbiasa menghadapi konflik itu kata siapa. Lantas apakah tekanan dari teman sebaya (peer pressure) atau bullying yang semakin marak merupakan konflik yang dibutuhkan bagi anak? Khawatirnya, konflik yang tidak proporsional malah akan kontradiktif dengan pengalaman belajarnya yang mestinya dibuat positif.

Sesungguhnya masih panjang perjalanan anak kami sebelum tiba masanya bagi kami untuk memilih sekolah yang paling sesuai baginya. Yah, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangan anak dan kondisi di depan. Yang jelas, homeschooling merupakan pilihan terbuka bagi kami. Pilihan yang jika pun kami ambil itu bukanlah karena ingin berbeda dari mainstream, bukan pula karena sikap apatisme (putus harapan) terhadap lembaga sekolah. Pun bukan sekadar untuk melampiaskan obsesi terpendam ibunya untuk menjadi guru taman kanak-kanak 😛 Kalau pun pada akhirnya nanti kami memilih metode homeschool, itu karena kami menganggap pilihan itu adalah jalan yang dirasa paling cocok bagi Radi untuk saat itu. Yang paling memuaskan batin dan mendekati cita-cita kami untuk mendidiknya menjadi manusia paripurna *ciyye.. eh, amiiin*.

Namun apa pun pilihan yang kelak kami ambil, saya tetap bertekad akan mengambil peranan sebagai pendidik pertama dan utama bagi Radi. Saya menganggap, instansi sekolah dan lingkungan hanyalah pendidik sekunder dan tertier bagi proses pengajaran anak kami. Basis pengajaran yang utama, tetaplah berpusat dari rumah.  Jadi sedikit banyak kami akan mengadopsi prinsip-prinsip homeschooling itu sendiri, dengan mengambil peranan aktif dan keterlibatan penuh dalam proses pendidikan buah hati kami.

 mom n son

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s