Homeschooling? Why Not?—part 1

Jujur, meng-homeschooling-kan anak selama ini selalu menjadi isu menarik bagi saya.  Mungkin itu berangkat dari pengalaman saya yang buruk dengan sekolah. Ya, saya tidak pernah suka bersekolah. Entah kapan hal itu bermula, tapi saya rasa itu diawali sejak saya dimasukkan ke TK lalu lanjut selama di bangku SD. Saat kali pertama bersentuhan dengan sistem yang bernama sekolah—yakni TK—kebetulan saya mendapat guru yang kurang sabaran menghadapi anak “bermasalah” seperti saya.  Saya akui, saya bukanlah anak yang mudah kala itu (baca: anak yang selalu riang ceria). Saya sangat pendiam, belum tahu cara bersosialisasi, dan enggan ditinggal oleh mama saya. Jadilah, setiap hari saya menangis sepanjang masa TK. Diganggu teman saya menangis, teman merebut mainan saya menangis, ditinggal mami saya apalagi. Sekalinya saya dipuji oleh guru TK adalah saat saya tidak menangis di hari itu. Saya ingat beliau berujar di depan teman-teman sekelas menjelang bel pulang, “Lihatlah Nuraini yang tidak menangis hari ini. Nampaknya setan telah pergi meninggalkannya. Alhamdulillah, segala puja dan puji bagi Allah…”  Saya pun mendongakkan wajah dengan bangga hari itu.

So, taman kanak-kanak dalam memori saya adalah pengalaman teror diganggu anak bully, dirampas buku tulis favorit saat upacara, tak diacuhkan oleh guru dan kawan-kawan (karena siapa yang mau berteman dengan anak yang nggak bisa ngomong dan selalu menangis). Tamat TK ditutup dengan pesan sang guru kepada ibu saya bahwa saya akan sulit naik ke bangku SD karena belum bisa membaca. Maka sepanjang masa libur kelulusan TK, saya perlahan mulai belajar membaca di rumah dengan sendiri. Masuk kelas satu SD wali kelas yang baru menyampaikan pada ibu saya bahwa saya adalah murid yang paling pandai membaca di kelas.

Masa SD tidaklah membaik. Sebagai anak yang pendiam, tak memiliki kemampuan asertif dan membela diri, saya cukup sering menjadi objek bullying. Anak yang pendiam ini pun makin mengucilkan diri. Praktis hingga kelas 4 SD saya tidak punya teman. Kebetulan saat itu saya bersekolah di kalangan anak-anak “the haves” alias borju. Anak dari ekonomi ngepas nyaris tak memiliki tempat di tengah pergaulan mereka. Saya mengerti pilihan orangtua saya menyekolahkan saya di sana kala itu. Prinsip mereka, tak apa merogoh kocek banyak demi pendidikan anak asal anak medapat pendidikan terbaik dari segi agama juga duniawi di tengah masih terbatasnya pilihan sekolah pada masa itu. Maka hampir sepanjang masa SD saya selalu sakit perut setiap pagi saat hendak berangkat sekolah, dan hubungan tak baik dengan sistem sekolah ini nampaknya jadi terbawa terus selama masa bersekolah saya ke depannya.

Masa SMP bisa saya bilang adalah masa yang terbaik dari riwayat bersekolah saya. Kebetulan karena tidak sanggup dari segi ekonomi untuk meneruskan pendidikan di sekolah swasta yang sama, saya pun dipindahkan ke sekolah negeri yang agak pinggiran. Di sana berbaur anak-anak dari berbagai kalangan; dari anak dirut sampai anak sopir angkot. Di satu sisi saya bersyukur bisa keluar dari lingkaran anak borju yang sehari-hari hanya ngomongin barang bermerk, tren terkini, liburan ke luar negeri dan any other artificial stuffs *hoek*.

Satu pengalaman yang membuat hati saya terkesan hingga saat ini, adalah ketika suatu hari saya ketinggalan uang jajan di awal masa SMP saya. Saat mengetahui hal itu, beberapa teman baru saya (yang bisa dibilang dari ekonomi lemah) mendatangi saya dengan uang saweran mereka. Mereka mengumpulkan sedikit receh dari uang jajan yang mereka punya agar saya tidak bersedih. Saat saya menampiknya dengan halus, mereka akhirnya membelikan langsung es jeruk buat saya yang kemudian saya seruput dengan hati yang hangat dan mata berkaca-kaca. Saya belum pernah mengenal ketulusan semacam itu sebelumnya.

Meski tetap dikenal sebagai anak yang pemalu, saya akui kemampuan sosial saya mengalami perkembangan di masa SMP. Tapi dari segi pengajaran, sekolah yang agak buangan ini masih agak tertinggal. Guru-gurunya pun masih so old-fashion, tak jarang menerapkan hukuman fisik—memukul, mencubit, menjewer (yang sebenarnya tidak jauh beda dengan SD saya sebelumnya) juga verbal—membentak, mengejek dan melecehkan di hadapan kelas.

Lompat dari SMP yang dulu sempat heboh masuk berita nasional karena digusur itu, alhamdulillah saya berhasil masuk sekolah unggulan di SMA 70. Saya agak keteteran di kelas satu dan dua SMA, terutama karena saya tidak mengikuti materi pengayaan wajib yang berlangsung hingga sore setiap harinya (dengan upaya keras dari ibu saya untuk meminta izin ke pihak sekolah agar saya dibebaskan dari kelas-kelas tambahan itu. Alasan ibu saya sederhana saja, kasian melihat anaknya disuruh belajar di kelas dari pagi hingga sore hari). Entah karena ingin menjadi sekolah terunggul atau ingin mengurung siswa-siswanya di dalam kelas agar tidak keluar tawuran di siang hari, pihak sekolah menambahkan pelajaran pengayaan hingga waktu ashar yang diwajibkan dari kelas satu. Yang jelas, saya merasa sekolah kala itu terlalu memforsir siswa-siswanya dalam bidang akademis dan malah mematikan kegiatan ekstrakurikulernya.

Saya menemukan kesulitan dalam pelajaran eksakta dan hanya menyukai pelajaran bahasa dan sejarah.  Saya pun tahu akan memilih IPS saat penjurusan di kelas tiga karena tak sudi lagi bertemu dengan matematika—dengan sinus cosinus dan bilangan integral—yang saya sudah tahu pasti tak akan ada gunanya dalam kehidupan saya.

Selama bersekolah di SMA, rasanya motivasi saya masuk hanya sekadar mengisi absensi saja. Untung begitu masuk kelas 3 IPS 4, saya menemukan teman sebangku yang sama-sama doyan berkhayal. Saya pun jadi punya motivasi lebih untuk berangkat sekolah setiap harinya dan mengurangi durasi membolos saya. Kami selalu mengarang-ngarang cerita dan imajinasi kami di selembar kertas yang selalu dioper di antara kami saat pengajaran tengah berlangsung (yang tumpukannya udah jadi bundelan tebal). Syukur, meski jarang memerhatikan guru saat mengajar dan agak sering membolos, saya masih selalu masuk peringkat tiga besar. Saya pikir, mungkin memang begitulah gaya belajar saya—mesti soliter. Dan lagi-lagi, paling efektif di rumah sendiri. Selebihnya, saya merasa masa SMA adalah proses panjang mengisi absensi, belanja seragam, upaya kabur dari timpukan batu saat tawuran (yang sempat mencederai betis saya), dan kesempatan mengasah imajinasi saya bersama teman sebangku.

 

To be continued.

5 pemikiran pada “Homeschooling? Why Not?—part 1

  1. Ping balik: Membuka Bab Baru: Homeschooling | Ainka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s