Kapan Mau Ngasih Adik?

 

Ini pertanyaan yang saat ini cukup sering dilontarkan pada saya. Jujur, merantau di Sydney ini telah menunda program kami untuk menjalani kehamilan lagi.

Pertimbangan pertama kami adalah masalah finansial. Tinggal di Sydney dengan biaya hidup yang tinggi adalah faktor utama yang menciutkan nyali kami. Masih simpang-siur pula berita tentang apakah melahirkan di sini akan ditanggung asuransi atau nggak (bagi keluarga mahasiswa asing). Ada yang bilang ditanggung penuh asal sudah setahun (entah setahun dalam hitungan apa), ada yang bilang ditanggung sebagian, ada yang bilang nggak ditanggung sekarang ini. Wallahu alam (nampaknya mesti ngobrol dengan pihak asuransinya, kalau mau diseriusi kelak).

Saya bukanlah orang yang bisa dengan ringannya menyerahkan segala sesuatunya kepada takdir. Yah kalau memang Tuhan berkehendak memberikan anak lagi, berarti memang sudah rejeki dan waktunya. Bagi saya, segala sesuatu itu butuh perencanaan. Kegiatan liburan akhir pekan saja biasanya mesti saya persiapkan dari seminggu sebelumnya. Apalagi rencana untuk punya anak.

Ya, bagi saya, menghadirkan anak ke dunia butuh banyak persiapan; ya mental, finansial, kesehatan.

Perjalanan kehamilan saya sebelumnya pun tidak begitu mulus. Dua kali pendarahan, satu kali keguguran membuat saya berpikir banyak untuk mengambil keputusan menjalani kehamilan di perantauan.

Meski terkadang ada saja yang mendorong dengan bilang, rejeki Tuhan jangan ditolak atau ditunda-tunda. Atau motivasi segera beranak karena kecemasan dari diri sendiri, mengingat usia kami yang semakin matang. 😛

Namun, salahkah jika saya masih ingin berpuas-puas menikmati tumbuh-kembang Radi tanpa dibebani dengan mengurusi bayi yang tentu butuh perhatian dan tenaga ekstra dari kita? Untuk seru-seruan dengannya menjelajahi negeri asing ini tanpa dibebani fisik yang mudah capek, mual, dan kliyengan saat hamil?

Ah, bila melihat Radi (kini 19 bulan) yang super-lincah dan masih menuntut perhatian mamanya hampir setiap waktu, nggak tega juga rasanya untuk membagi fokus ini dengan yang lain. Memberi adik atau menjalani kehamilan otomatis akan mengurangi jatah Radi untuk menerima perhatian dari mamanya—baik waktu, fisik, maupun pikiran dari saya.

Prinsip saya, bila masih ada sekelumit kekhawatiran terselip, ya mending nggak usah aja. Berarti memang belum saatnya. Menghadirkan anak butuh keyakinan dan kesiapan penuh dari diri kita. Tidak boleh ada secuil pun keraguan, atau nanti akan siap sendiri sembari jalan. Jangan pula mengambil keputusan itu gara-gara latah lihat teman-teman sebaya sudah beranak dua, tiga, bahkan empat. Kasihan si anak ntar. Ia harus tumbuh-besar di kandungan dan terlahir dengan kesiapan penuh kedua orangtuanya. Bukan dalam atmosfer stres dan banyak kekhawatiran.

Kelak, kami pun akan siap menyambut buah hati lagi. Insya Allah, bila diizinkan, dan pada saat yang tepat menurut Sang Pemberi Kehidupan. Tapi bukan sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s