Bye-Bye Bandung, Hello Sydney!

Tanggal 12 Desember 2013, resmi kami meninggalkan Bandung untuk sementara waktu. Berangkat naik pesawat Garuda yang terbang pukul 23.00 malam. Harapan kami, jam segitu Radi udah bobo pulas. Nyatanya, di bandara si bocah masih ceria ajah. Bersemangat naik-turun tangga terminal keberangkatan terus-menerus *yang nemenin yang encok* Excited kali dengan tempat yang asing.

Untunglah, selama penerbangan kami tidak menemukan kesulitan yang berarti. Meski si bocah pas pesawat mendarat ogah dipangku. Dan malamnya sempat rewel, nangis-nangis bentar. Mungkin kesel karena tempat tidur yang disediakan buat bayi udah gak muat buat Radi (maksimal 9 kg). Jadilah Radi bobo dipangku. Pas dia mau bergaya akrobat saat bobo—sebagaimana biasanya—jadi kebangun-bangun dan rewel karena tidak ada ruang buatnya “berekspresi”. 😛

Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Bandara Kingsford Sydney pukul. 9.30 pagi waktu setempat.

Mungkin karena sudah dekat holiday season, antrean bea cukai di bandara cukup panjang. Kami yang menenteng banyak bawaan plus ngejar-ngejar Radi karena strolernya belum dijemput dari pesawat cukup ngos-ngosan dibuatnya. Pas strolernya udah bisa diambil, Radi jadi lumayan “jinak” dan kami pun bisa bernafas lebih lega dikit. Asal strolernya mesti gerak terus, kalau diam di tempat bentar pasti si bocah protes. Sewaktu di konter pemeriksaan makanan pabean (dengan abon yang diragukan kelolosannya karena nggak berlabel), saya sempat ditegur keras petugas tuanya yang mengira saya mau kabur karena strolernya digerak-gerakkin maju-mundur. *yah, mungkin memang begitu protokolernya. But chill out a bit, sir. Mana mungkin juga saya lari sambil ngedorong stroller seberat ini* Untung abonnya lolos, dengan pesan jangan bawa lagi makanan homemade macam begitu. Padahal kalau nggak lolos juga nggak apa-apa sih. Banyak yang jual di Sydney juga:P

Akhirnyaaa…kami beres dari segala urusan keimigrasian yang ribet itu pukul 12.00 siang. Matahari sudah bersinar terik. Kami dijemput Ko David (landlord kami) dengan mobilnya. Radi yang duduk di carseat tidur pulas sepanjang perjalanan *capek nih ye*.

akhirnya, sampailah kita di bandara Kingsford Sydney

akhirnya, sampailah kita di bandara Kingsford Sydney

Seminggu di Randwick

Judulnya seminggu di Randwick bukan di negeri kangguru karena saya memang baru “beredar” di seputar komplek rumah seminggu pertama ini. Di sekitar distrik Randwick aja. Belum mampir ke Opera House yang termahsyur itu, belum pula liat bayi koala atau kangguru. Yah…take your time. We will be here till mid 2015. Dan Opera House kayaknya nggak akan kemana-mana.

Tiga hari berada di sini, saya masih agak overwhelmed. Segalanya serba tertata dan sistematis. Contoh, saat membayar di supermarket dan kita mesti bayar sendiri pakai mesin layaknya atm. Naik bus sudah ada rute pasti, nggak bisa minta naik-turun di halte sesuka hati (ya eyyalah mang kudunya begituh :P). Tentang penggunaan tiket bus pepaid dan angkutan umum lainnya. Tentang tata aturan yang berlaku di sini, seperti berdiri di eskalator mesti di sisi kiri kalau nggak buru-buru, stroller di bus mesti ditaruh menghadap belakang bus dengan ibu duduk menghadap bayinya. Dan aturan-aturan lain sebagainyah.

Tapi seminggu menjelajahi kota, saya sudah lumayan kerasan. Saya sudah berani pergi dengan Radi sendiri minimal sampai bundaran kota (sekitar dua blok dari rumah :D). Dan saya rasa, saya bisa dengan mudahnya jatuh hati dengan kota ini. Sudah kebayang sendiri betapa akan serunya membesarkan Radi di sini. Gimana nggak, kata orang-orang, di sini anak kecil dianggap sebagai warga negara kelas satu. Fasilitas anak tersedia di mana-mana. Taman bermain, kelas bermain gratis, stroller bisa masuk bus, fasilitas kesehatan, pilihan produk makanan sehat buat anak, and I can go on and on…

Terlepas dari keluhan orang tentang betapa bebasnya masyarakat di sini, tapi saya lihat itu lebih hanya ke busana dan cara berpenampilan mereka. Mereka tidak malu menunjukkan jati diri mereka sebenarnya. Mau bergaya bencong abis-abisan, mau bertelanjang dada ke supermarket, sah sah saja di sini. But, the common courtesy here is really admirable alias patut diacungi jempol. Kalah jauuuhlah Indonesia. Disiplin mengantre, membantu ibu-ibu bawa naik dan turun stroller dari bus, selalu mengucapkan “maaf” dan “terima kasih”, menjaga kebersihan, mendahulukan orang sepuh dan anak kecil terutama di kendaraan umum… Nggak heran, banyak yang bilang “Kalau mau nyari di mana prinsip-prinsip Islam dijalankan, jangan nyari ke negeri Islam. Cari ke negeri-negeri maju di Barat.” (meski miris dengernya, tapi memang ucapan itu ada benarnya kalau menurut saya)

Well, semoga saja Radi juga betah (kayak mamanya) untuk menjalani hari-harinya di Sydney sampai 1,5 tahun mendatang. Naga-naganya sih, anak saya yang memang nggak betah di dalam rumah ini bakalan senang. Keinginan besarnya untuk menjelajahi dunia akan lebih tersalurkan, pastinya. It’s gonna be a fun adventure, son. Bismillah…

sydney26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s