30 Tahun Dari Sekarang…

Kata orang, kalau mau jadi sukses di masa kini, kita mesti punya bayangan visualisasi yang menggambarkan kesuksesan kita di masa depan. Lebih detail visualisasinya lebih baik.  So, saya pun nggak akan tanggung-tanggung. Membayangkan kehidupan saya bukan 5 atau 10 tahun dari sekarang. Tidak. Mari kita melangkah lebih jauh…

Jika Allah masih memberi saya kesempatan untuk menghirup udara di dunia yang fana 30 tahun dari sekarang, mungkin begini kiranya bayangan visualisasi saya:

Kala itu, tentulah usia saya tidak muda lagi. 62 tahun. Saya ingin hidup tenang, dengan kondisi finansial yang sudah mapan. Harapannya, di umur segitu saya sudah tidak perlu pusing-pusing mikirin pemasukan. Dan kemapanan ini didapat karena saya sudah bersusah-susah di usia produktif, jerih payah dari menulis diselingi menerjemahkan dan menyunting sesekali. Ah, kata siapa, penulis punya masa depan suram dari segi finansial.*bolehlah saya berasumsi lain :P*

Kala itu, Radi mungkin sudah pergi meninggalkan rumah. Membangun rumah tangganya sendiri.  Mengejar mimpi-mimpinya. Ah, saya tidak ingin memetakan profesi apa yang ditekuninya kelak. Biarlah itu menjadi misteri ilahi. Yang penting, Radi saat itu sudah tahu benar apa yang menjadi mimpinya dan fokus mengejarnya…*jangan kayak mamanya dulu yang telat menyadari panggilan jiwanya… pakai acara terdampar di fakultas ekonomi segala :P*  *ini jadi PR buat saya sekarang, dalam perkembangannya nanti, penting pula memantau dan memberi perhatian khusus terhadap bakat dan minat si bocah*.

Kala itu, meski tak muda lagi, saya tetap ingin produktif. Tetap punya karya dan kontribusi kepada masyarakat. Bukan karena tuntutan hidup, tapi lebih karena kesadaran ingin punya daya guna hingga amanah usia ini habis sudah. Yang terbayang saat ini, saya ingin punya perpustakaan kecil di rumah atau di dekat rumah. Koleksi buku Radi saat kecil memang selalu saya rawat dan kumpulkan. Begitu koleksi sudah cukup banyak sementara si bocah sudah tumbuh dewasa alih-alih diloakkan atau disumbangkan entah kemana, saya ingin menyimpannya di rumah, dan kelak membuka perpustakaan anak. Mungil saja, tapi nyaman. Terbuka bagi siapa saja. Anak dari kalangan mana pun bebas membaca dan meminjam. Mungkin tidak dibuka 24 jam, hanya jam-jam tertentu saja. Senin sampai Jumat. Pukul 10.00-15.00, misalnya yaa.

Dengan anak yang sudah beranjak besar dan pergi meninggalkan rumah, saya tentu akan merindukan suara celotehan anak-anak. Suasana rumah memang terasa berbeda dengan kehadiran mereka. Lebih hangat. Saya ingin memiliki peranan dalam membina anak-anak kecil, minimal di lingkungan saya sendiri.  Saya ingin menjadikan rumah saya tempat yang kelak akan berkesan dalam ingatan anak-anak ini dan mampu memotivasi mereka untuk menjadi apa pun yang mereka inginkan. Seperti rumah di buku-buku dongeng anak-anak—tapi bukan dongeng Hansel ‘n Gretel *krauk krauk nyam :D*.  Rumah yang hangat, menyenangkan, dan mampu menumbuhkan kecintaan anak akan ilmu, meluaskan cakrawala mereka, dan menantang mereka untuk berani bermimpi.

Mungkin saya akan mengadakan sesi mendongeng di rumah perpustakaan ini minimal sekali seminggu atau mengadakan acara prakarya bersama. Mengenalkan anak pada permainan puzzle (bukan di aplikasi gadget), meronce, bikin buku, bercerita. Atau mengadakan sesi parenting class sesekali—diskusi sedikit dan pencerahan saja bagi para orangtua di lingkungan sekitar.*atau sekalian aja bikin TK yak? Heu..beda tanggungjawabnya meureun…*

Dalam bayangan ini, saya mungkin akan menjadi seperti nenek-nenek di cerita “Celengan Babi Ungu” karya Enid Blyton—salah satu buku cerita pertama yang saya baca saat baru mulai bisa baca. Sang nenek yang dikira galak dan penyendiri, ternyata menyenangkan sekali. Saat ada dua anak datang bertamu ke rumahnya karena ingin meminta maaf setelah memecahkan celengan babi ungunya, ia justru menjamu mereka dengan kue-kue cokelat yang baru diangkatnya dari panggangan. Ditambah cenderamata bagi masing-masing anak.

Tapi berbeda dari cerita si nenek, saya tidak hidup sendiri. Hari-hari tua saya tentu ditemani oleh sang suami setia yang di usia 65 tahun masih segar bugar karena sudah berhenti merokok hingga seterusnya sejak studi di Australia *fingers crossed*. Terkadang, kami suka traveling sama-sama, melanglang buana melihat dunia. Berlibur ke Selandia Baru, ke Ceko, ke Yogyakarta (karena suami pernah berjanji akan membawa saya melihat Candi Borobudur :P). Hal yang jarang dilakukan saat muda karena banyaknya urusan dan tanggungan…hehe

Itu mungkin sekelumit bayangan saya 30 tahun di masa yang akan datang. Mudah-mudahan bayangan ini bukanlah mimpi belaka. Amin. 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s