Youtube and Gadget Addiction

Saya suka bingung dengan orangtua yang membebaskan anaknya main game di tab atau ipad seharian. Lebih heran lagi, mereka yang membiarkan anaknya nonton youtube di gadget itu sesuka hati. Padahal anaknya masih balita, bahkan batita.

Menurut saya situs youtube belumlah pantas untuk diakses oleh anak kecil. Bagi balita yang baru belajar mengenal dunia sekitarnya, memang sungguh ajaib sekali situs ini. Hanya dengan satu klik jari ada ribuan video yang bisa dinikmati—mulai dari kartun, musik, iklan produk, sampai video-video absurd dan sampah sekalipun.

Namun sayang sekali bila anak kecil yang masih polos dan murni ini dikenalkan dengan segala sisi dunia mereka dari video youtube yang bisa diunggah dengan seenak udelnya oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Jelas-jelas ada begitu banyak konten pornografi dan kekerasan berserakan di sana.

Bagi saya, orangtua yang menyerahkan gadget dan membiarkan anaknya mengakses youtube atau situs mana pun tanpa pengawasan dan tanpa ada child lock adalah orang dewasa yang teledor. Itu sama saja kalau di jaman saya dulu kayak menyerahkan banyak judul video—mulai dari video kartun, video horor sampai video bokep—ke anak kecil sambil berkata, “silakan saja tonton apa yang disuka.”

Sungguh edan memang… Entah mengapa orangtua suka lebih khawatir terhadap keselamatan fisik anaknya, “Jangan panjat pohon terlalu tinggi. Nanti jatuh..nanti luka…nanti sakit…” Tapi untuk kesehatan batin yang tidak kasat mata diabaikan begitu saja. Ketika nilai-nilai kefitrahan mereka dirongrong. Digempur oleh nilai-nilai konsumerisme, kekerasan, pornografi *tarik napas panjang dulu*.

Sebetulnya, nilai-nilai apa yang ingin kita tanamkan kepada anak kita dengan membiarkan mereka bermain gadget dan menonton youtube day in day out?

Memang, gadget itu memudahkan hidup orangtua. Mereka nggak perlu repot sementara anak mereka bisa berjam-jam duduk manis depan gadget. Tapi… apa juga sih susahnya mendownload video yang digemari anak kita dari situs secara langsung, baru nanti pasang playlist video hasil downloadan ini dan membiarkan anak menonton sendiri. Memang siiih lebih repot dikit, perlu meluangkan waktu buat pilah-pilih video dan menyimpannya kan?… Hei, siapa bilang mendidik dan membesarkan anak itu nggak repot? Tapi itulah tugas orangtua.

Toh effort kita akan sepadan kok ketimbang anak kita terpapar pada konten-konten “menyeramkan” sejak usia dini.

Sebagai korban pelecehan di masa kanak-kanak, saya mungkin bisa dibilang agak parno (alias extra carefull) dengan hal beginian. Kalau bisa memilih, saya ingin sekali mempertahankan kepolosan anak selama mungkin. Malah kalau anak kita bisa dimuseumkan.. eh, disterilkan dari hal-hal macam begini betapa indahnya dunia… Tapi kan memang tidak mungkin ya…*ya sudahlah*  Itu memang kenyataan yang mesti dihadapi. Faktanya, kita memang sekarang hidup di era informasi digital yang kebablasan.

Kata orang-orang, anak jaman sekarang mesti melek teknologi sejak dini. Tapi hati kecil saya bertanya-tanya, apakah menyerahkan gadget—macam smartphone, tab atau ipad—kayak begitu sudah berarti mengajarkan anak akan teknologi? Saya pun tidak lantas mengharamkan anak kecil dari menggunakan gadget. Hanya saja, sebagai orangtua, tugas kitalah untuk mengajarkan anak supaya arif menggunakannya. Jangan sampai malah ketergantungan. Sebaiknya waktu penggunaan dibatasi dan konten gamesnya dipantau, alangkah baiknya yang bersifat edukatif. Dan sebisa mungkin jangan kasih akses buat nonton via situs langsung. Kalau mau nonton kan ada dvd, ada acara tv kabel yang masih aman macam cbeebies. Banyak pilihan kok. Intinya, jadi orangtua kudu selektif.

Anak saya memang masih sangat kecil saat ini. Baru satu tahun. Entah apa jadinya nanti ketika Radi sudah mulai ngerti menggunakan gadget begitu. Tapi saya percaya keinginan saya ini bukan sebuah utopia. Hanya saja untuk saat ini, mungkin saya mesti berkaca dulu. Tidak ingin anak kerajingan gadget, jangan-jangan saya sebagai orangtua juga tidak pernah lepas dari smartphone saya. Sebagai “stay-at-home mum” yang selalu menghabiskan waktu di rumah, saya akui saya sering merasa mati gaya kalau tidak buka sosmed tiap hari. Bahkan itu sudah jadi semacam kebutuhan.

Padahal kalau dipikir-pikir, orang-orang tua jaman dulu mana kenal dengan yang namanya fesbuk atau hape. Tapi mereka santai dan tampak content with their life. Jangan-jangan terlalu banyak terekspos dengan “dunia luar” malah nambah-nambah beban pikiran. Menjejali kapasitas otak dengan banyak pesan-pesan spam yang tidak dibutuhkan. Jangan-jangan lagi, kita malah menciptakan sebuah kebutuhan baru yang sebetulnya tidak (begitu) dibutuhkan. Yah cukuplah jadi kebutuhan tertier—kebutuhan aktualisasi diri alias eksis setelah sandang pangan papan tea.

So maybe from now on, I will write my new family rule: Kalau sedang bermain dan menghabiskan quality time dengan anak jangan kutak-katik smartphone, browsing ini itu, ceting sana sini. Hadirlah “sepenuhnya” (mind, body and soul) *apa coba* bersama mereka. Kita sendiri kerasa banget kan betenya setengah dicuekin oleh lawan bicara. Nah, itu pula yang dirasakan oleh anak. Meski mereka masih anak kecil, hargai mereka. Salah satu cara menghargai keberadaan mereka, adalah dengan memberi perhatian penuh kita pada mereka. Tentu tidak bisa 24 jam kita beri perhatian penuh. Toh sebagai seorang ibu (apalagi kalau tanpa ART seperti sayah) kita juga mesti masak, nyetrika, dan berkegiatan lainnya. Tapi tentu tiap hari kita bisa mengagendakan waktu bermain berkualitas dengan anak, saat kita sama-sama lepas dari gadget. Pure playing ‘n bonding.

Well sambil menulis ini, saya ingin kembali memperbarui ikrar saya…

Ketika tengah bermain dengan anak, akan saya tinggalkan hape saya dari jangkauan.

Ketika tengah bicara dengan anak, saya akan menatap matanya dan bukan layar hape.

Anak kita terlalu berharga, dan tanpa terasa masa kecil mereka akan berlalu begitu saja di depan mata kita.  So time to write more memories with them instead of with the gadget.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s