Merindu

Sebulan lebih sudah ditinggal pergi suami demi mencari ilmu di negeri asing. 😦

Sebelum kepergian kali ini, lima hari adalah durasi paling lama ditinggal oleh sang suami. Biasanya karena ada pelatihan dari kantor. Jadi seminggu pertama ditinggal rasanya masih biasa aja. Meski saat wiken deru motor tetangga kadang mengingatkan akan kedatangan suami karena dia memang biasa nyamper hari sabtu atau minggunya dengan motor bladenya. Bela-belain datang untuk melepas kangen sejenak dengan anak dan istri di sela libur sesi pelatihan.

Memasuki minggu ketiga rasa kangen itu muncul. Yang makin menjadi-jadi saat saya tengah berkumpul di tengah-tengah keluarga suami dan sanak kerabatnya.

Radi pun meski umurnya baru setaun nampak kangen juga ke papanya. Sejak ditinggal papanya pergi, Radi makin nempel sama mamanya. Menjelang tidur dia harus memastikan mamanya berada dekat di sampingnya–sambil jari-jari kecilnya “membelai-belai” (alias mencubit dan meremas) wajah mama, mata mulai keriap-keriap nahan kantuk sampai akhirnya pulas. Kalau hari itu habis skypean sama papa, Radi bobonya makin gelisah. Berkali-kali terbangun malamnya, terduduk sambil nyari-nyari posisi mama, trus menghambur ke mama ‘n minta dipeluk hingga tertidur lagi. Akhirnya Radi kudu dipeluk bobonya sampai pagi. Radi juga suka memandangi poto papanya di dinding sambil berucap, “pappa pa”.

Ya, kata siapa bayi nggak bisa merasa kangen juga? Biar gimana pun, ada yang terampas dari rutinitas hariannya dengan sang ayah. Dan bukankah bayi itu terbiasa dengan rutinitas? Yang biasa puas bermain dengan papanya sepulangnya dari kantor. Yang tiap malam hari dininabobo sang papa dengan lagu-lagu sunda. Yang biasa asyik nontonin papanya memburu nyamuk-nyamuk ganas dengan raket ajaibnya dengan wajah terkagum-kagum *papaku superman*.  Ah, I know how u feel, Nak!

Saya pun begitu. Dengan perginya dia, ada banyak kehilangan yang dirasa.

Saya bukan orang yang terbiasa mencurahkan isi hati… tapi dengannya, saya belajar untuk itu semenjak awal pernikahan. Untuk selalu membagi perasaan dan pikiran saya dengannya. Dan kini telah terbiasa dengan itu. Mungkin itu kehilangan yang paling dirasa. Seseorang yang sedia mendengar lontaran pikiran atau ganjalan hati ini seabsurd apa pun. Setia mendengar dengan senyum sampai unek-unek ini puas dimuntahkan.

Saya rindu dengan perhatian-perhatian kecil nan manisnya. Seperti menyodorkan cokelat atau kue yang entah dia temukan dari mana *kemungkinan besar dari kamar Ninin :P* atau buah-buahan yang sudah dia potong. Membawa makanan atau jus sepulang dari kantor. Atau sekadar bertanya “Mama udah sholat? Udah mandi? Sini Radi sama Papa.” Biarpun Papanya capek baru pulang dari kantor, dengan badan penuh keringet sehabis bermacet-macet ria. Memang sih… di sini ada dua keluarga yang juga sangat perhatian sekali, tapi tetep aja rasanya beda. Perhatian mereka itu nggak bisa seekstra papa karena kami berdua udah seperti satu tim yang punya ritme sendiri. Begini kali yang namanya soulmate hihi.

Saya merindukan agenda jalan-jalan betiga kami. Meski seringkali tujuannya hanya ke supermarket atau toko bayi buat beli keperluan Radi. 😀

Saya juga merindukan gurauan-gurauan jayusnya.

But most of all, I miss being able to look over my shoulder ‘n seeing there he was. Terutama di saat kumpul keluarga besar suami kayak Lebaran atau acara buka bersama.

Yaahh… *menghela napas panjang*

Biarlah fase merindu ini jadi bumbu romansa pernikahan kami. Edisi kangen-kangenan. 😛  Dengan begini kan masing-masing dari kami jadi lebih menghargai arti pentingnya keberadaan diri pasangan, which we musnt take for granted.

Dan, saya nggak boleh jadi istri yang cengeng bin lebay. Apalagi sekarang kan jaman teknologi canggih. Kangen bisa skypean ‘n watsapan. Kirim-kirim foto hanya dalam hitungan detik. Coba bayangkan Mami ‘n Papi saya sewaktu long distance sekian tahun. Jakarta—Praha. Kirim surat bisa nyampe dalam hitungan bulan. Mau telpon interlokal mahalnya ampun-ampunan. Kualitas ujian hubungan long distance saya mah jelas nggak sebanding dengan mereka.

Still, I really do miss him… a lot.

ah, cinta ❤

2 pemikiran pada “Merindu

  1. duuuuuuhh yang lagi merindu ^^, sabaryah Radi sayang, Insya Allah sebentar lagi bisa ketemu Ayah yah ^^, kumpul sama-sama lagi. memang pasi akan kecarian Ayahnya sama radi, apalagi sama-sama ‘laki-laki’ menambah rdi yang makin ‘celingukan’ mencari sosok Ayahnya yah Ai…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s